Senin, 20 Februari 2017

Osifikasi Sekunder Yang Terdiri Dari Osifikasi Desmal Dan Osifikasi Endokondral (Biologi Kelas Xi Sma)

Proses pembentukan tulang telah bermula semenjak umur embrio 6-7 ahad dan berlangsung hingga dewasa. Proses terbentuknya tulang terjadi dengan 2 cara adalah melalui osifikasi intra membran/desmal dan osifikasi endokondral : 

Osifikasi atau yang disebut dengan proses pembentukan tulang telah bermula semenjak umur embrio 6-7 ahad dan berlangsung hingga dewasa. Osifikasi dimulai dari sel-sel mesenkim memasuki kawasan osifikasi, kalau kawasan tersebut banyak mengandung pembuluh darah akan membentuk osteoblas, kalau tidak mengandung pembuluh darah akan membentuk kondroblas.
Pembentukan tulang rawan terjadi segera sesudah terbentuk tulang rawan (kartilago). Mula-mula pembuluh darah menembus perichondrium di bab tengah batang tulang rawan, merangsang sel-sel perichondrium bermetamorfosis osteoblas. Osteoblas ini akan membentuk suatu lapisan tulang kompakta, perichondrium bermetamorfosis periosteum. Bersamaan dengan proses ini pada bab dalam tulang rawan di kawasan diafisis yang disebut juga sentra osifikasi primer, sel-sel tulang rawan membesar kemudian pecah sehingga terjadi kenaikan pH (menjadi basa) risikonya zat kapur didepositkan, dengan demikian terganggulah nutrisi semua sel-sel tulang rawan dan menjadikan final hidup pada sel-sel tulang rawan ini.
Kemudian akan terjadi degenerasi (kemunduran bentuk dan fungsi) dan pelarutan dari zat-zat interseluler (termasuk zat kapur) bersamaan dengan masuknya pembuluh darah ke kawasan ini, sehingga terbentuklah rongga untuk sumsum tulang.
Pada tahap selanjutnya pembuluh darah akan memasuki kawasan epiphise sehingga terjadi sentra osifikasi sekunder, terbentuklah tulang spongiosa. Dengan demikian masih tersisa tulang rawan dikedua ujung epifise yang berperan penting dalam pergerakan sendi dan satu tulang rawan di antara epifise dan diafise yang disebut dengan cakram epifise.
Selama pertumbuhan, sel-sel tulang rawan pada cakram epifise terus-menerus membelah kemudian hancur dan tulang rawan diganti dengan tulang di kawasan diafise, dengan demikian tebal cakram epifise tetap sedangkan tulang akan tumbuh memanjang. Pada pertumbuhan diameter (lebar) tulang, tulang didaerah rongga sumsum dihancurkan oleh osteoklas sehingga rongga sumsum membesar, dan pada ketika yang bersamaan osteoblas di periosteum membentuk lapisan-lapisan tulang gres di kawasan permukaan.

1. Osifikasi intra membran/desmal
Proses pembentukan tulang dari jaringan mesenkim menjadi jaringan tulang, misalnya pada proses pembentukan tulang pipih. Pada proses perkembangan binatang vertebrata terdapat tiga lapisan forum adalah ektoderm, medoderm, dan endoderm. Mesenkim merupakan bab dari lapisan mesoderm, yang kemudian berkembang menjadi jaringan ikat dan darah. Tulang tengkorak berasal eksklusif dari sel-sel mesenkim melalui proses osifikasi intramembran/desmal
Osifikasi ini terjadi pada tulang pipih.
Prosesnya:
1. Dibentuk eksklusif oleh sekelompok osteoblas yang terdapat di dalam membran fibrosa
2. Bagian sisi tulang dibuat oleh kelompok sel yang berbeda yang disebut trabekula
3. Trabekula membentuk jalinan menyerupai jala sebagai tulang spons
4. Tulang spons menjadi tulang kompak

