Senin, 12 Maret 2018

Meet -1St- 01 Juni 2015



"Meet"


Ia menatap langit itu sekali lagi. Terik matahari yang begitu menyengat di siang hari tidak ia perdulikan. Langit. Jelas untuk menatap langit. Birunya langit begitu mempengaruhi kedua bola mata hitam bening yang dimilikinya.

            Senyum... seulas senyum terukir di wajahnya. Ia tersenyum. Gadis itu tersenyum tatkala kedua bola matanya mengunci langit yang terhampar luas di atas sana. Ah.... gadis itu masih tersenyum. Apa yang Istimewa dari langit? Bukankah duduk di bawah pohon rindang lebih menarik??? Apalagi di siang hari yang sangat panas ini.

            “Selalu indah. Langit biru memang sangat indah untuk dilihat,” gumam gadis itu. Rambut panjang lebih sebahunya yang dikuncir ekor kuda tampak berkibar di ujung. Walaupun matahari sangat bersemangat menyinari bumi, anginpun tetap berhembus. “Ah... sudah jam setengah tiga,” tambah gadis itu sembari melirik pergelangan tangannya di mana sebuah jam tangan berwarna hitam melingkar.

            Sekali lagi gadis itu menatap langit dan tersenyum dan kemudian memperbaiki posisi tas gitarnya kemudian perlahan melanjutkan perjalannya entah ke mana.

******

Gadis itu—ya gadis yang menatap langit di pinggir jalan tadi—memberhentikan langkahnya ketika ia tiba di sebuah taman. Taman itu berbentuk persegi panjang dengan di kiri-kanan gerbang masuknya terdapat bunga bugenfil besar yang bunganya berwarna-warni. Ini niscaya hasil perkawinan silang atau cangkok. Gadis itu berhenti dua langkah dari pintu masuk dan menatap sekitar.

            “Selalu ramai,” gumam gadis itu. Setiap setengah tiga sore ia selalu berada di taman ini. Hal-hal yang ia lakukan sangat bervariasi. Dari sekedar terdiam atau melamun saja, menciptakan tugas, menyanyi, memperhatikan sekitar, dan sebagainya. Namun, yang paling sering gadis itu lakukan yaitu bernyanyi sambil bermain gitar. Terkadang tak heran jikalau ia sering di kelilingi oleh bawah umur kecil.

            “Sebaiknya saya duduk di dingklik dekat kolam,” ucap gadis itu sembari berjalan menuju kolam yang berada di sebelah kanan taman.
            Tidak membutuhkan waktu usang gadis itu telah duduk di dingklik di dekat kolam. Dikeluarkannya gitar dari tasnya dan di letakkan di sampingnya. Haruskah ia bermain gitar? Ntahlah... gadis itu tampak tidak bersemangat.

Raindrops on roses and whiskers on kittens
Beautiful rainbows and warm woolen mittens
Brown paper packages tied up with strings
These are a few of my favorite things

Cream colored ponies and crisp apple strudels
Door bells and sleigh bells and schnitzel with noodles
Wild geese that fly with the moon on their wings
These are a few of my favorite things

            “Suara siapa ini?” Gadis tadi bertanya-tanya ketika ia mendengar seseorang bernyanyi. Suara yang begitu halus dan sangat lezat di dengar. Gadis tadi eksklusif memetik gitarnya dan ikut bernyanyi.

Girls in a white dresses with blue satin sashes
Snowflakes that stay on my nise and eyelashes
Silver white winters that melt into springs
These are a few of my favorite things...

            “Siapa yang bernyanyi?” tanya gadis itu lagi dan kedua bola matanya bergerak dengan liar menyapu sekeliling taman dan gotcha... gadis itu berhasil menemukan si pemilik suara. Tergesa-gesa ia menghampiri si pemilik bunyi yang ternyata seseorang yang sedang duduk di dekat lampu taman. Lagi-lagi gadis itu tersenyum. Ntahlah... hanya mendengar bunyi seseorang saja menciptakan gadis itu eksklusif bersemangat dan bernyanyi. Membangkitkan mood yang hilang.

            Meskipun tak sabar ingin berkenalan dengan si pemilik suara, namun gadis itu tidak hingga hati mengangu si pemilik bunyi bernyanyi. Ia menunggu dalam membisu dan memperhatikan si pemilik bunyi bernyanyi. Hingga pada lirik terkahir gadis itu berkemas-kemas untuk berkenalan dengan si pemilik suara.

