Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 September 2018

Bahasa Indonesia : Tata Kata Dalam Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia : Tata Kata dalam Bahasa Indonesia



Satuan-satuan Terkecil Bahasa


Bentuk Kata





Kelas/Kategori Kata



Kata Benda (Nomina)




Rumpun Kata Benda



Kata Kerja (Verba)



Kata Sifat (Adjektiva)




Kelompok Adjektiva


  1. Adjektiva keadaan/sifat : aman, kacau, gawat 
  2. Adjektiva warna : ungu, hijau, biru 
  3. Adjektiva ukuran : berat, ringan, tinggi, besar 
  4. Adjektiva jarak : jauh, dekat, rapat, renggang 
  5. Adjektiva perasaan/sikap : malu, sedih, heran 
  6. Adjektiva waktu : cepat, lambat 
  7. Adjektiva cerapan : harum, manis, kasar

Kata Adverbia




Kelompok Adverbia


  1. Adverbia Kualitatif: kurang, lebih, paling
  2. Adverbia Kuantitatif: banyak, cukup, sedikit 
  3. Adverbia Limitatif: hanya, saja, sekadar 
  4. Adverbia Frekuentatif: jarang, kadang-kadang 
  5. Adverbia Kewaktuan: baru, segera, lama 
  6. Adverbia Kecaraan: diam-diam, secepatnya 
  7. Adverbia Kontrastif: bahkan, justru, melainkan 
  8. Adverbia Keniscayaan: niscaya, pasti, tentu


Kata Tugas (Partikel)



Frase (Gabungan Kata)


Bentuk Frase



Kategori Frase



Contoh-contoh Frase


Kompositum/Kata Majemuk

Gabungan kata yang membentuk makna baru. Bersifat kolokatif, konotatif, dan kontekstual 


Frase 



Kalimat majemuk









Perbedaan Frase dengan Kalimat Majemuk 


Istilah

Kata atau kelompok kata yang dengan cermat mengungkapkan suatu konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang tertentu. (TBBBI, 1988: 419)


Prosedur Pembentukan Istilah 


Dari dalam

  • Pengimbuhan 
  • Pengulangan 
  • Pemajemukan 
  • Pengimbuhan + Pengulangan 
  • Pengimbuhan + Pemajemukan 
  • Pemajemukan + Pengulangan 


Dari Luar

  • Bahasa serumpun (daerah)
  • Bahasa asing
Pembentukan dari dalam


Pembentukan dari luar


Daftar Istilah Serapan: Barat


Daftar Istilah Serapan: Timur



Sumber http://wikiwoh.blogspot.com

Bahasa Indonesia : Dasar-Dasar Dalam Memahami Pertanyaan Esai

Bahasa Indonesia : Dasar-Dasar dalam Memahami Pertanyaan Esai



Mengapa sebuah esai sanggup dikategorikan sebagai esai yang buruk?


Kesalahan yang paling utama dalam menciptakan esai yaitu kesalahan dalam menciptakan paragraf (Warburton,hal.25). Kesalahan dalam menciptakan paragraf dimulai dengan kekeliruan dalam menafsirkan atau memahami pertanyaan.


23 Rumusan dalam Memahami Pertanyaan berdasarkan Warburton


“berikan analisis…”: penulis diminta untuk mengurai duduk masalah yang sedang dibicarakan selanjutnya menjelaskan korelasi antara uraian antara bagian-per-bagian dengan keseluruhan

“berikan penilaian tentang…”: penulis diminta untuk tetapkan seberapa kuat atau seberapa lemah sebuah bahan diskusi (subject-matter)–dengan kata lain, penulis harus meletakkannya dalam sebuah hirarki nilai 

“golongkan atau klasifikasikan…”: penulis diminta untuk menggolongkan sebuah pokok pembicaraan di dalam kelas atau kategori yang tepat

“berikan komentar atas…” : penulis diminta untuk mengajukan pembedahan kritis atas gagasan, teori, atau sitasi yang diberikan 

“sandingkan dan bandingkanlah…” : penulis diminta untuk memperlihatkan hal-hal yang serupa dan berbeda dari sebuah pemaparan atau gagasan 

“jelaskan…” : penulis diminta untuk memaparkan wawasannya perihal sebuah topik 

“diskusikan secara mendalam tentang…” : penulis diminta untuk memperlihatkan pemaparan terperinci (komprehensif) untuk mengkaji dan mendukung sebuah gagasan –biasanya dilakukan dengan memakai ragam bahasa akademik spesifik (memuat istilah-istilah yang khusus berlaku dalam sebuah disiplin ilmu) 

“definisikan…” : penulis diminta untuk merunut sebuah definisi dan menegaskan batas-batasnya 

“deskripsikan…” : penulis diminta untuk menceritakan ulang sebuah hal berdasarkan perspektif atau opini pribadinya 

“paparkan dengan rinci…”: penulis diminta untuk mendeskripsikan komponen-komponen sebuah hal secara obyektif 

“bahas/diskusikan…” : penulis diminta untuk berbicara secara kritis perihal sebuah topik –baik dari sisi pro maupun kontra 