2. Osifikasi endokondral

- Osifikasi endokondral
Osifikasi ini terjadi pada tulang pipa dan tulang pendek.
Prosesnya:
1. Pembuluh darah masuk ke perikondrium di tulang tungkai bab diafisis
2. Sel perikondrium menjadi osteoblas dan memproduksi tulang keras di baigian tungkai
3. Pusat osifikasi di dalam diafisis kemudian terisi pembuluh darah dan osteoklas
4. Daerah ini mengalami abrasi oleh osteoklas sehingga membentuk rongga sumsum
5. Tulang rawan terus tumbuh di kedua ujung sehingga tulang memanjang
6. Hasil pemanjangan akan digantikan oleh tulang spons
. 
Proses pembentukan tulang yang terjadi dimana sel-sel mesenkim berdiferensiasi lebih dulu menjadi kartilago (jaringan rawan) kemudian bermetamorfosis jaringan tulang, misal proses pembentukan tulang panjang, ruas tulang belakang, dan pelvis. Proses osifikasi ini bertanggung jawab pada pembentukkan sebagian besar tulang manusia. Pada proses ini sel-sel tulang (osteoblas) aktif membelah dan muncul dibagian tengah dari tulang rawan yang disebut center osifikasi. Osteoblas selanjutnya bermetamorfosis osteosit, sel-sel tulang cukup umur ini tertanam dengan berpengaruh pada matriks tulang.
Pembentukan tulang rawan terjadi segera sesudah terbentuk tulang rawan (kartilago). Mula-mula pembuluh darah menembus perichondrium di bab tengah batang tulang rawan, merangsang sel-sel perichondrium bermetamorfosis osteoblas. Osteoblas ini akan membentuk suatu lapisan tulang kompakta, perichondrium bermetamorfosis periosteum. Bersamaan dengan proses ini pada bab dalam tulang rawan di kawasan diafisis yang disebut juga sentra osifikasi primer, sel-sel tulang rawan membesar kemudian pecah sehingga terjadi kenaikan pH (menjadi basa) risikonya zat kapur didepositkan, dengan demikian terganggulah nutrisi semua sel-sel tulang rawan dan menjadikan final hidup pada sel-sel tulang rawan ini.
Kemudian akan terjadi degenerasi (kemunduran bentuk dan fungsi) dan pelarutan dari zat-zat interseluler (termasuk zat kapur) bersamaan dengan masuknya pembuluh darah ke kawasan ini, sehingga terbentuklah rongga untuk sumsum tulang. Pada tahap selanjutnya pembuluh darah akan memasuki kawasan epiphise sehingga terjadi sentra osifikasi sekunder, terbentuklah tulang spongiosa. Dengan demikian masih tersisa tulang rawan dikedua ujung epifise yang berperan penting dalam pergerakan sendi dan satu tulang rawan di antara epifise dan diafise yang disebut dengan cakram epifise.
Selama pertumbuhan, sel-sel tulang rawan pada cakram epifise terus- menerus membelah kemudian hancur dan tulang rawan diganti dengan tulang di kawasan diafise, dengan demikian tebal cakram epifise tetap sedangkan tulang akan tumbuh memanjang. Pada pertumbuhan diameter (lebar) tulang, tulang didaerah rongga sumsum dihancurkan oleh osteoklas sehingga rongga sumsum membesar, dan pada ketika yang bersamaan osteoblas di periosteum


Proses osifikasi endokondral dimulai dengan ujung pada jaringan kartilago yang disebut sebagai “pusat osifikasi primer” yang terlihat semenjak perkembangan periode fetal, walau beberapa tulang pendek memulai proses osifikasi sesudah kelahiran. Proses osifikasi kedua terjadi sesudah lahir dan membentuk epipisis dari tulang panjang dan tulang ekstremitas dari tulang iregular dan pipih. Baik diapisis maupun epipisis dari tulang panjang dipisahkan oleh bab akrtilago (lempeng epipiseal). Saat anak hingga pada maturitas skeletal (usia 18 hingga 25 tahun), seluruh jaringan kartilago digantikkan dengan tulang, dengan jalan menyatukan diapisis dan epipisis

