Selasa, 02 Januari 2018

Bekal Ppl (Praktek Pengalaman Lapangan) Stain Jurai Siwo Metro

Datafilecom: Metro, 01 Januari 2012, oleh: Abdul Rohman

Oke pagi ini yakni pagi dimana diriku teringkat ketika dahulu pas waktu semester V (sekarang semester VII) diriku ikut PPL 2 dengan kaka' tingkat tidak mengecewakan asik alasannya yakni prakteknya memang bareng orang-orang yang notabene lebih cerdik balig cukup akal ketimbang diriku (kaka' tingkat) asik tegang dan mengasikan ya menyerupai itulah kurang lebihnya perasaanku ketika diriku ikut PPL 2 di Sekolah Menengan Atas Negeri 1 Trimurjo, yang memang itu ditugaskan oleh pihak forum STAIN Jurai Siwo Metro.

Nah berhubung pada ketika ini diriku teringkat akan hal tersebut dan masih tersimpan pula file-file dari acara PPL dahulu maka insyaAllah kali ini diriku akan mencoba untuk mengembangkan dengan teman-teman semester VII kini siapa tau bisa sampean gunakan, dan saya mulai dengan beberapa point penting sebelum anda mengajar nanti di kelas (oya ngomong2 maaf ya ini bekal PPL untuk Jurusan Tarbiyah soale diriku juga Jurusannya Tarbiyah, he he he jadi yang syari'ah maaf ya, tapi kalo semisal ada dan ingin mengembangkan dengan temen-temen bisa juga tuch silahkan kirim ke emailku aja ya (datafilekom@gmail.com)).

berikut ini yakni beberapa Metode yang mungkin temen-temen juga sudah dapatkan di kelas ketika menghadapi mata kuliah Strategi Belajar Mengajar, MK PAI, dll dach... selain itu diriku juga sudah menyimpan beberapa materi power point ihwal Metode Pembelajaran yang sudah di posting lama:





Belajar atau pembelajaran yakni merupakan sebuah kegiatan yang wajib kita lakukan dan kita berikan kepada belum dewasa kita. Karena ia merupakan kunci sukses unutk menggapai masa depan yang cerah, mempersiapkan generasi bangsa dengan wawasan ilmu pengetahuan yang tinggi. Yang pada akibatnya akan mempunyai kegunaan bagi bangsa, negara, dan agama. Melihat kiprah yang begitu vital, maka menerapkan metode yang efektif dan efisien yakni sebuah keharusan. Dengan cita-cita proses berguru mengajar akan berjalan menyenakngkan dan tidak membosankan. Di bawah ini yakni beberapa metode pembelajaran efektif, yang mungkin bisa kita persiapkan.


Metode Debat
Metode debat merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Materi bimbing dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat orang. Di dalam kelompoknya, siswa (dua orang mengambil posisi pro dan dua orang lainnya dalam posisi kontra) melaksanakan perdebatan ihwal topik yang ditugaskan. Laporan masing-masing kelompok yang menyangkut kedua posisi pro dan kontra diberikan kepada guru.
Selanjutnya guru sanggup mengevaluasi setiap siswa ihwal penguasaan materi yang meliputi kedua posisi tersebut dan mengevaluasi seberapa efektif siswa terlibat dalam mekanisme debat.
Pada dasarnya, semoga semua model berhasil menyerupai yang diharapkan pembelajaran kooperatif, setiap model harus melibatkan materi bimbing yang memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung ketika mereka berguru materi dan bekerja saling tergantung (interdependen) untuk menuntaskan tugas. Ketrampilan sosial yang dibutuhkan dalam perjuangan berkolaborasi harus dipandang penting dalam keberhasilan menuntaskan kiprah kelompok. Ketrampilan ini sanggup diajarkan kepada siswa dan kiprah siswa sanggup ditentukan untuk memfasilitasi proses kelompok. Peran tersebut mungkin majemuk berdasarkan tugas, misalnya, kiprah pencatat (recorder), pembuat kesimpulan (summarizer), pengatur materi (material manager), atau fasilitator dan kiprah guru bisa sebagai pemonitor proses belajar.

Metode Role Playing
Metode Role Playing yakni suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan. Kelebihan metode Role Playing:
Melibatkan seluruh siswa sanggup berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam bekerjasama.
1. Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh.
2. Permainan merupakan inovasi yang gampang dan sanggup dipakai dalam situasi dan waktu yang berbeda.
3. Guru sanggup mengevaluasi pemahaman tiap siswa melalui pengamatan pada waktu melaksanakan permainan.
4. Permainan merupakan pengalaman berguru yang menyenangkan bagi anak.


Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Metode pemecahan persoalan (problem solving) yakni penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi banyak sekali persoalan baik itu persoalan pribadi atau perorangan maupun persoalan kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama.
Orientasi pembelajarannya yakni pemeriksaan dan inovasi yang intinya yakni pemecahan masalah.
Adapun keunggulan metode problem solving sebagai berikut:
1. Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
2. Berpikir dan bertindak kreatif.
3. Memecahkan persoalan yang dihadapi secara realistis
4. Mengidentifikasi dan melaksanakan penyelidikan.
5. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
6. Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menuntaskan persoalan yang dihadapi dengan tepat.
7. Dapat menciptakan pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja.
Kelemahan metode problem solving sebagai berikut:
1. Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini. Misal terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akibatnya sanggup menyimpulkan insiden atau konsep tersebut.
2. Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain.

Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Problem Based Instruction (PBI) memusatkan pada persoalan kehidupannya yang bermakna bagi siswa, kiprah guru menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.
Langkah-langkah:
1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam acara pemecahan persoalan yang dipilih.
2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan kiprah berguru yang berafiliasi dengan persoalan tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapat klarifikasi dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
4. Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai menyerupai laporan dan membantu mereka mengembangkan kiprah dengan temannya.
5. Guru membantu siswa untuk melaksanakan refleksi atau penilaian terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
Kelebihan:
1. Siswa dilibatkan pada kegiatan berguru sehingga pengetahuannya benar-benar diserapnya dengan baik.
2. Dilatih untuk sanggup bekerjasama dengan siswa lain.
3. Dapat memperoleh dari banyak sekali sumber.
Kekurangan:
1. Untuk siswa yang malas tujuan dari metode tersebut tidak sanggup tercapai.
2. Membutuhkan banyak waktu dan dana.
3. Tidak semua mata pelajaran sanggup diterapkan dengan metode ini

Cooperative Script
Skrip kooperatif yakni metode berguru dimana siswa bekerja berpasangan dan secara ekspresi mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari.
Langkah-langkah:
1. Guru membagi siswa untuk berpasangan.
2. Guru membagikan wacana / materi tiap siswa untuk dibaca dan menciptakan ringkasan.
3. Guru dan siswa memutuskan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.
4. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar menyimak / mengoreksi / memperlihatkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dan membantu mengingat / menghapal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya.
5. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya, serta lakukan menyerupai di atas.
6. Kesimpulan guru.
7. Penutup.
Kelebihan:
• Melatih pendengaran, ketelitian / kecermatan.
• Setiap siswa mendapat peran.
• Melatih mengungkapkan kesalahan orang lain dengan lisan.
Kekurangan:
• Hanya dipakai untuk mata pelajaran tertentu
• Hanya dilakukan dua orang (tidak melibatkan seluruh kelas sehingga koreksi hanya sebatas pada dua orang tersebut).

Picture and Picture
Picture and Picture yakni suatu metode berguru yang memakai gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi urutan logis.
Langkah-langkah:
1. Guru memberikan kompetensi yang ingin dicapai.
2. Menyajikan materi sebagai pengantar.
3. Guru memperlihatkan / memperlihatkan gambar-gambar yang berkaitan dengan materi.
4. Guru menunjuk / memanggil siswa secara bergantian memasang / mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.
5. Guru menanyakan bantalan an / dasar pemikiran urutan gambar tersebut.
6. Dari alasan / urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep / materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
7. Kesimpulan / rangkuman.
Kebaikan:
1. Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa.
2. Melatih berpikir logis dan sistematis.
Kekurangan:Memakan banyak waktu. Banyak siswa yang pasif.