“jelaskan mengapa…tidak…”: penulis diminta untuk secara tegas memperlihatkan dan menjelaskan masalah-masalah yang muncul dari sebuah pendapat atau pernyataan 

“evaluasi…”: penulis diminta untuk menjelaskan seberapa besar lengan berkuasa sebuah gagasan atau catatan terhadap tujuan semula 

“jelaskan dengan sederhana…” : penulis diminta untuk memaparkan dengan ragam bahasa akademik yang umum kepada pihak-pihak yang belum memahami/awam dengan topik pembahasan 

“berikan ilustrasi tentang…”: penulis diminta untuk menyediakan contoh-contoh atau situasi yang membantu menjelaskan topik yang sedang didiskusikan

“interpretasikan…”: penulis diminta untuk memperlihatkan tafsiran yang memuaskan perihal data, serta menarik kesimpulan dari bukti yang telah diberikan. 

“justifikasi/buktikan…”: penulis diminta untuk menyediakan bukti dan argumen yang mendukung kesimpulan yang diberikan 

“berikan garis besar dari…”: penulis diminta untuk mencari kalimat-kalimat kunci dari setiap paragraf dan menyatukannya 

“rangkumlah…”: penulis diminta untuk menentukan bagian-bagian yang paling penting dan lalu membahasakannya ulang dengan kata-kata sendiri 

“telusuri…/tunjukkan bagaimana…”: penulis diminta untuk memperlihatkan bagaimana sebuah wangsit atau bencana dikembangkan dari wangsit atau bencana sebelumnya 

“hubungkan…”: penulis diminta untuk memperlihatkan korelasi logis antara dua hal 

“berikan penilaian menyeluruh terhadap…”: penulis diminta untuk merangkum dan menelisik apa yang sudah dipaparkan 

“buat catatan singkat tentang…”: penulis diminta untuk memperlihatkan pemandangan umum perihal hal-hal yang paling penting –bukan memaparkan detil


Dua Strategi dalam Menganalisis Paragraf

  • Paragraf Deduktif 
  • Paragraf Induktif


Paragraf Deduktif dan Induktif Adalah Sebuah Pengantar 

Patrick J. Hurley, hal.35&36 menyatakan bahwa paragraf deduktif mengambil kesimpulan pribadi dari pernyataan-pernyataan yang ada di dalamnya, sementara paragraf induktif sanggup mempunyai kesimpulan yang ditarik dari pernyataan-pernyataan yang ditemukan dalam paragraf tersebut.



Sumber http://wikiwoh.blogspot.com

Rabu, 26 September 2018

Ragam Bahasa Dalam Bahasa Indonesia Dan Kadar Keformalan Bahasa

Ragam Bahasa dalam Bahasa Indonesia



Douglas Biber et.al. dalam studi komprehensifnya wacana tata-bahasa Bahasa Inggris berjudul Grammar of Spoken and Written English (setebal 1.204 halaman, hal.15-17 ): untuk mempermudah sistematika tata bahasa, ragam bahasa (register) dibagi empat: 
  • percakapan
  • fiksi
  • berita
  • akademik


Ciri Ragam Bahasa Percakapan 



  • Berupa bahasa lisan 
  • Sangat interaktif 
  • Membutuhkan situasi dan kondisi terkini dalam dinamikanya 
  • Ditujukan untuk komunikasi personal 
  • Sasaran individual 
  • Dialek bersifat lokal 

Contoh Ragam Bahasa Percakapan

[…] P: sejarah JHF ibarat apa? 
J: sebelum ada JHF sudah ada grup rap bahasa jawa, tapi saya inisiatif dirikan JHF untuk mewadahi grup-grup semacam itu di Jogjakarta, dalam arti saya produseri, promosikan. 
P: apa motivasi JHF untuk mewadahi pemusik rap berbahasa jawa di jogja? 
J: enggak ada. Itu natural saja. Ya alasannya ialah saya cinta bahasa jawa, boso sehari-hari. Paling yummy ngerap pakai bahasa ibu. 
P:bagaimana perkembangan music rap jawa di jogja sehabis dan sebelum diwadahi JHF? 
J: ya yang dari jogja saja sanggup hingga luar negeri. 
P: dari segi fashion, kenapa JHF campurkan style hip-hop dengan batik? […] 
 
Tautan: http://repository.uksw.edu/bitstream/123456789/12024/1/T1_362009024_Lampiran.pdf



Ciri Ragam Bahasa Fiksi



  • Berupa bahasa tulisan 
  • Interaksi terbatas hanya obrolan imajiner 
  • Tidak membutuhkan situasi dan kondisi terkini dalam dinamikanya 
  • Ditujukan untuk menghibur 
  • Sasaran publik 
  • Dialek bersifat global

Contoh Ragam Bahasa Fiksi


[…] Sekalipun tak ada lagi penjualan, Kemitir masih meneruskan kesukaannya berjodi. Tak perlu waktu usang hingga utang-utangnya di rumah jodi terlalu banyak dan membikin gerah. Barang-barang di rumah sudah berpindah tangan. Tanah, kebun, dan sawah menyusul dengan cepat. Suatu pagi, empat pelayan pergi tanpa pamit. Tinggal tersisa tiga, dua pelayan yang ikut keluarga Kemitir semenjak ia gres saja pindah ke ibu kota dan Manggis. […] 

