Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Agustus 2017

Radar Iman



Mari mencar ilmu tegar dari sosok Hajar, ibunda Nabi Ismail 'alaihi salam. Bagaimana tatkala sang suami, Nabi Ibrahim 'alaihi salam, terpaksa harus meninggalkan dirinya bersama bayinya yang masih merah di padang pasir nan tandus dan gersang.

Dalam kebingungan dan ketidak-mengertiannya, Hajar berlari mengejar sang suami, mencoba menghalangi langkahnya untuk pergi, sambil bertanya: “Mengapa engkau tinggalkan kami?”. Yang ditanya tak menjawab bahkan mengindar kala ditatap. Alih-alih berhenti, sang suami justru mempercepat langkah kaki. Hajar terus berusaha mengejar, dihalang-halanginya sang suami sekuat tenaga. Lalu Hajar kembali bertanya: “Mengapa engkau tinggalkan kami?” Tetap tak ada jawaban. Sang suami masih diam diam bahkan menentukan untuk terus berlalu. Sesaat sebelum berlalu, pandangan mata mereka sempat bertemu. Hajar melihat ada sedih sedalam cinta di kedua mata suaminya. Radar imannya menyala, Hajar pun mengganti pertanyaannya: “Apakah ini perintah Allah?” Mendengar pertanyaan itu barulah langkah Sang Suami terhenti. Karena pertanyaan menyerupai itu bukanlah pertanyaan biasa, melainkan pertanyaan yang keluar dari keteguhan iman dalam dada. Nabi Ibrahim pun hasilnya menunjukkan jawaban: “Ya, ini perintah Allah.”  Suasana mendadak hening. Lalu Nabi Ibrahim memeluk isteri dan anaknya, erat. Air mata Hajar mengalir deras, demikian pula bayi dalam gendongannya. Namun air mata itu bukan lagi air mata kesedihan melainkan air mata keikhlasan. Sesaat kemudian dengan tegar Hajar berkata: “Pergilah, Suamiku. Jika ini perintah Allah, sungguh Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan kami.”


**************
Apa nasihat yang bisa diambil? Keimanan Hajar kepada Allah mengalahkan kesedihan, kekhawatiran, ketakutan, kegalauan dan kecintaannya yang mendalam kepada suaminya. Hajar yakin sepenuhnya bahwa Allah mustahil memerintahkan sesuatu yang bertujuan untuk menzhalimi makhluknya. Hajar percaya bahwa selama seorang hamba memegang teguh keimanannya kepada Allah, maka Allah tak akan pernah menyia-nyiakan hamba tersebut. Keyakinan yang menyerupai inilah yang harus kita miliki dan kita teladani serta kita terapkan dalam menghadapi setiap fase kehidupan ini. Menyandarkan harap, takut, dan cinta hanya kepada Allah semata.

Lalu bagaimana caranya biar kita bisa tegar layaknya Hajar? Menjaga kelurusan niat di sepanjang amalan ataupun ikhtiar yang kita lakukan barangkali ialah salah satu upaya untuk melatih diri biar bisa tegar menyerupai Hajar. Sebab niat yang lurus akan menuntun kita mencar ilmu nrimo sedari awal. Ikhlas sedari awal memudahkan kita untuk tegar menghadapi setiap fase kehidupan ini, baik yang sedang dilalui, akan dilalui ataupun yang belum dilalui, inshaa Allah. Tentunya juga sembari memperbanyak do’a biar Allah berkenan memampukan kita, alasannya tidaklah kita bisa melaksanakan segala sesuatunya kecuali atas izin dan ridho-Nya.

Wallahu a'lam bishowwab.

Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com

Senin, 21 Agustus 2017

Belajar Dari Surat Nabi Muhammad Kepada Heraklius (Kaisar Romawi)

Telah menceritakan kepada kami (Abu Al Yaman Al-Hakam bin Nafi’) dia berkata, telah mengabarkan kepadaku (Syu'aib) dari (Az-Zuhri), telah mengabarkan kepadaku (Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah bin Mas'ud) bahwa (Abdullah bin 'Abbas) telah mengabarkan kepadanya bahwa (Abu Sufyan bin Harb) telah mengabarkan kepadanya,

Bahwa Heraklius mendapatkan rombongan dagang Quraisy yang sedang mengadakan ekspedisi dagang ke negeri Syam, pada ketika berlakunya perjanjian antara Nabi Sallallahu 'alaihi wasallam dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy.

Saat singgah di Illiya’ (Yerussalem) mereka diundang Heraklius untuk berbicara di majelisnya. Saat itu, Heraklius bersama dengan para pembesar negara Romawi. Heraklius berbicara dengan mereka melalui penerjemah.
Heraklius : Siapa diantara kalian yang paling bersahabat relasi kekeluargaannya dengan orang yg mengaku sebagai Nabi itu?


