Belakangan ini Penelitian Tindakan Kelas (PTK) semakin menjadi musim untuk dilakukan oleh para profesional sebagai upaya pemecahan problem dan peningkatan mutu di aneka macam bidang. Awal mulanya, PTK, ditujukan untuk mencari solusi terhadap problem sosial (pengangguran, kenakalan remaja, dan lain-lain) yang berkembang di masyarakat pada ketika itu.
Pengertian Penelitian Tindakan Kelas
PTK dilakukan dengan diawali oleh suatu kajian terhadap problem tersebut secara sistematis. Hal kajian ini kemudian dijadikan dasar untuk mengatasi problem tersebut. Dalam proses pelaksanaan rencana yang telah disusun, kemudian dilakukan suatu observasi dan penilaian yang digunakan sebagai masukan untuk melaksanakan refleksi atas apa yang terjadi pada tahap pelaksanaan.
Hasil dari proses refeksi ini kemudian melandasi upaya perbaikan dan peryempurnaan rencana tindakan berikutnya. Tahapan-tahapan di atas dilakukan berulang-ulang dan berkesinambungan hingga suatu kualitas keberhasilan tertentu sanggup tercapai.
Dalam bidang pendidikan, khususnya acara pembelajaran, PTK berkembang sebagai suatu penelitian terapan. PTK sangat bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran di kelas. Dengan melaksanakan tahap-tahap PTK, guru sanggup menemukan solusi dari problem yang timbul di kelasnya sendiri, bukan kelas orang lain, dengan menerapkan aneka macam ragam teori dan teknik pembelajaran yang relevan secara kreatif.
Selain itu sebagai penelitian terapan, disamping guru melaksanakan kiprah utamanya mengajar di kelas, tidak perlu harus meninggalkan siswanya. Kaprikornus PTK merupakan suatu penelitian yang mengangkat masalah-masalah konkret yang dihadapi oleh guru di lapangan. Dengan melaksanakan PTK, guru mempunyai kiprah ganda : praktisi dan peneliti.
Classroom action research (CAR) yaitu action research yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Action research pada hakikatnya merupakan rangkaian “riset-tindakan-riset-tindakan- …”, yang dilakukan secara siklik, dalam rangka memecahkan masalah, hingga problem itu terpecahkan.
Ada beberapa jenis action research, dua di antaranya yaitu individual action research dan collaborative action research (CAR). Kaprikornus CAR bisa berarti dua hal, yaitu classroom action research dan collaborative action research; dua-duanya merujuk pada hal yang sama.
Action research termasuk penelitian kualitatif walaupun data yang dikumpulkan bisa saja bersifat kuantitatif. Action research berbeda dengan penelitian formal, yang bertujuan untuk menguji hipotesis dan membangun teori yang bersifat umum (general). Action research lebih bertujuan untuk memperbaiki kinerja, sifatnya kontekstual dan jadinya tidak untuk digeneralisasi. Namun demikian hasil action research sanggup saja diterapkan oleh orang lain yang mempunyai latar yang seolah-olah dengan yang dimliki peneliti.
Perbedaan antara penelitian formal dengan classroom action research disajikan dalam tabel berikut.
Mengapa Penelitian Tindakan Kelas Penting?
Ada beberapa alasan mengapa PTK merupakan suatu kebutuhan bagi guru untuk meningkatkan profesional seorang guru :
PTK sangat aman untuk menciptakan guru menjadi peka tanggap terhadap dinamika pembelajaran di kelasnya. Dia menjadi reflektif dan kritis terhadap apa yang ia dan muridnya lakukan
PTK sanggup meningkatkan kinerja guru sehingga menjadi profesional. Guru tidak lagi sebagai seorang praktis, yang sudah merasa puas terhadap apa yang dikerjakan selama bertahun-tahun tanpa ada upaya perbaikan dan inovasi, namun juga sebagai peneniliti di bidangnya.
Dengan melaksanakan tahapan-tahapan dalam PTK, guru bisa memperbaiki proses pembelajaran melalui suatu kajian yang dalam terhadap apa yang terhadap apa yang terjadi di kelasnya. Tindakan yang dilakukan guru semata-mata didasarkan pada problem konkret dan faktual yang berkembang di kelasnya.
Pelaksanaan PTK tidak menggangu kiprah pokok seorang guru alasannya yaitu ia tidak perlu meninggalkan kelasnya. PTK merupakan suatu acara penelitian yang terintegrasi dengan pelaksanaan proses pembelajaran.
Dengan melaksanakan PTK guru menjadi kreatif alasannya yaitu selalu dituntut untuk melaksanakan upaya-upaya penemuan sebagai implementasi dan pembiasaan aneka macam teori dan teknik pembelajaran serta materi bimbing yang dipakainya.
Penerapan PTK dalam pendidikan dan pembelajaran mempunyai tujuan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktek pembelajaran secara berkesinambungan sehingga meningkatan mutu hasil instruksional; membuatkan keterampilan guru; meningkatkan relevansi; meningkatkan efisiensi pengelolaan instruksional serta menumbuhkan budaya meneliti pada komunitas guru.
Contoh Proses Belajar Mengajar yang dianjurkan pada Kurikulum 2013, mungkin video berikut sanggup membantu;
Sebagai paradigma sebuah penelitian tersendiri, jenis PTK mempunyai karakteristik yang relatif agak berbeda kalau dibandingkan dengan jenis penelitian yang lain, contohnya penelitian naturalistik, eksperimen survei, analisis isi, dan sebagainya. Jika dikaitkan dengan jenis penelitian yang lain PTK sanggup dikategorikan sebagai jenis penelitian kualitatif dan eksperimen.