Yusi Avianto Pareanom, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi, hal.134


Ciri Ragam Bahasa Berita




  • Berupa bahasa tulisan 
  • Tidak interaktif 
  • Tidak selalu/mutlak membutuhkan situasi dan kondisi terkini dalam dinamikanya 
  • Ditujukan untuk informasi/evaluasi 
  • Sasaran publik 
  • Dialek bersifat regional/nasional 


Contoh Ragam Bahasa Berita

[…] Pergelaran gamelan—yang mempertemukan kelompok-kelompok lokal dengan kelompok-kelompok dari luar, bahkan manca negara—dan kunjungan ke sentra-sentra produksi instrumen di tempat asal hidupnya di kalangan rakyat jelata akan menjadi arena interaksi kultural, merangsang daya hidup dan membuka peluang tumbuhnya ekonomi secara lebih luas. Pergelaran di bab ini akan diadakan di kelurahan-kelurahan di Kota Surakarta dan di daerah-daerah yang merupakan situs di mana gamelan berkembang dan menemukan gaya atau bentuk yang khas, ibarat kabupaten Boyolali, Blora, Sragen, Karanganyar, Wonogiri, Sukoharjo, dan Klaten. […]

Penulis/Editor : Jodhi Yudono Kompas.com "Solo Siap Gelar Festival Gamelan Internasional” 

https://entertainment.kompas.com/read/2018/08/09/133202610/solo-siap-gelar-festival-gamelan-internasional. 

Ciri Ragam Bahasa Akademik


  • Berupa bahasa tulisan
  • Tidak interaktif
  • Tidak membutuhkan situasi dan kondisi terkini dalam dinamikanya
  • Ditujukan untuk informasi, argumentasi dan eksplanasi
  • Sasaran publik terbatas (lingkaran akademisi)
  • Dialek bersifat global

Contoh Ragam Bahasa Akademik 

[...] Ini berarti perubahan titik sentral pembahasan ke bentuk pun gagal menawarkan alternatif yang lebih komprehensif daripada representasi dan ekspresi. Lagi-lagi, upaya untuk menambatkan definisi seni pada bentuk ataupun jalinan antara bentuk dan isi masih belum sanggup mengikis abjad pribadi semacam itu. Karakter problematis yang disandarkan pada objek seni, baik isi (representasi dan ekspresi) maupun bentuk dan persinggungan antara isi dan bentuk, menciptakan para estetikus karenanya berpaling pada pengamat (audiens) sebagai tambatan dalam upaya mendefinisikan karya seni. […] 

Mardohar B.B. Simanjuntak, “Fondasi Kritik Karya Seni dari Perspektif Estetika Analitis Emansipatoris Noël Carroll”, Jurnal Filsafat Melintas, Vol.32, No.2, Agustus 2016 


Rangkuman Keempat Ciri Ragam Bahasa




Gaya Berbahasa

Ruth Gairns dan Stuart Redman dalam Working with Words, A Guide to Teaching and Learning Vocabulary: gaya berbahasa (style) intinya mengacu pada dua hal, tingkat keformalan (level of formality) dan nuansa (hal.20-21). 




Kadar Keformalan Bahasa

Gairns dan Redman, ibid.: setidaknya, formal-tidaknya sebuah bahasa sanggup dibagi dalam 5 bagian: 

  • Slang 
  • Informal/ Kolokial 
  • Netral 
  • Formal
  • Arkaik


Nuansa Bahasa


Gairns dan Redman, ibid.: pada dasarnya, nuansa bahasa ialah kasus emotif –gerak kesan rasawi yang muncul dalam diri pendengar atau pembaca. Misalnya: jenaka, ironis, puitik dan lain semacamnya.






Sumber http://wikiwoh.blogspot.com

Fundamental Kata, Frasa, Klausa, Dan Kalimat Dalam Bahasa Indonesia

Fundamental Kata, Frasa, Klausa, dan Kalimat dalam Bahasa Indonesia




Pengguna Bahasa sebagai “Koki”



Analogi Memasak: Bahan Baku



Analogi Memasak: Proses Memasak



Analogi Memasak: Menghidangkan dan Menyantap 





Menulis


Proses menulis sanggup kita analogikan sebagai sebuah aktivitas memasak: 

  1. mulai dari kata –sebagai materi baku; 
  2. dilanjutkan dengan frasa –sebagai materi setengah jadi; 
  3. diteruskan dengan klausa –sebagai materi jadi yang terpisah; 
  4. dilengkapi dengan kalimat –sebagai materi jadi yang utuh; 
  5. ditambahkan dengan kalimat lain menjadi paragraf –sebagai sebuah hidangan; 
  6. ditambahkan paragraf lain menjadi tulisan –sebagai sebuah suguhan penuh ragam; 
  7. dibaca dan dimaknai-sebagai sebuah aktivitas menyantap jamuan.