Osifikasi atau yang disebut dengan proses pembentukan tulang telah bermula semenjak umur embrio 6-7 ahad dan berlangsung hingga dewasa. Osifikasi dimulai dari sel-sel mesenkim memasuki kawasan osifikasi, kalau kawasan tersebut banyak mengandung pembuluh darah akan membentuk osteoblas, kalau tidak mengandung pembuluh darah akan membentuk kondroblas.
Pembentukan tulang rawan terjadi segera sesudah terbentuk tulang rawan (kartilago). Mula-mula pembuluh darah menembus perichondrium di bab tengah batang tulang rawan, merangsang sel-sel perichondrium bermetamorfosis osteoblas. Osteoblas ini akan membentuk suatu lapisan tulang kompakta, perichondrium bermetamorfosis periosteum. Bersamaan dengan proses ini pada bab dalam tulang rawan di kawasan diafisis yang disebut juga sentra osifikasi primer, sel-sel tulang rawan membesar kemudian pecah sehingga terjadi kenaikan pH (menjadi basa) risikonya zat kapur didepositkan, dengan demikian terganggulah nutrisi semua sel-sel tulang rawan dan menjadikan final hidup pada sel-sel tulang rawan ini.
Kemudian akan terjadi degenerasi (kemunduran bentuk dan fungsi) dan pelarutan dari zat-zat interseluler (termasuk zat kapur) bersamaan dengan masuknya pembuluh darah ke kawasan ini, sehingga terbentuklah rongga untuk sumsum tulang.
Pada tahap selanjutnya pembuluh darah akan memasuki kawasan epiphise sehingga terjadi sentra osifikasi sekunder, terbentuklah tulang spongiosa. Dengan demikian masih tersisa tulang rawan dikedua ujung epifise yang berperan penting dalam pergerakan sendi dan satu tulang rawan di antara epifise dan diafise yang disebut dengan cakram epifise.
Selama pertumbuhan, sel-sel tulang rawan pada cakram epifise terus-menerus membelah kemudian hancur dan tulang rawan diganti dengan tulang di kawasan diafise, dengan demikian tebal cakram epifise tetap sedangkan tulang akan tumbuh memanjang. Pada pertumbuhan diameter (lebar) tulang, tulang didaerah rongga sumsum dihancurkan oleh osteoklas sehingga rongga sumsum membesar, dan pada ketika yang bersamaan osteoblas di periosteum membentuk lapisan-lapisan tulang gres di kawasan permukaan.

1. Osifikasi intra membran/desmal
Proses pembentukan tulang dari jaringan mesenkim menjadi jaringan tulang, misalnya pada proses pembentukan tulang pipih. Pada proses perkembangan binatang vertebrata terdapat tiga lapisan forum adalah ektoderm, medoderm, dan endoderm. Mesenkim merupakan bab dari lapisan mesoderm, yang kemudian berkembang menjadi jaringan ikat dan darah. Tulang tengkorak berasal eksklusif dari sel-sel mesenkim melalui proses osifikasi intramembran/desmal
Osifikasi ini terjadi pada tulang pipih.
Prosesnya:
1. Dibentuk eksklusif oleh sekelompok osteoblas yang terdapat di dalam membran fibrosa
2. Bagian sisi tulang dibuat oleh kelompok sel yang berbeda yang disebut trabekula
3. Trabekula membentuk jalinan menyerupai jala sebagai tulang spons
4. Tulang spons menjadi tulang kompak

2. Osifikasi endokondral

- Osifikasi endokondral
Osifikasi ini terjadi pada tulang pipa dan tulang pendek.
Prosesnya:
1. Pembuluh darah masuk ke perikondrium di tulang tungkai bab diafisis
2. Sel perikondrium menjadi osteoblas dan memproduksi tulang keras di baigian tungkai
3. Pusat osifikasi di dalam diafisis kemudian terisi pembuluh darah dan osteoklas
4. Daerah ini mengalami abrasi oleh osteoklas sehingga membentuk rongga sumsum
5. Tulang rawan terus tumbuh di kedua ujung sehingga tulang memanjang
6. Hasil pemanjangan akan digantikan oleh tulang spons
. 
Proses pembentukan tulang yang terjadi dimana sel-sel mesenkim berdiferensiasi lebih dulu menjadi kartilago (jaringan rawan) kemudian bermetamorfosis jaringan tulang, misal proses pembentukan tulang panjang, ruas tulang belakang, dan pelvis. Proses osifikasi ini bertanggung jawab pada pembentukkan sebagian besar tulang manusia. Pada proses ini sel-sel tulang (osteoblas) aktif membelah dan muncul dibagian tengah dari tulang rawan yang disebut center osifikasi. Osteoblas selanjutnya bermetamorfosis osteosit, sel-sel tulang cukup umur ini tertanam dengan berpengaruh pada matriks tulang.
Pembentukan tulang rawan terjadi segera sesudah terbentuk tulang rawan (kartilago). Mula-mula pembuluh darah menembus perichondrium di bab tengah batang tulang rawan, merangsang sel-sel perichondrium bermetamorfosis osteoblas. Osteoblas ini akan membentuk suatu lapisan tulang kompakta, perichondrium bermetamorfosis periosteum. Bersamaan dengan proses ini pada bab dalam tulang rawan di kawasan diafisis yang disebut juga sentra osifikasi primer, sel-sel tulang rawan membesar kemudian pecah sehingga terjadi kenaikan pH (menjadi basa) risikonya zat kapur didepositkan, dengan demikian terganggulah nutrisi semua sel-sel tulang rawan dan menjadikan final hidup pada sel-sel tulang rawan ini.
Kemudian akan terjadi degenerasi (kemunduran bentuk dan fungsi) dan pelarutan dari zat-zat interseluler (termasuk zat kapur) bersamaan dengan masuknya pembuluh darah ke kawasan ini, sehingga terbentuklah rongga untuk sumsum tulang. Pada tahap selanjutnya pembuluh darah akan memasuki kawasan epiphise sehingga terjadi sentra osifikasi sekunder, terbentuklah tulang spongiosa. Dengan demikian masih tersisa tulang rawan dikedua ujung epifise yang berperan penting dalam pergerakan sendi dan satu tulang rawan di antara epifise dan diafise yang disebut dengan cakram epifise.
Selama pertumbuhan, sel-sel tulang rawan pada cakram epifise terus- menerus membelah kemudian hancur dan tulang rawan diganti dengan tulang di kawasan diafise, dengan demikian tebal cakram epifise tetap sedangkan tulang akan tumbuh memanjang. Pada pertumbuhan diameter (lebar) tulang, tulang didaerah rongga sumsum dihancurkan oleh osteoklas sehingga rongga sumsum membesar, dan pada ketika yang bersamaan osteoblas di periosteum


