Tampilkan postingan dengan label Prinsip Dasar Penelitian Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prinsip Dasar Penelitian Sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Mei 2017

✔ Langkah-Langkah Penelitian Sejarah

1.Heuristik

Heuristik berasal dari kata Yunani,  heuriskein, artinya menemukan. Heuristik, maksudnya yaitu tahap untuk mencari, menemukan, dan mengumpulkan sumber-sumber banyak sekali data semoga sanggup mengetahui segala bentuk insiden atau insiden sejarah  masa lampau yang relevan dengan topik/judul penelitian.

Untuk melacak sumber tersebut, sejarawan harus sanggup mencari di banyak sekali dokumen baik melalui metode kepustakaan atau arsip nasional. Sejarawan sanggup juga mengunjungi situs sejarah atau melaksanakan wawancara untuk melengkapi data sehingga diperoleh data yang baik dan lengkap, serta sanggup menunjang terwujudnya sejarah yang mendekati kebenaran. Masa lampau yang begitu banyak periode dan banyak bagian-bagiannya (seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya) mempunyai sumber data yang juga beraneka ragam sehingga perlu adanya pembagian terstruktur mengenai data dari banyaknya sumber tersebut.

Dokumen-dokumen yang berhasil dihimpun merupakan data yang sangat berharga Dokumen sanggup menjadi dasar untuk menelusuri peristiwa-peristiwa sejarah yang telah terjadi pada masa lampau.

Menurut sifatnya ada dua, yaitu sumber primer dan sumber sekunder. 
  1. Sumber primer yaitu sumber yang dibentuk pada ketika insiden terjadi, menyerupai dokumen laporan kolonial. Sumber primer dibentuk oleh tangan pertama.
  2. sumber sekunder merupakan sumber yang memakai sumber primer sebagai sumber utamanya. Jadi, dibentuk oleh tangan atau pihak kedua.Contohnya, buku, skripsi, dan tesis
Jika kita mendapat sumber tertulis, kita akan mendapat sumber tertulis sezaman dan setempat yang mempunyai kadar kebenaran yang relatif tinggi, serta sumber tertulis tidak sezaman dan tidak setempat yang memerlukan kejelian para penelitinya. Dari sumber yang ditemukan itu, sejarawan melaksanakan penelitian. 

Tanpa adanya sumber sejarah, sejarawan akan mengalami kesulitan menemukan jejak-jejak sejarah dalam kehidupan manusia. Untuk sumber lisan, pemilihan sumber didasarkan pada pelaku atau saksi mata suatu kejadian. Narasumber verbal yang hanya mendengar atau tidak hidup sezaman dengan insiden tidak bisa dijadikan narasumber lisan.


2.Verifikasi

Verifikasi yaitu penilaian terhadap sumber-sumber sejarah. Verifikasi dalam sejarah mempunyai arti investigasi terhadap kebenaran laporan wacana suatu insiden sejarah.

Penilaian terhadap sumber-sumber sejarah menyangkut aspek ekstern dan intern. 

  1. Aspek ekstern mempersoalkan apakah sumber itu orisinil atau palsu sehingga sejarawan harus bisa menguji wacana keakuratan dokumen sejarah tersebut, misalnya, waktu pembuatan dokumen, bahan, atau materi dokumen. 
  2. Aspek intern mempersoalkan apakah isi yang terdapat dalam sumber itu sanggup memperlihatkan informasi yang diperlukan. Dalam hal ini,aspek intern berupa proses analisis terhadap suatu dokumen.
Aspek ekstern harus sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

a.Apakah sumber itu merupakan sumber yang dikehendaki (autentitas)?
b.Apakah sumber itu orisinil atau turunan (orisinalitas)?
c.Apakah sumber itu masih utuh atau sudah diubah (soal integritas)?

Setelah ada kepastian bahwa sumber itu merupakan sumber yang benar diharapkan dalam bentuk orisinil dan masih utuh, maka dilakukan kritik intern.

Kritik intern dilakukan untuk mengambarkan bahwa informasi yang terkandung di dalam sumber itu sanggup dipercaya, dengan evaluasi intrinsik terhadap sumber dan dengan membandingkan kesaksian-kesaksian banyak sekali sumber.

Langkah pertama dalam penilain intrinsik yaitu memilih sifat sumber itu (apakah resmi/formal atau tidak resmi/informal). Dalam penelitian sejarah, sumber tidak resmi/informal dinilai lebih berharga daripada sumber resmi alasannya yaitu sumber tidak resmi bukan dimaksudkan untuk dibaca orang banyak (untuk kalangan bebas) sehingga isinya bersifat apa adanya, terus terang, tidak banyak yang disembunyikan, dan objektif.

Langkah kedua dalam evaluasi intrinsik yaitu menyoroti penulis sumber tersebut alasannya yaitu ia yang memperlihatkan informasi yang dibutuhkan. Pembuatan sumber harus dipastikan bahwa kesaksiannya sanggup dipercaya. Untuk itu, harus bisa memperlihatkan kesaksian yang benar dan harus sanggup menjelaskan mengapa ia menutupi (merahasiakan) suatu peristiwa, atau sebaliknya melebih-lebihkan lantaran ia berkepentingan di dalamnya.

Langkah ketiga dalam evaluasi intrinsik yaitu membandingkan  kesaksian dari banyak sekali sumber dengan menjajarkan kesaksian para saksi yang tidak berafiliasi satu dan yang lain (independent witness) sehingga informasi yang diperoleh objektif. Contohnya yaitu terjadinya insiden Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta.

Sumber-sumber yang diakui kebenarannya lewat verifikasi atau kritik, baik intern maupun ekstern, menjadi fakta. Fakta yaitu keterangan wacana sumber yang dianggap benar oleh sejarawan atau peneliti sejarah. Fakta bisa saja diartikan sebagai sumber-sumber yang terpilih.


3.Interpretasi

Interpretasi yaitu menafsirkan fakta sejarah dan merangkai fakta tersebut menjadi satu kesatuan yang serasi dan masuk akal. Interpretasi dalam sejarah sanggup juga diartikan sebagai penafsiran suatu insiden atau memperlihatkan pandangan teoritis terhadap suatu peristiwa. 

Sejarah sebagai suatu insiden sanggup diungkap kembali oleh para sejarawan melalui banyak sekali sumber, baik berbentuk data, dokumen perpustakaan, buku, berkunjung ke situs-situs sejarah atau wawancara, sehingga sanggup terkumpul dan mendukung dalam proses interpretasi.

Dengan demikian, sesudah kritik selesai maka langkah berikutnya yaitu melaksanakan interpretasi atau penafsiran dan analisis terhadap data yang diperoleh dari banyak sekali sumber.

Interpretasi dalam sejarah yaitu penafsiran terhadap suatu peristiwa, fakta sejarah, dan merangkai suatu fakta dalam kesatuan yang masuk akal. Penafsiran fakta harus bersifat logis terhadap keseluruhan konteks insiden sehingga banyak sekali fakta yang lepas satu sama lainnya sanggup disusun dan dihubungkan menjadi satu kesatuan yang masuk akal.

Bagi kalangan akademis, semoga sanggup menginterpretasi fakta dengan kejelasan yang objektif, harus dihindari penafsiran yang semena-mena lantaran biasanya cenderung bersifat subjektif. Selain itu, interpretasi harus bersifat deskriptif sehingga para akademisi juga dituntut untuk mencari landasan interpretasi yang mereka gunakan. 

Proses interpretasi juga harus bersifat selektif alasannya yaitu mustahil semua fakta dimasukkan ke dalam kisah sejarah, sehingga harus dipilih yang relevan dengan topik yang ada dan mendukung kebenaran sejarah.

4.Historiografi

Historiografi yaitu penulisan sejarah.
Historiografi merupakan tahap terakhir dari acara penelitian untuk penulisan sejarah. Menulis kisah sejarah bukanlah sekadar menyusun dan merangkai fakta-fakta hasil penelitian, melainkan juga memberikan suatu pikiran melalui interpretasi sejarah menurut fakta hasil penelitian. Untuk itu, menulis sejarah memerlukan kecakapan dan kemahiran. 

