Tampilkan postingan dengan label Ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Februari 2019

Defenisi Deret Taylor Dan Deret Maclaurin Beserta Contoh

Deret Taylor merupakan bentuk presentatif dari fungsi. Dalam hal ini  deret tersebut merupakan jumlah tak sampai dari suku pada deret. Untuk menghitungnya dipakai dengan prinsip turunan  pada sebuah titik. Lalu apa itu deret Maclaurin. Deret Maclaurin ialah bila pada deret Taylor tersebut berpusat pada titik nol. Kaprikornus dapat disimpulkan bergotong-royong deret Maclaurin ialah bab deret Taylor, dengan kata lain, deret Taylor yang berpusat di nol disebut dengan deret Maclaurin.
Bentuk umum deret Taylor ini dapat ditulis dalam formulasi :
$f(a)+\frac{f'(a)}{1!}(x-a)+\frac{f''(a)}{2!}(x-a)^2+\frac{f'''(a)}{3!}(x-a)^3+...+\frac {f^{n}(a)}{n!}(x-a)^n$
Penulisan tersebut dapat disederhanakan dalam bentuk notasi sigma :
$\sum_{n=0}^{\infty }$ $\frac {f^{n}(a)}{1!}(x-a)^n$
n! Adalah n faktorial. Sementara $f^{n}$ ialah turunan ke-n dari fungsi. Pada rumusan di atas jikadan hanya jikalau a=0, maka inilah yang menjadi deret Maclaurin.

Contoh Penggunaan Deret Taylor

Kegunaan deret Taylor dan deret Maclaurin ini salah satunya dalam metode numerik. Digunakan dalam perhitungan atau pendekatan nilai fungsi yang tidak dapat dihitung dengan manual. Berikut beberapa pola soal dan penggunaan deret Taylor dan deret Maclaurin.

Contoh 1 : $f(x) = e^{x}$. Digunakan pendekatan a= 0.
 $f(x) = e^{x}$ ...  $f(0) = e^{0} = 1$
$f' (x) = e^{x}$  ... $f' (0) = e^{0} = 1$
$f'' (x) = e^{x}$ ... $f''(0) = e^{0}= 1$
$f'''(x) = e^{x}$ ...  $f''' (0) = e^{0}=1$
$f^{n}(x) = e^{x}$ ...  $f^{n}(0) = e^{0}=1$
Dengan demikian dapat ditulis berdasarkan formulasi di atas :
$\diamond$$f(x) = e^{x}$ = $f(0)+\frac{f'(0)}{1!}(x-0)+\frac{f''(0)}{2!}(x-0)^2+\frac{f'''(0)}{3!}(x-0)^3+...+\frac {f^{n}(0)}{n!}(x-0)^n$
$\diamond$$f(x) = e^{x}$ = $1+\frac{1}{1!}(x-0)+\frac{1}{2!}(x-0)^2+\frac{1}{3!}(x-0)^3+...+\frac {1}{n!}(x-0)^n$
$\diamond$$f(x) = e^{x}$ =$1+\frac{(x)}{1!}+\frac{(x)^2}{2!}+\frac{(x)^3}{3!}+...+\frac {(x)^n}{n!}$
$\diamond$$f(x) = e^{x}$ =$\sum_{n=0}^{\infty }$ $\frac {1}{n!}(x)^n$.

Contoh 2 : f(x) = cos x. Kita gunakan pendekatan a=0.
f(x)=cos x ... f(0) = cos 0 = 1
f’(x)= -sin x ... f’(0)= -sin 0 = 0
f’’(x)= -cos x ... f’’(0)= -cos 0 = -1
f”’(x) = sin x ... f”’(0) = sin 0 = 0.
f””(x)= cos x ... f””(0)= cos 0 = 1.
f”’”(x) = sin x ... f””’(0) = sin 0 = 0. dst.
Kita tulis dalam bentuk formulasi umum deret Taylor.
$\triangleright $f(x) = cos x = $f(0)+\frac{f'(0)}{1!}(x-0)+\frac{f''(0)}{2!}(x-0)^2+\frac{f'''(0)}{3!}(x-0)^3+\frac{f'''' (0)}{4!}(x-0)^4+\frac{f''''' (0)}{5!}(x-0)^5+... $.
$\triangleright $f(x) = cos x = $1+\frac{0}{1!}(x)+\frac{-1}{2!}(x)^2+\frac{0}{3!}(x)^3+\frac{1}{4!}(x)^4+\frac{1}{5!}(x)^5+... $.
$\triangleright $f(x) = cos x = $1+0+\frac{-1}{2!}(x)^2+0+\frac{1}{4!}(x)^4+0+... $
$\triangleright $f(x) = cos x = $1+\frac{-1}{2!}(x)^2+\frac{1}{4!}(x)^4+... $ = $\sum_{n=0}^{\infty  }$ $\frac {-1^{n+1}}{(2n-2)!}(x)^{2n-2}$.