PTK dikatagorikan sebagai penelitian kualitatif alasannya ialah pada dikala data dianalisis dipakai pendekatan kualitatif, tanpa ada perhitungan statistik. Dikatakan sebagai penelitian eksperimen, alasannya ialah penelitian ini diawali dengan perencanaan, adanya perlakuan terhadap subjek penelitian, dan adanya penilaian terhadap hasil yang dicapai setelah adanya perlakuan.
Ditinjau dari karakteristiknya, PTK setidaknya mempunyai karakteristik antara lain: (1) didasarkan pada dilema yang dihadapi guru dalam instruksional; (2) adanya kerja sama dalam pelaksanaannya; (3) penelitian sekaligus sebagai praktisi yang melaksanakan refleksi; (4) bertujuan memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktek instruksional; (5) dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengan beberapa siklus.
Menurut Richart Winter ada enam karakteristik PTK, yaitu: (1) kritik reflektif, (2) kritik dialektis, (3) kolaboratif, (4) resiko, (5) susunan jamak, dan (6) internalisasi teori dan praktek (Winter, 1996).
Untuk lebih jelasnya, berikut ini dikemukakan secara singkat karakteristik PTK tersebut.
Kritik Refeksi; salah satu langkah di dalam penelitian kualitatif pada umumnya, dan khususnya PTK ialah adanya upaya refleksi terhadap hasil observasi mengenai latar dan acara suatu aksi. Hanya saja, di dalam PTK yang dimaksud dengan refleksi ialah suatu upaya penilaian atau penilaian, dan refleksi ini perlu adanya upaya kritik sehingga dimungkinkan pada taraf penilaian terhadap perubahan-perubahan.
Kritik Dialektis; dengan adanyan kritik dialektif diharapkan penelitian bersedia melaksanakan kritik terhadap fenomena yang ditelitinya. Selanjutnya peneliti akan bersedia melaksanakan investigasi terhadap: (a) konteks kekerabatan secara menyeluruh yang merupakan satu unit walaupun sanggup dipisahkan secara jelas, dan, (b) Struktur pertentangan internal, -maksudnya di balik unit yang jelas, yang memungkinkan adanya kecenderungan mengalami perubahan meskipun sesuatu yang berada di balik unit tersebut bersifat stabil.
Kolaboratif; di dalam PTK dibutuhkan hadirnya suatu kerja sama dengan pihak-pihak lain menyerupai atasan, sejawat atau kolega, mahasiswa, dan sebagainya. Kesemuanya itu diharapkan sanggup dijadikan sumber data atau data sumber. Mengapa demikian? Oleh alasannya ialah pada hakikatnya kedudukan peneliti dalam PTK merupakan bab dari situasi dan kondisi dari suatu latar yang ditelitinya. Peneliti tidak hanya sebagai pengamat, tetapi beliau juga terlibat pribadi dalam suatu proses situasi dan kondisi. Bentuk kerja sama atau kerja sama di antara para anggota situasi dan kondisi itulah yang mengakibatkan suatu proses sanggup berlangsung.Kolaborasi dalam kesempatan ini ialah berupa sudut pandang yang disampaikan oleh setiap kolaborator.
Selanjutnya, sudut pandang ini dianggap sebagai andil yang sangat penting dalam upaya pemahaman terhadap aneka macam permasalahan yang muncul. Untuk itu, peneliti akan bersikap bahwa tidak ada sudut pandang dari seseorang yang sanggup dipakai untuk memahami sesuatu dilema secara tuntas dan bisa dibandingkan dengan sudut pandang yang berasal; dari aneka macam pihak. Namun demikian memperoleh aneka macam pandangan dari pada kolaborator, peneliti tetap sebagai figur yang mempunyai ,kewenangan dan tanggung jawab untuk memilih apakah sudut pandang dari kolaborator dipergunakan atau tidak. Oleh karenanya, sdapat dikatakan bahwa fungsi kolaborator hanyalah sebagai pembantu di dalam PTK ini, bukan sebagai yang begitu memilih terhadap pelaksaanan dan berhasil tidaknya penelitian.
Resiko; dengan adanya ciri resiko diharapkan dan dituntut semoga peneliti berani mengambil resiko, terutama pada waktu proses penelitian berlangsung. Resiko yang mungkin ada diantaranya (a) melesetnya hipotesis dan (b) adanya tuntutan untuk melaksanakan suatu transformasi. Selanjutnya, melalui keterlibatan dalam proses penelitian, agresi peneliti kemungkinan akan mengalami perubahan pandangan alasannya ialah ia menyaksikan sendiri adanya diskusi atau pertentangan dari para kalaborator dan selanjutnya mengakibatkan pandangannya berubah.
Susunan Jamak; pada umumnya penelitian kuantitatif atau tradisional berstruktur tunggal alasannya ialah ditentukan oleh bunyi tunggal, penelitinya. Akan tetapi, PTK mempunyai struktur jamak alasannya ialah terperinci penelitian ini bersifat dialektis, reflektif, partisipasi atau kolaboratif. Susunan jamak ini berkaitan dengan pandangan bahwa fenomena yang diteliti harus meliputi semua komponen pokok supaya bersifat komprehensif. Suatu contoh, seandainya yang diteliti ialah situasi dan kondisi proses belajar-mengajar, situasinya harus meliputi paling tidak guru, siswa, tujuan pendidikan, tujuan pembelajaran, interaksi belajar-mengajar, lulusan atau hasil yang dicapai, dan sebagainya.
