Kamis, 23 Februari 2017

Pidato Wisudawan Terbaik, Memukau Tetapi Sekaligus Menakutkan

Pidato Wisudawan Terbaik, Memukau tetapi Sekaligus Menakutkan - Renungan bagi kita, Setahun lagi.......

Setiap program wisuda di kampus ITB selalu ada pidato sambutan dari salah seorang wisudawan. Biasanya yang terpilih memperlihatkan pidato sambutan yaitu langsung yang unik, tetapi tidak selalu yang mempunyai IPK terbaik. Sepanjang yang saya pernah ikuti, isi pidatonya kebanyakan tidak terlalu istimewa, paling-paling isinya kenangan memorabilia selama menimba ilmu di kampus ITB, kehidupan mahasiswa selama kuliah, pesan-pesan, dan ucapan terima kasih kepada dosen dan teman-teman civitas academica.


Namun, yang saya tulis dalam posting-an ini bukan pidato wisudawan ITB, tetapi wisudawan di Amerika. Beberapa hari yang kemudian saya mendapatkan kiriman surel dari sobat di milis dosen yang isinya cuplikan pidato Erica Goldson pada program wisuda di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010. Erica Goldson yaitu wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik pada tahun itu. Isi pidatonya sangat menarik dan berdasarkan saya sangat memukau. Namun, sesudah saya membacanya, ada rasa keprihatinan yang muncul (nanti saya jelaskan).Cuplikan pidato ini dikutip dari goresan pena di blog berikut: 

“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama lantaran saya yaitu lulusan terbaik di kelas saya. Namun, sesudah direnungkan, saya tidak sanggup menyampaikan bila saya memang lebih cerdik dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang sanggup saya katakan yaitu bila saya memang yaitu yang terbaik dalam melaksanakan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.

Di sini saya berdiri, dan seharusnya gembira bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi ekspresi dominan hirau taacuh ini dan menuju tahap berikut yang diperlukan kepada saya, sesudah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.

Tetapi saya yaitu seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja yaitu orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil memperlihatkan bila saya yaitu budak terpintar. Saya melaksanakan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di ketika orang lain duduk termangu di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.

Saat belum dewasa lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka lantaran asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain membuat musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik?

Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?

Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak mempunyai hobi, lantaran semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, kini saya mulai ketakutan…….”

Hmmm… sesudah membaca pidato wisudawan terbaik tadi, apa kesan anda? Menurut saya pidatonya yaitu sebuah ungkapan yang jujur, tetapi berdasarkan saya kejujuran yang “menakutkan”. Menakutkan lantaran selama sekolah ia hanya mengejar nilai tinggi, tetapi ia meninggalkan kesempatan untuk berbagi dirinya dalam bidang lain, menyerupai hobi, ketrampilan, soft skill, dan lain-lain.

Akibatnya, sesudah ia lulus ia merasa gamang, merasa takut terjun ke dunia nyata, yaitu masyarakat. Bahkan yang lebih mengenaskan lagi, ia sendiri tidak tahu apa yang ia inginkan di dalam hidup ini.

Saya sering menemukan mahasiswa yang hanya berkutat dengan urusan kuliah semata. Obsesinya yaitu memperoleh nilai tinggi untuk semua mata kuliah. Dia tidak tertarik ikut aktivitas kemahasiswaan, baik di himpunan maupun di Unit Kegiatan Mahasiswa.

Baginya hanya kuliah, kuliah, dan kuliah. Memang betul ia sangat rajin, selalu mengerjakan PR dan kiprah dengan gemilang. Memang kesannya IPK-nya tinggi, lulus cum-laude pula. Tidak ada yang salah dengan obsesinya mengejar nilai tinggi, alasannya yaitu semua mahasiswa seharusnya menyerupai itu, yaitu mengejar nilai terbaik untuk setiap kuliah.

Namun, untuk hidup di dunia konkret seorang mahasiswa tidak sanggup hanya berbekal nilai kuliah, namun ia juga memerlukan ketrampilan hidup semacam soft skill yang hanya didapatkan dari pengembangan diri dalam bidang non-akademis.

Nah, bila mahasiswa hanya berat dalam hard skill dan tidak membekali dirinya dengan ketrampilan hidup, bagaimana nanti ia siap menghadapi kehidupan dunia konkret yang memerlukan ketrampilan berkomunikasi, berdiplomasi, relasi antar personal, dan lain-lain.

Menurut saya, ini pulalah yang menjadi kelemahan alumni ITB yang disatu sisi sangat percaya diri dengan keahliannya, namun lemah dalam relasi antar personal. Itulah makanya saya sering menyemangati dan menyuruh mahasiswa saya ikut aktivitas di Himpunan mahasiswa dan di Unit-Unit Kegiatan, semoga mereka tidak menjadi orang yang kaku, namun menjadi orang yang menyenangkan dan disukai oleh lingkungan tempatnya bekerja dan bertempat tinggal. 

Orang yang terbaik belum tentu menjadi orang tersukses, sukses dalam hidup itu hal yang lain lagi.

Menurut saya, apa yang dirasakan wisudawan terbaik Amerika itu juga merupakan citra sistem pendidikan dasar di negara kita. Anak didik hanya ditargetkan mencapai nilai tinggi dalam pelajaran, lantaran itu sistem kejar nilai tinggi selalu ditekankan oleh guru-guru dan sekolah. Jangan heran lembaga

Bimbel tumbuh subur lantaran murid dan orangtua membutuhkannya semoga belum dewasa mereka menjadi juara dan terbaik di sekolahnya. Belajar hanya untuk mengejar nilai semata, sementara kreativitas dan soft skill yang penting untuk bekal kehidupan terabaikan. Sistem pendidikan menyerupai ini membuat anak didik tumbuh menjadi anak “penurut” ketimbang anak kreatif.

Baiklah, pada bab selesai goresan pena ini saya kutipkan teks orisinil (dalam Bahasa Inggris) Erica Goldson di atas semoga kita memahami pidato lengkapnya. Teks orisinil pidatonya sanggup ditemukan di dalam laman web ini: Valedictorian Speaks Out Against Schooling in Graduation Speech .



Sumber http://sumbermaterikuliah.blogspot.com


EmoticonEmoticon