Tampilkan postingan dengan label Peradaban Awal Masyarakat Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peradaban Awal Masyarakat Indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Mei 2017

✔ Migrasi Ras Proto Melayu Dan Deutro Melayu

Proses Migrasi Ras Proto Melayu dan Deutro Melayu ke Indonesia

Sejarawan Belanda Van Heine menyampaikan bahwa semenjak 2000 SM yang bersamaan dengan zaman Neolitikum hingga dengan tahun 500 SM yang bersamaan dengan zaman perunggu mengalirlah gelombang perpindahan penduduk dari Asia ke pulau-pulau sebelah selatan daratan Asia ke Indonesia. Sekitar tahun 1500 SM, mereka terdesak dari Campa kemudian pindah ke Kampuchea dan melanjutkan perjalanan ke Semenanjung Malaka.

Sementara itu, bangsa yang lainnya masuk ke pulau-pulau di sebelah selatan Asia tersebut, yakni Austronesia (austro artinya selatan, nesos artinya pulau). Bangsa yang mendiami tempat Austronesia disebut bangsa Austronesia. Bangsa Austronesia mendiami tempat sangat luas, mencakup pulau-pulau yang membentang dari Madagaskar (sebelah barat) hingga Pulau Paskah (sebelah timur) dan Taiwan (sebelah utara) hingga Selandia Baru (sebelah selatan).

Pendapat Van Heine Geldern ini diperkuat dengan inovasi peralatan insan purba berupa beliung kerikil yang berbentuk persegi di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi di bab barat. Beliung menyerupai itu juga banyak ditemukan di Asia, yakni di Malaysia, Birma (Myanmar), Vietnam, Kampuchea, dan terutama di tempat Yunan (daerah Cina Selatan).

Orang-orang Austronesia yang memasuki wilayah Nusantara dan kemudian menetap di Nusantara tersebut menerima sebutan bangsa Melayu Austronesia atau bangsa Melayu Indonesia. Mereka yang masuk ke tempat Aceh menjadi suku Aceh, yang masuk ke tempat Kalimantan disebut suku Dayak, yang ke Jawa Barat disebut suku Sunda, yang masuk ke Sulawesi disebut suku Bugis dan Tanah Toraja, dan mereka yang masuk ke tempat Jambi disebut suku Kubu (Lubu).

Bangsa Melayu sanggup dibedakan menjadi dua, yakni bangsa Melayu Tua dan Melayu Muda.
1.Bangsa Melayu Tua (Proto Melayu)
Bangsa Melayu Tua ialah orang-orang Austronesia dari Asia (Yunan) yang pertama kali ke Nusantara pada sekitar 1500 SM. Mereka tiba ke Nusantara melalui dua jalan.

a.Jalan barat dari Yunan (Cina Selatan) melalui Selat Malaka (Malaysia) masuk ke Sumatra masuk ke Jawa. Mereka membawa alat berupa kapak persegi.

b.Jalan utara (timur) dari Yunan melalui Formosa (Taiwan) masuk ke Filipina kemudian ke Sulawesi kemudian masuk ke Irian. Mereka membawa alat kapak lonjong.

Bangsa Melayu Tua ini mempunyai kebudayaan kerikil alasannya ialah alat-alatnya terbuat dari kerikil yang sudah maju, yakni sudah dihaluskan, berbeda dengan insan purba yang alatnya masih bergairah dan sederhana. Hasil budaya mereka dikenal dengan kapak persegi yang banyak ditemukan di Indonesia, menyerupai Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan. Adapun kapak lonjong banyak dipakai mereka yang melalui jalan utara, yakni Sulawesi dan Irian. 
Menurut penelitian Von Heekern, di Kalumpang, Sulawesi Utara telah terjadi perpaduan antara tradisi kapak persegi dan kapak lonjong yang dibawa orang Austronesia yang tiba dari arah utara Indonesia melalui Formosa (Taiwan), Filipina, dan Sulawesi.

