Tampilkan postingan dengan label Kebidanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebidanan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Desember 2017

Asuhan Kebidanan Dengan Ikterus

Ikterus
Definisi
Ikterus yaitu salah satu keadaan ibarat penyakit hati yang terdapat pada bayi gres lahir akhir terjadinya hiperbilirubinemia. Ikterus merupakan salah satu kegawatan yang sering terjadai pada bayi gres lahir, sebanyak 25-50% ada bayi cukup bulan dan 80% pada bayi berat lahir rendah.


Pembagian
1.      Fisiologis
Ikterus fisiologis yaitu ikteru normal yang dialami oleh bayi gres lahir, tidak mempunyai dasar patologis sehingga tidak berpotensi menjadi kern ikterus. Ikterus fisiologis ini mempunyai tanda-tanda berikut:
a.       Timbul pada hari kedua dan ketiga setelah bayi lahir.
b.      Kadar bilirubin inderect tidak lebih dari 10 mg% pada neonats cukup bulan dan 12,5 mg% pada neonatus kurang bulan.
c.       Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak lebih dari 5 mg% per hari.
d.      Kadar bilirubin direct tidak lebih dari 1 mg%
e.       Ikterus mengilang pada 10 hari pertama
f.        Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan kedaan patologis

2.      Patologis
Ikterus patologis yaitu ikterus yang mempunyai dasar patologis dengan kadar bilirubin mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubinemia. Ikterus patologis mempunyai tanda dan tanda-tanda sebagai berikut:
a.       Ikterus terjadi dalam 24 jam pertam a
b.      Kadar bilirubin melebihi 10 mg% pada neonatus cukup bulan atau melebihi 12,5 mg% pad aneonatus cukup bulan.
c.       Peningkatan bilirubin melebihi 5 mg% per hari.
d.      Ikterus menetap setelah 2 ahad pertama
e.       Kadar bilirubin direct lebihd ari 1 mg%
f.        Mempunyai hubungan dengan proses hemolitik

Daerah
Luas Ikterus
Kadar Bilirubin (mg%)
1
Kepala dan leher
5
2
Daerah 1 + tubuh serpihan atas
9
3
Daerah 1,2 + tubuh serpihan bawah dan tungkai
11
4
Daerah 1, 2, 3 + lengan dan kaki d bawha tungkai
12
5
Daerah 1, 2, 3, 4 + tangan dan kaki
16

Etiologi
Ada beberapa faktor yang sanggup mengakibatkan terjadinya ikterus, yaitu sebagai berikut:
1.      Prahepatik (ikterus hemolitik)
Ikterus ini disebabkan lantaran produksi bilirubin yang meningkat pada proses hemolisis sel darah merah (ikterus hemolitik). Peningkatan bilirubin sanggup disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu infeksi, kelainan sel darah merah, dan toksin dari luar tubuh, serta dari tubuh itu sendiri.
2.      Pascahepatik (obstruktif)
Adanya obstruksi pada akses empedu yang mengakibatkan bilirubin konjungasi akan kembali lagi ke dalam sel hati dan masuk ke dalam pedoman darah, kemudian sebagian masuk dalam ginjal dan diekskresikan dalam urine. Sementara itu, sebagian lagi tertimbun dalam tubuh sehingga kulit dan sklera berwarna kuning kehijauan serta gatal. Sebagai akhir dari obstruksi akses empedu mengakibatkan ekresi bilirubin ke dalam akses pencernaan berkurang, sehingga fases akan berwarna putih keabu-abuan, liat, dan mirip dempul.
3.      Hepatoseluler (ikterus hepatik)
Konjugasi bilirubin terjadi pada sel ahti, apabila sel hati mengalami kerusakan maka secara otomatis akan mengganggu proses konjugasi bilirubin sehingga bilirubin direct meningkat dalam pedoman darha. Bilirubin direct gampang dieksresikan oleh ginjal lantaran sifatnya gampang larut dalam air, namun sebagian masih tertimbun dalam pedoman darah.

Gambaran Klinis
Gambaran klinis paling konkret terlihat ada pada perubaan warna kulit dan sklera yang menjadi kuning.

