Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Pancasila. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Pancasila. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Oktober 2018

Pendidikan Pancasila : Nilai Filosofis Persatuan Indonesia, Musyawarah, Dan Keadilan

Pendidikan Pancasila : Nilai Filosofis Persatuan Indonesia, Musyawarah, dan Keadilan



Titik berangkat tema “Persatuan” bersumber dari permenungan insan yg dilihat dari dua sisi: 

Personal: insan dilahirkan merdeka

  • Sbg mahluk Personal (ditekankan dalam filsafat barat)

Sosial: insan dilahirkan dalam kebersamaan 

  • Sbg mahluk Sosial (ditekankan dalam filsafat timur)

Sifat Persatuan :

  • Sementara
  • Abadi

Pengertian Persatuan

Konteks Indonesia yang multicultural, multireligiusitas, dsb, mengakibatkan tema persatuan menjadi penting.

Dalam KBBI: 1) Gabungan, ikatan, kumpulam beberapa kepingan yang sudah bersatu, 2) perserikatan, serikat.

Tema persatuan dalam Indonesia muncul dari dua kejadian :

  1. MANIFESTO POLITIK PARA PEMUDA PELAJAR DI NEGERI BELANDA
  2. SUMPAH PEMUDA INDONESIA.

Persatuan berkaitan erat dengan nasionalisme lantaran rasa nasionalisme menguatkan persatuan. Maka, bicara persatuan berarti bicara nasionalisme, konsep negara dan Indonesia.


Nasionalisme



Sukarno : 

Nasionalisme yakni persatuan dari aneka macam golongan, timbul dari rasa cinta akan insan dan kemanusiaan, nasionalis yang mendapatkan nasionalismenya sebagai suatu wahyu dan melaksanakan rasa itu sebagai suatu bakti.

Ernest Gellner dalam On Nationalism : 

Nationalism is Primarily a political principle, which holds that the political and national unit should be congruent

Benedict Enderson :

It is an imagined political community-and imagined as both inherently limited on sovereign

Anderson dan Gellner : 

Menekankan bahwa Nasionalisme yakni pencarian konstruksi ideologis untuk mempertegas garis antara identitas kultural dan negara dan membuat sebuah komunitas bersama yang mengikat semua secara baru.

Hatta :

Kebangsaan menuju pada pemerdekaan rakyat. Membangun kebangsaan atau nasionalisme yakni membangun kemanusiaan.

Sjahrir : 

Proyeksi kejiwaan dan semangat rendah diri dalam perilaku kolonial antara penjajah dan kaum terjajah.


Kesimpulan dari aneka macam pandangan:

Bangsa yakni satu kelompok masyarakat kalau anggota-anggotanya secara tegas saling mengakui hak dan kewajiban masing-masing lantaran keanggotaan yang sama.

Ciri pokok nasionalisme : 

Kadaulatan penuh pada bangsa dan loyalitas rakyat pada bangsa.


Negara



Miriam Budiarjo : 

Suatu kawasan territorial yang rakyatnya diperintah oleh sejumlah pejabat dan yang berhasil menuntut dari warga negaranya ketaatan pada peraturan perundang-undangan melalui penguasaan dan control dari kekuasaan yang sah.

Indonesia 

Muncul semenjak 1918. mengalami perubahan dari makna etnologis hingga pada makna politis. Menunjuk pada Indonesia sebagai negara, kata Indonesia memiliki arti politis dan tujuan politik yang merangkum impian dan harapan.


Dinamika Persatuan Indonesia



Kesadaran nasionalisme, kesatuan, kebangsaan Indoensia lahir dari realitas imperialisme, kolonialisme yang melahirkan perlawanan yang awalnya berasal dari wilayah tertentu kemudian meluas ke aneka macam wilayah.

