Tampilkan postingan dengan label Praaksara Dan Masa Aksara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Praaksara Dan Masa Aksara. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Mei 2017

✔ Ciri-Ciri Masyarakat Praaksara

Setelah nenek moyang kita tiba di Nusantara dan menetap, mereka meninggalkan tradisi, hukum kemasyarakatan, serta religi yang ditaati oleh  mereka dan anak keturunannya. Tradisi tersebut diwariskan kepada masyarakat hingga kini ini.
Kemampuan nenek moyang kita sebelum mengenal goresan pena dan sebelum terpengaruh budaya Hindu-Buddha oleh Brandes dikelompokkan sebagai berikut:

a.Kemampuan berlayar

Nenek moyang bangsa Indonesia tiba dari Yunan sebelum Masehi. Mereka sudah pandai mengarungi maritim dan harus memakai bahtera untuk hingga di Indonesia. Kemampuan berlayar ini dikembangkan di tanah baru, yaitu di Nusantara, mengingat kondisi geografi di Nusantara terdiri banyak pulau. Kondisi ini mengharuskan memakai bahtera untuk mencapai kepulauan lainnya.

Salah satu ciri bahtera yang dipergunakan nenek moyang kita ialah bahtera cadik, yaitu bahtera yang memakai alat dari bambu atau kayu yang dipasang di kanan kiri perahu.
Pembuatan bahtera biasanya dilakukan secara bersama-sama oleh kaum laki-laki. Setelah masa perundagian, acara pelayaran juga semakin meningkat. Perahu bercadik yang merupakan alat angkut tertua tetap dikembangkan sebagai alat transportasi serta perdagangan. Bukti adanya kemampuan dan kemajuan berlayar tersebut terpahat pada relief candi Borobudur yang berasal dari kala ke-8.

Relief tersebut melukiskan tiga jenis perahu, yaitu:
1)perahu besar yang bercadik,
2)perahu besar yang tidak bercadik, dan
3)perahu lesung

Bentuk bahtera lesung ialah sampan yang dibentuk dari satu batang kayu yang dikeruk di dalamnya mirip lesung, tetapi bentuknya memanjang. Untuk memperbesar ruangannya, pada dinding bahtera ditempel papan serta diberi cadik pada sisi kanan dan kirinya untuk menjaga keseimbangan. Kapal yang besar pada relief candi Borobudur mempunyai dua tiang layar yang dimiringkan ke depan, sedangkan layer yang digunakan pada zaman itu berbentuk segi empat dengan buritan layar berbentuk segitiga. 

Kemampuan berlayar selanjutnya menjadi dasar dari kemampuan berdagang. Oleh lantaran itu, pada awal Masehi bangsa Indonesia sudah berlayar hingga batas barat Pulau Madagaskar, batas selatan Selandia Baru di timur Pulau Paskah, dan di utara hingga Jepang. Hal ini sanggup terjadi lantaran nenek moyang mempunyai ilmu astronomi, yaitu Bintang Biduk Selatan menjadi petunjuk arah selatan.

b.Kemampuan bersawah
Sistem persawahan mulai dikenal bangsa Indonesia semenjak zaman Neolitikum, yaitu insan hidup menetap. Mereka terdorong untuk mengusahakan sesuatu yang menghasilkan (food producing). Sistem persawahan diawali dari sistem ladang sederhana yang belum banyak memakai teknologi, kemudian meningkat dengan adanya teknologi pengairan hingga lahirlah sistem persawahan. Sistem irigasi dalam bercocok tanam digunakan untuk memenuhi kebutuhan air dengan cara membuat pematang dan susukan air. Cara ini kemudian meningkat menjadi pembuatan terasering di lereng pegunungan, serta pembuatan bendungan atau dam air yang sederhana. Sementara itu, untuk mengerjakan sawah dibuatlah alat-alat dari logam dan membuatkan tanaman biji-bijian, padi, juwawut, serta tanaman kering lainnya.

c.Mengenal astronomi
Pengetahuan astronomi (ilmu perbintangan) sudah dimiliki nenek moyang bangsa Indonesia. Masyarakat Indonesia telah mengenal ilmu pengetahuan dan memanfaatkan teknologi angin demam isu sebagai tenaga aktivis dalam acara pelayaran dan perdagangan. Selain digunakan untuk mengenali musim, ilmu astronomi juga sudah dimanfaatkan sebagai petunjuk arah dalam pelayaran, yaitu Bintang Biduk Selatan dan Bintang Pari (orang Jawa menyebut Lintang Gubug Penceng) untuk menunjuk arah selatan serta Bintang Biduk Utara untuk menyampaikan arah utara. 

Kemampuan astronomi dan angin demam isu ini telah mengantarkan mereka berlayar ke barat hingga di Pulau Madagaskar, ke timur hingga di Pulau Paskah, dan ke selatan hingga di Selandia Baru serta ke arah utara hingga di Kepulauan Jepang. Pengetahuan astronomi juga digunakan dalam pertanian dengan memanfaatkan Bintang Waluku sebagai membuktikan awal demam isu hujan.

d.Sistem mocopat
Sistem mocopat ialah suatu kepercayaan yang didasarkan pada pembagian empat penjuru arah mata angin, yaitu utara, selatan, barat, dan timur. Sistem mocopat dikaitkan dengan pendirian bangunan, sentra kota atau pemerintah (istana), alun-alun, tempat pemujaan, pasar, dan penjara. Peletakan bangunan tersebut dibentuk sketsa bersudut empat di mana setiap sudut mempunyai kemampuan dan kekuatan secara magis. Itulah sebabnya mengapa setiap desa pada zaman kuno selalu diberi sesaji pada waktu-waktu tertentu, bahkan hari pasaran berdasarkan perhitungannya juga dikaitkan dengan sistem mocopat, yaitu
1) arah barat diletakkan pon jatuh hari Senin dan Selasa,

2) arah timur diletakkan legi jatuh hari Jumat,

3) arah selatan diletakkan pahing jatuh hari Sabtu dan Minggu,

4) arah utara diletakkan wage jatuh hari Rabu dan Kamis, dan

5) arah tengah diletakkan kliwon jatuh hari Jumat dan Sabtu.

Makara contoh susunan masyarakat mocopat merupakan suatu kepercayaan dalam menata dan menempatkan suatu bangunan yang bersudut empat, dengan susunan ibu kota sentra pemerintahan terdapat alun-alun di sekitar istana, serta ada bangunan tempat pemujaan, pasar, dan penjara.

Di tempat Tuban, Jawa Timur di masa dahulu masih terdapat model desa penenun
sebagai berikut:

1) Pusat desa usang terdapat di tengah desa (dikelilingi desa) di dalamnya terdapat rumah kepala desa, rumah pencelupan kain, dan rumah ulama.

2) Pusat manajemen berada di belakang rumah kepala desa.

3) Kemudian dikelilingi desa-desa mocopat yang membentuk bulat mengelilingi sentra desa tersebut.
Demikian kaitan antara sistem mocopat dengan religiositas di masa nenek moyang kita.

e.Kesenian wayangKesenian wayang semula berpangkal pada pemujaan roh nenek moyang. Semula wayang diwujudkan sebagai boneka nenek moyang yang dimainkan oleh dalang pada malam hari. Dengan beralaskan tirai dan tata lampu di belakangnya serta boneka yang digerak-gerakkan sehingga terlihat bayangan boneka seperti hidup. Jika dalang kemasukan roh nenek moyang, sang dalang akan menyuarakan bunyi nenek moyang yang berisi nasihat-nasihat kepada anak cucu mereka. 

Setelah kedatangan hinduisme ke nusantara maka kisah nenek  moyang digantikan kisah Ramayana dan Mahabharata. Bonekanya kemudian diganti dengan bentuk tokoh dalam dongeng Mahabharata. Fungsinya
pun beralih sebagai pertunjukan dan penontonnya melihat dari depan tirai. Pada zaman Kediri, muncul kitab Gatotkacasraya yang mulai menampilkan tuhan orisinil Jawa, yakni Punakawan yang berperan berangasan dan dinamis dalam membimbing dan mengawal para Pandawa dari bahaya musuhnya, yakni Kurawa (kitab Gatotkacasraya memuat unsur j4vanisasi).

Pada waktu senggang, nenek moyang yang sudah menetap dan hidup bercocok tanam menyalurkan talenta seninya serta pemujaan sesudah panen dengan pertunjukan wayang. Pertunjukan tersebut untuk memuja Dewi Sri yang telah memberi berkah pertanian. Selain itu, pertunjukan wayang merupakan tontonan yang di dalamnya terdapat nasihat yang berharga.

f.Seni gamelan
Seni gamelan ada kaitannya dengan seni wayang. Seni gamelan ini digunakan untuk mengiringi pertunjukkan wayang. Pada waktu demam isu bercocok tanam sudah usai masyarakat kuno itu membuat alat musik gamelan, membuatkan seni membatik, dan mengadakan pertunjukan wayang semalam suntuk untuk sanggup dilihat oleh masyarakat di sekitarnya.

g.Seni membatikSeni membatik merupakan kerajinan membuat gambar pada kain. Cara menggambarnya mempergunakan alat canting yang diisi materi cairan lilin (orang Jawa menyebutnya malam) yang telah dipanaskan, kemudian dilukiskan pada kain sesuai motifnya.