2.Bangsa Melayu Muda (Deutero Melayu)
Bangsa Melayu Muda yang disebut juga Deutero Melayu tiba dari tempat Yunan (Cina Selatan) sekitar 500 SM. Mereka masuk ke Nusantara melalui jalan barat saja.

Bangsa Melayu Muda berhasil mendesak dan bercampur dengan bangsa Proto Melayu. Bangsa Deutero Melayu masuk melalui Teluk Tonkin (Yunan) ke Vietnam, kemudian ke Semenanjung Malaka, terus ke Sumatra, dan balasannya masuk ke Jawa.

Bangsa Deutero Melayu mempunyai kebudayaan yang lebih maju dibandingkan dengan Proto Melayu. Mereka sudah sanggup menciptakan barang-barang dari perunggu dan besi.

Hasil budayanya yang populer ialah kapak corong, kapak sepatu, dan nekara. Selain kebudayaan logam, bangsa Deutero Melayu juga membuatkan kebudayaan Megalitikum, yaitu kebudayaan yang menghasilkan bangunan yang terbuat dari kerikil besar. Hasil-hasil kebudayaan Megalitikum, misalnya, menhir (tugu batu), dolmen (meja batu), sarkofagus (keranda mayat), kubur batu, dan punden berundak. 
Suku bangsa Indonesia yang termasuk keturunan Melayu Muda (Deutero Melayu) ialah suku Jawa, Melayu, dan Bugis. Sebelum kelompok bangsa Melayu memasuki Nusantara, bergotong-royong telah ada kelompok-kelompok insan yang lebih dahulu tinggal di wilayah tersebut. Mereka termasuk bangsa primitif dengan budayanya yang masih sangat sederhana. 
Mereka yang termasuk bangsa primitif ialah sebagai berikut.

1.Manusia Pleistosin (purba)
Kehidupan insan purba ini selalu berpindah tempat dengan kemampuan yang sangat terbatas. Demikian pula kebudayaannya sehingga corak kehidupan insan purba ini tidak sanggup diikuti kembali, kecuali beberapa aspek saja. Misalnya, teknologinya yang masih sangat sederhana (teknologi paleolitik).

2.Suku Wedoid
Sisa-sisa suku Wedoid hingga kini masih ada, misalnya, suku Sakai di Siak serta suku Kubu di perbatasan Jambi dan Palembang. Mereka hidup dari meramu (mengumpulkan hasil hutan) dan berkebudayaan sederhana. Mereka juga sulit sekali mengikuti keadaan dengan masyarakat modern.

3.Suku Negroid
Di Indonesia sudah tidak terdapat lagi sisa-sisa kehidupan suku Negroid. Akan tetapi, di pedalaman Malaysia dan Filipina keturunan suku Negroid masih ada. Suku yang termasuk ras Negroid, misalnya, suku Semang di Semenanjung Malaysia dan suku Negrito di Filipina. Mereka balasannya terdesak oleh orang-orang Melayu Modern sehingga hanya menempati tempat pedalaman terisolir.

Menurut Heine Geldern, nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari daratan Asia, yakni Yunan. Mereka tiba melalui dua gelombang dan dua jalan.

Gelombang Melayu Tua (Proto Melayu) 1500 SM melalui dua jalan. 
a) Jalan barat melalui Yunan –Malaka – Sumatra – Jawa, alat yang dibawa kapak persegi. 
b) Jalan Utara melewati Yunan– Formosa–Jepang– Filipina– Sulawesi Utara– Papua, alat yang dibawa kapak lonjong.

Melayu Muda (Deutero Melayu) 500 SM merupakan kedatangan gelombang II melalui jalan barat.


Sumber http://sejarah10-jt.blogspot.com

Jumat, 26 Mei 2017

✔ Penyebaran Kebudayaan Bacson-Hoabinh Di Indonesia

Di Pegunungan Bacson dan di Provinsi Hoabinh akrab Hanoi, Vietnam, oleh peneliti Madeleine Colani ditemukan sejumlah besar alat yang kemudian dikenal dengan kebudayaan Bacson-Hoabinh. Jenis alat serupa juga ditemukan di Thailand, Semenanjung Melayu, dan Sumatra. 