Alatnya adalah, awalnya etno-religious (Agama dan etnisitas), muncul pula kelompok tani, dan didorong oleh kaum muda yang terdidik, baik di Hindia Belanda dan yang sedang menuntut ilmu di Belanda. Muncul aneka macam bentuk perlawanan dari kaum terdidik dan kaum muda yang melahirkan sumpah pemuda, ini melahirkan rasa persatuan dan nasionalisme.


Menuju Negara-Bangsa

Melalui sejarah dinamika persatuan Indonesia, hakikat Indonesia yakni persatuan masa lampau dan penemuan ke depan dalam bidang, budaya, agama, etnis, sosial, sains. Tujuannya yakni menjadi negara-bangsa yang mengisyaratkan adanya keserasian antara unit kultural (bangsa) dengan unit politik (negara)


Tantangan Global

Arus global membawa imbas besar dalam bidang eknomi, politik, sosial, agama termasuk paham akan kebangsaan dan nasionalisme. Globalisme menghilangkan konsep teritorial bangsa. Apa yang sanggup dilakukan ?

  • Kembali pada tujuan dan impian bangsa merdeka.
  • Membangun kesadaran insan sejati.
  • Membangun kesadaran kebersamaan sebagai bangsa dalam semangat saling menghormati terhadap kebebasan dan keberagaman.

Nilai Filosofis Sila Keempat



Sila keempat sanggup dirumuskan dalam satu kata berarti DEMOKRASI

DEMOKRASI ?

Maka, perlu konsep civil society ( nilai kerakyatan, masyarakat beradab, madani ) sbg prasyarat dibangunnya negara demokrasi. Civil society sbg prasyarat artinya perlu mempersiapkan masyarakat yang demokratis, lantaran demokrasi harus menyentuh, dialami setiap insan Indonesia.


Prinsip Nilai

Prinsip nilai prasyarat masyarakat membentuk civil society dalam mencapai demokrasi sbg tujuan adalah:

  1. Kemandirian dan tanggungjawab individu
  2. Keterlibatan dan partisipasi dalam masyarakat
  3. Hubungan koorperatif antarindividu yang berdikari dalam masyarakat

Untuk menjadi masyarakat beradab dan menguatkan Civil society, denah nilai ini mutlak perlu.


Tanggung Jawab

Tanggungjawab yakni ungkapan dari dalam diri yang keluar dalam bentuk tindakan lantaran sadar, tau dan mau akan pilihan. Keterlibatan, partisipasi ada dua: pasif yaitu sbg sekadar tanda persetujuan sbg warga negara dan aktif yaitu keterlibatan dalam ruang publik.

Hubungan koorperatif dirangkum dalam makna gotong royong, tanggungjawab social sebagai komunitas dan warga negara terhadap negara dan anggota lainya.

Ketiga nilai ini yang terkandung dalam civil society atau nilai kerakyatan, masyarakat beradab.


Pengertian civil society terletak dalam korelasi spiral ketiga nilai

  • Kemandirian & tanggungjawab individu
  • Partisipasi aktif dan pasif
  • Hubungan kooperatif

Relasi : semakin bisa bertangungjawab maka bisa terlibat, bisa terlibat maka bisa menjalin korelasi satu dengan yang lain, semakin bisa kooperatif maka semakin menegaskan tanggunggjawabnya sbg individu.


Civil Society dalam Pemikiran Filsuf



JOHN LOCKE

Masyarakat beradab sebagai masyarakat sipil Self-Discipline


KEYWORD


  1. Kepercayaan antar sesama bahwa Tuhan membuat insan setara. 
  2. Masyarakat sipil yakni masyarakat beradab lantaran melindungi HAM. 
  3. Kontrak dan Konsensus sosial demi mengelola ketertiban dan keamanan



Bung Hatta

Masyarakat Kooperatif sebagai Masyarakat Sipil

Tradisi masyarakat desa dasar pemahaman masyarakat kooperatif. Masyarakat desa: mengedepankan aspek solidaritas dan gotong royong. Masyarakat kooperatif membutuhkan pemerintahan yang desentralistik. Harus ada penerapan otonomi daerah

Kedua aspek tersebut cerminan kemandirian dan tanggungjawab sosial. Dibutuhkan pendidikan masyarakat kooperatif



Bung Karno

Sistem kekeluargaan masyarakat desa sebagai masyarakat sipil

Model Barat berpusat pada kepentingan individu, hidup bersama diatur dalam kontrak sosial. Kekeluargaan masyarakat desa berpusat pada kohesi dan kepedulian sosial.

