Tampilkan postingan dengan label Jenis Penyakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jenis Penyakit. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Juli 2017

Hiv

Human immunodeficiency virus
Sinoussi dari Perancis berhasil mengisolasi HIV untuk pertama kalinya dari seorang penderi HIV
Klasifikasi virus
Kelas: VI (Virus SsRNA-RT)
Famili: Retroviridae
Genus: Lentivirus
Spesies
  • Human immunodeficiency virus 1
  • Human immunodeficiency virus 2
 
 

Sejarah

 Pada tahun 1983, Jean Claude Chermann dan Françoise Barré-Sinoussi dari Perancis berhasil mengisolasi HIV untuk pertama kalinya dari seorang penderita sindrom limfadenopati.Pada awalnya, virus itu disebut ALV (lymphadenopathy-associated virus) Bersama dengan Luc Montagnier, mereka mengambarkan bahwa virus tersebut merupakan penyebab AIDS. Pada awal tahun 1984, Robert Gallo dari Amerika Serikat juga meneliti ihwal virus penyebab AIDS yang disebut HTLV-III. Setelah diteliti lebih lanjut, terbukti bahwa ALV dan HTLV-III merupakan virus yang sama dan pada tahun 1986, istilah yang dipakai untuk menyebut virus tersebut ialah HIV, atau lebih spesifik lagi disebut HIV-1.

Tidak usang sesudah HIV-1 ditemukan, suatu subtipe gres ditemukan di Portugal dari pasien yang berasal dari Afrika Barat dan kemudian disebut HIV-2.Melalui kloning dan analisis sekuens (susunan genetik), HIV-2 mempunyai perbedaan sebesar 55% dari HIV-1 dan secara antigenik berbeda.Perbedaan terbesar lainnya antara kedua strain (galur) virus tersebut terletak pada glikoprotein selubung. Penelitian lanjutan memperkirakan bahwa HIV-2 berasal dari SIV (retrovirus yang menginfeksi primata) lantaran adanya kemiripan sekuens dan reaksi silang antara antibodi terhadap kedua jenis virus tersebut.

 Klasifikasi

 Sinoussi dari Perancis berhasil mengisolasi HIV untuk pertama kalinya dari seorang penderi HIV

Pohon kekerabatan (filogenetik) yang memperlihatkan kedekatan SIV dan HIV.

 

Kedua spesies HIV yang menginfeksi insan (HIV-1 dan -2) pada mulanya berasal dari Afrika barat dan tengah, berpindah dari primata ke insan dalam sebuah proses yang dikenal sebagai zoonosis. HIV-1 merupakan hasil evolusi dari simian immunodeficiency virus (SIVcpz) yang ditemukan dalam subspesies simpanse, Pan troglodyte troglodyte. Sedangkan, HIV-2 merupakan spesies virus hasil evolusi strain SIV yang berbeda (SIVsmm), ditemukan pada Sooty mangabey, monyet dunia usang Guinea-Bissau.Sebagian besar infeksi HIV di dunia disebabkan oleh HIV-1 lantaran spesies virus ini lebih virulen dan lebih gampang menular dibandingkan HIV-2. Sedangkan, HIV-2 kebanyakan masih terkurung di Afrika barat.
Berdasarkan susuanan genetiknya, HIV-1 dibagi menjadi tiga kelompok utama, yaitu M, N, dan O. Kelompok HIV-1 M terdiri dari 16 subtipe yang berbeda. Sementara pada kelompok N dan O belum diketahui secara terang jumlah subtipe virus yang tergabung di dalamnya. Namun, kedua kelompok tersebut mempunyai kekerabatan dengan SIV dari simpanse.HIV-2 mempunyai 8 jenis subtipe yang diduga berasal dari Sooty mangabey yang berbeda-beda.
Apabila beberapa virus HIV dengan subtipe yang berbeda menginfeksi satu individu yang sama, maka akan terjadi bentuk rekombinan sirkulasi (circulating recombinant forms - CRF) (bahasa Inggris: circulating recombinant form, CRF). Bagian dari genom beberapa subtipe HIV yang berbeda akan bergabung dan membentuk satu genom utuh yang baru.Bentuk rekombinan yang pertama kali ditemukan ialah rekombinan AG dari Afrika tengah dan barat, kemudian rekombinan AGI dari Yunani dan Siprus, kemudian rekombinan AB dari Rusia dan AE dari Asia tenggara. Dari seluruh infeksi HIV yang terjadi di dunia, sebanyak 47% kasus disebabkan oleh subtipe C, 27% berupa CRF02_AG, 12,3% berupa subtipe B, 5.3% ialah subtipe D dan 3.2% merupakan CRF AE, sedangkan sisanya berasal dari subtipe dan CRF lain.


 

Struktur dan Materi Genetik

 

HIV mempunyai diameter 100-150 nm dan berbentuk sferis (spherical) sampai oval lantaran bentuk selubung yang menyelimuti partikel virus (virion). Selubung virus berasal dari membran sel inang yang sebagian besar tersusun dari lipida. Di dalam selubung terdapat serpihan yang disebut protein matriks.
Bagian internal dari HIV terdiri dari dua komponen utama, yaitu genom dan kapsid.Genom ialah materi genetik pada serpihan inti virus yang berupa dua kopi utas tunggal RNA.Sedangkan, kapsid ialah protein yang membungkus dan melindungi genom.
Berbeda dengan sebagian besar retrovirus yang hanya mempunyai tiga gen (gag, pol, dan env), HIV mempunyai enam gen tambahan (vif, vpu, vpr, tat, ref, dan nef). Gen-gen tersebut disandikan oleh RNA virus yang berukuran 9 kb. Kesembilan gen tersebut dikelompokkan menjadi tiga kategori berdasarkan fungsinya, yaitu gen penyandi protein struktural (Gag, Pol, Env), protein regulator (Tat, Rev), dan gen aksesoris (Vpu hanya pada HIV-1, Vpx hanya pada HIV-2; Vpr, Vif, Nef)

 

Nama Gen dan Protein yang disandikan Ukuran Lokalisasi Fungsi
Tat (trans-aktivator transkripsi) 86 asam amino (AA), 2 ekson, 14 kDalton nukleus, nukleolus, protein awal Penting untuk replikasi; Trans-aktivasi lisan mRNA virus, mengatur lisan sitokin dan reseptor. 
Rev (regulator lisan protein virus) 116 AA, 2 ekson, 19 kDalton nukleus, di antara sitoplasma dan nukleolus Penting untuk replikasi; mengatur transkripsi dan lisan protein Gag, Pol, Env, Vif, Vpu, dan Vpr.
Vif (faktor infektivitas virus) 192 AA, 23 kDalton sitoplasma, beberapa molekul yang terbungkus dalam virion dewasa Penting untuk infektivitas dan replikasi pada sel primer; berperan dalam tahap awal replikasi HIV
Vpr (Protein R virus) 96-106 AA, 10-15 kDalton komponen dari inti virus dan kompleks membran Mediasi replikasi di sel yang tidak membelah
Vpx (Protein X virus) 112 AA, 12-16 kDalton komponen virion Berfungsi ibarat Vpr
Vpu (Protein U virus) 81 AA (terfosforilasi), 9,2 & 16 kDalton retikulum endoplasma, protein transmembran Degradasi CD4; meningkatkan pelepasan HIV; pembentukan membran protein integral; regulasi ekpresi permukaan sel terhadap MHC I
Nef (Faktor Negatif) 206 AA, 27 kDalton virion, sitoplasma, nukleus Meningkatkan produksi HIV di tahap akhir; mengatur lisan MHC I dan CD4

 Siklus Hidup

 

Sinoussi dari Perancis berhasil mengisolasi HIV untuk pertama kalinya dari seorang penderi HIV
Struktur HIV.

 

Seperti virus lain pada umumnya, HIV hanya sanggup bereplikasi dengan memanfaatkan sel inang. Siklus hidup HIV diawali dengan penempelan partikel virus (virion) dengan reseptor pada permukaan sel inang, di antaranya ialah CD4, CXCR5, dan CXCR5. Sel-sel yang menjadi sasaran HIV ialah sel dendritik, sel T, dan makrofaga. Sel-sel tersebut terdapat pada permukaan lapisan kulit dalam (mukosa) p3enis, v@gin@, dan oral yang biasanya menjadi tempat awal infeksi HIV.Selain itu, HIV juga sanggup pribadi masuk ke aliran darah dan masuk serta bereplikasi di noda limpa.
Setelah menempel, selubung virus akan melebur (fusi) dengan membran sel sehingga isi partikel virus akan terlepas di dalam sel.Selanjutnya, enzim transkriptase balik yang dimiliki HIV akan mengubah genom virus yang berupa RNA menjadi DNA. Kemudian, DNA virus akan dibawa ke inti sel insan sehingga sanggup menyisip atau terintegrasi dengan DNA manusia.DNA virus yang menyisip di DNA insan disebut sebagai provirus dan sanggup bertahan cukup usang di dalam sel.Saat sel teraktivasi, enzim-enzim tertentu yang dimiliki sel inang akan memproses provirus sama dengan DNA manusia, yaitu diubah menjadi mRNA.Kemudian, mRNA akan dibawa keluar dari inti sel dan menjadi cetakan untuk menciptakan protein dan enzim HIV.Sebagian RNA dari provirus yang merupakan genom RNA virus. Bagian genom RNA tersebut akan dirakit dengan protein dan enzim sampai menjadi virus utuh. Pada tahap perakitan ini, enzim protease virus berperan penting untuk memotong protein panjang menjadi serpihan pendek yang menyusun inti virus. Apabila HIV utuh telah matang, maka virus tersebut sanggup keluar dari sel inang dan menginfeksi sel berikutnya. Proses pengeluaran virus tersebut melalui pertunasan (budding), di mana virus akan mendapatkan selubung dari membran permukaan sel inang.

 Deteksi HIV

 

Sinoussi dari Perancis berhasil mengisolasi HIV untuk pertama kalinya dari seorang penderi HIV
Seorang perempuan sedang memakai alat tes HIV.

 

Umumnya, ada tiga tipe deteksi HIV, yaitu tes PCR, tes antibodi HIV, dan tes antigen HIV.Tes reaksi berantai polimerase (PCR) merupakan teknik deteksi berbasis asam nukleat (DNA dan RNA) yang sanggup mendeteksi keberadaan materi genetik HIV di dalam badan manusia. Tes ini sering pula dikenal sebagai tes beban virus atau tes amplifikasi asam nukleat (HIV NAAT). PCR DNA biasa merupakan metode kualitatif yang hanya sanggup mendeteksi ada atau tidaknya DNA virus. Sedangkan, untuk deteksi RNA virus sanggup dilakukan dengan metode real-time PCR yang merupakan metode kuantitatif. Deteksi asam nukleat ini sanggup mendeteksi keberadaan HIV pada 11-16 hari semenjak awal infeksi terjadi. Tes ini biasanya dipakai untuk mendeteksi HIV pada bayi yang gres lahir, namun jarang dipakai pada individu remaja lantaran biaya tes PCR yang mahal dan tingkat kesulitan mengelola dan menafsirkan hasil tes ini lebih tinggi jikalau dibandingkan tes lainnya.
Untuk mendeteksi HIV pada orang dewasa, lebih sering dipakai tes antibodi HIV yang murah dan akurat.Seseorang yang terinfeksi HIV akan menghasilkan antibodi untuk melawan infeksi tersebut.Tes antibodi HIV akan mendeteksi antibodi yang terbentuk di darah, saliva (liur), dan urin. Sejak tahun 2002, telah dikembangkan suatu penguji cepat (rapid test) untuk mendeteksi antibodi HIV dari tetesan darah ataupun sampel liur (saliva) manusia. Sampel dari badan pasien tersebut akan dicampur dengan larutan tertentu. Kemudian, kepingan alat uji (test strip) dimasukkan dan apabila memperlihatkan hasil positif maka akan muncul dua pita berwarna ungu kemerahan.Tingkat akurasi dari alat uji ini mencapai 99.6%, namun semua hasil positif harus dikonfirmasi kembali dengan ELISA.Selain ELISA, tes antibodi HIV lain yang sanggup dipakai untuk investigasi lanjut ialah Western blot.
Tes antigen sanggup mendeteksi antigen (protein P24) pada HIV yang memicu respon antibodi. Pada tahap awal infeksi HIV, P24 diproduksi dalam jumlah tinggi dan sanggup ditemukan dalam serum darah.Tes antibodi dan tes antigen dipakai secara berkesinambungan untuk menawarkan hasil deteksi yang lebih akurat dan lebih awal. Tes ini jarang dipakai sendiri lantaran sensitivitasnya yang rendah dan hanya sanggup bekerja sebelum antibodi terhadap HIV terbentuk.