Peninggalan-peninggalan di Sumatra berupa bukit-bukit kerang yang dinamakan kjokkenmoddinger (sampah dapur) yang memanjang dari Sumatra Utara hingga Aceh.

Ciri dari kebudayaan Bacson-Hoabinh yaitu penyerpihan pada satu atau dua sisi permukaan kerikil kali yang berukuran satu kepalan dan cuilan tepinya sangat tajam. Hasil penyerpihannya mengatakan aneka macam bentuk, menyerupai lonjong, segi empat, dan ada yang bentuknya berpinggang. Di wilayah Indonesia, alat-alat kerikil kebudayaan Bacson-Hoabinh ditemukan di Papua, Sumatra, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. 

Penyebaran kebudayaan Bacson-Hoabinh bersamaan dengan perpindahan ras Papua Melanesoid ke Indonesia melalui jalan barat dan jalan timur (utara). Mereka tiba di Nusantara dengan perahu bercadik dan tinggal di pantai timur Sumatra dan Jawa, namun mereka terdesak oleh ras Melayu yang tiba kemudian. Akhirnya, mereka menyingkir ke wilayah Indonesia Timur dan dikenal sebagai ras Papua yang pada masa itu sedang berlangsung budaya Mesolitikum sehingga pendukung budaya Mesolitikum yaitu Papua Melanesoid. Ras Papua ini hidup dan tinggal di gua-gua (abris sous roche) dan meninggalkan bukit-bukit kerang atau sampah dapur (kjokkenmoddinger). 

Ras Papua Melanesoid hingga di Nusantara pada zaman Holosen. Saat itu keadaan bumi kita sudah layak dihuni sehingga menjadi tempat yang nyaman bagi kehidupan manusia. 

Penyelidikan kjokkenmoddinger dilakukan oleh Dr. P.V. Van Stein Callenfels tahun 1925. Juga banyak ditemukan kapak genggam yang kemudian dinamakan kapak Sumatra, terbuat dari kerikil kali yang dibelah, sisi luarnya tidak dihaluskan, dan sisi dalamnya dikerjakan sesuai dengan keperluan. Jenis lain yaitu kapak pendek (hache courte), bentuknya setengah lingkaran, cuilan tajamnya pada sisi lengkung. Ditemukan pula batu penggiling (pipisan) sebagai penggiling masakan atau cat merah, ujung mata panah,  flakes, dan kapak Proto Neolitikum.

Ras Papua Melanesoid hidup masih setengah menetap, berburu, dan bercocok tanam sederhana. Manusia yang hidup di zaman budaya Mesolitikum sudah mengenal kesenian, menyerupai lukisan menyerupai babi hutan yang ditemukan di Gua Leang-Leang (Sulawesi). Lukisan tersebut memuat gambar hewan dan cap telapak tangan. Mayat dikubur dalam gua dengan perilaku jongkok, beberapa cuilan jenazah diolesi dengan cat merah. Merah yaitu warna darah, tanda hidup. 

Mayat diolesi warna merah dengan maksud biar sanggup mengembalikan kehidupannya sehingga sanggup berdialog. Kecuali alat batu, juga ditemukan sisa-sisa tulang dan gigi-gigi binatang menyerupai gajah, badak, beruang, dan rusa. Jadi, selain mengumpulkan hewan kerang, mereka pun memburu binatang-binatang besar.

Di tempat Sumatra alat-alat kerikil jenis kebudayaan Bacson-Hoabinh ditemukan di Lhokseumawe dan Medan. Di Pulau Jawa, alat kebudayaan yang sejenis kebudayaan Bacson-Hoabinh ditemukan di tempat sekitar Bengawan Solo, yakni bersamaan waktu penggalian fosil insan purba. Peralatan yang ditemukan dibentuk dengan cara yang sederhana, belum diserpih dan belum diasah. Alat tersebut diperkirakan dipergunakan oleh jenis Pithecanthropus erectus di Trinil, Jawa Timur.