Kekeluargaan masyarakat desa dipimpin oleh dewan atau sesepuh. Sifat kepemimpinan mengarahkan dan melindungi kepentingan bersama dan individu dengan musyawarah. Kebebasan dan otonomi jalan meengarahkan kesadaran sosial dalam partisipasi aktif.



Soepomo 

Masyarakat integralistik sebagai perwujudan masyarakat sipil

Masyarakat integralistik yakni persatu-paduan yang diwujudkan oleh pemerintah dan warganya lantaran keduanya menjadi kepingan yang tak terpisahkan. Gotong royong citra integralistik. Kosmologi Jawa: Manunggaling kawulo-Gusti. Persatuan antara pemimpin dan yang dipimpin

Tiap individu yakni kepingan tak terpisah dari kelompok. Masyarakat sipil bukan tandingan negara pemerintah. Negara bukan bahaya bagi kebebasan dan otonomi individu

Pertanyaan

  1. Civil Society ( Masyarakat sipil ) mengacu pada kata kerakyatan, 3 syarat untuk membentuk civil society adalah... ? Dan apa korelasi ketiga nilai tersebut ?
  2. Rumusan konsep civil society telah dipikirkan oleh para filsuf, siapa saja dan keyword konsepnya ?
  3. Para founding fathers juga telah mencoba merumuskan konsep civil society, siapa saja dan keyword konsepnya ?

Nilai Filosofis Sila Kelima


Apa itu pengertian KEADILAN

Memberikan apa yg menjadi hak orang lain.

Dasar pemikiran: Keadilan berakar pada tuntutan hidup bersama berlandaskan hormat pada pihak lain, yg menyiratkan dimensi kebebasan dan pembebasan manusia.


KEADILAN MENURUT FOUNDING FATHERS

Sukarno : 

Berangkat dari konsep Ratu Adil yang memuat dimensi materil dan spiritual. Makna keadilan social dalam kaitan dengan Ratu Adil yang memuat dimensi materil spiritual :


  1. Kesejahteraan social, kondisi tiada kemiskinan.
  2. Keadilan Sosial, kondisi cukup sandang, pangan dan tak ada penghisapan.
  3. Marhaenisme, Rakyat kebanyakan (wong cilik), pendayagunaan potensi rakyat jelata.

Hatta : 

Untuk mencapai masyarakat yang adil dan sejahtera yakni bentuk perekonomian koperasi yang berasaskan pada prinsip kepemilikan bersama dan menekankan asas kekeluargaan. 

Sjahrir : 

Sosialisme kerakyatan. Sebab merangkum dimensi materil dan spiritual. Paham ini berasaskan pada rasa setia mitra (Socius: Sahabat). Sosialisme Sjahrir dicuragai sebagi komunisme meskipun gagasan sjahrir akrab dengan pemahaman Rawls (Fairnes).


Filsuf kontemporer perihal keadilan



John Rawls : Keadilan yakni fairness, konsep ini berangkat dari keyakinan adanya posisi asali insan sebagai subjek moral yang memiliki otonomi, kebebasan dan rasionalitas.

Prinsip keadilan Rawls : 


  • Semua orang memiliki hak yang sama atas kebebasan dasar yang luas seluas kebebasan bagi semua orang. 
  • Ketimpangan social dan ekonomi mesti diatur sedemikian rupa agar, sanggup mengatakan laba bagi semua orang dan semua posisi dan jabatan terbuka bagi semua orang.