Penatalaksanaan
1.      Ikterus fisiologis
a.       Lakukan perawatan mirip bayi gres lahir normal lainnya
b.      Lakukan perawtan bayi sehari-hari, seperti:
-         Memandikan
-         Melakukan perawatan tali sentra
-         Membersihkan jalan nafas
-         Menjemur bayi di bawah sinar matahari pagi, kurang lebih 30 menit
c.        Ajarkan ibu cara:
-         Memandikan bayi
-         Melakukan perawtan tali sentra
-         Menjaga gar bayi tidak hipotermi
-         Menjemur bayi di bawah sinar mathaari pagi, kurang lebih 30 menit.
d.      Jelaskan pentingnya hal-hal seperti:
-         Memberikan ASI sedini dan sesering mungkin
-         Menjemur bayi di bawah sinar matahari dengan kondisi telanjang selama 30 menit, 15 menit dalam posisi terlentang, dan 15 menit sisanya dalam posisi tengkurap
-         Memberikan asupan masakan bergizi tinggi bagi ibu,
-         Menganjurkan ibu dan pasangan untuk ber-KB sesegera mungkin
-         Menganjurkan ibu untuk tidak minum jamu
e.       Apabila ada tanda ikterus yang lebih parah (misalnya fases berwarna putih keabu-abuan dan liat mirip dempul), anjurkan ibu untuk segera membawa bayinya ke puskesmas
f.        Anjurkan ibu untuk kontrol setelah 2 hari
2.      Hiperbilirubinemia sedang
a.       Berikan ASI secara adekuat
b.      Lakukan pencegahan hipotermi
c.       Letakkan bayi di tempat yang cukup sinar matahari ± 30 menit, selama 3-4 hari
d.      Lakukan investigasi ulang 2 hari kemudian
e.       Anjurkan ibu dan keluarga untuk segera merujuk bayinya kalau keadaan bayi bertambah parah serta mengeluarkan fases bewarna putih keabu-abuan dan liat mirip dempul
3.      Hiperbilirubenemia berat
a.       Berikan informer consent pada keluarga untuk segera merujuk bayinya
b.      Selama persiapan merujuk, berikan ASI secara adekuat
c.       Lakukan pencegahan hipotermi
d.      Bila mungkin, ambil referensi darah ibu sebanyak 2,5 ml.
Tabel 6.2
Penatalaksanaan Hiperbilirubinemia pada Neonatus Cukup Bulan yang Sehat
(American Academy of Pediatrics)
Total Serum Bilirubin mg/dL (mmol/L)
Umur (jam)
Pertimbangkan terapi sinar
Terapi sinar
Transfusi tukar (terapi sinar gagal)
Transfusi tukar dan terapi sinar
< 24
*
*
*
*
24 < 48
³ 12 (170)
³ 15 (260)
³ 20 (340)
³ 25 (430)
49 < 72
³ 15 (260)
³ 18 (310)
³ 25 (430)
³ 30 (510)
< 72
³ 17 (290)
³ 20 (340)
³ 25 (430)
³ 30 (510)
* Neonatus cukup bulan dengan ikterus pada umur ≤ 24 jam, bukan neonatus sehat dan perlu penilaian ketat.
Komplikasi
Kern ikterus (ensefalopati biliaris0 yaitu suatu kerusakan otak akhir adanya bilirubin inderect pada otak. Kern ikterus ditandai dengan kadar bilirubin darah yang tinggi (> 20 mg% pada bayi cukup bulan atau > 18 mg% pada ybayi berat lahir rendah) disertai dengan tanda-tanda kerusakan otak berupa mata berputar, letargi, kejang, tau mau menghisap, tonus otot meningkat, leher kaku, epistotonus, dan sianosis, serta sanggup juga diikuti dengan ketulian, gangguan berbicara dan retardasi mental di kemudian hari.
Penilaian
Kadar bilirubin darah sanggup diukur dengan ikterometer dan metode Kramer (klinis)
Terapi sinar
Terapi sinar (light therapy) bertujuan untuk memecah bilirubin menjadi senyawa dipirol yang nontoksik dan dikeluarkan melalui urine dan fases. Indikasinya yaitu kadar bilirubin darah ³ 10 mg% dan setelah atau sebelum dilakukannya transfusi tukar.
1.      Alat-alat yang diharapkan yaitu sebagai berikut:
a.       Lampu fluoresnsi 10 buah masing-masing 20 watt dengan gelombang sinar 425-275 nm, mirip pada sinar cool white, daylight, vita kite blue dan special bule.