Historiografi merupakan rekaman wacana segala sesuatu yang dicatat sebagai materi pelajaran wacana sikap yang baik. Sesudah memilih judul, mengumpulkan bahan-bahan atau sumber serta melaksanakan kritik dan seleksi, maka mulailah menuliskan kisah sejarah.

Ada tiga bentuk penulisan sejarah menurut ruang dan waktu.

a.Penulisan sejarah tradisional
Kebanyakan karya ini besar lengan berkuasa dalam hal genealogi, tetapi tidak besar lengan berkuasa dalam hal kronologi dan detail biografis. Tekanannya penggunaan sejarah sebagai materi pengajaran agama. Adanya  kingship (konsep mengenai raja), pertimbangan kosmologis, & antropologis lebih diutamakan daripada keterangan dari alasannya yaitu akibat.

b.Penulisan sejarah kolonial
Penulisan ini mempunyai ciri nederlandosentris (eropasentris), tekanannya pada aspek politik dan ekonomi serta bersifat institusional.
c.Penulisan sejarah nasional
Penulisannya memakai metode ilmiah secara terampil dan bertujuan untuk kepentingan nasionalisme.



Sumber http://sejarah10-jt.blogspot.com

✔ Jenis-Jenis Sejarah

Sejarah sebagai suatu ilmu pengetahuan mempelajari pengetahuan pada masa lampau dalam lingkup kehidupan manusia. Kejadian dalam sejarah itu sanggup digolongkan dalam beberapa jenis sejarah sehingga dalam pembahasan sejarah lebih terfokus pada suatu masalah, walaupun dalam pembahasan itu juga terkait dengan banyak sekali masalah. Oleh lantaran itu, yang dimaksud jenis dan kategori sejarah yakni perpaduan ciri-ciri yang intinya dianggap sebagai karakteristik kelompok dan adanya kemampuan menampilkan jenis atau tipe sejarah.

Menurut Louis Gattaschalk dalam bukunya yang berjudul  Mengerti Sejarah, terjemahan Nugroho Notosusanto tahun 1975, ia membagi sejarah dalam tiga jenis:

1.yang memilih kelangsungan hidup rekaman sejarah hanya kebetulan ditemukan;

2.untuk penulisan sejarah di masa mendatang dengan teknik sampling, akan diperoleh tokoh sejarah yang konkret;

3.penulisan sejarah yang memakai teladan par excellen, yaitu seorang individu terkemuka dalam bangsanya yang mempunyai tabiat bisa memperbaiki sikap bangsanya secara optimal menyeluruh.


Ada juga yang membagi sejarah menurut pada fokus duduk kasus sebagai berikut.

1.Sejarah geografi
Sejarah geografi ini dikaitkan dengan duduk kasus sejarah yang mempunyai keterkaitan dengan geografi, untuk menjawab pertanyaan "di mana insiden itu terjadi?" baik secara eksklusif maupun tidak langsung. Peristiwa sejarah dalam sejarah geografi ini dikaitkan dengan tempat dan lokasi kejadiannya. Oleh lantaran itu,  ilmu pengetahuan perihal geografi (ilmu geografi) sangat diperlukan, kemudian muncul pertanyaan "mengapa di tempat tersebut?". Selain itu, pengetahuan geografi juga penting dalam perjalanan sejarah bangsa

Indonesia, luas wilayah Indonesia dan keadaan alam ikut mendukung terjadinya suatu insiden sejarah. Bahkan adab istiadat pun juga mengambil peran. Begitu juga keadaan alam, sanggup digunakan sebagai pertimbangan untuk membuat taktik dalam perang.

2.Sejarah ekonomi

Ilmu pengetahuan yang membahas adanya upaya insan untuk memenuhi kebutuhannya disebut ilmu ekonomi. Manusia tidak ada yang sanggup memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya sendiri. Untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya itu, mereka membutuhkan dukungan orang atau pihak lain. Keadaan inilah yang kemudian menjadikan terjadinya sistem ekonomi dalam masyarakat (sistem ekonomi kemasyarakatan).

Masyarakat Indonesia mulai mengenal sistem ekonomi semenjak masa bercocok tanam dengan sistem tukar barang (barang ditukar dengan barang) lantaran belum mengenal sistem ekonomi uang. Perdagangan di Nusantara berkembang pesat, terbukanya jalan dagang darat (jalan sutra) yang kemudian muncul jalan dagang bahari (jalan dagang rempah-rempah) membuat perdagangan Nusantara semakin marak, sehingga tugas aktif pedagang Indonesia semakin tampak dalam kekerabatan antarbangsa. 

Melalui kekerabatan perekonomian dan majunya perdagangan inilah banyak pedagang Cina dan India yang masuk ke nusantara. Keberadaan mereka besar lengan berkuasa besar, baik di bidang ekonomi, sosial, budaya, dan religius. 

Bahkan kerajaan-kerajaan Nusantara sanggup dikenal di luar negeri akhir banyaknya pedagang-pedagang absurd yang singgah di kerajaan pada masa itu. Dengan demikian sejarah ekonomi bangsa Indonesia berkembang dari tingkat sederhana ke arah ekonomi luas bahkan bisa menembus ekonomi internasional.
Jalan Sutra yakni nama jalur kuno yang menghubungkan Cina dan Eropa. Melalui jalur inilah hasil populer dari Cina Kuno dipasarkan ke Italia, Prancis, dan negara Eropa lainnya. Jalan Sutra membentang dari Xi'an hingga Timur Tengah sepanjang + 6.450 km.

3.Sejarah sosialSejarah sosial bangsa Indonesia tidak sanggup dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Masalah sosial menjadi pendorong munculnya peristiwa-peristiwa sejarah. Sejarah social mengalami proses perkembangan sesuai dengan perkembangan taraf hidup manusia. Ketika masa bercocok tanam, kehidupan sosial mulai tumbuh, gotong royong dirasakan sebagai kewajiban yang fundamental dalam kehidupan sehari-hari. 

Mereka hidup secara tolong-menolong dalam satu kelompok sosial, mereka masih food gathering (mengumpulkan makanan) yang kemudian meningkat ke food producing (menghasilkan makanan).
Sejarah sosial terus mengalami perkembangan selaras dengan perkembangan masyarakatnya dari yang paling sederhana ke tingkat yang lebih maju. Munculnya modernisasi, masyarakat pun akan terus membangun kemajuan sosial. Seperti dalam taraf hidup yang sederhana di masa bercocok tanam, maka upaya sosial muncul dengan masyarakat gotong royong yang dirasakan sebagai hal yang wajib dalam kehidupan bermasyarakat luas bahkan kepada aturan-aturan masyarakat yang perlu mereka taati bersama untuk dijaga kelestariannya.

Setelah masuknya hinduisme, kehidupan sosial masyarakat semakin baik, bahkan mereka secara sukarela dan bersama bisa menghasilkan bangunan yang amat besar dan dianggap suci, menyerupai candi Prambanan dan Borobudur.

Masyarakatnya jujur, taat kepada sang pencipta secara sukarela, juga taat kepada para pemimpin bahkan di dalam keluarga mereka taat dan saling menghormati. Pada masa Hindu-Buddha inilah di Indonesia muncul kerajaan yang pertama, menyerupai Kerajaan Kutai pada masa ke-5,

Tarumanegara, kemudian Sriwijaya di Sumatra. Hubungan yang dekat terjadi di dalam atau di luar istana, walaupun mempunyai satu arah pada istanasentris bahkan muncul pengultusan pada raja.

Di zaman Islam, seiring dengan berkembangnya kerajaan Islam di Nusantara masyarakat sudah mulai teratur, kehidupan sosial semakin tampak membawa kesejahteraan dan perbaikan sosial. Kehidupan demokrasi mulai tertata melalui system kerajaan. Sistem ini kemudian dikembangkan di tengah masyarakat luas dengan cara mengurangi sikap feodal lantaran para raja Islam telah memperlihatkan teladan kehidupan yang demokratis. Oleh lantaran itu, duduk kasus sosial tidak lepas dari perkembangan hidup masyarakat yang membuat perkembangan sejarah umat manusia.