Abu Sufyan : Akulah yang paling bersahabat relasi kekeluargaannya dengan dia.

Heraklius : Dekatkanlah dia denganku dan juga sahabat-sahabatnya. (maka mereka meletakkan orang-orang Quraisy dibelakang Abu Sufyan). Katakan padanya, bahwa saya bertanya perihal pria yang mengaku sebagai Nabi. Jika dia berdusta kepadaku, maka kalian harus mendustakannya. 

Abu Sufyan : (Demi Allah, kalau bukan lantaran rasa malu akhir tudingan pendusta yang mereka lontarkan kepadaku, pasti saya berdusta kepadanya. Maka yang ditanyakan kepadaku tentangnya (Nabi Sallallahu 'alaihi wasallam))

Heraklius : Bagaimana kedudukan nasabnya di tengah-tengah kalian? 

Abu Sufyan : Dia yakni keturunan baik-baik (bangsawan).

Heraklius : Apakah ada orang lain yang mengatakannya sebelum dia?

Abu Sufyan : Tidak.

Heraklius : Apakah bapaknya seorang Raja?

Abu Sufyan : Bukan.

Heraklius : Apakah yang mengikuti dia orang-orang terpandang atau bukan?

Abu Sufyan :  Bahkan orang-orang yang mengikuti dia yakni orang-orang yang rendah. 

Heraklius : Apakah bertambah pengikutnya atau berkurang?

Abu Sufyan : Bertambah.

Heraklius : Apakah ada yg murtad disebabkan dongkol terhadap agamanya?

Abu Sufyan : Tidak ada. 

Heraklius : Apakah kalian pernah mendapatkannya berdusta sebelum dia memberikan apa yang dikatakannya itu?

Abu Sufyan : Tidak. 

Heraklius : Apakah dia pernah berlaku curang?

Abu Sufyan : Tidak pernah. Ketika kami bergaul dengannya, dia tidak pernah melaksanakan itu. (aku mustahil memberikan selain ucapan menyerupai ini).

Heraklius : Katakan kepadanya, bahwa saya telah berkata kepadamu perihal keturunan orang itu. Kamu ceritakan bahwa orang itu dari keturunan bangsawan, begitu juga pria itu dibangkitkan di tengah keturunan kaumnya. Dan saya tanya kepadamu, apakah pernah ada orang yg menyampaikan menyerupai apa yang dikatakannya, kau jawab tidak. Seandainya yang dikatakan ada orang sebelumnya yg mengatakannya, tentu kuanggap orang ini menjiplak orang sebelumnya yg pernah menyampaikan hal serupa.  
Aku tanyakan juga kepadamu, apakah bapaknya ada yang dari keturunan raja, kau jawab tidak. Aku katakan, seandainya bapaknya dari keturunan raja, tentu orang ini sedang menuntut kerajaan bapaknya. 
Dan saya tanyakan kepadamu apakah kalian pernah mendapatkan dia berdusta sebelum dia memberikan apa yang dikatakannya, kau menjawab tidak. Sungguh saya memahami, kalau kepada insan saja dia tidak berani berdusta, apalagi berdusta kepada Allah. 
Dan saya juga telah bertanya kepadamu, apakah yg mengikuti dia orang-orang terpandang atau orang-orang rendah? Kamu menjawab orang-orang yang rendah yang mengikutinya. Memang mereka itulah yang menjadi pengikut Rasul.
Aku juga sudah bertanya kepadamu, apakah bertambah pengikutnya atau berkurang, kau menjawab bertambah. Dan memang begitulah kasus kepercayaan hingga menjadi sempurna. 
Aku juga sudah bertanya kepadamu, apakah ada yang murtad disebabkan murka terhadap agamanya. Kamu menjawab tidak ada. Dan memang begitulah kasus kepercayaan bila telah masuk tumbuh bersemi di dalam hati. 
Aku juga telah bertanya kepadamu, apakah dia tidak pernah berlaku curang, kau jawab tidak pernah. Dan memang begitulah para Rasul mustahil curang.
Dan saya juga sudah bertanya kepadamu apa yang diperintahkannya kepada kalian, kau jawab dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan melarang kalian menyembah berhala, dia juga memerintakan kalian untuk menegakkan sholat, menunaikan zakat, berkata jujur, saling memaafkan, dan menyambung silaturahim. 
Seandainya semua yang kau katakan itu benar, pasti dia akan menguasasi kerajaan yang ada di bawah kakiku ini. 
Sungguh saya telah mengira bahwa dia tidak ada di antara kalian kini ini. Seandainya saya tahu jalan untuk menemuinya, tentu saya akan berusaha keras menemuinya hingga bila saya sudah berada di sisinya, pasti akan saya cuci kedua kakinya. 
Bila benar apa yang dikatakan orang-orang soal Muhammad, maka dia seorang Nabi yang dikatakan, dalam kitab kami.“

