Tampilkan postingan dengan label FGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FGI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Agustus 2018

Prestasi Belajar

  1.      Pengertian Prestasi Belajar
Salah satu manipestasi dari masalah pendidikan, ialah kegiatan yang disebut dengan “belajar”. Belajar ialah key term (istilah kuno) yang paling vital dalam setiap perjuangan pendidikan, sehingga tanpa berguru bergotong-royong tidak ada pendidikan. Perubahan dan kemampuan untuk berubah, merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar.





Namun demikian, tidak semua perubahan yang terjadi pada diri seseorang sanggup dikatakan bahwa orang tersebut telah belajar. Menurut Hamalik, dalam buku Metode Belajar dan Kesulitan-kesulitan Belajar, (1983L21) bahwa berguru ialah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laris yang gres berkat pengalaman dan latihan.
Selain itu, berguru merupakan kepentingan bagi semua orang, lantaran dengan berguru kita akan memperoleh pengetahuan, kemampuan dan keterampilan yang sanggup digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam lingkungan sekolah, proses berguru dilakukan oleh siswa dengan melalui bimbingan guru guna memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan dengan bertambahnya wawasan dalam diri siswa, supaya sanggup diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat kelak.
Untuk mengetahui hingga di mana prestasi yang telah dicapai oleh seorang siswa dalam belajar, maka harus dilakukan evaluasi. Evaluasi merupakan patokan atau tolak ukur bagi guru untuk mengetahui prestasi siswa dalam belajar.
Prestasi berguru berdasarkan Arifin (1991:2) berasal dari dua suku kata, yaitu prestasi dan belajar. Kata prestasi berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie, dan kemudian dibakukan ke dalam bahasa Indonesia menjadi prestasi, yang artinya hasil usaha. Sedangkan Mas’ud Hasan, mengartikan prestasi ialah sebagai apa yang telah sanggup diciptakan dari hasil pekerjaan, hasil menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan bekerja.
Menurut Tabrani Rusyan (1993:19), bahwa prestasi ialah suatu bukti keberhasilan perjuangan yang dicapai, Sedangkan meurut Syamsudin (1990: 34) prestasi ialah sebagai kecakapan nyata atau kasatmata yang memperlihatkan pada aspek kecakapan yang sanggup dengan segera didemonstrasikan atau diuji kini juga. Oleh lantaran itu, maka sanggup disimpulkan bahwa prestasi ialah kecakapan nyata atau kasatmata sebagai hasil dari suatu perjuangan yang sanggup dengan segera diuji dan didemonstrasikan, atau suatu citra kongkret yang menyatakan hasil kegiatan atau perbuatan seseorang yang telah dicapai, baik secara individu atau kelompok.
Adapun belajar, kata dasarnya ialah berasal dari kata “ajar” yang artinya petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut). Sedangkan sehabis kata “ajar” mendapat imbuhan “bel” menjadi kata “belajar” sehingga maknanya pun menjadi:
1.      Berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu: misalnya membaca.
2.      Berlatih: misalnya mengetik, karate dan lain-lain.
3.      Berubah tingkah laris atau jawaban yang disebabkan oleh pengalaman.
Merumuskan definisi mengenai berguru yang memadai bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, lantaran itulah maka definisi yang penulis jumpai ialah banyak sekali, mungkin sebanyak hebat yang merumuskannya. Ada beberapa definisi yang sanggup digunakan sebagai data untuk mencari inti persoalannya.
Menurut Cronbach dalam Suryabrata (1985:247), berguru yang sebaik-baiknya ialah dengan mengalami, dan dalam mengalami itu si pelajar memakai panca inderanya. Usman Efendi (1989:101) mengatakan, bahwa berguru ialah sebagai suatu proses perubahan tingkah laku, yaitu terjadinya perubahan-perubahan aspek tingkah laris kognitif, konatif, afektif, dan psikomotorik secara integral.
Menurut M. Arifin (1984:61), berguru ialah suatu kegiatan anak didik dalam menerima, menanggapi, serta menganalisa yang disajikan oleh pengajar, yang berakhir pada kemampuan untuk menguasai materi pelajaran yang disajikan itu. Belajar ialah proses pertumbuhan yang tidak disebabkan oleh proses pendewasaan biologis, lantaran berguru merupakan proses perubahan tingkah laris (baik yang bisa dilakukan maupun yang tidak) maka keberhasilan berguru terletak pada adanya perubahan yang secara relatif bersifat permanen.
Dari pengertian di atas, maka sanggup disimpulkan bahwa berguru ialah suatu proses perubahan yang dilakukan oleh individu sebagai hasil perjuangan berdasarkan pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungan yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan dan kepandaian. Hal ini memperlihatkan bahwa individu yang belajar, pada karenanya akan menyadari atau mencicipi terjadinya suatu perubahan pada dirinya, menyerupai menyadari bahwa beliau telah mempunyai pengetahuan wacana bahasa, berhitung, menulis, dan sebagainya. Kalau kita simpulkan, maka kita dapatkan hal-hal pokok dalam berguru ialah sebagai berikut:
a.       Bahwa berguru itu membawa perubahan.
b.      Bahwa berguru itu merupakan didapatnya suatu perubahan tingkah laris ke arah yang lebih baik.
c.       Bahwa perubahan itu pada pokoknya ialah didapatkannya kecakapan baru.
d.      Bahwa perubahan itu terjadi lantaran adanya perjuangan yang disengaja.
Jadi, berguru ialah suatu proses perubahan sikap sebagai hasil perjuangan individu berdasarkan pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungan. Individu yang belajar, pada karenanya akan menyadari atau mencicipi terjadinya suatu perubahan pada dirinya.
Berdasarkan pengertian kedua istilah di atas, maka yang dimaksud dengan prestasi berguru ialah merupakan segala sikap yang dimiliki oleh siswa sebagai akhir dari terjadinya proses berguru yang ditempuh, baik yang bersifat kognitif, maupun afektif atau psikomotor yang menggambarkan sikap siswa secara umum. Sedangkan Muhibin Syah (1995:150) mengatakan, bahwa prestasi berguru yang ideal ialah mencakup segenap aspek psikologis yang berubah sebagai akhir dari pengalaman dan proses berguru siswa.
Dari definisi di atas, maka sanggup disimpulkan bahwa prestasi berguru ialah merupakan kecakapan nyata yang dimiliki siswa sehabis ia mengalami proses berguru dengan melalui penilaian tertentu, baik yang bersifat kognitif, afektif maupun psikomotorik.