Numbered Heads Together
Numbered Heads Together yakni suatu metode berguru dimana setiap siswa diberi nomor kemudian dibentuk suatu kelompok kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa.
Langkah-langkah:
1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
2. Guru memperlihatkan kiprah dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
3. Kelompok mendiskusikan balasan yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok sanggup mengerjakannya.
4. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka.
5. Tanggapan dari sahabat yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain.
6. Kesimpulan.
Kelebihan:
• Setiap siswa menjadi siap semua.
• Dapat melaksanakan diskusi dengan sungguh-sungguh.
• Siswa yang pintar sanggup mengajari siswa yang kurang pandai.
Kelemahan:
• Kemungkinan nomor yang dipanggil, dipanggil lagi oleh guru.
• Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru

Metode Investigasi Kelompok (Group Investigation)
Metode pemeriksaan kelompok sering dipandang sebagai metode yang paling kompleks dan paling sulit untuk dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif. Metode ini melibatkan siswa semenjak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode ini menuntut para siswa untuk mempunyai kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan proses kelompok (group process skills). Para guru yang memakai metode pemeriksaan kelompok umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 hingga 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen. Pembagian kelompok sanggup juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu. Para siswa menentukan topik yang ingin dipelajari, mengikuti pemeriksaan mendalam terhadap banyak sekali subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan. Adapun deskripsi mengenai langkah-langkah metode pemeriksaan kelompok sanggup dikemukakan sebagai berikut:
a. Seleksi topik
Parasiswa menentukan banyak sekali subtopik dalam suatu wilayah persoalan umum yang biasanya digambarkan lebih dahulu oleh guru. Para siswa selanjutnya diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi pada kiprah (task oriented groups) yang beranggotakan 2 hingga 6 orang. Komposisi kelompok heterogen baik dalam jenis kelamin, etnik maupun kemampuan akademik.
b. Merencanakan kerjasama
Parasiswa beserta guru merencanakan banyak sekali mekanisme berguru khusus, kiprah dan tujuan umum yang konsisten dengan banyak sekali topik dan subtopik yang telah dipilih dari langkah a) di atas.
c. Implementasi
Parasiswa melaksanakan planning yang telah dirumuskan pada langkah b). Pembelajaran harus melibatkan banyak sekali acara dan ketrampilan dengan variasi yang luas dan mendorong para siswa untuk memakai banyak sekali sumber baik yang terdapat di dalam maupun di luar sekolah. Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memperlihatkan sumbangan jikalau diperlukan.
d. Analisis dan sintesis
Parasiswa menganalisis dan mensintesis banyak sekali informasi yang diperoleh pada langkah c) dan merencanakan semoga sanggup diringkaskan dalam suatu penyajian yang menarik di depan kelas.
e. Penyajian hasil akhir
Semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari banyak sekali topik yang telah dipelajari semoga semua siswa dalam kelas saling terlibat dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut. Presentasi kelompok dikoordinir oleh guru.
f. Evaluasi
Guru beserta siswa melaksanakan penilaian mengenai donasi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi sanggup meliputi tiap siswa secara individu atau kelompok, atau keduanya.

Metode Jigsaw
Pada dasarnya, dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen lebih kecil. Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam kelompok berguru kooperatif yang terdiri dari empat orang siswa sehingga setiap anggota bertanggungjawab terhadap penguasaan setiap komponen/subtopik yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya. Siswa dari masing-masing kelompok yang bertanggungjawab terhadap subtopik yang sama membentuk kelompok lagi yang terdiri dari yang terdiri dari dua atau tiga orang.
Siswa-siswa ini bekerja sama untuk menuntaskan kiprah kooperatifnya dalam: a) berguru dan menjadi jago dalam subtopik bagiannya; b) merencanakan bagaimana mengajarkan subtopik bagiannya kepada anggota kelompoknya semula. Setelah itu siswa tersebut kembali lagi ke kelompok masing-masing sebagai “ahli” dalam subtopiknya dan mengajarkan informasi penting dalam subtopik tersebut kepada temannya. Ahli dalam subtopik lainnya juga bertindak serupa. Sehingga seluruh siswa bertanggung jawab untuk memperlihatkan penguasaannya terhadap seluruh materi yang ditugaskan oleh guru. Dengan demikian, setiap siswa dalam kelompok harus menguasai topik secara keseluruhan.

