Tampilkan postingan dengan label Teori Belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teori Belajar. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Januari 2019

Kecerdasan Langsung Dalam Bentuk Kecerdasan Emosional

Kecerdasan Pribadi Dalam Bentuk Kecerdasan Emosional Kecerdasan Pribadi Dalam Bentuk Kecerdasan EmosionalSternberg dan Salovey, sebagaimana diungkapkan oleh Goleman, disebutkan adanya lima wilayah kecerdasan langsung dalam bentuk kecerdasan emosional. Lima wilayah tersebut adalah:
  • Kemampuan mengenali emosi diri
  • Kemampuan mengelola emosi
  • Kemampuan memotivasi diri
  • Kemampuan mengenali emosi orang lain
  • Kemampuan membina hubungan
Kemampuan Mengenali Emosi Diri ialah kemampuan seseorang dalam mengenali perasaannya sendiri sewaktu perasaan atau emosi itu muncul. Ini sering dikatakan sebagai dasar dari kecerdasan emosional. Seseorang yang bisa mengenali emosinya sendiri ialah jikalau ia mempunyai kepekaan yang tajam atas perasaan mereka yang bekerjsama dan kemudian mengambil keputusan-keputusan secara mantap. Dalam hal ini contohnya sikap yang diambil dalam menentukan banyak sekali pilihan, mirip memilih: sekolah, sahabat, pekerjaan, hingga kepada pemilihan pasangan hidup.

Kemampuan Mengelola Emosi ialah kemampuan seseorang untuk mengendalikan perasaannya sendirisehingga tidak meledak dan jadinya sanggup menghipnotis perilakunya secara salah. Mungkin sanggup diibaratkan sebagai seorang pilot pesawat yang sanggup membawa pesawatnya ke suatu kota tujuan dan kemudian mendaratkannya secara mulus. Misalnya seseorang yang sedang marah, maka kemarahan itu tetap sanggup dikendalikan secara baik tanpa harus menimbulkan akhir yang jadinya disesalinya di kemudian hari.

Kemampuan Memotivasi Diri ialah kemampuan untuk memperlihatkan semangat kepada diri sendiri untuk melaksanakan sesuatu yang baik dan bermanfaat. Dalam hal ini terkandung adanya unsur impian dan optimisme yang tinggi, sehingga seseorang mempunyai kekuatan semangat untuk melaksanakan suatu acara tertentu. Misalnya dalam hal belajar, bekerja, menolong orang lain, dan sebagainya.

Kemampuan Mengenali Emosi Orang Lain ialah kemampuan untuk mengerti perasaan dan kebutuhan orang lain, sehingga orang lain akan merasa bahagia dan dimengerti perasaannya. Anak-anak yang mempunyai kemampuan ini, yaitu sering pula disebut sebagai kemampuan berempati, bisa menangkap pesan non-verbal dari orang lain tersebut. Dengan demikian belum dewasa ini akan cenderung disukai orang.

Kemampuan Membina Hubungan ialah kemampuan untuk mengelola emosi orang lain, sehingga tercipta keterampilan sosial yang tinggi dan menciptakan pergaulan seseorang menjadi lebih luas. Anak-anak dengan kemampuan ini cenderung mempunyai banyak teman, cerdik bergaul dan menjadi lebih populer.

Di sini sanggup kita simpulkan betapa pentingnya kecerdasan emosional dikembangkan pada diri anak. Karena betapa banyak kita jumpai anak-anak, dimana mereka begitu cerdas di sekolah, begitu cemerlang prestasi akademiknya, namun jikalau tidak sanggup mengelola emosinya, mirip gampang marah, gampang frustasi atau besar kepala dan sombong, maka prestasi tersebut tidak akan banyak bermanfaat untuk dirinya. Ternyata kecerdasan emosional perlu lebih dihargai dan dikembangkan pada anak semenjak usia dini. Karena hal inilah yang mendasari keterampilan seseorang di tengah masyarakat kelak, sehingga akan menciptakan seluruh potensinya sanggup berkembang secara lebih optimal.