2.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Keberhasilan atau prestasi dalam berguru yang dicapai oleh siswa di sekolah merupakan salah satu ukuran terhadap penguasaan materi pelajaran yang disampaikan. Peran guru dalam memberikan materi pelajaran sanggup menghipnotis prestasi berguru siswa. Faktor-faktor yang menghipnotis prestasi berguru siswa penting sekali untuk diketahui, yaitu dalam rangka membantu siswa mencapai prestasi berguru seoptimal mungkin.
Prestasi berguru yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni faktor dari dalam diri siswa dan faktor yang tiba dari luar diri siswa, terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap prestasi berguru siswa yang akan dicapai.
Di samping faktor kemampuan yang dimiliki oleh siswa, juga ada faktor lain menyerupai motivasi belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis. Adapun imbas dari dalam diri siswa, merupakan hal yang logis dan wajar, alasannya ialah hakekat perbuatan berguru ialah perubahan tingkah laris individu yang diniati dan disadarinya, siswa harus mencicipi adanya suatu kebutuhan untuk berguru dan berprestasi.
Sungguh pun demikian, prestasi yang sanggup diraih masih juga bergantung dari lingkungan, artinya ada faktor-faktor yang berada di luar dirinya yang sanggup menentukan dan menghipnotis prestasi berguru yang dicapai. Salah satu lingkungan berguru yang secara umum dikuasai menghipnotis prestasi berguru di sekolah ialah kualitas pengajaran. Yang dimaksud dengan kualitas pengajaran berdasarkan Sudjana (1989:140) ialah tinggi rendahnya atau pun efektif tidaknya proses berguru mengajar dalam mencapai tujuan pengajaran. Oleh alasannya ialah itu, prestasi berguru siswa di sekolah dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan kualitas pengajaran.
Menurut Gunawan Undang dkk (1998:15), bahwa faktor-faktor yang menghipnotis prestasi berguru siswa ialah sebagai berikut:
1.      Faktor intern, ialah merupakan faktor yang tiba dari dalam individu (siswa) yang bersangkutan lantaran kemampuan yang dimilikinya. Misalnya, kematangan, kecerdasan, talenta dan minat.
2.      Faktor ekstern, merupakan faktor yang tiba dari luar individu (siswa) yang bersangkutan, menyerupai perhatian orang tua, status sosial ekonomi keluarga, perhatian guru, sarana dan prasarana, kesempatan yang tersedia, dan teman sebaya atau lingkungan masyarakat.
Sedangkan Sutari Imam Barnadib dalam bukunya Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis (1989:35) mengungkapkan, bahwa faktor-faktor yang sanggup menghipnotis prestasi berguru siswa terbagi ke dalam lima hal, yaitu:
1.      Faktor tujuan
Tujuan merupakan suatu kode ke mana siswa sehabis selesai mengikuti kegiatan berguru mengajar.
2.      Faktor pendidik
Pendidik dalam hal ini guru, ialah subyek yang pribadi berinteraksi dengan siswa pada ketika belajar. Kemampuan guru dalam penguasaan materi dan keterampilan memberikan materi kepada siswa mutlak diperlukan. Guru harus sanggup menentukan metode pengajaran yang sempurna sesuai dengan materi, situasi dan kondisi siswa. Oleh lantaran itu, guru memegang peranan kunci dalam proses berguru mengajar, artinya berhasil tidaknya suatu pengajaran secara umum gurulah yang menentukan.
Hal ini sebagaimana pendapat Muh. Zein (1976:10), bahwa guru ialah orang yang bertanggung jawab wacana jalannya proses pendidikan dan pengajaran itu. Di atas bahunyalah dibebankan kiprah mengajar dan mendidik secara keseluruhan dengan segala hasilnya. Dialah yang mengarahkan siswa kepada tujuan yang akan dicapai.
Sedangkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum untuk guru yang baik, sebagaimana pendapat S. Nasution (1982:12-17), antara lain:
a.       Memahami dan menghormati murid.
b.      Menghormati pelajaran yang diberikan.
c.       Menyesuaikan metode mengajar dengan materi pelajaran yang diberikan.
d.      Menyesuaikan materi pelajaran dengan kesanggupan murid.
e.       Mengaktifkan murid dalam hal belajar.
f.       Memberikan pengertian bukan hanya kata-kata belaka.
g.      Mempunyai tujuan tertentu dengan tiap pelajaran yang diberikan.
h.      Menghubungkan pelajaran dengan kebutuhan murid.
i.        Tidak terikat oleh satu teks book.
3.      Faktor anak didik
Anak didik ialah faktor yang tidak sanggup diabaikan, lantaran kondisi individual akseptor didik atau siswa sangat besar lengan berkuasa terhadap proses dan prestasi belajar. Kondisi individusiswa ini berdasarkan Muhibbin Syah, (1995:132) sanggup dibedakan menjadi dua faktor, yaitu:
a.       Faktor fisiologis (Bersifat jasmaniah).
b.      Faktor psikologis (Bersifat rohaniah).
Mengkonsumsi makanan yang bervitamin dan berprotein, sangat dibutuhkan seseorang yang sedang menjalani kegiatan belajar. Dengan mengkonsumsi makanan yang sehat, sanggup menjadikan jasmani sehat sehingga sanggup menuntaskan kegiatan atau kiprah yang ada hubungannya dengan belajar. Sebaliknya, orang yang kurang sehat akhir dari kurang gizi atau protein akan menyebabkan badannya lemah, mengantuk, dan cepat lelah, sehingga sulit untuk mendapatkan pelajaran apalagi mengkonsentrasikan dirinya dalam belajar.
Selain kondisi fisiologis secara umum, keadaan alat indera juga tidak kalah pentingnya untuk kepentingan belajar. Alat indera sebagai alat untuk mengenal dunia luar sangat besar lengan berkuasa terhadap proses dan hasil belajar. Berfungsinya alat indera dengan baik, merupakan syarat sanggup berlangsungnya berguru dengan baik dan cepat. Oleh lantaran itu, kewajiban bagi para pendidik untuk selalu menganjurkan kepada anak didik untuk selalu menjaga panca inderanya supaya sanggup berfungsi dengan baik, baik yang bersifat kuratif maupun preventif.
Di samping faktor fisiologis, faktor psikologis juga memegang peranan penting dalam kegiatan belajar. Menurut Muhibbin Syah (1995:139)  bahwa yang menyangkut faktor psikologis ialah minat, intelegensi, sikap, bakat, dan motivasi.
Berkaitan dengan motivasi, ialah merupakan kekuatan pendorong yang berasal dari dalam diri orang itu sendiri. Proses dan hasil berguru akan dimungkinkan mencapai tujuan yang diharapkan apabila dalam berguru ada motivasinya. Hal ini sebagaimana ungkapan S. Nasution (1992:76), bahwa motivasi merupakan usaha-usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi sehingga anak itu mau dan ingin melakukannya.
Anak yang mempunyai intelegensi tinggi, mungkin gagal dalam pelajaran lantaran kurangnya motivasi, hasil yang baik dicapai dengan motivasi yang kuat. Oleh lantaran itu, maka anak perlu diberi motivasi supaya terkondisikan sedemikian rupa sehingga anak itu mau belajar, lantaran sadar akan kebutuhan belajar. Hal ini menyerupai ungkapan Ngalim Purwanto (1998:105), bahwa kalau guru atau orang bau tanah sanggup memperlihatkan motivasi yang baik pada belum dewasa timbullah dalam diri anak itu dorongan dan hasrat untuk berguru lebih baik. Anak sanggup menyadari apa gunanya berguru dan apa tujuan yang hendak dicapai dengan pelajaran itu, kalau diberi perangsang, diberi motivasi yang baik dan sesuai. 
4.      Faktor alat-alat
Yang dimaksud alat-alat di sini ialah suatu perbuatan atau situasi atau benda yang disengaja diadakan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan. Alat pendidikan mencakup aspek yang sangat luas, mencakup peralatan lunak (software) menyerupai materi pelajaran, approach, metode, dan teknik pengajaran, dan perangkat keras (hardware) menyerupai papan tulis, kapur, penghapus, gambar atau alat peraga, radio, tape recorder, laboratorium, dan sebagainya.
5.      Faktor alam sekitar
Faktor alam sekitar atau lingkungan sanggup dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
a.       Lingkungan sosial
Yang dimaksud dengan lingkungan sosial sebagaimana ungkapan Ngalim Purwanto (1998:78), yaitu semua orang atau insan lain yang menghipnotis kita.
Dalam proses berguru mengajar, lingkungan yang aman sanggup mempermudah pencapaian hasil berguru yang baik. Karena anak pada usia perkembangan termasuk siswa MTs akan berguru dan mengerjakan sesuatu apabila mendapat pengawasan dari pihak luar. Kesadarannya akan berguru bukanlah timbul dari dalam dirinya, namun sedikit banyak harus mendapat dorongan dan pengawasan dari orang-orang yang ada di sekitarnya.
b.      Lingkungan non sosial.
Lingkungan non sosial ialah gedung sekolah dan letaknya, rumah daerah tinggal siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca, dan waktu berguru yang digunakan siswa.