 Penularan dan Pencegahan

 HIV sanggup ditularkan melalui injeksi pribadi ke aliran darah, serta kontak membran mukosa atau jaringan yang terlukan dengan cairan badan tertentu yang berasal dari penderita HIV.Cairan tertentu itu mencakup darah, semen, sekresi v@gin@, dan ASI. Beberapa jalur penularan HIV yang telah diketahui ialah melalui kekerabatan secual, dari ibu ke anak (perinatal), penggunaan obat-obatan intravena, transfusi dan transplantasi, serta paparan pekerjaan.

 Hubungan secual

 Menurut data WHO, pada tahun 1983-1995, sebanyak 70-80% penularan HIV dilakukan melalui kekerabatan heterosecual, sedangkan 5-10% terjadi melalui kekerabatan homosecual. Kontak secual melalui v@gin@ dan anal mempunyai resiko yang lebih besar untuk menularkan HIV dibandingkan dengan kontak sec secara oral. Beberapa faktor lain yang sanggup meningkatkan resiko penularan melalui kekerabatan secual ialah kehadiran penyakit menular secual, kuantitas beban virus, penggunaan douche. Seseorang yang menderita penyakit menular secual lain (contohnya: sifilis, herpes genitali, kencing nanah, dsb.) akan lebih gampang mendapatkan dan menularkan HIV kepada orang lain yang berafiliasi secual dengannya.Beban virus merupakan jumlah virus aktif yang ada di dalam tubuh. Penularah HIV tertinggi terjadi selama masa awal dan simpulan infeksi HIV lantaran beban virus paling tinggi pada waku tersebut.Pada rentan waktu tersebut, beberapa orang hanya menimbulkan sedikit tanda-tanda atau bahkan tidak sama sekali. Penggunaan douche sanggup meningkatkan resiko penularan HIV lantaran menghancurkan kuman baik di sekitar v@gin@ dan anus yang mempunyai fungsi proteksi. Selain itu, penggunaan douche sesudah berafiliasi secual sanggup menekan kuman penyebab penyakit masuk ke dalam badan dan menjadikan infeksi.

Pencegahan HIV melalui kekerabatan secual sanggup dilakukan dengan tidak berganti-ganti pasangan dan memakai k0nd0m. Cara pencegahan lainnya ialah dengan melaksanakan kekerabatan sec tanpa menimbulkan paparan cairan tubuh. Untuk menurunkan beban virus di dalam saluran kelamin dan darah, sanggup dipakai terapi anti-retroviral.

 Ibu ke anak (transmisi perinatal)

 Penularan HIV dari ibu ke anak sanggup terjadi melalui infeksi in utero, ketika proses persalinan, dan melaui sumbangan ASI. Beberapa faktor maternal dan eksternal lainnya sanggup mempengaruhi transmisi HIV ke bayi, di antaranya banyaknya virus dan sel imun pada trisemester pertama, kelahiran prematur, dan lain-lain. Penurunan sel imun (CD4+) pada ibu dan tingginya RNA virus sanggup meningkatkan resiko penularan HIV dari ibu ke anak. Selain itu, sebuah studi pada perempuan hamil di Malawi dan AS juga menyebutkan bahwa kekurangan vitamin A sanggup meningkatkan risiko infeksi HIV. Risiko penularan perinatal sanggup dilakukan dengan persalinan secara caesar, tidak menawarkan ASI, dan sumbangan AZT pada masa simpulan kehamilan dan sesudah kelahiran bayi.Di sebagian negara berkembang, pencegahan sumbangan ASI dari penderita HIV/AIDS kepada bayi menghadapi kesulitan lantaran harga susu formula sebagai pengganti relatif mahal.Selain itu, para ibu juga harus mempunyai kanal ke air higienis dan memahami cara mempersiapan susu formula yang tepat.

 Lain-lain

 Cara efektif lain untuk penyebaran virus ini ialah melalui penggunaan jarum atau alat suntik yang terkontaminasi, terutama di negara-negara yang kesulitan dalam sterilisasi alat kesehatan.Bagi pengguna obat intravena (dimasukkan melalui pembuluh darah), HIV sanggup dicegah dengan memakai jarum dan alat suntik yang bersih. Penularan HIV melalui transplantasi dan transfusi hanya menjadi penyebab sebagian kecil kasus HIV di dunia (3-5%). Hal ini pun sanggup dicegah dengan melaksanakan investigasi produk darah dan transplan sebelum didonorkan dan menghindari donor yang mempunyai resiko tinggi terinfeksi HIV.

Penularan dari pasien ke petugas kesehatan yang merawatnya juga sangat jarang terjadi (< 0.0001% dari keseluruhan kasus di dunia).Hal ini dicegah dengan memeberikan pengajaran atau edukasi kepada petugas kesehatan, pemakaian pakaian pelindung, sarung tangan, dan pembuangan alat dan materi yang telah tercemar sesuai dengan prosedur. Pada tahun 2005, sempat diusulkan untuk melaksanakan sunat dalam rangka pencegahan HIV. Namun berdasarkan WHO, tindakan pencegahan tersebut masih terlalu awal untuk direkomendasikan.
Ada beberapa jalur penularan yang ditakutkan sanggup mengembangkan HIV, yaitu melalui ludah, gigitan nyamuk, dan kontak sehari-hari (berjabat tangan, terekspos batuk dan bersin dari penderita HIV, memakai toilet dan alat makan bersama, berpelukan). Namun, CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) menyatakan bahwa acara tersebut tidak menjadikan penularan HIV. Beberapa acara lain yang sangat jarang mengakibatkan penularan HIV ialah melalui gigitan insan dan beberapa tipe ciuman tertentu.
Sub-Sahara Afrika tetap merupakan kawasan yang paling parah terkena HIV di antara kaum perempuan hamil pada usia 15-24 tahun di sejumlah negara di sana. Ini diduga disebabkan oleh banyaknya penyakit kelamin, praktik menoreh tubuh, transfusi darah, dan buruknya tingkat kesehatan dan gizi di sana.

 *sumber :http://id.wikipedia.org/wiki/HIV* 

    

Sumber http://biologyconservation.blogspot.com

Jumat, 30 Juni 2017

Acquired Immunodeficiency Syndrome (Aids)

Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS)
Klasifikasi dan bahan-bahan eksternal
Pita Merah terlipat yakni simbol solidaritas orang Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS)
Pita Merah terlipat yakni simbol solidaritas orang-orang yang positif terinfeksi virus HIV dan AIDS.


Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) yakni sekumpulan tanda-tanda dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul lantaran rusaknya sistem kekebalan tubuh insan akhir infeksi virus HIV;atau infeksi virus-virus lain yang menyerupai yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).
Virusnya sendiri berjulukan Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun gampang terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada sanggup memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.
HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak pribadi antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, menyerupai darah, air mani, cairan v@gin@, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan sanggup terjadi melalui hubungan intim (v@gin@l, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.
Para ilmuwan umumnya beropini bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara. Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia. Pada Januari 2006, UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah mengakibatkan maut lebih dari 25 juta orang semenjak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Dengan demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah. AIDS diklaim telah mengakibatkan maut sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa pada tahun 2005 saja, dan lebih dari 570.000 jiwa di antaranya yakni anak-anak.Sepertiga dari jumlah maut ini terjadi di Afrika Sub-Sahara, sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menghancurkan kekuatan sumber daya insan di sana. Perawatan antiretrovirus sesungguhnya sanggup mengurangi tingkat maut dan parahnya infeksi HIV, namun kanal terhadap pengobatan tersebut tidak tersedia di semua negara.
Hukuman sosial bagi penderita HIV/AIDS, umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Kadang-kadang eksekusi sosial tersebut juga turut tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).

 Gejala dan komplikasi


Pita Merah terlipat yakni simbol solidaritas orang Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS)
Berbagai tanda-tanda AIDS umumnya tidak akan terjadi pada orang-orang yang mempunyai sistem kekebalan tubuh yang baik. Kebanyakan kondisi tersebut akhir infeksi oleh bakteri, virus, fungi dan parasit, yang biasanya dikendalikan oleh unsur-unsur sistem kekebalan tubuh yang dirusak HIV. Infeksi oportunistik umum didapati pada penderita AIDS. HIV memengaruhi hampir semua organ tubuh. Penderita AIDS juga berisiko lebih besar menderita kanker menyerupai sarkoma Kaposi, kanker leher rahim, dan kanker sistem kekebalan yang disebut limfoma.
Biasanya penderita AIDS mempunyai tanda-tanda infeksi sistemik; menyerupai demam, berkeringat (terutama pada malam hari), pembengkakan kelenjar, kedinginan, merasa lemah, serta penurunan berat badan. Infeksi oportunistik tertentu yang diderita pasien AIDS, juga tergantung pada tingkat kekerapan terjadinya infeksi tersebut di wilayah geografis tempat hidup pasien.



 Gejala-gejala utama AIDS.


Penyakit paru-paru utama


Pita Merah terlipat yakni simbol solidaritas orang Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS)Pita Merah terlipat yakni simbol solidaritas orang Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) 
HIV yang gres memperbanyak diri tampak bermunculan sebagai bulatan-bulatan kecil (diwarnai hijau) pada permukaan limfosit sehabis menyerang sel tersebut; dilihat dengan mikroskop elektron.


AIDS merupakan bentuk terparah atas akhir infeksi HIV. HIV yakni retrovirus yang biasanya menyerang organ-organ vital sistem kekebalan manusia, menyerupai sel T CD4+ (sejenis sel T), makrofaga, dan sel dendritik. HIV merusak sel T CD4+ secara pribadi dan tidak langsung, padahal sel T CD4+ diharapkan semoga sistem kekebalan tubuh sanggup berfungsi baik. Bila HIV telah membunuh sel T CD4+ hingga jumlahnya menyusut hingga kurang dari 200 per mikroliter (µL) darah, maka kekebalan di tingkat sel akan hilang, dan balasannya ialah kondisi yang disebut AIDS. Infeksi akut HIV akan berlanjut menjadi infeksi laten klinis, kemudian timbul tanda-tanda infeksi HIV awal, dan akhirnya AIDS; yang diidentifikasi dengan menilik jumlah sel T CD4+ di dalam darah serta adanya infeksi tertentu.
Tanpa terapi antiretrovirus, rata-rata lamanya perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS ialah sembilan hingga sepuluh tahun, dan rata-rata waktu hidup sehabis mengalami AIDS hanya sekitar 9,2 bulan. Namun demikian, laju perkembangan penyakit ini pada setiap orang sangat bervariasi, yaitu dari dua ahad hingga 20 tahun. Banyak faktor yang memengaruhinya, diantaranya ialah kekuatan tubuh untuk bertahan melawan HIV (seperti fungsi kekebalan tubuh) dari orang yang terinfeksi. Orang bau tanah umumnya mempunyai kekebalan yang lebih lemah daripada orang yang lebih muda, sehingga lebih berisiko mengalami perkembangan penyakit yang pesat. Akses yang kurang terhadap perawatan kesehatan dan adanya infeksi lainnya menyerupai tuberkulosis, juga sanggup mempercepat perkembangan penyakit ini.Warisan genetik orang yang terinfeksi juga memainkan kiprah penting. Sejumlah orang kebal secara alami terhadap beberapa varian HIV. HIV mempunyai beberapa variasi genetik dan banyak sekali bentuk yang berbeda, yang akan mengakibatkan laju perkembangan penyakit klinis yang berbeda-beda pula.Terapi antiretrovirus yang sangat aktif akan sanggup memperpanjang rata-rata waktu berkembangannya AIDS, serta rata-rata waktu kemampuan penderita bertahan hidup.