Empat Kelas Kata Dasar




Kelas Kata dan Analoginya dalam Memasak

  • KATA BENDA 
    • Bahan baku yang menjadi inti dari masakan –misal: daging

  • KATA KERJA 
    • Bahan pendukung primer yang memilih arah kuliner –misal: santan

  • KATA SIFAT 
    • Bahan pendukung sekunder yang melezatkan masakan –misal: garam, cabe

  • KETERANGAN
    • Bahan pendukung tersier yang melengkapi keseluruhan makanan


Analogi Tata Bahasa sebagai “Resep”



Pada dasarnya, tata bahasa bertindak sebagai “resep” dalam menciptakan sebuah hidangan. “Resep” hanya sebuah alat bantu dan bukan masakan, namun tanpa “resep” sebuah hidangan tidak akan terang arahnya.


Pengguna Bahasa sebagai "Tukang Ledeng"



Analogi Gagasan sebagai Air




Kelas Kata Berbasis Fungsi

Ada banyak persepsi wacana definisi kelas kata, dan persepsi untuk setiap bahasa sanggup berbeda-beda. Namun demikian, menurut fungsinya, kelas kata sanggup dibedakan menjadi 7 fungsi dasar untuk goresan pena akademik.


Analogi Pipa Air dengan Fungsi Masing-Masing



Penggunaan pipa air yang keliru akan menimbulkan kebocoran, demikian pula dengan penggunaan kelas kata yang keliru akan menimbulkan kerancuan makna.





Tujuh Kelas Kata untuk Penulisan Akademik

  • “nomina”: sebagai inti gagasan 
  • “verba”: sebagai pembagian terstruktur mengenai gagasan 
  • “adjektiva”: sebagai penjelas “nomina” 
  • “adverbia”: sebagai penjelas “verba”, “adjektiva, dan “adverbia” –penjelas yang lain kecuali “nomina” 
  • “pronomina”:sebagai pengulangan nomina 
  • “konjungsi”: sebagai penghubung dua gagasan 
  • “preposisi”: sebagai label pemanis untuk menjelaskan hal yang tidak sanggup dijelaskan oleh “adverbia”

Contoh

Penghuni rumah gres akan secepatnya ke Bali 

Berikut Anatomi Kata dalam Kalimat Berikut

Penghuni (nomina) rumah (nomina) gres (adjektiva) akan (adverbia) pergi (verba) secepatnya (adverbia) ke (preposisi) Bali (nomina).


Frasa, Klausa, dan Kalimat (Akademik)

  • Frasa, sederhananya: “gabungan kata” 
    • ‘pengguna jasa’; ‘akan menerima’; ‘buku tabungan’ 

  • Klausa, sederhananya: “gabungan frasa yang sudah membentuk satu unit gagasan” 
    • ‘pengguna jasa akan mendapatkan buku tabungan’ 
    • ‘yang sudah membayar biaya administrasi’ 

  • Kalimat, sederhananya: “klausa atau adonan klausa yang sudah membentuk satu kesatuan sistem gagasan yang utuh” 
    • Pengguna jasa yang sudah membayar biaya administrasi akan mendapatkan buku tabungan.’


Tiga Jenis Klausa Terikat (Akademik)
  • Klausa Nomina, sederhananya: “unit gagasan inti”
    • bahwa mereka telah membayar pajak 

  • Klausa Adjektiva, sederhananya: “unit gagasan penjelas nomina”
    • yang diatur dalam undang-undang

  • Klausa Adverbia, sederhananya: “unit gagasan penjelas kalimat”
    • ketika batas waktu diumumkan oleh pemerintah 
Klausa terdiri atas

  • Bebas 
    • dapat bangkit sendiri yang menjadi kalimat 

  • Terikat 
    • menjelaskan kata/frasa/klausa-yang bangkit sendiri 

Konjungsi Khusus Kalimat Majemuk Setara
  • …, DAN… 
  • …, ATAU… 
  • ..., TETAPI.../ ..., AKAN TETAPI... 
  • …, KEMUDIAN… 
  • …, SEMENTARA…

Contoh

Pengantin (nomina) [yang (konjungsi-klausa) gres (adjektiva) saja (adverbia) menikah (verba)] [yang (konjungsi-klausa) sudah (adverbia) memindahkan (verba) barang (nomina) mereka (pronomina/adjektiva)] ke (preposisi) kediaman (nomina) orangtua (nomina) mereka (pronomina/adjektiva) telah (adverbia) pulang (verba) dari (preposisi) liburan (nomina) tiga (adjektiva) hari (nomina) di (preposisi) Jepang (nomina).



Empat Jenis Kalimat (Akademik)

  • Kalimat Sederhana 
    • Semua wajib pajak tahu sesuatu. 
    • Semua wajib pajak merasa lega. 

  • Kalimat Majemuk Setara 
    • Semua wajib pajak tahu sesuatu dan mereka merasa lega. 

  • Kalimat Majemuk Bertingkat 
    • Semua wajib pajak tahu bahwa mereka telah membayar pajak [klausa nomina] yang diatur dalam undang-undang [klausa adjektiva] ketika batas waktu diumumkan oleh pemerintah [klausa adverbia]

  • Kalimat Majemuk Setara-Bertingkat
    • Semua wajib pajak tahu bahwa mereka telah membayar pajak yang diatur dalam undang-undang saat batas waktu diumumkan oleh pemerintah, dan mereka merasa lega.