Hal yang hampir senada juga dikemukakan oleh Robert Coles dalam bukunya yang berjudul “The Moral Intelligence of Children”, bahwa di samping IQ, ada suatu jenis kecerdasan yang juga memegang peranan amat penting bagi kesuksesan seseorang dalam hidupnya.
Hal ini ditandai dengan kemampuan seorang anak untuk bisa menghargai dirinya sendiri maupun diri orang lain, memahami perasaan terdalam orang-orang di sekelilingnya, mengikuti aturan-aturan yang berlaku. Semua ini termasuk merupakan kunci keberhasilan bagi seorang anak di masa depan.

Kecerdasan Spiritual
Danah Zohar dan Ian Marshal dalam bukunya yang berjudul “Connecting with Our Spiritual Intelligence” (2000), menyatakan bahwa dalam otak insan ditemukan adanya eksistensi God-Spot sebagai sentra spiritual yang terletak antara jaringan syaraf dan otak. Adanya God-Spot dalam otak memperlihatkan bahwa insan mempunyai kepekaan terhadap makna hidup dan nilai-nilai kehidupan.

Kecerdasan spiritual sanggup menumbuhkan fungsi manusiawi seseorang sehingga menciptakan mereka menjadi kreatif, luwes, berwawasan luas, spontan, sanggup menghadapi usaha hidup, menghadapi kecemasan dan kekhawatiran, sanggup menjembatani antara diri sendiri dan orang lain serta menjadi lebih cerdas secara spiritual dalam beragama.
Peran orangtua dalam upaya menumbuhkembangkan kecerdasan spiritual pada anak sangat penting. Sama pentingnya dalam upaya orangtua dalam menumbuhkembangkan potensi kecerdasan anak pada bidang yang lainnya. Dalam hal ini, yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua ialah :
  • Usahakan untuk tidak mematikan spontanitas anak
  • Usahakan untuk selalu tidak berprasangka jelek pada anak maupun orang lain.
  • Upayakan semoga sanggup mendidik dan membesarkan anak dengan kasih sayang serta keakraban dalam lingkungan keluarga
  • Tumbuhkanlah rasa percaya diri anak dengan tidak menekan anak sehingga anak jadi takut mencoba sesuatu hal yang gres serta sanggup mengambil kesimpulan yang salah terhadap suatu peristiwa.
  • Upayakan semoga anak sanggup menciptakan dan mempunyai prioritas hidup

Selanjutnya, bagaimana caranya semoga hal ini sanggup diwujudkan pada belum dewasa kita semenjak usia dini sebagai persiapan menyambut kurun globalisasi ?
Suasana tenang dan penuh kasih sayang di sekolah, di samping keluarga, contoh-contoh kasatmata berupa sikap saling menghargai satu sama lain, ketekunan dan keuletan menghadapi kesulitan, sikap disiplin dan enuh semangat, tidak gampang putus asa, lebih banyak tersenyum daripada cemberut, semua ini memungkinkan anak berbagi kemampuan yang bekerjasama dengan kecerdasan kognitif, kecerdasan emosional maupun kecerdasan susila dan spiritualnya.

Anak-anak unggul intinya tidak akan tumbuh dengan sendirinya. Mereka sungguh memerlukan lingkungan subur yang diciptakan untuk itu, yang memungkinkan potensi mereka sanggup tumbuh secara optimal. Dalam hal ini orangtua, di samping guru, memegang peranan yang amat penting

Oleh alasannya itu tentunya diharapkan suatu kesungguhan dari para orangtua untuk secara tekun dan rendah hati melaksanakan hal yang terbaik bagi putra-putrinya.

Kiranya uraian di atas sanggup memperlihatkan sedikit wawasan bagi para orangtua untuk usaha-usaha tersebut.

Video pilihan khusus untuk Anda 😊 Apa yang kita lakukan hari ini ialah Membangun Masa Depan;
Kecerdasan Pribadi Dalam Bentuk Kecerdasan Emosional Kecerdasan Pribadi Dalam Bentuk Kecerdasan Emosional


Sumber http://www.defantri.com

Sabtu, 15 Desember 2018

Teori Berguru Pembelajaran Matematika Di Sekolah

Teori Belajar Pembelajaran Matematika Di Sekolah Teori Belajar Pembelajaran Matematika Di SekolahAada beberapa teori berguru yang bisa diterapkan dalam pembelajaran matematika disekolah. Sebelum kita kepada teori belajar, coba kita simak sedikit perihal dua paradigma pembelajaran, yakni paradigma instruktivisme, dan paradigma konstruktivisme.