 Penularan secual

 Penularan (transmisi) HIV secara secual terjadi ketika ada kontak antara sekresi cairan v@gin@ atau cairan preseminal seseorang dengan rektum, alat kelamin, atau membran mukosa ekspresi pasangannya. Hubungan secual reseptif tanpa pelindung lebih berisiko daripada hubungan secual insertif tanpa pelindung, dan risiko hubungan sec anal lebih besar daripada risiko hubungan sec biasa dan sec oral. Seks oral tidak berarti tak berisiko lantaran HIV sanggup masuk melalui sec oral reseptif maupun insertif. Kekerasan secual secara umum meningkatkan risiko penularan HIV lantaran pelindung umumnya tidak dipakai dan sering terjadi trauma fisik terhadap rongga v@gin@ yang memudahkan transmisi HIV.
Penyakit menular secual meningkatkan risiko penularan HIV lantaran sanggup mengakibatkan gangguan pertahanan jaringan epitel normal akhir adanya borok alat kelamin, dan juga lantaran adanya penumpukan sel yang terinfeksi HIV (limfosit dan makrofaga) pada semen dan sekresi v@gin@l. Penelitian epidemiologis dari Afrika Sub-Sahara, Eropa, dan Amerika Utara memperlihatkan bahwa terdapat sekitar empat kali lebih besar risiko terinfeksi AIDS akhir adanya borok alat kelamin menyerupai yang disebabkan oleh sifilis dan/atau chancroid. Resiko tersebut juga meningkat secara nyata, walaupun lebih kecil, oleh adanya penyakit menular secual menyerupai kencing nanah, infeksi chlamydia, dan trikomoniasis yang mengakibatkan pengumpulan lokal limfosit dan makrofaga.
Transmisi HIV bergantung pada tingkat kemudahan penularan dari pengidap dan kerentanan pasangan secual yang belum terinfeksi. Kemudahan penularan bervariasi pada banyak sekali tahap penyakit ini dan tidak konstan antarorang. Beban virus plasma yang tidak sanggup dideteksi tidak selalu berarti bahwa beban virus kecil pada air mani atau sekresi alat kelamin. Setiap 10 kali penambahan jumlah RNA HIV plasma darah sebanding dengan 81% peningkatan laju transmisi HIV. Wanita lebih rentan terhadap infeksi HIV-1 lantaran perubahan hormon, ekologi serta fisiologi mikroba v@gin@l, dan kerentanan yang lebih besar terhadap penyakit secual.Orang yang terinfeksi dengan HIV masih sanggup terinfeksi jenis virus lain yang lebih mematikan.

 Kontaminasi patogen melalui darah


Pita Merah terlipat yakni simbol solidaritas orang Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) 
Poster CDC tahun 1989, yang mengetengahkan ancaman AIDS sehubungan dengan pemakaian narkoba.


Jalur penularan ini terutama bekerjasama dengan pengguna obat suntik, penderita hemofilia, dan resipien transfusi darah dan produk darah. Berbagi dan menggunakan kembali jarum suntik (syringe) yang mengandung darah yang tercemar oleh organisme biologis penyebab penyakit (patogen), tidak hanya merupakan risiko utama atas infeksi HIV, tetapi juga hepatitis B dan hepatitis C. Berbagi penggunaan jarum suntik merupakan penyebab sepertiga dari semua infeksi gres HIV dan 50% infeksi hepatitis C di Amerika Utara, Republik Rakyat Cina, dan Eropa Timur. Resiko terinfeksi dengan HIV dari satu bacokan dengan jarum yang dipakai orang yang terinfeksi HIV diduga sekitar 1 banding 150. Post-exposure prophylaxis dengan obat anti-HIV sanggup lebih jauh mengurangi risiko itu. Pekerja kemudahan kesehatan (perawat, pekerja laboratorium, dokter, dan lain-lain) juga dikhawatirkan walaupun lebih jarang. Jalur penularan ini sanggup juga terjadi pada orang yang memberi dan mendapatkan rajah dan tindik tubuh. Kewaspadaan universal sering kali tidak dipatuhi baik di Afrika Sub Sahara maupun Asia lantaran sedikitnya sumber daya dan training yang tidak mencukupi. WHO memperkirakan 2,5% dari semua infeksi HIV di Afrika Sub Sahara ditransmisikan melalui suntikan pada kemudahan kesehatan yang tidak aman.Oleh alasannya yakni itu, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, didukung oleh opini medis umum dalam dilema ini, mendorong negara-negara di dunia menerapkan kewaspadaan universal untuk mencegah penularan HIV melalui kemudahan kesehatan.
Resiko penularan HIV pada akseptor transfusi darah sangat kecil di negara maju. Di negara maju, pemilihan donor bertambah baik dan pengamatan HIV dilakukan. Namun demikian, berdasarkan WHO, lebih banyak didominasi populasi dunia tidak mempunyai kanal terhadap darah yang kondusif dan "antara 5% dan 10% infeksi HIV dunia terjadi melalui transfusi darah yang terinfeksi".

 Penularan masa perinatal

Transmisi HIV dari ibu ke anak sanggup terjadi melalui rahim (in utero) selama masa perinatal, yaitu minggu-minggu terakhir kehamilan dan ketika persalinan. Bila tidak ditangani, tingkat penularan dari ibu ke anak selama kehamilan dan persalinan yakni sebesar 25%. Namun demikian, jikalau sang ibu mempunyai kanal terhadap terapi antiretrovirus dan melahirkan dengan cara bedah caesar, tingkat penularannya hanya sebesar 1%.Sejumlah faktor sanggup memengaruhi risiko infeksi, terutama beban virus pada ibu ketika persalinan (semakin tinggi beban virus, semakin tinggi risikonya). Menyusui meningkatkan risiko penularan sebesar 4%.

 Diagnosis

 Sejak tanggal 5 Juni 1981, banyak definisi yang muncul untuk pengawasan epidemiologi AIDS, menyerupai definisi Bangui dan definisi World Health Organization wacana AIDS tahun 1994. Namun demikian, kedua sistem tersebut bersama-sama ditujukan untuk pemantauan epidemi dan bukan untuk penentuan tahapan klinis pasien, lantaran definisi yang dipakai tidak sensitif ataupun spesifik. Di negara-negara berkembang, sistem World Health Organization untuk infeksi HIV dipakai dengan menggunakan data klinis dan laboratorium; sementara di negara-negara maju dipakai sistem penjabaran Centers for Disease Control (CDC) Amerika Serikat.

 Sistem tahapan infeksi WHO


 
 Terapi antivirus
 
 Penanganan infeksi HIV terkini yakni terapi antiretrovirus yang sangat aktif (highly active antiretroviral therapy, disingkat HAART). Terapi ini telah sangat bermanfaat bagi orang-orang yang terinfeksi HIV semenjak tahun 1996, yaitu sehabis ditemukannya HAART yang menggunakan protease inhibitor.Pilihan terbaik HAART ketika ini, berupa kombinasi dari setidaknya tiga obat (disebut "koktail) yang terdiri dari paling sedikit dua macam (atau "kelas") materi antiretrovirus. Kombinasi yang umum dipakai yakni nucleoside analogue reverse transcriptase inhibitor (atau NRTI) dengan protease inhibitor, atau dengan non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI). Karena penyakit HIV lebih cepat perkembangannya pada belum dewasa daripada pada orang dewasa, maka rekomendasi perawatannya pun lebih berangasan untuk belum dewasa daripada untuk orang dewasa.Di negara-negara berkembang yang menyediakan perawatan HAART, seorang dokter akan mempertimbangkan kuantitas beban virus, kecepatan berkurangnya CD4, serta kesiapan mental pasien, ketika menentukan waktu memulai perawatan awal.
Perawatan HAART memungkinkan stabilnya tanda-tanda dan viremia (banyaknya jumlah virus dalam darah) pada pasien, tetapi ia tidak menyembuhkannya dari HIV ataupun menghilangkan gejalanya. HIV-1 dalam tingkat yang tinggi sering resisten terhadap HAART dan gejalanya kembali sehabis perawatan dihentikan.Lagi pula, diharapkan waktu lebih dari seumur hidup seseorang untuk membersihkan infeksi HIV dengan menggunakan HAART. Meskipun demikian, banyak pengidap HIV mengalami perbaikan yang hebat pada kesehatan umum dan kualitas hidup mereka, sehingga terjadi adanya penurunan drastis atas tingkat kesakitan (morbiditas) dan tingkat maut (mortalitas) lantaran HIV. Tanpa perawatan HAART, berubahnya infeksi HIV menjadi AIDS terjadi dengan kecepatan rata-rata (median) antara sembilan hingga sepuluh tahun, dan selanjutnya waktu bertahan sehabis terserang AIDS hanyalah 9.2 bulan.Penerapan HAART dianggap meningkatkan waktu bertahan pasien selama 4 hingga 12 tahun. Bagi beberapa pasien lainnya, yang jumlahnya mungkin lebih dari lima puluh persen, perawatan HAART memperlihatkan hasil jauh dari optimal. Hal ini lantaran adanya imbas samping/dampak pengobatan tidak bisa ditolerir, terapi antiretrovirus sebelumnya yang tidak efektif, dan infeksi HIV tertentu yang resisten obat. Ketidaktaatan dan ketidakteraturan dalam menerapkan terapi antiretrovirus yakni alasan utama mengapa kebanyakan individu gagal memperoleh manfaat dari penerapan HAART. Terdapat bermacam-macam alasan atas perilaku tidak taat dan tidak teratur untuk penerapan HAART tersebut. Isyu-isyu psikososial yang utama ialah kurangnya kanal atas kemudahan kesehatan, kurangnya tunjangan sosial, penyakit kejiwaan, serta penyalahgunaan obat. Perawatan HAART juga kompleks, lantaran adanya bermacam-macam kombinasi jumlah pil, frekuensi dosis, pembatasan makan, dan lain-lain yang harus dijalankan secara rutin . Berbagai imbas samping yang juga menjadikan keengganan untuk teratur dalam penerapan HAART, antara lain lipodistrofi, dislipidaemia, penolakan insulin, peningkatan risiko sistem kardiovaskular, dan kelainan bawaan pada bayi yang dilahirkan.
Obat anti-retrovirus berharga mahal, dan lebih banyak didominasi individu terinfeksi di dunia tidaklah mempunyai kanal terhadap pengobatan dan perawatan untuk HIV dan AIDS tersebut.
 
 Penanganan eksperimental dan saran
 
 Telah terdapat pendapat bahwa hanya vaksin lah yang sesuai untuk menahan epidemik global (pandemik) lantaran biaya vaksin lebih murah dari biaya pengobatan lainnya, sehingga negara-negara berkembang bisa mengadakannya dan pasien tidak membutuhkan perawatan harian.Namun sehabis lebih dari 20 tahun penelitian, HIV-1 tetap merupakan sasaran yang sulit bagi vaksin.
Beragam penelitian untuk meningkatkan perawatan termasuk perjuangan mengurangi imbas samping obat, penyederhanaan kombinasi obat-obatan untuk memudahkan pemakaian, dan penentuan urutan kombinasi pengobatan terbaik untuk menghadapi adanya resistensi obat. Beberapa penelitian mengambarkan bahwa langkah-langkah pencegahan infeksi oportunistik sanggup menjadi bermanfaat ketika menangani pasien dengan infeksi HIV atau AIDS. Vaksinasi atas hepatitis A dan B disarankan untuk pasien yang belum terinfeksi virus ini dan dalam berisiko terinfeksi.Pasien yang mengalami pementingan daya tahan tubuh yang besar juga disarankan mendapatkan terapi pencegahan (propilaktik) untuk pneumonia pneumosistis, demikian juga pasien toksoplasmosis dan kriptokokus meningitis yang akan banyak pula mendapatkan manfaat dari terapi propilaktik tersebut.
 