Bagian kain yang tidak terkena malam/cairan lilin akan menjadi berwarna merah sesudah dimasukkan dalam air soga. Membatik dilakukan untuk mengisi waktu luang bercocok tanam sesudah panen, sekaligus merupakan kegiatan religius, lantaran ada kegiatan membatik tertentu yang dimaksudkan untuk menghormati nenek moyang mereka.

h.Pengaturan masyarakatNenek moyang kita hidup berkelompok. Mereka bersepakat untuk hidup secara bersama, hidup gotong royong, dan demokratis. Mereka menentukan seorang pemimpin yang dianggap sanggup melindungi masyarakat dari banyak sekali gangguan termasuk gangguan roh sehingga seorang pemimpin dianggap mempunyai kesaktian lebih. Cara pemilihan pemimpin yang demikian disebut  primus inter pares, yaitu yang terutama di antara yang banyak.Jadi, seorang pemimpin ialah yang terbaik bagi mereka bersama.

i.Sistem ekonomi dengan mengenal perdagangan 
Kebutuhan hidup insan selalu menuntut untuk dipenuhi. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, masyarakat kuno saling bertukar barang (barter) dari satu wilayah ke wilayah lain. Jadi, dalam hal perdagangan, nenek moyang kita sudah melakukan kegiatan tukar barang dikarenakan mereka belum mengenal uang, nilainya berdasarkan janji bersama.

j.Sistem kepercayaanManusia yang terdiri atas jasmani dan rohani memunculkan suatu kepercayaan bersifat rohani yang kemudian dipersonifikasikan dalam bentuk riil. Sistem kepercayaan masyarakat Indonesia mulai tumbuh pada masa hidup berburu dan mengumpulkan makanan, ini dibuktikan dengan inovasi lukisan dinding gua di Sulawesi Selatan berbentuk cap tangan merah dengan jari-jari yang direntangkan. Lukisan itu diartikan  sebagai sumber kekuatan atau simbol pertolongan untuk mencegah roh jahat. Manusia di zaman hidup bercocok tanam sudah percaya adanya tuhan alam yang membuat banjir, gunung meletus, gempa bumi, dan sebagainya.

Pada zaman perundagian, masyarakat sudah percaya kepada roh nenek moyang.Mereka percaya jiwa dan roh berdiam di kerikil besar, pohon besar, dan sebagainya. Kepercayaan ini pada hasilnya diwariskan kepada kita hingga masa sekarang. Herbert Spencer dan August Comte menerapkan teori evolusi untuk mengkaji masyarakat insan dalam kaitannya dengan religi. Menurut keduanya, semua bangsa di dunia mempunyai suatu bentuk religi. Bentuk religi muncul lantaran insan sadar dan takut akan maut. Bentuk religi tertua ialah penyembahan kepada roh yang merupakan personifikasi dari jiwa orang yang telah meninggal, terutama dari nenek moyangnya yang kemudian berevolusi terhadap pemujaan kepada dewa. Hal ini sesuai dengan pandangan Edward B. Taylor. Ia menyampaikan bahwa tingkat tertua dari evolusi religi ialah pemujaan kepada jiwa orang yang telah  meninggal yang disebut makhluk halus (spirit), yakni jiwa yang telah merdeka, terlepas dari badan jasmani untuk selamanya.
Keyakinan ini disebut animisme.

Jadi, sanggup kita ketahui bahwa tradisi masyarakat Indonesia sebelum mengenal tulisan
adalah sebagai berikut.
a.Organisasi kemasyarakatannya sudah ada, yaitu adanya masyarakat teratur, demokratis,
dan menentukan pemimpinnya dengan primus inter pares dalam bentuk kesukuan. 
b.Kemasyarakatan atau pranata sosialnya ialah masyarakat yang hidup berkelompok
sebagai makhluk sosial, dan bergotong royong. 
c.Memiliki pengetahuan alam, yakni memanfaatkan alam di sekitarnya sebagai wujud peduli dan memelihara alam lingkungannya. 
d.Sudah mengenal sistem persawahan.
e.Kemampuan berlayar dan berdagang dengan memanfaatkan angin musim, bahkan
mereka sudah berani mengarungi maritim luas.
f.Sudah mempunyai teknologi perundagian, yakni pengecoran logam dengan sistem  bivalve dan a cire perdue
g.Sistem kepercayaan pada mulanya  menyembah roh nenek moyang kemudian menyembah dewa. 
h.Sudah mempunyai sistem ekonomi barter.


Sumber http://sejarah10-jt.blogspot.com

✔ Cara Masyarakat Yang Belum Mengenal Goresan Pena Mewariskan Kala Lalunya

Kita menyadari bahwa masyarakat Indonesia ketika ini merupakan kelanjutan dari masyarakat terdahulu yang turun temurun menjadi nenek moyang kita dan telah mewariskan budayanya kepada masyarakat sekarang.

Mereka di masa lampau hidup secara berkelompok, gotong royong, dan adanya pola kepemimpinan yang demokratis dan rasional, yakni primus inter pares. Pola kehidupan masyarakat ketika itu sanggup berkembang hingga masa kini.

Cara mereka dalam mewariskan apa yang mereka miliki dilakukan melalui keluarg dan masyarakat.

a.Melalui keluarga Keluarga 
merupakan lingkup social terkecil, tetapi paling kental dalam hidup kebersamaan. Nilai-nilai dan tatanan kehidupan dibina serta dihidupkan terus menerus melalui keluarga, mulai cara menciptakan alat kebudayaan, bahasa, bahkan unsur upacara-upacara yang kemudian dilestarikan secara turun temurun.

b.Melalui masyarakat

Masyarakat ialah suatu kumpulan insan yang tinggal di suatu tempat dalam jangka waktu yang usang dan menghasilkan kebudayaan. Jadi, masyarakat sanggup dibedakan menurut budaya yang ada dan berkembang di dalamnya.


Masyarakat prasejarah mewariskan masa lalunya melalui benda-benda kebudayaan, baik yang terbuat dari batu, tulang, atau logam. Selain itu, mereka juga meninggalkan jejak-jejak berupa lukisan di dinding gua, sampah dapur, dan gua tempat tinggal. 

Selain peninggalan yang berwujud benda (bersifat konkret), masyarakat praaksara juga meninggalkan budaya tidak berwujud benda (bersifat abstrak). Bentuk-bentuk peninggalannya sanggup berupa sistem religi (kepercayaan) dan budpekerti istiadat (bahasa, seni, upacara-upacara adat, dan sebagainya). Kebudayaan itu ada yang punah, namun ada juga yang tetap dipelihara oleh masyararat. Misalnya, pinjaman sesaji pada tempat-tempat yang dianggap keramat, pertunjukan hiburan rakyat, tata cara perkawinan, kematian, dan perhitungan hari baik.

Berikut metode-metode pewarisan masa kemudian yang dilakukan masyarakat praaksara melalui keluarga dan masyarakat,yaitu:

a.Folklore
Folklore ialah budpekerti istiadat tradisional dan kisah rakyat yang diwariskan secara turun temurun, tetapi belum dibukukan. Ada juga yang mengartikan folklore ialah sebuah kisah yang tokohnya ialah binatang, makhluk hidup di luar manusia, atau personifikasi absurd yang mengambil perwatakan kemanusiaan dan berbicara serta bertingkah menyerupai manusia.

Folklore dibedakan atas folklore mulut dan folklore nonlisan. 
Folklore lisan ialah folklore yang disebarluaskan dan diwariskan dalam bentuk lisan, menyerupai bahasa, teka-teki, dan puisi rakyat. Folklore nonlisan ialah folklore dalam bentuk benda-benda kuno hasil kebudayaan, misalnya, arsitektur rakyat, kerajinan tangan, pakaian, aksesori tradisional, dan obat tradisional.

b.Mitologi
Mitologi ialah kisah rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan bertalian dengan terjadinya tempat, alam semesta, para dewa, budpekerti istiadat, dan konsep dongeng suci. Jadi, mitologi ialah kisah wacana asal-usul alam semesta, manusia, atau bangsa yang diungkapkan dengan cara-cara mistik dan mengandung arti yang dalam.

Setiap suku bangsa di wilayah Nusantara mempunyai mitologi, yang ceritanya dikaitkan dengan kehidupan masyarakat di suatu daerah, misalnya, kisah terjadinya mado-mado atau marga di Nias (Sumatra Utara), kisah barong di Bali, kisah pemindahan Gunung Suci Mahameru di India oleh para yang kuasa ke Gunung Semeru yang dianggap suci oleh orang Jawa dan Bali. Cerita mitologi yang paling luas persebarannya hampir di seluruh Asia Tenggara ialah mitologi Dewi Padi atau Dewi Sri.

c.Legenda
Legenda ialah kisah rakyat yang dianggap benar-benar terjadi yang ceritanya dihubungkan dengan tokoh sejarah, telah dibumbui dengan keajaiban, kesaktian, dan keistimewaan tokohnya.

Legenda ada empat kelompok sebagai berikut:

1)Legenda keagamaan
Di dalam legenda keagamaan banyak kita jumpai kisah-kisah para wali penyebar Islam, misalnya, Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar di Jawa, sedangkan di Bali sanggup kita temui legenda wacana kisah Ratu Calon Arang.

2)Legenda kegaiban
Legenda ini berkisah wacana kepercayaan rakyat pada alam gaib, contohnya kerajaan mistik orang Bunian di rimba raya Sumatra, kerajaan mistik Pajajaran di Jawa Barat, kerajaan mistik Laut Kidul di Jawa Tengah dan Yogyakarta, dan Si Manis Jembatan Ancol dari Jakarta.

