Tampilkan postingan dengan label Iwan Pranoto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iwan Pranoto. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Juli 2018

Iwan Pranoto: Paradoks Teknologi Pendidikan

agi sekolah di kota besar yang sudah berfasilitas baik dan dilayani guru bermutu Iwan Pranoto: Paradoks Teknologi PendidikanBagi sekolah di kota besar yang sudah berfasilitas baik dan dilayani guru bermutu, penyediaan teknologi berguru bagi para murid yakni suatu kemewahan.

Teknologi untuk berguru di sekolah yang sudah baik merupakan unsur embel-embel atau penghias semata, bukan kebutuhan. Jika tak tersedia teknologi berguru pun, para siswa tetap akan sanggup berguru bersama guru.

Namun, sebaliknya, bagi sekolah-apalagi masyarakat tanpa sekolah-di pedalaman dan tanpa fasilitas, mungkin pula tak mempunyai guru memadai, teknologi berguru merupakan kebutuhan. Teknologi berguru bagi belum dewasa di tempat terpencil merupakan keharusan. Pada dekade kedua kala ke-21 ini, teknologi juga mungkin satu-satunya peluang bagi belum dewasa di pelosok untuk berguru dengan mutu tak kalah dari temannya di perkotaan.

Inilah paradoks dalam teknologi belajar. Di perkotaan dengan fasilitas pendidikan baik, teknologi berguru suatu kemewahan; di pedalaman, teknologi berguru justru kebutuhan.

Anak

Saat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengutarakan gagasan pemanfaatan tablet atau sabak elektronik [sabak-el] sebagai media belajar, beberapa pihak meragukan.

Umumnya keraguan bersumber pada fakta infrastruktur yang belum memadai, menyerupai jaringan listrik dan internet. Juga ada bunyi yang takut anak akan memanfaatkannya guna mengakses gosip tak pantas. Malah ada yang berkata bahwa dukungan sabak sebagai ganti buku bimbing untuk ketika ini belum mendesak, bahkan akan menciptakan perbandingan pendidikan di kota besar dengan di pelosok-pelosok semakin tidak seimbang.

Semua ramalan serta komentar bernada tak positif tersebut sahih. Hanya para pengkritik itu keliru membayangkan sabak-el ini untuk diterapkan di perkotaan atau malah di seluruh Indonesia, secara nasional.

Saat ini masih banyak tempat terpencil, sulit dijangkau, terjebak konflik, atau terkena bencana. Akibatnya, belum dewasa di tempat menyerupai ini mau tak mau harus menelan layanan pendidikan ala kadarnya.

Kerap terjadi, hanya ada satu guru di satu-satunya sekolah di desa terdekat. Guru seorang itu harus mengampu semua mata pelajaran, mulai dari Agama, Bahasa Indonesia, Kimia, Matematika, hingga Olahraga. Di beberapa tempat lain, ada prajurit Tentara Nasional Indonesia yang berinisiatif mengajar anak- anak di sana.

Banyak tempat terpinggirkan itu harus dicapai dengan berjalan kaki menembus hutan satu atau dua malam. Ada pula yang harus dicapai dengan kapal yang tak selalu tersedia. Ada pula yang harus dicapai dengan pesawat terbang perintis. Inilah keadaan geografis Indonesia yang harus dipahami oleh penentu kebijakan dan politisi dalam bidang kebijakan pendidikan.

Dengan keadaan penuh hambatan menyerupai itu, bagaimana menyediakan pendidikan bermutu?

Menyediakan guru cakap dan berangasan mengajar di tempat terpencil tentu harus dilanjutkan dan digelorakan. Namun, berapa banyak guru jago menyerupai itu yang sanggup disediakan dalam waktu satu-dua tahun ke depan? Lalu, dalam dua tahun itu, apakah belum dewasa yang terpinggirkan dan terabaikan ini akan dibiarkan juga tak memperoleh kesempatan belajar?

Sungguh tak pantas bahwasanya pada kala ke-21 ini masih ada belum dewasa kita yang belum memperoleh pendidikan wajar. Padahal, teman-temannya di Jakarta dan bahkan di Palu, Sulawesi Tengah, bersekolah dengan guru lengkap bahkan berpendidikan magister.

Karena itu, gagasan penggunaan sabak atau teknologi lainnya merupakan anjuran yang layak dipikirkan. Terlebih lagi kemungkinan teknologi berguru merupakan pintu peluang terbesar negara menyediakan kesempatan berguru bermutu bagi anak-anak.

Benar bahwa di tempat terpencil belum ada infrastruktur yang memadai. Justru itu menandakan, ini ketika yang sempurna untuk merancangnya dengan biaya sehemat mungkin. Ini investasi pendidikan untuk 10-20 tahun ke depan. Ini saatnya rekayasawan kita merekacipta sumber daya listrik alternatif murah yang memungkinkan mengisi sumber daya sabak-el.

Surya, angin, bahkan sumber daya listrik kinetik putaran tuas tangan anak sendiri merupakan sumber daya alternatif. Beberapa desain sudah bisa mengubah putaran tuas oleh anak dalam 3 menit cukup guna mengaktifkan laptop 1 jam.

Tak ada jaringan internet juga bukan persoalan sebab sabak-el sanggup dimanfaatkan dengan modus luar jaringan [luring]. Dengan mempersiapkan materi bimbing dalam kartu memori, sabak-el sanggup berfungsi sebagai sumber materi bimbing dan sanggup diperbarui datanya dengan gampang secara berkala, yakni dengan mengirimkan kartu memori kecil itu. Ini jauh lebih mungkin dan ekonomis ketimbang mengirim buku ajar.

Keuntungan lain dari penggunaan sabak-el ini ialah peluang melokalkan pembelajaran IPA, IPS, Matematika, dan sebagainya, menyerupai ke dalam bahasa ibu. Dengan pendekatan buku bimbing tradisional, tentunya hal ini rumit dan mahal, tetapi justru menjadi mungkin diwujudkan dengan teknologi.

Guru

Jika guru di sekolah terpencil mengikuti aktivitas training di kota terdekat, guru akan meninggalkan sekolah dan muridnya akan terganggu. Belum lagi isi training guru ketika ini kerap belum ke konsep mendalam sebab jumlah dan kapasitas widyaiswara masih kurang.