 Pengobatan alternatif
 
 Berbagai bentuk pengobatan alternatif dipakai untuk menangani tanda-tanda atau mengubah arah perkembangan penyakit. Akupunktur telah dipakai untuk mengatasi beberapa gejala, contohnya kelainan syaraf tepi (peripheral neuropathy) menyerupai kaki kram, kesemutan atau nyeri; namun tidak menyembuhkan infeksi HIV. Tes-tes uji acak klinis terhadap imbas obat-obatan jamu memperlihatkan bahwa tidak terdapat bukti bahwa tanaman-tanaman obat tersebut mempunyai dampak pada perkembangan penyakit ini, tetapi malah kemungkinan memberi bermacam-macam imbas samping negatif yang serius.
Beberapa data memperlihatkan bahwa embel-embel multivitamin dan mineral kemungkinan mengurangi perkembangan penyakit HIV pada orang dewasa, meskipun tidak ada bukti yang menyakinkan bahwa tingkat maut (mortalitas) akan berkurang pada orang-orang yang mempunyai status nutrisi yang baik.Suplemen vitamin A pada belum dewasa kemungkinan juga mempunyai beberapa manfaat.Pemakaian selenium dengan takaran rutin harian sanggup menurunkan beban tekanan virus HIV melalui terjadinya peningkatan pada jumlah CD4. Selenium sanggup dipakai sebagai terapi pendamping terhadap banyak sekali penanganan antivirus yang standar, tetapi tidak sanggup dipakai sendiri untuk menurunkan mortalitas dan morbiditas.
Penyelidikan terakhir memperlihatkan bahwa terapi pengobatan alteratif mempunyai hanya sedikit imbas terhadap mortalitas dan morbiditas penyakit ini, namun sanggup meningkatkan kualitas hidup individu yang mengidap AIDS. Manfaat-manfaat psikologis dari bermacam-macam terapi alternatif tersebut sesungguhnya yakni manfaat paling penting dari pemakaiannya.
Namun oleh penelitian yang mengungkapkan adanya simtoma hipotiroksinemia pada penderita AIDS yang terserang virus HIV-1, beberapa pakar menyarankan terapi dengan asupan hormon tiroksin. Hormon tiroksin dikenal sanggup meningkatkan laju metabolisme basal sel eukariota dan memperbaiki gradien pH pada mitokondria.
 
Pita Merah terlipat yakni simbol solidaritas orang Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS)
Pita Merah terlipat yakni simbol solidaritas orang Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS)
Meratanya HIV diantara orang remaja per negara pada final tahun 2005. ██ 15–50% ██ 5–15% ██ 1–5%
 Epidemiologi
 
 UNAIDS dan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah membunuh lebih dari 25 juta jiwa semenjak pertama kali diakui tahun 1981, menciptakan AIDS sebagai salah satu epidemik paling menghancurkan pada sejarah. Meskipun gres saja, kanal perawatan antiretrovirus bertambah baik di banyak region di dunia, epidemik AIDS diklaim bahwa diperkirakan 2,8 juta (antara 2,4 dan 3,3 juta) hidup di tahun 2005 dan lebih dari setengah juta (570.000) merupakan anak-anak.Secara global, antara 33,4 dan 46 juta orang kini hidup dengan HIV. Pada tahun 2005, antara 3,4 dan 6,2 juta orang terinfeksi dan antara 2,4 dan 3,3 juta orang dengan AIDS meninggal dunia, peningkatan dari 2003 dan jumlah terbesar semenjak tahun 1981.
Afrika Sub-Sahara tetap merupakan wilayah terburuk yang terinfeksi, dengan asumsi 21,6 hingga 27,4 juta jiwa kini hidup dengan HIV. Dua juta [1,5&-3,0 juta] dari mereka yakni belum dewasa yang usianya lebih rendah dari 15 tahun. Lebih dari 64% dari semua orang yang hidup dengan HIV ada di Afrika Sub Sahara, lebih dari tiga per empat (76%) dari semua perempuan hidup dengan HIV. Pada tahun 2005, terdapat 12.0 juta [10.6-13.6 juta] anak yatim/piatu AIDS hidup di Afrika Sub Sahara.Asia Selatan dan Asia Tenggara yakni terburuk kedua yang terinfeksi dengan besar 15%. 500.000 belum dewasa mati di region ini lantaran AIDS. Dua-tiga infeksi HIV/AIDS di Asia muncul di India, dengawn asumsi 5.7 juta infeksi (perkiraan 3.4 - 9.4 juta) (0.9% dari populasi), melewati asumsi di Afrika Selatan yang sebesar 5.5 juta (4.9-6.1 juta) (11.9% dari populasi) infeksi, menciptakan negara ini dengan jumlah terbesar infeksi HIV di dunia.Di 35 negara di Afrika dengan perataan terbesar, impian hidup normal sebesar 48.3 tahun - 6.5 tahun sedikit daripada akan menjadi tanpa penyakit.
 
 Sejarah
 
 AIDS pertama kali dilaporkan pada tanggal 5 Juni 1981, ketika Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat mencatat adanya Pneumonia pneumosistis (sekarang masih diklasifikasikan sebagai PCP tetapi diketahui disebabkan oleh Pneumocystis jirovecii) pada lima pria homosecual di Los Angeles.
Dua spesies HIV yang diketahui menginfeksi insan yakni HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 lebih mematikan dan lebih gampang masuk kedalam tubuh. HIV-1 yakni sumber dari lebih banyak didominasi infeksi HIV di dunia, sementara HIV-2 sulit dimasukan dan kebanyakan berada di Afrika Barat. Baik HIV-1 dan HIV-2 berasal dari primata. Asal HIV-1 berasal dari simpanse Pan troglodytes troglodytes yang ditemukan di Kamerun selatan.HIV-2 berasal dari Sooty Mangabey (Cercocebus atys), monyet dari Guinea Bissau, Gabon, dan Kamerun.
Banyak hebat beropini bahwa HIV masuk ke dalam tubuh insan akhir kontak dengan primata lainnya, contohnya selama berburu atau pemotongan daging. Teori yang lebih kontroversial yang dikenal dengan nama hipotesis OPV AIDS, menyatakan bahwa epidemik AIDS dimulai pada final tahun 1950-an di Kongo Belgia sebagai akhir dari penelitian Hilary Koprowski terhadap vaksin polio.Namun demikian, komunitas ilmiah umumnya beropini bahwa skenario tersebut tidak didukung oleh bukti-bukti yang ada.
 
 Sosial dan budaya
 
 
Pita Merah terlipat yakni simbol solidaritas orang Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS)
Ryan White sebagai model poster HIV. Ia dikeluarkan dari sekolah dengan alasan terinfeksi HIV.
 
 Stigma
 
 Hukuman sosial atau stigma oleh masyarakat di banyak sekali potongan dunia terhadap pengidap AIDS terdapat dalam banyak sekali cara, antara lain tindakan-tindakan pengasingan, penolakan, diskriminasi, dan penghindaran atas orang yang diduga terinfeksi HIV; diwajibkannya uji coba HIV tanpa menerima persetujuan terlebih dahulu atau proteksi kerahasiaannya; dan penerapan karantina terhadap orang-orang yang terinfeksi HIV.Kekerasan atau ketakutan atas kekerasan, telah mencegah banyak orang untuk melaksanakan tes HIV, menilik bagaimana hasil tes mereka, atau berusaha untuk memperoleh perawatan; sehingga mungkin mengubah suatu sakit kronis yang sanggup dikendalikan menjadi "hukuman mati" dan menjadikan meluasnya penyebaran HIV.
Stigma AIDS lebih jauh sanggup dibagi menjadi tiga kategori:
  • Stigma instrumental AIDS - yaitu refleksi ketakutan dan keprihatinan atas hal-hal yang bekerjasama dengan penyakit mematikan dan menular.
  • Stigma simbolis AIDS - yaitu penggunaan HIV/AIDS untuk mengekspresikan perilaku terhadap kelompok sosial atau gaya hidup tertentu yang dianggap bekerjasama dengan penyakit tersebut.
  • Stigma kesopanan AIDS - yaitu eksekusi sosial atas orang yang bekerjasama dengan info HIV/AIDS atau orang yang positif HIV.
Stigma AIDS sering diekspresikan dalam satu atau lebih stigma, terutama yang bekerjasama dengan homosecualitas, bisecualitas, pelacuran, dan penggunaan narkoba melalui suntikan.
Di banyak negara maju, terdapat penghubungan antara AIDS dengan homosecualitas atau bisecualitas, yang berkorelasi dengan tingkat prasangka secual yang lebih tinggi, contohnya sikap-sikap anti homosecual. Demikian pula terdapat anggapan adanya hubungan antara AIDS dengan hubungan secual antar laki-laki, termasuk bila hubungan terjadi antara pasangan yang belum terinfeksi.
 

Dampak ekonomi

 
Pita Merah terlipat yakni simbol solidaritas orang Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS)
Perubahan angka impian hidup di beberapa negara di Afrika.                      Botswana                     Zimbabwe                     Kenya                     Afrika Selatan                     Uganda
 
 Dampak ekonomi
 
 HIV dan AIDS memperlambat pertumbuhan ekonomi dengan menghancurkan jumlah insan dengan kemampuan produksi (human capital). Tanpa nutrisi yang baik, kemudahan kesehatan dan obat yang ada di negara-negara berkembang, orang di negara-negara tersebut menjadi korban AIDS. Mereka tidak hanya tidak sanggup bekerja, tetapi juga akan membutuhkan kemudahan kesehatan yang memadai. Ramalan bahwa hal ini akan mengakibatkan runtuhnya ekonomi dan hubungan di daerah. Di tempat yang terinfeksi berat, epidemik telah meninggalkan banyak anak yatim piatu yang dirawat oleh kakek dan neneknya yang telah tua.
Semakin tingginya tingkat maut (mortalitas) di suatu tempat akan mengakibatkan mengecilnya populasi pekerja dan mereka yang berketerampilan. Para pekerja yang lebih sedikit ini akan didominasi anak muda, dengan pengetahuan dan pengalaman kerja yang lebih sedikit sehingga produktivitas akan berkurang. Meningkatnya cuti pekerja untuk melihat anggota keluarga yang sakit atau cuti lantaran sakit juga akan mengurangi produktivitas. Mortalitas yang meningkat juga akan melemahkan prosedur produksi dan investasi sumberdaya insan (human capital) pada masyarakat, yaitu akhir hilangnya pendapatan dan meninggalnya para orang tua. Karena AIDS mengakibatkan meninggalnya banyak orang remaja muda, ia melemahkan populasi pembayar pajak, mengurangi dana publik menyerupai pendidikan dan kemudahan kesehatan lain yang tidak bekerjasama dengan AIDS. Ini memperlihatkan tekanan pada keuangan negara dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Efek melambatnya pertumbuhan jumlah wajib pajak akan semakin terasakan bila terjadi peningkatan pengeluaran untuk penanganan orang sakit, training (untuk menggantikan pekerja yang sakit), penggantian biaya sakit, serta perawatan yatim piatu korban AIDS. Hal ini terutama mungkin sekali terjadi jikalau peningkatan tajam mortalitas orang remaja mengakibatkan berpindahnya tanggung-jawab dan penyalahan, dari keluarga kepada pemerintah, untuk menangani para anak yatim piatu tersebut.
Pada tingkat rumah tangga, AIDS mengakibatkan hilangnya pendapatan dan meningkatkan pengeluaran kesehatan oleh suatu rumah tangga. Berkurangnya pendapatan mengakibatkan berkurangnya pengeluaran, dan terdapat juga imbas pengalihan dari pengeluaran pendidikan menuju pengeluaran kesehatan dan penguburan. Penelitian di Pantai Gading memperlihatkan bahwa rumah tanggal dengan pasien HIV/AIDS mengeluarkan biaya dua kali lebih banyak untuk perawatan medis daripada untuk pengeluaran rumah tangga lainnya.
 
 Penyangkalan atas AIDS
 
 Sekelompok kecil aktivis, diantaranya termasuk beberapa ilmuwan yang tidak meneliti AIDS, mempertanyakan wacana adanya hubungan antara HIV dan AIDS, keberadaan HIV itu sendiri, serta kebenaran atas percobaan dan metode perawatan yang dipakai untuk menanganinya. Klaim mereka telah diperiksa dan secara luas ditolak oleh komunitas ilmiah,walaupun terus saja disebarkan melalui Internet dan sempat mempunyai imbas politik di Afrika Selatan melalui mantan presiden Thabo Mbeki, yang mengakibatkan pemerintahnya disalahkan atas respon yang tidak efektif terhadap epidemik AIDS di negara tersebut.
 