4.Sejarah ketatanegaraan dan sejarah politikPembicaraan perihal sejarah ketatanegaraan atau sejarah politik bahwasanya berawal dari zaman pras aksara. Hanya saja, bagaimana perkembangan atau wujud dari hal tersebut banyak jago yang menafsirkan banyak sekali macam, misalnya, primus inter pares.

Berdasarkan peninggalan sejarah diungkapkan bahwa zaman praaksara berbentuk kesukuan. Namun sesudah imbas Hindu dan Buddha masuk ke Nusantara, muncul sistem baru, yaitu kerajaan, misalnya, Kerajaan Kutai. Sistem kerajaan berkembang luas di Nusantara, baik di Jawa atau di luar Jawa muncul banyak kerajaan Hindu dan Buddha.

Masuknya agama Islam ke Nusantara memberi angin baik bagi pertumbuhan kerajaan, lantaran memunculkan sistem gres dalam istana. Pada zaman Islam, gelar kepala negaranya yakni sunan atau sultan, itulah salah satu bentuk perkembangan sejarah ketatanegaraan.

Ada juga yang membagi jenis sejarah secara geografis sebagai berikut.
a.Sejarah dunia
Sejarah dunia menceritakan insiden penting sejumlah negara, menyangkut kekerabatan antarnegara, serta insiden dan fakta sejarah dari banyak negara di serpihan dunia ini. Banyak jago sejarah dan para peneliti telah mempublikasikan sejarah dunia, menyerupai sejarah negara-negara Eropa, sejarah negara-negara Asia, sejarah Mesir, sejarah Afrika, dan sejarah Australia yang telah dibentangkan secara panjang lebar dari aspek politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang terjadi pada tempat negara-negara tersebut.

Contoh penulisan sejarah dunia yakni buku Soebantardjo yang berjudul Sari Sejarah Asia – Australia. Buku ini menceritakan mengenai negara Jepang, Tiongkok (Cina), India, Ceylon (Sri Lanka), Birma (Myanmar), Malaya, Muangthai (Thailand), Indocina, Iran, Afghanistan, Arab, Siria, Libanon, Irak, Yordania, Palestina, Mesir, Turki, dan Australia. 

Selain itu, Soebantardjo juga menulis sejarah negara-negara Eropa dan Amerika. Jadi, sejarah dunia menceritakan bagaimana situasi negara-negara di seluruh tempat dunia ini dan hubungannya satu dengan yang lainnya.

b.Sejarah nasional
Sejarah nasional menceritakan sejarah bangsa Indonesia mulai semenjak pertumbuhan hingga sekarang. Sejarah zaman purbakala memuat bagaimana keadaan dan kemampuan masyarakat nenek moyang kita, kepercayaannya, serta hasil-hasil budayanya. Setelah kedatangan Hindu, diceritakan pula bagaimana wujud akulturasinya, kemudian diceritakan pula masuknya Islam serta kedatangan bangsa barat yang jadinya muncul penjajahan.

Gerakan nasional Indonesia memaparkan bagaimana giatnya usaha nasional yang puncaknya yakni proklamasi serta usaha mengisi kemerdekaan. Beberapa gangguan keamanan muncul serta adanya usaha Belanda untuk menguasai kembali, meskipun pada jadinya bisa kita atasi dan  kita pertahankan tanah air ini.
Memasuki zaman modern kini ini pun bangsa Indonesia masih terus membuat sejarahnya. Contoh penyusunan sejarah nasional dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional dan diterbitkan sebagai Buku Sejarah Nasional Indonesia dalam enam jilid.

c.Sejarah lokal
Sejarah lokal mengandung pengertian suatu insiden yang terjadi pada masa lampau dan hanya terjadi di suatu daerah atau tempat tertentu yang tidak menyebar ke daerah lain di Indonesia. 

Peristiwa-peristiwa yang muncul hanyalah dari daerah tertentu dan memuat masalah-masalah yang ada di daerah tertentu itu juga, misalnya, sejarah lokal perihal kampong Minahasa, sejarah suku Toraja, masyarakat Nias, atau suku Dayak di Kalimantan.
Dalam sejarah lokal muncul tokoh-tokoh lokal yang memperjuangkan wilayahnya, misalnya, usaha Imam Bonjol dari Sumatra Barat, usaha Teuku Umar dari Aceh, usaha Pangeran Diponegoro dari Jawa (Yogyakarta), dan pahlawan-pahlawan lain dari banyak sekali daerah di Nusantara.

 
Sejarah lokal merupakan sejarah yang penting, namun sering kali kita justru memperoleh sumber- sumber dari negara lain (misalnya, Belanda), walaupun banyak juga kita temukan bukti-bukti sejarah dari pelosok tanah air. Barang bukti sejarah yang sudah pindah tangan ke negara lain, misalnya, kitab orisinil Negara kertagama dan patung Ken Dedes (Prajna Paramita) yang berada di negara Belanda.

Masyarakat yang dinamis dan berkembang memang terjadi di mana-mana, namun di sisi lain dampak dari perkembangan ini sangat menyulitkan pengungkapan bukti sejarah lokal dikarenakan adanya percepatan pembangunan, pergantian generasi, serta perkembangan penduduk yang pesat sehingga menambah semaraknya negeri ini. 

Sejarah lokal sanggup dikategorikan menjadi sejarah insiden masa silam, sejarah mengenai kerajaan-kerajaan di Nusantara, sejarah yang membentangkan peranan petani dan para priyayi serta kuli kontrak di zaman Belanda, dan sejarah lokal yang membentangkan keadaan masa kuno hingga kini mengenai tradisi, adab istiadat, dan kepercayaan pada daerah-daerah tertentu.

Oleh lantaran itu, sanggup kita perhatikan bagaimana kenyataan dalam penulisan sejarah lokal sebagai berikut.
  1. Sejarah lokal hanya membicarakan daerah tertentu saja, misalnya, sejarah kabupaten Madiun, sejarah kabupaten Tegal, atau sejarah Yogyakarta.
  2. Sejarah lokal lebih menekankan struktur daripada prosesnya.
  3. Sejarah lokal hanya membicarakan insiden tertentu yang dianggap populer di suatu daerah.
  4. Sejarah lokal hanya membahas aspek tertentu saja.


Sumber http://sejarah10-jt.blogspot.com

Sabtu, 27 Mei 2017

✔ Pengertian Sumber, Bukti, Dan Fakta Sejarah

1.Sumber sejarah

Sumber sejarah ialah semua yang menjadi pokok sejarah. Menurut Moh. Ali, yang dimaksud sumber sejarah ialah segala sesuatu yang berwujud dan tidak berwujud serta mempunyai kegunaan bagi penelitian sejarah semenjak zaman purba hingga sekarang. Sementara Muh. Yamin menyampaikan bahwa sumber sejarah ialah kumpulan benda kebudayaan untuk menerangkan sejarah.

Ada tiga macam sumber sejarah.

a.Sumber tertulis

Sumber tertulis ialah sumber sejarah yang diperoleh melalui peninggalan-peninggalan tertulis, catatan kejadian yang terjadi di masa lampau, contohnya prasasti, dokumen, naskah, piagam, babad,surat kabar, tambo (catatan tahunan dari Cina), dan rekaman.

Sumber tertulis dibedakan menjadi dua, yaitu sumber primer (dokumen) dan sumber sekunder (buku perpustakaan).

b.Sumber lisan


Sumber verbal ialah keterangan pribadi dari para pelaku atau saksi mata dari kejadian yang terjadi di masa lampau. Misalnya, seorang anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) yang pernah ikut Serangan Umum menceritakan kejadian yang dialami kepada orang lain, apa yang dialami dan dilihat serta yang dilakukannya merupakan penuturan verbal (sumber lisan) yang sanggup digunakan untuk materi penelitian sejarah.