Akan tetapi, dengan sabak-el, guru sanggup eksklusif berguru dan mempraktikkan cara membelajarkan satu topik tertentu pada waktu yang singkat, tanpa perlu meninggalkan sekolahnya. Jika harus membelajarkan perkalian bilangan bundar hari Senin, misalnya, pada hari Minggu guru sanggup eksklusif menyimak klip video lima menitan bagaimana mengajarkannya. Ini ekonomis dan akan sempurna sasaran.

Seperti juga bagi murid, bagi guru di tempat terpencil, teknologi berguru juga kebutuhan. Program sabak-el ini layak untuk dikaji lebih rinci. Kemudian, kalau dianggap layak, perlu diujicobakan dalam skala kecil dahulu untuk lokasi tertentu dan satu atau dua mata pelajaran saja. Uji coba untuk pulau yang terpencil, misalnya.

Ada yang skeptis bahwa aktivitas ini akan dikorupsi. Tentu ada kemungkinan itu. Bukankah buku bimbing tradisional atau akomodasi pendidikan juga diselewengkan? Kurang bijak kalau kesempatan berguru belum dewasa terpinggirkan ini dipupuskan hanya sebab kecurigaan akan ada orang jahat yang tega memalak dananya.

dari KBBI: paradoks/pa·ra·doks/ n pernyataan yg seperti bertentangan [berlawanan] dng pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran; bersifat paradoks

dari wikipedia: Paradoks yakni suatu situasi yang timbul dari sejumlah premis [apa yang dianggap benar sebagai landasan kesimpulan kemudian; dasar pemikiran; alasan; [2] asumsi; [3] kalimat atau proposisi yg dijadikan dasar penarikan kesimpulan di dl logika], yang diakui kebenarannya yang bertolak dari suatu pernyataan dan akan datang pada suatu konflik atau kontradiksi.

Sebuah 'paradoks yakni sebuah pernyataan yang betul atau sekelompok pernyataan yang menuju ke sebuah pertentangan atau ke sebuah situasi yang berlawanan dengan intuisi. Biasanya, baik pernyataan dalam pertanyaan tidak termasuk kontradiksi, hasil yang membingungkan bukan sebuah kontradiksi, atau "premis"nya tidak sepenuhnya betul [atau, tidak sanggup semuanya betul]. Pengenalan ambiguitas, equivocation, dan asumsi yang tak diutarakan di paradoks yang dikenal sering kali menuju ke peningkatan dalam sains, filsafat, dan matematika.

[Iwan Pranoto - Guru Besar Matematika ITB]

Video pilihan khusus untuk Anda 😊 Masih menganggap matematika hanya hitung-hitungan semata, mari kita lihat kreativitas siswa ini;
agi sekolah di kota besar yang sudah berfasilitas baik dan dilayani guru bermutu Iwan Pranoto: Paradoks Teknologi Pendidikan


Sumber http://www.defantri.com

Minggu, 03 Juni 2018

Tan Malaka Memandang Bahwa Bermatematika Yaitu Berkah

Tan Malaka Memandang Bahwa Bermatematika Adalah Berkah Tan Malaka Memandang Bahwa Bermatematika Adalah BerkahSetelah browsing dan guling-guling panjang yang alhasil terhenti di twit keren dari pak Iwan Pranoto [@iwanpranoto]. Bapak Iwan Pranoto yaitu seorang dosen matematika di Institut Teknologi Bandung [ITB].

Seperti apa kicauan pak Iwan Pranoto,
"Tan Malaka memandang bahwa BERMATEMATIKA ADALAH BERKAH, kenikmatan [Madilog, hal 55]"
dan dalam gambar tertulis
"dalam perasaan kekurangan materi, penulis banyak mendapat materi pada ilmu tak bermateri. Pada matematika ini. Persoalan matematika melupakan banyak kasus lain-lain yang tidak dibutuhkan lekas datang"
.
Setelah membaca quote Tan Malaka, ada baiknya ini disimpan dulu sebagai catatan dan pesan final pada kertas soal quiz atau ulangan siswa. Sebagai embel-embel kita ambil dari goodreads yang menyusun Tan Malaka quotes dengan rapi.

“Idealisme yaitu kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.” ― Tan Malaka

“Sedangkan bahwasanya cara mendapat hasil itulah yang lebih penting daripada hasil sendiri. [bab 3, ilmu alam -science page 99]” ― Tan Malaka, Madilog

“Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan” ― Tan Malaka

“Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, bunyi saya akan lebih keras daripada dari atas bumi” ― Tan Malaka

“Bahwa kebiasaan menghafal itu tidak menambah kecerdasan, malah mengakibatkan saya bodoh, mekanis, ibarat mesin. [Pendahuluan - Perpustakaan page 24]” ― Tan Malaka, Madilog

“Kalau suatu negara ibarat Amerika mau menguasai samudra dan dunia, beliau mesti rebut Indonesia lebih dahulu buat sendi kekuasaan. [Pendahuluan - Melihat ke muka page 35-36]” ― Tan Malaka, Madilog

“BERGELAP-GELAPLAH DALAM TERANG, BERTERANG-TERANGLAH DALAM GELAP ! ” ― Tan Malaka

“Ia, Tan Malaka, orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia... Tapi hidupnya berakhir tragis di ujung senapan tentara republik yang didirikannya.” ― Tan Malaka

“Modal sanggup memenjarakan manusia, menciptakan insan bekerja tanpa henti dari jam 5 subuh hingga jam 8 malam untuk kekayaan oranglain.” ― Tan Malaka

“Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas” ― Tan Malaka

“Bila kaum muda yang telah berguru di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pandai untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya mempunyai harapan yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali" ― Tan Malaka, Madilog

“Berpikir besar kemudian Bertindak” ― Tan Malaka, Madilog

“Bila seseorang ingin menaiki tangga sosial dan kebudayaan mestilah merdeka lebih dulu dan pengetahuan wacana kemerdekaan, di Baratlah dilahirkan dan dipergunakan.” ― Tan Malaka

“Jeruk sebagai benda, lembu sebagai benda, bumi dan bintang sebagai benda, ya, "engkau" sebagai benda, tak ada buat saya. Yang ada cuma ide, pikiran, pengertian, citra dari jeruk, lembu, bumi, bintang dan engkau. "Engkau",kata hume, cuma "ide" buat saya.
Dengan begitu Hume yang membatalkan benda dan mengaku pandangan gres saja, membatalkan adanya diri sendiri, mengakui, bahwa bahwasanya beliau sendiri tak ada.[bab 2 filsafat - page 35]” ― Tan Malaka, Madilog