 *sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/AIDS* 

Sumber http://materiilmupelajaran.blogspot.com

Minggu, 25 Juni 2017

Hiv

Human immunodeficiency virus
Sinoussi dari Perancis berhasil mengisolasi HIV untuk pertama kalinya dari seorang penderi HIV
Klasifikasi virus
Kelas: VI (Virus SsRNA-RT)
Famili: Retroviridae
Genus: Lentivirus
Spesies
  • Human immunodeficiency virus 1
  • Human immunodeficiency virus 2
 
 

Sejarah

 Pada tahun 1983, Jean Claude Chermann dan Françoise Barré-Sinoussi dari Perancis berhasil mengisolasi HIV untuk pertama kalinya dari seorang penderita sindrom limfadenopati.Pada awalnya, virus itu disebut ALV (lymphadenopathy-associated virus) Bersama dengan Luc Montagnier, mereka mengambarkan bahwa virus tersebut merupakan penyebab AIDS. Pada awal tahun 1984, Robert Gallo dari Amerika Serikat juga meneliti ihwal virus penyebab AIDS yang disebut HTLV-III. Setelah diteliti lebih lanjut, terbukti bahwa ALV dan HTLV-III merupakan virus yang sama dan pada tahun 1986, istilah yang dipakai untuk menyebut virus tersebut ialah HIV, atau lebih spesifik lagi disebut HIV-1.

Tidak usang sesudah HIV-1 ditemukan, suatu subtipe gres ditemukan di Portugal dari pasien yang berasal dari Afrika Barat dan kemudian disebut HIV-2.Melalui kloning dan analisis sekuens (susunan genetik), HIV-2 mempunyai perbedaan sebesar 55% dari HIV-1 dan secara antigenik berbeda.Perbedaan terbesar lainnya antara kedua strain (galur) virus tersebut terletak pada glikoprotein selubung. Penelitian lanjutan memperkirakan bahwa HIV-2 berasal dari SIV (retrovirus yang menginfeksi primata) lantaran adanya kemiripan sekuens dan reaksi silang antara antibodi terhadap kedua jenis virus tersebut.

 Klasifikasi

 Sinoussi dari Perancis berhasil mengisolasi HIV untuk pertama kalinya dari seorang penderi HIV

Pohon kekerabatan (filogenetik) yang memperlihatkan kedekatan SIV dan HIV.

 

Kedua spesies HIV yang menginfeksi insan (HIV-1 dan -2) pada mulanya berasal dari Afrika barat dan tengah, berpindah dari primata ke insan dalam sebuah proses yang dikenal sebagai zoonosis. HIV-1 merupakan hasil evolusi dari simian immunodeficiency virus (SIVcpz) yang ditemukan dalam subspesies simpanse, Pan troglodyte troglodyte. Sedangkan, HIV-2 merupakan spesies virus hasil evolusi strain SIV yang berbeda (SIVsmm), ditemukan pada Sooty mangabey, monyet dunia usang Guinea-Bissau.Sebagian besar infeksi HIV di dunia disebabkan oleh HIV-1 lantaran spesies virus ini lebih virulen dan lebih gampang menular dibandingkan HIV-2. Sedangkan, HIV-2 kebanyakan masih terkurung di Afrika barat.
Berdasarkan susuanan genetiknya, HIV-1 dibagi menjadi tiga kelompok utama, yaitu M, N, dan O. Kelompok HIV-1 M terdiri dari 16 subtipe yang berbeda. Sementara pada kelompok N dan O belum diketahui secara terang jumlah subtipe virus yang tergabung di dalamnya. Namun, kedua kelompok tersebut mempunyai kekerabatan dengan SIV dari simpanse.HIV-2 mempunyai 8 jenis subtipe yang diduga berasal dari Sooty mangabey yang berbeda-beda.
Apabila beberapa virus HIV dengan subtipe yang berbeda menginfeksi satu individu yang sama, maka akan terjadi bentuk rekombinan sirkulasi (circulating recombinant forms - CRF) (bahasa Inggris: circulating recombinant form, CRF). Bagian dari genom beberapa subtipe HIV yang berbeda akan bergabung dan membentuk satu genom utuh yang baru.Bentuk rekombinan yang pertama kali ditemukan ialah rekombinan AG dari Afrika tengah dan barat, kemudian rekombinan AGI dari Yunani dan Siprus, kemudian rekombinan AB dari Rusia dan AE dari Asia tenggara. Dari seluruh infeksi HIV yang terjadi di dunia, sebanyak 47% kasus disebabkan oleh subtipe C, 27% berupa CRF02_AG, 12,3% berupa subtipe B, 5.3% ialah subtipe D dan 3.2% merupakan CRF AE, sedangkan sisanya berasal dari subtipe dan CRF lain.


 

Struktur dan Materi Genetik

 

HIV mempunyai diameter 100-150 nm dan berbentuk sferis (spherical) sampai oval lantaran bentuk selubung yang menyelimuti partikel virus (virion). Selubung virus berasal dari membran sel inang yang sebagian besar tersusun dari lipida. Di dalam selubung terdapat serpihan yang disebut protein matriks.
Bagian internal dari HIV terdiri dari dua komponen utama, yaitu genom dan kapsid.Genom ialah materi genetik pada serpihan inti virus yang berupa dua kopi utas tunggal RNA.Sedangkan, kapsid ialah protein yang membungkus dan melindungi genom.
Berbeda dengan sebagian besar retrovirus yang hanya mempunyai tiga gen (gag, pol, dan env), HIV mempunyai enam gen tambahan (vif, vpu, vpr, tat, ref, dan nef). Gen-gen tersebut disandikan oleh RNA virus yang berukuran 9 kb. Kesembilan gen tersebut dikelompokkan menjadi tiga kategori berdasarkan fungsinya, yaitu gen penyandi protein struktural (Gag, Pol, Env), protein regulator (Tat, Rev), dan gen aksesoris (Vpu hanya pada HIV-1, Vpx hanya pada HIV-2; Vpr, Vif, Nef)

 

Nama Gen dan Protein yang disandikan Ukuran Lokalisasi Fungsi
Tat (trans-aktivator transkripsi) 86 asam amino (AA), 2 ekson, 14 kDalton nukleus, nukleolus, protein awal Penting untuk replikasi; Trans-aktivasi lisan mRNA virus, mengatur lisan sitokin dan reseptor. 
Rev (regulator lisan protein virus) 116 AA, 2 ekson, 19 kDalton nukleus, di antara sitoplasma dan nukleolus Penting untuk replikasi; mengatur transkripsi dan lisan protein Gag, Pol, Env, Vif, Vpu, dan Vpr.
Vif (faktor infektivitas virus) 192 AA, 23 kDalton sitoplasma, beberapa molekul yang terbungkus dalam virion dewasa Penting untuk infektivitas dan replikasi pada sel primer; berperan dalam tahap awal replikasi HIV
Vpr (Protein R virus) 96-106 AA, 10-15 kDalton komponen dari inti virus dan kompleks membran Mediasi replikasi di sel yang tidak membelah
Vpx (Protein X virus) 112 AA, 12-16 kDalton komponen virion Berfungsi ibarat Vpr
Vpu (Protein U virus) 81 AA (terfosforilasi), 9,2 & 16 kDalton retikulum endoplasma, protein transmembran Degradasi CD4; meningkatkan pelepasan HIV; pembentukan membran protein integral; regulasi ekpresi permukaan sel terhadap MHC I
Nef (Faktor Negatif) 206 AA, 27 kDalton virion, sitoplasma, nukleus Meningkatkan produksi HIV di tahap akhir; mengatur lisan MHC I dan CD4

 Siklus Hidup

 

Sinoussi dari Perancis berhasil mengisolasi HIV untuk pertama kalinya dari seorang penderi HIV
Struktur HIV.

 

Seperti virus lain pada umumnya, HIV hanya sanggup bereplikasi dengan memanfaatkan sel inang. Siklus hidup HIV diawali dengan penempelan partikel virus (virion) dengan reseptor pada permukaan sel inang, di antaranya ialah CD4, CXCR5, dan CXCR5. Sel-sel yang menjadi sasaran HIV ialah sel dendritik, sel T, dan makrofaga. Sel-sel tersebut terdapat pada permukaan lapisan kulit dalam (mukosa) p3enis, v@gin@, dan oral yang biasanya menjadi tempat awal infeksi HIV.Selain itu, HIV juga sanggup pribadi masuk ke aliran darah dan masuk serta bereplikasi di noda limpa.
Setelah menempel, selubung virus akan melebur (fusi) dengan membran sel sehingga isi partikel virus akan terlepas di dalam sel.Selanjutnya, enzim transkriptase balik yang dimiliki HIV akan mengubah genom virus yang berupa RNA menjadi DNA. Kemudian, DNA virus akan dibawa ke inti sel insan sehingga sanggup menyisip atau terintegrasi dengan DNA manusia.DNA virus yang menyisip di DNA insan disebut sebagai provirus dan sanggup bertahan cukup usang di dalam sel.Saat sel teraktivasi, enzim-enzim tertentu yang dimiliki sel inang akan memproses provirus sama dengan DNA manusia, yaitu diubah menjadi mRNA.Kemudian, mRNA akan dibawa keluar dari inti sel dan menjadi cetakan untuk menciptakan protein dan enzim HIV.Sebagian RNA dari provirus yang merupakan genom RNA virus. Bagian genom RNA tersebut akan dirakit dengan protein dan enzim sampai menjadi virus utuh. Pada tahap perakitan ini, enzim protease virus berperan penting untuk memotong protein panjang menjadi serpihan pendek yang menyusun inti virus. Apabila HIV utuh telah matang, maka virus tersebut sanggup keluar dari sel inang dan menginfeksi sel berikutnya. Proses pengeluaran virus tersebut melalui pertunasan (budding), di mana virus akan mendapatkan selubung dari membran permukaan sel inang.

 Deteksi HIV

 

Sinoussi dari Perancis berhasil mengisolasi HIV untuk pertama kalinya dari seorang penderi HIV
Seorang perempuan sedang memakai alat tes HIV.

 

Umumnya, ada tiga tipe deteksi HIV, yaitu tes PCR, tes antibodi HIV, dan tes antigen HIV.Tes reaksi berantai polimerase (PCR) merupakan teknik deteksi berbasis asam nukleat (DNA dan RNA) yang sanggup mendeteksi keberadaan materi genetik HIV di dalam badan manusia. Tes ini sering pula dikenal sebagai tes beban virus atau tes amplifikasi asam nukleat (HIV NAAT). PCR DNA biasa merupakan metode kualitatif yang hanya sanggup mendeteksi ada atau tidaknya DNA virus. Sedangkan, untuk deteksi RNA virus sanggup dilakukan dengan metode real-time PCR yang merupakan metode kuantitatif. Deteksi asam nukleat ini sanggup mendeteksi keberadaan HIV pada 11-16 hari semenjak awal infeksi terjadi. Tes ini biasanya dipakai untuk mendeteksi HIV pada bayi yang gres lahir, namun jarang dipakai pada individu remaja lantaran biaya tes PCR yang mahal dan tingkat kesulitan mengelola dan menafsirkan hasil tes ini lebih tinggi jikalau dibandingkan tes lainnya.
Untuk mendeteksi HIV pada orang dewasa, lebih sering dipakai tes antibodi HIV yang murah dan akurat.Seseorang yang terinfeksi HIV akan menghasilkan antibodi untuk melawan infeksi tersebut.Tes antibodi HIV akan mendeteksi antibodi yang terbentuk di darah, saliva (liur), dan urin. Sejak tahun 2002, telah dikembangkan suatu penguji cepat (rapid test) untuk mendeteksi antibodi HIV dari tetesan darah ataupun sampel liur (saliva) manusia. Sampel dari badan pasien tersebut akan dicampur dengan larutan tertentu. Kemudian, kepingan alat uji (test strip) dimasukkan dan apabila memperlihatkan hasil positif maka akan muncul dua pita berwarna ungu kemerahan.Tingkat akurasi dari alat uji ini mencapai 99.6%, namun semua hasil positif harus dikonfirmasi kembali dengan ELISA.Selain ELISA, tes antibodi HIV lain yang sanggup dipakai untuk investigasi lanjut ialah Western blot.
Tes antigen sanggup mendeteksi antigen (protein P24) pada HIV yang memicu respon antibodi. Pada tahap awal infeksi HIV, P24 diproduksi dalam jumlah tinggi dan sanggup ditemukan dalam serum darah.Tes antibodi dan tes antigen dipakai secara berkesinambungan untuk menawarkan hasil deteksi yang lebih akurat dan lebih awal. Tes ini jarang dipakai sendiri lantaran sensitivitasnya yang rendah dan hanya sanggup bekerja sebelum antibodi terhadap HIV terbentuk.