Amartya Sen: berangkat dari kritik terhadap Rawls.


  • Pertama: bagi sen, Rasionalitas yakni intrumen (tools) menuju keadilan. 
  • Kedua, kritik sen terhadap konsep posisi asali Rawls, bagi sen, keadilan harus berangkat dari konteks tertentu dan memikirkan secara rasional kemungkinan perwujudannya, sehingga tidak terjebak pada idealisme. 
  • Ketiga, sen, menunjukkan social choice. Kondisi adil bagi sen yakni kemampuan insan untuk melaksanakan pilihan social yang riil. Ini tanda bahwa keadilan sungguh ada. 
  • Keempat, kaitan konsep opportunity dan kebebasan sebagai landasan keadilan. 
  • Kelima, kapabilitas sebagai puncak pemahaman perihal kebebasan. Kebebasan yang memungkinkan setiap individu bisa berkembang dan memilih pilihan mendasar di antara usulan yang ada dalam situasi hidup.

Dimensi-dimensi sila kelima

Konteks keadilan social hormat terhadap kemanusiaan. 
Sila kelima dalam Pancasila memiliki dua pengertian:


  1. Berkaitan dengan dimensi social dan keadilan dalam kehidupan nasional. Keadilan harus menyentuh seluruh rakyat, artinya keadilan bukan milik sekelompok orang tertentu. 
  2. Ia mengacu pada masyarakat yang sanggup menjadi subjek (pelaku) dan objek (sasaran) keadilan.

Tujuan sila kelima : 

membuat suatu struktur yang serasi dan teratur dalam masyarakat yang menyediakan kesempatan bagi masyarakat supaya bisa membangun komunitas yang adil dimana yang yang lemah dan miskin menerima tunjangan dari pemerintah.


Implikasi sila kelima

Hormat pada kebebasan orang lain. Kebebasan yakni prasyarat bagi keadilan social, batas kebebasan setiap orang yakni kebebasan orang lain yang berhenti saat ia mengancam kebebasan orang lain. Akar ketidakadilan social yakni penyangkalan pada kebebasan orang lain.

Demi pembebasan manusia. Keadilan yakni demi pembebasan insan dari situasi-situasi yang tidak adil yang berarti penyangkalan terhadap kebebasan insan untuk menerima hak untuk hidup sebagai manusia. Contoh, perbudakan, penjajahan. Silah kan cari kasus lain disekitarmu.

Sumber http://wikiwoh.blogspot.com

Rabu, 05 September 2018

Pendidikan Pancasila : Pancasila Sebagai Contoh Nilai Insan Indonesia

Pendidikan Pancasila : Pancasila Sebagai Acuan Nilai Manusia Indonesia



Pengertian Nilai



Apa yang dimaksud dengan Nilai ? 

Nilai diartikan sebagai hakikiat sesuatu hal yang menciptakan hal tersebut pantas dikejar oleh manusia. (Diyakara: Percikan Filsafat, 38). Nilai berkaitan dekat dengan “kebaikan” dan “keberhargaan” ( Namun harus dinalar secara kontekstual ). 


Hirarki nilai berdasarkan Max Scheler :

  • Nilai “kenikmatan dan ketidaknikmatan”: sesuai dengan suasana afektif dan bersifat inderawi. 
  • Nilai “vital”, tidak sanggup direduksi sekadar ke dalam rasa nikmat atau tidak nikmat. Termasuk dalam kategori ini: nilai kesehatan, kematian, usia tua. 
  • Nilai “spiritual”, contohnya preferensi cinta dan benci. Nilai ini terbagi 3: 
    • a. nilai keindahan dan kejelekan, 
    • b. nilai keadilan dan ketidak adilan, 
    • c. nilai pengetahuan murni wacana kebenaran. 
  • Nilai “sakral/rohani”, ditemukan dalam bentuk kebahagiaan yang bersumber dari persentuhan dengan yang ilahi. Reaksi khusus yang muncul adalah, keyakinan, kepercayaan dan penghormatan dan penyembahan. 
Menurut anda, Pancasila ditempatkan dalam hirarki nilai yang mana dan mengapa ? 