Sumber http://wikiwoh.blogspot.com

Bahasa Indonesia : Dasar-Dasar Menciptakan Paragraf Deduktif, Induktif, Dan Contoh

Bahasa Indonesia : Dasar-Dasar Membuat Paragraf Deduktif, Induktif, dan Contoh




Ciri Paragraf Deduktif Menurut Hurley


  • Ada satu kalimat yang merupakan kebenaran realitas (truth) atau dasar teori yang sudah diterima (konvensi) atau kepastian (keniscayaan) yang dianggap tidak perlu dipertanyakan lagi (kalimat kunci deduktif). 
  • Kalimat-kalimat lainnya berisi “subyek” atau “predikat” dari kalimat kunci (kalimat pendukung). 
  • Kalimat-kalimat penjelas dan ilustrasi menjelaskan kalimat pendukung. 
  • “Biasanya kalimat kunci deduktif terletak di awal paragraf” –kebiasaan dan BUKAN ATURAN


Contoh Paragraf Deduktif Sederhana


Air mendidih di seluruh permukaan yang berada di ketinggian 0-10 m di atas permukaan bahari pada suhu seratus derajat Celsius. (kalimat kunci) Di serpihan utara air mendidih pada suhu yang sama, dan di sebelah selatan air mencapai titik didih di angka yang serupa. (kalimat pendukung) Air mendidih di kedua wilayah tersebut pada 100 derajat Celcius.(kalimat pendukung)


Ciri Paragraf Induktif Menurut Hurley


  • Ada satu kalimat yang merupakan kesimpulan umum yang ditarik dari kalimat-kalimat pendukung (kalimat kunci induktif). “Subyek” dari kalimat kunci yakni bentuk umum dari “subyek” kalimat pendukung. 
  • Kalimat-kalimat pendukung semuanya membentuk pola yang serupa. 
  • Kalimat-kalimat penjelas dan ilustrasi menjelaskan kalimat pendukung. 
  • “Biasanya kalimat kunci induktif terletak di simpulan paragraf” –kebiasaan dan BUKAN ATURAN


Contoh Paragraf Induktif Sederhana

Di Jakarta hasil penelitian memperlihatkan bahwa jumlah penderita malaria meningkat sepuluh persen. (kalimat pendukung) Di Surabaya dan Semarang angka penderita yang masuk di Departemen Kesehatan cenderung naik sembilan persen.(kalimat pendukung) Angka-angka yang ditunjukkan oleh kota-kota di pulau Jawa mengindikasikan epidemi malaria. (kalimat kunci) 




Prinsip Dasar Membuat Paragraf: Deduktif atau Induktif

  • Hanya ada dua pilihan dalam menciptakan paragraf akademik: deduktif atau induktif. paragraf kosong bukan pilihan dalam goresan pena akademik. 
  • Don Shiach (2007:12): Apa itu “ [paragraf] kosong”? Yang dimaksud yakni dikala mahasiswa mencoba menyembunyikan kenyataan bahwa mereka tidak tahu apa-apa sehingga mereka merangkai sebuah [paragraf] yang berlaku terlalu umum, dan sama sekali tidak relevan dengan pertanyaan.

Contoh Paragraf “Kosong”

Masalah ini yakni sebuah permasalahan yang sangat penting, dan ada banyak pendekatan yang sanggup dilakukan. Banyak pakar telah membahas duduk kasus ini secara serius, namun tidak ada satu pun di antara mereka yang berhasil memperlihatkan solusi yang efektif. Ada banyak argumen yang mendukung dan menentang, dan banyak orang yang menaruh perhatian perihal duduk kasus ini. (Shiach, ibid.) 

Pertanyaan ini telah menciptakan para hebat sejarah merasa resah selama bertahun-tahun. Sirkumstansi historis sangat kompleks, dan bahkan banyak sekali argumen dan kontra-argumen yang muncul sangat membingungkan. Pada kenyataannya sangat sulit untuk menciptakan sebuah evaluasi terhadap masalah-masalah kritis semacam ini. Pilihan paling rasional yang sanggup dilakukan yakni dengan cara mempertimbangkan bukti-bukti historis dan menarik sebuah kesimpulan yang relevan. (Shiach, hal.13)


Mengapa paragraf sanggup “kosong” ? 

  • Kedua paragraf kosong tersebut disebabkan oleh kemunculan kalimat kunci yang sifatnya semu –tidak terukur. 
  • Kalimat kunci yang bekerjsama hanya dijangkarkan pada pendekatan deduktif dan induktif. 
  • Penyebab lain dari paragraf kosong yakni ketiadaan kalimat pendukung yang memperlihatkan justifikasi terhadap kalimat kunci (tanpa fakta atau teori).