Contoh 3 : f(x) = ln (x+1) dengan pendekatan a=0.
f(x)=ln(x+1) ... f(0)=ln 1 = 0.
f’(x)=$\frac{1}{x+1}$ .... f’(0) $\frac{1}{(1)}$ = 1
f’’(x)=$\frac{-1}{(x+1)^{2}}$ .... f’(0) $\frac{1}{(1)^{2}}$ = -1
f’’’(x)=$\frac{2}{(x+1)^{3}}$ .... f’’(0) $\frac{1}{(1)^{3}}$ =  2 = 2!
f’’’’(x)=$\frac{-6}{(x+1)^{4}}$ .... f”’(0) $\frac{1}{(1)^{4}}$ =  -6 =-3!
f’’’’(x)=$\frac{24}{(x+1)^{5}}$ .... f’’”(0) $\frac{1}{(1)^{5}}$ =  24 = 4! Dst.
Selanjutnya disusun dalam bentuk umum deret taylor.
$\blacklozenge $f(x)= ln (x+1) = $f(0)+\frac{f'(0)}{1!}(x-0)+\frac{f''(0)}{2!}(x-0)^2+\frac{f'''(0)}{3!}(x-0)^3+\frac{f'''' (0)}{4!}(x-0)^4+\frac{f''''' (0)}{5!}(x-0)^5+... $.
$\blacklozenge $f(x)= ln (x+1) = $0+\frac{1)}{1!}(x)+\frac{-1!}{2!}(x)^2+\frac{2!}{3!}(x)^3+\frac{-3!)}{4!}(x)^4+\frac{4!}{5!}(x)^5+... $ .
$\blacklozenge $f(x)= ln (x+1) = $0+\frac{1)}{1}(x)+\frac{-1}{2}(x)^2+\frac{1}{3!}(x)^3+\frac{-1)}{3}(x)^4+\frac{1}{4}(x)^5+... $ . ( angka faktorial disederhanakan)
$\blacklozenge $f(x)= ln (x+1) =$\sum_{n=0}^{\infty  }$ $\frac {-1^{n+1}}{n}(x)^{n}$.

Sumber http://www.marthamatika.com/

Jumat, 08 Februari 2019

Cara Melukis Irisan Penampang Prisma

Melanjutkan pembahasan mengenai melukis bidang irisan atau penampang bangkit ruang 3 dimensi. Untuk halaman ini kita akan dilihat bagaimana cara melukis penampang atau bidang irisan prisma? Prisma sanggup ditemui dalam bentuk ganjal segi enam ataupun segi lima. Pada prinsipnya sama langkah yang harus dilakukan yaitu,

Menentukan Posisi masing masing titik pada bidang apa, biasanya diketahui 3 titik yang akan dilalui bidang penampang
  1. Lukislah bidang yang melalui 2 titik (bidang I)
  2. Lukislah bidang lain yang melalui 1 titik lainnya (ingat kita punya 3 titik sembarang) dan melalui sebuah rusuk yang ingin dicari titik pembentuk bidang penampang (bidang II)
  3. Lukislah garis perpotongan bidang
  4. Hubungan dua titik pada langkah 2
  5. Perpotongan garis langkah 4 dan 5 didapat sebuah titik
  6. Hubungkan titik tersisa dengan titik langkah 6 – perpanjang sampai memotong rusuk pembatas bidang ke dua/ bidang II.
  7. Lakukan secara berulang sampai ditemui titik titik di setiap bidang prisma.
Tips : Titik yang pada suatu bidang sanggup dihubungkan.
Sekarang mari kita lihat dengan pola soal melukis penampang prisma di bawah ini.
Sebuah Prisma ABCDE.FGHIJ. Titik P berada pada EJ dan Q berada pada bidang EDHI dan titik R pada bidang ABFG. Lukislah bidang penampang pada prisma segilima yang melalui PQR!
Melanjutkan pembahasan mengenai melukis bidang irisan atau penampang bangkit ruang  Cara Melukis Irisan Penampang Prisma
Klik Gambar untuk Memperbesar
Lumayan pusing untuk kalau dilihat saja. Sebaiknya anda gambar ulang dengan kode di bawah ini.
I. Tentukan masing masing posisi titik. Dan lanjutkan dengan menciptakan bidang yang memuat dua titik. Anda sanggup lihat bidang bewarna abu-abu. Kita akan cari titik pada rusuk CH. Buat bidang yang melalui titik sisa (titik P) -bidang bewarna kuning. Berikutnya cari perpotongann bidang, kita temukan garis biru.  Hubungkan dua titik pada bidang pertama (QR) sehingga berpotongan dengan garis biru (garis perpotongan bidang). Tarik garis dari P melalui titik potong diagonal tadi, sehingga memotong rusuk HC. Kita dapatkan titik S.


