Seorang guru yang memiliki penghasilan pas-pasan, susah untuk mencukupi kegemarannya, padahal itu hanya membaca. Karena harga buku yang sangat mahal pada ketika kini ini banyak siswa dan guru yang suka membaca jadi tidak kesampaian. Untuk mengantisipasi hal tersebut, alternatifnya yaitu dengan saling meminjam buku antara guru dengan siswanya. Dengan catatan pada waktu nanti kalau situasi sudah memungkinkan, bukunya harap dibeli 😏.
Karena ceritanya pinjam buku, buku yang saya pinjam itu judulnya berjudul "Einstein Juga Manusia". Isinya sangat menantang alasannya hanya dalam waktu dua hari bukunya final saya baca tanpa meninggalkan kebiasaan sehari-harinya, mengajar pagi di sekolah dan belajar khusus pada sore dan malam hari.
Banyak hal yang sanggup di ambil dan kita semakin tahu siapa Einstein atau paling tidak kita tahu sebahagian apa yang beliau pikirkan sewaktu beliau hidup. Disini coba ditampilakan beberapa pendapat Einstein wacana pendidikan:
Sebagian besar guru membuang-buang waktu mereka dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tujuannya yaitu untuk menemukan apa yang tidak diketahui seorang murid, sementara seni sejati mengajukan pertanyaan apa yang diketahui murid atau apa yang bisa diketahuinya.
Saya kira lebih baik kau mulai mengajar orang lain HANYA setelah kau mempelajari sesuatu.
Tujuan [pendidikan] haruslah untuk melatih individu-individu yang bisa bertindak dan berpikir secara sanggup bangun diatas kaki sendiri namun juga menjadi orang yang memandang pencapaian tertinggi dalam hal hidupnya yaitu melayani masyrakat.
Kebebasan mengajar dan kebebasan beropini dalam buku atau pers merupakan landasan bagi perkembangan sehat dan alami setiap orang.
Mengajar seharusnya sedemikian rupa sehingga apa yang ditawarkan dianggap sebagai anugerah yang berharga bukan sebagai kiprah berat.
Bagi saya hal yang paling jelek yaitu bila terdapat sekolah yang dijalankan terutama dengan metode-metode rasa takut, paksaan dan kewibawaan yang dibuat-buat. Perlakuan semacam itu menghancurkan perasaan sehat, ketulusan dan keyakinan diri murid. Pola semacam itu hanya menghasilkan orang yang penurut.
Bagaimana berdasarkan pembaca yang baik dengan pendapat Albert Einstein tersebut?.
Video pilihan khusus untuk Anda 😊 Kemampuan guru Humbang Hasundutan bernyanyi yang diatas rata-rata;
Sekelumit kisah ungkapan hati ini terjadi lebih dari setengah masa yang lalu, tetapi relevansinya masih ada hingga ketika ini. Padahal, aneka macam kemajuan dunia telah tercapai dengan demikian pesatnya. Namun, ternyata kemajuan pendidikan memang menjadi salah satu pengecualian.
Lambang pendidikan memang biasa digambarkan dengan angka. Entah bagaimana asal muasalnya, tetapi yang terang angka-angka itulah yang nyaris selalu menjadikan duduk perkara besar bagi pelajar.
Yang salah harus disalahkan, yang benar harus dibenarkan, jangan menggunakan idiom jangan saling menyalahkan. Kalau dalil ini dipakai, siapa lagi kalau bukan pemerintah yang patut bertanggung jawab.
Selain berguru cara berpura-pura sakit, tidak banyak yang kudapat dari sekolah tahun itu, pelajaran yang kudapat tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata. Sering saya tidak mengerti mengapa guruku lebih memerhatikan jumlah hitunganku yang salah dan sama sekali tidak tertarik pada permainan yang kulakukan diluar sekolah. ____Sally Morgan, "My Place", 1983
Teramat banyak kebijakan tak sempurna yang dibuat. Sebaliknya, jangan terlalu menyalahkan para siswa bila lebih suka tidur di kelas atau mangkir berpura-pura sakit. Siswa tidak lagi sibuk memikirkan pelajaran, tetapi terlampau sibuk mencemaskan nasib mereka. Nasib lulus ujian nasional atau lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru.
SUPERIORITAS EKSAKTA
Penguatan superioritas eksakta dalam alam pendidikan semakin tampak dalam salah satu event besar Departemen Pendidikan Nasional. Kompetisi primadona yang menjadi obsesi besar para pelajar ialah Olimpiade Sains (OS).
Tak sanggup disangkal, kilau gemilang prestasi pelajar-pelajar Indonesia di kancah OS internasional begitu berbinar-binar. Tak syak lagi kilau tersebut mengundang perhatian aneka macam kalangan yang kemudian menilai bahwa bekerjsama sumber daya insan kita memiliki potensi besar, tak kalah dengan negara-negara lain, bahkan negara barat sekalipun.
Birokrasi pendidikan dengan konyolnya lagi menganggap mutu pendidikan Indonesia semakin meningkat dengan pencapaian tersebut. Kilau semakin menyilaukan ketika dinyatakan, dalam beberapa tahun mendatang akan lahir peraih-peraih Nobel dari Indonesia dengan bermodalkan pelajar-pelajar berprestasi luar biasa ini.
Optimisme menyerupai itu terlalu absah untuk diremehkan. Realitas bahwa ada pelajar-pelajar berbakat tak bisa disanggah lagi. Sayangnya, cara pencarian dan pengolahan talenta tersebut dilakukan dengan sangat mengecewakan.
Bakat-bakat terpendam yang dimiliki oleh pelajar kita tidak cukup digali hanya lewat OS. Apalagi mengukur kualitas pendidikan dengan capaian OS. Ukurannya masih kelewat absurd.
Lihatlah betapa menyesatkan dengan apa yang disebut menang itu. Ketika seorang pelajar berdiri dalam upacara pengalungan medali sambil diiringi lagu kebangsaan, sesungguhnya kemenangannya telah tidak berlaku lagi.
Sebab kalau seusai pengalungan medali pertandingan dimulai lagi, belum tentu menang lagi. Tak apalah kalau yang digunakan ialah majas sinekdoke totem pro party. Namun, keterwakilan tersebut ialah sampel kelas, bukan random sehingga jangkauan mutu sangat lebar jaraknya.
TERLALU INSTAN
Kompetisi menyerupai OS bisa dikatakan serumpun pula dengan kompetisi pemilihan idola di televisi, terlalu instan untuk dianugerahi predikat superstar. Pembinaan sporadis dan cenderung dadakan dengan cara men-drill siswa sebulan penuh dalam karantina telah mafhum kurang sesuai dengan kaidah pedagogis.
Kekecewaan bertambah pula dengan berpindahnya minat pelajar berprestasi spesifik ke disiplin ilmu lain. Capaian yang susah payah dibangun mubazir saja tinggal kenangan indah yang terukir di medali-medali kejuaraan.
Dari legalisasi beberapa mitra berprestasi internasional terungkap bahwa partisipasi mereka dalam kancah OS hanyalah alasannya terdorong oleh hobi belaka dan bukan merupakan bidang yang betul-betul mereka minati untuk ditekuni seumur hidupnya. Sungguh menakjubkan, hobi yang bisa ”menambang emas”.
Implikasi lebih jauh (seperti yang telah tersebut pada awal) ialah penciptaan pembagian terstruktur mengenai pelajar ndeso pandai dengan ukuran pencapaian dalam OS yang kemudian berbuntut panjang pada jomplangnya jalan masuk mutu pendidikan di antara dua kelas ekstrem ini.
Anehnya, akomodasi lebih banyak diberikan kepada pelajar pandai dan bukannya kepada pelajar bodoh. Sedikit cerita, seorang ayah siswa peraih emas olimpiade internasional dengan menggebu-gebu membeberkan idenya (yang akan disampaikan kepada bupati setempat) kepada penulis yang pada dasarnya ialah pembentukan kelas unggulan bagi pelajar berprestasi untuk dipersiapkan sebagai peserta aneka macam kompetisi.