Struktur Dasar Paragraf Standar (Akademik)


  • Elemen Primer (mutlak ada): 
    • HANYA SATU kalimat kunci 
    • Dua atau tiga kalimat pendukung untuk mendukung kalimat kunci 

  • Elemen Sekunder (opsional): 
    • Satu atau dua kalimat rujukan atau ilustrasi untuk menjelaskan masing-masing kalimat pendukung



Pola Dasar Deduktif

Orientasi pendekatan prinsip-prinsip etik intinya sanggup dibagi menjadi proses dan hasil. Dalam pendekatan proses, sebuah tindakan dikategorikan memenuhi instruksi etik apabila keseluruhan tahapan mengacu pada nilai-nilai dasar kemanusiaan. Dalam orientasi hasil, sebuah agresi dikatakan etik kalau hasilnya sejalan dengan hak-hak dasar seorang manusia. Contoh dari pendekatan pertama yakni dikala insan tidak berbohong sekalipun tindakan tersebut dilakukan untuk kebaikan. Contoh untuk pendekatan kedua yakni dikala insan terpaksa harus membunuh demi mempertahankan hidupnya. 


Struktur Pola Dasar Deduktif

  • kalimat kunci -KK 
  • kalimat pendukung 1 –KP1 
  • kalimat pendukung 2 –KP2 
  • kalimat penjelas 1 (untuk kalimat pendukung 1) –KJ 1 
  • kalimat penjelas 2 (untuk kalimat pendukung 2) –KJ2 

  • Pola Dasar: KK-KP1-KP2-KJ1-KJ2


Pola Dasar Induktif

Pengambilan sampel hitung-cepat di pulau Jawa mencapai tingkat akurasi yang mendekati angka 91,5%. Kenyataan ini sanggup dilihat dari hasil yang didapat di Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Proses serupa yang dilakukan di Sumatra mencapai angka 93%. Medan, Padang, dan Palembang yakni indikator-indikator terpercaya dari temuan tersebut. Metode hitung-cepat di Indonesia diprediksi menghasilkan asumsi pemenang pemilihan kepala kawasan dengan tingkat kepercayaan di atas 90%.


Contoh Lain Paragraf Induktif

Kaum sekuler Israel sering mengeluhkan bahwa kaum ultra-ortodoks tidak memperlihatkan bantuan terhadap masyarakat, dan gaya hidup semacam ini hanya menumpangi kerja keras pihak lain. [kalimat pendukung 1] Kubu sekuler juga berargumen bahwa cara hidup kubu ultra-ortodoks juga sangat membebani, terutama lantaran keluarga semacam ini rata-rata mempunyai tujuh orang anak. [kalimat pendukung 2] Bagi mereka, cepat atau lambat negara tidak akan lagi sanggup membiayai begitu banyak pengangguran terselubung semacam ini, dan pada risikonya pihak ultra-ortodoks tetap harus bekerja menyerupai yang lain. [kalimat pendukung 3] […] [Masalahnya, keluhan mereka yang berseberangan dengan kaum konservatif ini mungkin tidak akan terbukti lantaran di masa depan] lantaran tuntutan untuk mencari makna dan kelekatan komunitas sanggup mengatasi tuntutan untuk mencari pekerjaan. [kalimat kunci] 

Disadur dan diterjemahkan bebas dari 21 Lessons for the 21st Century, Yuval Noah Harari (Jonathan Cape: 2018, hal.40).


Struktur Dasar Pola Induktif

  • kalimat pendukung 1 –KP1 
  • kalimat penjelas 1 (untuk kalimat pendukung 1) –KJ1 
  • kalimat pendukung 2 –KP2 
  • kalimat penjelas 2 (untuk kalimat pendukung 2) –KJ2 
  • kalimat kunci –KK 

  • Pola Dasar: KP1-KJ1-KP2-KJ2-KK

Sumber http://wikiwoh.blogspot.com

Senin, 05 Juni 2017

8 Teladan Karangan Persuasi Singkat Perihal Lingkungan

8 Contoh Karangan Persuasi Singkat Tentang Lingkungan - Karangan persuasi merupakan sebuah karya tulis yang bertujuan untuk menghipnotis dan mengubah sudut pandang pembaca supaya melaksanakan suatu acara sesuai dengan apa yang ditulis pengarang. Dalam konteks kehidupan nyata, kita bisa menemukan banyak sekali teladan karangan persuasi singkat yang bersifat baik dan membangun menyerupai karangan persuasi wacana lingkungan, kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, lebih tepatnya di jenjang sekolah menengah keatas kita bisa dengan gampang menemukan teladan karangan narasi lengkap dengan pengertian dan strukturnya.

Karangan persuasi sendiri terdiri dari sekumpulan paragraf persuasi. Artinya setiap paragraf yang ada pada karangan persuasi juga bersifat mengajak atau menghipnotis pembaca. Dalam menulis teladan karangan persuasi ataupun menyusun paragraf persuasi tentunya pengarang memakai kalimat usul atau sugesti yang notabennya bisa menghipnotis dan mengubah sudut pandang orang yang membacanya. Selanjutnya paragraf persuasi tersebut disusun sedemikian rupa dan terbentuklah sebuah karangan persuasi.