 Penularan dan Pencegahan

 HIV sanggup ditularkan melalui injeksi pribadi ke aliran darah, serta kontak membran mukosa atau jaringan yang terlukan dengan cairan badan tertentu yang berasal dari penderita HIV.Cairan tertentu itu mencakup darah, semen, sekresi v@gin@, dan ASI. Beberapa jalur penularan HIV yang telah diketahui ialah melalui kekerabatan secual, dari ibu ke anak (perinatal), penggunaan obat-obatan intravena, transfusi dan transplantasi, serta paparan pekerjaan.

 Hubungan secual

 Menurut data WHO, pada tahun 1983-1995, sebanyak 70-80% penularan HIV dilakukan melalui kekerabatan heterosecual, sedangkan 5-10% terjadi melalui kekerabatan homosecual. Kontak secual melalui v@gin@ dan anal mempunyai resiko yang lebih besar untuk menularkan HIV dibandingkan dengan kontak sec secara oral. Beberapa faktor lain yang sanggup meningkatkan resiko penularan melalui kekerabatan secual ialah kehadiran penyakit menular secual, kuantitas beban virus, penggunaan douche. Seseorang yang menderita penyakit menular secual lain (contohnya: sifilis, herpes genitali, kencing nanah, dsb.) akan lebih gampang mendapatkan dan menularkan HIV kepada orang lain yang berafiliasi secual dengannya.Beban virus merupakan jumlah virus aktif yang ada di dalam tubuh. Penularah HIV tertinggi terjadi selama masa awal dan simpulan infeksi HIV lantaran beban virus paling tinggi pada waku tersebut.Pada rentan waktu tersebut, beberapa orang hanya menimbulkan sedikit tanda-tanda atau bahkan tidak sama sekali. Penggunaan douche sanggup meningkatkan resiko penularan HIV lantaran menghancurkan kuman baik di sekitar v@gin@ dan anus yang mempunyai fungsi proteksi. Selain itu, penggunaan douche sesudah berafiliasi secual sanggup menekan kuman penyebab penyakit masuk ke dalam badan dan menjadikan infeksi.

Pencegahan HIV melalui kekerabatan secual sanggup dilakukan dengan tidak berganti-ganti pasangan dan memakai k0nd0m. Cara pencegahan lainnya ialah dengan melaksanakan kekerabatan sec tanpa menimbulkan paparan cairan tubuh. Untuk menurunkan beban virus di dalam saluran kelamin dan darah, sanggup dipakai terapi anti-retroviral.

 Ibu ke anak (transmisi perinatal)

 Penularan HIV dari ibu ke anak sanggup terjadi melalui infeksi in utero, ketika proses persalinan, dan melaui sumbangan ASI. Beberapa faktor maternal dan eksternal lainnya sanggup mempengaruhi transmisi HIV ke bayi, di antaranya banyaknya virus dan sel imun pada trisemester pertama, kelahiran prematur, dan lain-lain. Penurunan sel imun (CD4+) pada ibu dan tingginya RNA virus sanggup meningkatkan resiko penularan HIV dari ibu ke anak. Selain itu, sebuah studi pada perempuan hamil di Malawi dan AS juga menyebutkan bahwa kekurangan vitamin A sanggup meningkatkan risiko infeksi HIV. Risiko penularan perinatal sanggup dilakukan dengan persalinan secara caesar, tidak menawarkan ASI, dan sumbangan AZT pada masa simpulan kehamilan dan sesudah kelahiran bayi.Di sebagian negara berkembang, pencegahan sumbangan ASI dari penderita HIV/AIDS kepada bayi menghadapi kesulitan lantaran harga susu formula sebagai pengganti relatif mahal.Selain itu, para ibu juga harus mempunyai kanal ke air higienis dan memahami cara mempersiapan susu formula yang tepat.

 Lain-lain

 Cara efektif lain untuk penyebaran virus ini ialah melalui penggunaan jarum atau alat suntik yang terkontaminasi, terutama di negara-negara yang kesulitan dalam sterilisasi alat kesehatan.Bagi pengguna obat intravena (dimasukkan melalui pembuluh darah), HIV sanggup dicegah dengan memakai jarum dan alat suntik yang bersih. Penularan HIV melalui transplantasi dan transfusi hanya menjadi penyebab sebagian kecil kasus HIV di dunia (3-5%). Hal ini pun sanggup dicegah dengan melaksanakan investigasi produk darah dan transplan sebelum didonorkan dan menghindari donor yang mempunyai resiko tinggi terinfeksi HIV.

Penularan dari pasien ke petugas kesehatan yang merawatnya juga sangat jarang terjadi (< 0.0001% dari keseluruhan kasus di dunia).Hal ini dicegah dengan memeberikan pengajaran atau edukasi kepada petugas kesehatan, pemakaian pakaian pelindung, sarung tangan, dan pembuangan alat dan materi yang telah tercemar sesuai dengan prosedur. Pada tahun 2005, sempat diusulkan untuk melaksanakan sunat dalam rangka pencegahan HIV. Namun berdasarkan WHO, tindakan pencegahan tersebut masih terlalu awal untuk direkomendasikan.
Ada beberapa jalur penularan yang ditakutkan sanggup mengembangkan HIV, yaitu melalui ludah, gigitan nyamuk, dan kontak sehari-hari (berjabat tangan, terekspos batuk dan bersin dari penderita HIV, memakai toilet dan alat makan bersama, berpelukan). Namun, CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) menyatakan bahwa acara tersebut tidak menjadikan penularan HIV. Beberapa acara lain yang sangat jarang mengakibatkan penularan HIV ialah melalui gigitan insan dan beberapa tipe ciuman tertentu.
Sub-Sahara Afrika tetap merupakan kawasan yang paling parah terkena HIV di antara kaum perempuan hamil pada usia 15-24 tahun di sejumlah negara di sana. Ini diduga disebabkan oleh banyaknya penyakit kelamin, praktik menoreh tubuh, transfusi darah, dan buruknya tingkat kesehatan dan gizi di sana.

 *sumber :http://id.wikipedia.org/wiki/HIV* 

    

Sumber http://biologyconservation.blogspot.com

Kamis, 22 Juni 2017

Acquired Immunodeficiency Syndrome (Aids)

Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS)
Klasifikasi dan bahan-bahan eksternal
Pita Merah terlipat yakni simbol solidaritas orang Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS)
Pita Merah terlipat yakni simbol solidaritas orang-orang yang positif terinfeksi virus HIV dan AIDS.


Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) yakni sekumpulan tanda-tanda dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul lantaran rusaknya sistem kekebalan tubuh insan akhir infeksi virus HIV;atau infeksi virus-virus lain yang menyerupai yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).
Virusnya sendiri berjulukan Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun gampang terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada sanggup memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.
HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak pribadi antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, menyerupai darah, air mani, cairan v@gin@, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan sanggup terjadi melalui hubungan intim (v@gin@l, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.
Para ilmuwan umumnya beropini bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara. Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia. Pada Januari 2006, UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah mengakibatkan maut lebih dari 25 juta orang semenjak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Dengan demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah. AIDS diklaim telah mengakibatkan maut sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa pada tahun 2005 saja, dan lebih dari 570.000 jiwa di antaranya yakni anak-anak.Sepertiga dari jumlah maut ini terjadi di Afrika Sub-Sahara, sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menghancurkan kekuatan sumber daya insan di sana. Perawatan antiretrovirus sesungguhnya sanggup mengurangi tingkat maut dan parahnya infeksi HIV, namun kanal terhadap pengobatan tersebut tidak tersedia di semua negara.
Hukuman sosial bagi penderita HIV/AIDS, umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Kadang-kadang eksekusi sosial tersebut juga turut tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).

 Gejala dan komplikasi


Pita Merah terlipat yakni simbol solidaritas orang Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS)
Berbagai tanda-tanda AIDS umumnya tidak akan terjadi pada orang-orang yang mempunyai sistem kekebalan tubuh yang baik. Kebanyakan kondisi tersebut akhir infeksi oleh bakteri, virus, fungi dan parasit, yang biasanya dikendalikan oleh unsur-unsur sistem kekebalan tubuh yang dirusak HIV. Infeksi oportunistik umum didapati pada penderita AIDS. HIV memengaruhi hampir semua organ tubuh. Penderita AIDS juga berisiko lebih besar menderita kanker menyerupai sarkoma Kaposi, kanker leher rahim, dan kanker sistem kekebalan yang disebut limfoma.
Biasanya penderita AIDS mempunyai tanda-tanda infeksi sistemik; menyerupai demam, berkeringat (terutama pada malam hari), pembengkakan kelenjar, kedinginan, merasa lemah, serta penurunan berat badan. Infeksi oportunistik tertentu yang diderita pasien AIDS, juga tergantung pada tingkat kekerapan terjadinya infeksi tersebut di wilayah geografis tempat hidup pasien.



 Gejala-gejala utama AIDS.


Penyakit paru-paru utama


Pita Merah terlipat yakni simbol solidaritas orang Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS)Pita Merah terlipat yakni simbol solidaritas orang Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) 
HIV yang gres memperbanyak diri tampak bermunculan sebagai bulatan-bulatan kecil (diwarnai hijau) pada permukaan limfosit sehabis menyerang sel tersebut; dilihat dengan mikroskop elektron.


AIDS merupakan bentuk terparah atas akhir infeksi HIV. HIV yakni retrovirus yang biasanya menyerang organ-organ vital sistem kekebalan manusia, menyerupai sel T CD4+ (sejenis sel T), makrofaga, dan sel dendritik. HIV merusak sel T CD4+ secara pribadi dan tidak langsung, padahal sel T CD4+ diharapkan semoga sistem kekebalan tubuh sanggup berfungsi baik. Bila HIV telah membunuh sel T CD4+ hingga jumlahnya menyusut hingga kurang dari 200 per mikroliter (µL) darah, maka kekebalan di tingkat sel akan hilang, dan balasannya ialah kondisi yang disebut AIDS. Infeksi akut HIV akan berlanjut menjadi infeksi laten klinis, kemudian timbul tanda-tanda infeksi HIV awal, dan akhirnya AIDS; yang diidentifikasi dengan menilik jumlah sel T CD4+ di dalam darah serta adanya infeksi tertentu.
Tanpa terapi antiretrovirus, rata-rata lamanya perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS ialah sembilan hingga sepuluh tahun, dan rata-rata waktu hidup sehabis mengalami AIDS hanya sekitar 9,2 bulan. Namun demikian, laju perkembangan penyakit ini pada setiap orang sangat bervariasi, yaitu dari dua ahad hingga 20 tahun. Banyak faktor yang memengaruhinya, diantaranya ialah kekuatan tubuh untuk bertahan melawan HIV (seperti fungsi kekebalan tubuh) dari orang yang terinfeksi. Orang bau tanah umumnya mempunyai kekebalan yang lebih lemah daripada orang yang lebih muda, sehingga lebih berisiko mengalami perkembangan penyakit yang pesat. Akses yang kurang terhadap perawatan kesehatan dan adanya infeksi lainnya menyerupai tuberkulosis, juga sanggup mempercepat perkembangan penyakit ini.Warisan genetik orang yang terinfeksi juga memainkan kiprah penting. Sejumlah orang kebal secara alami terhadap beberapa varian HIV. HIV mempunyai beberapa variasi genetik dan banyak sekali bentuk yang berbeda, yang akan mengakibatkan laju perkembangan penyakit klinis yang berbeda-beda pula.Terapi antiretrovirus yang sangat aktif akan sanggup memperpanjang rata-rata waktu berkembangannya AIDS, serta rata-rata waktu kemampuan penderita bertahan hidup.

