Tampilkan postingan dengan label Asal-Usul Persebaran Manusia di Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asal-Usul Persebaran Manusia di Indonesia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Mei 2017

✔ Teori Perkembangan Manusia

Manusia mulai muncul di muka bumi semenjak zaman Neozoikum, tepatnya pada kala Holosen atau zaman Alluvium yang berkembang semenjak 20.000 tahun yang lalu. Untuk mengetahui keadaan insan pada banyak sekali masa dan evolusinya, kita perlu mengetahui bagaimana dan di mana kedudukan insan dalam alam serta hubungannya dengan benda kebudayaan yang diperkirakan sebagai hasil budayanya.

Bagaimana pendapat para jago mengenai kehidupan awal di Indonesia? Sejarah awal keberadaan masyarakat di kepulauan Indonesia diketahui dan didukung oleh teori imigrasi.

1.Teori Van Heine Geldern
Menurut teorinya, bangsa Indonesia berasal dari daratan Asia. Pendapat ini didukung oleh artefak-artefak (bentuk budaya) yang ditemukan di Indonesia yang mempunyai kesamaan bentuk dengan yang ditemukan di daratan Asia.

2.Teori Prof. Muhammad Yamin
Ia beropini bahwa bangsa Indonesia berasal dari kawasan Indonesia sendiri. Hal ini dibuktikan dengan inovasi fosil-fosil tertua dengan jumlah terbanyak di kawasan Indonesia.

3.Teori Prof. Dr. H. Kern
Kern menyatakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari kawasan Campa, Kochin Cina, dan Kampuchea. Kern juga menyatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia mempergunakan bahtera bercadik menuju kepulauan Indonesia. Pendapat Kern ini didukung dengan adanya persamaan nama dan bahasa yang dipergunakan di daerah-daerah di Indonesia (yang menjadi objek penelitian Kern ialah persamaan bahasa serta persamaan nama hewan dan alat perang).

4.Teori Prof. Dr. Kroom
Ia menyatakan bahwa asal-usul bangsa Indonesia ialah dari kawasan Cina Tengah alasannya ialah di kawasan tersebut banyak sungai yang besar. Mereka menyebar ke wilayah Indonesia hingga tahun 1500 SM.

5.Teori Moh. Ali
Ia beropini bahwa bangsa Indonesia berasal dari Yunan kawasan Cina Selatan, yakni dari hulu sungai besar di Asia yang kedatangannya di Nusantara secara bergelombang. Gelombang pertama ialah gelombang Melayu Tua (Proto Melayu 3000 SM – 1500 SM) dengan ciri budayanya ialah Neolitikum. Mereka tiba dengan jenis bahtera bercadik satu. Gelombang kedua ialah gelombang Melayu Baru (Deutero Melayu 1500 SM – 500 SM) dengan memakai bahtera bercadik dua.

6.Teori Dr. Brandes
Ia beropini bahwa bangsa yang bermukim di Kepulauan Indonesia mempunyai banyak persamaan dengan bangsa-bangsa pada kawasan yang terbentang dari sebelah utara Formosa, sebelah barat Madagaskar, sebelah selatan tanah Jawa, dan sebelah timur hingga ke tepi barat Amerika.

7.Teori Willem Smith
Ia meneliti asal-usul bangsa Indonesia melalui penggunaan bahasa oleh bangsa Indonesia. Willem Smith membagi bangsa di Asia atas dasar bahasa yang dipergunakannya, yaitu bangsa berbahasa Togon, bangsa yang berbahasa Jerman, dan bangsa yang berbahasa Austria. Bangsa yang berbahasa Austria dibagi dua, yaitu bangsa yang berbahasa Austro-Asia dan bangsa yang berbahasa Austronesia. Bangsa-bangsa yang berbahasa Austronesia ini mendiami wilayah Indonesia, Melanesia, dan Polinesia.
 
8.Teori Hogen
Ia menyatakan bahwa bangsa yang mendiami kawasan pesisir Melayu berasal dari Sumatra. Bangsa ini bercampur dengan bangsa Mongol yang kemudian disebut bangsa Proto Melayu dan Deutero Melayu. Bangsa Proto Melayu (Melayu Tua) menyebar di wilayah sekitar Indonesia tahun 1300 SM – 1500 SM. Adapun bangsa Deutero Melayu (Melayu Muda) menyebar di wilayah Indonesia sekitar tahun 1500 SM – 500 SM.

9.Teori Max Muller
Ia menyampaikan bahwa asal bangsa Indonesia ialah kawasan Asia Tenggara. Namun, pendapat Max Muller ini tidak begitu terang alasannya. Ia menarik kesimpulan dari para peneliti lainnya.

