Jumat, 21 Desember 2018

Era Disruption

Akhir-akhir ini saya sering sanggup broadcast WA, postingan FB, dan pembicaraan simpang siur yg isinya yakni semacam peringatan, bahkan ancaman wacana ancaman "Era Disruption".

Terakhir bahkan ada seorang penulis yg mungkin sebab semangat sekali, menyatakan bahwa saking mengkhawatirkannya era disruption ini, “bisa menciptakan anak cucu kita mati bangun sambil memeluk kitab suci yg entah akan menolong dengan cara apa”. Maka saya terpaksa bikin goresan pena ini, walaupun sedang animo ujian di aktivitas MBA saya di UK & USA.

Setelah saya lacak, histeria dan demam “Disruption” ini tampaknya salah satunya berawal dari buku, ceramah dan tulisan-tulisan Prof. Rhenald Kasali, Guru besar FE UI, dan salah satu "World Management Guru", khususnya dibidang Change Management.

Saya sangat oke dan menghormati dia sebagai salah satu tokoh pencetus perubahan yg saya kagumi dan ikuti tulisan2nya. Dan hingga ketika inipun saya masih menghormati beliau. Tulisan ini sama sekali "nothing personal", hanya sekedar perimbangan wacana saja, semoga perspektif kita lebih utuh untuk menyikapi gegap gempita demam "disruption era" yg salah kaprah.

Saya merasa ada yg kurang lengkap dari pemaparan dia yg kesudahannya bikin banyak orang ketakutan dan salah paham.  Banyak orang awam yang kesudahannya jadi panik nanti masa depan anak2nya bagaimana jikalau pekerjaan2 yang ada kini bakal lenyap. Banyak direktur perusahaan jadi panik jangan2 mereka akan jadi korban "disruption" berikutnya dan kesudahannya tergopoh2 mau bertindak tapi jadi mati gaya sebab resah entah mau melaksanakan apa.

Saya sanggup memahami jikalau Prof. Rhenald bikin banyak orang jadi ketakutan. Bahkan di aktivitas bedah buku dia di Periplus yg saya tonton lewat Youtube, sang moderator sendiri hingga bertanya, "Prof, Ini kita kesini mau cari ide bisnis di era disruption, tapi kok malah pada pesimis nih menatap masa depan, sehabis mendengar pemaparan profesor.. Dan Prof. Rhenald masih juga belum menawarkan balasan yg tegas bagaimana menyikapi perubahan drastis ini.

Saya juga memahami mengapa Prof. Rhenald di buku2nya, tulisan2 dan ceramah2nya banyak menghasilkan kepanikan dan ketakutan. Mungkin ini berawal dari paradigma "Change Management" yg menjadi bidang keahlian beliau. Dalam ilmu administrasi perubahan, salah satu tokoh utamanya yakni Professor Emeritus Harvard Business School, John P. Kotter, dengan teori dia wacana "8 Steps to change". Dalam teori ini, langkah pertama untuk bikin sebuah organisasi (dan individu) mau berubah yakni dengan "increase urgency" alias bikin orang2 mencicipi urgensitas perubahan. Dan cara paling ampuh untuk itu yakni dengan bikin mereka "ketakutan" apa dampaknya jikalau tidak mau berubah. Mungkin dengan niat baik inilah Prof. Rhenald hendak menyadarkan masyarakat semoga segera “berubah”.

Saya setuju dengan niat baik untuk menggugah kesadaran masyarakat semoga berubah, tapi saya tidak setuju dengat pendekatan yang entah disadari atau tidak oleh dia telah menebarkan banyak ketakutan dan kegalauan. Mengapa saya tidak sepakat? Berikut ini alasannya:

A)Sebenarnya cara “menebarkan ketakutan dan kekhawatiran” ini baik2 saja diterapkan untuk jenis perubahan yang tidak membutuhkan kreativitas, tapi jadi tidak produktif jikalau tujuan kita yakni untuk melahirkan inovasi, kreatifitas, dan terobosan2 baru. Padahal untuk survive dan Berjaya di era disruption, salah satu syarat utamanya adalah: KREATIVITAS.