“cuma insan pengecut atau curang yang tiada ingin melaksanakan pekerjaan yang berat, tetapi bermanfaat buat masyarakat kini dan dihari kemudian itu” ― Tan Malaka, Islam dalam Tinjauan Madilog: Materialisme Dialektika Logika

“Revolusi Indonesia, bukanlah Revolusi Nasional SEMATA-MATA, ibarat diciptakan beberapa gelitir orang Indonesia, yang maksudnya cuma membela atau merebut dingklik buat dirinya saja, dan bersiap sedia menyerahkan semua sumber pencaharian yang terpenting kepada SEMUANYA
bangsa Asing, baik MUSUH atau sahabat. Revolusi Indonesia, mau tak mau terpaksa mengambil tindakan ekonomi dan sosial serentak dengan tindakan merebut dan membela kemerdekaan 100%. Revolusi kemerdekaan Indonesia tidak sanggup diselesaikan dengan dibungkusi dengan revolusi-nasional saja. Perang kemerdekaan Indonesia harus DI-ISI dengan jaminan sosial dan ekonomi sekaligus.” ― Tan Malaka, Gerpolek: Gerilya-Politik-Ekonomi

“Selama toko buku ada, selama itu pustaka sanggup dibuat kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan masakan dikurangi.” ― Tan Malaka, Madilog

“Bila kaum muda yang telah berguru di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pandai untuk melebur dengan masyarakatyang bekerja dengan cangkul dan hanya mempunyai harapan yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali” ― Tan Malaka, Madilog

“Sudah tentu seorang pengarang atau penulis manapun juga dan berapapun juga yaitu murid dari pemikir lain dari dalam masyarakatnya sendiri atau masyarakat lain. Sedikitnya ia dipengaruhi oleh guru, mitra sepaham, bahkan oleh musuhnya sendiri.” ― Tan Malaka, Madilog

“Kalau sistem itu tak sanggup diperiksa kebenarannya dan tak sanggup dikritik, maka matilah Ilmu Pasti itu.” ― Tan Malaka, Madilog

“Seperti seekor semut hanyut bergantung pada sepotong rumput yang diayun-ayunkan gelombang.” ― Tan Malaka, Madilog

“Kebaikan buat masyarakat itu bergantung kepada budpekerti masyarakat, dan didikan masing-masing orang.” ― Tan Malaka, Madilog

“Bukankah seseorang pelarian politik itu mesti ringan bebannya, seringan-ringannya? Ia tak boleh diberatkan oleh benda yang lahir, ibarat buku ataupun pakaian. Hatinya terutama tak boleh diikat oleh anak isteri, keluarga serta handai tolan. Dia haruslah bersikap dan bertindak sebagai "marsuse’’ [angkatan militer siap gempur] yang setiap detik siap sedia buat berangkat, meninggalkan apa yang sanggup mengikat dirinya lahir dan batin.” ― Tan Malaka, Madilog

“Tetapi bila Madilog masih kekurangan bentuk, saya pikir beliau tidak kekurangan sifat.” ― Tan Malaka, Madilog

“Murid yang pandai juga insyaf, bahwa bila beliau sudah tahu satu cara, satu undang, satu kunci buat menuntaskan satu golongan persoalan, maka tiadalah ia mengapal berpuluh-puluh duduk kasus atau jawabannya puluhan atau ratusan duduk kasus itu, tetapi beliau pegang cara atau kuncinya duduk kasus tadi saja.” ― Tan Malaka, Madilog

“Yang tajam balik bertimbal, bila tak ujung pangkal mengena.” ― Tan Malaka, Madilog

“Seorang tukang tak akan sanggup membikin gedung, bila alatnya ibarat semen, kerikil tembok dan lain-lain tidak ada. Seorang pengarang atau mahir pidato, perlu akan catatan dari buku musuh, mitra ataupun guru. Catatan yang tepat dan jitu sanggup menaklukan musuh secepat kilat dan sanggup merebut permufakatan dan iman yang bersimpati sepenuh-penuhnya. Baik dalam polemik, perang-pena, baik dalam propaganda, maka catatan itu yaitu barang yang tiada sanggup ketinggalan, ibarat semen dan kerikil tembok buat membikin gedung. Selainnya dari pada buat digunakan sebagai barang materi ini, buku-buku yang berarti tentulah besar faedahnya buat pengetahuan dalam arti umumnya.” ― Tan Malaka, Madilog

“Yang besar lengan berkuasa perindustriannya, itulah pihak yang mesti menang.” ― Tan Malaka, Madilog

“Sudah pernah seorang pengarang buku di Amerika meramalkan, bahwa bila satu negara ibarat Amerika mau menguasai samudra dan dunia, beliau mesti rebut Indonesia lebih dahulu buat sendi kekuasaan.” ― Tan Malaka, Madilog

“Bahwa mereka pekerjalah, yang menduduki lantai ekonomi perekonomian Indonesia.” ― Tan Malaka, Madilog

“Bahwa benda itu yaitu satu rantai, satu eksekusi alam yang merantai hidup kita, hidup sengsara ini.” ― Tan Malaka, Madilog

“Banyaknya proletar mesin dan tanah di Indonesia dan kekuatan yang tersembunyi memang sudah cukup besar lengan berkuasa buat merebut kekuasaan dari imperialisme Belanda. Tetapi didikannya masih sangat tipis dan tidak cocok dengan keperluan dan kewajiban klasnya di hari depan. Mereka kekurangan filsafat. Mereka masih tebal diselimuti ilmu buat alam abadi dan tahyul campur aduk.” ― Tan Malaka

“Bangunkanlah semangat menyerang buat meruntuhkan yang lama – lama – dan mendirikan masyarakat yang gres – kokoh – kuat.” ― Tan Malaka, Madilog

“Kita manusia, memang binatang yang ingin tahu. Curious, niewsgiering.” ― Tan Malaka

Untuk mengetahui lebih banyak lagi wacana Tan Malaka sanggup membacanya pada wikipedia wacana Tan Malaka dan goodreads.