DAFTAR PUSTAKA
Abin Syamsudin, Psikologi Pendidikan, Bandung: IKIP Bandung, 1990
Anonimous, Pendidikan di Indonesia dari Zaman ke Zaman, (Jakarta: Balai Pustaka, 1987
Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1996
Oemar Hamalik, Metode Belajar dan Kesulitan-kesulitan Belajar, Bandung: Tarsito, 1983
 Zaenal Arifin, Evaluasi Intruksional, Bandung: Remaja Rosda Karya, 1991
 Mas’ud Hasan, Kamus Ilmiah Populer,(Bandung: PT. Bintang Pelajar,
Tabrani Rusyan, Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Rosda Karya, 1993
 Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1985
 Usman Efendi, Pengantar Psikologi, Bandung: Aksara, 1989
M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1984
Muhibin Syah, Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru, Bandung: Remaja Rosda Karya, 1995
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru, 1989
Gunawan Undang dkk, Peningkatan Mutu Proses Belajar Mengajar Sekolah Dasar, Bandung: CV. Siger Tengah, 1998
 Sutari Imam Barnadib, Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis, Yogyakarta: Andi Offset, 1989
Mahmud Yunus, Metodik Khusus Bahasa Arab (Bahasa Al-Qur’an), Jakarta: Hidakarya Agung, 1981
Muh. Zein, Proses Belajar Mengajar, Yogyakarta: Sumbangsih, 1976
S.  Nasution, Didaktik Azas-azas Mengajar, Bandung: Jemmars, 1982
Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: Remaja Rosda Karya, 1998