b.      Jarak sumber cahaya bayi ³ 45 cm, diantaranya diberi beling pleksi setebal 0,5 inci untuk menahan sinar ultrafviolet.
c.       Lampu diganti setiap 200 – 400 jam.
2.      Cara terapi
a.       Bayi telanjang, kedua mata ditutup, sedangkan posisinya diubah-ubah setiap 6 jam
b.      Suhu tubuh bayi dipertahankan sekitar 36,5 – 370 C
c.       Perhatikan keseimbangan elektrolit
d.      Pemeriksaan Hb teratur setiap hari
e.       Pemeriksaan bilirubin darah setiap hari atau dua hari, setelah terapi sebanyak 3 kali dalam sehari
f.        Mungkin timbul skin rash yang sifatnya sementara dan tak berbahaya (bronze baby)
g.       Lama terapi 100 jam atau bila kadar bilirubin darah sudah mencapai ≤ 7,5 mg%.
Transfusi Tukar
1.      Indikasi
a.       Kadar bilirubin inderect darah ³ 20 mg%
b.      Kenaikan kadar bilirubin inderect darah yang cepat, sebesar 0,3-1 mg% per jam
c.       Anemia berat disertai tanda payah jantung
d.      Bayi dengan Hb tali sentra < 14 mg% dan tes Coombs positif
2.      Alat-alat yang diharapkan yaitu sebagai berikut:
a.       Semprit tiga cabang
b.      Dua bauah semprit berukuran 5 atau 10 ml yang berisi Ca-glukonat 10% dan larutan heparin encer (2 ml masing-masing 1000 U dalam 250 ml NaCL 0,9%)
c.       Kateter polietilen kecil 15-20 cm atau pipa lambung berukuran F5-F8
d.      Bengkok dan botol kosong
e.       Alat pembuka vena (vena seci)
f.        Alat resusitasi, mirip oksigen, laringoskop, ventilator, dan airway
3.      Teknik
a.       Kosongkan lambung bayi (3-4 jam ebelumnya jangan diberi minum, bila memungkinkan 4 jam ebelumnya diberi infus albumnin 1 gram/kgBB atau plasma insan 210 ml/kgBB)
b.      Lakukan teknik aseptik pada kawasan tindakan
c.       Awasi selalu tanda=-tanda vital dan jaga biar jangan hingga kedinginan
d.      Bila tali sentra masih segar, potong ± 3-5 cm dari dinding perut, Bila ali sentra sudah kering, potong rata dengan dinding perut untuk mencegah ancaman perdarahan tali sentra , kemudian buat jahitan laso di pangkal pusat.
e.       Kateter polietilen diisi denganlarutan heparin kemudian salah satu ujungnya dihubungkan dengan semprit tiga cabang, sedangkan ujung yang lain dimasukkan dalam vena umbilikus sedalam 4-5 cm.
f.        Periksa tekanan pada vena umbilikalis dengan mencabut ujung luar dan mngangkat kateter naik + 6 cm.
g.       Dengan mengubah-ubah keran pada semprit tiga cabang, lakukan penukaran dengan cara mengeluarkan 20 ml darah dan memasukkan 20 ml darah. Demikian berulang-ulang hingga jumalh total yang keluar yaitu 190 ml/kbBB dan darah yang masuk yaitu 170 ml/kgBB. Selama proses pertukaran, semprit harus sering dibilas dengan heparin.
h.       Setelah darah masuk sektiar 150 ml, lanjutkan dengan memasukkan Caglukonat 10% sebanyak 1,5 ml dan perhatian denyut jantung bayi. Apabila lebihd ari 100 kali per menit waspadai adanya henti jantung
i.         Bila vena umbilikalis tak sanggup dipakai, maka gunakan vena safena magna ± 1 cm di bawah ligamentum inguinal dan medical dari arteri femoralis
4.      Pascatindakan
a.       Vena umbilikalis dikompres, kateter sanggup ditingkalkan kemudian ditutup secara steril
b.      Berikan antibotik spektrum luas, contohnya kombinasi p3enisilin 50.000 U/kgBB per hari dengan Kanamcin 15 mg/kgBB selama 5-7 hari.
c.       Pemeriksaan Hb dan bilirubin darah dilakukan setiap 12 jam
d.      Berikan terapi sinar.
Dapus:
Vivian Nanny Lia Dewi, Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita, Salemba Medika, Jakarta, 2011
giletules.blogspot.com