Menurut pengalaman penulis, yang membutuhkan akomodasi lebih itu bukan siswa pandai, tetapi sebaliknya. Siswa-siswa pandai telah bisa menyebarkan dirinya secara personal dan mereka cenderung telah memahami apa yang harus mereka lakukan.
Baru-baru ini dilontarkan lagi pentingnya memaksimalkan kemampuan pelajar ber-IQ luar biasa. Ironisnya, jarang sekali disuarakan pentingnya akomodasi lebih bagi pelajar ber-IQ rendah.
Baiklah, barangkali banyak pihak terobsesi untuk melahirkan peraih Nobel. Namun, mohon diingat, kita bukanlah pungguk merindukan medali apalagi Nobel! [Ahmad R. Darojat, Peraih Medali Emas Olimpiade Sains Nasional 2007 Bidang Ekonomi]
Video pilihan khusus untuk Anda 😊 Bagaiamana kisah sukses Cristiano Ronaldo;
Jadilah kau anak yang Rajin dan Pintar bukan anak yang Malas dan Bodoh ialah nasehat yang sering kita dengar sewaktu kita sekolah, dan itu kita lakukan. Tidak heran kenapa Indonesia lambat berkembang dengan negara - negara lain, mungkin sebab salah satu nasehat orang bau tanah yang turun temurun mendidik anak - anaknya untuk menjadi jiwa seorang pegawai.
Kita coba sharing terhadap 4 kata yang dibold diatas, dan di bagi menjadi 4 kelompok kategori. Mungkin kategori - kategori yang dikelompokkan sanggup menjadi salah satu kriteria kita masing - masing atau type dari insan yang yang berada disekitar kita.
Jika Anda diminta menentukan dari 4 kategori, yaitu:
A. Rajin Dan Pintar
B. Rajin Dan Bodoh
C. Malas Dan Bodoh
D. Pintar Dan Malas
Anda lebih suka berada pada kategori yang mana? Anda sudah punya pilihan?. Silahkan dilihat analisa sederhana dibawah terhadap pilihan Anda. Pilihan kita ialah Doa dan impian kita, dianjurkan jangan melihat keterangan kategori sebelum menentukan pilihan, 'berani jujur itu hebat' kata KPK.
Sudah punya pilihan,... jika sudah, nah kini coba lihat analisis sederhana kategori pilihan Anda itu menyerupai apa😊😊😊
A. Rajin Dan Pintar
Alternatif Pembahasan:
Semua orang mungkin menginginkan kategori ini ada pada dirinya sebab ini sudah kelihatan sempurna, menyerupai apa yang diinginkan oleh orang bau tanah pada umumnya... Orang yang rajin dan cerdik ini ialah orang type pekerja keras, tidak sanggup menikmati waktu luang yang banyak. Karena ia rajin mengerjakan pekerjaannya dan benar sehingga ia mau mengerjakan pekerjaan lain sehabis pekerjaan yang satu telah selesai.
sebagai ilustrasi... Ketika seseorang yang rajin dan cerdik memimpin sebuah perusahaan yang memiliki proyek di kota A. Dia pribadi pergi ke kota A sebab ia rajin. Ketika pekerjaan dari kota A simpulan ia ke kota B untuk proyek selanjutnya, dan seterusnya untuk proyek - proyek yang lainnya. proyek berjalan dengan lancar sebab kepintarannya dan kerajinannya. Tapi apa yang terjadi ia tidak memiliki waktu luang yang banyak.
B. Rajin Dan Bodoh
Alternatif Pembahasan:
Kategori ini menjadi pertimbangan lain, sebab banyak menciptakan rugi masyarakat bahkan negara secara pribadi atau tidak langsung.
sebagai ilustrasi... dikala seseorang yang rajin dan ndeso menerima sebuah proyek pembangunan jalan raya. Dengan rajin ia mengerjakan proyek tersebut hingga selesai. Dalam waktu yang relatif singkat jalan - jalan tersebut hancur awut-awutan sebab salah perhitungan sewaktu pembangunan dan biaya berlipat ganda dari asumsi awal sebab kebodohannya. Salah satu kejadiaan di atas sanggup menciptakan rugi masyarakat bahkan negara.
C. Malas Dan Bodoh
Alternatif Pembahasan:
Untuk kategori ini tidak banyak yang perlu saya utarakan, sebab hanya orang - orang tertentu yang menentukan kategori ini dan saya tidak tahu ada apa dengan mereka.
D. Pintar Dan Malas
Alternatif Pembahasan:
Dalam kategori ini banyak hal yang sanggup terjadi. Orang yang cerdik dan malas inilah yang memimpin orang yang rajin dan pintar. Karena orang - orang kategori ini mencari orang yang rajin dan cerdik untuk mereka jadikan menjadi pegawai mereka. Orang kategori ini malas bekerja tapi mereka cerdik untuk mencari orang yang cerdik dan rajin untuk mereka jadikan pegawai.
Dari orang cerdik dan malas banyak tercipta kreatifitas yang tinggi dan teknologi yang canggih, seperti: Sepeda ialah hasil orang yang malas berjalan dikala berpergian. sepeda motor ialah hasil orang malas mengayun sepeda untuk berpergian. Remote TV ialah hasil orang yang malas mengganti chanel TV harus bersahabat dengan TV. Telephone ialah hasil orang yang malas berpergian hanya untuk berbicara. Hand Phone ialah hasil orang yang malas menunggu telepon di rumah dari rekan. dan masih banyak teladan lain...
Bagaimana berdasarkan Anda, Anda puas dengan pilihan Anda atau Anda punya pendapat sendiri dengan keterangan dari kategori pilihan Anda. Silahkan mengutarakan pendapat Anda, kami akan sangat bahagia mendapatkan masukan Anda.
Video pilihan khusus untuk Anda 😊 Perkenalan dari PT.INALUM, siapa tahu Anda tertarik untuk berkarya disana;
Pada Discussion Board di salah satu situs pertemanan facebook.com di tampilkan topik yang sederhana untuk didiskusikan, yaitu:
Kita sering dengar orang membaca "nol" menjadi "kosong". Apa yang menjadi persamaan dan perbedaan "nol" dan "kosong".
Banyak dari teman-teman yang menawarkan pendapatnya ihwal perbedaan dan persamaan "Nol dan Kosong". Berikut sebagian pendapat dari mereka yang mungkin sanggup kita jadikan catatan:
persamaannya: Sama2 ga da isinya atau ga da nilainya. perbedaannya: Klo nol tuh dipakai dalam matematika n kosong dipakai dalam ilmu fisika kale pak, misnya suatu wadah yg ga berisi air bs diblg wadah itu kosong...
Pak Def, Yth. "Nol" yakni 'bilangan' yg nilainya yakni 'nol'. sedangkan "kosong" yakni 'tidak ada' dan bukan 'bilangan' Makanya di dlam matematika tidak bilangan lain [selain 'nol' tidak pernah dipadankan dgn 'kosong', sebab kosong bukanlah 'bilangan']. Tetapi dipadankn dgn 'nol', sebab 'nol' yakni bilangan. Tetapi di dalam pen-score-an [pertandingan olah raga] org sering membahasakn "0-1" menjadi "kosong-satu". Itu salah, dan seharusnya "0-1" tetap dibaca dgn "nol-satu". Kalau pak Def menyuruh saya menulis "nol", maka akan saya tulis "0". Tetapi jikalau pak Def menyuruh saya menulis "kosong", maka saya tidak akan melaksanakan apapun...
yah dah terang beda lah pak.. NOL tu mpunyai nilai, sdangkan KOSONG tidak ada nilainya... contohnya aja lah pak, klo bapak buat nilai kami, klo yg gk tiba ujian, nilainya KOSONG kan??? bukan NOL... klo NOL untk yg jwbannya gk da yg benar satu pun... btul gk pak?? atw aq yg sok tau????