--------------------------------------------------------------

Mashaa Allah. Masihkah kita ragu dengan perkataan dan apa yang disampaikan oleh Rasulullah? Bahkan mewaspadai isi dari Al-Qur'an yang dibawa beliau, yang sudah sangat terang itu dari Allah, Tuhan Semesta Alam? Seharusnya tidak ada keraguan untuk mengikuti syari'at-Nya, mengikuti apa yang diajarkannya.

Yuk, sama-sama bersihkan hati, fokuskan pikiran, dan ikrarkan lagi kesepakatan kita sebagai muslim, dan ikutilah. Sami'na Wa Atho'na.

Allahumma Sholli 'Ala Muhammad Wa 'Ala Ali Muhammad


Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com

Selasa, 01 Agustus 2017

Radar Iman



Mari mencar ilmu tegar dari sosok Hajar, ibunda Nabi Ismail 'alaihi salam. Bagaimana tatkala sang suami, Nabi Ibrahim 'alaihi salam, terpaksa harus meninggalkan dirinya bersama bayinya yang masih merah di padang pasir nan tandus dan gersang.

Dalam kebingungan dan ketidak-mengertiannya, Hajar berlari mengejar sang suami, mencoba menghalangi langkahnya untuk pergi, sambil bertanya: “Mengapa engkau tinggalkan kami?”. Yang ditanya tak menjawab bahkan mengindar kala ditatap. Alih-alih berhenti, sang suami justru mempercepat langkah kaki. Hajar terus berusaha mengejar, dihalang-halanginya sang suami sekuat tenaga. Lalu Hajar kembali bertanya: “Mengapa engkau tinggalkan kami?” Tetap tak ada jawaban. Sang suami masih diam diam bahkan menentukan untuk terus berlalu. Sesaat sebelum berlalu, pandangan mata mereka sempat bertemu. Hajar melihat ada sedih sedalam cinta di kedua mata suaminya. Radar imannya menyala, Hajar pun mengganti pertanyaannya: “Apakah ini perintah Allah?” Mendengar pertanyaan itu barulah langkah Sang Suami terhenti. Karena pertanyaan menyerupai itu bukanlah pertanyaan biasa, melainkan pertanyaan yang keluar dari keteguhan iman dalam dada. Nabi Ibrahim pun hasilnya menunjukkan jawaban: “Ya, ini perintah Allah.”  Suasana mendadak hening. Lalu Nabi Ibrahim memeluk isteri dan anaknya, erat. Air mata Hajar mengalir deras, demikian pula bayi dalam gendongannya. Namun air mata itu bukan lagi air mata kesedihan melainkan air mata keikhlasan. Sesaat kemudian dengan tegar Hajar berkata: “Pergilah, Suamiku. Jika ini perintah Allah, sungguh Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan kami.”


**************
Apa nasihat yang bisa diambil? Keimanan Hajar kepada Allah mengalahkan kesedihan, kekhawatiran, ketakutan, kegalauan dan kecintaannya yang mendalam kepada suaminya. Hajar yakin sepenuhnya bahwa Allah mustahil memerintahkan sesuatu yang bertujuan untuk menzhalimi makhluknya. Hajar percaya bahwa selama seorang hamba memegang teguh keimanannya kepada Allah, maka Allah tak akan pernah menyia-nyiakan hamba tersebut. Keyakinan yang menyerupai inilah yang harus kita miliki dan kita teladani serta kita terapkan dalam menghadapi setiap fase kehidupan ini. Menyandarkan harap, takut, dan cinta hanya kepada Allah semata.

Lalu bagaimana caranya biar kita bisa tegar layaknya Hajar? Menjaga kelurusan niat di sepanjang amalan ataupun ikhtiar yang kita lakukan barangkali ialah salah satu upaya untuk melatih diri biar bisa tegar menyerupai Hajar. Sebab niat yang lurus akan menuntun kita mencar ilmu nrimo sedari awal. Ikhlas sedari awal memudahkan kita untuk tegar menghadapi setiap fase kehidupan ini, baik yang sedang dilalui, akan dilalui ataupun yang belum dilalui, inshaa Allah. Tentunya juga sembari memperbanyak do’a biar Allah berkenan memampukan kita, alasannya tidaklah kita bisa melaksanakan segala sesuatunya kecuali atas izin dan ridho-Nya.

Wallahu a'lam bishowwab.

Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com