I simply remember my favorite things
And then I don’t feel so bad....

             “Hai...,” sapa gadis itu sempurna sehabis lirik final selesai dinyanyikan dan si pemilik bunyi membuka matanya.

            “Ha... hai...,” balas pemilik suara. “Ada apa?”

            Gadis tadi tersenyum sembari menggeleng. “Tidak apa-apa... saya sangat suka suaramu. Tadi saya mengikutimu bernyanyi ngomong-ngomong,” jawab gadis itu. “Aku Alyssa Raifyna Amaryliss. Kau sanggup panggil saya Ify. Aku harap kamu mau berteman denganku.”

            Si pemilik bunyi menatap Ify—gadis tadi—dengan kedua bola mata yang membesar. Oh bukan memandang Ify sebagai orang aneh. Hanya saja kaget mendapat anjuran berteman dari gadis berdagu tirus itu.

            “Kau sungguh ingin berteman denganku?” tanya si pemilik bunyi dengan nada sedikit ragu.

            Ify mengangkat sebelah alisnya. “Apa berteman denganmu yaitu sesuatu yang salah?” Ify bertanya balik.

            Si pemilik bunyi hanya menggerakan kedua bahunya ke atas. “Aku tidak tahu. Perlu kamu tahu, di sekolah saya populer penyendiri. Apa itu tidak mengapa?”

            Bukannya terkejut atau memperlihatkan mulut kaget, Ify malah hampir tertawa. “Kau tahu... saya tidak tahu ini kebetulan atau bukan. Aku juga penyendiri. Aku lebih suka bernyanyi di taman belakang sekolah ketika istirahat, kamu tahu. Bukankah baik untuk kita berteman?”

            “Sungguh?” Si pemilik bunyi memastikan. Ia juga tidak tahu ini kebetulan atau bukan. Ify mengangguk penuh semangat. “Aku tidak tahu ini kebetulan atau bukan, tetapi saya pernah membaca jikalau di dunia ini tidak ada kebetulan. Pertemuan singkatpun sudah direncanakan oleh Allah.”

            “Seperti kita? Kita bertemu untuk berteman atau mungkin bersahabat bukan? Bukankah kita mempunyai hobi yang sama?”

            Si pemilik bunyi mengangguk dan wajahnya berbinar-binar senang. “Aku harap begitu. Ngomong-ngomong namaku Navia Daisy Galihena. Dan kamu sanggup memanggilku Via saja,” ucap si pemilik suara, Via. Gadis berpipi chubby itu mengulurkan tangannya.

            Melihat niat untuk berkenalannya disambut baik oleh Via, Ify tidak segan-segan menyambut uluran tangan Via. Semuanya terasa lebih baik. Dengan begini ia akan mempunyai sahabat untuk bernyanyi.

            “Selamat bertemu, Vi. Kau tahu, pertemuan tak sengaja kita ditakdirkan untuk berteman dan sanggup saja untuk menjadi sahabat,” ucap Ify dan mengambil posisi duduk di sebelah Via.

            Desauan angin sore berhembus seolah menyatakan kesetujuan atas perteman Via dan Ify yang gres saja terjalin. Bahkan, awanpun turut mendukung dengan tiadanya terik matahari menjelang sore hari. Sungguh suasana yang sangat menyejukkan.

            “Kau tahu, aneka macam tadir yang kita temui di setiap harinya,” ucap Via memulai percakapan singkat mereka.

            “Misalnya menyerupai apa?”

            “Setiap hari kita bertemu orang-orang yang baru. Seperti saya yang ditakdirkan berteman denganmu. Atau menyerupai saya terhadap Mbak itu...” Via menunjuk seorang  wanita yang berusia sekitar 25 tahunan yang sedang berbincang-bincang melalui handphone “...kau tahu, saya dan Mbak itu hanya ditakdirkan sebagai sahabat seperjalan menuju taman ini.”

            Ify tampak tertarik dengan topik pembicaraan Via. “Kalian barengan jalan kaki ke sini?” tanya Ify antusias.

            Via mengangguk sebagai jawabannya. “Aku dan kamu dengan orang-orang ini ditakdirkan hanya bertemu untuk saling melihat sekilas tanpa ada takdir yang menyatakan jikalau kita akan berkenalan atau berteman dengan orang-orang di sini.”