10.Teori Majumdar
Sebagai seorang yang tekun dalam penelitian maka kesimpulan yang diperolehnya ialah bahwa bangsa-bangsa yang berbahasa Austronesia berasal dari India, kemudian menyebar ke Indocina, terus ke kawasan Indonesia dan Pasifik. Pendapat Majumdar ini didukung oleh penelitiannya menurut bahasa Austria yang merupakan bahasa muda di India Timur.

Berdasarkan penyelidikan terhadap penggunaan bahasa yang digunakan di banyak sekali kepulauan, Kern berkesimpulan bahwa Indonesia berasal dari satu kawasan yang memakai bahasa yang sama, yaitu bahasa Campa, dan agak ke utara, yaitu Tonkin. Mereka tiba ke Indonesia 1500 SM semula ke Kampuchea dan melanjutkan perjalanan ke Semenanjung Malaka. Dari Malaka masuk ke Sumatra, Kalimantan, dan Jawa, sedangkan yang berada di Filipina melanjutkan perjalanan hingga di Minahasa dan kawasan sekitarnya.



Sumber http://sejarah10-jt.blogspot.com

✔ Hasil Kebudayaan Insan Purba Di Indonesia

Sejak zaman Pleistosen Bawah telah ada jenis insan purba yang sudah  menghasilkan alat-alat hidup dan budaya. Bukti bahwa Pithecanthropus erectus menghasilkan kebudayaan Pacitan ditemukan Von Koenigswald berupa kapak perimbas atau disebut kapak Pacitan. Alat-alat kebudayaannya terbuat dari batu, tulang, kayu, dan ada yang dari tulang binatang. Selain di Pacitan dan Ngandong, alat-alat semacam ini juga ditemukan di Sumatra, Sulawesi, Flores, dan Timor.

Hallam L. Movius Jr. (arkeolog Amerika) mengklasifikasikan alat Paleolitikum sebagai berikut.

1.Kapak perimbas (chopper)
Bagian yang tajam berbentuk cembung, dipakai untuk memangkas. Fungsi kapakini untuk penetak dan pemotong. Kapak ini ditemukan di Pacitan oleh Von Koenigswald tahun 1935 yang diperkirakan pendukung Pithecanthropus erectus, kapak ini disebut juga chopper chopping tool. Kapak ini juga ditemukan di luar Nusantara, ibarat di Pakistan, Myanmar, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.
 
2.Kapak penetak
Kapak ini ibarat kapak perimbas, hanya bentuknya lebih besar, dipergunakan untuk membelah kayu, pohon, atau bambu. Alat ini disebut chopping tool, ditemukan hampir diseluruh wilayah Nusantara.

3.Kapak genggam
Kapak ini mempunyai bentuk ibarat kapak perimbas, tetapi jauh lebih kecil. Cara pemakaiannya dengan digenggam pada ujungnya yang lebih kecil. Hampir di seluruh Nusantara terdapat alat tersebut.

4.Pahat genggam
Bentuknya lebih kecil dari kapak genggam yang berfungsi untuk menggemburkantanah  dan mencari ubi-ubian. Alat ini sangat tajam.

5.Alat serpih
Alat serpih dipergunakan untuk pisau, mata panah, dan alat pemotong. Alat serpih ini ditemukan oleh Von Koenigswald tahun 1934 di Sangiran, juga  di Gua Lawa, (Sampung, Ponorogo), Cabbenge (Sulawesi Selatan), Timor, dan Roti. Alat serpih ini berukuran kecil antara 10 – 20 cm yang banyak ditemukan di gua-gua.

6.Alat-alat dari tulang
Alat ini dibentuk dari tulang hewan untuk pisau, belati, dan mata tombak yang banyak ditemukan di Ngandong (Ngawi Jawa Timur). 

Homo sapiens juga telah mempunyai kebudayaan yang lebih tinggi. Hasil kebudayaannya, sudah tergolong pada budaya Batu Tengah, yaitu Mesolitikum. Alat mereka sudah dihaluskan sebagian dan daerah tinggal mereka berada di gua-gua sehingga meninggalkan abris sous roche dan sampah kerang kjokkenmoddinger. Tempat tinggalnya ditemukan di pantai Sumatra Timur dan alat-nya berupa kapak Sumatra, kapak pendek, serta pipisan atau kerikil penggiling. Adapun  kjokkkenmoddinger ditemukan di Gua Sampung (Ponorogo, Jawa Timur), di Timor, di Pulau Roti, dan Bojonegoro. Alat-alat mereka selain dari kerikil sudah ada yang dibentuk dari tulang (bone culture).