II  Lakukan hal yang sama menyerupai langkah 1. Namun kita ambil bidang kedua EJGB. Pada kesannya ditemukan titik T.

Perhatikan tips yang diberikan. Titik yang berada pada suatu bidang, sanggup dihubungkan. Titik Q dan T sebidang (DCHI) hubungkan sehingga memotong rusuk DI di U.

Titik T dan R sebudang (ABFG) hubungkan. Sehingga memotong rusuk AD di V. Kita telah menemukan titik pembentuk penampang di semua rusuk. Sekarang hubungkan sehingga membentuk sebuah bidang. Dan jadilah penampang PVTSU. Selanjutnya : Langkah Melukis Penampang Limas dengan Metode Perpotongan Diagonal.

Sumber http://www.marthamatika.com/

Kamis, 07 Februari 2019

Cara Melukis Bidang Penampang (Irisan) Pada Dimensi 3

Salah satu bab yang dianggap sulit dalam matematika yakni hal yang bekerjasama dengan geometri. Khusus untuk kali ini akan dibahas mengenai cara melukis penampang atau bidang yang memotong kubus/balok, prisma dan limas. Sebenarnya untuk kubus,balok sudah termasuk pada prisma, namun pada pembahasan ini kita bedakan biar melukis bidang penampang pada prisma segi lima dan segi enam.

Secara umum pada soal akan diberikan 3 titik sembarang. Dari 3 titik tersebut harus dicari titik lainnya. Lebih hematnya langkah melukis bidang penampang pada dimensi 3 secara umum sebagai berikut,
  1. Tentukan Posisi masing masing titik pada bidang apa
  2. Lukis sebuah bidang yang melalui 2 titik (bidang 𝜶)
  3. Lukis bidang lain yang melalui 1 titik tersisa (ingat kita punya 3 titik sembarang) dan melalui sebuah rusuk yang ingin dicari titik pembentuk bidang penampang (bidang 𝜷)
  4. Lukis garis perpotongan bidang
  5. Hubungan dua titik pada langkah 2
  6. Perpotongan garis langkah 4 dan 5 didapat sebuah titik
  7. Hubungkan titik tersisa dengan titik langkah 6 – perpanjang sampai memotong rusuk pembatas bidang ke dua/ bidang Beta.
Sekarang mari kita praktekkan dengan referensi soal melukis penampang kubus di bawah ini.

Diketahui kubus ABCD.EFGH. Titik Q berada pada DH dan P pada AE dan R di BF. Lukislah penampang kubus jikalau dipotong oleh bidang yang dilalui PQR.

Pembahasan:

Klik Gambar untuk Memperbesar dan Lebih Jelas
Pada langkah pertama kita tentukan posisi titik. Kemudian dilanjutkan dengan melukis bidang yang melewati dua titik tersebut. Di sini dibuat bidang (𝜶) BDHF ( melalui titik P dan R).

Lukis bidang ke dua (bidang 𝜷) yang melewati titik lainnya (titik Q) dan rusuk yang belum ada yang dilewati bidang penampang (rusuk CG). Hasilnya sanggup dilihat pada bidang bewarna kuning.

Lalu kita temukan perpotongan bidang (garis warna merah). Lalu hubungkan 2 titik yang diketahui PR (garis hijau) dan memotong perpotongan bidang (garis merah). 