Sebagai tambahan, mari kita simak video guru yang super kreatif ini, mengerjakan perkalian jadi kreatif;
Tan Malaka Memandang Bahwa Bermatematika Adalah Berkah Tan Malaka Memandang Bahwa Bermatematika Adalah Berkah


Sumber http://www.defantri.com

Kamis, 31 Mei 2018

Iwan Pranoto: Melajukan Evolusi Pendidikan

 merupakan pemikiran bahwa evolusi biologis pada insan Iwan Pranoto: Melajukan Evolusi PendidikanIstilah evolutionary hangover merupakan pemikiran bahwa evolusi biologis pada manusia, yang merupakan mekanisme alam guna mengikuti keadaan terhadap suatu perubahan lingkungan, kadang ibarat “limbung bangkit kesiangan” atau kurang sigap.

Sepenggal paragraf diatas menjadi paragraf pembuka goresan pena Bapak Iwan Pranoto pada kolom opini Kompas, rabu, 1 Februari 2017 yang berjudul “Melajukan Evolusi Pendidikan”. Bapak Iwan Pranoto ini yaitu salah satu Guru Besar Matematika di Institut Teknologi Bandung [ITB].

Sebelumnya twit keren dari Bapak Iwan Pranoto pernah mengenalkan saya pada Tan Malaka yang Memandang Bahwa Bermatematika Adalah Berkah. Guru Besar Matematika di ITB lain yang saya kenal dari media umum melalui tulisan-tulisannya yaitu Bapak Hendra Gunawan, mungkin bapak profesor berdua ini sudah berkenalan dengan baik.

Kembali kepada opini Bapak Iwan Pranoto, bahwa tanda-tanda ibarat “limbung bangkit kesiangan” atau kurang sigap ini muncul ketika terlalu cepatnya proses evolusi budaya dibandingkan dengan kemampuan evolusi genetika dalam meresponsnya. Misalnya, evolusi genetika insan terlambat merespons perubahan lingkungan, ibarat peningkatan paparan beberapa senyawa kimia buatan gres yang karsinogen, beracun, dan mutagenic [Ehrlich, 2000].

Gejala serupa terjadi dalam korelasi dunia pendidikan dengan lapangan kerja. Kemajuan pesat teknologi di kala ini telah mengubah bagaimana insan hidup sekaligus merombak drastis tatanan lapangan pekerjaan. Dampak rasional perubahan pada contoh kehidupan sekaligus dunia kerja ialah munculnya tuntutan kecakapan baru. Menanggapi hal ini, pendidikan perlu meresponsnya dengan membelajarkan kecakapan gres yang dituntut lapangan pekerjaan. Namun, sama ibarat evolusi genetika yang kadang kurang tanggap, evolusi pendidikan juga masih tak selaju perubahan tatanan lapangan pekerjaan.

Permasalahan bagaimana masyarakat dan negara seharusnya menanggapi perombakan tatanan lapangan pekerjaan ini diajukan dalam dokumen ”Inclusive Growth and Development Report 2017” yang dirilis World Economic Forum pada 16 Januari 2017.

Guncangan Oleh Teknologi

Perkembangan pengetahuan ilmiah melahirkan ”guncangan teknologi” yang berhasil mengacaukan kelanggengan lapangan pekerjaan. Fenomena ini, selain membuat sejumlah pekerjaan jadi busuk dan tak diperlukan, juga memunculkan beberapa pekerjaan gres yang belum pernah ada di masa lalu. Sepuluh tahun lalu, siapa yang pernah terlintas istilah ibarat manajer media sosial, search engine optimization [SEO] specialist, atau data mining specialist yang diburu hari ini?

Jenis pekerjaan gres akan muncul semakin cepat, bahkan berdasarkan dokumen ”Future of Jobs and Its Implications on Indian Higher Education” yang disusun federasi industri India, Federation of Indian Chambers of Commerce and Industry [FICCI], diperkirakan 65 persen pelajar yang pada 2016 di jenjang SD akan berkarier dalam jenis pekerjaan benar-benar baru. Jadi, institusi pendidikan harus membelajarkan kecakapan apa?

Sejarah mencatat, kemajuan teknologi senantiasa mengubah dunia kerja. Hari ini, salah satunya ialah cloud computation, yakni pemanfaatan komputer dengan internet guna memungkinkan pengerjaan proses komputasi dan penggunaan data secara bersama di kawasan berbeda serta sesuai permintaan. Teknologi ini sudah dan diperkirakan akan memangkas jenis pekerjaan manajemen perkantoran dan pendokumentasian rutin berdasar pada rangkaian hukum prosedural logika yang sudah terang dan pasti. Pekerjaan yang sanggup dirumuskan dengan ”jika-maka” semacam ini memang cocok dan jago jikalau dikerjakan oleh mesin. Misalnya petugas teller di bank sudah berkurang dan sebagian tugasnya digantikan ATM.
Sebaliknya, dan menariknya, jenis pekerjaan yang sifatnya berdasarkan analisis serta kreativitas, ibarat pengambilan keputusan, perencanaan, dan penciptaan gagasan baru, justru kondusif dan tak terlalu dikacaukan guncangan teknologi. Jenis pekerjaan yang butuh kecakapan bernalar kompleks akan tetap ada, sebaliknya pekerjaan berlandaskan kecakapan berpikir rutin dan prosedural, termasuk hafalan, akan punah. Ini berarti, murid semakin perlu berguru bernalar kompleks dan berlatih membuat keputusan berlandaskan pertimbangan sahih.

Mengingat pekerjaan masa depan niscaya melibatkan teknologi komputer, semua pelajar perlu melek teknologi komputer. Untuk itu, persekolahan perlu menyisipkan kegiatan menyusun aktivitas atau algoritma untuk suatu kiprah tertentu, semacam mengomputerkan aneka macam kiprah sekolah. Tak perlu sebagai satu mata pelajaran ilmu komputer khusus, tak perlu pula kiprah dan aktivitas canggih. Misalnya, cukup sesederhana menuliskan aktivitas mengubah kurs mata uang dari satu negara ke negara lain dalam bidang studi IPS dengan aplikasi/program komputer yang sudah jamak tersedia.