Internalisasi Teori dan Praktik; Menurut pandangan para hebat PTK bahwa antara teori dan praktik bukan merupakan dua dunia yang berlainan. Akan tetapi, keduanya merupakan dua tahap yang berbeda, yang saling bergantung, dan keduanya berfungsi untuk mendukung tranformasi. Pendapat ini berbeda dengan pandangan para hebat penelitian konvesional yang beranggapan bahwa teori dan praktik merupakan dua hal yang terpisah. Keberadaan teori diperuntukkan praktik, begitu pula sebaliknya sehingga keduanya sanggup dipakai dan dikembangkan bersama.
Berdasarkan uraian di atas, jelaslah bahwa bentuk PTK benar-benar berbeda dengan bentuk penelitian yang lain, baik itu penelitian yang memakai paradigma kualitatif maupun paradigma kualitatif. Oleh karenanya, keberadaan bentuk PTK tidak perlu lagi diragukan, terutama sebagai upaya memperkaya khasanah acara penelitian yang sanggup dipertanggungjawabkan taraf keilmiahannya.
Model - Model Action Research
Model Kurt Lewin menjadi teladan pokok atau dasar dari aneka macam model action research, terutama classroom action research. Dialah orang pertama yang memperkenalkan action research. Konsep pokok action research berdasarkan Kurt Lewin terdiri dari empat komponen, yaitu : (1) perencanaan (planning), (2) tindakan (acting), (3) pengamatan (observing), dan (4) refleksi (reflecting). Hubungan keempat komponen itu dipandang sebagai satu siklus.
Model Kemmis & Taggart merupakan pengembangan dari konsep dasar yang diperkenalkan Kurt lewin menyerupai yang diuraikan di atas, hanya saja komponen acting dan observing dijadikan satu kesatuan alasannya ialah keduanya merupakan tindakan yang tidak terpisahkan, terjadi dalam waktu yang sama.
Berikut ini merupakan hal-hal yang perlu dipertimbangkan pada ketika menentukan problem Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR).
1. Banyaknya Masalah yang Dihadapi Guru
Setiap hari guru mengahadapi banyak masalah, seolah-olah problem itu tidak ada putus-putusnya. Oleh alasannya itu guru yang tidak sanggup menemukan problem untuk CAR sungguh ironis. Merenunglah barang sejenak, atau ngobrollah dengan teman sejawat, Anda akan segera menemukan kembali seribu satu problem yang telah merepotkan Anda selama ini.
2. Tiga Kelompok Masalah Pembelajaran
Masalah pembelajaran sanggup digolongkan dalam tiga kategori, yaitu (a) pengorganisasian bahan pelajaran, (b) penyampaian bahan pelajaran, dan (c) pengelolaan kelas. Jika Anda berfikir bahwa pembahasan suatu topik dari segi sejarah dan geografi secara bahu-membahu akan lebih bermakna bagi siswa daripada pembahasan secara sendiri-sendiri, Anda sedang berhadapan dengan problem pengorganisasian materi. Jika Anda suka dengan problem metode dan media, bahwasanya Anda sedang berhadapan dengan problem penyampaian materi. Apabila Anda menginginkan kerja kelompok antar siswa berjalan dengan lebih efektif, Anda berhadapan dengan problem pengelolaan kelas. Jangan terikat pada satu kategori saja; kategori lain mungkin mempunyai problem yang lebih penting.
3. Masalah yang Berada di Bawah Kendali Guru
Jika Anda yakin bahwa ketiadaan buku yang mengakibatkan siswa sukar membaca kembali bahan pelajaran dan mengerjakan PR di rumah, Anda tidak perlu melaksanakan CAR untuk meningkatkan kebiasaan mencar ilmu siswa di rumah. Dengan dibelikan buku problem itu akan terpecahkan, dan itu di luar kemampuan Anda. Dengan perkataan lain yakinkan bahwa problem yang akan Anda pecahkan cukup layak (feasible), berada di dalam wilayah pembelajaran, yang Anda kuasai. Contoh lain problem yang berada di luar kemampuan Anda adalah: Kebisingan kelas alasannya sekolah berada di bersahabat jalan raya.
4. Masalah yang Terlalu Besar
Nilai UAN yang tetap rendah dari tahun ke tahun merupakan problem yang terlalu besar untuk dipercahkan melalui CAR, apalagi untuk CAR individual yang cakupannya hanya kelas. Faktor yang mensugesti Nilai UAN sangat kompleks meliputi seluruh sistem pendidikan. Pilihlah problem yang sekiranya bisa untuk Anda pecahkan.
5. Masalah yang Terlalu Kecil
Masalah yang terlalu kecil baik dari segi pengaruhnya terhadap pembelajaran secara keseluruhan maupun jumlah siswa yang terlibat sebaiknya dipertimbangkan kembali, terutama kalau penelitian itu didanai oleh pihak lain. Sangat lambatnya dua orang siswa dalam mengikuti pelajaran Anda misalnya, termasuk problem kecil alasannya hanya menyangkut dua orang siswa; sementara masih banyak problem lain yang menyangkut kepentingan sebagian besar siswa.
6. Masalah yang Cukup Besar dan Strategis
Kesulitan siswa memahami bacaan secara cepat merupakan pola dari problem yang cukup besar dan strategis alasannya diharapkan bagi sebagian besar mata pelajaran. Semua siswa memerlukan keterampilan itu, dan dampaknya terhadap proses mencar ilmu siswa cukup besar. Sukarnya siswa berkonsentrasi dalam mengikuti pelajaran, dan ketidaktahuan siswa perihal meta mencar ilmu (belajar bagaimana belajar) merupakan pola lain dari problem yang cukup besar dan strategis. Dengan demikian pemecahan problem akan memberi manfaat yang besar dan jelas.