Paradigma konstruktivisme memandang bahwa matematika sebagai acara insan (human activity) yang fallible (bisa salah), bukan kumpulan struktur yang benar absulut yang eksternal terhadap manusia. Kebenaran matematika maupun kebenaran obyek matematika harus diwujudkan sebagai hasil konstruksi atau cara mengkonstruk. Ini berarti bahwa konstruksi matematika diperlukan untuk menghadirkan kebenaran atau keberadaan sebagai penolakan terhadap cara pembuktian berdasarkan kontradiksi.

Konstruktivisme memegang teguh pendapat bahwa setiap dunia pengalaman bergantung pada konteks dan bersifat unik dan tidak bisa diakses oleh individu lainnya. Makara dunia pengalaman bukanlah konklusi berdasarkan data-data empirik, tetapi suatu keahusan epistimologi yang apriori (Akbar Suta -wijaya, 2002:357).

Piaget, salah satu tokoh konstruktivisme mengemukakan bahwa perkembangan kognitif bukanlah merupakan akumulasi dari kepingan informasi yang terpisah, namun lebih merupakan pengkonstruksi-an suatu kerangka mental oleh siswa untuk memahami lingkungan mereka, sehingga siswa bebas membangun pemahamannya sendiri (Asikin, 2003:6).

Prinsip-prinsip dalam pembelajaran yang berpaham konstruktivisme diantaranya sebagai berikut:
  1. Pengertian dibangun oleh siswa sendiri baik secara personal maupun sosial,
  2. Pengetahuan tidak sanggup dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali hanya dengan keaktifan siswa itu sendiri untuk bernalar,
  3. Siswa aktif mengkonstruksi terus menerus sehingga selalu terjadi perubahan konsep menuju ke konsep yang lebih rinci, lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiah,
  4. Guru sekadar membantu menyediakan sarana dan situasi biar proses konstruksi siswa berjalan mulus sesuai dengan kemampuan siswa.
Ciri-ciri pembelajaran matematika secara konstruktivisme, sebagai berikut.
  1. Siswa terlibat secara aktif dalam belajarnya,
  2. Siswa berguru materi matematika, secara bermakna,
  3. Siswa berguru bagaimana berguru itu,
  4. Informasi gres harus dikaitkan dengan informasi sebelumnya sehingga menyatu dengan skemata yang telah dimiliki siswa,
  5. Orientasi pembelajaran yakni pemeriksaan dan penemuan,
  6. Berorientasi pada pemecahan masalah.
Belajar matematika, tidak sekadar learning to know, melainkan harus ditingkatkan menjadi learning to do, learning to be, sampai learning to live together.

Filosofi pengajaran matematika perlu diperbaruhi secara fundamental menjadi pembelajaran matematika. Terjadi pergeseran paradigma dalam proses pembelajaran matematika, yaitu:
  1. Dari teacher centered menjadi learner centered,
  2. Dari teaching centered menjadi learning centered,
  3. Dari content based menjadi competency based,
  4. Dari product of learning menjadi process of learning,
  5. Dari summative evaluation menjadi formative evaluation.

TEORI BELAJAR UNTUK PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Teori Belajar Piaget.
Manusia tumbuh menyesuaikan diri dan berubah melalui perkembangan fisik, kepribadian, emosional, kognitif, berpikir dan bahasa. Pengetahuan tiba dari tindakan, perkembangan kognitif sebagian besar tergantung pada seberapa jauh anak berinteraksi dengan lingkungan (Sofianto A N, 2003:6).

Perkembangan kognitif insan melalui 4 (empat) tahap secara berurutan, yakni:
1) tahap sensori motorik,
2) tahap pra-operasional,
3) tahap operasi kongkrit, dan
4) tahap operasi formal.

Menurut Piaget, struktur kognitif yang dimiliki seseorang itu lantaran proses asimilasi dan akomodasi. Asimilasi yakni proses mendapat informasi dan pengalaman gres yang eksklusif menyatu dengan struktur mental yang sudah dimiliki seseorang. Sedangkan fasilitas yakni proses menstruktur kembali mental sebagai jawaban adanya informasi dan pengalaman gres tadi. Informasi dan pengalaman yang disebut pengetahan, berdasarkan Piaget bukanlah suatu klise realitas, melainkan rekonstruksi dari realitas. Adaptasi oleh Piaget, tediri dua proses, yaitu asimilasi dan akomodasi.