Dapat juga berupa penuturan masyarakat di sekitar kota Yogyakarta ketika 1 Maret 1949 yang ikut menyaksikan Serangan Umum tersebut, penuturannya juga sanggup dikategorikan sebagai sumber lisan. Jika sumber verbal berupa dongeng rakyat (folklore), maka perlu dicermati kebenarannya alasannya penuh dengan banyak sekali mitos.

c.Sumber benda


Sumber benda ialah sumber sejarah yang diperoleh dari peninggalan benda-benda kebudayaan, misalnya, alat-alat atau benda budaya, ibarat kapak, gerabah,perhiasan, manik-manik, candi, dan patung. Sumber-sumber sejarah tersebut belum tentu seluruhnya sanggup menginformasikan kebenaran secara pasti. Oleh lantaran itu, sumber sejarah tersebut perlu diteliti, dikaji, dianalisis, dan ditafsirkan dengan cermat oleh para ahli.

Untuk mengungkap sumber-sumber sejarah di atas diharapkan berbaga ilmu bantu, seperti:
  •  epigrafi, yaitu ilmu yang mempelajari goresan pena kuno atau prasasti;
  • arkeologi, yaitu ilmu yang mempelajari benda/peninggalan kuno;
  • ikonografi, yaitu ilmu yang mempelajari perihal patung
  • nomismatik, yaitu ilmu yang mempelajari perihal mata uan
  • ceramologi, yaitu ilmu yang mempelajari perihal keramik;
  • geologi, yaitu ilmu yang mempelajari lapisan bumi;
  • antropologi, yaitu ilmu yang mempelajari asal-usul kejadian serta perkembangan makhluk insan dan kebudayaannya;
  • paleontologi, yaitu ilmu yang mempelajari sisa makhluk hidup yang sudah membatu;
  • paleoantropologi, yaitu ilmu yang mempelajari bentuk insan yang paling sederhana hingga sekarang;
  • sosiologi, yaitu ilmu yang mempelajari sifat keadaan dan pertumbuhan masyarakat;
  • filologi, yaitu ilmu yang mempelajari perihal bahasa, kebudayaan, pranata dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat di bahan-bahan tertulis.

2.Bukti dan fakta sejarah

Bukti peninggalan sejarah merupakan sumber penulisan sejarah. Fakta ialah hasil dari seleksi data yang terpilih. Fakta sejarah ada yang berbentuk benda konkret, misalnya, candi, patung, perkakas yang sering disebut artefak.

Fakta yang berdimensi sosial disebut sociofact,yaitu berupa jaringan interaksi antarmanusia, sedangkan fakta yang bersifat abnormal berupa keyakinan dan kepercayaan disebut mentifact.

Bukti dan fakta sejarah sanggup diketahui melalui sumber primer dan sumber 
sekunder.

a.Artefak
Artefak ialah semua benda baik secara keseluruhan atau sebagian hasil garapan tangan manusia, contohnya, candi, patung, dan perkakas.

Peralatan-peralatan yang dihasilkannya sanggup menggambarkan tingkat kehidupan masyarakat pada ketika itu (sudah mempunyai nalar dan budaya yang cukup tinggi), bahkan sanggup juga meggambarkan suasana alam, pikiran, status sosial, dan kepercayaan para penciptanya dari suatu masyarakat, hal inilah yang perlu dicermati oleh para sejarawan.

b.Fakta sosial
Fakta sosial ialah fakta sejarah yang berdimensi sosial, yakni kondisi yang bisa menggambarkan perihal keadaan sosial, suasana zaman dan system kemasyarakatan, contohnya interaksi (hubungan) antarmanusia, teladan pakaian adat, atau pakaian kebesaran raja.

Kaprikornus fakta sosial berkenaan dengan kehidupan suatu masyarakat, kelompok masyarakat atau suatu negara yang menumbuhkan kekerabatan sosial yang serasi serta komunikasi sosial yang terjaga baik.

Fakta sosial sebagai bukti sosial yang muncul di lingkungan masyarakat bisa memunculkan suatu kejadian atau kejadian. Masyarakat pembuat logam memunculkan ciri sosial yang maju, berintegritas, dan mengenal teknik. Di balik itu mereka mempunyai tradisi animisme atau dinamisme melalui benda hasil garapannya, bahkan kalau kita teliti dengan saksama masyarakat tersebut sudah mengenal persawahan dan hidup dengan ciri gotong royong.

c.Fakta mental
Fakta mental ialah kondisi yang sanggup menggambarkan suasana pikiran, perasaan batin, kerohanian dan sikap yang mendasari suatu karya cipta. Kaprikornus fakta mental bertalian dengan perilaku, ataupun tindakan moral insan yang bisa memilih baik buruknya kehidupan manusia, masyarakat, dan negara. Peristiwa yang terjadi pada masa lampau sanggup memengaruhi mental kehidupan pada masa kini bahkan ke masa depan.

Fakta mental bersahabat hubungannya antara kejadian yang terjadi dengan batin manusia, alasannya perkembangan batin pada suatu masyarakat sanggup mencetuskan munculnya suatu kejadian (ingat kejadian bom atom di kota Nagasaki dan Hirosima di Jepang yang menyisakan perubahan tabiat dan rasa takut, itu sebabnya Jepang memelopori kampanye anti bom atom).

Fakta mental merupakan fakta yang sifatnya abnormal atau kondisi yang menggambarkan alam pikiran, kepercayaan atau sikap, contohnya kepercayaan keyakinan dan kepercayaan benda yang melambangkan nenek moyang dan benda upacara, contohnya nekara perunggu di Pejeng (Bali), untuk dipuja.

Namun ada artefak yang juga menawarkan fakta sosial dan ciri fakta mental, teladan kapak perunggu atau ember perunggu ialah artefak yang merupakan fakta konkret, tetapi kalau dilihat dari hiasannya sanggup berfungsi sebagai fakta sosial, dan kalau menempatkan kapak perunggu dan ember perunggu sebagai sistem kepercayaan maka disebut fakta mental.
Sumber http://sejarah10-jt.blogspot.com

Jumat, 26 Mei 2017

✔ Prinsip Dasar Penelitian Sejarah Lisan

Penelitian sejarah lisan membutuhkan suatu metode pengumpulan data atau materi penulisan sejarah yang dilakukan oleh peneliti sejarah melalui wawancara secara verbal terhadap pelaku atau saksi peristiwa. Metode ini sudah dipergunakan semenjak masa kemudian yang semula dipergunakan di Amerika Serikat.

Langkah yang harus ditempuh bagi penelitian sejarah verbal ialah menemukan sumber pendukung yang berasal dari para pelaku atau saksi-saksi eksklusif serta daerah terjadinya insiden untuk mencari latar belakang dan pemahaman akhir dari insiden yang ditimbulkan sehingga akan mendekati kebenaran menyerupai yang diharapkan.

Oleh lantaran itu, untuk melaksanakan penelitian sejarah verbal perlu adanya sumber dari para pelaku maupun para saksi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terhadap pelaku atau saksi peristiwa. Namun, terkadang keterangan para pelaku bersifat subjektif sehingga perlu dilakukan penyeleksian atau analisis secara cermat (misalnya, yang menguntungkan pelaku dikatakan, sedangkan yang dianggap negatif atau merugikan pelaku disembunyikan).Kritik terhadap sumber verbal ialah dengan melaksanakan cross check atau mengecek dengan sumber verbal lainnya.

Berikut teknik-teknik pengumpulan data sumber lisan.

1.Sumber informasi dari pelaku sejarah

Pelaku merupakan unsur utama yang berperan dalam insiden alasannya para pelaku tahu persis latar belakang insiden tersebut, apa yang terjadi, sasaran dan tujuannya, serta mengapa terjadi dan siapa saja pelakunya.
Metode wawancara kepada pelaku merupakan metode yang paling sempurna untuk mengungkapkan dan memaparkan suatu peristiwa.