Proses osifikasi endokondral dimulai dengan ujung pada jaringan kartilago yang disebut sebagai “pusat osifikasi primer” yang terlihat semenjak perkembangan periode fetal, walau beberapa tulang pendek memulai proses osifikasi sesudah kelahiran. Proses osifikasi kedua terjadi sesudah lahir dan membentuk epipisis dari tulang panjang dan tulang ekstremitas dari tulang iregular dan pipih. Baik diapisis maupun epipisis dari tulang panjang dipisahkan oleh bab akrtilago (lempeng epipiseal). Saat anak hingga pada maturitas skeletal (usia 18 hingga 25 tahun), seluruh jaringan kartilago digantikkan dengan tulang, dengan jalan menyatukan diapisis dan epipisis

                           
Osifikasi atau yang disebut dengan proses pembentukan tulang telah bermula semenjak umur embrio 6-7 ahad dan berlangsung hingga dewasa. Osifikasi dimulai dari sel-sel mesenkim memasuki kawasan osifikasi, kalau kawasan tersebut banyak mengandung pembuluh darah akan membentuk osteoblas, kalau tidak mengandung pembuluh darah akan membentuk kondroblas.
Pembentukan tulang rawan terjadi segera sesudah terbentuk tulang rawan (kartilago). Mula-mula pembuluh darah menembus perichondrium di bab tengah batang tulang rawan, merangsang sel-sel perichondrium bermetamorfosis osteoblas. Osteoblas ini akan membentuk suatu lapisan tulang kompakta, perichondrium bermetamorfosis periosteum. Bersamaan dengan proses ini pada bab dalam tulang rawan di kawasan diafisis yang disebut juga sentra osifikasi primer, sel-sel tulang rawan membesar kemudian pecah sehingga terjadi kenaikan pH (menjadi basa) risikonya zat kapur didepositkan, dengan demikian terganggulah nutrisi semua sel-sel tulang rawan dan menjadikan final hidup pada sel-sel tulang rawan ini.
Kemudian akan terjadi degenerasi (kemunduran bentuk dan fungsi) dan pelarutan dari zat-zat interseluler (termasuk zat kapur) bersamaan dengan masuknya pembuluh darah ke kawasan ini, sehingga terbentuklah rongga untuk sumsum tulang.
Pada tahap selanjutnya pembuluh darah akan memasuki kawasan epiphise sehingga terjadi sentra osifikasi sekunder, terbentuklah tulang spongiosa. Dengan demikian masih tersisa tulang rawan dikedua ujung epifise yang berperan penting dalam pergerakan sendi dan satu tulang rawan di antara epifise dan diafise yang disebut dengan cakram epifise.
Selama pertumbuhan, sel-sel tulang rawan pada cakram epifise terus-menerus membelah kemudian hancur dan tulang rawan diganti dengan tulang di kawasan diafise, dengan demikian tebal cakram epifise tetap sedangkan tulang akan tumbuh memanjang. Pada pertumbuhan diameter (lebar) tulang, tulang didaerah rongga sumsum dihancurkan oleh osteoklas sehingga rongga sumsum membesar, dan pada ketika yang bersamaan osteoblas di periosteum membentuk lapisan-lapisan tulang gres di kawasan permukaan.