            “Oh... jikalau begitu menyerupai saya dengan pria tadi,” ucap Ify pelan.

            “Laki-laki tadi? Kau bertemu dengan seorang pria ketika berjalan ke sini?” tanya Via semangat.

            Ify mengangguk pelan. “Aku hampir dua kali menabraknya. Sungguh memalukan. Apakah takdirku hanya untuk bertabarkan dengannya?”

            Via terkekeh kecil. Takdir untuk bertabrakan? Lucu!!! “Aku rasa tidak. Mungkin ada planning lain untuk insiden tabarakan dua kali yang kamu alami, Fy,” ujar Via.

            “Tidak bertemu juga tidak apa-apa. Menjalani takdir gesekan sebanyak dua kali di satu hari pada satu orang yang sama bukanlah takdir yang ingin saya ulangi. Tak ada muka untuk bertemu dengannya,” gerutu Ify.

            Via merasa Ify sudah sedikit badmood apabila membahas wacana insiden tabrakan. Lebih baik tinggalkan topik itu. “Apa kamu pernah menyadari takdir lainnya?” tanya Via iseng. “Seperti bertemu dengan artis idolamu?”

            “Artis idola?” ulang Ify.

            “Iya.”

            “Sayangnya belum pernah. Kau tahu, apakah ada takdir bila saya bertemu dengan Lee Jong Suk Oppa atau Choi Minho Oppa atau sanggup juga Lee Jong Hyun Oppa atau Kim Soo Hyun Oppa. Kau tahu saya sangat menyukai mereka,” dongeng Ify antusias. Bercerita wacana artis idola tentu saja Ify eksklusif teringat dengan artis Korea favoritnya, terutama Lee Jong Suk.

            “Kau mengidolakan Jong Suk Oppa?” tanya Via takkalah antusias.

            Sungguh. Ify benar-benar mengangguk penuh semangat. “Ah... jangan membicarakan Jong Suk Oppa. Aku jadi ingin melihatnya. Dia sangat tampan, bukan?”

            “Tentu saja. Apalagi kiprahnya sebagai Park Hoon di Docter Stranger. Aku juga suka Jong Suk Oppa ngomong-ngomong!!!”

            “Ayo kita berhigh five,” ajak Ify dan mereka pun bertos ria. Bertemu seseorang yang mempunyai hobi yang sama dan idola yang sama bukankah sebuah anugerah?? “Kau tahu, saya sangat suka semua kiprah Jong Suk Oppa.”

            Via mengangguk-ngangguk sembari tersenyum. Mungkin ia sedang mengingat kembali kiprah yang dimainkan Lee Jong Suk. “Kau sudah mendengar Jong Suk Oppa bernyanyi?”

            “Tentu saja sudah. Tidak rekaman saja suaranya lezat didengar, apalagi rekaman ya!! Aku selalu menunggu Jong Suk Oppa bernyanyi.”

            “Aku pun begitu. Drama barunya saja belum ada tanda-tanda. Semoga saja nanti ada drama barunya dan Jong Suk Oppa mengisi soundtracknya,” ujar Via dan tiba-tiba kedua bola mata gadis itu menyipit. “Eh... kenapa pria itu melihat ke sini? Kau tahu ia sudah dua kali melihat ke sini, Fy.”

            “Mana?”

            “Itu...” Via menunjuk ke arah daerah duduk di seberang mereka yang sedikit terhalang dengan tiang lampu taman “....kau melihatnya?”

            Ify melihat ke arah yang ditunjuk oleh Via. “Astaga...” gumam Ify sembari menempelkan telapak tangan kanannya di depan bibirnya. Bukankah itu pria yang ia langgar tadi?

            “Astaga kenapa, Fy?” tanya Via bingung. “Eh... pria itu tersenyum ke arah kita dan ia berjalan ke sini. Kau mengenalnya, Fy?” tanya Via beruntun.

            Ify mengerjap-ngerjapkan kedua matanya seolah ingin memastikan apakah pria itu benar-benar berjalan ke arah mereka atau tidak. Tetapi kenyataannya pria itu memang berjalan ke arah mereka. Untuk memastikan lagi Ify melihat ke belakang mereka dan tidak ada orang lain. Sepertinya pria itu benar-benar akan menghampiri dirinya—atau—bukankah sanggup saja pria itu menghampiri Via? Bukankah ada kemungkinan takdir jikalau pria itu tertarik mendengar bunyi Via sama menyerupai dirinya.