Perkembangan intelektual dipengaruhi oleh tiga faktor, yakni:
a. Kematangan merupakan proses pertumbuhan psikologis dari otak dan sistem syarat.
b. Transmisi sosial
c. Penyetimbang (equillibrition) merupakan proses adanya kehilangan stabilitas di dalam struktur mental sebagai jawaban pengalaman dan informasi gres dan kembali setimbang melalui proses asimilasi dan akomodasi

Teori Belajar Gagne.
Belajar merupakan proses yang memungkinkan insan memodifikasi tingkah lakunya secara permanen, sedemiian sampai modifikasi yang sama tidak akan terjadi lagi pada situasi baru. Kematngan bukanlah belajar, alasannya yakni perubahan tingkah laris yang terjadi, dihasilkan dari pertumbuhan struktur dalam diri insan itu.

Belajar terjadi bila individu merespon terhadap stimulus yang datangnya dari luar, sedangkan kematangan datangnya memang dari dalam diri orang itu. Perubahan tingkah laris yang tetap sebagai hasil berguru harus terjadi bila orang itu berinteraksi dengan lingkungan.

Dalam keterampilan intelektual, Gagne mengurut delapan tipe berguru sebagai berikut:
1. Belajar sinyal / isyarat
2. Belajar stimulus respon
3. Belajar rangkaian
4. Belajar asosiasi
5. Belajar diskriminasi
6. Belajar konsep
7. Belajar aturan
8. Belajar pemecahan masalah


Teori Belajar Ausubel
Belajar dikatakan bermakna (meaningfull) bila informasi yang akan dipelajari penerima didik disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimilikinya sehingga sanggup mengaitkan informasi barunya dengan struktur kognitif yang dimilikinya.

Entitas fakta dan generalisasi lebih siap dipelajari dan diserap oleh siswa bila fakta-fakta dan generalisasi itu dikaitkan ke kerangka yang lebih inklusif dari pengetahuan yang bermakna. Hierarkhi Ausubel dari yang lebih inklusif ke yang sederhana.

Kegiatan berguru dengan peneluan maupun dengan ceramah, sanggup menghasilkan berguru bermakna bagi siswa. Untuk mengajarkan konsep persamaan kuadrat, harus disiapkan dahulu pengertian persamaan sebagai konsep yang lebih inklusif dalam struktur kognitif siswa, biar berguru menjadi bermakna.

Tugas-tugas yang diberikan kepada siswa harus sesuai dengan struktur kognitif dan harus sesuai dengan tahap perkembangan intelektual siswa tersebut. Perlu dibedakan antara struktur kognitif siswa dan tahap perkembangan intelektual siswa.

Teori Belajar Polya
Polya sangat mendukung terhadap pembelajaran memakai pemecahan masalah. Menurut Polya, dibedakan antara 1) masalah ”menemukan”, dan 2) masalah ”membuktikan”.

a. Pengetian masalah.
Suatu situasi yakni masalah bagi seseorang, bila ia sadar akan situasi itu, tahu bahwa hal itu membutuhkan suatu tindakan, ia mau dan perlu bertindak dan melaksanakan tindakan dan situasi tu tidak segera sanggup dislesaikan dengan aturan/ cara tertentu. Makara tidak setiap situasi atau soal/ problem merupakan masalah. Masalah yakni problem yang khusus. Suatu problem dikatakan masalah, bila memenuhi kriteria sebagai berikut.
  1. Tidak dimilikinya aturan/cara yang segera sanggup dipakai untuk menyelesaikannya, artinya tidak sanggup dikerjakan dengan mekanisme rutin
  2. Tingkat kesulitannya sesuai dengan struktur kognitif
  3. Ada kesadaran untuk bertindak menyelesaikan

b. Langkah-langkah pemecahan masalah.
Langkah-langkah pemecahan masalah berdasarkan Polya, sebagai berikut.
1. Memahami masalah.
2. Merencanakan penyelesaian,
3. Menyelesaikan masalah,
4. Melakukan pengecekan

Ada 5(lima) langkah umum dalam model pemecahan masalah, yaitu:
1. Menyajikan masalah dalam bentuk umum,
2. Menetapkan masalah dalam bentuk yang lebih operasional,
3. Merumuskan kemungkinan hipotesis dan prosedurnya,
4. Menguji hipotesis dan mekanisme menuju suatu penyelesaian masalah.
5. Menganalisis dan menguji penyelesaian pemecahan masalah.

