Jumat, 10 Agustus 2018

Teori Berguru Humanistik

Menurut teori humanistik, proses berguru harus dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan insan itu sendiri. Oleh lantaran itu, teori berguru humanistik sifatnya lebih abnormal dan lebih mendekati bidang kajian filsafat, teori kepribadian, dan psikoterapi, dari pada bidang kajian psikologi belajar. Teori humanistik sangat mementingkan isi yang dipelajari dari pada proses berguru itu sendiri serta lebih banyak berbiacara perihal konsep-konsep pendidikan untuk membentuk insan yang dicita-citakan, serta perihal proses berguru dalam bentuk yang paling ideal.




Faktor motivasi dan pengalaman emosional sangat penting dalam insiden belajar, lantaran tanpa motivasi dan keinginan dari pihak si belajar, maka tidak akan terjadi asimilasi pengetahuan gres ke dalam struktur kognitif yang telah dimilikinya. Teori humanistic beropini bahwa teori berguru apapun sanggup dimanfaatkan, asal tujuannya untuk memanusiakan insan ialah mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realisasi diri orang yang belajar, secara optimal.
Teori humanistik bersifat sangat eklektik ialah memanfaatkan atau merangkumkan banyak sekali teori berguru dengan tujuan untuk memanusiakan insan dan mencapai tujuan yang diinginkan lantaran tidak sanggup disangkal bahwa setiap teori mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Banyak tokoh penganut aliran humanistik, diantaranya:
1. Kolb
Pandangan Kolb perihal berguru dikenal dengan “Belajar Empat Tahap” yaitu:
a. Tahap pandangan konkret
Pada tahap ini seseorang bisa atau sanggup mengalami suatu insiden atau suatu kejadian sebagaimana adanya namun belum memilki kesadaran perihal hakikat dari insiden tersebut,
b. Tahap pemgamatan aktif dan reflektif
Tahap ini seseorang semakin usang akan semakin bisa melaksanakan observasi secara aktif terhadap insiden yang dialaminya dan lebih berkembang.
c. Tahap konseptualisasi
Pada tahap ini seseorang mulai berupaya untuk menciptakan abstraksi, berbagi suatu teori, konsep, atau aturan dan mekanisme perihal sesuatu yang menjadi objek perhatiannya dan cara berpikirnya memakai induktif.
d. Tahap eksperimentasi aktif
Pada tahap ini seseorang sudah bisa mengaplikasikan konsep-konsep, teori-teori atau aturan-aturan ke dalam situasi nyata dan cara berpikirnya memakai deduktif.
2. Honey dan Mumford
Honey dan Mumford menggolongkan orang yang berguru ke dalam empat macam atau golongan, yaitu:
a. Kelompok aktivis
Yaitu mereka yang bahagia melibatkan diri dan berpartisipasi aktif dalam banyak sekali kegiatan dengan tujuan untuk memperoleh pengalaman-pengalaman baru.
b. Kelompok reflector
Yaitu mereka yang mempunyai kecenderungan berlawanan dengan kelompok aktivis. Dalam melaksanakan suatu tindakan kelompok ini sangat berhati-hati dan penuh pertimbangan.
c. Kelompok teoris
Yaitu mereka yang mempunyai kecenderungan yang sangat kritis, suka menganalisis, selalu berpikir rasional dengan memakai penalarannya.
d. Kelompok pragmatis
Yaitu mereka yang mempunyai sifat-sifat praktis, tidak suka berpanjang lebar dengan teori-teori, konsep-komsep, dalil-dalil, dan sebagainya.
3. Habermas
Menurut Habernas, berguru gres akan tejadi jikalau ada interaksi antara individu dengan lingkungannya. Ia membagi tipe berguru menjadi tiga, yaitu:
a. Belajar teknis (technical learning)
Yaitu berguru bagaimana seseorang sanggup berinteraksi dengan lingkungan alamnya secara benar.
b. Belajar simpel (practical learning)
Yaitu berguru bagaimana seseorang sanggup berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, ialah dengan orang-orang di sekelilingnya dengan baik.
c. Belajar emansipatoris (emancipatory learning)
Yaitu berguru yang menekankan upaya semoga seseorang mencapai suatu pemahaman dan kesadaran tinggi akan terjadinya perubahan atau transformasi budaya dengan lingkungan sosialnya.
4. Bloom dan Krathwohl
Bloom dan Krathmohl lebih menekankan perhatiannya pada apa yang mesti dikuasai oleh individu (sebagai tujuan belajar), sehabis melalui peristiwa-peristiwa belajar. Tujuan belajarnya dikemukakan dengan sebutan Taksonomi Bloom, yaitu:
a. Domain kognitif, terdiri atas 6 tingkatan, yaitu:
1) Pengetahuan
2) Pemahaman
3) Aplikasi
4) Analisis
5) Sintesis
6) Evaluasi
b. Domain psikomotor, terdiri atas 5 tingkatan, yaitu:
1) Peniruan
2) Penggunaan
3) Ketepatan
4) Perangkaian
5) Naturalisasi
c. Domain afektif, terdiri atas 5 tingkatan, yaitu:
1) Pengenalan
2) Merespon
3) Penghargaan
4) Pengorganisasian
5) Pengalaman
Teori humanistik akan sangat membantu para pendidik dalam memahami arah berguru pada dimensi yang lebih luas, sehingga upaya pembelajaran apapun dan pada konteks manapun akan selalu diarahkan dan dilakukan untuk mencapai tujuannya. Meskipun teori humanistik sering dikritik lantaran sulit diterapkan dalam konteks yang lebih simpel dan dianggap lebih akrab dengan bidang filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi dari pada bidang pendidikan, sehingga sulit diterjemahkan ke dalam langkah-langkah yang lebih konkret dan praktis. Namun pinjaman teori ini amat besar. Ide-ide, konsep-konsep, taksonomi-taksonomi tujuan yang telah dirumuskannya sanggup membantu para pendidik dan guru untuk memahami hakikat kejiwaan manusia.
Dalam praktiknya teori ini cenderung mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar.


= Baca Juga =




Sumber http://forumgurunusantara.blogspot.com


EmoticonEmoticon