Sumber http://datafilecom.blogspot.com

Fisiologi Ikterik


IKTERIK


1.      Definisi
lkterus terjadi apabila terdapat bilirubin dalam darah. Pada sebagian besar neonatus, ikterus akan ditemukan dalam ahad pertama kehidupannya. Dikemukakan bahwa insiden ikterus terdapat pada 60% bayi cukup bulan dan pada bayi 80% bayi kurang bulan. Di Jakarta dilaporkan 32,19 % menderita ikterus. Ikterus ini pada sebagian lagi bersifat patologik yang sanggup menjadikan gangguan yang menetap atau menimbulkan kematian. Setiap bayi dengan ikterus yang ditemukan dalam 24 jam pertama kehidupan bayi atau bila kadar bilirubuin meningkat lebih dari 5 mg/dl dalam 24 jam. Kemung­kinan mengalami ikterus fathologis, dan bila kadar biliru­bin > 5mg/dl, ikterus akan terlihat dengan kasat mata.

Proses hemolisis darah, abuh berat ikterus yang ber­langsung lebih dari 1 mg/dl juga merupakan keadaan kemungkinan adanya ikterus patologi. Dalam keadaan tersebut penatalaksanaan ikterus dilakukan sebaik-baik­nya semoga akhir jelek ikterus sanggup dihindarkan.