Kita menemukan perpotongan garis merah dan garis hijau. Sekarang lukis garis gres yang melewati titik sisa (Q) melewati titik potong sebelumnya dan diperpanjang sampai memotong rusuk CG. Perpotongan tersebut di beri nama titik S. Titik yang sebidang dihubungkan sehingga dibuat bidang PQRS. Bidang PQRS inilah penampang dari kubus. Lanjutkan membaca: Langkah melukis Irisan Penampang Prisma Segi 5 dan 6.

Sumber http://www.marthamatika.com/

Cara Membaca Kurva Distribusi Normal Z

Distribusi kurva z dipakai untuk memilih peluang atau jumlah dari suatu populasi dengan kriteria tertentu. Contohnya, misalkan berapa kemungkinan peluang seorang Indonesia mempunyai tinggi 199 cm. Dengan mengunakan perhitungan distribusi normal (distribusi peluang) ini maka dari sejumlah rata-rata dan data simpangan baku, kita sanggup memilih peluangnya.

Sebelum menghitung peluang tersebut, kita akan mengenal terlebih dahulu kurva distribusi normal z dan tabel distribusi normal z. Karena kunci dari perhitungan ini yaitu pemahaman perihal kurva distribusi normal z dan sanggup bagaimana cara membaca tabel distribusi normal kurva z.

Sifat Daerah di Bawah Kurva normal z

Untuk kurva z ini, ada beberapa sifat yang harus diketahui.
  1. titik balik kurva pada $(0, \frac {1}{2 \pi })$
  2. sumbu simetri di z=0
  3. titik belok pada z=1 dan z=-1
  4. Luas kawasan semua kurva yaitu 1. Setelah dibagi 2, maka kawasan tersebut simetris 0,5 ke kanan dan 0,5 ke kiri.
Perhatikan gambar dibawah ini untuk memudahkan pemahaman Anda.
Lalu bagaimana prinsip untuk melihat luas kawasan daerah di bawah kurva z ini? Sebenarnya Anda harus menghitung nilai z terlebih dahulu. Nilai z ini sanggup dihitung dari rata-rata dan simpangan baku atau standar deviasi. Perhitungan menghitung nilai z, nanti akan kita bahas. Sementara kita akan lihat bagaimana cara melihat tabel nilai z dan memilih kawasan z pada kurva distribusi normal.

Cara Melihat Tabel Distribusi Normal z

Bila Anda belum mempunyai tabel distribusi normal. Anda sanggup mengunduh terlebih dahulu di tautan berikut ini, biar mempermudah dalam mempelajari bagaimana cara melihat tabel distribusi normal z. (Unduh Tabel Distribusi Normal Standar).


Misalkan telah didapat nilai z = 1,23. dan z= 1,31. Maka kita cukup menyesuaikan dengan nilai yang sejajar. Bisa diperhatikan gambar berikut ini.

Makara untuk z = 1,23 maka nila P (z) = 0,3907. Sementara untuk z= 1,87 maka nilainya  0,4693.

Lalu apakah itu sudah menyatakan luas wilayahnya (Peluang secara keseluruhan). Belum, adakalanya nanti ditemukan nilai z negatif. 

Luas Daerah di Bawah Kurva Distribusi Normal z

Untuk memilih luas ini sangat disarankan untuk menciptakan sket gambar terlebih dahulu. Sehingga kita benar-benar tahu area bab mana  yang akan dicari luasnya. Contohnya perhatikan beberapa soal di bawah ini,

1. Misalkan carilah Luas kawasan  P [ z> 0,75].
Nilai dari P [z = 0,75] sanggup anda lihat di tabel yaitu : 0,2734. Sekarang mari kita sket kawasan yang diminta.
Nilai yang Anda lihat ditabel merupakan nilai dari bab yang ditunjukkan oleh panah ( dari 0 hingga 0,75). Sementara soal meminta kawasan yang besar dari 0,75. Dengan kata lain 0,2734 tersebut yaitu kawasan putih bab kanan. Ingan jumlah seluruh luas kawasan kanan yaitu 0,5. Makara untuk bab yang bewarna hijau areanya = 0,5 - 0,2734 = 0,2266.

2. Carilah Luas kawasan P [z< -0,75]
Pertama silahkan lihat nilai 0,75. Nilainya pada tabel : 0,2734. Selanjutnya kita lukis kawasan yang diminta. Adapun kawasan yang diminta ditunjukkan oleh area berwarna hijau.
Daerah kiri totalnya 0,5. Area yang diminta yaitu area hijau. Luas area hijau = Area Kiri - Area Merah. Sementara itu Area Merah = Area Kuning. Nah kesannya luas kawasan hijau = 0,5 (kiri) - areakuning (0,75) =  0,5 - 0,2734 = 0,2266.