= Baca Juga =




Sumber http://forumgurunusantara.blogspot.com

Minat Mencar Ilmu Siswa

1.      Pengertian Minat Belajar
Minat merupakan suatu keadaan di mana seseorang mempunyai perhatian terhadap sesuatu dan disertai keiinginan untuk mengetahui dan mempelajari maupun membuktikannya lebih lanjut. Minat timbul lantaran adanya perhatian yang mendalam terhadap suatu obyek, di mana perhatian tersebut menimbulkan impian untuk mengetahui, mempelajari, serta menandakan lebih lanjut. Hal itu menunjukkan, bahwa dalam minat, di samping perhatian juga terkandung suatu perjuangan untuk mendapat sesuatu dari obyek minat tersebut.


Menurut M. Buchori (1999 :135) Minat ialah kesadaran seseorang, bahwa suatu objek, seseorang, suatu soal atau situasi mengandung sangkut paut dengan dirinya. Makara minat harus dipandang sebagai suatu sambutan yang sadar, kalau tidak demikian minat itu tidak mempunyai arti sama sekali. Sardiman AM (188:76) menyatakan, bahwa minat seseorang terhadap suatu obyek akan lebih kelihatan apabila obyek target bekaitan dengan impian dan kebutuhan seseorang yang bersangkutan. Pendapat ini memperlihatkan pengertian, bahwa minat merupakan suatu kondisi yang terjadi apabila berafiliasi dengan impian atau kebutuhan sendiri, dengan kata lain ada kecenderungan apa yang dilihat dan diamati seseorang ialah sesuatu yang berafiliasi dengan impian dan kebutuhan seseorang tersebut.
Pendapat lain mengatakan, bahwa minat adalah sebagai kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu; gairah; keinginan. Sedangkan Cony Semiawan dalam Paimun (1998:48) mengatakan, bahwa minat ialah suatu keadaan mental yang menghasilkan respons terarah kepada suatu situasi atau obyek tertentu yang menyenangkan dan memperlihatkan kepuasan kepadanya. Dengan demikian, minat sanggup menimbulkan perilaku yang merupakan suatu kesiapan berbuat bila ada stimuli khusus sesuai dengan keadaan tersebut.
Sejalan dengan pendapat di atas, S. Nasution (1987:66) menyatakan bahwa minat merupakan pernyataan psikis yang memperlihatkan adanya pemusatan pikiran, perasaan, dan kemauan terhadap suatu obyek, lantaran obyek tersebut menarik perhatian.
Pengertian minat di atas sanggup dipahami, bahwa seseorang menaruh minat terhadap suatu obyek lantaran adanya rangsangan, stimulus, atau dorongan. Rangsangan atau dorongan tersebut, sanggup berasal dari kekuatan minat itu sendiri, sehingga sanggup disimpulkan bahwa seseorang tidak sanggup dikatakan mempunyai minat terhadap suatu obyek tanpa adanya respon atau dorongan terhadap obyek tersebut.
Minat merupakan sifat yang relatif menetap pada diri seseorang. Minat ini besar sekali pengaruhnya, dengan minat seseorang akan melaksanakan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya tanpa minat seseorang mustahil melaksanakan sesuatu. Marshell dalam Usman (2001:94) mengemukakan 22 macam minat, di antaranya ialah bahwa anak mempunyai minat terhadap belajar. Dengan demikian, pada hakikatnya setiap anak berminat pada belajar.
Beberapa andal pendidikan berpendapat, bahwa cara yang paling efektif untuk membangkitkan minat pada suatu subyek yang gres ialah dengan memakai minat-minat yang telah ada. Hal tersebut, dikemukakan oleh Tanner dan Tanner (1975), bahwa supaya para pelajar juga berusaha membentuk minat-minat gres pada siswa, ini sanggup dicapai dengan memperlihatkan informasi pada siswa mengenai hubungan antara satu pelajaran yang akan diberikan dengan materi pelajaran yang lalu, menguraikan kegunaan bagi siswa yang akan datang. Hal senada dikemukakan oleh Rooijakkers (1980), bahwa minat sanggup pula dicapai dengan cara menghubungkan materi pelajaran dengan suatu gosip sensasional yang sudah diketahui kebanyakan siswa.
Mengembangkan minat terhadap sesuatu intinya ialah membantu siswa melihat bagaimana hubungan antara materi yang dibutuhkan untuk dipelajari dengan dirinya sendiri sebagai individu, proses ini berarti memperlihatkan pada siswa bagaimana pengetahuan atau kecakapan tertentu mempengaruhi dirinya, melayani tujuan-tujuannya, dan memuaskan kebutuhannya. Bila siswa menyadari bahwa berguru merupakan suatu alat untuk mencapai beberapa tujuan yang dianggapnya penting, dan kalau siswa melihat bahwa hasil dari pengalaman belajarnya akan membawa kemajuan pada dirinya, kemungkinan besar ia akan berminat.