"nol" dan "kosong" terang beda laaahh "nol" itu bilangan / nilai "kosong" itu artinya "tidak ada" persamaan "nol" dan "kosong" mnurut gw sih krn "nol" memperlihatkan nilai "tidak ada plus dan tidak ada minus", makanya org sering nyebut "nol" sbg "kosong" cheers! ^_* Sonya Tampubolon Senior Editor SPICE! Magazine
persamaan kosong dengan nol itu, sama2 mempunyai pengertian tidak ad sama sekali..... sdngkan perbedaannya, hanya yang kuasa yang tau... hehehehe....
perbedaannya mgkn pemakainnya pak. nol tu d pakai pd waktu suatu "pernyataan" tu bekerjasama dgn jumlah,angka... sedangkan kosong tu bekerjasama dengan "ruang".... ruang d sni bukan ruangan menyerupai biasanya yg kita kira, melainkan ruang dalam arti luas... klo bhasa inggrisny "space"...
"0" yakni hasil yg didapatkan sebab mengerjakan/menghasilkan sesuatu, sedangkan "kosong" tidak ada sesuatu yg dikerjakan/dihasilkan, namun kosong identik dgn 0, tp 0 lum tentu identik dgn kosong. cthny, dikala ujian, kita mengerjakan soal pelajaran dr 5 pertanyaan, di jawab semuany oleh siswa, namun jawabanny salah semua sehingga menerima nilai 0 [setidakny ada hasil], sedangkan kosong tidak mengerjakan soal tersebut, sehingga mendpt nilai nol. ribet y ?! aq pun binggung jelasinny gimana pak. tp intiny "0" menghasilkan sesuatu, sdngkan "kosong" tdk menghasilkan sesuatu.
um .... kalo contohnya kalo nyebut nomor , nmr apapun itu kadang qta blng "0" itu "kosong" dan arti'y sama aja .. tapi dLm kondisi tertentu , trdpt perbedaan antara "0" dengan "kosong" , saya perna dnger dr guru kalo d bank itu [maaf kalo salah :p] jikalau qta mnyebut kata "nol" maka mrk akan mnuliskan "0" . tapi jikalau yg qta sbutkan "kosong" mka mrk akan mnuliskan "-" .. ituh sajah . haha :p
Nol dan kosong ga sanggup dipisahkan.... nol dari apa dan kosong dari apa? jadi nol... itu kosong dari bilangan dan kosong itu yakni nol dari keadaan berisi......... kosong sudah berarti lepas dari keberadaan suatu eksistensi....... persamaannya... sama sama untouchable.............and unimaginable................ cocok?
yg ku tau lae,persamaannya sama2 tidak mempunyai nilai.perbedaannya kosong merupakan bahasa baku tapi nol merupakan bahasa gaul yg menjadi bahasa baku [disempurnakan] yg berarti juga kosong.begitu kayaknya lae
Apa yang disampaikan diatas yakni apa yang mereka ketahui atau apa yang pernah mereka pelajari atau apa yang pernah mereka baca, Anda punya pendapat, mari kita sampaikan.
Video pilihan khusus untuk Anda 😊 Matematika Dapat Mempengaruhi Karakter Kita;
Aku duduk di sebuah warung di Sulawesi Tengah, menunggu untuk membayar kopi. "Dua kopi dan dua kue", dan pemilik warung menarik kalkulator, kemudian mulai meninju angka-angka di atasnya : 2000 + 2000 + 1000 + 1000 = 6000. Aku memberinya uang 10.000 rupiah. Ia kemudian memukul tombol 'Clear', dan meninju angka-angka lagi : 10.000 - 6000 = 4000. Ia memperlihatkan uang kembaliannya kepadaku, sementara pelanggan lain menunggu kopi mereka.
Serius? Apakah ia benar-benar tidak bisa menghitung jumlah sesederhana itu di kepalanya ?
Tanggal 3 Desember, hasil putaran terakhir tes matematika, sains dan keterampilan membaca dengan standar internasional diumumkan. Tes ini disebut PISA, Program for International Student, ditujukan untuk siswa berumur 15 tahun. Dari 65 negara yang berpartisipasi dalam tes PISA ini, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dalam kemampuan membaca, dan ke-64 dalam matematika dan sains. Keterampilan siswa Indonesia yang begitu rendah itu amat mengejutkan. Sebanyak 42 persen dari belum dewasa berumur 15 tahun itu tidak mempunyai keterampilan dasar dalam matematika, dan tiga dari empat siswa -tepatnya 76 persen- hanya mencapai level satu atau kurang (dari total enam level). Bandingkan dengan Vietnam yang hanya mempunyai 14,2 persen anak yang berada di bawah level satu, sementara di Singapura 8,3 persen, dan di Shanghai 3,8 persen.
Tapi bukan perbandingan internasional itu yang benar-benar penting. Yang penting ialah : Bahwa tiga perempat dari belum dewasa Indonesia itu tidak mempunyai keterampilan matematika dasar yang mereka butuhkan untuk berfungsi dalam masyarakat. Sebanyak dua pertiga tidak mempunyai ilmu pengetahuan cukup untuk bersaing secara efektif di dunia modern, dan satu dari lima siswa tidak bisa membaca cukup baik untuk melaksanakan tugas-tugas fundamental di dunia kerja.
Padahal Indonesia menghabiskan dana untuk pendidikan relatif lebih banyak dibandingkan banyak negara lain. Secara konstitusional ada seperlima dari anggaran publik yang dikhususkan untuk pendidikan, baik pada tingkat nasional maupun lokal. Ukuran kelas di Indonesia juga merupakan salah satu yang terkecil dibandingkan sesama negara yang berpendapatan menengah. Di sekolah dasar ada seorang guru untuk setiap 16 siswa (lebih baik daripada Inggris), di sekolah menengah rasio guru dan murid ialah satu dibanding 12 (lebih baik daripada AS). Anehnya, mengapa belum dewasa Indonesia tidak mencar ilmu lebih baik ?
PENGAMATAN DARI DEKAT
Aku menerima citra lebih terang ketika tinggal bersama keluarga Zunaidi, seorang nelayan di kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah. Istri Pak Zunaidi ialah seorang guru sekolah dasar, salah satu dari sepuluh guru yang mengajar di sekolah dengan 120 anak-anak.
Sekitar jam 6.30 pagi, wanita itu masih memasak sarapan ketika putra bungsunya muncul dengan seragam sekolah. Dia menasihati anaknya untuk tidak terlambat. (Di seluruh Indonesia, sekolah dimulai jam 7 pagi). Lalu seorang tetangga tiba untuk mengeluh, bahwa tawaran mereka untuk pendanaan taman kanak-kanak belum diterima. Bu Zunaidi menaruh beberapa pisang ke dalam minyak panas, dan membuat secangkir kopi. Sekarang sudah jam 7.10, tapi ibu guru itu masih belum mandi dan bersiap mengajar.
Sekitar jam 7.15, saya bertanya jam berapa sekolah dimulai di sekitar sini. Dia tampak agak malu-malu, kemudian menunjuk ke arahku, ke tetangga, dan ke pisang goreng. "Tidak apa-apa. Semua orang tahu saya ada tamu." Kalimat itu mengagetkanku : Kaprikornus kalau ia tidak hadir, itu merupakan kesalahanku ?
Aku bertanya apakah saya bisa mengikutinya ke sekolah, barangkali saya bisa membantu dalam pelajaran bahasa Inggris. Dia tampak sangat lega, kemudian mandi dalam waktu singkat, dan jam 7.30 kami sudah berada di sekolah.
Sungguh sebuah kekacauan ! Seratus dua puluh anak berlarian, berteriak dalam pengabaian yang menggembirakan mereka ! Setengah jam sesudah kami memulai, tidak ada guru lain yang hadir. Aku mengajarkan bahasa Inggris di Kelas Empat dan Kelas Enam, dan Ibu Zunaidi mengajar di kelasnya sendiri, Kelas Satu. Murid-murid Kelas Dua, Tiga dan Lima diperintahkan untuk masuk ke kelas mereka sambil menekuni buku teks hingga guru datang. "Jangan berisik !", bu Zunaidi memperingatkan.