Sumber http://sejarah10-jt.blogspot.com

Senin, 15 Mei 2017

✔ Teori Perkembangan Manusia

Manusia mulai muncul di muka bumi semenjak zaman Neozoikum, tepatnya pada kala Holosen atau zaman Alluvium yang berkembang semenjak 20.000 tahun yang lalu. Untuk mengetahui keadaan insan pada banyak sekali masa dan evolusinya, kita perlu mengetahui bagaimana dan di mana kedudukan insan dalam alam serta hubungannya dengan benda kebudayaan yang diperkirakan sebagai hasil budayanya.

Bagaimana pendapat para jago mengenai kehidupan awal di Indonesia? Sejarah awal keberadaan masyarakat di kepulauan Indonesia diketahui dan didukung oleh teori imigrasi.

1.Teori Van Heine Geldern
Menurut teorinya, bangsa Indonesia berasal dari daratan Asia. Pendapat ini didukung oleh artefak-artefak (bentuk budaya) yang ditemukan di Indonesia yang mempunyai kesamaan bentuk dengan yang ditemukan di daratan Asia.

2.Teori Prof. Muhammad Yamin
Ia beropini bahwa bangsa Indonesia berasal dari kawasan Indonesia sendiri. Hal ini dibuktikan dengan inovasi fosil-fosil tertua dengan jumlah terbanyak di kawasan Indonesia.

3.Teori Prof. Dr. H. Kern
Kern menyatakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari kawasan Campa, Kochin Cina, dan Kampuchea. Kern juga menyatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia mempergunakan bahtera bercadik menuju kepulauan Indonesia. Pendapat Kern ini didukung dengan adanya persamaan nama dan bahasa yang dipergunakan di daerah-daerah di Indonesia (yang menjadi objek penelitian Kern ialah persamaan bahasa serta persamaan nama hewan dan alat perang).

4.Teori Prof. Dr. Kroom
Ia menyatakan bahwa asal-usul bangsa Indonesia ialah dari kawasan Cina Tengah alasannya ialah di kawasan tersebut banyak sungai yang besar. Mereka menyebar ke wilayah Indonesia hingga tahun 1500 SM.

5.Teori Moh. Ali
Ia beropini bahwa bangsa Indonesia berasal dari Yunan kawasan Cina Selatan, yakni dari hulu sungai besar di Asia yang kedatangannya di Nusantara secara bergelombang. Gelombang pertama ialah gelombang Melayu Tua (Proto Melayu 3000 SM – 1500 SM) dengan ciri budayanya ialah Neolitikum. Mereka tiba dengan jenis bahtera bercadik satu. Gelombang kedua ialah gelombang Melayu Baru (Deutero Melayu 1500 SM – 500 SM) dengan memakai bahtera bercadik dua.

6.Teori Dr. Brandes
Ia beropini bahwa bangsa yang bermukim di Kepulauan Indonesia mempunyai banyak persamaan dengan bangsa-bangsa pada kawasan yang terbentang dari sebelah utara Formosa, sebelah barat Madagaskar, sebelah selatan tanah Jawa, dan sebelah timur hingga ke tepi barat Amerika.

7.Teori Willem Smith
Ia meneliti asal-usul bangsa Indonesia melalui penggunaan bahasa oleh bangsa Indonesia. Willem Smith membagi bangsa di Asia atas dasar bahasa yang dipergunakannya, yaitu bangsa berbahasa Togon, bangsa yang berbahasa Jerman, dan bangsa yang berbahasa Austria. Bangsa yang berbahasa Austria dibagi dua, yaitu bangsa yang berbahasa Austro-Asia dan bangsa yang berbahasa Austronesia. Bangsa-bangsa yang berbahasa Austronesia ini mendiami wilayah Indonesia, Melanesia, dan Polinesia.
 
8.Teori Hogen
Ia menyatakan bahwa bangsa yang mendiami kawasan pesisir Melayu berasal dari Sumatra. Bangsa ini bercampur dengan bangsa Mongol yang kemudian disebut bangsa Proto Melayu dan Deutero Melayu. Bangsa Proto Melayu (Melayu Tua) menyebar di wilayah sekitar Indonesia tahun 1300 SM – 1500 SM. Adapun bangsa Deutero Melayu (Melayu Muda) menyebar di wilayah Indonesia sekitar tahun 1500 SM – 500 SM.

9.Teori Max Muller
Ia menyampaikan bahwa asal bangsa Indonesia ialah kawasan Asia Tenggara. Namun, pendapat Max Muller ini tidak begitu terang alasannya. Ia menarik kesimpulan dari para peneliti lainnya.