1. Osifikasi intra membran/desmal
Proses pembentukan tulang dari jaringan mesenkim menjadi jaringan tulang, misalnya pada proses pembentukan tulang pipih. Pada proses perkembangan binatang vertebrata terdapat tiga lapisan forum adalah ektoderm, medoderm, dan endoderm. Mesenkim merupakan bab dari lapisan mesoderm, yang kemudian berkembang menjadi jaringan ikat dan darah. Tulang tengkorak berasal eksklusif dari sel-sel mesenkim melalui proses osifikasi intramembran/desmal
Osifikasi ini terjadi pada tulang pipih.
Prosesnya:
1. Dibentuk eksklusif oleh sekelompok osteoblas yang terdapat di dalam membran fibrosa
2. Bagian sisi tulang dibuat oleh kelompok sel yang berbeda yang disebut trabekula
3. Trabekula membentuk jalinan menyerupai jala sebagai tulang spons
4. Tulang spons menjadi tulang kompak

2. Osifikasi endokondral

- Osifikasi endokondral
Osifikasi ini terjadi pada tulang pipa dan tulang pendek.
Prosesnya:
1. Pembuluh darah masuk ke perikondrium di tulang tungkai bab diafisis
2. Sel perikondrium menjadi osteoblas dan memproduksi tulang keras di baigian tungkai
3. Pusat osifikasi di dalam diafisis kemudian terisi pembuluh darah dan osteoklas
4. Daerah ini mengalami abrasi oleh osteoklas sehingga membentuk rongga sumsum
5. Tulang rawan terus tumbuh di kedua ujung sehingga tulang memanjang
6. Hasil pemanjangan akan digantikan oleh tulang spons
. 
Proses pembentukan tulang yang terjadi dimana sel-sel mesenkim berdiferensiasi lebih dulu menjadi kartilago (jaringan rawan) kemudian bermetamorfosis jaringan tulang, misal proses pembentukan tulang panjang, ruas tulang belakang, dan pelvis. Proses osifikasi ini bertanggung jawab pada pembentukkan sebagian besar tulang manusia. Pada proses ini sel-sel tulang (osteoblas) aktif membelah dan muncul dibagian tengah dari tulang rawan yang disebut center osifikasi. Osteoblas selanjutnya bermetamorfosis osteosit, sel-sel tulang cukup umur ini tertanam dengan berpengaruh pada matriks tulang.
Pembentukan tulang rawan terjadi segera sesudah terbentuk tulang rawan (kartilago). Mula-mula pembuluh darah menembus perichondrium di bab tengah batang tulang rawan, merangsang sel-sel perichondrium bermetamorfosis osteoblas. Osteoblas ini akan membentuk suatu lapisan tulang kompakta, perichondrium bermetamorfosis periosteum. Bersamaan dengan proses ini pada bab dalam tulang rawan di kawasan diafisis yang disebut juga sentra osifikasi primer, sel-sel tulang rawan membesar kemudian pecah sehingga terjadi kenaikan pH (menjadi basa) risikonya zat kapur didepositkan, dengan demikian terganggulah nutrisi semua sel-sel tulang rawan dan menjadikan final hidup pada sel-sel tulang rawan ini.
Kemudian akan terjadi degenerasi (kemunduran bentuk dan fungsi) dan pelarutan dari zat-zat interseluler (termasuk zat kapur) bersamaan dengan masuknya pembuluh darah ke kawasan ini, sehingga terbentuklah rongga untuk sumsum tulang. Pada tahap selanjutnya pembuluh darah akan memasuki kawasan epiphise sehingga terjadi sentra osifikasi sekunder, terbentuklah tulang spongiosa. Dengan demikian masih tersisa tulang rawan dikedua ujung epifise yang berperan penting dalam pergerakan sendi dan satu tulang rawan di antara epifise dan diafise yang disebut dengan cakram epifise.
Selama pertumbuhan, sel-sel tulang rawan pada cakram epifise terus- menerus membelah kemudian hancur dan tulang rawan diganti dengan tulang di kawasan diafise, dengan demikian tebal cakram epifise tetap sedangkan tulang akan tumbuh memanjang. Pada pertumbuhan diameter (lebar) tulang, tulang didaerah rongga sumsum dihancurkan oleh osteoklas sehingga rongga sumsum membesar, dan pada ketika yang bersamaan osteoblas di periosteum