Aku menghadapi sekitar 30 belum dewasa di bawah usia 12, berdesakan dalam setengah belahan dari ruangan. (Tidak ada cukup ruangan untuk enam kelas, sehingga mereka memakai kayu lapis sebagai penyekat). "Good morning, everyone !", kataku menyapa. "Good morning, miss !", sebuah respon yang sehat. "My name is Eliz, what is your name ?", saya mengarahkan pertanyaanku kepada anak pria paling besar yang duduk erat denganku. Dia telah mencar ilmu bahasa Inggris selama tiga tahun. Tapi ia tertegun telah ditanyai sebagai individu, bukan sebagai belahan dari paduan bunyi yang telah diatur. Dia tak bisa berkata-kata. Anak-anak lain berusaha menarik perhatianku, dan saya bahagia ketika seorang gadis mengangkat tangannya. "What is his name ?", tanyaku, sambil menunjuk anak pria yang melongo di barisan depan itu. "My name is Fifi !", katanya dengan nada penuh kemenangan.
Tidak ada satupun guru lain yang muncul sepanjang hari itu.
TERLALU BANYAK GURU, TERLALU SEDIKIT PELAJARAN
Bank Dunia telah menuliskan beberapa laporan menarik perihal sekolah di Indonesia. Kesimpulannya terang : Terlalu banyak guru di Indonesia, membuat negara ini kesulitan membayar honor mereka. Bank Dunia juga menyampaikan bahwa Indonesia perlu mendistribusikan ulang guru-gurunya. Tapi sayang, kesimpulan ini didasarkan pada jumlah guru pada tagihan gaji, bukan jumlah guru yang hadir di kelas. Keduanya sangat jauh berbeda.
Banyak pemerintah kawasan yang membayar insentif untuk membujuk guru semoga mau bekerja di daerah-daerah terpencil di Indonesia. Seringkali besarnya insentif itu dua kali lipat honor guru, tapi tampaknya itu tidak cukup. Bahkan dengan insentif, guru di kawasan terpencil itu cenderung membolos bekerja daripada guru di belahan lain. Dan kepala sekolah, orang yang bayarannya paling tinggi, ialah orang-orang paling sedikit terlihat di sekolahnya.
Dalam sebuah penelitian di dataran tinggi Papua Indonesia, tujuh dari sepuluh kepala sekolah tidak bekerja ketika peneliti berkunjung, sementara setengah dari guru juga tidak hadir. Bahkan sekitar seperempat dari semua guru belum menginjakkan kaki di sekolah selama berbulan-bulan. Di kawasan yang diklasifikasikan sebagai 'terpencil' di pulau-pulau lain -termasuk di kawasan yang sulit diakses di Jawa yang padat-, ada sekitar satu dari lima guru yang tidak hadir pada hari tertentu. Salah satu sebabnya ialah lantaran kebanyakan orang yang mempunyai pekerjaan sebagai guru itu sebetulnya tidak mau mengajar.
Pada suatu masa, mengajar ialah profesi terhormat di Indonesia. Lalu datanglah krisis ekonomi di final 1950-an. Inflasi tinggi membuat orang-orang menginginkan pekerjaan sebagai pegawai pemerintah, apapun itu, lantaran ada jaminan tunjangan. Cara termudah untuk menjadi PNS ialah menjadi guru. Profesi itu kemudian diserbu, bahkan oleh orang-orang yang tidak tertarik dengan pendidikan. Soeharto dan Orde Barunya kemudian menempatkan guru, ke satu untuk dijadikan distributor negara, sementara kiprahnya sebagai pendidik ialah urusan nomor dua. Inilah ketika dimulainya pola pikir birokratis yang sangat mengakar di dunia pendidikan Indonesia.
Meskipun kini ada hukum dan standar gres perihal training guru, pemerintah kawasan tetap saja menyewa guru honorer sebanyak apapun sesuka mereka. Orang-orang bergaji rendah itu, sebanyak satu juta di seluruh Indonesia (sepertiganya untuk tenaga kependidikan), dikecualikan dari standar-standar gres tersebut. Mereka mau mendapatkan pekerjaan itu, menunggu ketika promosi masal, hingga mendapatkan status PNS penuh.
Bagi bupati atau walikota, pos guru diciptakan sebagai cara berterima kasih kepada orang-orang yang telah membantu dalam pemilihan, atau kepada siapapun yang dianggap berjasa -dari jasa terkecil hingga sedang. Standar menjadi staf sekolah juga diatur semoga bisa mempekerjakan lebih banyak pegawai negeri. Karena semakin banyak pegawai negeri, pemerintah kawasan akan menarik semakin banyak uang dari pemerintah pusat.
Singkatnya, sekolah diisi dengan orang-orang yang tujuannya ialah menjadi birokrat, bukannya menjadi pendidik. Dan mereka berperilaku ibarat birokrat lainnya di Indonesia : Meskipun mereka tahu bahwa mereka harusnya mengajar minimal 26 jam seminggu, mereka juga tahu bahwa semua aturan-aturan itu "bisa diatur". Seperti banyak birokrat lainnya, mereka melihat jam kerja itu sebagai pesta bergerak, dan mengambil waktu istirahat sesuka mereka. Dan ibarat birokrat lainnya, mereka membenarkan semua sikap ini dengan menyalahkan honor mereka yang rendah : "Kami dibayar dengan honor kecil, sehingga kami terpaksa mencari pekerjaan sampingan. Apa lagi yang Anda harapkan ?"
Mereka yang tiba ke sekolah seringkali tidak punya motivasi. Aku pernah melihat seorang guru duduk merokok, mengobrol dan minum-minum di kantor kepala sekolah selama waktu pelajaran. Ketika saya bertanya perihal komitmen mengajar mereka, mereka bilang telah memperlihatkan kiprah pada para murid. Di ruang kelas, belum dewasa berumur tujuh dan delapan tahun itu disuruh menyalin pertanyaan pilihan ganda dari buku-buku teks ke catatan mereka. Semuanya disalin, termasuk balasan yang salah.
Pemerintah mengatasi pengajaran berkualitas rendah ini dengan cara meminta semua birokrat di sekolah untuk mengikuti tes sertifikasi mengajar. Bagi sebagian besar peserta, itu lebih terlihat sebagai kursus singkat 90 jam ketimbang sebagai ujian. Siapapun yang menjalaninya, segera ia akan menerima honor dua kali lipat. Hasilnya : Lebih dari 90 persen guru diklasifikasikan sebagai 'sangat tidak kompeten' pada keterampilan mengajar. Lebih dari setengah guru sekolah dasar, dan sekitar sepertiga dari guru Sekolah Menengah Pertama … semua dinilai sangat tidak kompeten dalam materi pelajaran mereka. Tapi semua orang yang pernah mengikuti kursus dan telah 'lulus' ujian memperoleh kenaikan gaji, dan akan kembali menjadi guru yang mangkir empat dari lima hari kerja.
Sistem promosi di sekolah dan universitas negeri, sebagaimana yang ada di birokrasi, semua didasarkan pada masa kerja. Belum ada sistem yang menghargai orang-orang yang bekerja lebih keras, yang mengajar lebih baik, yang menginspirasi belum dewasa untuk berpikir, untuk mengeksplorasi, dan untuk mengembangkan potensi mereka.
TERLALU BESAR UNTUK GAGAL
Sebagaimana guru-guru mereka, siswa-siswa Indonesia tampaknya juga selalu lulus ujian, tidak peduli betapa rendahnya keterampilan mereka. Menurut kementerian pendidikan, lebih dari 99,5 persen siswa sekolah dasar lulus ujian nasional. Hanya dalam tes standar internasional yang diawasi dengan hati-hati ibarat PISA, maka keterampilan mereka benar-benar diuji.
Banyak surat kabar melaporkan bahwa ujian nasional itu dipenuhi oleh tipu daya. Setiap tahun, koran-koran itu mengisahkan perihal bocornya soal-soal ujian, perihal broker yang menjual balasan ujian, perihal guru yang membagikan lembar ujian beserta jawabannya, atau bahkan menuliskan jawabannya di papan tulis. Google-lah 'Cara curang dalam ujian nasional' dalam bahasa Indonesia, maka engkau akan mendapatkan ratusan hits perihal 'tips dan trik'. Itu sebabnya headline khas Indonesia dalam koran berbunyi ibarat ini : "Ketika kecurangan kolektif menjadi tradisi dalam ujian nasional", atau "Kecurangan sebagai Budaya Akademik".