3)Legenda perseorangan
Legenda perseorangan menceritakan tokoh tertentu yang dianggap pernah ada dan terjadi, contohnya Sabai nan Aluih dan Si Pahit Lidah dari Sumatra, Si Pitung dan Nyai Dasima dari Jakarta, Lutung Kasarung dari Jawa Barat, Rara Mendut dan Jaka Tingkir dari Jawa Tengah, Suramenggolo dari Jawa Timur, serta Jayaprana dan Layonsari dari Bali.

4)Legenda lokal
Legenda lokal ialah legenda yang bekerjasama dengan nama tempat terjadinya gunung, bukit, danau, dan sebagainya. Misalnya, legenda terjadinya Danau Toba di Sumatra, Sangkuriang (legenda Gunung Tangkuban Parahu) di Jawa Barat, Rara Jonggrang di Yogyakarta dan Jawa Tengah, Ajisaka di Jawa Tengah, dan Desa Trunyan di Bali.

d.Dongeng
Dongeng ialah kisah rakyat yang tidak benar-benar terjadi, diceritakan lantaran berisi petuah,  kebaikan mengalahkan kejahatan, aliran moral, dan petuah bijak lainnya. Ada dongeng hewan (fabel) di Bali yang populer dengan nama tokoh Tantri dan di Jawa ada tokoh Si Kancil. Dongeng insan contohnya Jaka Tarub yang mencuri pakaian bidadari berasal dari Jawa Timur, dongeng Pasir Kumang dari Jawa Barat, dongeng Raja Pala dari Bali, dongeng Meraksamana dari Papua, dongeng Ande-Ande Lumut dan Brambang Bawang dari Jawa Tengah, dan dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih dari Jakarta. Dongeng lucu, contohnya, Si Kabayan dari Jawa Barat, Gasin Meuseukin dari Aceh, dan Singa Rewa dari Kalimantan Tengah.

e.Upacara
Upacara ialah serangkaian tindakan atau perbuatan yang terikat pada hukum tertentu menurut budpekerti istiadat, agama, dan kepercayaan. Jenis upacara dalam kehidupan masyarakat, antara lain, upacara penguburan, upacara perkawinan, dan upacara pengakuan kepala suku.

1)Upacara penguburan
Upacara penguburan merupakan upacara yang dikenal pertama kali dalam kehidupan insan sebelum mengenal tulisan. Upacara penguburan menjadikan kepercayaan bahwa roh orang meninggal akan pergi ke satu tempat tidak jauh dari lingkungan di mana ia pernah tinggal semasa hidupnya. Sewaktu-waktu roh tersebut sanggup dipanggil untuk menolong masyarakat kalau ada ancaman atau kesulitan.

2)Upacara perkawinan
Upacara perkawinan dilaksanakan di tengah masyarakat semenjak dahulu hingga sekarang. Perkawinan sekaligus mempertemukan dan mengawali hubungan dua keluarga yang saling bersahabat. Tiap-tiap tempat mempunyai budpekerti berbeda-beda, menyerupai di tempat Minangkabau menganut garis keturunan matrilineal (garis ibu), sedangkan suku Batak, Bali, Jawa menganut garis patrilineal (garis keturunan laki-laki).

3)Upacara pengakuan kepala suku
Kedudukan kepala suku di masa kemudian ialah besar alasannya ialah ia harus mempunyai kesaktian, keahlian, pengalaman, dan imbas yang besar lengan berkuasa lantaran kepala suku ialah pelindung kelompok sukunya dari banyak sekali ancaman. Kepala suku bahkan dianggap jago dalam upacara pemujaan, upacara penempatan rumah, upacara pembukaan ladang, dan upacara budpekerti lainnya.

f.Lagu-lagu daerah
Lagu-lagu tempat atau lagu rakyat ialah syair-syair yang ditembangkan dengan irama menarik dalam bentuk lisan. Lagu rakyat dikenal dengan sebutan  folksong. Lagu rakyat untuk anak-anak, misalnya, di Jawa Tengah dan Jawa Timur ialah Cublak- Cublak Suweng, Ilir-Ilir, dan Jamuran; di Jawa Barat ialah Cing Cangkeling; di Kalimantan Barat ialah lagu Cik-Cik Periok; di Bali dikenal lagu Meyong-Meyong.

Lagu-lagu rakyat umum, misalnya, lagu Butet dari Batak yang dilantunkan dengan nada sedih, lagu Tenang Tanage dari Manggarai, Flores, dengan nuansa perenungan, dan lagu Kampuang nan Jauh di Mato dari tempat Sumatra Barat. Ada pula nyanyian religius yang dipadukan dengan tarian di tempat Aceh, yaitu Saman dan Seudati, dan di Nias ada lagu Hoho.




Sumber http://sejarah10-jt.blogspot.com

✔ Masyarakat Indonesia Era Aksara

a.Perkembangan sejarah setelah mengenal aksara

Kedatangan nenek moyang bangsa Indonesia dari Yunan ke Nusantara yang melewati jalan barat (melewati Yunan – Malaka – Sumatra – Jawa), serta yang melewati jalur utara Yunan – Formosa – Jepang – Sulawesi Utara dan hingga di Irian/ Papua ternyata membawa imbas besar terhadap perkembangan sejarah kehidupan bangsa Indonesia. Adanya beraneka ragam budaya daerah yang muncul di tengah-tengah perkembangan masyarakat yang masih sanggup dirasakan oleh masyarakat nusantara pada masa kini.

Bangsa Deutero Melayu yang tiba 500 SM ke Nusantara ternyata membawa imbas yang lebih maju daripada pendahulunya. Mereka melalui jalan barat, yakni Yunan – Malaka – Sumatra – Jawa. Mereka hidup di Nusantara dan berkembang sebagai masyarakat yang produktif serta menjadi bangsa Indonesia hingga sekarang. 

Masyarakat Deutero Melayu yang telah bermetamorfosis bangsa Indonesia itu telah mempunyai kemajuan di banyak sekali bidang, antara lain, sebagai berikut:

1)Dalam bidang pemerintahan
mereka menganut asas demokrasi melalui musyawarah untuk memilih pimpinan mereka, bentuk organisasi kemasyarakatan yang ada yaitu kesukuan. Kepala suku dipilih dari orang yang mempunyai kemampuan tertinggi (primus inter pares).

2)Dalam bidang ekonomi, 
usaha untuk memenuhi kebutuhan diupayakan dengan menggunakan ekonomi barang (pertukaran/barter), hidup bersama-sama dalam mengerjakan sawah, berkelompok, dan semua hak milik dipakai bersama.

3)Kepercayaan nenek moyang kita yaitu animisme dan dinamisme.
Keadaan alam Nusantara memaksa mereka harus terpelajar berlayar alasannya Nusantara terdiri atas daerah kepulauan serta adanya tuntutan kebutuhan untuk saling mencukupi. Akhirnya, muncul perdagangan antarpulau dan bermetamorfosis perdagangan antarnegara. Pelayaran lintas maritim telah membawa bangsa Indonesia bisa mengarungi lautan internasional sehingga terciptalah hubungan dagang yang maju, yang melibatkan daerah Nusantara. 

Kita ketahui bahwa kemajuan pelayaran perdagangan antara Cina-India yang melewati daerah Nusantara menyebabkan terjalinnya perdagangan di Nusantara juga, namun imbas India di Nusantara jauh lebih besar. Pengaruh India yang masuk ke Nusantara membawa perkembangan bagi kemajuan hidup masyarakat di Nusantara pada ketika itu dan berkembang hingga sekarang, misalnya, dalam bidang pemerintahan, budaya, sosial, dan kepercayaan.

1)Dalam bidang pemerintahan
Masyarakat Nusantara yang hidup secara berkelompok di masa lalu, ternyata bisa berkembang secara dinamis dengan bentuk kesukuan. Kontak dengan India ternyata membawa imbas positif dalam kehidupan masyarakat terutama dalam pemerintahan. Masyarakat Nusantara yang semula berbentuk kesukuan, dengan masuknya imbas hinduisme ke dalam masyarakat, mengubah bentuk pemerintahannya menjadi bentuk kerajaan.

Kekuasaan raja diberikan secara turun temurun dan tidak dipilih rakyat sehingga rakyat mendapatkan saja. Namun, raja yang lemah niscaya segera jatuh digantikan raja yang lebih bijaksana atau lebih kuat.

2)Dalam bidang budayaKita mengetahui bahwa masuknya budaya India ke Nusantara ternyata memberi semangat bangsa Indonesia untuk berkarya lebih elok dan terarah. Bahkan para raja dan penguasa mulai menuliskan perintah melalui prasasti. Hasil karya budaya Nusantara yang mengagumkan dan mempunyai seni yang tinggi, misalnya, candi Borobudur yang menjadi pujian dunia dan relief pada dinding candi yang melebihi kehebatan orang India. Misalnya, relief Ramayana pada candi Prambanan. Begitu juga munculnya seni sastra yang dihasilkan oleh sastrawan Nusantara menyerupai cerita  Mahabharata dan Ramayana versi Nusantara kitab Gatotkacasraya yang telah memuat unsur j4vanisasi.

3)Dalam bidang sosialPranata sosial di zaman Indonesia-Hindu sudah teratur, sudah ada desa sebagai satu kelompok masyarakat. Penerapan hukum untuk membina masyarakat sudah ada, kehidupan masyarakatnya bersifat gotong royong.