Juga diperkirakan orang akan semakin sering berganti pekerjaan. Sekarang saja, misalnya, sudah jamak dokter yang menjadi administrator rumah sakit dan mau tak mau harus berguru manajemen kepegawaian, bahkan keuangan. Ini tentu informasi jelek bagi orang yang tak suka belajar, tetapi informasi menggembirakan bagi yang gemar berguru hal baru. Modal utama di dunia kerja telah berganti: dari mempunyai pengetahuan menjadicakap dan berangasan berguru hal baru.
Kebijakan Pendidikan

Bermodal daftar kecakapan yang dituntut dunia kerja di masa depan ibarat di atas, sanggup dirumuskan profil kecakapan pelajar dan lulusan tiap jenjang pendidikan. Dari situ sanggup diturunkan kebijakan pendidikan guna mendorong murid mempelajari rangkaian kecakapan tersebut. Dari sana, institusi pendidikan mereka-cipta proses pembelajaran semoga mendukung pengembangan kecakapan masa depan itu.

Rentetan guncangan teknologi melaju semakin cepat dan jikalau telat direspons akan berbahaya. Mantan chief financial officer perusahaan ternama Infosys berjulukan Mohandas Pai meramalkan, ”Pada 2025 akan ada 200 juta cowok [di India]) dari kelompok usia 21-41 yang menganggur dan belum ada yang tahu bagaimana solusinya.” Keadaan jelek ini sanggup terjadi lebih cepat. Perekrutan pekerja oleh Infosys pada 2016 saja yang terendah selama 10 tahun terakhir. Pekerjaan yang biasanya ditugaskan bagi para lulusan gres telah diambil alih oleh komputer.

Mohandas Pai memperingatkan ancaman gelombang pengangguran itu akan menyebabkan demographic nightmare atau keinginan jelek demografi bagi India. Keadaan tingginya populasi kelompok usia produktif yang seharusnya berpotensi untuk menguntungkan secara ekonomi justru menjadi beban mayoritas lantaran tak sanggup diserap oleh dunia kerja.

Sementara lapangan kerja sudah berubah pesat menuntut kecakapan baru, prinsip dan praktik pendidikan di banyak kawasan masih sama ibarat masa Revolusi Industri 250 tahun lalu. Komputer, kamus, ensiklopedia, bahkan pemeriksa detak jantung di saku celana masih dianggap dongeng fiksi-sains. Evolusi budaya berlandaskan teknologi ini sepertinya memenangkan lomba balap meninggalkan evolusi pendidikan.

Guna merespons, sistem pendidikan perlu ”turun mesin” semoga evolusinya melaju cepat. Prinsip busuk di pendidikan semacam;
  • Penggunaan ujian untuk memotivasi berguru diganti menjadi kegairahan belajar.
  • Mengulang tanggapan menjadi membuat tanggapan baru.
  • Kompetisi individu menjadi kolaborasi.
  • Menstandardisasi anak menjadi merayakan keunikan anak.
  • Penyeragaman dalam pendidikan menjadi usul berinovasi dalam pendidikan.
  • Satu sumber pengetahuan menjadi beraneka sumber.
Dengan cara ini, potensi laba demografi Indonesia yang puncaknya antara 2025 dan 2030 berpeluang benar-benar dinikmati.

Begitulah goresan pena Bapak Iwan Pranoto yang disadur, eh salah bukan disadur, tepatnya di copas dari kolom opini Kompas, rabu, 1 Februari 2017 yang berjudul “Melajukan Evolusi Pendidikan”. Selain menjadi Guru Besar Matematika di Institut Teknologi Bandung [ITB] Bapak Iwan juga sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI New Delhi, India, mungkin itulah sebabnya beberapa data dan opini yang digunakan berasal dari negeri tersebut.

Matematika sanggup mensugesti aksara kita, mari kita simak penjelasannya pada video berikut;
 merupakan pemikiran bahwa evolusi biologis pada insan Iwan Pranoto: Melajukan Evolusi Pendidikan


Sumber http://www.defantri.com

Sabtu, 12 Mei 2018

Iwan Pranoto: Teachers Sow Thirst For Learning

 If we sit alone at night and contemplate the career we have now Iwan Pranoto: Teachers Sow Thirst For LearningTeachers Sow Thirst For Learning. If we sit alone at night and contemplate the career we have now, we may often wonder; How did we get this far in our career? Whether we admit it or not, it is mostly because of the education we had and have. Moreover, in general, we have obtained the education through formal institutions such as school. This is simply a fact.

We can do very advanced computations in engineering projects because we have a solid basic computation ability we acquired in elementary school. We are able to communicate with others -- perhaps even in a foreign language -- because of some aspects of the language we learned in school. This is not debatable.

Therefore, it is indeed true that we obtain education through formal schools. Certainly, we also obtain education through other institutions. For example, our family is one of those institutions. However, at least one of school's missions is to provide education to students.

The school provides education through the services of teachers. They are the ones who directly serve the students. In the old paradigm, their activity in the classroom is called teaching. This activity actually involves the teacher merely giving a speech and the students taking notes.

The old paradigm unfortunately is still present in our school climate. The teacher's main purpose in the classroom is merely to teach. It is not important whether the students learn or not. Whether the students enjoy the study time or not is none of his or her business at all.

However, there has been a paradigmatic shift in the education world. The keyword is not to teach anymore. It is also not to educate, but to learn.

Therefore, it seems rather abstrak when some Indonesian education experts contradict the words to educate and to teach. First, they are not comparable, because to teach is a method used to educate. It is like comparing fruit and apple. The latter is a part of the former. Second, neither word is the central theme in education anymore. Instead, I believe the word learning is really the gist and essence of the modern paradigm in education.

The paradigmatic shift makes a title like "Teachers Must Produce Critical Students", an article written by J. Kusmanto in The Jakarta Post, Jan. 9, 1999, seem unsuitable to some of us.

We teachers neither produce nor create critical students. Besides that our students are not the products of school, critical students cannot be produced. They cannot be made either. If we want our students to be critical, the students themselves must learn to be critical, active and creative in thinking. We teachers can only facilitate the improvement of their ability, giving them an incentive and opportunity to learn to think that way.

If the students do not learn when we teach, then our presence in the classroom is useless. It does not make sense to teach them. We have to remind ourselves that teaching them cannot automatically make our students smart. They can be smart only if they learn.

Now, if we insist on thinking of school as an industry, then school is a service industry. And, the product is the service the teachers and all supporting staff provide. The students utilize that service to improve their learning ability.

The word learning itself gives a direct understanding that the central component in modern education is the student. The subject in education is not the teacher anymore, but the student.