8 Contoh Karangan Persuasi Singkat Tentang Lingkungan

Selain teladan karangan persuasi wacana lingkungan, sebenarnya masih terdapat banyak sekali teladan persuasi lainnya menyerupai pendidikan, kesehatan, keselematan, alam sekitar dan lain sebagainya. Namun dalam artikel kali ini kita akan berfokus membahas karangan persuasi wacana lingkungan saja. 
 Contoh Karangan Persuasi Singkat Tentang Lingkungan 8 Contoh Karangan Persuasi Singkat Tentang Lingkungan
Contoh karangan persuasi singkat
Sejatinya, teladan karangan persuasi wacana lingkungan ditulis dengan tujuan untuk menghipnotis pembaca untuk menjaga lingkungan sekitar dimana ia tinggal. Hal ini tentunya sejalan dengan kebiasaan masyarakat kini ini yang terkesan kurang bisa menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan. Menyadari insiden ini akhirnya banyak orang yang menuangkan aspirasinya melalui karya tulis berbentuk teladan karangan perusasi singkat wacana lingkungan.
Baca juga: Pengertian, Jenis, Ciri-ciri, dan Contoh Paragraf Persuasi
Dalam penggunaanya, teladan karangan persuasi singkat bisa dikategorikan menjadi beberapa jenis diantaranya adalah:
  • Persuasi propaganda
  • Persuasi advertising (periklanan)
  • Persuasi pendidikan
  • Persuasi politik
Keempat jenis karangan persuasi tersebut tentunya mempunyai ciri ciri tujuan yang berbeda beda. Karangan persuasi propaganda umumnya disampaikan dengan seruan yang keras dan lantang supaya pembaca mengikuti pesan yang ada dalam karangan tersebut. Sedangkan persuasi advertising biasanya menggukakan bahasa yang menarik serta mengajak pembaca atau pendengar untuk memakai produk yang diiklankan. Lain halnya dengan persuasi pendidikan dan politik. Namun kita bisa menarik kesimpulan bahwa teladan karangan persuasi wacana lingkungan termasuk dalam kategori persuasi propaganda alasannya mengingatkan dan mengajak kita untuk menjaga lingkungan melalui kalimat kalimat usul yang keras dan lantang. Berikut beberapa teladan karangan persuasi wacana lingkungan yang bisa kita amati.

Contoh paragraf persuasi wacana lingkungan
Jika kita tinggal dikota padat menyerupai bandung dan jakarta, sebaiknya kita menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan. Cara paling gampang yang bisa kita lakukan untuk menjaga lingkungan yaitu dengan memunculkan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya. Pentingnya menanamkan budaya membuang sampah ini dilakukan bukan tanpa alasan. Setiap kota besar mempunyai kanal irigasi dan sungai, alasannya ulah sebagian orang yang tidak mempunyai kesadaran membuang sampah karenanya kita bisa menemukan banyak sampah mengapung dan menyumbat pintu pintu air di kota besar. Apabila penyumbatan pintu air ini terus terjadi dan intensitas sampah terus meningkat, maka banjir tidak akan bisa dihindari dikala masuk demam isu penghujan.
 Contoh Karangan Persuasi Singkat Tentang Lingkungan 8 Contoh Karangan Persuasi Singkat Tentang Lingkungan
contoh karangan persuasi wacana lingkungan
Kaprikornus bisa disimpulkan bahwa banjir yang terjadi di kota besar sebenarnya bukanlah kesalahan alam ataupun faktor cuaca melainkan alasannya insan yang tidak bisa menjaga kebersihan lingkungan itu sendiri. Banjir tidak akan terjadi bila kita menanamkan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya. Maka dari itu sebagai seorang insan yang diberikan nalar pikiran untuk berpikir, hendaknya kita bisa menyikapi hal ini.
Pada teladan karangan persuasi wacana lingkungan diatas sanggup kita tarik kesimpulan bahwa pengarang ingin mengajak pembaca untuk menanamkan budaya buang sampah pada tempatnya. Sebelum mulai mengajak dan menghipnotis pembaca, pengarang menjelaskan terlebih dahulu ancaman yang timbul tanggapan buang sampah sembarangan
Contoh karangan persuasi wacana lingkungan dan sampah
Sampah merupakan barang atau benda sisa yang sudah tidak diharapkan oleh manusia. Lazimnya sampah harusnya berada di kawasan sampah, namun faktanya kita bisa menemukan sampah di banyak sekali kawasan khususnya di kawasan tempat umum menyerupai jalan, taman, stasiun, selokan dan sungai. Penyebab sampah yang berceran tersebut tidak lain yaitu alasannya ulah insan yang tidak membuang sampah pada tempatnya.
 Contoh Karangan Persuasi Singkat Tentang Lingkungan 8 Contoh Karangan Persuasi Singkat Tentang Lingkungan
contoh karangan persuasi wacana lingkungan
Padahal sampah yang dibiarkan menumpuk terus menerus sanggup menjadikan banyak sekali problem baik untuk lingkungan dan kehidupan manusia. Sampah yang menumpuk di sungai akan menjadikan banjir, dan sampah yang menumpuk di lingkungan atau pemukiman akan menjadikan banyak sekali penyakit menyerupai diare, TBC, hingga demam berdarah. Pentingnya menjaga kebersihan lingkungan harus ditanamkan kepada masyarakat semenjak dini.
Dari teladan karangan persuasi wacana lingkungan diatas kita bisa menarik kesimpulan bahwa pengarang ingin mengingatkan wacana ancaman membuang sampah bagi lingkungan dan keberlangsungan insan itu sendiri. Selain itu, pengarang juga mengajak masyarakat untuk menanamkan pentingnya menjaga lingkungan tetap bersih
Contoh karangan persuasi wacana lingkungan hidup
Kita harus mempunyai kesadaran sebetulnya lingkungan merupakan elemen penting dimana semua makhluk hidup di dunia. Karena lingkungan bisa menghipnotis keberlangsungan makhluk hidup, artinya lingkungan juga mempunyai tugas penting untuk kehidupan manusia. Jika keadaan lingkungan baik, maka sanggup dipastikan setiap makhluk yang hidup di dalamnya juga akan baik pula dan begitu juga sebaliknya. Maka dari itu, kita sebagai makhluk yang hidup di dalam lingkungan haruslah menjaga kebersihan supaya lingkungan yang kita tempati menjadi higienis dan nyaman.
 Contoh Karangan Persuasi Singkat Tentang Lingkungan 8 Contoh Karangan Persuasi Singkat Tentang Lingkungan
contoh karangan persuasi wacana lingkungan
Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar yaitu dengan menjaga kebersihan. Namun akan lebih baik lagi bila kita juga menanamkan budaya menjaga kebersihan ini pada diri kita sendiri terlebih dulu. Mulailah dari hal hal kecil terlebih dulu menyerupai menjaga kebersihan diri gres menjaga lingkungan setelahnya. Jika sikap baik sudah tertanam pada diri kita, tentunya akan mendorong kita melaksanakan hal yang lebih besar menyerupai menjaga lingkungan.
Baca juga: 50 Contoh Kalimat Ajakan Dalam Bahasa Indonesia
Contoh umum yang bisa kita temukan yaitu budaya membuang sampah pada tempatnya. Jika setiap orang mempunyai budaya ini tentunya lingkungan sekitar dimana kita tinggal akan selalu higienis alasannya setiap orang sudah mempunyai kesadaran untuk membuang sampah pada kawasan yang sudah disediakan. Selain itu kita juga bisa mengingatkan orang lain untuk menjaga kebersihan melalui slogan sloga, ataupun karya sastra menyerupai teladan karangan persuasi wacana lingkungan hidup dan lain sebagainya.