Selain hirarki Max Scheler, nilai dibagi menjadi dua :

1. Nilai yang disebut relatif lantaran bersifat subjektif 
Tergantung pada sensitivitas setiap individu atau kelompok dalam konteks tertentu yang menafsirkannya.
 
2. Nilai yang disebut mutlak yang bersifat objektif. 
Disebut mutlak lantaran memuat tujuan yang paling murni contohnya cinta kasih. Nilai mutlak tidak lagi tergantung pada tafsir insan alasannya kualitasnya sanggup dibuktikan secara objektif demi kebaikan. 

Menurut anda Pancasila masuk dalam nilai yang mana dan mengapa ?  


Justifikasi atas Pancasila




1. Justifikasi Yuridis



Pembenaran Pancasila sebagai ideologi bangsa secara konstutisional, yaitu tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 Alinea 4 dan ketetapan MPR RI. Secara yuridis Pancasila mendapat pendasaran yang besar lengan berkuasa sehingga eksistensi Pancasila sebagai ideologi bangsa tak sanggup diabaikan dengan alasan apapun.

2. Justifikasi Filosofis 



Justikasi filosofis menegaskan pembenaran Pancasila berdasarkan konstruksi logika secara logis yang ditemukan melalui rasionalisasi yang didasarkan pada refleksi mendalam terhadap subtansi nilai-nilai Pancasila. Justifikasi filosofis juga menegaskan bahwa nilai Pancasila sebagai kebenaran hakiki yang tak perlu pembuktian untuk menegaskannya sebagai benar. 

3. Justufikasi Historis



Secara historis Pancasila berasal dari kompleks nilai yag telah mengakar dan menjadi spirit kehidupan manusia-manusia yang berasal dari suku bangsa yang berbeda di Nusantara ratusan tahun yang lampau. Nilai-nilai tersebut kemudian digali dan dirumuskan secara padat menjadi dasar keyakinan bersama masyarakat Indonesia. 

4. Justifikasi Kultural



Pancasila didasarkan pada dimensi kultural masyarakat Indonesia. Artinya nilai-nilai yang terserap dalam Pancasila terbentuk dari praksis hidup hidup dalam tatanan kultural. Jejak kultural Nampak dalam: pertama, jejak praktik keagamaan tradisional, kedua, sikap saling menghormati, ketiga, hidup dalam kesatuan sosial, keempat, praktik urun rembug, kelima, berat sama dipikul ringan sama dijinjing. 


Bagaimana Praktik Pancasila hingga ketika ini ?

Apakah anda menemukan kesenjangan antara nilai Pancasila dengan sikap warga negara ? Oleh lantaran itu, perlu diungkap banyak sekali permasalahan di negeri tercinta ini yang menunjukkan pentingnya mata kuliah pendidikan Pancasila. 

1. Masalah Kesadaran Perpajakan



Sebesar 74,6 % penerimaan negara berasal dari pajak 

2. Masalah Korupsi


Transparency Internasional (TI) merilis situasi korupsi di 188 negara untuk tahun 2015. Berdasarkan data dari TI tersebut, Indonesia masih menduduki peringkat 88 dalam urutan negara paling korup di dunia.

3. Masalah Lingkungan 


4. Masalah Disintegrasi Bangsa


Punahnya suatu negara sanggup terjadi lantaran empat “I”, yaitu industri, investasi, individu, dan info (Ohmae, 2002: xv).

5. Masalah Dekadensi Moral 



Dewasa ini, fenomena materialisme, pragmatisme, hedonisme, dan konsumerisme makin menggejala dalam kehidupan bermasyarakat. Paham-paham tersebut mengikis moralitas dan sopan santun masyarakat, khususnya generasi muda. 