Ada beberapa cara dalam pengumpulan informasi verbal melalui teknik wawancara, yaitu
  • Adanya seleksi individu untuk diwawancarai guna memperoleh informasi yang akurat (maksudnya kedudukan orang tersebut dalam suatu peristiwa, sebagai pelaku utama, informan, atau saksi).
  • Harus ada pendekatan kepada orang yang diwawancarai.
  • Mengembangkan suasana lancar dalam wawancara dengan pertanyaan yang jelas, tidak berbelit dan menghindari pertanyaan yang menyinggung perasaan.
  • Persiapkan pokok-pokok dilema yang akan ditanyakan dengan sebaik-baiknya semoga memperoleh data yang lengkap dan akurat.

Wawancara eksklusif sanggup dilakukan dengan metode-metode berikut.

a.Wawancara dilakukan dengan pertanyaan acak dan tanggapan tidak ditentukan (pertanyaan terbuka).

b.Wawancara dilakukan dengan mengajukan pertanyaan dengan tanggapan yang telah ditentukan (pertanyaan tertutup).

c.Wawancara dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan lebih dahulu gres kemudian responden menjawab satu per satu.

d.Wawancara dilakukan dengan cara mengajukan suatu pertanyaan, kemudian responden eksklusif menjawabnya. Setelah selesai, pewawancara mengajukan pertanyaan selanjutnya.

e.Wawancara dilakukan dengan memakai tape recorder yang sanggup menyimpan kesaksian pelaku atau saksi verbal tersebut.

2.Sumber informasi dari saksi sejarah

Orang yang pernah melihat atau menyaksikan suatu peristiwa, tetapi bukan pelaku, disebut saksi. Berita juga sering disampaikan oleh para saksi peristiwa, sanggup berupa informasi kebenaran, informasi sepihak, atau hanya sekadar informasi dari suatu peristiwa.

Para saksi juga tidak melihat secara utuh dan detail suatu insiden alasannya ia hanya sekadar mengetahui suatu peristiwa, itu saja tidak seluruhnya. Oleh lantaran itu, keterangan dari para saksi perlu didukung oleh data lain yang memperkuat bukti insiden sejarah.

3.Sumber informasi dari daerah insiden insiden sejarah

Masalah daerah sering memiliki kaitan dalam sebuah peristiwa, misalnya, insiden Rengasdengklok, penyusunan teks proklamasi, dan daerah proklamasi. Tempat tersebut menjadi saksi sejarah yang bisa menjadi sumber lisan.


Sumber http://sejarah10-jt.blogspot.com

Rabu, 17 Mei 2017

✔ Langkah-Langkah Penelitian Sejarah

1.Heuristik

Heuristik berasal dari kata Yunani,  heuriskein, artinya menemukan. Heuristik, maksudnya yaitu tahap untuk mencari, menemukan, dan mengumpulkan sumber-sumber banyak sekali data semoga sanggup mengetahui segala bentuk insiden atau insiden sejarah  masa lampau yang relevan dengan topik/judul penelitian.

Untuk melacak sumber tersebut, sejarawan harus sanggup mencari di banyak sekali dokumen baik melalui metode kepustakaan atau arsip nasional. Sejarawan sanggup juga mengunjungi situs sejarah atau melaksanakan wawancara untuk melengkapi data sehingga diperoleh data yang baik dan lengkap, serta sanggup menunjang terwujudnya sejarah yang mendekati kebenaran. Masa lampau yang begitu banyak periode dan banyak bagian-bagiannya (seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya) mempunyai sumber data yang juga beraneka ragam sehingga perlu adanya pembagian terstruktur mengenai data dari banyaknya sumber tersebut.

Dokumen-dokumen yang berhasil dihimpun merupakan data yang sangat berharga Dokumen sanggup menjadi dasar untuk menelusuri peristiwa-peristiwa sejarah yang telah terjadi pada masa lampau.

Menurut sifatnya ada dua, yaitu sumber primer dan sumber sekunder. 
  1. Sumber primer yaitu sumber yang dibentuk pada ketika insiden terjadi, menyerupai dokumen laporan kolonial. Sumber primer dibentuk oleh tangan pertama.
  2. sumber sekunder merupakan sumber yang memakai sumber primer sebagai sumber utamanya. Jadi, dibentuk oleh tangan atau pihak kedua.Contohnya, buku, skripsi, dan tesis
Jika kita mendapat sumber tertulis, kita akan mendapat sumber tertulis sezaman dan setempat yang mempunyai kadar kebenaran yang relatif tinggi, serta sumber tertulis tidak sezaman dan tidak setempat yang memerlukan kejelian para penelitinya. Dari sumber yang ditemukan itu, sejarawan melaksanakan penelitian. 

Tanpa adanya sumber sejarah, sejarawan akan mengalami kesulitan menemukan jejak-jejak sejarah dalam kehidupan manusia. Untuk sumber lisan, pemilihan sumber didasarkan pada pelaku atau saksi mata suatu kejadian. Narasumber verbal yang hanya mendengar atau tidak hidup sezaman dengan insiden tidak bisa dijadikan narasumber lisan.


2.Verifikasi

Verifikasi yaitu penilaian terhadap sumber-sumber sejarah. Verifikasi dalam sejarah mempunyai arti investigasi terhadap kebenaran laporan wacana suatu insiden sejarah.

Penilaian terhadap sumber-sumber sejarah menyangkut aspek ekstern dan intern. 

  1. Aspek ekstern mempersoalkan apakah sumber itu orisinil atau palsu sehingga sejarawan harus bisa menguji wacana keakuratan dokumen sejarah tersebut, misalnya, waktu pembuatan dokumen, bahan, atau materi dokumen. 
  2. Aspek intern mempersoalkan apakah isi yang terdapat dalam sumber itu sanggup memperlihatkan informasi yang diperlukan. Dalam hal ini,aspek intern berupa proses analisis terhadap suatu dokumen.
Aspek ekstern harus sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

a.Apakah sumber itu merupakan sumber yang dikehendaki (autentitas)?
b.Apakah sumber itu orisinil atau turunan (orisinalitas)?
c.Apakah sumber itu masih utuh atau sudah diubah (soal integritas)?

Setelah ada kepastian bahwa sumber itu merupakan sumber yang benar diharapkan dalam bentuk orisinil dan masih utuh, maka dilakukan kritik intern.

Kritik intern dilakukan untuk mengambarkan bahwa informasi yang terkandung di dalam sumber itu sanggup dipercaya, dengan evaluasi intrinsik terhadap sumber dan dengan membandingkan kesaksian-kesaksian banyak sekali sumber.

Langkah pertama dalam penilain intrinsik yaitu memilih sifat sumber itu (apakah resmi/formal atau tidak resmi/informal). Dalam penelitian sejarah, sumber tidak resmi/informal dinilai lebih berharga daripada sumber resmi alasannya yaitu sumber tidak resmi bukan dimaksudkan untuk dibaca orang banyak (untuk kalangan bebas) sehingga isinya bersifat apa adanya, terus terang, tidak banyak yang disembunyikan, dan objektif.

Langkah kedua dalam evaluasi intrinsik yaitu menyoroti penulis sumber tersebut alasannya yaitu ia yang memperlihatkan informasi yang dibutuhkan. Pembuatan sumber harus dipastikan bahwa kesaksiannya sanggup dipercaya. Untuk itu, harus bisa memperlihatkan kesaksian yang benar dan harus sanggup menjelaskan mengapa ia menutupi (merahasiakan) suatu peristiwa, atau sebaliknya melebih-lebihkan lantaran ia berkepentingan di dalamnya.

Langkah ketiga dalam evaluasi intrinsik yaitu membandingkan  kesaksian dari banyak sekali sumber dengan menjajarkan kesaksian para saksi yang tidak berafiliasi satu dan yang lain (independent witness) sehingga informasi yang diperoleh objektif. Contohnya yaitu terjadinya insiden Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta.

Sumber-sumber yang diakui kebenarannya lewat verifikasi atau kritik, baik intern maupun ekstern, menjadi fakta. Fakta yaitu keterangan wacana sumber yang dianggap benar oleh sejarawan atau peneliti sejarah. Fakta bisa saja diartikan sebagai sumber-sumber yang terpilih.