Therefore it is reasonable to define quality education as a service where and when its participants can learn effectively.

Based on the above definition, we can conclude that, therefore, a quality teacher is the one who can influence his or her students to learn effectively. A teacher who knows and is able to deliver heaps of materials is not automatically a quality teacher. But, a quality teacher is the one who can motivate his or her students to become lifelong learners.

So, if we still define teaching as an activity where a person gives a lecture or a speech and the participants take notes from it, then a quality teacher perhaps is the one who does not teach at all.

The quality teacher is mostly interested in nurturing students so that they can learn to learn. The quality teacher does not care too much about the subject materials studied, but he or she stresses more letting the students become lifelong learners. He or she is more focused on the continuous improvement of the students' ability to learn.

The quality teacher is the one who can create a fertile climate such that the students may improve the opportunity, the motivation and the ability to learn.

That is why, in my opinion, teaching is really a paradoxical activity. If a teacher teaches effectively, it means he or she teaches less. Or, perhaps, quality teachers even do not need to teach at all.

Moreover, we can reason further that quality students are not students at all. Because quality students will learn by themselves. Quality students will be able to find any information they need and utilize it independently. The quality teacher will need only to facilitate their learning more effectively.

This definition is also applicable to the university level. Quality professors will pay more attention to how their students learn. At certain times, they will obviously provide guidance on improving learning ability.

So, it is very likely that the participants of a class offered by a quality professor will learn many different things in their futures. In fact, very often, they learn new subjects very distant from their professor's expertise.

If that happens, that professor certainly should be proud, because he or she has done something right in not teaching the participants of the classes. In fact, he or she should be very honored and satisfied because the participants of his or her classes are able to become quality lifelong learners. And, that is the primary reason most teachers are willing to spend time and effort in improving the quality of their classes. That satisfaction cannot be traded for other things.

The writer is a mathematics teacher living in Bandung 💗 [Iwan Pranoto]

Video pilihan khusus untuk Anda 💗 Masih menganggap matematika hanya hitung-hitungan semata, mari kita lihat kreativitas siswa ini;
 If we sit alone at night and contemplate the career we have now Iwan Pranoto: Teachers Sow Thirst For Learning


Sumber http://www.defantri.com

Jumat, 11 Mei 2018

Iwan Pranoto: Belajar

 Ada mencar ilmu demi ujian dan untuk mengejar skor Iwan Pranoto: BelajarAda sekolah, tetapi belum ada belajar. Ada pengajaran, tetapi belum ada belajar. Ada mencar ilmu demi ujian dan untuk mengejar skor, tetapi belum ada mencar ilmu alasannya rasa ingin tahu. Ada mencar ilmu alasannya dipaksa, tetapi belum ada mencar ilmu berlandaskan hasrat dari dalam diri sendiri.

Ada pemaksaan belajar, tetapi belum ada sukacita belajar. Ada kewajiban belajar, tetapi belum ada penghargaan hak belajar. Ada pemaksaan mencar ilmu dengan ancaman, tetapi belum ada kasmaran belajar.

Almarhum Profesor Achmad Arifin kerap mengingatkan para muridnya, "Kita pintar bukan alasannya diajar, akan tetapi alasannya belajar."

Pernyataan itu yakni sebuah penyadaran bahwa tidak ada gunanya seseorang mengikuti pengajaran kalau yang bersangkutan tak belajar. Pandai tak pernah diperoleh melalui jalan pintas, tetapi harus melalui proses mencar ilmu berkelanjutan, yang didorong motivasi dari dalam diri. Tentunya kita semua mengangankan pemahaman perihal mencar ilmu ini terwujud melalui rangkaian kebijakan pendidikan nasional di pemerintahan gres demi anak- anak Sang Republik.

Sikap

Kata mencar ilmu bukan sebuah kata sepele. Kata ini merupakan sebuah kata universal yang mengandung unsur kearifan luhur.

Kata mencar ilmu tentu umumnya dikenakan pada pelajar, tetapi sejatinya mutlak pula bagi pendidik. Guru tentunya perlu mencar ilmu sebelum ia membelajarkan keilmuannya. Guru mempunyai tugas sebagai insan yang meneladankan perilaku mencar ilmu sepanjang hayat.

Lebih dari itu, sebenarnya kata mencar ilmu alami bagi semua manusia, entah renta ataupun muda. Beberapa futurolog atau pakar perihal masa depan sudah menyatakan bahwa mencar ilmu yakni pekerjaan utama insan di masa kini dan mendatang. Tidakkah kita sudah rasakan kini di dunia kerja?

Selain mencar ilmu sebagai acara utama dalam keilmuan, mencar ilmu juga menyiratkan perilaku yang manusiawi. Kata mencar ilmu senantiasa mengimbas suatu suasana kebersahajaan bagi subyeknya.

Seseorang yang mencar ilmu artinya mengakui bahwa dirinya belum tahu, mengakui keterbatasan pemahamannya, dan mengakui bahwa dirinya masih belum mencapai kebenaran mutlak. Kebersahajaan ini sebenarnya juga penting dalam budaya ilmiah.

Jika persekolahan sanggup mengembalikan mencar ilmu sebagai jiwa kegiatannya, budaya kebersahajaan sanggup dibutuhkan tumbuh di kelas, sekolah, dan alhasil menyebar ke masyarakat luas.

Sekolah bukan saja sebagai daerah penyebaran pengetahuan ilmiah, tetapi—lebih dari itu—sekolah haruslah menjadi sumber ilham pengembangan budaya masyarakat sekitarnya. Iklim kebersahajaan yang berkembang di masyarakat akan meningkatkan harmoni sosial sejati menurut intelektualitas, bukan berlandaskan materi.

Budaya kebersahajaan ini secara alami menumbuhkan perilaku mau mendengar pendapat orang lain alasannya ingin mencar ilmu dari orang lain. Belajar sanggup dari siapa saja dan kapan saja.

Sebaliknya, perasaan takabur, perasaan tahu segalanya, dan perasaan paling benar akan mengimbas perilaku gampang menyesatkan orang lain, menganggap orang lain salah kalau tak sama dengan pendapatnya. Perasaan takabur ini mempunyai saudara kembar berjulukan kenaifan, yakni melihat dunia hanya hitam-putih. Jika tidak hitam, niscaya putih. Ini sangat berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan perawatan Sang Republik.