Sumber http://sejarah10-jt.blogspot.com

Senin, 15 Mei 2017

✔ Migrasi Ras Proto Melayu Dan Deutro Melayu

Proses Migrasi Ras Proto Melayu dan Deutro Melayu ke Indonesia

Sejarawan Belanda Van Heine menyampaikan bahwa semenjak 2000 SM yang bersamaan dengan zaman Neolitikum hingga dengan tahun 500 SM yang bersamaan dengan zaman perunggu mengalirlah gelombang perpindahan penduduk dari Asia ke pulau-pulau sebelah selatan daratan Asia ke Indonesia. Sekitar tahun 1500 SM, mereka terdesak dari Campa kemudian pindah ke Kampuchea dan melanjutkan perjalanan ke Semenanjung Malaka.

Sementara itu, bangsa yang lainnya masuk ke pulau-pulau di sebelah selatan Asia tersebut, yakni Austronesia (austro artinya selatan, nesos artinya pulau). Bangsa yang mendiami tempat Austronesia disebut bangsa Austronesia. Bangsa Austronesia mendiami tempat sangat luas, mencakup pulau-pulau yang membentang dari Madagaskar (sebelah barat) hingga Pulau Paskah (sebelah timur) dan Taiwan (sebelah utara) hingga Selandia Baru (sebelah selatan).

Pendapat Van Heine Geldern ini diperkuat dengan inovasi peralatan insan purba berupa beliung kerikil yang berbentuk persegi di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi di bab barat. Beliung menyerupai itu juga banyak ditemukan di Asia, yakni di Malaysia, Birma (Myanmar), Vietnam, Kampuchea, dan terutama di tempat Yunan (daerah Cina Selatan).

Orang-orang Austronesia yang memasuki wilayah Nusantara dan kemudian menetap di Nusantara tersebut menerima sebutan bangsa Melayu Austronesia atau bangsa Melayu Indonesia. Mereka yang masuk ke tempat Aceh menjadi suku Aceh, yang masuk ke tempat Kalimantan disebut suku Dayak, yang ke Jawa Barat disebut suku Sunda, yang masuk ke Sulawesi disebut suku Bugis dan Tanah Toraja, dan mereka yang masuk ke tempat Jambi disebut suku Kubu (Lubu).

Bangsa Melayu sanggup dibedakan menjadi dua, yakni bangsa Melayu Tua dan Melayu Muda.
1.Bangsa Melayu Tua (Proto Melayu)
Bangsa Melayu Tua ialah orang-orang Austronesia dari Asia (Yunan) yang pertama kali ke Nusantara pada sekitar 1500 SM. Mereka tiba ke Nusantara melalui dua jalan.

a.Jalan barat dari Yunan (Cina Selatan) melalui Selat Malaka (Malaysia) masuk ke Sumatra masuk ke Jawa. Mereka membawa alat berupa kapak persegi.

b.Jalan utara (timur) dari Yunan melalui Formosa (Taiwan) masuk ke Filipina kemudian ke Sulawesi kemudian masuk ke Irian. Mereka membawa alat kapak lonjong.

Bangsa Melayu Tua ini mempunyai kebudayaan kerikil alasannya ialah alat-alatnya terbuat dari kerikil yang sudah maju, yakni sudah dihaluskan, berbeda dengan insan purba yang alatnya masih bergairah dan sederhana. Hasil budaya mereka dikenal dengan kapak persegi yang banyak ditemukan di Indonesia, menyerupai Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan. Adapun kapak lonjong banyak dipakai mereka yang melalui jalan utara, yakni Sulawesi dan Irian. 
Menurut penelitian Von Heekern, di Kalumpang, Sulawesi Utara telah terjadi perpaduan antara tradisi kapak persegi dan kapak lonjong yang dibawa orang Austronesia yang tiba dari arah utara Indonesia melalui Formosa (Taiwan), Filipina, dan Sulawesi.

2.Bangsa Melayu Muda (Deutero Melayu)
Bangsa Melayu Muda yang disebut juga Deutero Melayu tiba dari tempat Yunan (Cina Selatan) sekitar 500 SM. Mereka masuk ke Nusantara melalui jalan barat saja.

