Senin, 21 Agustus 2017

Belajar Dari Surat Nabi Muhammad Kepada Heraklius (Kaisar Romawi)

Telah menceritakan kepada kami (Abu Al Yaman Al-Hakam bin Nafi’) dia berkata, telah mengabarkan kepadaku (Syu'aib) dari (Az-Zuhri), telah mengabarkan kepadaku (Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah bin Mas'ud) bahwa (Abdullah bin 'Abbas) telah mengabarkan kepadanya bahwa (Abu Sufyan bin Harb) telah mengabarkan kepadanya,

Bahwa Heraklius mendapatkan rombongan dagang Quraisy yang sedang mengadakan ekspedisi dagang ke negeri Syam, pada ketika berlakunya perjanjian antara Nabi Sallallahu 'alaihi wasallam dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy.

Saat singgah di Illiya’ (Yerussalem) mereka diundang Heraklius untuk berbicara di majelisnya. Saat itu, Heraklius bersama dengan para pembesar negara Romawi. Heraklius berbicara dengan mereka melalui penerjemah.
Heraklius : Siapa diantara kalian yang paling bersahabat relasi kekeluargaannya dengan orang yg mengaku sebagai Nabi itu?


Abu Sufyan : Akulah yang paling bersahabat relasi kekeluargaannya dengan dia.

Heraklius : Dekatkanlah dia denganku dan juga sahabat-sahabatnya. (maka mereka meletakkan orang-orang Quraisy dibelakang Abu Sufyan). Katakan padanya, bahwa saya bertanya perihal pria yang mengaku sebagai Nabi. Jika dia berdusta kepadaku, maka kalian harus mendustakannya. 

Abu Sufyan : (Demi Allah, kalau bukan lantaran rasa malu akhir tudingan pendusta yang mereka lontarkan kepadaku, pasti saya berdusta kepadanya. Maka yang ditanyakan kepadaku tentangnya (Nabi Sallallahu 'alaihi wasallam))

Heraklius : Bagaimana kedudukan nasabnya di tengah-tengah kalian? 

Abu Sufyan : Dia yakni keturunan baik-baik (bangsawan).

Heraklius : Apakah ada orang lain yang mengatakannya sebelum dia?

Abu Sufyan : Tidak.

Heraklius : Apakah bapaknya seorang Raja?

Abu Sufyan : Bukan.

Heraklius : Apakah yang mengikuti dia orang-orang terpandang atau bukan?

Abu Sufyan :  Bahkan orang-orang yang mengikuti dia yakni orang-orang yang rendah. 

Heraklius : Apakah bertambah pengikutnya atau berkurang?

Abu Sufyan : Bertambah.

Heraklius : Apakah ada yg murtad disebabkan dongkol terhadap agamanya?

Abu Sufyan : Tidak ada. 

Heraklius : Apakah kalian pernah mendapatkannya berdusta sebelum dia memberikan apa yang dikatakannya itu?

Abu Sufyan : Tidak. 

Heraklius : Apakah dia pernah berlaku curang?

Abu Sufyan : Tidak pernah. Ketika kami bergaul dengannya, dia tidak pernah melaksanakan itu. (aku mustahil memberikan selain ucapan menyerupai ini).

Heraklius : Katakan kepadanya, bahwa saya telah berkata kepadamu perihal keturunan orang itu. Kamu ceritakan bahwa orang itu dari keturunan bangsawan, begitu juga pria itu dibangkitkan di tengah keturunan kaumnya. Dan saya tanya kepadamu, apakah pernah ada orang yg menyampaikan menyerupai apa yang dikatakannya, kau jawab tidak. Seandainya yang dikatakan ada orang sebelumnya yg mengatakannya, tentu kuanggap orang ini menjiplak orang sebelumnya yg pernah menyampaikan hal serupa.  
Aku tanyakan juga kepadamu, apakah bapaknya ada yang dari keturunan raja, kau jawab tidak. Aku katakan, seandainya bapaknya dari keturunan raja, tentu orang ini sedang menuntut kerajaan bapaknya. 
Dan saya tanyakan kepadamu apakah kalian pernah mendapatkan dia berdusta sebelum dia memberikan apa yang dikatakannya, kau menjawab tidak. Sungguh saya memahami, kalau kepada insan saja dia tidak berani berdusta, apalagi berdusta kepada Allah. 
Dan saya juga telah bertanya kepadamu, apakah yg mengikuti dia orang-orang terpandang atau orang-orang rendah? Kamu menjawab orang-orang yang rendah yang mengikutinya. Memang mereka itulah yang menjadi pengikut Rasul.
Aku juga sudah bertanya kepadamu, apakah bertambah pengikutnya atau berkurang, kau menjawab bertambah. Dan memang begitulah kasus kepercayaan hingga menjadi sempurna. 
Aku juga sudah bertanya kepadamu, apakah ada yang murtad disebabkan murka terhadap agamanya. Kamu menjawab tidak ada. Dan memang begitulah kasus kepercayaan bila telah masuk tumbuh bersemi di dalam hati. 
Aku juga telah bertanya kepadamu, apakah dia tidak pernah berlaku curang, kau jawab tidak pernah. Dan memang begitulah para Rasul mustahil curang.
Dan saya juga sudah bertanya kepadamu apa yang diperintahkannya kepada kalian, kau jawab dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan melarang kalian menyembah berhala, dia juga memerintakan kalian untuk menegakkan sholat, menunaikan zakat, berkata jujur, saling memaafkan, dan menyambung silaturahim. 
Seandainya semua yang kau katakan itu benar, pasti dia akan menguasasi kerajaan yang ada di bawah kakiku ini. 
Sungguh saya telah mengira bahwa dia tidak ada di antara kalian kini ini. Seandainya saya tahu jalan untuk menemuinya, tentu saya akan berusaha keras menemuinya hingga bila saya sudah berada di sisinya, pasti akan saya cuci kedua kakinya. 
Bila benar apa yang dikatakan orang-orang soal Muhammad, maka dia seorang Nabi yang dikatakan, dalam kitab kami.“

--------------------------------------------------------------

Mashaa Allah. Masihkah kita ragu dengan perkataan dan apa yang disampaikan oleh Rasulullah? Bahkan mewaspadai isi dari Al-Qur'an yang dibawa beliau, yang sudah sangat terang itu dari Allah, Tuhan Semesta Alam? Seharusnya tidak ada keraguan untuk mengikuti syari'at-Nya, mengikuti apa yang diajarkannya.

Yuk, sama-sama bersihkan hati, fokuskan pikiran, dan ikrarkan lagi kesepakatan kita sebagai muslim, dan ikutilah. Sami'na Wa Atho'na.

Allahumma Sholli 'Ala Muhammad Wa 'Ala Ali Muhammad


Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com


EmoticonEmoticon