Teori otak

Sekarang, bagaimana membangkitkan motivasi intrinsik atau hasrat diri untuk belajar? Menurut teori otak, insan mempunyai tiga bab otak yang masing-masing menuntut pemuasan yang berbeda-beda. Otak depan [forebrain] menuntut acara yang baru. Otak tengah [midbrain] menuntut acara yang menantang. Otak belakang [hindbrain] menuntut acara yang aman. Artinya, kita, manusia, akan berhasrat mencar ilmu kalau kegiatannya gres [tidak membosankan], menantang [sedikit di atas kemampuan kita], dan kondusif [tidak mengancam atau mempermalukan kita kalau gagal].

Oleh alasannya itu, pendidik di kala kini perlu mereka-cipta kegiatannya semoga selalu baru, menantang, dan aman. Kegiatan yang lama dan penuh pengulangan kerap membunuh motivasi alasannya akan melahirkan kebosanan. Apalagi kerap kegiatannya terlalu sulit dibandingkan kemampuannya sehingga menciptakan pelajar frustrasi atau sebaliknya terlalu gampang sehingga pelajar bosan. Ini yang dikenal dengan sebutan Drill and Kill. Teori mencar ilmu modern ingin mengatasi ini dengan pemahaman gres di ilmu saraf perihal bagaimana insan belajar. Harapannya, dari Drill and Kill, persekolahan dan pendidikan kita akan membangun suasana Thrill and Will, atau menantang dan berhasrat.

Teknologi melalui langkah gamification telah berperan menggeser kekeliruan pandangan mencar ilmu sebagai beban jadi sebuah permainan. Pandangan kuno bahwa mencar ilmu yakni siksaan, makanya harus dipaksa, digantikan dengan mencar ilmu sebagai permainan mengasyikkan, menantang, tanpa perlu takut dihakimi dan disalahkan.

Kita selesaikan permasalahan primitif bahwa mencar ilmu harus dipaksa dengan teknologi modern. Hanya dengan benak lebih cerdas daripada benak pembuat duduk kasus bahwa mencar ilmu yakni beban itu kita sanggup benahi pendidikan dan kebudayaan kita.

Dengan budaya mencar ilmu yang merasuki warga, nasion ini akan merdeka dan berdikari. Jika bawah umur kita secara naluri bahagia mengerjakan teka-teki, puzzle, sudoku, hingga dirinya terhanyut menyatu dalam permainannya, bukan hal tidak mungkin menciptakan anak juga akan terhanyut dengan acara mencar ilmu matematika atau pelajaran lain.

Kita semua tentunya ingin bawah umur kita mengatakan, "Aku ingin mengerjakan PR. Aku ingin belajar." Bermain dalam proses mencar ilmu yakni urusan serius, bukan main-main. Dengan jalan itu, kita berharap bawah umur kita menjadi kasmaran belajar, yang dampaknya tentu akan menciptakan mereka pandai. [Iwan Pranoto - Guru Besar Matematika ITB]

Video pilihan khusus untuk Anda 💗 Pianist cilik ini menawarkan salah satu pola dari hasil belajar;
 Ada mencar ilmu demi ujian dan untuk mengejar skor Iwan Pranoto: Belajar


Sumber http://www.defantri.com

Kamis, 03 Mei 2018

Iwan Pranoto: Seputar Huruf Pendidikan

 Tentu saja seorang binaragawan harus berotot Iwan Pranoto: Seputar Karakter PendidikanSebutan ”binaragawan berotot” pastinya tak perlu. Tentu saja seorang binaragawan harus berotot. Jika tidak berotot menonjol, yang bersangkutan mungkin orang yang gagal menjadi binaragawan.

Demikian pula istilah ”pendidikan karakter” juga tak perlu. Ini istilah yang redundant atau berlebihan. Pendidikan di mana saja sejatinya memperhatikan pertumbuhan aksara muridnya. Ini tentu saja. Seperti tak pernah ada istilah ”binaragawan tak berotot”, demikian pula tak pernah ada istilah ”pendidikan bukan karakter”. Pendidikan yang baik sudah niscaya menekankan pertumbuhan aksara anak didik.

SIFAT BAIK

Seperti diketahui, pakar pendidikan belum satu kata dengan apa yang disebut ”pendidikan karakter”, tetapi mereka umumnya setuju bahwa ini upaya sengaja dari keluarga, masyarakat, dan sekolah untuk membantu seseorang memahami, peduli, dan bertindak berdasar nilai-nilai universal. Karena itu, kini lebih perlu merancang aktivitas pendidikan yang secara sistematis menyokong pertumbuhan aksara pelajar. Karakter yang mana dan aksara versi siapa? Penetapan aksara ini yang akan membedakan aktivitas pendidikan tiap negara dan membedakannya dengan masa terdahulu.

Karakter atau sifat baik warga menyerupai apa yang diperlukan negara perlu dikaji dengan saksama, dirembukkan, dan didaftar. Lalu karakter-karakter tersebut dipilih yang sesuai jenjang pendidikan. Kemudian dirancang aktivitas pendidikan dengan seni administrasi pemupukan pertumbuhannya. Ringkasnya, seharusnya fokus pembahasan lebih perlu pada aksara pendidikan ketimbang pendidikan karakter.

Daftar aksara tadi perlu dirumuskan dengan bahasa lugas dan gamblang, bermakna tunggal, sekaligus dengan frasa yang operasional. Rumusan aksara yang tidak operasional hanya akan membuat guru kesulitan mendesain pembelajaran, dan alhasil pembelajaran tidak akan berfungsi secara sistematis dan terstruktur.

Jumat, 27 April 2018

Iwan Pranoto: Hak Belajar, Bukan Wajib Belajar

ulisan usang dari salah satu Matematikawan Indonesia Bapak Iwan Pranoto Iwan Pranoto: Hak Belajar, Bukan Wajib BelajarTulisan usang dari salah satu Matematikawan Indonesia Bapak Iwan Pranoto. Tulisan ini sudah pernah terbit di harian kompas tanggal 4 Oktober 2004. Harian Kompas pada masa 2000-an masih tergolong bacaan kaum menengah keatas alasannya harganya yang sudah tidak mengecewakan mahal pada zamannya dan bahan informasi juga tidak lagi "berita murahan" untuk istilah para pembaca. Karena belum banyak yang membaca goresan pena keren dari bapak profesor ini, jadi ada baiknya goresan pena ini kita simpan dengan baik.