2.      Faktor- faktor Yang Mempengaruhi Minat Belajar
William James, sebagaimana yang dikutif oleh Moh. Uzer Usman (2001:95) melihat bahwa minat siswa merupakan faktor utama yang memilih derajat keaktifan berguru siswa.  Jadi, minat merupakan faktor yang memilih keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar.  Selanjutnya Kurt Singer(1987:95) mengemukakan beberapa faktor yang sanggup menimbulkan minat terhadap pelajaran, sebagai berikut:
a.       Pelajaran akan menarik murid kalau terlihat adanya hubungan antara pelajaran dan kehidupan nyata.
b.      Bantuan yang diberikan guru terhadap anak didiknya dalam mencapai tujuan tertentu.
c.       Adanya kesempatan yang diberikan guru terhadap siswa untuk berperan aktif  dalam proses berguru mengajar.
d.      Sikap yang diperlihatkan guru dalam perjuangan meningkatkan minat siswa, perilaku seorang guru yang tidak disukai oleh anak didik tentu akan mengurangi minat dan perhatian siswa terhadap mata pelajaran yang diajarkan oleh guru yang bersangkutan.
Singgih D. Gunarsa dan Ny. Y. Singgih Gunarsa (1995:69) menyebutkan, bahwa minat akan timbul dari sesuatu yang telah diketahui, dan kita sanggup mengetahui sesuatu dari belajar. Jadi, apabila seseorang belum pernah mendengar ihwal sesuatu maka ia tidak akan menaruh minat terhadapnya. Minat tersebut, muncul dari sesuatu yang telah diketahui dan untuk mengetahui  minat tersebut ialah melalui belajar.
Di samping itu, faktor lain yang sanggup mempengaruhi timbulnya minat seseorang ialah adanya kesempatan. Hal ini, sebagaimana yang diungkapkan oleh Andi Mappeira (1983:63), bahwa minat akan muncul kalau ada kesempatan untuk pemunculan minat tersebut.  Jadi, dengan adanya kesempatan yang diberikan pada seseorang yang pada awalnya tidak berminat terhadap pelajaran pendidikan agama Islam, namun lantaran adanya kesempatan dan faktor lainnya, kemungkinan sekali ia akan menjadi berminat untuk mempelajari pelajaran tersebut.
Sedangkan Nasution (1995:197) menyatakan, bahwa minat sanggup ditimbulkan atau dibangkitkan dengan cara-cara sebagai berikut:
a.      Bangkitkan suatu kebutuhan (kebutuhan untuk menghargai keindahan, untuk mendapat penghargaan).
b.     Hubungan dengan pengalaman yang telah lalu.
c.      Beri kesempatan untuk mendapat hasil yang baik, “Nothing succed like succed”, tak ada yang lebih memberi hasil yang baik daripada hasil yang baik. Untuk itu, materi pelajaran harus sesuai dengan kesanggupan individu.
d.     Gunakan banyak sekali bentuk metode berguru seperti, diskusi, kerja kelompok, membaca, dan sebagainya.

3.      Pentingnya Minat Belajar Siswa
Kondisi berguru mengajar yang efektif ialah adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar. Kemudian Moh. Uzer Usman (2001:17)  juga menyatakan, bahwa minat ini besar sekali pengaruhnya terhadap belajar, alasannya dengan minat seseorang akan melaksanakan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya tanpa minat, seseorang mustahil melaksanakan sesuatu.
Dari pernyataan di atas, sanggup dikatakan bahwa orang yang mempunyai minat terhadap sesuatu, ia akan berusaha lebih keras untuk memperoleh sesuatu yang diminatinya atau dengan kata lain dengan adanya minat dalam diri seseorang, maka ia akan termotivasi untuk mendapat sesuatu itu. Misalnya, seorang anak menaruh minat terhadap bidang olahraga sepak bola, maka ia akan berusaha untuk mempelajari dan mengetahui lebih banyak ihwal olahraga sepak bola.
Mengingat pentingnya minat dalam belajar, Ovide Declory yang dikutip oleh Moh. Uzer Usman, mendasarkan sistem pendidikannya pada sentra minat yang pada umumnya dimiliki oleh setiap orang, yaitu minat terhadap makanan, pemberian terhadap efek iklim (pakaian dan rumah), memperhatikan diri terhadap macam-macam ancaman dan musuh, bekerjasama dalam olahraga. Dengan demikian, pada hakikatnya setiap anak berminat terhadap belajar, dan guru sendiri hendaknya berusaha membangkitkan minat anak terhadap belajar.