 Penularan secual

 Penularan (transmisi) HIV secara secual terjadi ketika ada kontak antara sekresi cairan v@gin@ atau cairan preseminal seseorang dengan rektum, alat kelamin, atau membran mukosa ekspresi pasangannya. Hubungan secual reseptif tanpa pelindung lebih berisiko daripada hubungan secual insertif tanpa pelindung, dan risiko hubungan sec anal lebih besar daripada risiko hubungan sec biasa dan sec oral. Seks oral tidak berarti tak berisiko lantaran HIV sanggup masuk melalui sec oral reseptif maupun insertif. Kekerasan secual secara umum meningkatkan risiko penularan HIV lantaran pelindung umumnya tidak dipakai dan sering terjadi trauma fisik terhadap rongga v@gin@ yang memudahkan transmisi HIV.
Penyakit menular secual meningkatkan risiko penularan HIV lantaran sanggup mengakibatkan gangguan pertahanan jaringan epitel normal akhir adanya borok alat kelamin, dan juga lantaran adanya penumpukan sel yang terinfeksi HIV (limfosit dan makrofaga) pada semen dan sekresi v@gin@l. Penelitian epidemiologis dari Afrika Sub-Sahara, Eropa, dan Amerika Utara memperlihatkan bahwa terdapat sekitar empat kali lebih besar risiko terinfeksi AIDS akhir adanya borok alat kelamin menyerupai yang disebabkan oleh sifilis dan/atau chancroid. Resiko tersebut juga meningkat secara nyata, walaupun lebih kecil, oleh adanya penyakit menular secual menyerupai kencing nanah, infeksi chlamydia, dan trikomoniasis yang mengakibatkan pengumpulan lokal limfosit dan makrofaga.
Transmisi HIV bergantung pada tingkat kemudahan penularan dari pengidap dan kerentanan pasangan secual yang belum terinfeksi. Kemudahan penularan bervariasi pada banyak sekali tahap penyakit ini dan tidak konstan antarorang. Beban virus plasma yang tidak sanggup dideteksi tidak selalu berarti bahwa beban virus kecil pada air mani atau sekresi alat kelamin. Setiap 10 kali penambahan jumlah RNA HIV plasma darah sebanding dengan 81% peningkatan laju transmisi HIV. Wanita lebih rentan terhadap infeksi HIV-1 lantaran perubahan hormon, ekologi serta fisiologi mikroba v@gin@l, dan kerentanan yang lebih besar terhadap penyakit secual.Orang yang terinfeksi dengan HIV masih sanggup terinfeksi jenis virus lain yang lebih mematikan.

 Kontaminasi patogen melalui darah


Pita Merah terlipat yakni simbol solidaritas orang Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) 
Poster CDC tahun 1989, yang mengetengahkan ancaman AIDS sehubungan dengan pemakaian narkoba.


Jalur penularan ini terutama bekerjasama dengan pengguna obat suntik, penderita hemofilia, dan resipien transfusi darah dan produk darah. Berbagi dan menggunakan kembali jarum suntik (syringe) yang mengandung darah yang tercemar oleh organisme biologis penyebab penyakit (patogen), tidak hanya merupakan risiko utama atas infeksi HIV, tetapi juga hepatitis B dan hepatitis C. Berbagi penggunaan jarum suntik merupakan penyebab sepertiga dari semua infeksi gres HIV dan 50% infeksi hepatitis C di Amerika Utara, Republik Rakyat Cina, dan Eropa Timur. Resiko terinfeksi dengan HIV dari satu bacokan dengan jarum yang dipakai orang yang terinfeksi HIV diduga sekitar 1 banding 150. Post-exposure prophylaxis dengan obat anti-HIV sanggup lebih jauh mengurangi risiko itu. Pekerja kemudahan kesehatan (perawat, pekerja laboratorium, dokter, dan lain-lain) juga dikhawatirkan walaupun lebih jarang. Jalur penularan ini sanggup juga terjadi pada orang yang memberi dan mendapatkan rajah dan tindik tubuh. Kewaspadaan universal sering kali tidak dipatuhi baik di Afrika Sub Sahara maupun Asia lantaran sedikitnya sumber daya dan training yang tidak mencukupi. WHO memperkirakan 2,5% dari semua infeksi HIV di Afrika Sub Sahara ditransmisikan melalui suntikan pada kemudahan kesehatan yang tidak aman.Oleh alasannya yakni itu, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, didukung oleh opini medis umum dalam dilema ini, mendorong negara-negara di dunia menerapkan kewaspadaan universal untuk mencegah penularan HIV melalui kemudahan kesehatan.
Resiko penularan HIV pada akseptor transfusi darah sangat kecil di negara maju. Di negara maju, pemilihan donor bertambah baik dan pengamatan HIV dilakukan. Namun demikian, berdasarkan WHO, lebih banyak didominasi populasi dunia tidak mempunyai kanal terhadap darah yang kondusif dan "antara 5% dan 10% infeksi HIV dunia terjadi melalui transfusi darah yang terinfeksi".

 Penularan masa perinatal

Transmisi HIV dari ibu ke anak sanggup terjadi melalui rahim (in utero) selama masa perinatal, yaitu minggu-minggu terakhir kehamilan dan ketika persalinan. Bila tidak ditangani, tingkat penularan dari ibu ke anak selama kehamilan dan persalinan yakni sebesar 25%. Namun demikian, jikalau sang ibu mempunyai kanal terhadap terapi antiretrovirus dan melahirkan dengan cara bedah caesar, tingkat penularannya hanya sebesar 1%.Sejumlah faktor sanggup memengaruhi risiko infeksi, terutama beban virus pada ibu ketika persalinan (semakin tinggi beban virus, semakin tinggi risikonya). Menyusui meningkatkan risiko penularan sebesar 4%.

 Diagnosis

 Sejak tanggal 5 Juni 1981, banyak definisi yang muncul untuk pengawasan epidemiologi AIDS, menyerupai definisi Bangui dan definisi World Health Organization wacana AIDS tahun 1994. Namun demikian, kedua sistem tersebut bersama-sama ditujukan untuk pemantauan epidemi dan bukan untuk penentuan tahapan klinis pasien, lantaran definisi yang dipakai tidak sensitif ataupun spesifik. Di negara-negara berkembang, sistem World Health Organization untuk infeksi HIV dipakai dengan menggunakan data klinis dan laboratorium; sementara di negara-negara maju dipakai sistem penjabaran Centers for Disease Control (CDC) Amerika Serikat.

 Sistem tahapan infeksi WHO


 
 Terapi antivirus
 
 Penanganan infeksi HIV terkini yakni terapi antiretrovirus yang sangat aktif (highly active antiretroviral therapy, disingkat HAART). Terapi ini telah sangat bermanfaat bagi orang-orang yang terinfeksi HIV semenjak tahun 1996, yaitu sehabis ditemukannya HAART yang menggunakan protease inhibitor.Pilihan terbaik HAART ketika ini, berupa kombinasi dari setidaknya tiga obat (disebut "koktail) yang terdiri dari paling sedikit dua macam (atau "kelas") materi antiretrovirus. Kombinasi yang umum dipakai yakni nucleoside analogue reverse transcriptase inhibitor (atau NRTI) dengan protease inhibitor, atau dengan non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI). Karena penyakit HIV lebih cepat perkembangannya pada belum dewasa daripada pada orang dewasa, maka rekomendasi perawatannya pun lebih berangasan untuk belum dewasa daripada untuk orang dewasa.Di negara-negara berkembang yang menyediakan perawatan HAART, seorang dokter akan mempertimbangkan kuantitas beban virus, kecepatan berkurangnya CD4, serta kesiapan mental pasien, ketika menentukan waktu memulai perawatan awal.
Perawatan HAART memungkinkan stabilnya tanda-tanda dan viremia (banyaknya jumlah virus dalam darah) pada pasien, tetapi ia tidak menyembuhkannya dari HIV ataupun menghilangkan gejalanya. HIV-1 dalam tingkat yang tinggi sering resisten terhadap HAART dan gejalanya kembali sehabis perawatan dihentikan.Lagi pula, diharapkan waktu lebih dari seumur hidup seseorang untuk membersihkan infeksi HIV dengan menggunakan HAART. Meskipun demikian, banyak pengidap HIV mengalami perbaikan yang hebat pada kesehatan umum dan kualitas hidup mereka, sehingga terjadi adanya penurunan drastis atas tingkat kesakitan (morbiditas) dan tingkat maut (mortalitas) lantaran HIV. Tanpa perawatan HAART, berubahnya infeksi HIV menjadi AIDS terjadi dengan kecepatan rata-rata (median) antara sembilan hingga sepuluh tahun, dan selanjutnya waktu bertahan sehabis terserang AIDS hanyalah 9.2 bulan.Penerapan HAART dianggap meningkatkan waktu bertahan pasien selama 4 hingga 12 tahun. Bagi beberapa pasien lainnya, yang jumlahnya mungkin lebih dari lima puluh persen, perawatan HAART memperlihatkan hasil jauh dari optimal. Hal ini lantaran adanya imbas samping/dampak pengobatan tidak bisa ditolerir, terapi antiretrovirus sebelumnya yang tidak efektif, dan infeksi HIV tertentu yang resisten obat. Ketidaktaatan dan ketidakteraturan dalam menerapkan terapi antiretrovirus yakni alasan utama mengapa kebanyakan individu gagal memperoleh manfaat dari penerapan HAART. Terdapat bermacam-macam alasan atas perilaku tidak taat dan tidak teratur untuk penerapan HAART tersebut. Isyu-isyu psikososial yang utama ialah kurangnya kanal atas kemudahan kesehatan, kurangnya tunjangan sosial, penyakit kejiwaan, serta penyalahgunaan obat. Perawatan HAART juga kompleks, lantaran adanya bermacam-macam kombinasi jumlah pil, frekuensi dosis, pembatasan makan, dan lain-lain yang harus dijalankan secara rutin . Berbagai imbas samping yang juga menjadikan keengganan untuk teratur dalam penerapan HAART, antara lain lipodistrofi, dislipidaemia, penolakan insulin, peningkatan risiko sistem kardiovaskular, dan kelainan bawaan pada bayi yang dilahirkan.
Obat anti-retrovirus berharga mahal, dan lebih banyak didominasi individu terinfeksi di dunia tidaklah mempunyai kanal terhadap pengobatan dan perawatan untuk HIV dan AIDS tersebut.
 
 Penanganan eksperimental dan saran
 
 Telah terdapat pendapat bahwa hanya vaksin lah yang sesuai untuk menahan epidemik global (pandemik) lantaran biaya vaksin lebih murah dari biaya pengobatan lainnya, sehingga negara-negara berkembang bisa mengadakannya dan pasien tidak membutuhkan perawatan harian.Namun sehabis lebih dari 20 tahun penelitian, HIV-1 tetap merupakan sasaran yang sulit bagi vaksin.
Beragam penelitian untuk meningkatkan perawatan termasuk perjuangan mengurangi imbas samping obat, penyederhanaan kombinasi obat-obatan untuk memudahkan pemakaian, dan penentuan urutan kombinasi pengobatan terbaik untuk menghadapi adanya resistensi obat. Beberapa penelitian mengambarkan bahwa langkah-langkah pencegahan infeksi oportunistik sanggup menjadi bermanfaat ketika menangani pasien dengan infeksi HIV atau AIDS. Vaksinasi atas hepatitis A dan B disarankan untuk pasien yang belum terinfeksi virus ini dan dalam berisiko terinfeksi.Pasien yang mengalami pementingan daya tahan tubuh yang besar juga disarankan mendapatkan terapi pencegahan (propilaktik) untuk pneumonia pneumosistis, demikian juga pasien toksoplasmosis dan kriptokokus meningitis yang akan banyak pula mendapatkan manfaat dari terapi propilaktik tersebut.
 