10.Teori Majumdar
Sebagai seorang yang tekun dalam penelitian maka kesimpulan yang diperolehnya ialah bahwa bangsa-bangsa yang berbahasa Austronesia berasal dari India, kemudian menyebar ke Indocina, terus ke kawasan Indonesia dan Pasifik. Pendapat Majumdar ini didukung oleh penelitiannya menurut bahasa Austria yang merupakan bahasa muda di India Timur.

Berdasarkan penyelidikan terhadap penggunaan bahasa yang digunakan di banyak sekali kepulauan, Kern berkesimpulan bahwa Indonesia berasal dari satu kawasan yang memakai bahasa yang sama, yaitu bahasa Campa, dan agak ke utara, yaitu Tonkin. Mereka tiba ke Indonesia 1500 SM semula ke Kampuchea dan melanjutkan perjalanan ke Semenanjung Malaka. Dari Malaka masuk ke Sumatra, Kalimantan, dan Jawa, sedangkan yang berada di Filipina melanjutkan perjalanan hingga di Minahasa dan kawasan sekitarnya.



Sumber http://sejarah10-jt.blogspot.com

Minggu, 14 Mei 2017

✔ Hasil Kebudayaan Insan Purba Di Indonesia

Sejak zaman Pleistosen Bawah telah ada jenis insan purba yang sudah  menghasilkan alat-alat hidup dan budaya. Bukti bahwa Pithecanthropus erectus menghasilkan kebudayaan Pacitan ditemukan Von Koenigswald berupa kapak perimbas atau disebut kapak Pacitan. Alat-alat kebudayaannya terbuat dari batu, tulang, kayu, dan ada yang dari tulang binatang. Selain di Pacitan dan Ngandong, alat-alat semacam ini juga ditemukan di Sumatra, Sulawesi, Flores, dan Timor.

Hallam L. Movius Jr. (arkeolog Amerika) mengklasifikasikan alat Paleolitikum sebagai berikut.

1.Kapak perimbas (chopper)
Bagian yang tajam berbentuk cembung, dipakai untuk memangkas. Fungsi kapakini untuk penetak dan pemotong. Kapak ini ditemukan di Pacitan oleh Von Koenigswald tahun 1935 yang diperkirakan pendukung Pithecanthropus erectus, kapak ini disebut juga chopper chopping tool. Kapak ini juga ditemukan di luar Nusantara, ibarat di Pakistan, Myanmar, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.
 
2.Kapak penetak
Kapak ini ibarat kapak perimbas, hanya bentuknya lebih besar, dipergunakan untuk membelah kayu, pohon, atau bambu. Alat ini disebut chopping tool, ditemukan hampir diseluruh wilayah Nusantara.

3.Kapak genggam
Kapak ini mempunyai bentuk ibarat kapak perimbas, tetapi jauh lebih kecil. Cara pemakaiannya dengan digenggam pada ujungnya yang lebih kecil. Hampir di seluruh Nusantara terdapat alat tersebut.

4.Pahat genggam
Bentuknya lebih kecil dari kapak genggam yang berfungsi untuk menggemburkantanah  dan mencari ubi-ubian. Alat ini sangat tajam.

5.Alat serpih
Alat serpih dipergunakan untuk pisau, mata panah, dan alat pemotong. Alat serpih ini ditemukan oleh Von Koenigswald tahun 1934 di Sangiran, juga  di Gua Lawa, (Sampung, Ponorogo), Cabbenge (Sulawesi Selatan), Timor, dan Roti. Alat serpih ini berukuran kecil antara 10 – 20 cm yang banyak ditemukan di gua-gua.

6.Alat-alat dari tulang
Alat ini dibentuk dari tulang hewan untuk pisau, belati, dan mata tombak yang banyak ditemukan di Ngandong (Ngawi Jawa Timur). 

Homo sapiens juga telah mempunyai kebudayaan yang lebih tinggi. Hasil kebudayaannya, sudah tergolong pada budaya Batu Tengah, yaitu Mesolitikum. Alat mereka sudah dihaluskan sebagian dan daerah tinggal mereka berada di gua-gua sehingga meninggalkan abris sous roche dan sampah kerang kjokkenmoddinger. Tempat tinggalnya ditemukan di pantai Sumatra Timur dan alat-nya berupa kapak Sumatra, kapak pendek, serta pipisan atau kerikil penggiling. Adapun  kjokkkenmoddinger ditemukan di Gua Sampung (Ponorogo, Jawa Timur), di Timor, di Pulau Roti, dan Bojonegoro. Alat-alat mereka selain dari kerikil sudah ada yang dibentuk dari tulang (bone culture).


Sumber http://sejarah10-jt.blogspot.com