7. Masalah yang Anda Senangi
Akhirnya Anda harus merasa mempunyai dan bahagia terhadap problem yang Anda teliti. Hal itu diindikasikan dengan rasa ingin tau Anda terhadap problem itu dan harapan Anda untuk segera tahu hasil-hasil setiap perlakukan yang diberikan.
8. Masalah yang Riil dan Problematik
Jangan mencari-cari problem hanya alasannya Anda ingin mempunyai problem yang berbeda dengan orang lain. Pilihlah problem yang riil, ada dalam pekerjaan Anda sehari-hari dan memang problematik (memerlukan pemecahan, dan kalau ditunda dampak negatifnya cukup besar).
9. Perlunya Kolaborasi
Tidak ada yang lebih angker daripada kesendirian. Dalam collaborative action reseach Anda perlu bertukar fikiran dengan guru kawan dari mata pelajaran sejenis atau guru lain yang lebih senior dalam menentukan masalah.
Identifikasi, Pemilihan, Deskripsi dan Rumusan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Dalam mengidentifikasikan masalah, Anda sebaiknya menuliskan semua problem yang Anda rasakan selama ini.
2. Pemilihan Masalah
Anda mustahil memecahkan semua problem yang teridentifikasikan itu secara sekaligus, dalam suatu action research yang berskala kelas. Masalah-masalah itu berbeda satu sama lain dalam hal kepentingan atau nilai strategisnya. Masalah yang satu boleh jadi merupakan penyebab dari problem yang lain sehingga pemecahan terhadap yang satu akan berdampak pada yang lain; dua-duanya akan terpecahkan sekaligus. Untuk sanggup menentukan problem secara sempurna Anda perlu menyusun masalah-masalah itu menurut kriteria tersebut: tingkat kepentingan, nilai strategis, dan nilai prerekuisit. Akhirnya Anda pilih salah satu dari masalah-masalah tersebut, contohnya “Siswa tidak sanggup melihat hubungan antara mata pelajaran yang satu dengan yang lain.”
3. Deskripsi Masalah
Setelah Anda menentukan salah satu masalah, deskripsikan problem itu serinci mungkin untuk memberi citra perihal pentingnya problem itu untuk dipecahkan ditinjau dari pengaruhnya terhadap pembelajaran secara umum maupun jumlah siswa yang terlibat.
Contoh: Jika diberi pelajaran dengan pendekatan terpadu antara geografi, ekonomi, dan sejarah siswa merasa sukar mentransfer keterampilan dari satu pelajaran ke pelajaran lain. Pelajaran yang saya berikan yaitu geografi, tetapi saya sering mengaitkan pembahasan dengan mata pelajaran lain ibarat ekonomi dan sejarah.
Ketika saya minta siswa mengemukakan hipotesis perihal imbas Danau Toba terhadap perkembangan ekonomi daerah, siswa terasa sangat bingung; padahal mereka telah sanggup mengemukakan hipotesis dengan baik dalam mata pelajaran geografi. Saya khawatir siswa hanya menghafal pada ketika dilatih mengemukakan hipotesis. Padahal dalam kehidupan sehari-hari keterampilan berhipotesis harus sanggup diterapkan di mana saja dan dalam bidang studi apa saja.
Pada hakikatnya setiap hari kita mengemukakan hipotesis. Ketidakbisaan siswa itu terjadi sepanjang tahun, tidak hanya pada permulaan tahun ajaran. Kelihatannya semua siswa mengalami hal yang sama, termasuk siswa yang cerdas. Guru lain ternyata juga mengalami hal yang sama, siswanya sukar mentransfer suatu keterampilan ke mata pelajaran lain.”
4. Rumusan Masalah
Setelah Anda menentukan satu problem secara secama, selanjutnya Anda perlu merumuskan problem itu secara komprehensif dan jelas. Sagor (1992) merinci rumusan problem action research memakai lima pertanyaan: 1. Siapa yang terkena dampak negatifnya? 2. Siapa atau apa yang diperkirakan sebagai penyebab problem itu? 3. Masalah apa bahwasanya itu? 4. Siapa yang menjadi tujuan perbaikan? 5. Apa yang akan dilakukan untuk mengatasi hal itu? (tidak wajib, merupakan hipotesis tindakan).
Contoh rumusan masalah:
Siswa di SLTP-X tidak sanggup melihat hubungan antara mata pelajaran yang satu dengan yang lain di sekolah (Ini menjawab pertanyaan 1 dan 3)
Grup action research percaya bahwa hal ini merupakan hasil dari aktivitas mata pelajaran dan cara guru mengajarkan bahan tersebut (Ini menjawab pertanyaan 2)
Kita menginginkan para siswa melihat relevansi kurikulum sekolah, mengapresiasi hubungan antara disiplin-disiplin akademis, dan sanggup menerapkan keterampilan yang diperoleh dalam satu mata pelajaran untuk pemecahan problem dalam mata pelajaran lain (Ini menjawab pertanyaan 4)
Oleh alasannya itu kita merencanakan integrasi pembelajaran IPA, matematika, bahasa, dan IPS dalam satuan pelajaran interdisiplin berjudul Masyarakat dan Teknologi (Ini manjawab pertanyaan 5)
Contoh pertanyaan penelitian:
Kesulitan apa yang dialami siswa dalam mentransfer keterampilan dari satu mata pelajaran satu ke mata pelajaran lain?
Apakah siswa sanggup mentrasfer keterampilan lebih gampang antara dua mata pelajaran yang disukai?
Apa yang mengakibatkan siswa menyukai suatu mata pelajaran?
Apakah ada perbedaan antara prestasi mencar ilmu siswa yang mencar ilmu dalam kelas mata pelajaran multidisiplin dibandingkan dengan mereka yang dalam kelas mata pelajaran tunggal?