Tulisan ini juga menjadi catatan penting bagi saya sebagai seorang guru dan sebagai orang bau tanah 😊

Di Republik ini, hak bagi warganya seringkali kehilangan makna dalam praktik kehidupan sehari-hari. Entah dengan sengaja atau tidak, suatu hak seringkali bergeser menjadi kewajiban.

Misalnya, hak menentukan dalam Pemilu. Setiap kali akan dilangsungkan Pemilu, bangsa ini senantiasa berdebat kembali dengan pertanyaan seputar wajibkah setiap warga negara ikut serta sebagai pemilih. Bolehkah menjadi seseorang yang secara sadar tidak ikut memilih? Makna hak untuk menentukan menjadi kabur. Hal yang analog dengan Pemilu ini sepertinya sedang terjadi dengan makna belajar.

Saat ini, Peraturan Pemerintah [PP] ihwal pendidikan sedang digodog pemerintah dan banyak sekali elemen. Salah satu PP tersebut yaitu WAJAR atau Wajib Belajar.

Jika diamati dengan secama, gagasan wajib berguru merupakan suatu absurditas atau kontradiksi.

Pertama, proses berguru tak mungkin pernah berjalan efektif jikalau ada suatu pemaksaan pada diri pemelajar. Gagasan student centeredness atau pendidikan yang berpusat pada siswa senantiasa mengedepankan dan mengharuskan pemelajar menyadari serta bertanggung jawab atas proses belajar yang dijalaninya. Ini didasarkan pada prinsip bahwa dorongan atau impian berguru dari diri sendiri merupakan unsur utama dalam proses belajar. Kecuali itu, proses berguru yang dipaksakan tidak akan pernah sustained atau berkelanjutan.

Kedua, wajib berguru sepertinya telah rancu dengan wajib sekolah. Wajib sekolah memang gampang sekali mengamatinya. Seorang siswa atau siswi yang tak pergi ke sekolah pada ketika jam sekolah, terang menyalahi wajib sekolah. Sangat terang dan gampang menentukan seseorang melanggar wajib sekolah atau tidak. Namun, bagaimana dengan wajib belajar?

Jika berguru suatu kewajiban...,
Bagaimana operasi pelaksanaan pengamatannya nanti?
Bagaimana menentukan seseorang sedang berguru atau tidak?
Seorang anak yang bermain di pematang sawah atau tepi pantai apakah sedang tidak belajar?
Seorang anak yang membantu ibunya berjualan di pasar apakah sedang tidak belajar?

Seseorang anak berumur 10 tahun yang sedang melongo di bawah pohon pada pinggiran sungai pada pukul 8 pagi, misalnya, apakah sedang melanggar kewajiban belajarnya? Memang kewajiban sekolah mungkin dilanggarnya, tetapi kewajiban belajar? Kalau beliau ditanya, beliau mungkin menjawab bahwa beliau sedang berguru berpikir.

Oleh karenanya, terang sekali bahwa wajib berguru merupakan suatu gagasan yang kontradiktif dan sangat tidak operasional.
😊😊😊
Jika kita ingin menerapkan gagasan student centeredness, kita harus memperlihatkan tanggungjawab berguru pada siswa. Jelas sekali bahwa ini tidak berarti bahwa kita boleh membiarkan anak atau murid kita tidak belajar. Justru sebaliknya, kita guru dan orang bau tanah perlu menyadarkan atau mencerahkan bawah umur kita akan pentingnya berguru bagi kehidupan mereka. Kita perlu terus menerus menyadarkan bawah umur kita atas hak belajarnya. Kita perlu senantiasa berupaya menyuburkan bertumbuhkembangnya motivasi berguru bawah umur kita.

Namun demikian, kita sadar bahwa yang paling utama menentukan terjadi tidaknya proses berguru yaitu siswa sendiri. Kita, orang bau tanah mau pun guru, bukan pelaku utama dalam proses berguru bawah umur kita. Jika kita sudah sering berwacana gagasan siswa sebagai subjek dalam proses pendidikan, maka mengembalikan tanggungjawab berguru pada siswa merupakan suatu aktualisasi dan penerapan gagasan tersebut. Ini juga merupakan realisasi pemberdayaan siswa melalui proses belajar.

Cara pandang di atas sangat sejalan dengan makna berguru sebagai hak setiap manusia untuk berbagi dirinya. Jadi, akan lebih sempurna jikalau Pemerintah Pusat beserta Pemda wajib menyediakan aktivitas sekolah 9 tahun yang terjangkau atau, jikalau mungkin, gratis bagi warganya. Artinya, pemerintah wajib untuk menyediakan pendidikan sekolah bagi warganya. Adalah hak warga negara untuk memanfaatkan penyediaan aktivitas pendidikan tersebut. Adalah hak warga negara untuk berguru dalam aktivitas yang disediakan pemerintah.

Belajar merupakan kegiatan yang sanggup berjalan efektif melalui institusi formal menyerupai sekolah maupun tak formal. Seorang anak berguru tidak hanya di dalam kelas sewaktu berinteraksi dengan gurunya, melainkan terjadi pula pada ketika beliau bermain dengan temannya atau pada saaat bekerja membantu orang tuanya menjahit, misalnya. Prinsip bahwa berguru tidak perlu melalui institusi formal juga harus diyakini pembuat kebijakan pendidikan nasional.

Namun, jikalau kita melihat kegiatan warga negara melalui kacamata kekuasaan, yakni dari arah atas ke bawah, maka memang gagasan wajib berguru cocok dengan nuansa arahan atau perintah. Belajar perlu diperintah. Mungkin dianggapnya, warga negara tidak mau berguru jikalau tidak diwajibkan. Tetapi, jikalau kita mau memposisikan setiap warga negara sebagai pelaku utama dalam proses belajar, maka hak berguru akan jauh lebih cerdas dan efektif daripada wajib belajar.
*) Iwan Pranoto - Guru Besar Matematika Institut Teknologi Bandung.

Video pilihan khusus untuk Anda 💗 Pianist cilik ini memperlihatkan salah satu pola dari hasil belajar;
ulisan usang dari salah satu Matematikawan Indonesia Bapak Iwan Pranoto Iwan Pranoto: Hak Belajar, Bukan Wajib Belajar


Sumber http://www.defantri.com