Tahun kemudian saya membaca sebuah artikel di koran perihal sebuah inisiatif gres untuk menghentikan kecurangan di sekolah. Di bawah banner "Berani jujur, Hebat !", yang diterjemahkan secara garang sebagai "Dare to be honest, that's cool !", sekelompok organisasi berkeliling di sekolah-sekolah Indonesia, memperkenalkan gagasan bahwa kecurangan itu bukannya tak bisa dihindari. Penyelenggara kampanye, termasuk Komisi Pemberantasan Korupsi, Indonesia Corruption Watch dan Transparency International, menyampaikan bahwa siswa yang tidak melaksanakan kecurangan itu semakin langka. Mereka mengakui bahwa sebagian besar siswa tidak akan bisa untuk berhenti melaksanakan curang begitu saja. Namun mereka tetap mendorong semoga siswa membuat rencana berjangka untuk menjauhkan diri dari ketidakjujuran.
Seorang kepala sekolah Sekolah Menengan Atas di dataran tinggi Sumatera Barat menyampaikan kepadaku, bahwa situasi kecurangan semakin memburuk semenjak desentralisasi. Kami duduk mengobrol di kantornya, di bawah potret seorang bupati dan wakilnya yang mengenakan seragam putih dan topi pelaut, dan membuat semua pejabat di Indonesia terlihat ibarat pemimpin marching grup band Sekolah Menengan Atas yang kedaluwarsa.
Aku bertanya apakah desentralisasi telah mempengaruhi pekerjaannya ? "Oooooooh yeeeeess !" Selalu ada plus dan minus dalam sesuatu ibarat desentralisasi, katanya. Ada jeda panjang. "Plusses dan minuses," ia mengulang kata-katanya. Lalu jeda lagi. "Sebenarnya, dari sudut pandang pendidikan anak-anak, tidak ada plus-nya," katanya, akhirnya. Dia kemudian duduk kembali, dan badannya mengerut.
Desentralisasi sangat menekankan pada "mengajar demi (lulus) ujian". Karena bupati ingin memenuhi janji-janji perihal pendidikan di kabupaten mereka, dan lantaran kepala sekolah diangkat eksklusif oleh bupati. "Jadi kepala sekolah akan melaksanakan apapun yang diinginkan oleh bupati. Benar-benar apa pun !" Dia kemudian bercerita perihal kepala sekolah yang diberhentikan pada dekade sebelumnya, ketika inspektorat memergoki rekening sekolah yang bocor ibarat saringan. "Kemudian kami melaksanakan pemilu, dan ia menjadi bintang dari Timses". Kepala sekolah menyebut abreviasi dari 'Tim Sukses' itu sambil membuat tanda kutip dengan jari-jarinya, dengan raut wajah yang setengah geli dan setengah jijik. "Dan kini ia menjadi kepala Sekolah Menengan Atas (X). Lalu ada lagi kepala sekolah di Sekolah Menengan Atas lain [Y]; ia dipecat lantaran berjodi dengan memakai uang sekolah. Tetapi ia menjilat bupati, dan ia kembali jadi kepala sekolah." Dia kemudian menghela napas, dan menyandarkan badannya. "Sungguh pola yang manis buat anak-anak", keluhnya.
BERPIKIR KE DEPAN
Jelas itu sebuah tantangan besar di negara yang besar dan bhineka ibarat Indonesia, untuk membuat kurikulum tunggal dengan administrasi yang memenuhi kebutuhan semua orang. Menyadari hal ini, pemerintah baru-baru ini memperkenalkan sistem yang memperlihatkan kekuasaan yang masuk akal pada masing-masing sekolah (sembari mengkonsultasikannya dengan para orang tua) untuk mengendalikan dana mereka sendiri : Apakah untuk membangun laboratorium, atau untuk membeli komputer, atau untuk mengurus transportasi bagi belum dewasa yang membutuhkan, dan sebagainya.
Tapi soal kurikulum, fleksibilitasnya kurang. Otoritas pendidikan lokal diijinkan menentukan dua mata pelajaran sebagai pelengkap dari kurikulum inti. Kadang-kadang mereka menentukan dengan bijaksana, kadang kala tidak. Aku menemukan kepala sekolah sebuah pesantren besar yang sedang putus asa, pesantren yang tidak jauh dari lokasi wisata yang sedang tumbuh di Senggigi, Lombok Barat. Departemen pendidikan lokal telah memerintahkan ia untuk mengubah pilihannya, bahasa Inggris, menjadi bahasa lokal, Sasak. "Bagi belum dewasa di sekitar sini, pekerjaan harapan yang memperlihatkan harapan terbaik ialah perhotelan. Tapi saya tidak diizinkan untuk mengajar mereka bahasa Inggris", katanya sedih.
Di tingkat nasional, pengembangan kurikulum tampaknya ibarat irasional.
Hasil tes PISA tahun ini bukanlah hal yang baru. Murid-murid Indonesia sudah usang berada di dasar tabel - khususnya untuk kemampuan matematika dan sains- semenjak negara itu mulai berpartisipasi dalam tes pada tahun 2003. Otoritas pendidikan di Jakarta menyampaikan bahwa semua ini lantaran siswa Indonesia menghadapi terlalu banyak mata pelajaran di sekolah, sehingga mereka tidak pernah mencar ilmu apa pun secara mendalam. Tapi respon mereka berikutnya sungguh menjadikan rasa ingin tau : Dalam kurikulum gres yang dimulai pada tahun 2013, mereka mengurangi jumlah mata pelajaran dengan menghilangkan sains dari kurikulum sekolah dasar. Geografi dan sejarah juga dihilangkan. Tambahan ekstra diberikan untuk pelajaran agama, kewarganegaraan dan matematika .
Orang-orang sinis mungkin berkata bahwa kepentingan pemerintah memang memelihara semoga orang-orang tetap bodoh, lantaran itu membuat mereka lebih praktis diatur. Hal itu tentu saja cocok untuk penjajah Belanda di masa lalu. Satu masa penuh sesudah perusahaan perdagangan VOC diambil alih oleh pemerintah Belanda, hanya ada 25 'pribumi' di sekolah setingkat SMP. Namun pada final tahun 1930-an, jumlahnya mencapai 6.500 orang. Banyak yang percaya bahwa kebijakan "memelihara" semoga orang tetap tak terdidik itu sengaja dibentuk di era Soeharto. Guru birokrat yang memaksa belum dewasa menelan mitos anti-komunis waktu itu tentunya juga akan dituduh sebagai orang yang menjauhkan siswa dari pemikiran kritis. Tapi saya tidak berpikir bahwa kebanyakan orang di pemerintahan kini mempunyai jadwal diam-diam untuk membiarkan rakyatnya tetap kolot .
Sebagai bangsa, Indonesia mempunyai kepentingan untuk memperoleh otak cerdas yang bekerja lebih baik, apalagi desentralisasi telah membuatkan pengambilan keputusan di banyak titik. Dalam sistem yang sangat terpusat, engkau cukup mempunyai sekelompok kecil orang-orang super-cerdas, sementara keputusan yang baik dari atas itu akan dilaksanakan di tingkat bawah. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi di tahun-tahun Suharto, misalnya, direkayasa oleh segelintir ekonom lulusan Amerika, dan dikenal sebagai Mafia Berkley. Tapi sekarang, lebih dari 500 pemerintah mini yang terpisah-pisah membuat keputusan besar perihal pendidikan, kesehatan, investasi dan masih banyak lagi, terlepas dari siapa pun yang duduk di Jakarta. Indonesia membutuhkan ribuan orang dengan kemampuan memecahkan problem yang luar biasa, dan kebutuhan itu ada di setiap sudut di negeri ini.
Jelas mereka yang membuat keputusan kini ini merupakan produk dari sistem (pendidikan) yang begitu mendesak untuk diubah. Abad-abad yang dijalani dengan investasi yang begitu rendah di bidang pendidikan, dekade-dekade yang berlalu dengan menempatkan sekolah sebagai perpanjangan birokrasi, tahun-tahun hafalan yang mekanistik bagi setiap anak - pendek kata hampir semua orang Indonesia -termasuk dosen, guru, orang tua- merupakan produk dari sistem ini. Ini ialah sistem yang menghambat rasa ingin tahu, merusak pemikiran kritis, dan membangun harapan yang rendah.