Bangsa Melayu Muda berhasil mendesak dan bercampur dengan bangsa Proto Melayu. Bangsa Deutero Melayu masuk melalui Teluk Tonkin (Yunan) ke Vietnam, kemudian ke Semenanjung Malaka, terus ke Sumatra, dan balasannya masuk ke Jawa.

Bangsa Deutero Melayu mempunyai kebudayaan yang lebih maju dibandingkan dengan Proto Melayu. Mereka sudah sanggup menciptakan barang-barang dari perunggu dan besi.

Hasil budayanya yang populer ialah kapak corong, kapak sepatu, dan nekara. Selain kebudayaan logam, bangsa Deutero Melayu juga membuatkan kebudayaan Megalitikum, yaitu kebudayaan yang menghasilkan bangunan yang terbuat dari kerikil besar. Hasil-hasil kebudayaan Megalitikum, misalnya, menhir (tugu batu), dolmen (meja batu), sarkofagus (keranda mayat), kubur batu, dan punden berundak. 
Suku bangsa Indonesia yang termasuk keturunan Melayu Muda (Deutero Melayu) ialah suku Jawa, Melayu, dan Bugis. Sebelum kelompok bangsa Melayu memasuki Nusantara, bergotong-royong telah ada kelompok-kelompok insan yang lebih dahulu tinggal di wilayah tersebut. Mereka termasuk bangsa primitif dengan budayanya yang masih sangat sederhana. 
Mereka yang termasuk bangsa primitif ialah sebagai berikut.

1.Manusia Pleistosin (purba)
Kehidupan insan purba ini selalu berpindah tempat dengan kemampuan yang sangat terbatas. Demikian pula kebudayaannya sehingga corak kehidupan insan purba ini tidak sanggup diikuti kembali, kecuali beberapa aspek saja. Misalnya, teknologinya yang masih sangat sederhana (teknologi paleolitik).

2.Suku Wedoid
Sisa-sisa suku Wedoid hingga kini masih ada, misalnya, suku Sakai di Siak serta suku Kubu di perbatasan Jambi dan Palembang. Mereka hidup dari meramu (mengumpulkan hasil hutan) dan berkebudayaan sederhana. Mereka juga sulit sekali mengikuti keadaan dengan masyarakat modern.

3.Suku Negroid
Di Indonesia sudah tidak terdapat lagi sisa-sisa kehidupan suku Negroid. Akan tetapi, di pedalaman Malaysia dan Filipina keturunan suku Negroid masih ada. Suku yang termasuk ras Negroid, misalnya, suku Semang di Semenanjung Malaysia dan suku Negrito di Filipina. Mereka balasannya terdesak oleh orang-orang Melayu Modern sehingga hanya menempati tempat pedalaman terisolir.

Menurut Heine Geldern, nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari daratan Asia, yakni Yunan. Mereka tiba melalui dua gelombang dan dua jalan.

Gelombang Melayu Tua (Proto Melayu) 1500 SM melalui dua jalan. 
a) Jalan barat melalui Yunan –Malaka – Sumatra – Jawa, alat yang dibawa kapak persegi. 
b) Jalan Utara melewati Yunan– Formosa–Jepang– Filipina– Sulawesi Utara– Papua, alat yang dibawa kapak lonjong.

Melayu Muda (Deutero Melayu) 500 SM merupakan kedatangan gelombang II melalui jalan barat.


Sumber http://sejarah10-jt.blogspot.com

Minggu, 14 Mei 2017

✔ Penyebaran Kebudayaan Bacson-Hoabinh Di Indonesia

Di Pegunungan Bacson dan di Provinsi Hoabinh akrab Hanoi, Vietnam, oleh peneliti Madeleine Colani ditemukan sejumlah besar alat yang kemudian dikenal dengan kebudayaan Bacson-Hoabinh. Jenis alat serupa juga ditemukan di Thailand, Semenanjung Melayu, dan Sumatra. 