Proses osifikasi endokondral dimulai dengan ujung pada jaringan kartilago yang disebut sebagai “pusat osifikasi primer” yang terlihat semenjak perkembangan periode fetal, walau beberapa tulang pendek memulai proses osifikasi sesudah kelahiran. Proses osifikasi kedua terjadi sesudah lahir dan membentuk epipisis dari tulang panjang dan tulang ekstremitas dari tulang iregular dan pipih. Baik diapisis maupun epipisis dari tulang panjang dipisahkan oleh bab akrtilago (lempeng epipiseal). Saat anak hingga pada maturitas skeletal (usia 18 hingga 25 tahun), seluruh jaringan kartilago digantikkan dengan tulang, dengan jalan menyatukan diapisis dan epipisis

Osifikasi atau yang disebut dengan proses pembentukan tulang telah bermula semenjak umur embrio 6-7 ahad dan berlangsung hingga dewasa. Osifikasi dimulai dari sel-sel mesenkim memasuki kawasan osifikasi, kalau kawasan tersebut banyak mengandung pembuluh darah akan membentuk osteoblas, kalau tidak mengandung pembuluh darah akan membentuk kondroblas.
Pembentukan tulang rawan terjadi segera sesudah terbentuk tulang rawan (kartilago). Mula-mula pembuluh darah menembus perichondrium di bab tengah batang tulang rawan, merangsang sel-sel perichondrium bermetamorfosis osteoblas. Osteoblas ini akan membentuk suatu lapisan tulang kompakta, perichondrium bermetamorfosis periosteum. Bersamaan dengan proses ini pada bab dalam tulang rawan di kawasan diafisis yang disebut juga sentra osifikasi primer, sel-sel tulang rawan membesar kemudian pecah sehingga terjadi kenaikan pH (menjadi basa) risikonya zat kapur didepositkan, dengan demikian terganggulah nutrisi semua sel-sel tulang rawan dan menjadikan final hidup pada sel-sel tulang rawan ini.
Kemudian akan terjadi degenerasi (kemunduran bentuk dan fungsi) dan pelarutan dari zat-zat interseluler (termasuk zat kapur) bersamaan dengan masuknya pembuluh darah ke kawasan ini, sehingga terbentuklah rongga untuk sumsum tulang.
Pada tahap selanjutnya pembuluh darah akan memasuki kawasan epiphise sehingga terjadi sentra osifikasi sekunder, terbentuklah tulang spongiosa. Dengan demikian masih tersisa tulang rawan dikedua ujung epifise yang berperan penting dalam pergerakan sendi dan satu tulang rawan di antara epifise dan diafise yang disebut dengan cakram epifise.
Selama pertumbuhan, sel-sel tulang rawan pada cakram epifise terus-menerus membelah kemudian hancur dan tulang rawan diganti dengan tulang di kawasan diafise, dengan demikian tebal cakram epifise tetap sedangkan tulang akan tumbuh memanjang. Pada pertumbuhan diameter (lebar) tulang, tulang didaerah rongga sumsum dihancurkan oleh osteoklas sehingga rongga sumsum membesar, dan pada ketika yang bersamaan osteoblas di periosteum membentuk lapisan-lapisan tulang gres di kawasan permukaan.

1. Osifikasi intra membran/desmal
Proses pembentukan tulang dari jaringan mesenkim menjadi jaringan tulang, misalnya pada proses pembentukan tulang pipih. Pada proses perkembangan binatang vertebrata terdapat tiga lapisan forum adalah ektoderm, medoderm, dan endoderm. Mesenkim merupakan bab dari lapisan mesoderm, yang kemudian berkembang menjadi jaringan ikat dan darah. Tulang tengkorak berasal eksklusif dari sel-sel mesenkim melalui proses osifikasi intramembran/desmal
Osifikasi ini terjadi pada tulang pipih.
Prosesnya:
1. Dibentuk eksklusif oleh sekelompok osteoblas yang terdapat di dalam membran fibrosa
2. Bagian sisi tulang dibuat oleh kelompok sel yang berbeda yang disebut trabekula
3. Trabekula membentuk jalinan menyerupai jala sebagai tulang spons
4. Tulang spons menjadi tulang kompak