B)Tidak pernah (atau setidaknya jarang sekali) ide2 kreatif dan terobosan2 inovatif terlahir dari rasa takut. Buku babon setebal hampir 800 halaman wacana kreativitas, The Encyclopedia of Creativity menyebutkan bahwa salah satu penghalang utama kita untuk menghadirkan solusi kreatif yakni jikalau kita sedang mengalami “emotional barrier”. Dan diantara semua jenis emosi penghalang kreativitas ini, rasa takut yakni yg paling melumpuhkan. Makara anda tidak sanggup memaksa orang yg sedang dilanda ketakutan wacana ancaman era disruption untuk mencari solusi kreatif wacana bagaimana sukses mengatasinya. Anda hanya akan berhasil menciptakan mereka ketakutan, merasa terpaksa harus berubah, semangat ikut trainingnya, tapi resah dan mati gaya harus melaksanakan apa.

C)Cara yg lebih pas untuk bikin orang terbuka pintu hatinya untuk mau berubah, sekaligus terinspirasi untuk jadi kreatif menemukan solusi yakni dengan menawarkan mereka rasa OPTIMISME akan hadirnya kesempatan yang sangat besar menanti di depan mata.

1)Bill Gates melahirkan Microsoft bukan sebab ketakutan kehilangan pekerjaan, tapi terinspirasi sekali akan hadirnya komputer, dan optimis bahwa dia sanggup bikin software bagus. Akhirnya dia telpon ibunya bahwa dia bakal 6 bulan tidak pulang untuk mengerjakan proyek MS-DOS dari IBM.

2)Mark Zuckerberg bikin Facebook bukan berangkat dari ketakutan akan masa depannya. Bahkan dia pertaruhkan masa depannya dengan DO dari Harvard demi mengejar harapan "menghubungkan tiap orang di muka bumi". Pada ketika ceramah di aktivitas wisuda di Harvard, dia mengatakan, yg bikin dia sanggup melahirkan Facebook, sebab dia merasa tenang, tidak takut apapun. Dan dia ingin menekankan pentingnya setiap orang untuk “bebas dari rasa takut”, untuk mencoba hal2 gres yg inovatif.

3)Steve Jobs, Thomas Alfa Edison, Elon Musk, Jeff Bezos, sebutkan semua inovator kreatif yg bikin perubahan2 radikal kurun ini, hampir semuanya tidak ada yg melahirkan inovasinya dalam suasana batin ketakutan akan ancaman situasi masa depan. Mereka semua yakni para OPTIMISTS yg melihat kesempatan besar ditengah kebanyakan orang yang sedang kalut dan takut menghadapi tantangan zamannya.

4)Terakhir, di level lokal, Trio Unicorn Indonesia (Startup bernilai diatas 14 Trilyun rupiah: Gojek, Traveloka & Tokopedia) tidak ada yg dilahirkan dari orang2 yg ketakutan akan masa depan. Mereka semua mendirikan perusahaan2 tersebut dengan suasana batin optimis dan terinspirasi akan peluang besar di depan mata.

5)Singkat kata: Takut & pesimis = Bingung & Mati Gaya, Tenang & Optimis = Kreatif & Solutif

D)Era Disruption yakni era yg seharusnya bikin kita optimis, bukannya malah ketakutan. Mengapa? Karena ini hanyalah era transisi menuju era abundance (keberlimpahan). Minggu kemudian saya gres pulang dari pelatihan di Singularity Univeristy. Ini yakni salah satu forum yg meneliti, mengajarkan dan mempopulerkan istilah “Disruption Era”. Lembaga ini di disponsori oleh NASA, Google, dan perusahaan2 teknologi paling top di Silicon Valley, bahkan bertempat di sentra penelitian NASA disana. Di pusatnya sini, Istilah “disruption era” itu menjadikan aura positif, optimis, dan penuh semangat. Saya ndak tahu lha kenapa begitu hingga di Indonesia malah diartikan salah kaparah sebagai istilah yg menakutkan dan penuh ancaman. Mungkin sebab Prof. Renald sebagai juru bicara utamanya menyampaikannya sepenggal saja (sisi seramnya), jadi banyak orang salah paham, panik dan ketakutan. Itulah mengapa berguru setengah2 itu berbahaya, “little bit learning is dangerous”.

E)Era disruption yakni fase ke-3 dari 6 fase Exponential Growth. Yg menelorkan teori ini yakni Peter Diamandis (Co-founder dari Singularity University tersebut). Menurut beliau, kurun ini akan ditandai perubahan besar2an yg terjadi dalam 6 fase (6D's of Exponential Growth):

1)Digitalization (Transformasi dari analog menjadi Digital. Misal: Kodak menemukan Foto Digital. Atau Musik, Film, Buku, dll dijadikan bentuk digital MP3, MP4, PDF, dll)

2)Deception (Kodak tertipu sebab dikira ini teknologi amatir yg ndak bakal sanggup menggantikan keindahan dan ketajaman foto manual, sebab ketika itu resolusinya masih 0,1 Mega Pixel).