3. Luas Daerah P[ -0,75 < z< 0,75 ]
Sketsa gambarnya sanggup dibentuk menyerupai gambar dibawah ini.
Makara untuk kawasan yang akan dicari yaitu adonan antara kawasan merah dan kawasan biru. Anda sanggup cari kawasan biru dengan lihat tabel 0,75. Sementara juga begitu untuk kawasan merah. Untuk memahami penggunaan ini silahkan lihat pada postingan kami berikutnya mengenai Contoh Soal dan Pembahasan Distribusi Normal (tabel z).

Sumber http://www.marthamatika.com/

Rabu, 06 Februari 2019

Langkah Memilih Sudut Antara Garis Dan Garis

Kali ini akan di berikan cara memilih sudut garis dan garis. Penjelasan ini akan dilengkapi dengan pola soal dan pembahasan sudut antara garis dan garis.

Langkah Menentukan dan menghitung sudut antara garis dan garis adalah:
  1. Perpanjang garis pertama dan garis ke dua sehingga berpotongan pada suatu titik. Atau garis jikalau bersilangan, garis pertama sanggup dipindahkan dengan syarat harus sejajar.
  2. Buatlah segitiga dengan santunan garis tambahan
  3. Tentukan panjang masing masing sisi segitiga tersebut
  4. Sudut yang dibuat antara garis pertama dan kedua yaitu sudut yang kita cari
  5. Gunakan hukum Cosinus untuk menyelesaikannya.
ATURAN COS
$ de^2 = ka^2+ki^2-2ka.ki.cos(kaki)$
de = depan ; ka = kanan ; ki = kiri. Baca : DeKaki dua kaki kaus kaki, pakai kuadrat.
Sekarang semoga lebih gampang memahami langkah diatas mari kita lihat dengan pola soal sudut antara garis dan garis di bawah ini.

Diberikan kubus ABCD EFGH dengan rusuk a cm. Tentukan nilai sin (AE dan PH), jikalau P yaitu perpotongan BG dan HF.
Penyelesaian:
Pertama kita akan gambarkan kubus tersebut,
Antara AE dan PH merupakan garis bersilangan. Untuk itu aku pindahkan garis AE ke HD (perhatikan dalam pemindahan harus sejajar). Pertemuan garis tersebut terdapat sudut di PHD dengan sudut θ. 

Berikutnya aku pindahkan segitiga DHP keluar dan membentuk gambar disampingnya. Dari segitiga tersebut aku tahu panjang sisi:
$AE= a \\ HP= \frac {1}{2}a \sqrt {6} \\ PD = \frac {1}{2}a \sqrt {6} $
HP dan PD didapat dari hasil Phytagoras segitiga PGH yang siku siku di G.
Saya akan cari dengan memakai rumus Cos:
de = PD. ka= HP. ki = HD.
$ de^2 = ka^2+ki^2-2ka.ki.cos(ka,ki)$
$  ( \frac {1}{2}a \sqrt {6} )^2 = ( \frac {1}{2}a \sqrt {6} )^2 + a^2 - 2 ( \frac {1}{2}a \sqrt {6} ).a.cos \angle PHD \\  cos \angle PHD = \frac {1}{6} \sqrt {6} $

Karena yang ditanyakan sinus, sementara yang kita punya Cosinus kita gunakan identitas trigonometri.
$ sin^2 \angle PHD  +cos^2 \angle PHD  =1 \\ sin^2 \angle PHD  = 1- cos^2 \angle PHD  \\ sin \angle PHD  = \frac {1}{6} \sqrt {30}$.

Sumber http://www.marthamatika.com/

Selasa, 05 Februari 2019

Cara Memilih Sudut Antara Garis Dan Bidang

Pada topik geometri berikut ini akan dibahas mengenai teladan soal dan pembahasan sudut antara garis dan bidang. Sebelum lanjut pada teladan soal dan pembahasan ihwal sudut garis dan bidang ini, harus diperhatikan langkah langkah yang harus dilakukan semoga mempermudah.