4)Dalam kepercayaan
Nenek moyang yang sudah mempunyai iman orisinil (animisme, dinamisme) mulai mengenal agama Hindu dan Buddha. Sehingga, meskipun telah menyembah Dewa Hindu atau Buddha, mereka tetap bersesaji untuk memuja roh (sesuai keyakinan animisme dan dinamisme).

b.Perkembangan rekaman tertulis
Jejak-jejak masa lampau menjadi materi penting untuk menuliskan kembali sejarah umat manusia. Jejak masa lampau mengandung info yang sanggup dijadikan materi penulisan sejarah. Masa lampau yang hanya meninggalkan jejak-jejak sejarah tersebut menjadi komponen penting dan mengandung info yang sanggup dijadikan materi untuk penulisan sejarah.

Kisah sejarah tersebut disampaikan dari generasi ke generasi dan sanggup dipelihara terus sehingga bisa untuk mengisahkan kembali insiden dari jejak-jejak pada masa lampau.

Jejak sejarah sanggup dibedakan menjadi dua,yaitu:

1)Jejak historis, yaitu jejak sejarah yang berdasarkan sejarawan mempunyai atau mengandung info wacana kejadian-kejadian yang historis sehingga sanggup dipakai untuk menyusun penulisan sejarah.

2)Jejak non historis, yaitu suatu insiden pada masa lampau yang tidak mempunyai nilai sejarah.

Jejak historis yang berwujud goresan pena merupakan rekaman tertulis tradisi masyarakat pada masa lalu. 
Rekaman tertulis di Indonesia terbagi menjadi sumber tertulis sezaman dan setempat, sumber tertulis sezaman tetapi tidak setempat, dan sumber tertulis setempat tidak sezaman.

1)Sumber tertulis sezaman dan setempat
Sumber tertulis sezaman ialah sumber tersebut ditulis oleh orang yang mengalami insiden itu, atau ditulis waktu itu, atau ditulis tidak usang setelah insiden itu terjadi.
Sumber setempat maksudnya yaitu penulisannya di dalam negeri sendiri.
Contoh sumber tertulis sezaman dan setempat yaitu prasasti. Prasasti berarti pengumuman atau proklamasi, semacam perundang-undangan yang memuji raja, dan biasanya berbentuk puisi atau bahasa puisi. Dalam istilah bahasa Inggris disebut enloggistie. Istilah lain untuk prasasti yaitu inscriptie atau piagam. Ilmu yang mempelajari wacana prasasti disebut epigraphy.

Prasasti ada yang terbuat dari watu (disebut Caila Prasasti), dari logam, atau dari watu bata. Wujud prasasti yang berupa watu (Caila Prasasti) terdiri atas:

a)batu biasa (batu kali) disebut natural stone;
b)batu lingga (batu lambang Siwa);
c)pseudo lingga (lingga semu), biasanya berupa watu patok atau watu pembatas;
d)batu yoni (lambang isteri Siwa), biasanya juga disebut lambang wanita.

Adapun prasasti dari logam terbuat dari tembaga, perunggu, atau emas. Prasasti dari perunggu, misalnya, prasasti dari Airlangga, yakni prasasti Calcutta.
Prasasti yang berupa watu bata disebut juga Terra Cotta. Prasasti dari watu bata ini di Indonesia hanya sedikit sekali kita dapatkan. Contohnya yaitu prasasti di candi Sentul.

Berdasarkan bahasa yang digunakan, prasasti dibedakan menjadi empat. 
a)Prasasti berbahasa Sanskerta, misalnya, prasasti Kutai, prasasti Tarumanegara, prasasti Tuk Mas, prasasti Canggal (sumber sejarah Mataram Hindu), Ratu Boko, Kalasan, Kelurak, Plumpungan, dan Dinoyo.

b)Prasasti perpaduan bahasa antara Jawa Kuno dengan Sanskerta, misalnya, prasasti Kedu, prasasti Randusari I dan II, dan prasasti Trowulan I, II, III, IV.

c)Prasasti perpaduan bahasa Melayu Kuno dengan Sanskerta, contohnya prasasti Kota Kapur di Sriwijaya, prasasti Gondosuli, prasasti Dieng, dan prasasti Sajomerto (Pekalongan).

d)Prasasti perpaduan bahasa Bali Kuno dengan Sanskerta.
Prasasti Bali Kuno kebanyakan terdapat di pura atau candi. Prasasti ini dianggap benda suci sehingga hanya diperlihatkan pada waktu upacara oleh para pedande (pendeta). Prasasti di Bali pada umumnya berisi  Raja Casana  atau peraturan dari raja. Pura yang populer di Bali, misalnya, Bangli, Kintamani, dan Sembiran. Ahli prasasti Bali yaitu R. Goris. Beliau mentranskrip prasasti Bali. Di Bali, prasasti yang sudah rusak, hurufnya diduplikasikan kembali dengan istilah "tinulat".Ada ketaknormalan pada prasasti Tugu Sanur. Tinggi prasasti yaitu 1 m, bentuknya agak silinder, tetapi tulisannya sudah rusak. Prasasti ini mempunyai keistimewaan menggunakan huruf Pranagari menggunakan bahasa Bali Kuno, sedangkan yang menggunakan huruf Bali Kuno menggunakan Bahasa  Sanskerta.Artinya, prasasti Tugu Sanur ditulis dengan menggunakan dua bahasa (bilingual).
Secara umum isi prasasti memuat beberapa bagian, antara lain, sebagai berikut.
(a)Penghormatan kepada ilahi dalam agama Hindu biasanya diawali dengan kata Ong Civaya,sedangkan agama Buddha diawali dengan kata Ong nama Buddhaya.
(b) Angka tahun dan penanggalan, dalam penulisannya biasanya diawali dengan permulaan kata-kata: "Swasti Cri Cakawarsatita" yang berarti Selamat Tahun Caka yang sudah berjalan. Penamaan hari dalam satu ahad (tujuh hari) terdiri dari: Raditya (Minggu), Soma (Senin), Anggara (Selasa), Buddha (Rabu), Respati (Kamis), Cakra (Jumat), dan Sanaiswara (Sabtu).
(c) Menyebut nama raja, diawali dengan kata-kata "Tatkala Cri Maharaja Rakai Dyah ..." dan selanjutnya.
(d) Perintah kepada pegawai tinggi, perintah ini biasanya melalui Rakryan Mahapatih dengan istilah "Umingsor ring rakryan Mahapatih ...", jadi raja tidak memberi perintah langsung.
(e) Penetapan daerah sima (daerah bebas pajak), yang telah menolong raja atau menolong orang penting atau telah menolong rakyat banyak, misalnya, daerah penyeberangan sungai.
(f) Sambhada (sebab musabab mengapa suatu daerah dijadikan sima).
(g) Para saksi.
(h) Desa perbatasan sima disebut juga "wanua tpisiring".
(i) Hadiah yang diberikan oleh daerah yang dijadikan sima kepada raja, kepada pendeta, dan para saksi. Jika berupa uang, ukurannya yaitu Su,berarti suwarna atau emas. Ma berarti masa dan Ku berarti kupang {1 su = 16 Ma = 64 Ku atau1 Su = 1 tail = 2 real}, demikianlah ukuran uangnya.
(j) Jalannya upacara.
(k) Tontonan yang diadakan.
(l) Kutukan (sumpah serapah kepada orang yang melanggar peraturan daerah sima).


Pada zaman Islam di Indonesia masih terdapat prasasti, yakni dari zaman Sultan Agung Mataram, antara lain, ditemukan di Jawa Barat berupa tembaga di desa Kandang Sapi atau Tegalwarna daerah Karawang. Prasasti ini menggunakan bahasa Jawa Tengahan, isinya daerah Sumedang dijadikan sima lantaran menjaga lumbung padi.

Amangkurat I dari Mataram juga mengeluarkan prasasti di bersahabat Parangtritis pada sebuah gua. Prasasti ini dibentuk Amangkurat waktu melarikan diri lantaran diserang Trunojoyo. Di situ terdapat Condro Sengkolo"Toya ingasto gono Batara" (toya = 4, asto = 2, gana = 6, Batara = 1) sama dengan 1624 tahun Jawa.

2)Sumber tertulis sezaman tetapi tidak setempat
Sumber ini dimaksudkan ditulis sezaman, tetapi ditulis di luar negeri. Sumber ini biasanya tidak begitu jelas, kebanyakan berasal dari Tiongkok, Arab, Spanyol, dan India. 

Misalnya, kitab Ling Wai Taita karangan Chou Ku Fei pada tahun 1178.
Buku ini menggambarkan kehidupan tata pemerintahan, keadaan istana, dan benteng Kerajaan Kediri. Juga menceritakan kehidupan ningrat pada ketika itu yang menggunakan sepatu kulit, komplemen emas, pakaian sutra, dan menunggang gajah atau kereta, serta pesta air dan perayaan di gunung bagi rakyat. 

Kitab Chu Fang Chi ditulis Chau Ju Kua pada era ke-13, menceritakan di Asia Tenggara tumbuh dua kerajaan besar dan kaya, yaitu di Jawa dan Sriwijaya.