2.      Macam-Macam Ikterus
  1. Ikterus Neonatorum: Yaitu disklorisasi pada kulit atau organ lain sebab penumpukan bilirubin
  2. Ikterus fisiologis Yaitu ikterus yang timbul pada hari kedua dan ketiga yang tidak memiliki dasar pato­logis, kadarnya tidak melewati kadar yang membaha­yakan atau memiliki potensi menjadi "kernikterus" dan tidak menimbulkan suatu morbiditas pada bayi.
  3. Ikterus patologis, Yaitu ikterus yang memiliki dasar patologis atau kadar bilirubinnya mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubinemia.
  4. Kernicterus, Suatu sindroma neurologik yang timbul sebagai akhir penimbunan bilirubin tak terkonjugasi dalam se1-sel otak.
3.      Diagnosis
Ikterus timbul dalam 24 jam pertama kehidupan; Biliru­bin serum meningkat dengan kecepatan lebih besar dari 5 mg/dl/24 jam; Kadar bilirubin serum lebih besar dari 12 mg/dl pada bayi aterm dan lebih besar dari 14 mg/dl pada bayi preterm; Ikterus persisten hingga melewati ahad pertama kehidupan, atau; Bilirubin direk lebih besar dari 1 mg/dl. Kemungkinan patologis perlu dicari penyebabnya, untuk membedakan diagnosis ikterus ter­gantung dari timbulnya kapan.
  1. Ikterus yang timbul pada 24 jam pertama:
Penyebab ikterus yang terjadi pada 24 jam pertama berdasarkan besarnya kemungkinan sanggup disusun seba­gai berikut: Inkompatibilitas darah Rh, ABO atau golongan lain; Infeksi intrauterin (oleh virus, tokso­plasma, lues dan kadang kala bakteri); Kadang­kadang oleh defisiensi G-6-PD. Pemeriksaan yang perlu dilakukan: Kadar bilirubin serum berkala; Darah tepi lengkap; Golongan darah ibu dan bayi; Uji coombs; Pemeriksaan penyaring defisiensi enzim G-6-PD, biakan darah atau biopsi hepar bila perlu.
  1. Ikterus yang timbul 24-72 jam sehabis lahir
lkterus timbul biasanya ikterus fisiologis; Masih ada kemungkinan inkompatibilitas darah ABO atau Rh atau golongan lain. Hal ini sanggup diduga jikalau pe­ningkatan kadar bilirubin cepat, contohnya melebihi 5 mg%/24 jam; Defisiensi enzim G-6-PD juga mungkin Polisitemia; hemolisis perdarahan tertutup (perdara­han subaponeurosis, perdarahan hepar subkapsuler dan lain-lain); Hipoksia; Sferositosis, eliptositosis dan lain-lain; Dehidrasi asidosis; Defisiensi enzim eritrosit lainnya.
Pemeriksaan yang perlu dilakukan: Bila keadaan bayi baik dan peningkatan ikterus tidak cepat, sanggup dilakukan investigasi kawasan tepi, investigasi kadar bilirubin berkala, investigasi penyaring enzim G-6-PD dan investigasi lainnya bila perlu_
  1. Ikterus yang timbul sehabis 72 jam pertama hingga selesai ahad pertama
lkterus ini timbul biasanya sebab abuh (sepsis); Dehidrasi asidosis; Difisiensi enzim G-6-PD; Pengaruh obat; Sindrom Criggler-Najjar; Sindrom Gilbert.
  1. Ikterus yang timbul pada selesai ahad per­tama dan selanjutnya
Ikterus ini timbul sebab obstruksi, Hipotiroidisme, "breast milk jaundice", Infeksi, Neonatal hepatitis, Galaktosemia, Lain-lain.
Pemeriksaan yang perlu dilakukan: Pemeriksaan bili­rubin (direk dan indirek) berkala, Pemeriksaan darah tepi, Pemeriksaan penyaring G-6-PD, Biakan darah, biopsi hepar bila ada indikasi, Pemeriksaan lainnya yang berkaitan dengan kemungkinan penyebab, sanggup diambil kesimpulan bahwa ikterus gres sanggup dikatakan fisiologis sehabis observasi dan pernerik­saan selanjutnya tidak mengatakan dasar patologis dan tidak memiliki potensi bermetamorfosis 'kernicterus'.
4.      Pencegahan
Kejadian Ikterus pada bayi gres lahir, sanggup dicegah dan dilarang peningkatannya dengan pengawasan antenatal yang baik; Menghindari obat yang sanggup me­ningkatkan ikterus pada bayi pada masa kehamilan dan kelahiran, contohnya sulfafurazole, novobiosin, oksitosin dan lain-lain; Pencegahan dan mengobati hipoksia pada janin dan neonatus; Penggunaan fenobarbital pada ibu 1-2 hari sebelum partus; Iluminasi yang baik pada bang­sal bayi gres lahir; Pemberian ASI secara dini; Pencega­han infeksi.
By: Admi Data File Com


Sumber http://datafilecom.blogspot.com

Selasa, 26 Desember 2017

Langkah-Langkah Dalam Perawatan Kehamilan / Anc

Langkah-langkah dalam perawtan kehamilan / ANC
a.       Timbang berat tubuh dan tinggi tubuh
Tinggi tubuh diperiksa sekali pada dikala ibu hamil tiba pertama kali kunjungan, dilakukan utnuk mendeteksi tinggi tubuh ibu yagn mempunyai kegunaan untuk mengkategorikan adanya resiko apabila hasil pengukuran  < 145 cm (Rochayati, 2000). Berat tubuh diukur setiap ibu tiba atau berkunjung untuk mengetahui kenaikan BB atau penurunan BB. Kenaikan BB ibu hamil normal rata-rata antara 6,5 kg hingga 16 kg (wiknojosastro, 2000).