Bahan Bacaan:

Andi Mappire, 1983 Psikologi Orang Dewasa, Surabaya: Usaha Nasional.
Paimun dkk, 1988. Psikologi Perkembangan,. Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam.  
Kurt Singer, 1987. Membina Hasrat Belajar di Sekolah, terj, Bregmen Sitorus, Bandung: Remaja Rosda Karya.
M. Buchori, 1999.  Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.
Moh. Uzer Usman, 2001 Menjadi Guru Profesional, Bandung: Remaja Rosda Karya.
Nasution, 1995. Didaktik Azas-azas Mengaja,r. Bandung: Jemmars, 1995
Sardiman AM, 1988. Interaksi Dalam Proses Belajar Mengajar, Jakarta: Rajawali Press.
S. Nasution,1987.  Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar dan Mengajar, Jakarta: Bina Aksara.
Slameto, 1991 Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta
Singgih D. Gunarsa & Ny. Y. Singgih D. Gunarsa, 1885. Psikologi Perawatan, Jakarta: Gunung Mulia, 1995





= Baca Juga =




Sumber http://forumgurunusantara.blogspot.com

Sabtu, 11 Agustus 2018

Teori Berguru Behavioristik

Teori behavioristik berasumsi bahwa mencar ilmu yaitu perubahan tingkah laris sebagai akhir adanya interaksi antara stimulus (rangsangan) dan respon (tanggapan). Dengan kata lain, mencar ilmu merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laris dengan cara yang gres sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah mencar ilmu sesuatu kalau ia sanggup menawarkan perubahan pada tingkah lakunya.



Menurut teori ini hal yang paling penting yaitu input (masukan) yang berupa stimulus dan output (keluaran) yang berupa respon. Apa yang tejadi diantara stimulus dan respon dianggap tidak penting diperhatikan lantaran tidak sanggup diamati dan tidak sanggup diukur. Yang sanggup diamati hanyalah stimulus dan respon. Oleh alasannya itu, apa saja yang diberikan guru (stimulus) dan apa yang dihasilkan siswa (respon), semuanya harus sanggup diamati dan diukur.

Teori ini lebih mengutamakan pengukuran, alasannya pengukuran merupakan suatu hal yang penting untuk melihat terjadinya perubahan tungkah laris tersebut. Faktor lain yang juga dianggap penting yaitu faktor penguatan. Penguatan yaitu apa saja yang sanggup memperkuat timbulnya respon. Bila penguatan diitambahkan maka respon akan semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi maka responpun akan dikuatkan. Jadi, penguatan merupakan suatu bentuk stimulus yang penting diberikan (ditambahkan) atau dihilangkan (dikurangi) untuk memungkinkan terjadinya respon.
Tokoh-tokoh aliran behavioristik diantaranya:
1. Thorndike 
Menurut thorndike, mencar ilmu merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon. Dan perubahan tingkah laris merupakan akhir dari kegiatan mencar ilmu yang berwujud konkrit yaitu sanggup diamati atau berwujud tidak konkrit yaitu tidak sanggup diamati. Teori ini juga disebut sebagai aliran koneksionisme (connectinism).
2. Watson
Menurut Watson, mencar ilmu merpakan proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laris yang sanggup diamati dan sanggup diukur. Dengan kata lain, meskipun ia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun ia menganggap hal-hal tersebut sebagai faktor yang tak perlu diperhitungkan. Ia tetap mengakui bahwa perubahan-perubahan mental dalam bentuk benak siswa itu penting, namun semua itu tidak sanggup menjelaskan apakah seseorang telah mencar ilmu atau belum lantaran tidak sanggup diamati.
3. Clark Hull
Clark Hull juga memakai variable hubangan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian perihal belajar. Namun ia sangat terpengaruh oleh teori evolusi Charles Darwin. Baginya, menyerupai teori evolusi, semua fungsi tingkah laris bermanfaat terutama untuk menjaga kelangsungan hidup manusia. Oleh alasannya itu, teori ini menyampaikan bahwa kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis yaitu penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh penggalan manusia, sehingga stimulus dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis,walaupun respon yang akan muncul mungkin sanggup majemuk bentuknya.
4. Edwin Guthrie
Demikian juga Edwin, ia juga memakai variabel stimulus dan respon. Namun ia mengemukakan bahwa stimulus tidak harus berafiliasi dengan kebutuhan atau pemuasan biologis sebagaimana Clark Hull. Ia juga mengemukakan, semoga respon yang muncul sifatnya lebih berpengaruh dan bahkan menetap, maka dibutuhkan aneka macam macam stimulus yang berafiliasi dengan respon tersebut.
5. Skinner 
Konsep-konsep yang dikemukakan oleh Skinner perihal mencar ilmu bisa mengungguli konsep-konsep lain yang dikemukakan oleh para tokoh sebelumnya. Ia bisa menjelaskan konsep mencar ilmu secara sederhana, namun sanggup menawarkan konsepnya perihal mencar ilmu secara lebih komprehensif. Menurutnya, hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan mengakibatkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang digambarkan oleh para tokoh sebelumnya.
Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa mencar ilmu semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.
Beberapa aturan mencar ilmu yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini, diantaranya :
1. Connectionism ( S-R Bond) berdasarkan Thorndike.
Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya:
1.         Law of Effect; artinya bahwa kalau sebuah respons menghasilkan imbas yang memuaskan, maka hubungan Stimulus - Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan imbas yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus- Respons.
2.         Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada perkiraan bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini mengakibatkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
3.         Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, kalau sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.