3.Interpretasi

Interpretasi yaitu menafsirkan fakta sejarah dan merangkai fakta tersebut menjadi satu kesatuan yang serasi dan masuk akal. Interpretasi dalam sejarah sanggup juga diartikan sebagai penafsiran suatu insiden atau memperlihatkan pandangan teoritis terhadap suatu peristiwa. 

Sejarah sebagai suatu insiden sanggup diungkap kembali oleh para sejarawan melalui banyak sekali sumber, baik berbentuk data, dokumen perpustakaan, buku, berkunjung ke situs-situs sejarah atau wawancara, sehingga sanggup terkumpul dan mendukung dalam proses interpretasi.

Dengan demikian, sesudah kritik selesai maka langkah berikutnya yaitu melaksanakan interpretasi atau penafsiran dan analisis terhadap data yang diperoleh dari banyak sekali sumber.

Interpretasi dalam sejarah yaitu penafsiran terhadap suatu peristiwa, fakta sejarah, dan merangkai suatu fakta dalam kesatuan yang masuk akal. Penafsiran fakta harus bersifat logis terhadap keseluruhan konteks insiden sehingga banyak sekali fakta yang lepas satu sama lainnya sanggup disusun dan dihubungkan menjadi satu kesatuan yang masuk akal.

Bagi kalangan akademis, semoga sanggup menginterpretasi fakta dengan kejelasan yang objektif, harus dihindari penafsiran yang semena-mena lantaran biasanya cenderung bersifat subjektif. Selain itu, interpretasi harus bersifat deskriptif sehingga para akademisi juga dituntut untuk mencari landasan interpretasi yang mereka gunakan. 

Proses interpretasi juga harus bersifat selektif alasannya yaitu mustahil semua fakta dimasukkan ke dalam kisah sejarah, sehingga harus dipilih yang relevan dengan topik yang ada dan mendukung kebenaran sejarah.

4.Historiografi

Historiografi yaitu penulisan sejarah.
Historiografi merupakan tahap terakhir dari acara penelitian untuk penulisan sejarah. Menulis kisah sejarah bukanlah sekadar menyusun dan merangkai fakta-fakta hasil penelitian, melainkan juga memberikan suatu pikiran melalui interpretasi sejarah menurut fakta hasil penelitian. Untuk itu, menulis sejarah memerlukan kecakapan dan kemahiran. 

Historiografi merupakan rekaman wacana segala sesuatu yang dicatat sebagai materi pelajaran wacana sikap yang baik. Sesudah memilih judul, mengumpulkan bahan-bahan atau sumber serta melaksanakan kritik dan seleksi, maka mulailah menuliskan kisah sejarah.

Ada tiga bentuk penulisan sejarah menurut ruang dan waktu.

a.Penulisan sejarah tradisional
Kebanyakan karya ini besar lengan berkuasa dalam hal genealogi, tetapi tidak besar lengan berkuasa dalam hal kronologi dan detail biografis. Tekanannya penggunaan sejarah sebagai materi pengajaran agama. Adanya  kingship (konsep mengenai raja), pertimbangan kosmologis, & antropologis lebih diutamakan daripada keterangan dari alasannya yaitu akibat.

b.Penulisan sejarah kolonial
Penulisan ini mempunyai ciri nederlandosentris (eropasentris), tekanannya pada aspek politik dan ekonomi serta bersifat institusional.
c.Penulisan sejarah nasional
Penulisannya memakai metode ilmiah secara terampil dan bertujuan untuk kepentingan nasionalisme.



Sumber http://sejarah10-jt.blogspot.com

Selasa, 16 Mei 2017

✔ Jenis-Jenis Sejarah

Sejarah sebagai suatu ilmu pengetahuan mempelajari pengetahuan pada masa lampau dalam lingkup kehidupan manusia. Kejadian dalam sejarah itu sanggup digolongkan dalam beberapa jenis sejarah sehingga dalam pembahasan sejarah lebih terfokus pada suatu masalah, walaupun dalam pembahasan itu juga terkait dengan banyak sekali masalah. Oleh lantaran itu, yang dimaksud jenis dan kategori sejarah yakni perpaduan ciri-ciri yang intinya dianggap sebagai karakteristik kelompok dan adanya kemampuan menampilkan jenis atau tipe sejarah.

Menurut Louis Gattaschalk dalam bukunya yang berjudul  Mengerti Sejarah, terjemahan Nugroho Notosusanto tahun 1975, ia membagi sejarah dalam tiga jenis:

1.yang memilih kelangsungan hidup rekaman sejarah hanya kebetulan ditemukan;

2.untuk penulisan sejarah di masa mendatang dengan teknik sampling, akan diperoleh tokoh sejarah yang konkret;

3.penulisan sejarah yang memakai teladan par excellen, yaitu seorang individu terkemuka dalam bangsanya yang mempunyai tabiat bisa memperbaiki sikap bangsanya secara optimal menyeluruh.


Ada juga yang membagi sejarah menurut pada fokus duduk kasus sebagai berikut.

1.Sejarah geografi
Sejarah geografi ini dikaitkan dengan duduk kasus sejarah yang mempunyai keterkaitan dengan geografi, untuk menjawab pertanyaan "di mana insiden itu terjadi?" baik secara eksklusif maupun tidak langsung. Peristiwa sejarah dalam sejarah geografi ini dikaitkan dengan tempat dan lokasi kejadiannya. Oleh lantaran itu,  ilmu pengetahuan perihal geografi (ilmu geografi) sangat diperlukan, kemudian muncul pertanyaan "mengapa di tempat tersebut?". Selain itu, pengetahuan geografi juga penting dalam perjalanan sejarah bangsa

Indonesia, luas wilayah Indonesia dan keadaan alam ikut mendukung terjadinya suatu insiden sejarah. Bahkan adab istiadat pun juga mengambil peran. Begitu juga keadaan alam, sanggup digunakan sebagai pertimbangan untuk membuat taktik dalam perang.

2.Sejarah ekonomi

Ilmu pengetahuan yang membahas adanya upaya insan untuk memenuhi kebutuhannya disebut ilmu ekonomi. Manusia tidak ada yang sanggup memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya sendiri. Untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya itu, mereka membutuhkan dukungan orang atau pihak lain. Keadaan inilah yang kemudian menjadikan terjadinya sistem ekonomi dalam masyarakat (sistem ekonomi kemasyarakatan).

Masyarakat Indonesia mulai mengenal sistem ekonomi semenjak masa bercocok tanam dengan sistem tukar barang (barang ditukar dengan barang) lantaran belum mengenal sistem ekonomi uang. Perdagangan di Nusantara berkembang pesat, terbukanya jalan dagang darat (jalan sutra) yang kemudian muncul jalan dagang bahari (jalan dagang rempah-rempah) membuat perdagangan Nusantara semakin marak, sehingga tugas aktif pedagang Indonesia semakin tampak dalam kekerabatan antarbangsa. 

Melalui kekerabatan perekonomian dan majunya perdagangan inilah banyak pedagang Cina dan India yang masuk ke nusantara. Keberadaan mereka besar lengan berkuasa besar, baik di bidang ekonomi, sosial, budaya, dan religius. 

Bahkan kerajaan-kerajaan Nusantara sanggup dikenal di luar negeri akhir banyaknya pedagang-pedagang absurd yang singgah di kerajaan pada masa itu. Dengan demikian sejarah ekonomi bangsa Indonesia berkembang dari tingkat sederhana ke arah ekonomi luas bahkan bisa menembus ekonomi internasional.
Jalan Sutra yakni nama jalur kuno yang menghubungkan Cina dan Eropa. Melalui jalur inilah hasil populer dari Cina Kuno dipasarkan ke Italia, Prancis, dan negara Eropa lainnya. Jalan Sutra membentang dari Xi'an hingga Timur Tengah sepanjang + 6.450 km.

3.Sejarah sosialSejarah sosial bangsa Indonesia tidak sanggup dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Masalah sosial menjadi pendorong munculnya peristiwa-peristiwa sejarah. Sejarah social mengalami proses perkembangan sesuai dengan perkembangan taraf hidup manusia. Ketika masa bercocok tanam, kehidupan sosial mulai tumbuh, gotong royong dirasakan sebagai kewajiban yang fundamental dalam kehidupan sehari-hari. 