 Pengobatan alternatif
 
 Berbagai bentuk pengobatan alternatif dipakai untuk menangani tanda-tanda atau mengubah arah perkembangan penyakit. Akupunktur telah dipakai untuk mengatasi beberapa gejala, contohnya kelainan syaraf tepi (peripheral neuropathy) menyerupai kaki kram, kesemutan atau nyeri; namun tidak menyembuhkan infeksi HIV. Tes-tes uji acak klinis terhadap imbas obat-obatan jamu memperlihatkan bahwa tidak terdapat bukti bahwa tanaman-tanaman obat tersebut mempunyai dampak pada perkembangan penyakit ini, tetapi malah kemungkinan memberi bermacam-macam imbas samping negatif yang serius.
Beberapa data memperlihatkan bahwa embel-embel multivitamin dan mineral kemungkinan mengurangi perkembangan penyakit HIV pada orang dewasa, meskipun tidak ada bukti yang menyakinkan bahwa tingkat maut (mortalitas) akan berkurang pada orang-orang yang mempunyai status nutrisi yang baik.Suplemen vitamin A pada belum dewasa kemungkinan juga mempunyai beberapa manfaat.Pemakaian selenium dengan takaran rutin harian sanggup menurunkan beban tekanan virus HIV melalui terjadinya peningkatan pada jumlah CD4. Selenium sanggup dipakai sebagai terapi pendamping terhadap banyak sekali penanganan antivirus yang standar, tetapi tidak sanggup dipakai sendiri untuk menurunkan mortalitas dan morbiditas.
Penyelidikan terakhir memperlihatkan bahwa terapi pengobatan alteratif mempunyai hanya sedikit imbas terhadap mortalitas dan morbiditas penyakit ini, namun sanggup meningkatkan kualitas hidup individu yang mengidap AIDS. Manfaat-manfaat psikologis dari bermacam-macam terapi alternatif tersebut sesungguhnya yakni manfaat paling penting dari pemakaiannya.
Namun oleh penelitian yang mengungkapkan adanya simtoma hipotiroksinemia pada penderita AIDS yang terserang virus HIV-1, beberapa pakar menyarankan terapi dengan asupan hormon tiroksin. Hormon tiroksin dikenal sanggup meningkatkan laju metabolisme basal sel eukariota dan memperbaiki gradien pH pada mitokondria.
 
Pita Merah terlipat yakni simbol solidaritas orang Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS)
Pita Merah terlipat yakni simbol solidaritas orang Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS)
Meratanya HIV diantara orang remaja per negara pada final tahun 2005. ██ 15–50% ██ 5–15% ██ 1–5%
 Epidemiologi
 
 UNAIDS dan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah membunuh lebih dari 25 juta jiwa semenjak pertama kali diakui tahun 1981, menciptakan AIDS sebagai salah satu epidemik paling menghancurkan pada sejarah. Meskipun gres saja, kanal perawatan antiretrovirus bertambah baik di banyak region di dunia, epidemik AIDS diklaim bahwa diperkirakan 2,8 juta (antara 2,4 dan 3,3 juta) hidup di tahun 2005 dan lebih dari setengah juta (570.000) merupakan anak-anak.Secara global, antara 33,4 dan 46 juta orang kini hidup dengan HIV. Pada tahun 2005, antara 3,4 dan 6,2 juta orang terinfeksi dan antara 2,4 dan 3,3 juta orang dengan AIDS meninggal dunia, peningkatan dari 2003 dan jumlah terbesar semenjak tahun 1981.
Afrika Sub-Sahara tetap merupakan wilayah terburuk yang terinfeksi, dengan asumsi 21,6 hingga 27,4 juta jiwa kini hidup dengan HIV. Dua juta [1,5&-3,0 juta] dari mereka yakni belum dewasa yang usianya lebih rendah dari 15 tahun. Lebih dari 64% dari semua orang yang hidup dengan HIV ada di Afrika Sub Sahara, lebih dari tiga per empat (76%) dari semua perempuan hidup dengan HIV. Pada tahun 2005, terdapat 12.0 juta [10.6-13.6 juta] anak yatim/piatu AIDS hidup di Afrika Sub Sahara.Asia Selatan dan Asia Tenggara yakni terburuk kedua yang terinfeksi dengan besar 15%. 500.000 belum dewasa mati di region ini lantaran AIDS. Dua-tiga infeksi HIV/AIDS di Asia muncul di India, dengawn asumsi 5.7 juta infeksi (perkiraan 3.4 - 9.4 juta) (0.9% dari populasi), melewati asumsi di Afrika Selatan yang sebesar 5.5 juta (4.9-6.1 juta) (11.9% dari populasi) infeksi, menciptakan negara ini dengan jumlah terbesar infeksi HIV di dunia.Di 35 negara di Afrika dengan perataan terbesar, impian hidup normal sebesar 48.3 tahun - 6.5 tahun sedikit daripada akan menjadi tanpa penyakit.
 
 Sejarah
 
 AIDS pertama kali dilaporkan pada tanggal 5 Juni 1981, ketika Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat mencatat adanya Pneumonia pneumosistis (sekarang masih diklasifikasikan sebagai PCP tetapi diketahui disebabkan oleh Pneumocystis jirovecii) pada lima pria homosecual di Los Angeles.
Dua spesies HIV yang diketahui menginfeksi insan yakni HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 lebih mematikan dan lebih gampang masuk kedalam tubuh. HIV-1 yakni sumber dari lebih banyak didominasi infeksi HIV di dunia, sementara HIV-2 sulit dimasukan dan kebanyakan berada di Afrika Barat. Baik HIV-1 dan HIV-2 berasal dari primata. Asal HIV-1 berasal dari simpanse Pan troglodytes troglodytes yang ditemukan di Kamerun selatan.HIV-2 berasal dari Sooty Mangabey (Cercocebus atys), monyet dari Guinea Bissau, Gabon, dan Kamerun.
Banyak hebat beropini bahwa HIV masuk ke dalam tubuh insan akhir kontak dengan primata lainnya, contohnya selama berburu atau pemotongan daging. Teori yang lebih kontroversial yang dikenal dengan nama hipotesis OPV AIDS, menyatakan bahwa epidemik AIDS dimulai pada final tahun 1950-an di Kongo Belgia sebagai akhir dari penelitian Hilary Koprowski terhadap vaksin polio.Namun demikian, komunitas ilmiah umumnya beropini bahwa skenario tersebut tidak didukung oleh bukti-bukti yang ada.
 
 Sosial dan budaya
 
 
Pita Merah terlipat yakni simbol solidaritas orang Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS)
Ryan White sebagai model poster HIV. Ia dikeluarkan dari sekolah dengan alasan terinfeksi HIV.
 
 Stigma
 
 Hukuman sosial atau stigma oleh masyarakat di banyak sekali potongan dunia terhadap pengidap AIDS terdapat dalam banyak sekali cara, antara lain tindakan-tindakan pengasingan, penolakan, diskriminasi, dan penghindaran atas orang yang diduga terinfeksi HIV; diwajibkannya uji coba HIV tanpa menerima persetujuan terlebih dahulu atau proteksi kerahasiaannya; dan penerapan karantina terhadap orang-orang yang terinfeksi HIV.Kekerasan atau ketakutan atas kekerasan, telah mencegah banyak orang untuk melaksanakan tes HIV, menilik bagaimana hasil tes mereka, atau berusaha untuk memperoleh perawatan; sehingga mungkin mengubah suatu sakit kronis yang sanggup dikendalikan menjadi "hukuman mati" dan menjadikan meluasnya penyebaran HIV.
Stigma AIDS lebih jauh sanggup dibagi menjadi tiga kategori:
  • Stigma instrumental AIDS - yaitu refleksi ketakutan dan keprihatinan atas hal-hal yang bekerjasama dengan penyakit mematikan dan menular.
  • Stigma simbolis AIDS - yaitu penggunaan HIV/AIDS untuk mengekspresikan perilaku terhadap kelompok sosial atau gaya hidup tertentu yang dianggap bekerjasama dengan penyakit tersebut.
  • Stigma kesopanan AIDS - yaitu eksekusi sosial atas orang yang bekerjasama dengan info HIV/AIDS atau orang yang positif HIV.
Stigma AIDS sering diekspresikan dalam satu atau lebih stigma, terutama yang bekerjasama dengan homosecualitas, bisecualitas, pelacuran, dan penggunaan narkoba melalui suntikan.
Di banyak negara maju, terdapat penghubungan antara AIDS dengan homosecualitas atau bisecualitas, yang berkorelasi dengan tingkat prasangka secual yang lebih tinggi, contohnya sikap-sikap anti homosecual. Demikian pula terdapat anggapan adanya hubungan antara AIDS dengan hubungan secual antar laki-laki, termasuk bila hubungan terjadi antara pasangan yang belum terinfeksi.
 

Dampak ekonomi

 
Pita Merah terlipat yakni simbol solidaritas orang Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS)
Perubahan angka impian hidup di beberapa negara di Afrika.                      Botswana                     Zimbabwe                     Kenya                     Afrika Selatan                     Uganda
 
 Dampak ekonomi
 
 HIV dan AIDS memperlambat pertumbuhan ekonomi dengan menghancurkan jumlah insan dengan kemampuan produksi (human capital). Tanpa nutrisi yang baik, kemudahan kesehatan dan obat yang ada di negara-negara berkembang, orang di negara-negara tersebut menjadi korban AIDS. Mereka tidak hanya tidak sanggup bekerja, tetapi juga akan membutuhkan kemudahan kesehatan yang memadai. Ramalan bahwa hal ini akan mengakibatkan runtuhnya ekonomi dan hubungan di daerah. Di tempat yang terinfeksi berat, epidemik telah meninggalkan banyak anak yatim piatu yang dirawat oleh kakek dan neneknya yang telah tua.
Semakin tingginya tingkat maut (mortalitas) di suatu tempat akan mengakibatkan mengecilnya populasi pekerja dan mereka yang berketerampilan. Para pekerja yang lebih sedikit ini akan didominasi anak muda, dengan pengetahuan dan pengalaman kerja yang lebih sedikit sehingga produktivitas akan berkurang. Meningkatnya cuti pekerja untuk melihat anggota keluarga yang sakit atau cuti lantaran sakit juga akan mengurangi produktivitas. Mortalitas yang meningkat juga akan melemahkan prosedur produksi dan investasi sumberdaya insan (human capital) pada masyarakat, yaitu akhir hilangnya pendapatan dan meninggalnya para orang tua. Karena AIDS mengakibatkan meninggalnya banyak orang remaja muda, ia melemahkan populasi pembayar pajak, mengurangi dana publik menyerupai pendidikan dan kemudahan kesehatan lain yang tidak bekerjasama dengan AIDS. Ini memperlihatkan tekanan pada keuangan negara dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Efek melambatnya pertumbuhan jumlah wajib pajak akan semakin terasakan bila terjadi peningkatan pengeluaran untuk penanganan orang sakit, training (untuk menggantikan pekerja yang sakit), penggantian biaya sakit, serta perawatan yatim piatu korban AIDS. Hal ini terutama mungkin sekali terjadi jikalau peningkatan tajam mortalitas orang remaja mengakibatkan berpindahnya tanggung-jawab dan penyalahan, dari keluarga kepada pemerintah, untuk menangani para anak yatim piatu tersebut.
Pada tingkat rumah tangga, AIDS mengakibatkan hilangnya pendapatan dan meningkatkan pengeluaran kesehatan oleh suatu rumah tangga. Berkurangnya pendapatan mengakibatkan berkurangnya pengeluaran, dan terdapat juga imbas pengalihan dari pengeluaran pendidikan menuju pengeluaran kesehatan dan penguburan. Penelitian di Pantai Gading memperlihatkan bahwa rumah tanggal dengan pasien HIV/AIDS mengeluarkan biaya dua kali lebih banyak untuk perawatan medis daripada untuk pengeluaran rumah tangga lainnya.
 
 Penyangkalan atas AIDS
 
 Sekelompok kecil aktivis, diantaranya termasuk beberapa ilmuwan yang tidak meneliti AIDS, mempertanyakan wacana adanya hubungan antara HIV dan AIDS, keberadaan HIV itu sendiri, serta kebenaran atas percobaan dan metode perawatan yang dipakai untuk menanganinya. Klaim mereka telah diperiksa dan secara luas ditolak oleh komunitas ilmiah,walaupun terus saja disebarkan melalui Internet dan sempat mempunyai imbas politik di Afrika Selatan melalui mantan presiden Thabo Mbeki, yang mengakibatkan pemerintahnya disalahkan atas respon yang tidak efektif terhadap epidemik AIDS di negara tersebut.
 
 *sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/AIDS* 

Sumber http://materiilmupelajaran.blogspot.com