            “Fy... Ify... kamu mengenalnya?” Via bertanya ulang.

            “Tidak. Sungguh saya tidak mengenalnya,” jawab Ify. Namun, mata Via seolah mengisyaratkan meminta jawaban. “Sungguh, Vi, saya benar-benar tidak mengenal di...”

            “Kau sungguh tidak mengenalku, Alyssa Raifyna Amaryliss?”

            Suara ini yaitu bunyi laki-laki. Spontan Via dan Ify menatap ke depan dan menemukan pria yang melihat ke arah mereka telah berdiri dengan tegap di hadapan mereka.

            “Kau sungguh tidak mengenalku, Fy?” ulang pria tadi.

            Via menyenggol siku ajun Ify dan impulsif Ify menggeleng. “Aku sungguh tidak tahu kamu siapa.”

            Bukannya marah, tetapi pria itu tertawa kecil. “Tidak apa-apa kamu belum mengenalku. Dan alasan kenapa saya tahu namamu yaitu ketika kamu bernyanyi di tepi kolam itu dua ahad yang lalu. Kau ingat?”

            Dua ahad yang lalu? Menyanyi di tepi kolam? Bukankah itu ketika ia di kelilingi oleh adik-adik kecil dan... Ify tersentak. “Kau orang yang bertanya siapa namaku dua ahad yang lalu?”

            Laki-laki itu mengangguk dan tersenyum senang. “Dua ahad yang kemudian yaitu takdir di mana saya menganggumimu dan hanya tahu namamu. Hari ini takdir kamu menabrakku dan membuatku mempunyai kesempatan untuk mengenalmu.”

            “Takdir. Apa dia...” Ify bertanya tanpa bunyi kepada Via.

            “Ngomong-ngomong, bukankah pembicaraan kalian mengenai takdir dan saya hanya mengaitkannya dengan insiden yang saya alami. Itu saja,” tambah pria itu. “Boleh berkenalan?”

            Ify bertanya kepada Via yang raut wajahnya seolah akan meledek Ify. Harusnya Ify tidak harus bertanya kepada Via bila ia sadar jikalau Via akan eksklusif menyampaikan iya. “Iya. Aku Ify. Dan kau?”

            “Ini bukan perkenalan yang saya harapkan. Tetapi lebih baik begini daripada tidak sama sekali. Aku Rio, Bintang Orion Raditya Grahatama. Kau sanggup memanggilku apapun asalkan masih ada di nama panjangku,” ucap Rio.

            Ify mengangguk-ngangguk. Dia tidak ambil pusing untuk urusan menyerupai ini.

            “Dan kamu sahabat barunya Ify....?

            “Via,” ucap Via pendek.

            Rio mengangguk-ngangguk. “Ngomong-ngomong ini pitch gitarmu.” Rio mengulurkan sebuah benda kecil kepada Ify.

            “Astaga... di mana kamu menemukannya? Aku sungguh tidak menyadari bahwa ini terjatuh. Terima kasih banyak alasannya kamu telah menemukannya,” ucap Ify sembari mengambil pitch gitarnya dan Rio mengangguk sebagai balasan sama-samanya.

            “Jadi... apakah saya boleh bergabung dengan kalian? Bukankah kalian akan bernyanyi?” tanya Rio.

            Ify dan Via saling melempar tatapan untuk siapa yang memberi jawaban.

            “Apakah tidak bisa? Kau tahu... saya cukup sanggup bernyanyi,” tambah Rio. Namun, kedua gadis itu masih saling melempar tatapan.

            Diam....
            Hening...
            Sunyi...

            “Bagaimana bila saya ikut bergabung? Ngomong-ngomong saya Alviano Davindra. Kalian sanggup memanggilku Alvin,” ucap seorang pria bermata sedikit sipit dan berperawakan tinggi sama dengan Rio secara tiba-tiba.

            “Hah... kau... kamu bukankah yang duduk di dingklik itu?” tanya Ify dan menunjuk dingklik yang berada di belakang daerah Via duduk.
            Alvin mengangguk. “Benar. Aku dari tadi mendengar bunyi Via bernyanyi dan kemudian kamu datang...” Alvin menunjuk Ify “...dan kemudian ia datang,” jawab Alvin dan menunjuk Rio.