Contoh Proses Belajar Mengajar yang dianjurkan pada Kurikulum 2013, mungkin video berikut sanggup membantu;
Belajar menciptakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) kita kini hingga pada tahap menyajikan hasil penelitian serta penarikan kesimpulan pada PTK, mari belajar.
HASIL PENELITIAN
1. Siklus-siklus Penelitian
Hasil penelitian CAR tidak hanya berisi data hasil observasi, melainkan justru proses perbaikan yang dilakukan. Untuk itu siklus ialah cara yang sempurna untuk menyajikan hasil penelitian. Data hasil observasi tidak disajikan secara terpisah melainkan dalam konteks siklus-siklus yang telah dilakukan.
2. Tabel, Diagram, dan Grafik
Tabel, diagram, dan grafik sangat baik dipakai untuk menyajikan data hasil observasi. Gunanya biar refleksi sanggup dilakukan lebih mudah. Tetapi sajian yang anggun itu bisa menjadi blunder manakala angka-angkanya diatur sedemikain rupa sehingga terkesan artificial. Hasil yang begitu spektakuler seringkali tidak disertai dengan “bagaimana” proses untuk mencapainya, sehingga pembaca akan makin ragu.
3. Hasil-hasil yang Otentik
Hasil-hasil yang otentik ibarat karangan siswa, gambar hasil karya siswa, dan foto perihal proyek yang dilakukan siswa akan sangat baik dicantumkan sebagai hasil penelitian.
KESIMPULAN CAR
1. Kesimpulan
Kesimpulan tentu saja harus menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian atau menguji hipotesis yang telah dikemukakan. Pertanyaan penelitian pada bab Masalah CAR di samping menuntut tanggapan yang berupa hasil juga menuntut prosesnya. Marilah kita lihat pertanyaan-pertanyaan itu sekali lagi.
Kesulitan apa yang dialami siswa dalam mentransfer keterampilan dari satu mata pelajaran satu ke mata pelajaran lain ? Jawaban atas pertanyaan ini bisa diperoleh melalui tes awal dan atau selama proses pembelajaran berlangsung. Walaupun gres berupa daftar kesulitan yang dialami siswa, temuan ini cukup berarti bagi guru-guru lain. Kita sendiri pada ketika ini belum bisa membayangkan kesulitan-kesulitan tersebut.
Apakah siswa sanggup mentrasfer keterampilan lebih gampang antara dua mata pelajaran yang disukai ? Jawaban atas pertanyaan ini diperoleh sehabis guru menghubungkan aneka macam mata pelajaran dalam materi tes awal atau selama pembelajaran berlangsung, contohnya antara fisika dengan biologi, ekonomi dengan sejarah, dan bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia.
Apa yang mengakibatkan siswa menyukai suatu mata pelajaran ? Kesimpulan ini sanggup diperoleh melalui kuesioner dan atau wawancara pada awal pembelajaran atau selama pembelajaran berlangsung.
Apakah ada perbedaan antara prestasi berguru siswa yang berguru dalam kelas mata pelajaran multidisiplin dibandingkan dengan mereka yang dalam kelas mata pelajaran tunggal ?Jawaban atas pertanyaan ini diperoleh sehabis siswa diberi perlakukan yang berbeda; contohnya satu kelas diberi pelajaran multi disiplin, dan kelas lain diberi pelajaran yang terpisah-pisah, ibarat biasanya. Ini sepertinya merupakan fokus dari CAR. Jika ditemukan bahwa mata pelajaran multidisiplin lebih berhasil dalam menyebarkan kemampuan transfer keterampilan antar mata pelajaran, peneliti perlu mengelaborasi bagaimana proses pembelajaran model multidisiplin tersebut berlangsung.
Makara kesimpulan penelitian CAR akan kurang bermanfaaat kalau bunyinya hanya seperti: “Pembelajaran dengan media akan meningkatkan hasil berguru siswa.” Kesimpulan ini ibarat dengan yang diinginkan penelitian kuantitatif. Guru lain yang membaca kesimpulan ini tentu ingin mengetahui bagaimana prosesnya sehingga media itu bisa meningkatkan hasil belajar.
Jadi kesimpulan itu masih harus diikuti dengan proses atau rinciannya, seperti
a) Transparansi OHP lebih disukai siswa daripada media lain,
b) Paling banyak hanya 10 transparansi sanggup ditunjukkan dalam satu presentasi, kalau lebih dari itu siswa akan bosan;
c) Presentasi pada awal pembelajaran cenderung lebih disukai;
d) Penjelasan yang terlalu usang terhadap satu transparansi cenderung menciptakan siswa bosan; dan
e) Satu kali presentasi sebaiknya tidak lebih dari 20 menit.
2. Saran
Karena CAR bersifat kontekstual, pertolongan saran kepada orang lain menurut hasil penelitian tersebut bekerjsama kurang bermanfaat. Deskripsi konteks penelitian secara rinci sudah cukup untuk menunjukkan informasi bagi guru lain yang ingin memalsukan keberhasilan Anda. Saran ibarat “Program CAR ini perlu lanjutkan dan diperluas untuk tahun-tahun mendatang,” juga kurang begitu perlu, bahkan kurang relevan.
Saran CAR dibutuhkan contohnya kalau temuan penelitian menyangkut sistem yang lebih luas dari sekedar kelas, contohnya menghendaki adanya perubahan pengaturan aktivitas pelajaran di sekolah. Dalam hal itu peneliti sanggup menyarankan perihal aktivitas yang diinginkan kepada pihak sekolah.