Sumber lain yaitu tambo dinasti Tang dari Cina yang memuat wacana Holing dan Sriwijaya serta tambo dinasti Ming yang membicarakan kemajuan perdagangan zaman Majapahit. Berita Fa Hsien menyebut Tarumanegara atau Jawa dengan sebutan  Yepoti dalam bukunya Fo Kwa Chi. 
Musafir I-Tsing yang pernah tiba di Indonesia (di Sriwijaya dan berguru di sana) menyampaikan bahwa Sriwijaya maju perdagangannya. Kemudian Hwining dalam perjalanannya singgah di Holing dan bekerja sama dengan Jnanabhadra untuk menerjemahkan kitab Hastadandasastra dalam bahasa Sanskerta (mereka berada di Holing selama tiga tahun). Selain itu, banyak juga catatan dari Arab, Spanyol, India, dan Belanda.

3)Sumber tertulis setempat tidak sezaman
Sumber ini ditulis usang setelah insiden terjadi, mungkin sudah berdasarkan dongeng dari lisan ke lisan atau berdasar dongeng rakyat. Misalnya, buku  Babad Tanah Jawi dan kitab Pararaton (walaupun ada babad sezaman, tetapi tidak banyak).



Sumber http://sejarah10-jt.blogspot.com

Senin, 29 Mei 2017

✔ Perkembangan Penulisan Sejarah Di Indonesia

Penulisan dongeng sejarah bukanlah sekadar menyusun dan merangkai fakta-fakta hasil penelitian, melainkan juga memberikan pendirian dan pikiran melalui interpretasi sejarah menurut hasil penelitian. 

Dalam perkembangan selanjutnya penulisan sejarah mengalami kemajuan, yaitu dengan munculnya gagasan gres dalam penulisan sejarah. Setelah Indonesia merdeka sejarah sudah menjadi ilmu yang wajib dipelajari dan diteliti kebenarannya dengan teori dan metode yang modern. Hal ini disebabkan oleh  nation building, yaitu sejarah nasional akan mewujudkan kristalisasi identitas bangsa, serta membudayakan ilmu sejarah dalam masyarakat Indonesia yang menuntut pertumbuhan rakyat, meningkatkan kesejahteraan sejarah wacana perkembangan bangsa-bangsa.

Secara garis besar ada tiga jenis penulisan sejarah (historiografi) Indonesia.yaitu sbb:

a.Penulisan sejarah tradisional (historiografi tradisional) 
Penulisan sejarah tradisional ialah penulisan sejarah yang dimulai dari zaman Hindu hingga masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia. Penulisan sejarah pada zaman ini berpusat pada masalah-masalah pemerintahan dari raja-raja yang berkuasa, bersifat istanasentris yang mengutamakan harapan dan kepentingan raja. 

Penulisan sejarah di zaman Hindu-Buddha pada umumnya ditulis di prasasti dengan tujuan biar generasi penerus sanggup mengetahui insiden di zaman kerajaan pada masa dulu di mana seorang raja memerintah, teladan kitab Arjunawiwaha zaman Erlangga, kitab Panji zaman Kameswara, serta kitab Baratayuda dan Gatotkacasraya di zaman Kediri pada masa Raja Jayabaya. Kitab Gatotkacasraya memuat unsur j4vanisasi, yakni mulai muncul tuhan orisinil Jawa, yaitu Punakawan (Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong).

Walaupun dari segi wajah kurang, tokoh ini bijak dan mempunyai kemampuan yang luar biasa. Setelah agama Islam masuk ke Nusantara maka terjadi proses akulturasi kebudayaan yang menghasilkan bentuk gres dalam penulisan sejarah. 

Bentuk penulisan itu ialah mulai digunakannya kitab sebagai pengganti prasasti, contohnya, Babad Tanah Jawi dan Babad Cirebon. Penulisan insiden yang terjadi pada masa raja-raja Islam ditulis menurut petunjuk raja untuk kepentingan kerajaan, misalkan kitab  Bustanus Salatina. Kitab ini menulis sejarah Aceh, juga berisi kehidupan politik pada masa Islam
di Aceh, kehidupan masyarakat, soal agama Islam, sosial, dan ekonomi. 

Penulisan sejarah tradisional pada umumnya lebih menekankan pada beberapa hal berikut.
  1. Hanya membahas aspek tertentu, misalnya, hanya aspek keturunan  (genealogi saja) atau hanya diutamakan aspek kepercayaan (religius saja).
  2. Hanya membicarakan insiden tertentu yang dianggap penting dan perlu ditanamkan di tengah masyarakatnya untuk kepentingan istana belaka.
  3. Mengedepankan sejarah keturunan dari satu raja kepada raja berikutnya.
  4. Sering sejarah tradisional hanya memuat biografi tokoh-tokoh terkemuka di masa kekuasaannya.
  5. Sejarah tradisional menekankan pada struktur bukan prosesnya.
Jadi, dalam penulisan sejarah tradisional, tradisi masyarakat dan tugas tokoh sangat diutamakan lantaran adanya citra raja kultus dalam penulisannya, menyerupai di zaman Raja Kertanegara. Namun, penulisan sejarah tradisional sangat berarti bagi penelusuran sejarah di masa lalu.

b.Penulisan sejarah kolonial (historiografi kolonial)
Penulisan sejarah kolonial ialah penulisan sejarah yang bersifat eropasentris. Tujuan penulisan ini ialah untuk memperkukuh kekuasaan mereka di Nusantara.

Penulisan sejarah yang berfokus barat ini terang merendahkan derajat bangsa Indonesia dan mengunggulkan derajat bangsa Eropa, misalnya, pemberontakan Diponegoro dan pemberontakan kaum Padri. Tokoh tersebut oleh bangsa Eropa dianggap pemberontak, sedangkan Daendels dianggap sebagai figur yang berguna. Tulisan mereka dianggap sebagai propaganda penjajahan serta pembenaran penjajahan di Indonesia. 

Padahal, kenyataannya ialah penindasan. Akan tetapi, ada juga penulis Eropa yang cukup objektif, misalnya, Dr. Van Leur dengan karya goresan pena Indonesian Trade and Society dan karya Dr. Schrieke,  Indonesia Sociological Studies,  yang memaparkan perdagangan dan masyarakat Nusantara. Dasar ajaran sarjana Belanda tersebut dirumuskan kembali secara sistematik oleh Dr. Sartono Kartodirdjo dengan Pendekatan multidimensional, yaitu pendekatan dalam penulisan sejarah dengan beberapa ilmu sosial, ekonomi, sosiologi, dan antropologi.

c.Penulisan sejarah nasional (historiografi nasional)
Penulisan sejarah nasional ialah penulisan sejarah yang bersifat Indonesia sentris, dengan metodologi sejarah Indonesia dan pendekatan multidimensional. Jadi, penulisannya dilihat dari sisi kepentingan nasional. 

Historiografi nasional dirintis oleh Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo. Dalam historiografi nasional akan terungkap betapa pedihnya keadaan di zaman pergerakan nasional Indonesia oleh penjajahan barat sehingga membangkitkan semangat rakyat untuk merdeka. 

Historiografi nasional juga akan mengungkapkan bagaimana mengisi kemerdekaan Indonesia yang telah teraih pada 17 Agustus 1945 itu biar menjadi negara yang maju dan dihormati bangsa lain.

Dalam perkembangannya, penulisan sejarah di Indonesia pada umumnya bersifat naratif yang mengungkapkan fakta mengenai apa, siapa, kapan, dan di mana serta membuktikan bagaimana itu terjadi. Supaya sejarah sanggup mengikuti perkembangan ilmu lainnya maka harus meminjam konsep ilmu-ilmu sosial dan diuraikan secara sistematis.

Beberapa pendekatan yang dipakai dalam perkembangan penulisan sejarah sebagai berikut.
  1. Pendekatan sosiologi untuk melihat segi sosial insiden yang dikaji, misalnya, golongan masyarakat mana yang memelopori.
  2. Pendekatan antropologi untuk mengungkapkan nilai yang mendasari sikap para tokoh sejarah, status, gaya hidup, dan sistem kepercayaan.
  3. Pendekatan politik untuk menyoroti struktur kekuasaan, jenis kepemimpinan, tingkat sosial, dan kontradiksi kekuasaan.



Sumber http://sejarah10-jt.blogspot.com

Jumat, 26 Mei 2017

✔ Periodisasi Masyarakat Indonesia Era Praaksara

Dari kehidupan masyarakat zaman praaksara, kita mendapat warisan berupa alat- alat dari batu, tulang, kayu, dan logam serta lukisan pada dinding-dinding gua. Masa lampau yang hanya meninggalkan jejak-jejak sejarah tersebut menjadi komponen penting dalam perjuangan menuliskan sejarah kehidupan manusia. Jejak-jejak tersebut mengandung gosip yang sanggup dijadikan materi penulisan sejarah dan akan disampaikan dari generasi ke generasi berikutnya hingga turun temurun. Jejak sejarah yang histories merupakan jejak sejarah yang berdasarkan para andal mempunyai gosip ihwal kejadian-kejadian historis, sehingga sanggup dipergunakan untuk penulisan sejarah.

Jejak historis ada dua, yaitu jejak historis berwujud benda dan jejak historis yang berwujud tulisan.Jejak historis berwujud benda merupakan hasil budaya/tradisi di masa kuno, contohnya tradisi zaman Paleolitikum, Mesolitikum, Neolitikum, Megalitikum, dan Perundagian.

a.Tradisi insan hidup berpindah (zaman Paleolitikum)
Manusia di zaman hidup berpindah termasuk jenis Pithecanthropus. Mereka hidup dari mengumpulkan masakan (food gathering), hidup di gua-gua, masih tampak liar, belum bisa menguasai alam, dan tidak menetap.