Mengapa banyak sekali tindakan diatas perlu dilakukan? Hal ini mengacu kepada tingkat kesadaran masyarakat yang masih tergolong rendah untuk menjaga kebersihan lingkungan. Pernyataan ini bisa dibuktikan dengan banyaknya sampah di sekitar kita dimana sampah plastik, daun daun kering, botol bekas dan sisa masakan berceceran hampir di setiap tempat. Masyarakat tidak menyadari bahwa tumpukan sampah tersebut bisa menjadikan banyak sekali problem dan menjadi sumber penyakit. Mirisnya lagi, ditempat umum yang notabennya sudah disediakan kawasan sampah masih saja terdapat sampah yang tercecer dan mengotori lingkungan.

Bahkan kawasan sampah tersebut telah dipisah menurut kategorinya (organin, non organik, kaca/logam, dan kertas) dan diletakkan di kawasan yang bisa dibilang strategis atau gampang untuk dijangkau. Namun faktanya upaya tersebut tetap sia sia alasannya kurangnya kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dan membuang sampah pada tempatnya.
Baca juga: Contoh Cerpen Singkat Romantis Tentang Cinta (Contoh, Struktur, Alur dan Tema)
Jika kita peduli terhadap keberlangsungan hidup insan maka hendaknya kita menjaga kebersihan lingkungan. Sebagai bentuk dan upaya menjaga lingkungan kita bisa membiasakan diri untuk membuang sampah pada kawasan yang sudah disediakan. Selain itu kita juga bisa mengolah kembali sampah sampah tersebut menjadi barang daur ulang (recycle).

Dengan upaya tersebut kita telah turut andil dalam pelestarian alam dan lingkungan. Secara tidak eksklusif kita juga telah meminimalisir terjadinya tragedi banjir dan mencegah banyak sekali penyakit yang timbul tanggapan sampah. Singkatnya, marilah bersama sama kita menjaga kebersihan lingkungan supaya hidup kita selalu sehat.
Dalam teladan karangan persuasi diatas sanggup ditarik kesimpulan bahwa sampah, kebersihan, makhluk hidup dan lingkungan saling terkait satu sama lain. Pengarang ingin merubah sudut pandang pembaca wacana pentingnya membuang sampah dan menjaga lingkungan supaya tetap bersih. Dalam pengaplikasiannya pengarang memakai pola kalimat deduktif dimana ia menjelaskan hal hal umu di awal karangan dan menutupnya dengan informasi informasi yang lebih spesifik.
Itulah banyak sekali teladan karangan persuasi wacana lingkungan hidup dan sampah yang dikemas singkat padat dan pendek yang sanggup saya sampaikan dalam artikel kali ini. Sebenarnya masih terdapat banyak sekali teladan paragraf persuasi lain yang bisa kita temukan di banyak sekali media baik cetak maupun internet.
Sumber http://materi4belajar.blogspot.com