Artikel ini sebagai pembuka cakrawala mengenai jenis-jenis penelitian dan perbedaannya. Tidak setiap dilema sanggup dipecahkan dengan banyak sekali jenis penelitian, sebab setiap dilema mempunyai karakteristik tertentu sehingga dibutuhkan jenis dan model penelitian yang sesuai pula. Untuk itu, pemahaman mengenai banyak sekali jenis penelitian yang ada, paling tidak terhadap golongan besar jenis penelitian, sanggup membantu guru dan siapa saja dalam perjuangan untuk memecahkan dilema yang dihadapinya.
Kita sanggup membedakan empat jenis penelitian, yaitu penelitian kuantitatif, penelitian kualitatif, penelitian tindakan, dan penelitian pengembangan. Dalam goresan pena ini, penulis menguraikan mengenai empat jenis penelitian. Keempat jenis penelitian tersebut sanggup diterapkan dalam dunia pendidikan, khususnya pada pembelajaran matematika. Berikut ini deskripsi pokok mengenai keempat jenis penelitian tersebut.
1. PENELITIAN KUANTITATIF
Terdapat miskonsepi berkenaan dengan penelitian kuantitatif bahwa penelitian jenis ini merupakan penelitian yang memakai angka-angka atau statistik. Sesungguhnya pernyataan ini tidak salah namun tidak mendeskripsikan dengan sempurna mengenai penelitian kuantitatif. Penelitian jenis lain pun, sanggup memakai angka atau pun statistik.
Penelitian kuantitatif berusaha untuk menguji hubungan dua hal [variabel] atau lebih. Hal yang diuji harus berupa variabel dalam arti mempunyai variasi “nilai”, contohnya jenis kelamin [karena ada 2 nilai: pria atau perempuan], tingkat pendidikan [karena sanggup dibedakan lagi menjadi SD, SMP, SMA, dan sarjana], tingkat intelegensi atau IQ [karena dinyatakan dengan skor IQ yang sanggup bervariasi], dan tinggi tubuh [karena sanggup dinyatakan dengan satuan cm yang sanggup bervariasi].
Oleh sebab sifatnya “pengujian”, maka pada penelitian kuantitatif terdapat apa yang disebut hipotesis, yaitu dugaan sementara hasil kajian teoritis. Dugaan ini akan dibuktikan kebenarannya dengan memakai data yang diperoleh dari variabel yang terlibat.
Pada ilmu sosial maupun sains, kadang hubungan dua hal mungkin saja ada walaupun sangat kecil. Oleh sebab itu, pengujian ada tidaknya hubungan menjadi absurb. Oleh sebab itu, penelitian kuantitatif diharapkan untuk mengetahui seberapa besar hubungan dua variabel. Kuat tidaknya hubungan ini ditentukan secara lebih teliti dengan memakai statistik, dengan memakai istilah taraf signifikansi.
Seringkali variabel-variabel yang diuji hubungannya itu terdapat pada subjek dengan jumlah yang besar, sehingga mustahil atau tidak mudah bila keseluruhan subyek diteliti untuk diambil datanya. Dalam hal ini, diharapkan pembatasan subyek penelitian dengan hanya mengambil penggalan subjek yang representatif [dapat mewakili]. Untuk tujuan ini, diharapkan – sekali lagi – statistik semoga sampel yang dipakai menjamin generalisasi hasil penelitian pada keseluruhan subjek.
Berikut ini beberapa komponen penting dari penelitian kuantitatif yang muncul dalam usulan dan/atau laporan penelitian.
Hipotesis
Statistik inferensial
Populasi dan Sampel
Pengujian syarat penggunaan statistik inferensial
Angka signifikansi
Kajian teori perihal konsep dan hubungan yang ada antar variabel
Definisi operasional setiap variabel
Rancangan batasan waktu
Proposal penelitian kuantitatif bersifat lengkap dan cenderung teknis [detil]. Karena itu, bila usulan penelitian kuantitatif sudah ada, maka idealnya penelitian tsb sanggup dilakukan siapa saja; tidak harus pembuat proposal.
Berikut rujukan judul penelitian kuantitatif.
“Hubungan kemampuan berpikir kreatif dan pemahaman konsep matematika pada siswa Sekolah Menengah Pertama ABC, Kabupaten XYZ” atau “Korelasi ….”
“Pengaruh jenis kelamin dan IQ terhadap kemampuan komunikasi matematis pada siswa Sekolah Menengan Atas ABC, kota XYZ”
“Perbedaan efektivitas model pembelajaran PQR dan model pembelajaran konvensional dalam meningkatkan prestasi mencar ilmu matematika siswa SD ABC kabupaten XYZ”, atau “Komparasi prestasi mencar ilmu matematika siswa SD ABC kabupaten XYZ antara model pembelajaran PQR dan model pembelajaran konvensional”.
“korelasi kausal antara kemampuan berkomukasi lisan, kemampuan pemecahan masalah, kemampuan matematis, IQ, dan tingkat keuletan [adversity] siswa” [studi terhadap siswa Sekolah Menengah Pertama di Kota PQR]
2. PENELITIAN KUALITITIF
Jika penelitian kuantitatif berusaha untuk menguji berpengaruh lemahnya hubungan dua atau lebih variabel, maka penelitian kualitatif berusaha untuk menemukan penjelasan mengenai suatu fenomena. Dengan demikian, penelitian kualitatif tolong-menolong ingin menemukan atau mengkonstruksi suatu teori terkait suatu fenomena.