Kebudayaan mereka sering disebut kebudayaan Pacitan dan kebudayaan Ngandong. Disebut kebudayaan Pacitan alasannya alat-alat budayanya banyak ditemukan di Pacitan (di Pegunungan Sewu Pantai Selatan Jawa) berupa chopper (kapak penetak) disebut juga kapak genggam. Karena masih terbuat dari kerikil maka disebut stone culture (budaya batu). Alat sejenis juga ditemukan di Parigi (Sulawesi) dan Lahat (Sumatra).

Kebudayaan Ngandong ditemukan di desa Ngandong (daerah Ngawi Jawa Timur) Alatnya ada yang terbuat dari tulang maka disebut  bone culture. Di Ngandong ditemukan juga kapak genggam, benda dari kerikil berupa  flakes dan kerikil indah berwarna yang disebut chalcedon.

b.Peningkatan hidup insan memasuki hidup setengah menetap atau semisedenter  (zaman Mesolitikum)  Mereka sudah mempunyai kemajuan hidup menyerupai adanya  kjokkenmoddinger (sampah kerang)danabris sous roche  (gua tempat tinggal). Alat-alatnya yakni kapak genggam (pebble) disebut juga kapak Sumatra, kapak pendek (hache courte), dan pipisan.

c.Tradisi insan zaman hidup menetap (zaman Neolitikum)
Pada zaman ini, insan sudah mulai food producing, yakni mengusahakan bercocok tanam sederhana dengan mengusahakan ladang.

Jenis tanamannya yakni ubi, talas, padi, dan jelai. Mereka memakai peralatan yang lebih anggun menyerupai beliung persegi atau kapak persegi dan kapak lonjong yang dipergunakan untuk mengerjakan tanah. Kapak persegi ditemukan di Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan Barat, sedangkan di Semenanjung Melayu kapak ini disebut kapak bahu. Kapak lonjong berbentuk lingkaran telur, banyak ditemukan di Sulawesi, Papua, atau kepulauan Indonesia Timur. Alat serpih untuk mata panah dan mata tombak ditemukan di Gua Lawa Sampung (Jawa Timur) dan Cabbenge (Sulawesi Selatan).

Di Malolo (Sumba Timur) ditemukan kendi air. Pada masa ini, terjadi perpindahan penduduk dari daratan Asia (Tonkin di Indocina) ke Nusantara yang kemudian disebut bangsa Proto Melayu pada tahun 1500 SM melalui jalan barat dan jalan utara. Alat yang dipergunakan yakni kapak persegi, beliung persegi, pebble (kapak Sumatra), dan kapak genggam.

Kebudayaan itu oleh Madame Madeleine Colani, andal sejarah Prancis, dinamakan kebudayaan Bacson-Hoabinh. Kepercayaan zaman bercocok tanam yakni menyembah tuhan alam.


d.Tradisi Megalitikum
Pada zaman ini, alat dibentuk dari kerikil besar menyerupai menhir, dolmen, dan sarkofagus. Menhir yakni tugu kerikil besar tempat roh nenek moyang, ditemukan di Sumatra Selatan, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan. Dolmen yakni meja kerikil besar (altar), terdapat di Bondowoso, Jawa Timur. Sarkofagus yakni kubur peti kerikil besar. DiSulawesi, sarkofagus dikenal dengan sebutan waruga.

e.Tradisi zaman perundagian
Setelah hidup menetap, mereka semakin arif menciptakan alat, bahkan dengan kedatangan bangsa Deutero Melayu pada 500 SM, mereka sudah bisa menciptakan alat dari logam (sering disebut budaya Dongson lantaran berasal dari Dongson). Zaman ini disebut zaman kemahiran teknologi. Mereka juga telah mengenal sawah dan sistem pengairan.

Pembuatan gerabah dilakukan masyarakat hingga sekarang, menyerupai di Jawa (Tuban; Gunung Tangkil erat Bogor; desa Anjun erat Pamanukan; Kasongan, Yogyakarta; Bayat Klaten; Gengkuang Garut), di Sumatra (daerah Gayo, Aceh), dan di Papua (desa Abare, Kayu Batu di Teluk Humboldt).

 Jenis benda logam yang dibentuk di Indonesia pada zaman ini, antara lain, sebagai berikut.

1) Nekara, yaitu semacam tambur besar yang ditemukan di Bali, Roti, Alor, Kei, dan Papua.

2)Kapak corong, disebut demikian lantaran bab tangkainya berbentuk corong. Sebutan lainnya yakni kapak sepatu. Benda ini dipergunakan untuk upacara. Banyak ditemukan di Makassar, Jawa, Bali, Pulau Selayar, dan Papua.

3)Arca perunggu, ditemukan di tempat Bangkinang, Riau, dan Limbangan, Bogor. Selain itu, ada embel-embel perunggu, benda besi, dan manik-manik. Kepercayaan di zaman perundagian yakni menyembah roh nenek moyang (animisme).


Sumber http://sejarah10-jt.blogspot.com

Kamis, 18 Mei 2017

✔ Ciri-Ciri Masyarakat Praaksara

Setelah nenek moyang kita tiba di Nusantara dan menetap, mereka meninggalkan tradisi, hukum kemasyarakatan, serta religi yang ditaati oleh  mereka dan anak keturunannya. Tradisi tersebut diwariskan kepada masyarakat hingga kini ini.
Kemampuan nenek moyang kita sebelum mengenal goresan pena dan sebelum terpengaruh budaya Hindu-Buddha oleh Brandes dikelompokkan sebagai berikut:

a.Kemampuan berlayar

Nenek moyang bangsa Indonesia tiba dari Yunan sebelum Masehi. Mereka sudah pandai mengarungi maritim dan harus memakai bahtera untuk hingga di Indonesia. Kemampuan berlayar ini dikembangkan di tanah baru, yaitu di Nusantara, mengingat kondisi geografi di Nusantara terdiri banyak pulau. Kondisi ini mengharuskan memakai bahtera untuk mencapai kepulauan lainnya.

Salah satu ciri bahtera yang dipergunakan nenek moyang kita ialah bahtera cadik, yaitu bahtera yang memakai alat dari bambu atau kayu yang dipasang di kanan kiri perahu.
Pembuatan bahtera biasanya dilakukan secara bersama-sama oleh kaum laki-laki. Setelah masa perundagian, acara pelayaran juga semakin meningkat. Perahu bercadik yang merupakan alat angkut tertua tetap dikembangkan sebagai alat transportasi serta perdagangan. Bukti adanya kemampuan dan kemajuan berlayar tersebut terpahat pada relief candi Borobudur yang berasal dari kala ke-8.

Relief tersebut melukiskan tiga jenis perahu, yaitu:
1)perahu besar yang bercadik,
2)perahu besar yang tidak bercadik, dan
3)perahu lesung

Bentuk bahtera lesung ialah sampan yang dibentuk dari satu batang kayu yang dikeruk di dalamnya mirip lesung, tetapi bentuknya memanjang. Untuk memperbesar ruangannya, pada dinding bahtera ditempel papan serta diberi cadik pada sisi kanan dan kirinya untuk menjaga keseimbangan. Kapal yang besar pada relief candi Borobudur mempunyai dua tiang layar yang dimiringkan ke depan, sedangkan layer yang digunakan pada zaman itu berbentuk segi empat dengan buritan layar berbentuk segitiga. 

Kemampuan berlayar selanjutnya menjadi dasar dari kemampuan berdagang. Oleh lantaran itu, pada awal Masehi bangsa Indonesia sudah berlayar hingga batas barat Pulau Madagaskar, batas selatan Selandia Baru di timur Pulau Paskah, dan di utara hingga Jepang. Hal ini sanggup terjadi lantaran nenek moyang mempunyai ilmu astronomi, yaitu Bintang Biduk Selatan menjadi petunjuk arah selatan.

b.Kemampuan bersawah
Sistem persawahan mulai dikenal bangsa Indonesia semenjak zaman Neolitikum, yaitu insan hidup menetap. Mereka terdorong untuk mengusahakan sesuatu yang menghasilkan (food producing). Sistem persawahan diawali dari sistem ladang sederhana yang belum banyak memakai teknologi, kemudian meningkat dengan adanya teknologi pengairan hingga lahirlah sistem persawahan. Sistem irigasi dalam bercocok tanam digunakan untuk memenuhi kebutuhan air dengan cara membuat pematang dan susukan air. Cara ini kemudian meningkat menjadi pembuatan terasering di lereng pegunungan, serta pembuatan bendungan atau dam air yang sederhana. Sementara itu, untuk mengerjakan sawah dibuatlah alat-alat dari logam dan membuatkan tanaman biji-bijian, padi, juwawut, serta tanaman kering lainnya.

c.Mengenal astronomi
Pengetahuan astronomi (ilmu perbintangan) sudah dimiliki nenek moyang bangsa Indonesia. Masyarakat Indonesia telah mengenal ilmu pengetahuan dan memanfaatkan teknologi angin demam isu sebagai tenaga aktivis dalam acara pelayaran dan perdagangan. Selain digunakan untuk mengenali musim, ilmu astronomi juga sudah dimanfaatkan sebagai petunjuk arah dalam pelayaran, yaitu Bintang Biduk Selatan dan Bintang Pari (orang Jawa menyebut Lintang Gubug Penceng) untuk menunjuk arah selatan serta Bintang Biduk Utara untuk menyampaikan arah utara. 