Mereka hidup secara tolong-menolong dalam satu kelompok sosial, mereka masih food gathering (mengumpulkan makanan) yang kemudian meningkat ke food producing (menghasilkan makanan).
Sejarah sosial terus mengalami perkembangan selaras dengan perkembangan masyarakatnya dari yang paling sederhana ke tingkat yang lebih maju. Munculnya modernisasi, masyarakat pun akan terus membangun kemajuan sosial. Seperti dalam taraf hidup yang sederhana di masa bercocok tanam, maka upaya sosial muncul dengan masyarakat gotong royong yang dirasakan sebagai hal yang wajib dalam kehidupan bermasyarakat luas bahkan kepada aturan-aturan masyarakat yang perlu mereka taati bersama untuk dijaga kelestariannya.

Setelah masuknya hinduisme, kehidupan sosial masyarakat semakin baik, bahkan mereka secara sukarela dan bersama bisa menghasilkan bangunan yang amat besar dan dianggap suci, menyerupai candi Prambanan dan Borobudur.

Masyarakatnya jujur, taat kepada sang pencipta secara sukarela, juga taat kepada para pemimpin bahkan di dalam keluarga mereka taat dan saling menghormati. Pada masa Hindu-Buddha inilah di Indonesia muncul kerajaan yang pertama, menyerupai Kerajaan Kutai pada masa ke-5,

Tarumanegara, kemudian Sriwijaya di Sumatra. Hubungan yang dekat terjadi di dalam atau di luar istana, walaupun mempunyai satu arah pada istanasentris bahkan muncul pengultusan pada raja.

Di zaman Islam, seiring dengan berkembangnya kerajaan Islam di Nusantara masyarakat sudah mulai teratur, kehidupan sosial semakin tampak membawa kesejahteraan dan perbaikan sosial. Kehidupan demokrasi mulai tertata melalui system kerajaan. Sistem ini kemudian dikembangkan di tengah masyarakat luas dengan cara mengurangi sikap feodal lantaran para raja Islam telah memperlihatkan teladan kehidupan yang demokratis. Oleh lantaran itu, duduk kasus sosial tidak lepas dari perkembangan hidup masyarakat yang membuat perkembangan sejarah umat manusia.

4.Sejarah ketatanegaraan dan sejarah politikPembicaraan perihal sejarah ketatanegaraan atau sejarah politik bahwasanya berawal dari zaman pras aksara. Hanya saja, bagaimana perkembangan atau wujud dari hal tersebut banyak jago yang menafsirkan banyak sekali macam, misalnya, primus inter pares.

Berdasarkan peninggalan sejarah diungkapkan bahwa zaman praaksara berbentuk kesukuan. Namun sesudah imbas Hindu dan Buddha masuk ke Nusantara, muncul sistem baru, yaitu kerajaan, misalnya, Kerajaan Kutai. Sistem kerajaan berkembang luas di Nusantara, baik di Jawa atau di luar Jawa muncul banyak kerajaan Hindu dan Buddha.

Masuknya agama Islam ke Nusantara memberi angin baik bagi pertumbuhan kerajaan, lantaran memunculkan sistem gres dalam istana. Pada zaman Islam, gelar kepala negaranya yakni sunan atau sultan, itulah salah satu bentuk perkembangan sejarah ketatanegaraan.

Ada juga yang membagi jenis sejarah secara geografis sebagai berikut.
a.Sejarah dunia
Sejarah dunia menceritakan insiden penting sejumlah negara, menyangkut kekerabatan antarnegara, serta insiden dan fakta sejarah dari banyak negara di serpihan dunia ini. Banyak jago sejarah dan para peneliti telah mempublikasikan sejarah dunia, menyerupai sejarah negara-negara Eropa, sejarah negara-negara Asia, sejarah Mesir, sejarah Afrika, dan sejarah Australia yang telah dibentangkan secara panjang lebar dari aspek politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang terjadi pada tempat negara-negara tersebut.

Contoh penulisan sejarah dunia yakni buku Soebantardjo yang berjudul Sari Sejarah Asia – Australia. Buku ini menceritakan mengenai negara Jepang, Tiongkok (Cina), India, Ceylon (Sri Lanka), Birma (Myanmar), Malaya, Muangthai (Thailand), Indocina, Iran, Afghanistan, Arab, Siria, Libanon, Irak, Yordania, Palestina, Mesir, Turki, dan Australia. 

Selain itu, Soebantardjo juga menulis sejarah negara-negara Eropa dan Amerika. Jadi, sejarah dunia menceritakan bagaimana situasi negara-negara di seluruh tempat dunia ini dan hubungannya satu dengan yang lainnya.

b.Sejarah nasional
Sejarah nasional menceritakan sejarah bangsa Indonesia mulai semenjak pertumbuhan hingga sekarang. Sejarah zaman purbakala memuat bagaimana keadaan dan kemampuan masyarakat nenek moyang kita, kepercayaannya, serta hasil-hasil budayanya. Setelah kedatangan Hindu, diceritakan pula bagaimana wujud akulturasinya, kemudian diceritakan pula masuknya Islam serta kedatangan bangsa barat yang jadinya muncul penjajahan.

Gerakan nasional Indonesia memaparkan bagaimana giatnya usaha nasional yang puncaknya yakni proklamasi serta usaha mengisi kemerdekaan. Beberapa gangguan keamanan muncul serta adanya usaha Belanda untuk menguasai kembali, meskipun pada jadinya bisa kita atasi dan  kita pertahankan tanah air ini.
Memasuki zaman modern kini ini pun bangsa Indonesia masih terus membuat sejarahnya. Contoh penyusunan sejarah nasional dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional dan diterbitkan sebagai Buku Sejarah Nasional Indonesia dalam enam jilid.

c.Sejarah lokal
Sejarah lokal mengandung pengertian suatu insiden yang terjadi pada masa lampau dan hanya terjadi di suatu daerah atau tempat tertentu yang tidak menyebar ke daerah lain di Indonesia. 

Peristiwa-peristiwa yang muncul hanyalah dari daerah tertentu dan memuat masalah-masalah yang ada di daerah tertentu itu juga, misalnya, sejarah lokal perihal kampong Minahasa, sejarah suku Toraja, masyarakat Nias, atau suku Dayak di Kalimantan.
Dalam sejarah lokal muncul tokoh-tokoh lokal yang memperjuangkan wilayahnya, misalnya, usaha Imam Bonjol dari Sumatra Barat, usaha Teuku Umar dari Aceh, usaha Pangeran Diponegoro dari Jawa (Yogyakarta), dan pahlawan-pahlawan lain dari banyak sekali daerah di Nusantara.

 
Sejarah lokal merupakan sejarah yang penting, namun sering kali kita justru memperoleh sumber- sumber dari negara lain (misalnya, Belanda), walaupun banyak juga kita temukan bukti-bukti sejarah dari pelosok tanah air. Barang bukti sejarah yang sudah pindah tangan ke negara lain, misalnya, kitab orisinil Negara kertagama dan patung Ken Dedes (Prajna Paramita) yang berada di negara Belanda.

Masyarakat yang dinamis dan berkembang memang terjadi di mana-mana, namun di sisi lain dampak dari perkembangan ini sangat menyulitkan pengungkapan bukti sejarah lokal dikarenakan adanya percepatan pembangunan, pergantian generasi, serta perkembangan penduduk yang pesat sehingga menambah semaraknya negeri ini. 

Sejarah lokal sanggup dikategorikan menjadi sejarah insiden masa silam, sejarah mengenai kerajaan-kerajaan di Nusantara, sejarah yang membentangkan peranan petani dan para priyayi serta kuli kontrak di zaman Belanda, dan sejarah lokal yang membentangkan keadaan masa kuno hingga kini mengenai tradisi, adab istiadat, dan kepercayaan pada daerah-daerah tertentu.