            “Jadi... bagaimana bila saya dan Alvin bergabung bersama kalian?” tanya Rio lagi. Tidak perlu berkenalan secara resmi Rio sudah sanggup dekat dengan Alvin. Mungkinkah ini cara kaum pria berteman?

            “Sebentar... hari ini sungguh takdir yang aneh. Aku bertemu dengan Ify dan Ify yang bertemu kembali dengan Rio. Lalu, kami bertemu denganmu?” ucap Via penuh kebingungan.

            Alvin tertawa diikuti oleh bunyi tawa Rio. “Tak perlu kamu pikirkan. Bukankah setiap hari kamu bertemu dengan ratusan orang dan mereka sanggup saja menjadi takdir untuk berteman denganmu, bersahabat denganmu atau sekilas menyapamu atau hanya sahabat seperjalanan tanpa tahu nama. Biarkan pertemuan kita hari ini menjadi misteri apa arti sesungguhnya di balik ini semua,” ujar Alvin diplomatis.

            “Benar, Vi. Alvin benar. Biarkan menjadi misteri dan kita tidak perlu mencari-cari makna sebenarnya. Biarkan ia mengalir apa adanya. Seperti saya yang mulai berteman denganmu,” ucap Ify.

            “Bisa juga menyerupai saya yang bertemu kembali dengan Ify,” tambah Rio sambil tersenyum kepada Ify.

            Via mengangguk-ngangguk. Sepertinya memang benar. Pertemuan-pertemuan yang kita alami mimiliki makna dan misteri tersendiri. Yang jelasnya, setiap hari kita mempunyai takdir untuk bertemu dengan orang lain. Apakah takdir itu hanya sebagai sahabat seperjalanan satu bus? Apakah sebagai sahabat makan bersama secara tak sengaja? Apakah takdir antara penjual dan pembeli? Apakah takdir hanya sebagai sahabat sekelas? Apakah takdir sebagai orang yang terjebak dalam pesona? Apakah takdir sebagai orang tak dikenal yang saling lempar senyuman? Dan masih banyak takdir lainnya.

            “Jadi bagaimana? Apakah kami boleh bergabung dengan kalian untuk bernyanyi?” tanya Alvin.

            “Sepertinya kita ditakdirkan bertemu untuk bernyanyi bersama dengan mereka, Fy. Makara sebaiknya boleh saja. Bagaimana menurutmu?” Via menoleh ke arah Ify.

            Ify mengangguk. “Tetapi saya hanya membawa gitar. Apakah kalian tidak membawa alat musik sama sekali?” tanya Ify kepada Rio dan Alvin.

            Kedua pria itu tampak menggeleng. “Tidak apa-apa. Aku sanggup memainkan gitar sambil bernyanyi dan kalian bertiga sanggup bernyanyi saja. Bagaimana?” undangan Rio.

            Ify dan Via kompak mengangguk, sedangkan Alvin tampak menimbang-nimbang. “Apakah tidak ada alat musik yang lainnya?” tanya Alvin. “Sungguh absurd rasanya bernyanyi dengan saya sendiri pria tanpa alat musik,” tambahnya.

            Rio mengangguk. Ia mengerti maksud Alvin. Dia sendiri juga merasa absurd jikalau bernyanyi tanpa alat musik dan kenapa ia sanggup meninggalkan gitarnya di rumah?? Aha... “Tunggu sebentar,” ucap Rio dan pria itu berjalan menuju seorang anak pria berusia sebelas tahun yang sedang asyik bermain air di kolam dengan gitar di sebelahnya. Tak usang kemudian, Rio kembali dengan sebuah gitar di tangannya.

            “Kau sanggup memainkan ini, Vin,” ujar Rio dan menyerahkan gitar hasil pinjamannya tadi.

            “Kita akan bernyanyi lagu apa?” Ify bertanya.

            “Bagaimana dengan lagu Almost ist never enough?” undangan Via.

            “Tidak-tidak. Bagaimana dengan lagu The Call-nya Regina Spektor?” undangan Ify.

            Kali ini Via mengangguk sementara Alvin dan Rio hanya mengangguk setuju. “Ngomong-ngomong, kalian tahu kunci gitarnya?” tanya Ify.

            “Tentu saja!!!” jawab Rio dan Alvin kompak.


"The End"

Sumber http://sagita-shelly.blogspot.com


EmoticonEmoticon