KEBAIKAN DI ATAS KERTAS
Seperti yang kusebutkan, salah satu pendekatan pemerintah untuk meningkatkan keterampilan guru (juga pegawai negeri sipil, polisi, dan militer) ialah dengan meminta mereka untuk meningkatkan 'kualifikasi' diri. Selain 90 jam pelatihan, mulai tahun 2015, semua guru diharuskan menjalani pendidikan tinggi empat tahun. Adanya Universitas Terbuka Indonesia ialah hal baik. Namun dari setengah juta mahasiswa yang sedang menjalani pendidikan on-line tersebut, lebih dari tiga perempatnya ialah guru. Sayangnya, banyak di antara mereka tinggal di tempat-tempat yang tidak mempunyai saluran internet.
Seharusnya itu mengkhawatirkan. Tetapi memang tidak ada lagi keyakinan bahwa 'kualifikasi' yang dibuktikan melalui selembar ijazah itu sungguh-sungguh mencerminkan kapasitas seseorang. Seorang insinyur dari Jawa dengan gelar PhD berkata kepadaku : "Bagi kebanyakan orang Indonesia, pendidikan ialah perihal mendapatkan ijazah, bukan perihal mencar ilmu sesuatu. Kaprikornus sungguh, mengapa kita harus memikirkan kualitas ?"
Banyak orang melangkah lebih jauh : Mereka tidak memikirkan pendidikan sama sekali. Mereka hanya mencari sebuah kafe internet, dan memesan ijazah mereka. Sebuah perusahaan yang menarik biaya empat juta rupiah untuk ijazah SMA, dan dua kali lipat untuk gelar sarjana menyatakan bahwa jasanya : AMAN , LEGAL , TERDAFTAR DI UNIVERSITAS / SEKOLAH , DAPAT DIGUNAKAN UNTUK MELAMAR PEKERJAAN (LAYANAN MASYARAKAT, TNI, KEPOLISIAN, PERUSAHAAN NEGARA , PERUSAHAAN SWASTA). Pada website mereka, pemasok ijazah instan ini mengingatkan pelanggan bahwa: "Semua orang mempunyai hak untuk bekerja dan mendapatkan pendidikan yang layak. Karena itulah kami ada di sini, bagi Anda yang membutuhkan sertifikat."
Komisi Pemilihan Umum Nasional melaporkan bahwa keluhan yang paling umum yang mereka terima perihal calon bupati dan walikota ialah bahwa mereka tidak memenuhi persyaratan pendidikan minimal. Ijazah mereka palsu.
Orang-orang yang membeli ijazah setidaknya mendapatkan apa yang mereka bayar. Tetapi banyak keluarga Indonesia yang melaksanakan pengorbanan besar semoga belum dewasa mereka lulus, dan mereka mendapatkan jauh lebih sedikit daripada seharusnya. Banyak yang membawa anak mereka pada les privat, seringkali dengan guru yang sama di sekolah. Orang bau tanah tampaknya berpikir bahwa belum dewasa mereka akan mendapatkan kualitas yang lebih baik di sekolah kalau mereka membayar ekstra untuk itu, tapi tidak ada bukti yang mendukung dugaan itu. Sebuah perbandingan internasional menemukan bahwa belajar khusus memang meningkatkan performa belum dewasa di setiap negara yang diteliti, kecuali Indonesia, yang memperlihatkan tidak ada bedanya. Ada sirkulasi di sini : Bahwa produk dari sistem yang jelek (maksudnya orangtua dan guru) tidak selalu mempunyai kapasitas untuk merumuskan seni administrasi yang lebih baik untuk meningkatkan kualitas generasi berikutnya !
Tapi bagaimana dengan orang bau tanah kelas menengah, orang-orang yang pergi ke sekolah-sekolah swasta mahal yang dikelola oleh pendidik -bukannya birokrat, orang-orang yang pergi ke universitas negeri yang lebih baik, bahkan orang-orang yang mencar ilmu di luar negeri ? Mengapa mereka tidak mencerca pendidikan Indonesia yang begitu mengerikan, mengapa mereka tidak mengangkat senjata demi mengembalikan pelajaran sains ke sekolah ?
Agar adil, sebetulnya ada cukup protes pada tahun 2012, membuat kementerian pendidikan tidak jadi memberlakukan kurikulum tanpa sains pada lebih dari 100.000 sekolah sekaligus, melainkan meluncurkannya secara bertahap, dimulai dengan sekitar 6000 sekolah. Setelah kompromi kecil itu, protes pun berhenti dengan tenang.
Kebanyakan orang Indonesia yang menyadari betapa buruknya sistem sekolah nasional itu hanya memutuskan untuk tidak melibatkan diri dengan sistem yang payah tersebut. Sebagaimana orang makmur dan terdidik di seluruh dunia, mereka menyekolahkan anak mereka ke sekolah swasta, meski pilihan tersebut tidak menjamin pendidikan yang lebih baik. Memang hasil PISA yang gres dirilis itu memperlihatkan bahwa siswa di sekolah-sekolah negeri di Indonesia mencetak angka yang lebih baik dibandingkan dengan sekolah swasta. (Penelitian yang lebih rinci memperlihatkan bahwa sekolah swasta Nasrani merupakan pengecualian, lantaran secara konsisten mencapai hasil yang terbaik).
PENDIDIKAN TINGGI
Dinding rumah orang-orang Indonesia rata-rata dihiasi foto-foto anak muda dengan topi dan toga. Bahkan Taman Kanak-kanak pun melaksanakan upacara wisuda, tapi foto yang paling dibanggakan ialah foto belum dewasa memegang ijazah SMA, atau sarjana. Aku tidak berbicara perihal rumah kelas menengah. Aku gres saja tinggal di rumah tiga atau empat pasangan Indonesia yang buta huruf, dan semuanya mempunyai foto belum dewasa yang diwisuda di dinding rumah mereka.
Orang bau tanah miskin sering bekerja sangat keras semoga belum dewasa mereka menuntaskan sekolah. Tapi ke mana perginya semua investasi mereka ? Enam juta warga Indonesia yang telah lulus dari Sekolah Menengan Atas ketika ini tidak mempunyai pekerjaan. Pemerintah menganggap lulusan Sekolah Menengan Atas dan sekolah kejuruan itu 'terampil' , tapi para pemberi kerja menganggapnya lain. Delapan dari sepuluh pengusaha menyampaikan bahwa mereka masih kesulitan mengisi posisi manajerial. Hampir setengah dari pekerja 'terampil' yang ditempatkan -bahkan pada posisi yang kurang menuntut- dianggap tidak mempunyai pemikiran kritis, kemampuan komputasi atau bahasa Inggris yang mereka butuhkan untuk melaksanakan pekerjaan mereka dengan baik. Kebanyakan perusahaan besar terpaksa melatih ulang hampir semua orang yang memasuki pintu mereka.
Beberapa tahun yang lalu, ketika insinyur lulusan Jerman dan eks presiden interim BJ Habibie masih besar lengan berkuasa dalam pemerintahan, terjadi perdebatan nasional perihal perlunya peningkatan training teknis dan kejuruan di Indonesia. Habibie cenderung memfokuskan kembali sistem pendidikan, tapi ia diteriaki oleh akademisi bau tanah yang keberatan, dan menuduh bahwa gagasannya akan mengubah bangsa Indonesia menjadi bangsa buruh. Akibatnya, terjadi perluasan besar dalam jadwal pendidikan, membuat lebih banyak lulusan bertopi dan bertoga tradisional, sementara para pemberi kerja dibiarkan tanpa tukang las atau pekerja terampil lainnya.
Akses ke pendidikan tinggi telah berkembang secara besar-besaran di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, jumlah orang-orang muda yang mengikuti pendidikan tinggi tumbuh sebesar 60 persen di antara tahun 1999 dan 2010, lebih dari 4,3 juta. Tapi sekali lagi, kualitas ialah sesuatu yang mengkhawatirkan. Dari sekitar 3500 universitas dan perguruan tinggi yang terdaftar di Departemen Pendidikan, (ini tidak termasuk sekolah-sekolah Islam yang dikelola oleh Departemen Agama), kurang dari 100 dikelola oleh negara, sementara pengawasan terhadap institusi swasta tidak ada. Tak satu pun dari lima universitas terbaik negeri ini masuk peringkat 400 universitas top dunia pada tahun 2012 versi Times Higher Education Supplement, dan tidak satupun yang berhasil mencapai 100 universitas terbaik di Asia.