Untuk memperoleh klarifikasi terhadap suatu fenomena tersebut maka dalam penelitian kualitatif, ranah subjek penelitian dibatasi sedemikian rupa sehingga memungkinkan peneliti untuk membangun teori. Jadi, permasalahan lebih bersifat kasuistik. Lebih dari itu, sebab permasalahan tidak terlalu terperinci secara teknis, maka instrumen penelitian yang paling utama yaitu peneliti sendiri. Hal ini dimaksudkan bahwa dalam perjuangan menemukan tanggapan dari permasalahan, peneliti dalam proses observasi dan pengumpulan data, sanggup saja memunculkan instrumen gres untuk memperoleh data yang lebih valid.
Apakah hasil penelitian kualitatif tidak sanggup digeneralisir pada subjek yang lain? Dalam analisisnya, kita tidak memakai analisis sampel, sebab memang seluruh populasi [jika memungkinkan] menjadi subjek dalam penelitian kualitatif. Namun demikian, bila terdapat permasalahan yang sama dengan karakteristik yang sama pada subjek lain, maka hasil penelitian kualitatif ini sanggup pula menjadi alternatif solusi dalam menjelaskan fenomena pada subjek lain tersebut.
Berikut ini beberapa komponen penting dari penelitian kualitatif yang muncul dalam usulan dan/atau laporan penelitian.
Setting penelitian [sejelas-jelasnya, sebab lebih bersifat kasuistik]
Proses validasi bersifat triangulasi [untuk satu aspek diperoleh data dengan cara/instumen berbeda-beda, dari sumber berbeda-beda, dan waktu berbeda-beda, kemudian dibandingkan mana yang valid].
Instrumen utama yaitu peneliti sendiri.
Tidak ada rancangan batasan waktu [batasnya yaitu jikalau data yang diperoleh kembali menawarkan kesimpulan yang masih sama] Kajian teori yang telah ada atau berafiliasi dengan masalah.
Proposal penelitian kualitatif lebih ringkas dibanding usulan penelitian kuantitatif, sebab yang perlu disampaikan pada usulan hanyalah perumusan dilema serta setting penelitian yang jelas, sementara kajian teori dan instumentasi [alat pengambil data] dinyatakan secara global. Ini dikarena penelitian kualitatif mencari “ilmu” gres dengan pertanyaan utama “mengapa” dan “bagaimana” sehingga tidak banyak yang diketahui, sementara penelitian kuantitas hanya menguji “ilmu” gres [hipotesis] dengan pertanyaan utama “apakah”.
Berikut rujukan judul penelitian kualitatif.
“Faktor-faktor yang mensugesti gaya mencar ilmu siswa ranking 10 besar Sekolah Menengah Pertama XYZ Kota PQR”.
“Studi analisis penyebab keberhasilan SD KLM menjuarai olimpiade tingkat nasional dalam 4 tahun terakhir”.
“Miskonsepi konsep bundar pada siswa kelas V SD KLM, Kota PQR”.
“Deskripsi kemampuan siswa Sekolah Menengah Pertama sekota PQR dalam memahami dan mengaplikasikan konsep geometri”.
3. PENELITIAN TINDAKAN
Seringkali dalam melaksanakan pekerjaan terkait profesi tertentu, kita menemukan dilema yang menghambat pekerjaan. Untuk itu, diharapkan suatu tindakan untuk memecahkan dilema yang menghambat itu atau untuk memperbaiki kinerja. Namun, diharapkan rasional dalam menentukan tindakan yang tepat, serta diharapkan perbaikan yang terus menerus semoga tindakan tersebut benar-benar memecahkan masalah.
Analoginya, ketika kita mengalami sakit, maka diharapkan tindakan pengobatan yang sempurna contohnya dengan meminum obat, namun semoga proses penyembuhan berjalan optimal maka diharapkan pengobatan obat secara terus menerus [dalam dasisi tertentu] hingga kita benar-benar sembuh dari penyakit tersebut.
Hal yang sama juga terjadi pada proses pembelajaran di sekolah. Bila terdapat dilema dalam pembelajaran di kelas, misalnya, maka diupayakan untuk mengadakan suatu tindakan untuk memecahkan masalah tersebut. Tindakan yang dipilih harus dipertimbangkan secara matang semoga dilema sanggup teratasi. Tentu diharapkan lebih dari sekali perlakuan tindakan semoga dilema benar-benar sanggup teratasi.
Tentu saja dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, terdapat beberapa dilema yang dijumpai. Oleh sebab itu, harus dipilih satu dilema yang benar-benar penting dan genting untuk dipecahkan lebih dahulu. Lalu, terhadap dilema tersebut dicari dan dipilih tindakan yang telah dikaji secara teoritis dan di antara pilihan tindakan lain maka tindakan yang terpilih benar-benar lebih memungkinkan untuk memecahkan dilema pembelajaran.
Seperti telah dianalogikan dengan minum obat di atas, maka tindakan dalam pendidikan juga memuat siklus tindakan dalam arti terus terjadi pengulangan tindakan yang sama namun dengan perbaikan pada cara melaksanakan tindakan sehingga dilema yang dihadapi sanggup terpecahkan.
Oleh sebab itu, keberadaan “hipotesis” masih diperdebatkan dalam penelitian tindakan. Sesungguhnya, apa yang disebut “hipotesis” – bila sanggup disebut demikian – dalam penelitian tindakan yaitu “cara melaksanakan tindakan” yang untuk PTK [penelitian tindakan kelas] biasanya dinyatakan dalam RPP [Rencana Pelaksanaan Pembelajaran] pada siklus pertama.
Namun sesuai dengan sifatnya, maka hipotesis untuk penelitan tindakan dibentuk untuk setiap siklusnya. Jadi, jikalau sebuah penelitian tindakan memuat 3 siklus, maka terdapat 3 buah hipotesis, di mana hipotesis yang terakhirlah yang sanggup memecahkan masalah.