Kemampuan astronomi dan angin demam isu ini telah mengantarkan mereka berlayar ke barat hingga di Pulau Madagaskar, ke timur hingga di Pulau Paskah, dan ke selatan hingga di Selandia Baru serta ke arah utara hingga di Kepulauan Jepang. Pengetahuan astronomi juga digunakan dalam pertanian dengan memanfaatkan Bintang Waluku sebagai membuktikan awal demam isu hujan.

d.Sistem mocopat
Sistem mocopat ialah suatu kepercayaan yang didasarkan pada pembagian empat penjuru arah mata angin, yaitu utara, selatan, barat, dan timur. Sistem mocopat dikaitkan dengan pendirian bangunan, sentra kota atau pemerintah (istana), alun-alun, tempat pemujaan, pasar, dan penjara. Peletakan bangunan tersebut dibentuk sketsa bersudut empat di mana setiap sudut mempunyai kemampuan dan kekuatan secara magis. Itulah sebabnya mengapa setiap desa pada zaman kuno selalu diberi sesaji pada waktu-waktu tertentu, bahkan hari pasaran berdasarkan perhitungannya juga dikaitkan dengan sistem mocopat, yaitu
1) arah barat diletakkan pon jatuh hari Senin dan Selasa,

2) arah timur diletakkan legi jatuh hari Jumat,

3) arah selatan diletakkan pahing jatuh hari Sabtu dan Minggu,

4) arah utara diletakkan wage jatuh hari Rabu dan Kamis, dan

5) arah tengah diletakkan kliwon jatuh hari Jumat dan Sabtu.

Makara contoh susunan masyarakat mocopat merupakan suatu kepercayaan dalam menata dan menempatkan suatu bangunan yang bersudut empat, dengan susunan ibu kota sentra pemerintahan terdapat alun-alun di sekitar istana, serta ada bangunan tempat pemujaan, pasar, dan penjara.

Di tempat Tuban, Jawa Timur di masa dahulu masih terdapat model desa penenun
sebagai berikut:

1) Pusat desa usang terdapat di tengah desa (dikelilingi desa) di dalamnya terdapat rumah kepala desa, rumah pencelupan kain, dan rumah ulama.

2) Pusat manajemen berada di belakang rumah kepala desa.

3) Kemudian dikelilingi desa-desa mocopat yang membentuk bulat mengelilingi sentra desa tersebut.
Demikian kaitan antara sistem mocopat dengan religiositas di masa nenek moyang kita.

e.Kesenian wayangKesenian wayang semula berpangkal pada pemujaan roh nenek moyang. Semula wayang diwujudkan sebagai boneka nenek moyang yang dimainkan oleh dalang pada malam hari. Dengan beralaskan tirai dan tata lampu di belakangnya serta boneka yang digerak-gerakkan sehingga terlihat bayangan boneka seperti hidup. Jika dalang kemasukan roh nenek moyang, sang dalang akan menyuarakan bunyi nenek moyang yang berisi nasihat-nasihat kepada anak cucu mereka. 

Setelah kedatangan hinduisme ke nusantara maka kisah nenek  moyang digantikan kisah Ramayana dan Mahabharata. Bonekanya kemudian diganti dengan bentuk tokoh dalam dongeng Mahabharata. Fungsinya
pun beralih sebagai pertunjukan dan penontonnya melihat dari depan tirai. Pada zaman Kediri, muncul kitab Gatotkacasraya yang mulai menampilkan tuhan orisinil Jawa, yakni Punakawan yang berperan berangasan dan dinamis dalam membimbing dan mengawal para Pandawa dari bahaya musuhnya, yakni Kurawa (kitab Gatotkacasraya memuat unsur j4vanisasi).

Pada waktu senggang, nenek moyang yang sudah menetap dan hidup bercocok tanam menyalurkan talenta seninya serta pemujaan sesudah panen dengan pertunjukan wayang. Pertunjukan tersebut untuk memuja Dewi Sri yang telah memberi berkah pertanian. Selain itu, pertunjukan wayang merupakan tontonan yang di dalamnya terdapat nasihat yang berharga.

f.Seni gamelan
Seni gamelan ada kaitannya dengan seni wayang. Seni gamelan ini digunakan untuk mengiringi pertunjukkan wayang. Pada waktu demam isu bercocok tanam sudah usai masyarakat kuno itu membuat alat musik gamelan, membuatkan seni membatik, dan mengadakan pertunjukan wayang semalam suntuk untuk sanggup dilihat oleh masyarakat di sekitarnya.

g.Seni membatikSeni membatik merupakan kerajinan membuat gambar pada kain. Cara menggambarnya mempergunakan alat canting yang diisi materi cairan lilin (orang Jawa menyebutnya malam) yang telah dipanaskan, kemudian dilukiskan pada kain sesuai motifnya.

Bagian kain yang tidak terkena malam/cairan lilin akan menjadi berwarna merah sesudah dimasukkan dalam air soga. Membatik dilakukan untuk mengisi waktu luang bercocok tanam sesudah panen, sekaligus merupakan kegiatan religius, lantaran ada kegiatan membatik tertentu yang dimaksudkan untuk menghormati nenek moyang mereka.

h.Pengaturan masyarakatNenek moyang kita hidup berkelompok. Mereka bersepakat untuk hidup secara bersama, hidup gotong royong, dan demokratis. Mereka menentukan seorang pemimpin yang dianggap sanggup melindungi masyarakat dari banyak sekali gangguan termasuk gangguan roh sehingga seorang pemimpin dianggap mempunyai kesaktian lebih. Cara pemilihan pemimpin yang demikian disebut  primus inter pares, yaitu yang terutama di antara yang banyak.Jadi, seorang pemimpin ialah yang terbaik bagi mereka bersama.

i.Sistem ekonomi dengan mengenal perdagangan 
Kebutuhan hidup insan selalu menuntut untuk dipenuhi. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, masyarakat kuno saling bertukar barang (barter) dari satu wilayah ke wilayah lain. Jadi, dalam hal perdagangan, nenek moyang kita sudah melakukan kegiatan tukar barang dikarenakan mereka belum mengenal uang, nilainya berdasarkan janji bersama.

j.Sistem kepercayaanManusia yang terdiri atas jasmani dan rohani memunculkan suatu kepercayaan bersifat rohani yang kemudian dipersonifikasikan dalam bentuk riil. Sistem kepercayaan masyarakat Indonesia mulai tumbuh pada masa hidup berburu dan mengumpulkan makanan, ini dibuktikan dengan inovasi lukisan dinding gua di Sulawesi Selatan berbentuk cap tangan merah dengan jari-jari yang direntangkan. Lukisan itu diartikan  sebagai sumber kekuatan atau simbol pertolongan untuk mencegah roh jahat. Manusia di zaman hidup bercocok tanam sudah percaya adanya tuhan alam yang membuat banjir, gunung meletus, gempa bumi, dan sebagainya.

Pada zaman perundagian, masyarakat sudah percaya kepada roh nenek moyang.Mereka percaya jiwa dan roh berdiam di kerikil besar, pohon besar, dan sebagainya. Kepercayaan ini pada hasilnya diwariskan kepada kita hingga masa sekarang. Herbert Spencer dan August Comte menerapkan teori evolusi untuk mengkaji masyarakat insan dalam kaitannya dengan religi. Menurut keduanya, semua bangsa di dunia mempunyai suatu bentuk religi. Bentuk religi muncul lantaran insan sadar dan takut akan maut. Bentuk religi tertua ialah penyembahan kepada roh yang merupakan personifikasi dari jiwa orang yang telah meninggal, terutama dari nenek moyangnya yang kemudian berevolusi terhadap pemujaan kepada dewa. Hal ini sesuai dengan pandangan Edward B. Taylor. Ia menyampaikan bahwa tingkat tertua dari evolusi religi ialah pemujaan kepada jiwa orang yang telah  meninggal yang disebut makhluk halus (spirit), yakni jiwa yang telah merdeka, terlepas dari badan jasmani untuk selamanya.
Keyakinan ini disebut animisme.

Jadi, sanggup kita ketahui bahwa tradisi masyarakat Indonesia sebelum mengenal tulisan
adalah sebagai berikut.
a.Organisasi kemasyarakatannya sudah ada, yaitu adanya masyarakat teratur, demokratis,
dan menentukan pemimpinnya dengan primus inter pares dalam bentuk kesukuan. 
b.Kemasyarakatan atau pranata sosialnya ialah masyarakat yang hidup berkelompok
sebagai makhluk sosial, dan bergotong royong. 
c.Memiliki pengetahuan alam, yakni memanfaatkan alam di sekitarnya sebagai wujud peduli dan memelihara alam lingkungannya. 
d.Sudah mengenal sistem persawahan.
e.Kemampuan berlayar dan berdagang dengan memanfaatkan angin musim, bahkan
mereka sudah berani mengarungi maritim luas.
f.Sudah mempunyai teknologi perundagian, yakni pengecoran logam dengan sistem  bivalve dan a cire perdue
g.Sistem kepercayaan pada mulanya  menyembah roh nenek moyang kemudian menyembah dewa. 
h.Sudah mempunyai sistem ekonomi barter.


Sumber http://sejarah10-jt.blogspot.com

✔ Cara Masyarakat Yang Belum Mengenal Goresan Pena Mewariskan Kala Lalunya

Kita menyadari bahwa masyarakat Indonesia ketika ini merupakan kelanjutan dari masyarakat terdahulu yang turun temurun menjadi nenek moyang kita dan telah mewariskan budayanya kepada masyarakat sekarang.