Hal ini -salah satunya- lantaran privatisasi parsial perguruan tinggi negeri yang telah menimbulkan mereka melelang tempat mereka kepada penawar tertinggi. Siswa-siswa dengan nilai sekedarnya bisa mendapatkan tempat untuk mencar ilmu kedokteran di sebuah universitas top, kalau mereka membayar sekitar 250 juta rupiah, belum termasuk biaya. Dan penyebab lainnya adalah, lantaran profesor universitas dipromosikan hanya menurut senioritas, dengan sedikit atau tidak ada perhatian sama sekali terhadap penemuan dalam penelitian atau keunggulan dalam pengajaran.
Di atas kertas, Indonesia tentu semakin terdidik. Tapi sebelum mereka mulai menuntut lebih dari institusi pendidikan mereka, tampaknya mustahil mereka akan lebih terampil.
Menempatkan orang sesuai dengan kompetesinya yaitu merupakan salah satu unsur dalam administrasi SDM. Setelah diumumkan nama-nama menteri pada kabinet kerja Jokowi-JK, bermunculanlah komentar pro dan kontra terhadap menteri yang terpilih. Dari 34 menteri yang terpilih, Anies Baswedan yang menjadi Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia menjadi salah satu 'the right man on the right place' dari beberapa menteri yang terpilih.
Sebelum menjadi menteri, Anies Baswedan sudah terlebih dahulu terjun pribadi dalam dunia pendidikan sehingga tidak heran jikalau banyak guru yang sangat baiklah dengan terpilihnya ia menjadi menteri. Dunia pendidikan Indonesia sangat berharap banyak kepada bapak menteri Anies Baswedan, alasannya pendidikan Indonesia yang ditinggalkan menteri sebelumnya terkhusus pada pendidikan dasar dan menengah dalam keadaan 'benang kusut'.
Pendidikan Indonesia yang lebih baik kita harapkan sanggup tercapai dengan kepemimpinan menteri yang bisa membuka pemikiran generasi muda. Bagaimana Bapak Menteri Anies Baswedan mencoba membuka pemikiran kita dan generasi muda dengan kata-kata inspiratif-nya;
“Mencerdaskan kehidupan bangsa” diletakkan sebagai salah satu komitmen kemerdekaan.
Jika pemimpin pasang tubuh buat rakyat maka rakyat akan pasang tubuh untuk pemimpinnya.
Kekayaan terbesar sebuah bangsa yaitu manusianya, bukan sumber daya alamnya.
Kerja yang membawa hasil aktual untuk rakyat menjadi catatan warisan seorang pemimpin.
Jangan bandingkan calon pemimpin dengan kesempurnaan, bandingkan dengan lawannya.
Jangan hingga sikap kita dikala kampanye bikin aib dikala balik proses ini.
Pilih pemimpin yang merajut tenun kebangsaan bukan yang merobeknya demi kekuasaan.
Jangan biarkan kampanye hitam mengoyak sendi-sendi kebangsaan kita.
Ketegasan ditandai keberanian mengambil keputusan dan nyali untuk melaksanakan.
Mari bantu kawal demokrasi kita ini, jangan biarkan hak pilih kita dimanipulasi.
Pilihlah pemimpin yang bertindak dengan hati nurani bukan untuk kepentingan pribadi.
Pemimpin yang bisa dipercaya sanggup membuat suasana sejuk berdemokrasi.
Mari turun tangan dorong orang baik di politik mengambil otoritas di pemerintahan.
Karakter bukan diajarkan lewat teori dan wejangan. Karakter diajarkan pakai teladan, dengan pola nyata.
Jika kita ingin perubahan maka kita harus pilih pemimpin yang tidak mengatakan masa lalu.
Kemenangan itu bukan ditandai dengan kebisingan. Kemenangan itu ditandai dengan kelakuan.
Kita harus lebih takut ihwal pertanggungjawaban kita pada anak-cucu dan pada Tuhan soal pilihan kita hari ini.
Menilai niat? Biar itu urusan peniat dan Tuhannya. Nilai saja tindakannya.
Saya pilih The Avengers. Saatnya good guys stick together.
Pemimpin bukan sekadar bisa jadi hero, tapi bisa membuat dan menggerakkan hero-hero lainnya ikut turun tangan.
Pilih jalan mendaki alasannya itu akan mengantar kita ke puncak-puncak baru.
Melawan politik uang caranya dengan relawan yang bergerak bukan alasannya transaksi rupiah.
Lokasi lahir boleh di mana saja. Tapi lokasi mimpi harus di langit.
Jangan bilang “I love you full” tapi bilang “I love you almost full”, berikan ruang untuk cinta bertumbuh.
Semua sudut kota Jogja itu romantis.
Bagi sebagian kalangan kemiskinan itu akrab dalam angka, tapi jauh dalam rasa.
Pantas dan tak pantas sering jadi cerminan adab.
Kita harus mengembalikan proses politik kita kepada pertandingan gagasan, ide, dan integritas.
Jika bukan kita yang memulainya di negeri sendiri, kemudian kapan keadaan ini akan berubah?.
Menumbuhkan relawan bukan memetik bayaran.
Pada belum dewasa SD yang sederhana itu, ditanamkan keyakinan untuk bermimpi dan kerja realisasikan mimpi.
2014 yaitu tahunnya orang baik masuk politik.
Dulu golput yaitu perlawanan, kini golput yaitu pembiaran.
Kita turun tangan alasannya percaya, bukan alasannya diimingi jadi kaya.
Kebahagiaan itu memang untuk disyukuri.
Kita harus lebih takut ihwal pertanggungjawaban kita pada anak-cucu dan pada Tuhan soal pilihan kita hari ini: membisu atau turun tangan.
Anak-anak yaitu masa depan republik ini.
Sikap jujur yaitu tanda hadirnya keberanian.
Kepemimpinan menyerupai orkes angklung. Semua turun tangan membuat harmoni yang indah.
Turun tangan tak bisa dirupiahkan. Ini wujud kepedulian kita semua.
Jangan tanya gelarnya, lihat karakternya.
Lawan debat yaitu teman berpikir.
Mendidik rakyat supaya timbul semangat. Itulah pekerjaan yang utama.
Kendaraan itu ya alat transportasi, bukan alat ukur prestasi.
Rumah boleh di perbatasan, tapi kualitas hidup tak boleh di perbatasan.
Meraih mimpi itu baik, tapi melampaui mimpi itu jauh lebih baik.
Tanam bibit mimpi di bibit muda bangsa.
Dengan dagangan seadanya, mereka kerja untuk bangkit mimpi sebisanya. Di tiap dagangan ada harap masa depan untuk anak-anaknya.
Sambut Indonesia dengan rasa terimakasih. Di tanah ini syukuri perkembangan, perbaiki kekurangan dan siap turun tangan.
Jangan katakan pada Tuhan bahwa saya punya masalah, tapi katakan pada problem bahwa saya punya Tuhan.
Yang menarik dari anak muda ialah kebaruannya. Tanpa kebaruan, hitung umurnya bisa kecil, tapi gotong royong ia sudah tua.
Baris kata yang diungkap dengan hati dan sepenuh hati bisa terhapus dari mata, tapi tak bisa dihapus dari memori.
Ibu lahirkan ke dunia dan ibu juga yang bisa “kembalikan” ke surga.
Perlu anak untuk sekadar jadi orang tua. Perlu hati, susila dan ilmu, untuk jadi orangtua yang pendidik.
Tak pernah tersendat fatwa doa ibu untuk anaknya. Amat berpengaruh dan ringankan semua langkah.
Titipkan harapan pada imajinasi tanpa batas, biarkan ia terbang tinggi.
Doa ibu itu seakan lebih jelas dari matahari.
Yang kita punya hanya nama baik, jadi jaga nama baik itu baik-baik.
Mengajarkan tanpa berujar: Jadilah contoh.
Percayalah masih banyak orang baik yang bisa dititipkan untuk mengelola republik ini.