Bagaimana dengan sampel? Dalam penelitian tindakan tidak mengenal sampel, sebab semua subjek yaitu populasi penelitian. Karena itu, pula tindakan yang berhasil pada sebuah penelitian tindakan di sekolah tertentu, tidak sanggup digeneralisir untuk setiap sekolah, sebab setting di mana tindakan itu dilaksanakan turut mensugesti hasil.
Berikut ini beberapa komponen penting dari penelitian tindakan yang muncul dalam usulan dan/atau laporan penelitian.
Setting subjek dan objek yang mempunyai masalah.
Tahap-tahap pelaksanaan tindakan [setiap siklus; khusus usulan hanya siklus pertama]
Kajian teori perihal tindakan yang dipilih, terutama mengenai kelebihannya.
Rancangan acara dalam satu siklus
Kriteria keberhasilan [“titik jenuh” ketika siklus sanggup dihentikan]
Berikut rujukan judul penelitian tindakan.
“Peningkatan keterampilan memakai alat ukur pada siswa Kelas V SD ABC dengan model pembelajaran XYZ”.
“Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe ABC dengan Lomba Kompetensi Siswa bergambar untuk meningkatkan kemampuan siswa Sekolah Menengah Pertama XYZ dalam memecahkan dilema matematika”.
“Upaya mengurangi kenakalan siswa ketika proses pembelajaran dengan menerapkan tindakan edukatif model eksekusi bernyanyi hitungan matematika pada siswa kelas V SD PQR”.
“Upaya meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan motivasi mencar ilmu pada siswa kelas XI Sekolah Menengan Atas PQR dengan memakai kuis dan teka-teki matematika”.
4. PENELITIAN PENGEMBANGAN
Jika pada penelitian tindakan, perjuangan untuk memecahkan dilema dengan melaksanakan suatu “tindakan”, maka pada penelitian pengembangan atau R&D [research and development] dibentuk suatu “instrumen atau alat”. Kemunculan instrumen atau alat ini dalam penelitian pengembangan bisa berawal dari sebuah masalah, bisa pula berasal dari adanya kelemahan dari alat atau intrumen yang sudah ada.
Contohnya pada pembelajaran matematika topik bangkit ruang di mana siswa mengalami kesulitan memahami irisan bidang terhadap bangkit ruang, maka salah satu alternatif yaitu dengan menciptakan sebuah alat peraga yang sanggup membantu siswa.
Contoh lain, telah ada instrumen berupa rubrik penyekoran untuk soal tes berbentuk uraian, namun dirasakan terdapat beberapa kelemahan, contohnya ada beberapa aspek yang belum ada atau membutuhkan waktu yang cukup usang untuk melaksanakan penyekoran dengan rubrik itu. Karena itu dibentuk model rubrik penyekoran yang lain, yang sanggup mengatasi kelemahan pada model rubrik penyekoran yang sudah ada.
Mirip dengan penelitian tindakan yang diharapkan “siklus tindakan” hingga dilema sanggup dipecahkan, maka pada penelitian pengembangan juga diharapkan “siklus prototipe” semoga diperoleh spesifikasi intrumen/alat yang sanggup memenuhi harapan atau mengatasi dilema yang ada. Kedua jenis penelitian intinya memakai kerangka metodologi yang hampir sama, bedanya pada penelitian tindakan yang dimunculkan yaitu tindakan [aksi] sedang pada penelitian pengembangan yaitu alat [instrumen].
Sedikit berbeda dengan penelitian tindakan, maka alat atau instrumen yang telah lolos uji pada penelitian pengembangan, perlu disosialisasikan dan bahkan dikomersialkan. Berikut ini beberapa komponen penting dari penelitian pengembangan yang muncul dalam usulan dan/atau laporan penelitian.
Ulasan bahwa tidak ada alat yang sanggup memecahkan dilema atau alat yang sudah ada belum sanggup memecahkan masalah.
Rancangan atau protipe alat [setiap siklus; pada usulan hanya prototipe awal]
Rancangan biaya terkait pembuatan alat [jika berbiaya besar]
Kriteria keberhasilan.
Kajian teori perihal fungsi dari alat dan prosedur atau materi penyusun prototipe.
Rancangan acara dalam satu siklus pengujian prototipe.
“Pengembangan alat peraga XYZ untuk meningkatkan kemampuan siswa memahami konsep hitung pecahan”.
“Pengembangan instrumen evaluasi matematika yang berbasis unjuk kerja dan portofolio pada siswa SD”
“Pengembangan model pembelajaran kooperatif KLM yang meningkatkan pemahaman konsep matematika dan keterampilan pemecahan masalah”.
“Pengembangan sistem penerimaan siswa gres Sekolah Menengan Atas PQR untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas siswa gres serta efisiensi keterlibatan sumber daya sekolah”
Dari karakteristik keempat jenis penelitian di atas, terperinci bahwa tidak semua jenis penelitian sanggup dipilih oleh guru dalam memecahkan masalahnya dalam pembelajaran. Karakter penelitian tindakan mengindikasikan bahwa guru lebih erat dengan penelitian tindakan, khususnya penelitian tindakan kelas [PTK].
Ini dikarenakan setiap hari guru melaksanakan proses pembelajaran yang tentu mempunyai banyak kendala dan permasalahan. Namun tidak menutup kemungkinan, bila guru juga sanggup melaksanakan penelitian kuantitatif, termasuk pula penelitian kualitatif dan penelitian pengembangan dalam skala terbatas. [Sumardyono, M.Pd]
Contoh Proses Belajar Mengajar yang dianjurkan pada Kurikulum 2013, mungkin video berikut sanggup membantu kita dalam penerapan kuriulum 2013;