Peninggalan-peninggalan di Sumatra berupa bukit-bukit kerang yang dinamakan kjokkenmoddinger (sampah dapur) yang memanjang dari Sumatra Utara hingga Aceh.

Ciri dari kebudayaan Bacson-Hoabinh yaitu penyerpihan pada satu atau dua sisi permukaan kerikil kali yang berukuran satu kepalan dan cuilan tepinya sangat tajam. Hasil penyerpihannya mengatakan aneka macam bentuk, menyerupai lonjong, segi empat, dan ada yang bentuknya berpinggang. Di wilayah Indonesia, alat-alat kerikil kebudayaan Bacson-Hoabinh ditemukan di Papua, Sumatra, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. 

Penyebaran kebudayaan Bacson-Hoabinh bersamaan dengan perpindahan ras Papua Melanesoid ke Indonesia melalui jalan barat dan jalan timur (utara). Mereka tiba di Nusantara dengan perahu bercadik dan tinggal di pantai timur Sumatra dan Jawa, namun mereka terdesak oleh ras Melayu yang tiba kemudian. Akhirnya, mereka menyingkir ke wilayah Indonesia Timur dan dikenal sebagai ras Papua yang pada masa itu sedang berlangsung budaya Mesolitikum sehingga pendukung budaya Mesolitikum yaitu Papua Melanesoid. Ras Papua ini hidup dan tinggal di gua-gua (abris sous roche) dan meninggalkan bukit-bukit kerang atau sampah dapur (kjokkenmoddinger). 

Ras Papua Melanesoid hingga di Nusantara pada zaman Holosen. Saat itu keadaan bumi kita sudah layak dihuni sehingga menjadi tempat yang nyaman bagi kehidupan manusia. 

Penyelidikan kjokkenmoddinger dilakukan oleh Dr. P.V. Van Stein Callenfels tahun 1925. Juga banyak ditemukan kapak genggam yang kemudian dinamakan kapak Sumatra, terbuat dari kerikil kali yang dibelah, sisi luarnya tidak dihaluskan, dan sisi dalamnya dikerjakan sesuai dengan keperluan. Jenis lain yaitu kapak pendek (hache courte), bentuknya setengah lingkaran, cuilan tajamnya pada sisi lengkung. Ditemukan pula batu penggiling (pipisan) sebagai penggiling masakan atau cat merah, ujung mata panah,  flakes, dan kapak Proto Neolitikum.

Ras Papua Melanesoid hidup masih setengah menetap, berburu, dan bercocok tanam sederhana. Manusia yang hidup di zaman budaya Mesolitikum sudah mengenal kesenian, menyerupai lukisan menyerupai babi hutan yang ditemukan di Gua Leang-Leang (Sulawesi). Lukisan tersebut memuat gambar hewan dan cap telapak tangan. Mayat dikubur dalam gua dengan perilaku jongkok, beberapa cuilan jenazah diolesi dengan cat merah. Merah yaitu warna darah, tanda hidup. 

Mayat diolesi warna merah dengan maksud biar sanggup mengembalikan kehidupannya sehingga sanggup berdialog. Kecuali alat batu, juga ditemukan sisa-sisa tulang dan gigi-gigi binatang menyerupai gajah, badak, beruang, dan rusa. Jadi, selain mengumpulkan hewan kerang, mereka pun memburu binatang-binatang besar.

Di tempat Sumatra alat-alat kerikil jenis kebudayaan Bacson-Hoabinh ditemukan di Lhokseumawe dan Medan. Di Pulau Jawa, alat kebudayaan yang sejenis kebudayaan Bacson-Hoabinh ditemukan di tempat sekitar Bengawan Solo, yakni bersamaan waktu penggalian fosil insan purba. Peralatan yang ditemukan dibentuk dengan cara yang sederhana, belum diserpih dan belum diasah. Alat tersebut diperkirakan dipergunakan oleh jenis Pithecanthropus erectus di Trinil, Jawa Timur.



Sumber http://sejarah10-jt.blogspot.com