Korupsi merajalela bukan alasannya penjahatnya banyak, tapi alasannya orang baik menentukan untuk mendiamkan.
Bangsa ini sedang mulai berdiri. Akan makin tegak, makin tinggi berdirinya. Jangan ludeskan percaya diri bangsa ini.
Pemimpin itu harus tulus. Ketika dipuji dia tidak terbang, ketika dicaci dia tidak tumbang.
Buat ibumu besar hati jangan buat ibumu malu.
Biarkan ia ingat ayahnya pilih untuk berjuang, menentukan turun tangan.
Jalani dan hadapi. Hidup ini memang perjuangan, ada pertarungan dan risiko.
Orang-orang baik tumbang bukan hanya alasannya banyaknya orang jahat, tetapi alasannya orang-orang baik lainnya membisu dan mendiamkan.
Tugas pemimpin itu bukan melolongkan ratapan, tetapi mengirimkan harapan.
Kalau ada orang baik masuk politik tidak kita bantu, itu sama dengan membiarkan hanya orang yang masuk alasannya uang mendominasi Republik ini.
Turun tangan ini tak bisa dirupiahkan, nol rupiah. Ini yaitu wujud kepedulian kita semua.
Pemimpin tak lolongkan ratapan, tapi gelorakan ratapan.
Kenapa orang tidak bermasalah mau masuk politik dipermasalahkan? Dan orang yang bermasalah mau masuk politik tidak dipermasalahkan? Kalau begini, kapan kita akan melihat perubahan?.
Syarat orang baik tumbang yaitu orang-orang baik lainnya mendiamkan. Karena mereka yang punya uang dan kekuasaan pasti menang.
Misalnya pola turun tangan: Lihat Dapil di kawasan Anda. Cari orang baik, yang tidak bermasalah. Datangi dia, katakan, ‘saya mau bantu panjenengan, tapi tolong saya jangan dibayar. Saya punya harga diri. Tolong jangan dirupiahkan harga diri saya’
Lihat ada masalah? Jangan Cuma panggil orang lain untuk turun tangan, tapi panggil diri sendiri untuk turun tangan.
Sederhana itu, ditanamkan keyakinan untuk bermimpi dan kerja realisasikan mimpi.
Suatu dikala nanti, pasti praktek korupsi dan sogok-menyogok tidak hanya melanggar hukum, tapi juga akan tampak sebagai praktek yang kurang akil dan sangat primitif.
Relawan tak dibayar bukan alasannya tak bernilai tetapi alasannya tidak ternilai.
Korupsi yaitu gejala. Penyakitnya yaitu minimnya integritas.
Suara lapang dada seorang relawan mengalahkan baliho sebesar apapun.
Bung Karno berkata: “Berikan saya sepuluh cowok dan saya akan mengguncang dunia.” Dia tidak berkata bahwa 9 dari 10 cowok itu buta huruf. Itulah sikap optimis bangsa yang harus kita miliki dikala ini.
Bertemu relawan lebih menghargai daripada sekedar mengiklankan diri.
Sebagian besar kita hanya mau lakukan empat hal: bayar pajak, nyoblos, mengkritik, dan memuji. Tapi untuk terlibat? Kalau bisa, tidak usah.
Justru harus lebih banyak orang bersih, berintegritas, kompeten yang berada di pemerintahan dan politik, alasannya di sana keputusan yang menyangkut kepentingan publik dibuat.
Anak muda memang minim pengalaman, alasannya itu ia tak tawarkan masa lalu, anak muda mengatakan masa depan!
Kenapa ikut konvensi? Lebih baik mana: capres ditentukan oleh elit partai atau oleh rakyat?.
Pada belum dewasa SD yang sederhana itu, ditanamkan keyakinan untuk bermimpi dan kerja realisasikan mimpinya.
Mendidik yaitu memimpin.
Tanamkan keyakinan untuk bermimpi dan mewujudkannya.
Menelantarkan nasib guru sama dengan menelantarkan persiapan masa depan.
Cara kita menghargai guru yaitu cara kita menghargai masa depan.
Pada guru kita titipkan persiapan masa depan bangsa ini.
(http://aniesbaswedan.com/) Sebagai seorang guru, tiga kata-kata inspiratif terakhir diatas membuat saya tersenyum.
Video pilihan khusus untuk Anda 💗 Pesan Bapak Anies Baswedan ketika menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, untuk para guru;
Tujuan utama sebuah teknologi diciptakan yaitu mempermudah kegiatan penggunanya. Namun, dengan semakin dipermudahnya pengguna, ternyata ada efek samping yang cukup bisa menghilangkan kemampuan-kemampuan tertentu si pengguna.
Kemampuan apa sajakah yang hilang tanggapan teknologi? Berikut yaitu beberapa kemampuan kita yang hilang tanggapan teknologi yang semakin canggih yang disadur dari Jalan Tikus (https://jalantikus.com/gadgets/7-kemampuan-kita-yang-hilang-akibat-teknologi-yang-semakin-canggih).
Matematika
Saat ini, sudah banyak aplikasi Kalkulator yang bisa di d0wnl0ad gratis dan mudah. Kalkulator tersebut tentunya akan mempermudah kau untuk melaksanakan perhitungan, baik itu hitungan yang sederhana maupun yang kompleks. Sejak kemunculan kalkulator, banyak orang yang mulai mengandalkan kalkulator sebagai alat hitungnya. Kemampuan matematika atau menghitung orang tersebut secara perlahan-lahan akan menghilang dengan sendirinya digantikan dengan kalkulator.
Berkomunikasi dengan Orang Lain
Berkomunikasi dengan orang lain tentu hal yang penting dilakukan. Namun, semenjak munculnya teknologi ibarat smartphone, laptop dan lainnya. Berbicara ataupun berkomunikasi dengan orang lain sangat jarang terjadi. Kebanyakan dari mereka tetap fokus terhadap smartphone miliknya, tidak mencoba berbicara kepada orang lain. Jika hal ini terus-menerus dibiarkan, pastinya akan menciptakan kemampuan berbicara seseorang terutama terhadap orang-orang gres akan menurun dengan sendirinya.
Kemampuan Navigasi
Sebelum adanya Maps Online, orang-orang bisa membaca navigasi yang ada pada peta, memilih arah yang ingin dilewati, menghapal daerah dan lain-lain. Namun, kini kita dipermudah dengan maps atau peta online. Dengan pemberian sebuah Maps, kau tidak perlu kesulitan lagi memilih arah kemana daerah yang ingin kau tuju. Bahkan Google Maps sudah memberitahumu rute terbaik dan tercepat semoga hingga ketempat tujuan. Dengan begini, lama-kelamaan kemampuan insan untuk membaca navigasi akan menghilang.
Mengecek Fakta
Beberapa waktu sebelum adanya Internet, orang-orang memakai buku refensi atau pergi ke perpustakaan untuk mendapat fakta ataupun informasi yang ingin dicari kebenarannya. Saat ini, orang dengan gampang mengecek sebuah fakta dari wikipedia. Padahal, sumber informasi yang ada di Wikipedia belum tentu benar semuanya.
Menulis
Menulis semakin jarang dilakukan semenjak adanya komputer, laptop ataupun smartphone. Kebanyakan mereka lebih suka mengetik daripada menulis. Jika hal ini semakin sering dilakukan, tidak menutup kemungkinan bahwa orang-orang akan kehilangan kemampuan menulisnya.
Mengingat Nomor Telepon
Mengingat nomor telepon juga menjadi salah satu kemampuan insan yang kian hilang. Padahal, dengan mengingat paling tidak 3 nomor telepon, akan menyelamatkan kau dari keadaan darurat yang mungkin saja terjadi.
Meletakan Teknologi
Ini merupakan hal yang cukup penting dan sudah banyak orang mulai kehilangan kemampuan yang satu ini. Meletakan teknologi bisa menciptakan kau merasa lebih bebas dari sebelumnya. Akan tetapi, kini orang-orang sulit sekali meninggalkan teknologinya.
Budaya itu perlu kita lestarikan, salah satunya yaitu maminta gondang, lihat bawah umur SMAN 2 Lintongnihuta berguru maminta gondang;