Metode Team Games Tournament (TGT)
Pembelajaran kooperatif model TGT yakni salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang gampang diterapkan, melibatkan acara seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan kiprah siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement.
Aktivitas berguru dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa sanggup berguru lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
Ada5 komponen utama dalam komponen utama dalam TGT yaitu:
1. Penyajian kelas
Pada awal pembelajaran guru memberikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan dengan pengajaran pribadi atau dengan ceramah, diskusi yang dipimpin guru. Pada ketika penyajian kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru, alasannya yakni akan membantu siswa bekerja lebih baik pada ketika kerja kelompok dan pada ketika game alasannya yakni skor game akan menentukan skor kelompok.
2. Kelompok (team)
Kelompok biasanya terdiri dari 4 hingga 5 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi akademik, jenis kelamin dan ras atau etnik. Fungsi kelompok yakni untuk lebih mendalami materi bersama sahabat kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok semoga bekerja dengan baik dan optimal pada ketika game.
3. Game
Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan berguru kelompok. Kebanyakan game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa menentukan kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor. Skor ini yang nantinya dikumpulkan siswa untuk turnamen mingguan.
4. Turnamen
Biasanya turnamen dilakukan pada final ahad atau pada setiap unit sesudah guru melaksanakan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja.
Turnamen pertama guru membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen. Tiga siswa tertinggi prestasinya dikelompokkan pada meja I, tiga siswa selanjutnya pada meja II dan seterusnya.
5. Team recognize (penghargaan kelompok)
Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing team akan mendapat akta atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. Team mendapat julukan “Super Team” jikalau rata-rata skor 45 atau lebih, “Great Team” apabila rata-rata mencapai 40-45 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 30-40

Model Student Teams – Achievement Divisions (STAD)
Siswa dikelompokkan secara heterogen kemudian siswa yang pintar menjelaskan anggota lain hingga mengerti.
Langkah-langkah:
1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen (campuran berdasarkan prestasi, jenis kelamin, suku, dll.).
2. Guru menyajikan pelajaran.
3. Guru memberi kiprah kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok. Anggota yang tahu menjelaskan kepada anggota lainnya hingga semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
4. Guru memberi kuis / pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada ketika menjawab kuis dilarang saling membantu.
5. Memberi evaluasi.
6. Penutup.
Kelebihan:
1. Seluruh siswa menjadi lebih siap.
2. Melatih kerjasama dengan baik.
Kekurangan:
1. Anggota kelompok semua mengalami kesulitan.
2. Membedakan siswa.

Model Examples Non Examples
Examples Non Examples yakni metode berguru yang memakai contoh-contoh. Contoh-contoh sanggup dari kasus / gambar yang relevan dengan KD.
Langkah-langkah:
1. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.
2. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan lewat OHP.
3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan / menganalisa gambar.
4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas.
5. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya.
6. Mulai dari komentar / hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai.
7. KKesimpulan.
Kebaikan:
1. Siswa lebih kritis dalam menganalisa gambar.
2. Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa pola gambar.
3. Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.
Kekurangan:
1. Tidak semua materi sanggup disajikan dalam bentuk gambar.
2. Memakan waktu yang lama.

Model Lesson Study
Lesson Study yakni suatu metode yang dikembangkan di Jepang yang dalam bahasa Jepangnya disebut Jugyokenkyuu. Istilah lesson study sendiri diciptakan oleh Makoto Yoshida.
Lesson Study merupakan suatu proses dalam mengembangkan profesionalitas guru-guru di Jepang dengan jalan menyelidiki/ menguji praktik mengajar mereka semoga menjadi lebih efektif.
Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Sejumlah guru bekerjasama dalam suatu kelompok. Kerjasama ini meliputi:
a. Perencanaan.
b. Praktek mengajar.
c. Observasi.
d. Refleksi/ kritikan terhadap pembelajaran.
2. Salah satu guru dalam kelompok tersebut melaksanakan tahap perencanaan yaitu menciptakan planning pembelajaran yang matang dilengkapi dengan dasar-dasar teori yang menunjang.
3. Guru yang telah menciptakan planning pembelajaran pada (2) kemudian mengajar di kelas sesungguhnya. Berarti tahap praktek mengajar terlaksana.
4. Guru-guru lain dalam kelompok tersebut mengamati proses pembelajaran sambil mencocokkan planning pembelajaran yang telah dibuat. Berarti tahap observasi terlalui.
5. Semua guru dalam kelompok termasuk guru yang telah mengajar kemudian gotong royong mendiskusikan pengamatan mereka terhadap pembelajaran yang telah berlangsung. Tahap ini merupakan tahap refleksi. Dalam tahap ini juga didiskusikan langkah-langkah perbaikan untuk pembelajaran berikutnya.
6. Hasil pada (5) selanjutnya diimplementasikan pada kelas/ pembelajaran berikutnya dan seterusnya kembali ke (2).
Adapun kelebihan metode lesson study sebagai berikut:
- Dapat diterapkan di setiap bidang mulai seni, bahasa, hingga matematika dan olahraga dan pada setiap tingkatan kelas.
- Dapat dilaksanakan antar/ lintas sekolah.



d

Sumber http://datafilecom.blogspot.com


EmoticonEmoticon