6. Masalah Narkoba

7. Masalah Penegakan Hukum yang Berkeadilan


8. Masalah Terorisme




Pancasila sebagai Media Berkembang

Berdasarkan pada latar belakang tersebut, Pendidikan Pancasila hingga pada tahap perguruan tinggi masih tetap mempunyai urgensi yang mendesak, dengan bersandar pada tujuan mmempelajari Pancasila :

  1. Mengajak mahasiswa mempelajari Pancasila secara kritis baik dalam wacana yuridis maupun humanistik.
  2. Mengajak mahasiswa memahami dan mewujudkan serta menumbuhkan Pancasila.
  3. Merefleksikan Pancasila dalam kehidupan bersama dalam keberbedaan.
  4. Membentuk aksara mahasiswa yang tidak tercerabut dari akar nilai Pancasila.
  5. Menjadikan Pancasila sebagai Leitmotive (dorongan pokok) dan Leitstar (penunjuk jalan)
  6. Estafet kepemimpinan bangsa yang lebih berkualitas
  7. Meminjam istilah Branson (1998), yaitu sebagai pembentuk civic disposition yang sanggup menjadi landasan untuk pengembangan civic knowledge dan civic skills mahasiswa.


Dalam pembelajaran pendidikan Pancasila, empat pilar pendidikan berdasarkan UNESCO menjadi salah satu rujukan dalam prosesnya, yang mencakup learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together ( Delors,1996 ).



Tantangan Pancasila



Saat ini Pancasila di tantang dari beberapa sudut : 

Pragmatisme

Dari sisi pragmatism, Pancasila ditantang dengan munculnya banyak sekali macam bentuk kebudayaan gres yang mengikis nilai Pancasila. Contohnya, budaya hedonism, materialisme, konsumerisme. Budaya ini cenderung melahirkan insan yang pragmatis dan apatis terhadap nilai Pancasila.

Fanatisme Agama



Pancasila ditantang dari sudut fanatisme agama yang cenderung mengarah pada pemicikan paham beragama dengan menempatkan kebenaran agama di atas kebenaran lainnya dan bahkan mengabaikan kesepakatan konstitusi Negara demi mendapat posisi atau kekuasaan. Akibatnya ialah munculnya t3r0risme, politik agama, kekerasan antar umat beragama.

Melalui latar belakang kindonesiaan, pendidikan Pancasila dibutuhkan sanggup memperkokoh modalitas akademik mahasiswa dalam berperan serta membangun pemahaman masyarakat, dan mengakibatkan Pancasila senantiasa menjadi contoh nilai hidup, yang mencaku antara lain :

  1. Kesadaran gaya hidup sederhana dan cinta produk dalam negeri, 
  2. Kesadaran pentingnya kelangsungan hidup generasi mendatang, 
  3. Kesadaran pentingnya semangat kesatuan persatuan (solidaritas) nasional, 
  4. Kesadaran pentingnya norma-norma dalam pergaulan, 
  5. Kesadaran pentingnya kesahatan mental bangsa, 
  6. Kesadaran wacana pentingnya penegakan hukum, 
  7. Menanamkan pentingnya kesadaran terhadap ideologi Pancasila.

Dan menempatkan Pancasila sebagai dasar dan contoh nilai hidup.


Sumber

Slide Pancas : Nilai Pancasila

Sumber http://wikiwoh.blogspot.com

Kamis, 30 Agustus 2018

Pendidikan Pancasila : Identitas Kemanusiaan Dalam Konteks Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab

Pendidikan Pancasila : Identitas Kemanusiaan dalam Konteks Kemanusiaan yang Adil dan Beradab



Implikasi Ketuhanan YME Identitas Manusia 



Merupkana suatu manifestasi kekerabatan secara Vertikal-Horizontal. Hal ini tertuang pada pernyataan dalam Al-Qur'an yang isi katanya ialah Habluminallah-Habluminannas yang berarti korelasi antara insan dan korelasi Tuhan. Ireneus dari Lyon menyampaikan “Gloria Enim Dei Vivens Homo” yang berarti kemuliaan Tuhan hadir dalam kehidupan manusia.