Teori Belajar Brunner
Brunner mengemukakan teori konektivitas, yang menyatakan bahwa kegiatan berguru suatu konsep, struktur, dan keterampilan sanggup dihubungkan dengan konsep dan struktur lain. Belajar matematika yakni berguru perihal konsep-konsep dan struktur-struktur yang terdapat dalam materi yang dipelajari serta mencari kekerabatan antara konsep-konsep dan struktur-struktur (Herman Hudoyo, 1998:58).

Peserta didik harus menemukan keteraturan dengan cara memanipulaso material yang berafiliasi dengan keteraturan intuitif yang sudah dimiliki penerima didik.
Menurut Brunner, perkembangan mental siswa mengalami 3 (tiga) tahap, yakni:
  1. Tahap enactive, yakni tahap memanipulasi obyek langsung.
  2. Tahap ikonic, tidak memanipulasi eksklusif obyek, melainkan sanggup memanipulasi dengan memakai citra dari obyek
  3. Tahap simbulik, tahap memanipulasi simbul-simbul, tak perlu mengkaitkan secara eksklusif dengan obyek.
Brunner, mengemukakan 4 (empat) teori/teorema belajar, yakni:
1. Teorema Konstruksi,
2. Teorema notasi
3. Teorema perbedaan dan variasi,
4. Teorema konektivitas.

Teori Belajar Vigotsky
Pembelajaran terjadi apabila siswa berguru atau bekerja menangani tugas-tugas yang belum dipelajari, namun kiprah itu masih berada dalam zone of proximal development, yaitu daerah tingkat perkembangan struktur kognitif seseorang dikala ini.

Teori Belajar ini masih disajikan dengan secara singkat dan masih berpeluang kita diskusikan pada diskusi berikutnya.

Video pilihan khusus untuk Anda 😊 Contoh Proses Belajar Mengajar yang dianjurkan pada Kurikulum 2013;
Teori Belajar Pembelajaran Matematika Di Sekolah Teori Belajar Pembelajaran Matematika Di Sekolah


Sumber http://www.defantri.com

Rabu, 12 Desember 2018

Mengenal Pembelajaran Tematik

Minggu, 25 November 2018

Implementasi Teori Kecerdasan Beragam Dalam Pembelajaran

Selasa, 20 November 2018

Strategi Pembelajaran Matematika Sma

Rabu, 01 Agustus 2018

Konsep Dasar Pendekatan Keterampilan Proses Dalam Pembelajaran

Konsep Dasar Pendekatan Keterampilan Proses Dalam Pembelajaran Konsep Dasar Pendekatan Keterampilan Proses Dalam Pembelajaran
Pendekatan keterampilan proses pada hakikatnya ialah suatu pengelolaan kegiatan belajar-mengajar yang berfokus pada pelibatan siswa secara aktif dan kreatif dalam proses pemerolehan hasil mencar ilmu (Conny,1992). Pendekatan keterampilan proses ini dipandang sebagai pendekatan yang oleh banyak pakar paling sesuai dengan pelaksaksanaan pembelajaran di sekolah dalam rangka menghadapi pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat cukup umur ini.

Dalam pembelajaran matematika pun, pendekatan keterampilan proses ini sangat cocok digunakan. Struktur matematika yang berpola deduktif adakala memerlukan proses kreatif yang induktif. Untuk hingga pada suatu kesimpulan, adakala sanggup dipakai pengamatan, pengukuran, intuisi, imajinasi, penerkaan, observasi, induksi bahkan mungkin dengan mencoba-coba. Pemikiran yang demikian bukanlah kontradiksi, sebab banyak objek matematika yang dikembangkan secara intuitif atau induktif.

Pendekatan keterampilan proses akan efektif kalau sesuai dengan kesiapan intelektual. Oleh sebab itu, pendekatan keterampilan proses harus tersusun berdasarkan urutan yang logis sesuai dengan tingkat kemampuan dan pengalaman siswa. Misalnya sebelum melaksanakan penelitian, siswa terlebih dahulu harus mengobservasi atau mengamati dan membuat hipotesis.