b.      Tekanan darah
Diukur dan diperiksa setiap kali ibu tiba atau berkunjung. Pemeriksaan tekanan darah sangat penting untuk mengetaui standar normal, tinggi atau rndah. Deteksi tekanan darah yang cenderung naik diwaspadai adanya tanda-tanda ke arah hipertensi dan preeklamsi. Apabial turun dibawah normal kita pikirkan ke arah anemia. Tekanan darah normal berkisar systole/diastole: 110/80-120/80 mmHg (winkjosastro, 2000)
c.       Pengukuran tinggi fundus uteri
Pengukuran tinggi fundus uteri dengan memakai pita sentimeter, letakkan titik nol pada tepi atas sympisis dan rentangkan hingga fundus uteri (fundus dilarang ditekan).
No
Tinggi Fundus Uteri
(cm)
Umur Kehamilan Dalam Minggu
1
12 cm
12
2
16 cm
16
3
20 cm
20
4
24 cm
24
5
28 cm
28
6
32 cm
32
7
36 cm
36
8
40 cm
40

d.      Pemberian tablet tambah darah (Tablet Fe)
Tablet ini mengandung 200 mg Sulfat Ferosus 0,25 mg asam folat yang diikat dengan laktosa. Tujuan sumbangan tablet Fe yaitu untuk memenuhi kebutuhan Fe pada ibu hamnil dan nifas, lantaran pada masa kehamilan kebutuhannya meningkat seiring dengan pertumbuhan janin (Dep. Kes RI, 1997). Zat besi ini penting untuk mengkompensasi peningkatan volume darah yagn terjadia selama kehamilan dan untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangan janin yagn adekuat (pusdiknakes, 2003) cara sumbangan yaitu satu tablet Fe per hari, sehabis makan, selama masa kehamilan dan nifas.
Perlu diberitahukan kepada ibu kepada ibu bahwa normal jikalau warna tinja mungkin menjadi hitam setelah makan obat ini (Dep. Kes RI, 1997). Dosis tersebut tidak mencukupi pada ibu hamil yang mengalami anemia, terutamapada anemia berat (8 gr% atau kurang). Dosis yang dibutuhkan yaitu sebanyak 1-2 x 100 mg/hari selama 2 bulan hingga dengan melahirkan.
e.       ­Pemberian inunisasi TT
Tujuan sumbangan TT yaitu untuk melindungi janin dari tetanus neonatorum. Efek samping vaksin TT yaitu nyeri, kemerah-merahan dan abses untuk 1-2 hari pada tempat penyuntikan. Ini akan sembuh dan tidak perlu pengobatan.