Esensi Ketuhanan dalam Identitas manusia



“Jika kehidupan insan dilecehkan dan tidak dihormati, maka Tuhan tidak dimuliakan para pemuja dan penyembah-Nya”

Karena korelasi manusia-manusia merupakan sebuah manifestasi kehidupan bertuhan, maka dengan melecehkan kehidupan insan itu sendiri sudah menciptakan korelasi dengan yang kuasa ikut terlecehkan. 

Hal ini juga--pelecehan kehidupan manusia--yang menciptakan banyak sekali diskusi-diskusi mengenai kemanusiaan. Oleh lantaran itu, mengapa kita perlu diskusi kemanusiaan ? 

Fakta pelecehan dan kekerasan pada kemanusiaan baik dalam skala kecil atau masif yang menggugat rasa kemanusiaan. Lihat saja kasus pelecehan sekusal yang merebak dimana-mana, lalu agresi pembunuhan yang dibalut dengan emosi yang tidak berguna, sampai perampokan dengan alasan yang sampah--ekonomi.


Kesetaraan dan Kebebasan dasar Adil dan Beradab



Struktur Dasar Manusia 

Struktur dasar insan terbagi menjadi 3 hal yaitu;


  1. Tubuh
  2. Jiwa
  3. Roh

10 Kemampuan Dasar Manusia 


  1. Hidup 
  2. Kesehatan Fisik
  3. Kesehatan Tubuh
  4. Pancaindra, Imajinasi dan pikiran
  5. Afeksi yang sehat
  6. Nalar praktis
  7. Afiliasi
  8. Berelasi
  9. Bermain 
  10. Adaptasi 

Definisi Adil dan Beradab



Adil dan beradab merupakan suatu bentuk manifestasi ratifikasi setiap orang mempunyai struktur dasar dan punya kemampuan dasar, tanpa terkecuali. Manusia setara dan punya kemapuan untuk menentukan jalan dan cara hidupnya. Dasar penghormatan pada kesetaraan dan kebebasan 


Kesetaraan dan kemerdekaan sebagai implikasi nilai kemanusiaan



“Bahwa bergotong-royong kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan alasannya ialah itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan lantaran tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”

Alinea ini memuat logika “totem pro parte” ( keseluruhan untuk bagian-bagian )


Konsekuensi dari perbedaan antar manusia

“Wujud identitas diri yang menempel dalam kemanusiaan kita berdasarkan ras, suku, pilihan gaya hidup, budaya, preferensi politik, strata sosial-ekonomi, agama tidak bisa menghapus kenyataan bahwa kita setara”

Tidak peduli anda mempunyai agama apapun--termasuk tidak percaya dengan adanya yang kuasa ataupun anda mempunyai kepercayaan Agnostik, tidak percaya Tuhan,--ras apapun, bahkan siapapun anda kalau dibandingkan orang lain mempunyai kesetaraan yang sama. Namun, hal ini masih tidak sanggup dilakukan secara utuh lantaran beberapa hal ini.


  • Semua insan setara mengacu pada struktur dasar dan kempuan dasar manusia. Namun, perwujudannya sanggup berbeda-beda. Hidup ialah pilihan dan pilihan insan berbeda-beda
  • Artinya, kesetaraan tidak mengabaikan adanya perbedaan

Kita setara dalam kenyataan yang berbeda. Seperti perkataan dari Buddha,



We are not born as a winner, We are not born as loser, We are born as a chooser

--Buddha


Kesetaraan, kebebasan dan diskursus identitas diri




Amin Maalouf menyampaikan bahwa pembentukan identitas insan mengikuti garis vertical dan horizontal ibarat yang diilustrasikan skema di bawah ini :