Alasannya tentulah sederhana, yaitu supaya siswa sanggup membuat kembali konsep-konsep yang ada dalam pikiran dan bisa mengorganisasikannya. Dengan demikian, keberhasilan anak dalam mencar ilmu matematika memakai pendekatan keterampilan proses ialah suatu perubahan tingkah laris dari seorang anak yang belum paham terhadap permasalahan matematika yang sedang dipelajari sehingga menjadi paham dan mengerti permasalahannya.

Berdasarkan uraian di atas, terlihat bahwa keunggulan pendekatan keterampilan proses di dalam proses pembelajaran, antara lain adalah:
  1. siswa terlibat eksklusif dengan objek kasatmata sehingga sanggup mempermudah pemahaman siswa terhadap materi pelajaran,
  2. siswa menemukan sendiri konsep-konsep yang dipelajari,
  3. melatih siswa untuk berpikir lebih kritis,
  4. melatih siswa untuk bertanya dan terlibat lebih aktif dalam pembelajaran,
  5. mendorong siswa untuk menemukan konsep-konsep baru,
  6. memberi kesempatan kepada siswa untuk mencar ilmu memakai metode ilmiah.

Pendekatan keterampilan proses ini berbeda dengan pendekatan tradisional, sebab di dalam pembelajaran dengan pendekatan tradisional, guru hanya menunjukkan materi pelajaran yang berfokus pada kontribusi konsep-konsep, informasi, dan fakta yang sebanyak-banyaknya kepada siswa. Akibatnya, hasil mencar ilmu yang diperoleh siswa pun hanya terbatas pada aspek pengetahuan saja, sedangkan aplikasinya belum tentu sanggup dilakukan.

Padahal di dalam pembelajaran matematika, siswa juga dituntut untuk mengalihgunakan isu yang diperolehnya pada bidang lain dan bahkan di dalam kehidupan sehari-hari. Siswa juga harus bisa mengkomunikasikan gagasan-gagasan matematika dalam banyak sekali bentuk menyerupai tabel, grafik, diagram, dan lain-lain. Dengan demikian, penerapan pendekatan tradisional di dalam pembelajaran matematika tidaklah cocok.

Prinsip-prinsip Pendekatan Keterampilan Proses

Dalam membahas pendekatan keterampilan proses, prinsip-prinsip ihwal pendekatan tersebut menjadi hal mutlak yang harus Anda pahami. Satu hal yang harus kita sepakati bersama, bahwa dalam pembelajaran yang dilakukan orientasinya tidak hanya produk belajar, yakni hasil mencar ilmu yang dirumuskan dalam tujuan pembelajaran saja, melainkan lebih dari itu. Pembelajaran yang dilakukan juga diarahkan pada bagaimana memperoleh hasil mencar ilmu atau bagaimana proses mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan terpenuhi.

Untuk mencapai tujuan di atas, terdapat sejumlah prinsip yang harus Anda pahami (Conny, 1992), yang meliputi:
  1. kemampuan mengamati,
  2. kemampuan menghitung,
  3. kemampuan mengukur,
  4. kemampuan mengklasifikasikan,
  5. kemampuan menemukan hubungan,
  6. kemampuan membuat prediksi (ramalan),
  7. kemampuan melaksanakan penelitian,
  8. kemampuan mengumpulkan dan menganalisis data,
  9. kemampuan menginterpretasikan data, dan
  10. kemampuan mengkomunikasikan hasil.

(1). Kemampuan Mengamati

Mengamati merupakan salah satu keterampilan yang sangat penting untuk memperoleh pengetahuan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Kegiatan ini tidak sama dengan kegiatan melihat. Pengamatan dilaksanakan dengan memanfaatkan seluruh panca indera yang mungkin biasa dipakai untuk memperhatikan hal yang diamati, kemudian mencatat apa yang diamati, memilah-milah bagiannya berdasarkan kriteria tertentu, juga berdasarkan tujuan pengamatan, serta mengolah hasil pengamatan dan menuliskan hasilnya.
Contoh: siswa mengamati benda-benda yang berbentuk lingkaran.

(2). Kemampuan Menghitung

Kemampuan menghitung dalam pengertian yang luas, merupakan salah satu kemampuan yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Dapat dikatakan bahwa dalam semua acara kehidupan semua insan memerlukan kemampuan ini.
Contoh: siswa menghitung garis tengah yang diharapkan untuk keliling suatu lingkaran.