Langkah Menentukan Sudut antara Garis dan Bidang
  1. Misal kan kita mempunyai garis l dan bidang A.
  2. Cari titik tembus garis l pada bidang A, Beri nama ini dengan titik T1
  3. Ambil T2 pada ujung garis yang tak berada di bidang.
  4. Proyeksikan T2 ke bidang tegak lurus sehingga di sanggup titik T3. 
  5. Hubungkan T1, T2 dan T3 menjadi sebuah segitiga.
Perhatikan ilustrasinya pada gambar di bawah ini
Untuk lebih memantabkan, kita akan lihat teladan soal dan pembahasan mengenai sudut antara garis dan bidang ini.
Diketahui sebuah kubus ABCD.EFGH dengan rusuk k cm. Jika P yaitu perpotongan diagonal BG dan CF. Maka nilai tangen yang dibuat sudut yang dibuat garis AP dan bidang ABCD adalah.

Penyelesaian.


Garis telah menembus bidang di titik A.Di sini kita sanggup katakan A=T1. Selanjutnya kita ambil ujun garis yaitu titik P sebagai T2. Sesuai langkah ke-3 proyeksikan P ke bidang dan didapat titik T3. Terakhir kita hubungkan T1, T2 dan T3.

$T_1T_2 atau AP = \frac {1}{2} \sqrt {6}k \\ T_2T_3 = \frac {1}{2}k \\ T_1T_3 = \frac {1}{2} \sqrt {5} k$
T1T3 didapat dari Phytagoras ABT3 ; T2T3 = setengah rusuk ; T1T2 sanggup dari Phytagoras APT3.

Sekarang yang ditanyakan yaitu tangen. Sesuai trigonometri untuk sudut di T1, nilai tangennya:
$tan T_1 = \frac {T_2T_3}{T_1T_3} = \frac {\frac {1}{2}}{\frac {1}{2} \sqrt {5} k} = \frac {1}{5} \sqrt {5}$

Sumber http://www.marthamatika.com/

Senin, 04 Februari 2019

Rumus Dan Cara Mengalikan Cross Vektor (Cross Product)

Dalam vektor terdapat beberapa jenis perkalian. Kita mengenal perkalian vektor dengan skalar, perkalian dot antara dua vektor dan perkalian cross antara dua vektor. Berikut ini kita akan bahas mengenai perkalian cross antara dua vektor.

Perkalian Cross antara dua Vektor (cross Product)

Dalam perkalian cross dalam vektor akan dipakai simbol ‘x’. Misalkan kita punya vektor $\vec {a} = a_1, a_2,a_3$ dan vektor $ \vec {b} = (b_1, b_2, b_3)$. Vektor tersebut sanggup juga ditulis dalam bentuk :
$ \vec {a} = a_1i+a_2j+a_3k \\ \vec {b}= b_1i+b_2j+b_3k $
Untuk melaksanakan perkalian $ \vec {a} x \vec {b}$ maka sanggup mengikuti langkah berikut:
Susun vektor menyerupai gambar berikut,
Kalikan dari kiri atas semuanya kemudian dikurangi dengan perkalian dari kiri bawah. Perhatika bab yang digaris merah dan biru. Sehingga di dapat:
$ \vec {a} x \vec {b} =( a_2b_3i+a_3b_1j+a_1b_2k) – (a_2b_1k+a_3b_2i+b_3a_1j$


Perkalian titik Vektor (Dot Product)

Sebagai pembanding saja, perkalian titik atau dot product pada vektor dilakukan dengan mengalikan entri yang seposisi kemudian menjumlahkannya. Hasilnya nanti akan di sanggup sebuah skalar/bilangan. Dalam perkalian ini dipakai lambang ‘.’ (titik)

Misalkan kita punya vektor $\vec {a} = a_1, a_2,a_3$ dan vektor $ \vec {b} = (b_1, b_2, b_3)$. Maka hasil perkalian titik atau dot product dari vektor tersebut:
$a.b=a_1.b_1+a_2.b_2+a_3b_3 = \left | \vec {a} \right | \left | \vec {b}\right |.cos (\angle a,b)$

Perkalian Vektor dengan Skalar

Untuk perkalian vektor dengan skalar. Masin masing elemen vektor sanggup dikalikan dengan skalar yang diberikan. Misalnya ada skalar k, kemudian ingin dikalikan dengan vektor $\vec {a} = a_1, a_2,a_3$. Maka
$k \vec {a} = ka_1+ka_2+ka_3$.
Demikianlah rumus rumus dalam perkalian vektor. Kalian harus sanggup membedakan dot product dan cross product pada vektor ya.
Sumber http://www.marthamatika.com/