Mereka di masa lampau hidup secara berkelompok, gotong royong, dan adanya pola kepemimpinan yang demokratis dan rasional, yakni primus inter pares. Pola kehidupan masyarakat ketika itu sanggup berkembang hingga masa kini.

Cara mereka dalam mewariskan apa yang mereka miliki dilakukan melalui keluarg dan masyarakat.

a.Melalui keluarga Keluarga 
merupakan lingkup social terkecil, tetapi paling kental dalam hidup kebersamaan. Nilai-nilai dan tatanan kehidupan dibina serta dihidupkan terus menerus melalui keluarga, mulai cara menciptakan alat kebudayaan, bahasa, bahkan unsur upacara-upacara yang kemudian dilestarikan secara turun temurun.

b.Melalui masyarakat

Masyarakat ialah suatu kumpulan insan yang tinggal di suatu tempat dalam jangka waktu yang usang dan menghasilkan kebudayaan. Jadi, masyarakat sanggup dibedakan menurut budaya yang ada dan berkembang di dalamnya.


Masyarakat prasejarah mewariskan masa lalunya melalui benda-benda kebudayaan, baik yang terbuat dari batu, tulang, atau logam. Selain itu, mereka juga meninggalkan jejak-jejak berupa lukisan di dinding gua, sampah dapur, dan gua tempat tinggal. 

Selain peninggalan yang berwujud benda (bersifat konkret), masyarakat praaksara juga meninggalkan budaya tidak berwujud benda (bersifat abstrak). Bentuk-bentuk peninggalannya sanggup berupa sistem religi (kepercayaan) dan budpekerti istiadat (bahasa, seni, upacara-upacara adat, dan sebagainya). Kebudayaan itu ada yang punah, namun ada juga yang tetap dipelihara oleh masyararat. Misalnya, pinjaman sesaji pada tempat-tempat yang dianggap keramat, pertunjukan hiburan rakyat, tata cara perkawinan, kematian, dan perhitungan hari baik.

Berikut metode-metode pewarisan masa kemudian yang dilakukan masyarakat praaksara melalui keluarga dan masyarakat,yaitu:

a.Folklore
Folklore ialah budpekerti istiadat tradisional dan kisah rakyat yang diwariskan secara turun temurun, tetapi belum dibukukan. Ada juga yang mengartikan folklore ialah sebuah kisah yang tokohnya ialah binatang, makhluk hidup di luar manusia, atau personifikasi absurd yang mengambil perwatakan kemanusiaan dan berbicara serta bertingkah menyerupai manusia.

Folklore dibedakan atas folklore mulut dan folklore nonlisan. 
Folklore lisan ialah folklore yang disebarluaskan dan diwariskan dalam bentuk lisan, menyerupai bahasa, teka-teki, dan puisi rakyat. Folklore nonlisan ialah folklore dalam bentuk benda-benda kuno hasil kebudayaan, misalnya, arsitektur rakyat, kerajinan tangan, pakaian, aksesori tradisional, dan obat tradisional.

b.Mitologi
Mitologi ialah kisah rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan bertalian dengan terjadinya tempat, alam semesta, para dewa, budpekerti istiadat, dan konsep dongeng suci. Jadi, mitologi ialah kisah wacana asal-usul alam semesta, manusia, atau bangsa yang diungkapkan dengan cara-cara mistik dan mengandung arti yang dalam.

Setiap suku bangsa di wilayah Nusantara mempunyai mitologi, yang ceritanya dikaitkan dengan kehidupan masyarakat di suatu daerah, misalnya, kisah terjadinya mado-mado atau marga di Nias (Sumatra Utara), kisah barong di Bali, kisah pemindahan Gunung Suci Mahameru di India oleh para yang kuasa ke Gunung Semeru yang dianggap suci oleh orang Jawa dan Bali. Cerita mitologi yang paling luas persebarannya hampir di seluruh Asia Tenggara ialah mitologi Dewi Padi atau Dewi Sri.

c.Legenda
Legenda ialah kisah rakyat yang dianggap benar-benar terjadi yang ceritanya dihubungkan dengan tokoh sejarah, telah dibumbui dengan keajaiban, kesaktian, dan keistimewaan tokohnya.

Legenda ada empat kelompok sebagai berikut:

1)Legenda keagamaan
Di dalam legenda keagamaan banyak kita jumpai kisah-kisah para wali penyebar Islam, misalnya, Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar di Jawa, sedangkan di Bali sanggup kita temui legenda wacana kisah Ratu Calon Arang.

2)Legenda kegaiban
Legenda ini berkisah wacana kepercayaan rakyat pada alam gaib, contohnya kerajaan mistik orang Bunian di rimba raya Sumatra, kerajaan mistik Pajajaran di Jawa Barat, kerajaan mistik Laut Kidul di Jawa Tengah dan Yogyakarta, dan Si Manis Jembatan Ancol dari Jakarta.

3)Legenda perseorangan
Legenda perseorangan menceritakan tokoh tertentu yang dianggap pernah ada dan terjadi, contohnya Sabai nan Aluih dan Si Pahit Lidah dari Sumatra, Si Pitung dan Nyai Dasima dari Jakarta, Lutung Kasarung dari Jawa Barat, Rara Mendut dan Jaka Tingkir dari Jawa Tengah, Suramenggolo dari Jawa Timur, serta Jayaprana dan Layonsari dari Bali.

4)Legenda lokal
Legenda lokal ialah legenda yang bekerjasama dengan nama tempat terjadinya gunung, bukit, danau, dan sebagainya. Misalnya, legenda terjadinya Danau Toba di Sumatra, Sangkuriang (legenda Gunung Tangkuban Parahu) di Jawa Barat, Rara Jonggrang di Yogyakarta dan Jawa Tengah, Ajisaka di Jawa Tengah, dan Desa Trunyan di Bali.

d.Dongeng
Dongeng ialah kisah rakyat yang tidak benar-benar terjadi, diceritakan lantaran berisi petuah,  kebaikan mengalahkan kejahatan, aliran moral, dan petuah bijak lainnya. Ada dongeng hewan (fabel) di Bali yang populer dengan nama tokoh Tantri dan di Jawa ada tokoh Si Kancil. Dongeng insan contohnya Jaka Tarub yang mencuri pakaian bidadari berasal dari Jawa Timur, dongeng Pasir Kumang dari Jawa Barat, dongeng Raja Pala dari Bali, dongeng Meraksamana dari Papua, dongeng Ande-Ande Lumut dan Brambang Bawang dari Jawa Tengah, dan dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih dari Jakarta. Dongeng lucu, contohnya, Si Kabayan dari Jawa Barat, Gasin Meuseukin dari Aceh, dan Singa Rewa dari Kalimantan Tengah.

e.Upacara
Upacara ialah serangkaian tindakan atau perbuatan yang terikat pada hukum tertentu menurut budpekerti istiadat, agama, dan kepercayaan. Jenis upacara dalam kehidupan masyarakat, antara lain, upacara penguburan, upacara perkawinan, dan upacara pengakuan kepala suku.

1)Upacara penguburan
Upacara penguburan merupakan upacara yang dikenal pertama kali dalam kehidupan insan sebelum mengenal tulisan. Upacara penguburan menjadikan kepercayaan bahwa roh orang meninggal akan pergi ke satu tempat tidak jauh dari lingkungan di mana ia pernah tinggal semasa hidupnya. Sewaktu-waktu roh tersebut sanggup dipanggil untuk menolong masyarakat kalau ada ancaman atau kesulitan.

2)Upacara perkawinan
Upacara perkawinan dilaksanakan di tengah masyarakat semenjak dahulu hingga sekarang. Perkawinan sekaligus mempertemukan dan mengawali hubungan dua keluarga yang saling bersahabat. Tiap-tiap tempat mempunyai budpekerti berbeda-beda, menyerupai di tempat Minangkabau menganut garis keturunan matrilineal (garis ibu), sedangkan suku Batak, Bali, Jawa menganut garis patrilineal (garis keturunan laki-laki).

3)Upacara pengakuan kepala suku
Kedudukan kepala suku di masa kemudian ialah besar alasannya ialah ia harus mempunyai kesaktian, keahlian, pengalaman, dan imbas yang besar lengan berkuasa lantaran kepala suku ialah pelindung kelompok sukunya dari banyak sekali ancaman. Kepala suku bahkan dianggap jago dalam upacara pemujaan, upacara penempatan rumah, upacara pembukaan ladang, dan upacara budpekerti lainnya.

f.Lagu-lagu daerah
Lagu-lagu tempat atau lagu rakyat ialah syair-syair yang ditembangkan dengan irama menarik dalam bentuk lisan. Lagu rakyat dikenal dengan sebutan  folksong. Lagu rakyat untuk anak-anak, misalnya, di Jawa Tengah dan Jawa Timur ialah Cublak- Cublak Suweng, Ilir-Ilir, dan Jamuran; di Jawa Barat ialah Cing Cangkeling; di Kalimantan Barat ialah lagu Cik-Cik Periok; di Bali dikenal lagu Meyong-Meyong.

Lagu-lagu rakyat umum, misalnya, lagu Butet dari Batak yang dilantunkan dengan nada sedih, lagu Tenang Tanage dari Manggarai, Flores, dengan nuansa perenungan, dan lagu Kampuang nan Jauh di Mato dari tempat Sumatra Barat. Ada pula nyanyian religius yang dipadukan dengan tarian di tempat Aceh, yaitu Saman dan Seudati, dan di Nias ada lagu Hoho.




Sumber http://sejarah10-jt.blogspot.com