2. Classical Conditioning berdasarkan Ivan Pavlov
Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
1.         Law of Respondent Conditioning yakni aturan adaptasi yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
2.         Law of Respondent Extinction yakni aturan pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.

3. Operant Conditioning berdasarkan B.F. Skinner
Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
3.         Law of operant conditining yaitu kalau timbulnya sikap diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan sikap tersebut akan meningkat.
4.         Law of operant extinction yaitu kalau timbulnya sikap operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan sikap tersebut akan menurun bahkan musnah.
Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant yaitu sejumlah sikap yang membawa imbas yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh imbas yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri intinya yaitu stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya menyerupai dalam classical conditioning.

4. Social Learning berdasarkan Albert Bandura
Teori mencar ilmu sosial atau disebut juga teori observational learning yaitu sebuah teori mencar ilmu yang relatif masih gres dibandingkan dengan teori-teori mencar ilmu lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akhir reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan denah kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar mencar ilmu berdasarkan teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam mencar ilmu sosial dan susila terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian pola sikap (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui sumbangan reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan menetapkan sikap sosial mana yang perlu dilakukan.
Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang menyebarkan teori mencar ilmu behavioristik ini, menyerupai : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan, Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the treshold method), metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak harmonis (The Incompatible Response Method), Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan.

Dari beberapa tokoh teori behavioristik Skinner merupaka tokoh yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori behavioristik.
Aliran psikologi mencar ilmu yang sangat besar mempengaruhi pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran hingga kini yaitu aliran behavioristik. Karena aliran ini menekankan pada terbentuknya sikap yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang mencar ilmu sebagai individu yang pasif. Respon atau sikap tertentu sanggup dibuat lantaran dikondisi dengan cara tertentu dengan memakai metode drill atau adaptasi semata. Munculnya sikap akan semakin berpengaruh bila diberikan faktor-faktor penguat (reinforcement), dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Teori ini hingga kini masih merajai praktik pembelajaran di Indonesia. Hal ini tampak dengan terang pada penyelenggaraan pembelajaran dari tingkat paling dini, menyerupai Kelompok Belajar, Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, bahkan hingga di Perguruan Tinggi, pembentukan sikap dengan cara drill (pembiasaan) disertai dengan reinforcement atau eksekusi masih sering dilakukan. Teori ini memandang bahwa sebagai sesuatu yang ada di dunia positif telah terstruktur rapi dan teratur, sehingga siswa atau orang yang mencar ilmu harus dihadapkan pada aturan-aturan yang terang dan ditetapkan lebih dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin.
Berdasarkan uraian di atas, Inti dari teori mencar ilmu behavioristik, yaitu  
a)      Belajar yaitu perubahan tingkah laku.
b)      Seseorang dianggap telah mencar ilmu sesuatu kalau ia telah bisa menawarkan perubahan tingkah laku.
c)      Pentingnya masukan atau input  yang berupa stimulus dan keluaran yang berupa respon .
d)     sesuatu yang terjadi  diantara stimulus dan respon tidak dianggap penting  alasannya tidak bisa diukur dan diamati.
e)      Yang bisa di amati dan diukur hanya stimulus dan respon.
f)       Penguatan yaitu faktor penting dalam belajar.
g)      Bila penguatan ditambah maka respon akan semakin berpengaruh , demikian juga kalau respon dikurangi maka respon juga menguat.
Aplikasi teori ini dalam pembelajaran, bahwa kegiatan mencar ilmu ditekankan sebagai acara “mimetic” yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari. Penyajian materi pelajaran mengikuti urutan dari bagian-bagian keseluruhan. Pembelajaran dan penilaian menekankan pada hasil, dan penilaian menuntut satu tanggapan yang benar. Jawaban yang benar menawarkan bahwa siswa telah menuntaskan kiprah belajarnya.




= Baca Juga =




Sumber http://forumgurunusantara.blogspot.com

Teori Berguru Konstruktivistik

Konstruktivistik merupakan metode pembelajaran yang lebih menekankan pada proses dan kebebasan dalam menggali pengetahuan serta upaya dalam mengkonstruksi pengalaman atau dengan kata lain teori ini menawarkan keaktifan terhadap siswa untuk mencar ilmu menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diharapkan guna menyebarkan dirinya sendiri. Dalam proses belajarnya pun, memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri, untuk berfikir wacana pengalamannya sehingga siswa menjadi lebih kreatif dan imajinatif serta sanggup membuat lingkungan mencar ilmu yang kondusif.



