Kamis, 09 Februari 2017

Bulan Dahulu Bersinar

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

الحمد لله رب العالمين, وصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :

Allah berfirman;
“Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, kemudian Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang.” (QS Al Isra : 12)

Sejak empat belas kurun yang kemudian , para sahabat telah berkesimpulan bahwa bulan dahulu memancarkan cahaya, namun kemudian Allah  menghilangkan sinarnya.

Dalam penafsiran mereka terhadap firman Allah di atas, Imam Ibnu Katsir menyampaikan : Ibnu Abbas Ra menyatakan, “Dahulu bulan bersinar menyerupai matahari, dan ia menjadi tanda malam, namun Allah kemudian menghapusnya, dan warna hitam yang ada pada bulan kini ini yaitu bekas peniadaan tersebut.” 

Ayat ini mengisyaratkan sebuah fakta ilmiah yang gres muncul dan mengemuka pada kurun 20, bahwa bulan dahulunya yaitu bintang yang menyala, kemudian Allah memadamkan cahayanya. Petunjuk Al Alquran mengenai hal tersebut sebagaimana penafsiran Abdullah bin Abbas sangat jelas. Kesimpulan yang diambil oleh sahabat mulia dari Al Alquran 14 kurun yang lalu, maka apa gerangan yang dikatakan para astronom modern mengenai problem ini?
Akhirnya ilmu astronomi menemukan bahwa bulan dahulu menyala kemudian padam cahayanya. Teknologi teleskop dan satelit generasi pertama telah berhasil memperlihatkan foto foto detail bulan, dan tampak terang di sana kawah kawah gunung merapi, dataran tinggi dan rawa rawa.
Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda BULAN DAHULU BERSINARNamun para astronom kala itu belum dapat memastikan tipologi bulan ini sampai astronot Neil Amstrong menginjakkan kaki di bulan pada tahun 1969. Kemudian dengan peralatan teropong bintang yang akurat dan studi geologis atas  yang analisis lapisan tanahnya, para astronom, sebagaimana keheranan resmi NASA, gres dapat menyampaikan bahwa bulan berbentuk semenjak 4,6 milyar tahun silam dan selama proses pembentukkannya, ia mengalami serangkaian benturan dasyat dengan meteor meteor dan asteroid. Akibat efek panas yang sangat tinggi, maka lapisan lapisannya pun mengalami proses pencairan yang ekstrem, sehingga menjadikan pembentukkan palung palung yang disebut “Maria”, juga membentuk puncak puncak gunung dan kawah yang disebut “Craters”. Kawah kawah ini selanjutnya melontarkan lahar lahar vulkanik dalam jumlah yang besar, sehingga memenuhi seluruh palung palungnya. Pada tahap berikutnya, bulan membeku. Letusan vulkaniknya berhenti dan laharnya padam. Dan semenjak itulah, cahaya bulan menjadi padam sesudah sebelumnya menyala nyala.
Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda BULAN DAHULU BERSINARJika kembali ke ayat ayat Al Quran, kita dapat menawarkan catatan tersendiri  pada penggunaan kata “famahaw naa (Kami hapuskan). Menurut jago bahasa, mahwu berarti menghapus dan menghilangkan. Dalam konteks ayat ini, Allah berarti menghilangkan dan menghapus sinar bulan, bukan menghilangkan planet bulan . Makara bulan masih tetap ada. Selain itu Allah juga lebih lanjut berfirman : “ dan Kami jadikan tanda siang itu terang”. Disini Allah gunakan kata “terang” sebagai pembanding untuk memperlihatkan bahwa yang dijadikan perbandingan yaitu cahaya tanda malam (bulan) dan cahaya tanda siang (matahari), kemudian yang pertama padam, sementara yang kedua tetap terang dan masih dapat kita lihat.

Wallohu''alam

Sumber http://fisika-indonesia.blogspot.com


EmoticonEmoticon