Oleh lantaran itu, sanggup kita perhatikan bagaimana kenyataan dalam penulisan sejarah lokal sebagai berikut.
  1. Sejarah lokal hanya membicarakan daerah tertentu saja, misalnya, sejarah kabupaten Madiun, sejarah kabupaten Tegal, atau sejarah Yogyakarta.
  2. Sejarah lokal lebih menekankan struktur daripada prosesnya.
  3. Sejarah lokal hanya membicarakan insiden tertentu yang dianggap populer di suatu daerah.
  4. Sejarah lokal hanya membahas aspek tertentu saja.


Sumber http://sejarah10-jt.blogspot.com

Senin, 15 Mei 2017

✔ Pengertian Sumber, Bukti, Dan Fakta Sejarah

1.Sumber sejarah

Sumber sejarah ialah semua yang menjadi pokok sejarah. Menurut Moh. Ali, yang dimaksud sumber sejarah ialah segala sesuatu yang berwujud dan tidak berwujud serta mempunyai kegunaan bagi penelitian sejarah semenjak zaman purba hingga sekarang. Sementara Muh. Yamin menyampaikan bahwa sumber sejarah ialah kumpulan benda kebudayaan untuk menerangkan sejarah.

Ada tiga macam sumber sejarah.

a.Sumber tertulis

Sumber tertulis ialah sumber sejarah yang diperoleh melalui peninggalan-peninggalan tertulis, catatan kejadian yang terjadi di masa lampau, contohnya prasasti, dokumen, naskah, piagam, babad,surat kabar, tambo (catatan tahunan dari Cina), dan rekaman.

Sumber tertulis dibedakan menjadi dua, yaitu sumber primer (dokumen) dan sumber sekunder (buku perpustakaan).

b.Sumber lisan


Sumber verbal ialah keterangan pribadi dari para pelaku atau saksi mata dari kejadian yang terjadi di masa lampau. Misalnya, seorang anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) yang pernah ikut Serangan Umum menceritakan kejadian yang dialami kepada orang lain, apa yang dialami dan dilihat serta yang dilakukannya merupakan penuturan verbal (sumber lisan) yang sanggup digunakan untuk materi penelitian sejarah.

Dapat juga berupa penuturan masyarakat di sekitar kota Yogyakarta ketika 1 Maret 1949 yang ikut menyaksikan Serangan Umum tersebut, penuturannya juga sanggup dikategorikan sebagai sumber lisan. Jika sumber verbal berupa dongeng rakyat (folklore), maka perlu dicermati kebenarannya alasannya penuh dengan banyak sekali mitos.

c.Sumber benda


Sumber benda ialah sumber sejarah yang diperoleh dari peninggalan benda-benda kebudayaan, misalnya, alat-alat atau benda budaya, ibarat kapak, gerabah,perhiasan, manik-manik, candi, dan patung. Sumber-sumber sejarah tersebut belum tentu seluruhnya sanggup menginformasikan kebenaran secara pasti. Oleh lantaran itu, sumber sejarah tersebut perlu diteliti, dikaji, dianalisis, dan ditafsirkan dengan cermat oleh para ahli.

Untuk mengungkap sumber-sumber sejarah di atas diharapkan berbaga ilmu bantu, seperti:
  •  epigrafi, yaitu ilmu yang mempelajari goresan pena kuno atau prasasti;
  • arkeologi, yaitu ilmu yang mempelajari benda/peninggalan kuno;
  • ikonografi, yaitu ilmu yang mempelajari perihal patung
  • nomismatik, yaitu ilmu yang mempelajari perihal mata uan
  • ceramologi, yaitu ilmu yang mempelajari perihal keramik;
  • geologi, yaitu ilmu yang mempelajari lapisan bumi;
  • antropologi, yaitu ilmu yang mempelajari asal-usul kejadian serta perkembangan makhluk insan dan kebudayaannya;
  • paleontologi, yaitu ilmu yang mempelajari sisa makhluk hidup yang sudah membatu;
  • paleoantropologi, yaitu ilmu yang mempelajari bentuk insan yang paling sederhana hingga sekarang;
  • sosiologi, yaitu ilmu yang mempelajari sifat keadaan dan pertumbuhan masyarakat;
  • filologi, yaitu ilmu yang mempelajari perihal bahasa, kebudayaan, pranata dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat di bahan-bahan tertulis.

2.Bukti dan fakta sejarah

Bukti peninggalan sejarah merupakan sumber penulisan sejarah. Fakta ialah hasil dari seleksi data yang terpilih. Fakta sejarah ada yang berbentuk benda konkret, misalnya, candi, patung, perkakas yang sering disebut artefak.

Fakta yang berdimensi sosial disebut sociofact,yaitu berupa jaringan interaksi antarmanusia, sedangkan fakta yang bersifat abnormal berupa keyakinan dan kepercayaan disebut mentifact.

Bukti dan fakta sejarah sanggup diketahui melalui sumber primer dan sumber 
sekunder.

a.Artefak
Artefak ialah semua benda baik secara keseluruhan atau sebagian hasil garapan tangan manusia, contohnya, candi, patung, dan perkakas.

Peralatan-peralatan yang dihasilkannya sanggup menggambarkan tingkat kehidupan masyarakat pada ketika itu (sudah mempunyai nalar dan budaya yang cukup tinggi), bahkan sanggup juga meggambarkan suasana alam, pikiran, status sosial, dan kepercayaan para penciptanya dari suatu masyarakat, hal inilah yang perlu dicermati oleh para sejarawan.

b.Fakta sosial
Fakta sosial ialah fakta sejarah yang berdimensi sosial, yakni kondisi yang bisa menggambarkan perihal keadaan sosial, suasana zaman dan system kemasyarakatan, contohnya interaksi (hubungan) antarmanusia, teladan pakaian adat, atau pakaian kebesaran raja.

Kaprikornus fakta sosial berkenaan dengan kehidupan suatu masyarakat, kelompok masyarakat atau suatu negara yang menumbuhkan kekerabatan sosial yang serasi serta komunikasi sosial yang terjaga baik.

Fakta sosial sebagai bukti sosial yang muncul di lingkungan masyarakat bisa memunculkan suatu kejadian atau kejadian. Masyarakat pembuat logam memunculkan ciri sosial yang maju, berintegritas, dan mengenal teknik. Di balik itu mereka mempunyai tradisi animisme atau dinamisme melalui benda hasil garapannya, bahkan kalau kita teliti dengan saksama masyarakat tersebut sudah mengenal persawahan dan hidup dengan ciri gotong royong.

c.Fakta mental
Fakta mental ialah kondisi yang sanggup menggambarkan suasana pikiran, perasaan batin, kerohanian dan sikap yang mendasari suatu karya cipta. Kaprikornus fakta mental bertalian dengan perilaku, ataupun tindakan moral insan yang bisa memilih baik buruknya kehidupan manusia, masyarakat, dan negara. Peristiwa yang terjadi pada masa lampau sanggup memengaruhi mental kehidupan pada masa kini bahkan ke masa depan.

Fakta mental bersahabat hubungannya antara kejadian yang terjadi dengan batin manusia, alasannya perkembangan batin pada suatu masyarakat sanggup mencetuskan munculnya suatu kejadian (ingat kejadian bom atom di kota Nagasaki dan Hirosima di Jepang yang menyisakan perubahan tabiat dan rasa takut, itu sebabnya Jepang memelopori kampanye anti bom atom).

Fakta mental merupakan fakta yang sifatnya abnormal atau kondisi yang menggambarkan alam pikiran, kepercayaan atau sikap, contohnya kepercayaan keyakinan dan kepercayaan benda yang melambangkan nenek moyang dan benda upacara, contohnya nekara perunggu di Pejeng (Bali), untuk dipuja.

Namun ada artefak yang juga menawarkan fakta sosial dan ciri fakta mental, teladan kapak perunggu atau ember perunggu ialah artefak yang merupakan fakta konkret, tetapi kalau dilihat dari hiasannya sanggup berfungsi sebagai fakta sosial, dan kalau menempatkan kapak perunggu dan ember perunggu sebagai sistem kepercayaan maka disebut fakta mental.
Sumber http://sejarah10-jt.blogspot.com