Pembentukan pengetahuan berdasarkan konstruktivistik memandang subyek untuk aktif membuat struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Dengan pemberian struktur kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan diubahsuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah. Proses pembiasaan diri terjadi secara terus menerus melalui proses rekonstruksi.
Adapun tujuan dari teori ini dalah sebagai berikut:
1.      Adanya motivasi untuk siswa bahwa mencar ilmu ialah tanggung jawab siswa itu sendiri.
2.    Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya.
3.   Membantu siswa untuk menyebarkan pengertian dan pemahaman suatu konsep secara lengkap.
4.      Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri.
5.      Lebih menekankan pada proses mencar ilmu bagaimana mencar ilmu itu.
Hakikat pembelajaran konstruktivistik oleh Brooks & Brooks dalam Degeng menyampaikan bahwa pengetahuan ialah non-objective, bersifat temporer, selalu berubah, dan tidak menentu. Belajar dilihat sebagai penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, kegiatan kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Mengajar berarti menata lingkungan biar si mencar ilmu termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan. Atas dasar ini maka si mencar ilmu akan mempunyai pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergentung pada pengalamannya, dan perspektif yang digunakan dalam menginterpretasikannya.
Teori ini lebih menekankan perkembangan konsep dan pengertian yang mendalam, pengetahuan sebagai konstruksi aktif yang dibentuk siswa. Jika seseorang tidak aktif membangun pengetahuannya, meskipun usianya renta tetap saja tidak akan berkembang pengetahuannya. Suatu pengetahuan dianggap benar jika pengetahuan itu mempunyai kegunaan untuk menghadapi dan memecahkan problem atau fenomena yang sesuai. Pengetahuan tidak bisa ditransfer begitu saja, melainkan harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang. Pengetahuan juga bukan sesuatu yang sudah ada, melainkan suatu proses yang berkembang terus-menerus. Dalam proses ini keaktifan seseorang sangat memilih perrkembangan pengetahuannya.
Unsur-unsur penting dalam teori konstruktivistik:
1.      Memperhatikan dan memanfaatkan pengetahuan awal siswa
2.      Pengalaman mencar ilmu yang autentik dan bermakna
3.      Adanya lingkungan social yang kondusif
4.      Adanya dorongan biar siswa mandiri
5.      Adanya perjuangan untuk mengenalkan siswa wacana dunia ilmiah
Secara garis besar, prinsip-prinsip teori konstruktivistik ialah sebagai berikut:
1)        Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri.
2)   Pengetahuan tidak sanggup dipindahkan dari guru kemurid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar.
3)        Murid aktif mengkonstruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah.
4)        Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi biar proses konstruksi berjalan lancar.
5)        Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa.
6)        Struktur pembelajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pernyataan.
7)        Mencari dan menilai pendapat siswa.
8)        Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.
Proses mencar ilmu konstrutivistik sanggup dilihat dari aneka macam aspek, yaitu:
1. Proses mencar ilmu konstruktivistik
Esensi dari teori konstruktivistik ialah siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka sendiri. Sehingga dalam proses belajar, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka dengan keterlibatan aktif dalam kegiatan mencar ilmu mengajar.
2. Peranan siswa
Dalam pembelajaran konstruktivistik, siswa menjadi sentra kegiatan dan guru sebagai fasiitator. Karena mencar ilmu merupakan suatu proses pemaknaan atau pembentukan pengetahuan dari pengalaman secara konkrit, kegiatan kolaboratif, refleksi serta interpretasi yang harus dilukukan oleh siswa sendiri.
3. Peranan guru
Guru atau pendidik berperan sebagai fasilitator artinya membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri dan proses pengkonstruksian pengetahuan biar berjalan lancar. Guru tidak mentransferkan pengetahuan yang dimilikinya pada siswa tetapi guru dituntut untuk memahami jalan pikiran atau cara pandang setiap siswa dalam belajar.
4. Sarana belajar
Sarana mencar ilmu dibutuhkan siswa untuk menyebarkan pengetahuan yang telah diperoleh biar mendapat pengetahuan yang maksimal.
5. Evaluasi hasil belajar
Evaluasi merupakan bab utuh dari mencar ilmu yang menekankan pada ketrampilan proses baik individu maupun kelompok. Dengan cara ini, maka kita sanggup mengetahui seberapa besar suatu pengetahuan telah dipahami oleh siswa.
Aplikasi Teori Konstruktivistik Dalam Pembelajaran :
a.   Membebaskan siswa dari belenggu kurikulum yang berisi fakta-fakta lepas yang sudah ditetapkan, dan menawarkan kesempatan kepada siswa untuk mengmbangkan ide-idenya secara lebih bebas.
b.  Menempatkan siswa sebagai kekuatan timbulnya interes, untuk membuat kekerabatan ide-ide  atau gagasan-gagasan, kemudian memformulasikan kembali ide-ide tersebut, serta membuat kesimpulan-kesimpulan.
c.   Guru bantu-membantu siswa mengkaji pesan-pesan penting bahwa dunia ialah kompleks, dimana terjadi majemuk pandangan  wacana kebenaran yang datangnya dari aneka macam interpretasi.
d.  Guru mengakui bahwa proses mencar ilmu serta penilaianya  merupakan suatu perjuangan yang kompleks, sukar dipahami, tidak teratur, dan tidak gampang dikelola.
Aplikasi Teori Konstruktivistik Dalam Pembelajaran :
a.   Membebaskan siswa dari belenggu kurikulum yang berisi fakta-fakta lepas yang sudah ditetapkan, dan menawarkan kesempatan kepada siswa untuk mengmbangkan ide-idenya secara lebih bebas.
b.    Menempatkan siswa sebagai kekuatan timbulnya interes, untuk membuat kekerabatan ide-ide  atau gagasan-gagasan, kemudian memformulasikan kembali ide-ide tersebut, serta membuat kesimpulan-kesimpulan.
c.   Guru bantu-membantu siswa mengkaji pesan-pesan penting bahwa dunia ialah kompleks, dimana terjadi majemuk pandangan  wacana kebenaran yang datangnya dari aneka macam interpretasi.
d.  Guru mengakui bahwa proses mencar ilmu serta penilaianya  merupakan suatu perjuangan yang kompleks, sukar dipahami, tidak teratur, dan tidak gampang dikelola.




= Baca Juga =




Sumber http://forumgurunusantara.blogspot.com