2. Osifikasi endokondral

- Osifikasi endokondral
Osifikasi ini terjadi pada tulang pipa dan tulang pendek.
Prosesnya:
1. Pembuluh darah masuk ke perikondrium di tulang tungkai bab diafisis
2. Sel perikondrium menjadi osteoblas dan memproduksi tulang keras di baigian tungkai
3. Pusat osifikasi di dalam diafisis kemudian terisi pembuluh darah dan osteoklas
4. Daerah ini mengalami abrasi oleh osteoklas sehingga membentuk rongga sumsum
5. Tulang rawan terus tumbuh di kedua ujung sehingga tulang memanjang
6. Hasil pemanjangan akan digantikan oleh tulang spons
. 
Proses pembentukan tulang yang terjadi dimana sel-sel mesenkim berdiferensiasi lebih dulu menjadi kartilago (jaringan rawan) kemudian bermetamorfosis jaringan tulang, misal proses pembentukan tulang panjang, ruas tulang belakang, dan pelvis. Proses osifikasi ini bertanggung jawab pada pembentukkan sebagian besar tulang manusia. Pada proses ini sel-sel tulang (osteoblas) aktif membelah dan muncul dibagian tengah dari tulang rawan yang disebut center osifikasi. Osteoblas selanjutnya bermetamorfosis osteosit, sel-sel tulang cukup umur ini tertanam dengan berpengaruh pada matriks tulang.
Pembentukan tulang rawan terjadi segera sesudah terbentuk tulang rawan (kartilago). Mula-mula pembuluh darah menembus perichondrium di bab tengah batang tulang rawan, merangsang sel-sel perichondrium bermetamorfosis osteoblas. Osteoblas ini akan membentuk suatu lapisan tulang kompakta, perichondrium bermetamorfosis periosteum. Bersamaan dengan proses ini pada bab dalam tulang rawan di kawasan diafisis yang disebut juga sentra osifikasi primer, sel-sel tulang rawan membesar kemudian pecah sehingga terjadi kenaikan pH (menjadi basa) risikonya zat kapur didepositkan, dengan demikian terganggulah nutrisi semua sel-sel tulang rawan dan menjadikan final hidup pada sel-sel tulang rawan ini.
Kemudian akan terjadi degenerasi (kemunduran bentuk dan fungsi) dan pelarutan dari zat-zat interseluler (termasuk zat kapur) bersamaan dengan masuknya pembuluh darah ke kawasan ini, sehingga terbentuklah rongga untuk sumsum tulang. Pada tahap selanjutnya pembuluh darah akan memasuki kawasan epiphise sehingga terjadi sentra osifikasi sekunder, terbentuklah tulang spongiosa. Dengan demikian masih tersisa tulang rawan dikedua ujung epifise yang berperan penting dalam pergerakan sendi dan satu tulang rawan di antara epifise dan diafise yang disebut dengan cakram epifise.
Selama pertumbuhan, sel-sel tulang rawan pada cakram epifise terus- menerus membelah kemudian hancur dan tulang rawan diganti dengan tulang di kawasan diafise, dengan demikian tebal cakram epifise tetap sedangkan tulang akan tumbuh memanjang. Pada pertumbuhan diameter (lebar) tulang, tulang didaerah rongga sumsum dihancurkan oleh osteoklas sehingga rongga sumsum membesar, dan pada ketika yang bersamaan osteoblas di periosteum


Proses osifikasi endokondral dimulai dengan ujung pada jaringan kartilago yang disebut sebagai “pusat osifikasi primer” yang terlihat semenjak perkembangan periode fetal, walau beberapa tulang pendek memulai proses osifikasi sesudah kelahiran. Proses osifikasi kedua terjadi sesudah lahir dan membentuk epipisis dari tulang panjang dan tulang ekstremitas dari tulang iregular dan pipih. Baik diapisis maupun epipisis dari tulang panjang dipisahkan oleh bab akrtilago (lempeng epipiseal). Saat anak hingga pada maturitas skeletal (usia 18 hingga 25 tahun), seluruh jaringan kartilago digantikkan dengan tulang, dengan jalan menyatukan diapisis dan epipisis

               


Sumber http://pustakauntuksemua.blogspot.com


EmoticonEmoticon