3)Disruption (Diluar kendali Kodak, tiap 18 bulan, ketajaman foto digital naik 2x lipat secara eksponensial. Dan pada ketika ketajamannya mencapai 2 Mega Pixel, kualitasnya sudah sama dengan foto analog. Saat itulah Kodak mulai terdisrupsi.) Fase inilah yg bikin kehebohan disana sini, sebab di fase ini, Uber mendisrupt perusahaan taxy, AirBnB mendisrupt Hotel, dll. Terjadi kepanikan masal sebab dipikir dunia (minimal bisnis kita) akan runtuh.

4)Dematerialization (semua produk digital kesudahannya tidak perlu wadah "material" sebab tiba2 semua sanggup disimpan di Cloud yg siap diunduh kapanpun dan dimanapun. Makara silahkan dibuang Semua hardisk yg beirisi koleksi Foto digital anda. Upload aja ke Google Foto yg gratis penyimpanannya, kapanpun, dimanapun, pake alat apapun yg kompatibel, jikalau anda perlu foto itu tinggal d0wnl0ad)

5)Demonetization (Begitu semua tidak dalam wadah material, maka harganya makin usang makin turun. Dan satu ketika sanggup sangat murah dan terjangkau buat semua. Begitu buku sudah di .Pdf kan, harganya nyaris Nol. Silahkan aja ke koleksi 300 juta buku gratis di: www.pdfdrive.net. Sekarang semua Musik, foto, buku, film, serial tv sudah dibikin versi digitalnya, yg kita masih diminta bayar, tapi ini makin usang makin murah, sebab tidak ada lagi "biaya cetak".

6)Democratization (Pada puncaknya, semua produk akan menjadi murah dan tersedia buat semua orang. Anda telah mencicipi sebagian, Video call gratis, HP Murah, Belajar & Baca Buku, Nonton Film dan dengar musik gratis, dll. Inilah fase Abundance for All: Keberlimpahan buat semua). Peter Diamandi menulis buku khusus yg menjelaskan fenomenna “Abundance” ini. Sekedar intermezzo: Saat Bill Clinton mempromosikan buku ini, Peter ditanya sama Bill, “mengapa anda jadi orang kok sangat optimis?” Peter menjawabnya, “Karena saya tidak pernah baca gosip (apalagi hoax), dan saya hanya percaya sama data2 ilmiah. Dan semua data ilmiah ini mengarah kesana, bahwa kita semua akan berkelimpahan, abundance for all”. Mungkin ada baiknya kita tiru kebiasaaan Peter Diamandis ini semoga kita tidak serba pesimis dan ketakutan: Jangan banyak baca berita, mulailah baca data2 ilmiah.

Maka mestinya, era disruption itu tidak perlu ditakuti atau bikin panik, cuman perlu dipahami bahwa ini potongan dari revolusi kemajuan peradaban yg makin usang akan makin cepat dan insya Allah mengarah pada perbaikan buat semua.. the greatest good for the greatest number of people. Kalau dalam revolusi ada korban2 yg bergelimpangan sebab ndak cukup paham dan tanggap, itu hal yg biasa. Nanti juga mereka akan belajar. Dan kita semuapun perlu berguru lebih tuntas untuk menyambut Era Baru yang sangat menjanjikan ini.

Kesimpulan :

Terimakasih Prof. Renald Kasali, yang atas jasa bapak telah menggugah banyak orang dan perusahaan untuk shock dan mau berubah. Tapi semoga ini jangan kebablasan jadi ketakutan dan kekhawatiran massal. Karena itu perlu dilengkapi juga dengan wacana penyeimbang yang menyuntikkan optimisme dan harapan.

Karena ide-ide besar kreatif dan terobosan-terobosan gres inovatif untuk survive dan Berjaya di era disruption ini tidak akan pernah lahir dari rasa takut dan panik, tapi akan tumbuh subur di pikiran orang-orang dan perusahaan2 yg hening dan optimis.

Salam takdzim buat Prof. Rhenald Kasali dan kawan2 semua yg membaca goresan pena ini.

Bloomington, 14 November 2017

Ahmad Faiz Zainuddin
Mahasiswa MBA
Warwick Business School, UK
Indiana University, USA
Alumni Singularity University, Silicon Valley, USA


Sumber http://ekonominator.blogspot.com


EmoticonEmoticon