Imunisasi
Interval
% perlindungan
Masa Perlindungan
TT 1
Pada kunjungan ANC pertama
0%
Tidak ada
TT 2
4 ahad setelah TT 1
80%
3 tahun
TT 3
6 bulan setelah TT 2
95%
5 tahun
TT 4
1 tahun setelah TT 3
99%
10 tahun
TT 5
1 tahun setelah TT 4
99%
25 tahun/seumur hidup
f.        Pemeriksaan Hb
Jenis investigasi Hb yang sederhana yakni dengan car aTalquis dan dengan cara sahli. Pemeriksaan Hb dilakukan pada kunjungan ibu hamil yagn pertama kali, kemudian periksa lagi menjelang persalinan. Pemeriksaan Hb yaitu salah satu uapaya untuk mendeteksi anemia pada ibu hamil.
g.       Pemeriksaan protein urine
Pemeriksaan ini mempunyai kegunaan untuk mengetahui adanya protein dalam urin ibu hamil. Adapun pemeriksaannya dengan asam asetat 2-3 % ditujukan pada ibu hamil dengan riwayat tekanan darah tinggi, kaki oedema. Pemeriksaan rutin urin protein ini umumnya mendeteksi ibnu hamil ke arah preeklamsia.
h.       Pengambilan darah untuk investigasi VDRL
Pemeriksaan Veneral Dease Research Laboratory (VDRL) yaitu untuk mengetahui adanya treponema pallidum/penyakit menular secual, atnara lain syphilis. Pemeriksaan kepada ibu hamil yagn pertama kali tiba diambil spesimen darah vena ± 2 cc. Apabila hasil tes dinyatakan positif, ibu hamil dilakukan pengobatan.rujukan. akhir fatal yagn terjadi yaitu janjkematian janin pada kehamilan < 16 minggu, pada kehamilan lanjut sanggup menimbulkan kelahiran premature, cacat bawaan (saefudin, 2000).
i.         Pemeriksaan urine reduksi
Dilakukan investigasi urine reduksi hanya kepada ibu dengan indikasi penyakit gula/DM atau riwayat penyakit gula pada keluarga ibu dan suami. Bila hasil investigasi urine reduksi positif (+) perlu diikuti investigasi gula darah untuk memastikan adanya Diabetes Mellitus Gestasional (DMG). Diabetes Mellitus Gestasional apda ibu sanggup menjadikan adanya penyakti berupa pre eklamsia, polihidramnion, bayi besar (Saefudin, 2000).
j.        Perawatan Payudara
Meliputi senam payudara, perawatan payudara, pijat tekan payudara yagn ditujukan kepada ibu hamil. Manfaat perawatan payudara adalah:
1)      Menjaga kebersihan payudara, terutama putting susu
2)      Mengencenangkan serta memperbaiki bentuk putting susu (pada putting susu yang terbenam)
3)      Merangsang kelenjcar-kelenjar susu sehingga produksi ASI lancar
4)      Mempersiapkan ibu dalam laktasi
Perawatan Payudara dilakukan 2 kali sehari sebelum mandi dan dimulai pada kehamilan 6 bulan.
k.      Senam ibu hamil
Senam ibu hamil bermnanfaat untuk membantu ibu hamil dalam mempersiapkan persalinan dan mempercepat pemulihan setelah melaksanakan serta mencegah sembelit. Adapun tujuan senam hamil yaitu memperkuat dan mempertahankan elastisitas otot-otot dinding perut, ligamentum, otot dasar panggul memperoleh relaksasi tubuh dengan latihan-latihan kontraksi dan relaksasi. Menguasai teknik pernafasan yagn berperan pada 22 minggu, dilakukan secara teratur, sesuai kemampuan fisik panggul, gerakan kepada dan gerakan pundak (memperkuat otot perut), gerakan jongkok atau bangkit (memperkuat otot v@gin@, perincum dan memperlancar persalinan) (Arifin, 1996).
l.         Pemberian obat malaria
Malaria yaitu suatu penyakit menular yang disebabkan oleh satu dari beberapa jenis plasmodium dan ditularkan oleh ggitan nyamuk anopheles yang terinfeksi. Di Indonesia terdapat 3 jenis yang biasanya yaitu plasmodium vivax, plasmodiumn falciparum, dan plasmodium malaria. Pemeberian obat malaria kepada ibu hamil pendatang gres berasal dari tempat malaria, juga kepada ibu hamil dengan tanda-tanda khas malaria yakni panas tinggi disertai menggigil dan hasil apusan darah yagn positif. Dampak atau akhir penyakit tersebut kepada ibu hamil yakni kehamilan muda sanggup terjadi abortus, partus prematurus juga anemia (Arifin, 1996).
m.     Pemberian kapsul minyak beryodium
Diberikan pada kaus gangguan akhir kekurangan yodium di tempat endemis. Gangguan kibat kekurangan yodium (GAKI) yaitu rangkaian imbas kekurangan yodium pada tumbuh kembang manusia. Kekurangan unsur yodium dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan dimana tanah dan air tidak menjadikan gondok dan kretin yang ditandai dengan:
1)      Gangguan fungsi mental
2)      Gangguan fungsi indera pendengaran
3)      Gangguan pertumbuhan
4)      Gangguan kadar hormon yang rendah
n.       Temu wicara/konseling
1)      Definisi konseling
Konseling yaitu suatu bentuk wawancara (tatap muka) untuk menolong orang lain memperoleh pengertian yang lebih baik mengenai dirinya dalam usahanya untuk memahami dan mengatasi permasalahan yagn sedang dihadapinya. (Dep. Kes 1993)
2)      Prinsip-prinsip konseling
Ada 5 prinsip pendekatna kemanusiaan, yaitu:
a)      Keterbukaan
b)      Empati
c)      Dukungan
d)      Sikap dan respon positif
e)      Setingkat atau sama sederajat
3)      Tujuan konseling pada ante natal care
a)      Membantu ibu hamil memahami kehamilannya dan sebagai upaya preventif terhadap hal-hal yang tidak diinginkan
b)      Membantu ibu hamil untuk menemukan kebutuhan asuhan kehamilan, penolong persalinan yang higienis dan kondusif atau tindakan klinik yang mungkin diperlukan.




Sumber http://datafilecom.blogspot.com