(3). Kemampuan Mengukur

Dalam pengertian yang luas, kemampuan mengukur sangat diharapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dasar dari kegiatan ini ialah perbandingan. Contoh: siswa mengukur panjang garis tengah lingkaran.

(4).Kemampuan Mengklasifikasi

Kemampuan mengklasifikasi merupakan kemampuan mengelompokkan atau menggolongkan sesuatu yang berupa benda, fakta, informasi, dan gagasan. Pengelompokan ini didasarkan pada karakteristik atau ciri-ciri yang sama dalam tujuan tertentu, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Contoh: siswa mengelompokkan benda-benda yang berbentuk bulat dengan yang bukan.

(5). Kemampuan Menemukan Hubungan

Kemampuan ini merupakan kemampuan penting yang perlu dikuasai oleh siswa. Yang termasuk dalam kemampuan ini adalah: fakta, informasi, gagasan, pendapat, ruang, dan waktu. Kesemuanya merupakan variabel untuk memilih kekerabatan antara perilaku dan tindakan yang sesuai.
Contoh: siswa memilih waktu yang dibutuhkan oleh siswa lain yang sanggup menempuh lintasan lapangan berbentuk bulat dengan garis tengah dan waktu tertentu.

(6). Kemampuan Membuat Prediksi (Ramalan)

Ramalan yang dimaksud di sini bukanlah sembarang perkiraan, melainkan asumsi yang memiliki dasar atau penalaran. Kemampuan membuat ramalan atau asumsi yang didasari penalaran, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam membuatkan ilmu pengetahuan. Dalam teori penelitian, kemampuan membuat ramalan ini disebut juga kemampuan menyusun hipotesis. Hipotesis ialah suatu asumsi yang beralasan untuk membuktikan suatu bencana atau pengamatan tertentu. Dalam kerja ilmiah, seorang ilmuwan biasanya membuat hipotesis yang kemudian diuji melalui eksperimen. Contoh: Siswa meramalkan mana yang lebih panjang jarak tempuhnya kalau dua buah benda yang berlainan jari-jari digelindingkan. Siswa kemudian membuat hipotesis ihwal rumus keliling lingkaran.

(7). Kemampuan Melaksanakan Penelitian (Percobaan)

Penelitian merupakan kegiatan para ilmuwan di dalam kegiatan ilmiah. Namun, dalam kehidupan sehari-hari penelitian (percobaan) merupakan kegiatan penyelidikan untuk menguji gagasan-gagasan melalui kegiatan eksperimen praktis. Kegiatan percobaan umumnya dilaksanakan dalam mata pelajaran eksakta menyerupai fisika, kimia, dan biologi. Sedangkan untuk mata pelajaran non eksakta, kegiatan yang biasa dilakukan ialah penelitian sederhana yang mencakup perencanaan dan pelaksanaan.
Contoh: siswa melaksanakan percobaan untuk menemukan rumus keliling lingkaran.

(8). Kemampuan Mengumpulkan dan Menganalisis Data

Kemampuan ini merupakan serpihan dari kemampuan melaksanakan penelitian. Dalam kemampuan ini, siswa perlu menguasai bagaimana cara-cara mengumpulkan data dalam penelitian baik kuantitatif maupun kualitatif.
Contoh: siswa mengumpulkan data

(9). Kemampuan Menginterpretasikan Data

Mengamati merupakan salah satu keterampilan yang sangat penting untuk memperoleh pengetahuan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Kegiatan ini tidak sama dengan kegiatan melihat. Pengamatan dilaksanakan dengan memanfaatkan seluruh panca indera yang mungkin biasa dipakai untuk memperhatikan hal yang diamati, kemudian mencatat apa yang diamati, memilah-milah bagiannya berdasarkan kriteria tertentu, juga berdasarkan tujuan pengamatan, serta mengolah hasil pengamatan dan menuliskan hasilnya.
Contoh: siswa mengamati benda-benda yang berbentuk lingkaran.

(10). Kemampuan Mengkomunikasikan Hasil

Kemampuan ini merupakan salah satu kemampuan yang juga harus dikuasai siswa. Dalam kemampuan ini, siswa perlu dilatih untuk mengkomunikasikan hasil penemuannya kepada orang lain dalam bentuk laporan penelitian, paper, atau karangan.
Contoh: siswa membuat laporan ihwal hasil percobaan memilih rumus keliling lingkaran.

Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa pada prinsipnya pendekatan keterampilan proses sangat diwarnai dengan prinsip Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) dan pembelajaran kontekstual dalam memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan mengkontsruksi sendiri pemahaman mereka ihwal inspirasi dan konsep matematika, melalui serangkaian kegiatan pemecahan masalah. Untuk itu, berikutnya kita akan disajikan secara singkat konsep dan prinsip Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) dan pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL). [Konsep Dasar Pendekatan Keterampilan Proses Dalam Pembelajaran - Nyimas Aisyah]

Contoh Proses Belajar Mengajar yang dianjurkan pada Kurikulum 2013, mungkin video berikut sanggup membantu;
Konsep Dasar Pendekatan Keterampilan Proses Dalam Pembelajaran Konsep Dasar Pendekatan Keterampilan Proses Dalam Pembelajaran


Sumber http://www.defantri.com

Kamis, 26 Juli 2018

Pengertian Teknik, Seni Administrasi Dan Model Pembelajaran

 Taktik dan Model Pembelajaran ini sebaiknya diketahui dahulu pengertian dasar wacana pen Pengertian Teknik, Taktik dan Model PembelajaranUntuk melanjutkan klarifikasi Teknik, Taktik dan Model Pembelajaran ini sebaiknya diketahui dahulu pengertian dasar wacana pendekatan yang sudah kita diskusikan sebelumnya. Yang coba kita bahas berikut ini wacana teknik, taktik dan model pembelajaran ialah klarifikasi terakhir dari edisi perkenalan wacana hal-hal yang perlu diketahui dalam proses pembelajaran.

Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang mempunyai kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa resah untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah:
  1. pendekatan pembelajaran;
  2. strategi pembelajaran;
  3. metode pembelajaran;
  4. teknik pembelajaran;
  5. taktik pembelajaran; dan
  6. model pembelajaran.

Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut untuk point 4 hingga dengan 6, dengan impian sanggup menawarkan kejelasaan wacana penggunaan istilah tersebut. Penjelasan berikut ini diberikan dengan sederhana dan klarifikasi lebih lanjut akan dibahas pada artikel berikutnya.

Teknik Pembelajaran

Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran sanggup diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik.

Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas.

Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu dipakai teknik yang berbeda pada kelas
yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun sanggup berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.

Taktik Pembelajaran

Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melakukan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual.

Misalkan, terdapat dua orang sama-sama memakai metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat
berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor alasannya ialah memang beliau mempunyai sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang mempunyai sense of humor, tetapi lebih banyak memakai alat bantu elektronik alasannya ialah beliau memang sangat menguasai bidang itu.

Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni [kiat].

Model Pembelajaran

Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran intinya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal hingga selesai yang disajikan secara khas oleh guru.

Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: $(1)$ model interaksi sosial; $(2)$ model pengolahan informasi; $(3)$ model personal-humanistik; dan $(4)$ model modifikasi tingkah laku.

Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan seni administrasi pembelajaran.

Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya sanggup divisualisasikan sebagai berikut:
 Taktik dan Model Pembelajaran ini sebaiknya diketahui dahulu pengertian dasar wacana pen Pengertian Teknik, Taktik dan Model Pembelajaran
Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika seni administrasi pembelajaran lebih berkenaan dengan referensi umum dan mekanisme umum acara pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan mencar ilmu tertentu sesudah ditetapkan seni administrasi pembelajaran tertentu.

Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, seni administrasi membicarakan wacana aneka macam kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik.

Sedangkan desain ialah memutuskan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang dibutuhkan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal hingga dengan tahap akhir, sesudah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.

Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk sanggup melakukan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut sanggup memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam menyebarkan aneka macam model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru ketika ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang kala untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literaturnya.

Namun, jikalau para guru (calon guru) telah sanggup memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka intinya guru pun sanggup secara kreatif mencobakan dan menyebarkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi positif di daerah kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.

Video pilihan khusus untuk Anda 💗 Contoh Proses Belajar Mengajar yang dianjurkan pada Kurikulum 2013;
 Taktik dan Model Pembelajaran ini sebaiknya diketahui dahulu pengertian dasar wacana pen Pengertian Teknik, Taktik dan Model Pembelajaran


Sumber http://www.defantri.com