Vertical

Orangtua menurunkan pencirian, budaya, agama, tata krama, kebiasaan, kesenian, hirarki adat, strata sosial. Berkaitan juga dengan gosip Keaslian. Isu ini memunculkan beberapa hal ibarat :


  • Stereotipe
  • Asosiasi linier
  • Generalisasi (etnik, budaya, bahasa, agama, politik)

Labeling ini mengesampingkan bahwa insan itu unik dan bebas. Amartya Sen dalam buku Identity and Violence (2005) menyampaikan bahwa menolak asosiasi mengaitkan suku bangsa dengan agama atau tingkat perkembangan peradaban



Horizontal

Terjadi ketika menyeleksi banyak sekali unsur budaya, afiliasi politik, ekonomi, sosial sezaman. Contoh, menentukan agama selain yang diturunkan, berpakaian ala mode mutakhir, menentukan kebiasaan gaya hidup

Aspek yang menetukan siapa kita berdasarkan kebebasan untuk menentukan afiliasi atau aliansi dengan banyak sekali budaya, rohani, gaya hidup, adat istiadat, dsb. Contohnya Amin Maalouf, orang Lebanon. Lebanon cenderung diasosiasikan dengan Islam lantaran Lebanon ada di daerah Timur Tengah, dan Timur Tengah identik dengan Islam.


Berdasarkan kesetaraan dan kebebasan


Kenyataan hidup insan ada dalam pluralitas afiliasi. Pluralitas afiliasi terjadi lantaran hidup tak lepas dari interaksi dari insan dengan manusia. Hal ini juga bersejajaran dengan pernyataan bahwa "Manusia ialah makhluk sosial" yang berarti seorang insan bukanlah insan kalau dia--manusia tersebut--tidak melaksanakan interaksi sosial baik secara langsung, maupun tidak langsung. Kesimpulannya, insan tidak akan hidup tanpa pluralitas afiliasi.

Pertanyaan, apakah identitas insan hanya ditentukan garis vertical ? Apakah kultur, agama itu kodrati atau insan bebas menentukan ?

Sudah telah ditulis dan diimplikasikan bahwa agama, ras, suku, dan budaya bukanlah kodrati manusia. Akan tetapi agama, ras, suku, dan budaya merupakan pilihan semata untuk insan dalam berhubungan dengan insan lainnya. Bebas seorang insan menentukan menjadi seorang Katholik tetapi berdarah Lebanon ibarat halnya Amin Maalouf--lihat teladan dalam korelasi horizontal. Selain itu, identitas insan tidak searah sebatas vertikal, namun banyak arah untuk menentukan siapakah dirinya.


Inspirisasi Pemikir Indonesia wacana Perikemanusiaan dan Identitas Diri




Sukarno

Identitas alamiah: Pria dan Wanita yg berkembang pada pembentukan bangsa dalam kategori budaya, sosiologi, dan antropologi

Pembentukan bangsa, etnis, ras, memunculkan batas-batas yang perlu dihormati tetapi tidak berarti chauvinistic dan rasialistik. Batas tersebut tidak menutup ruang interaksi. Kesetaraan dan kemerdekaan harus diperjuangkan, bukan hanya Indonesia tetapi seluruh manusia.

Perikemanusiaan juga dipopulerkan oleh agama, logikanya identitas agama mengandaikan pembelaan pada kemanusiaan bukan sekadar pada identitas. Maka, berdasarkan Sukarno, adil dan beradab, persatuan, tidak bisa lepas dari gagasan Ketuhanan. Percaya pada Tuhan berarti persatuan insan dan insan dengan alam.

Moh. Hatta

Tanpa identitas diri yang diakui dan merdeka kemanusiaan tidak mempunyai arti. Konsekuensi kemerdekaan ialah tanggungjawab atas kemanusiaan, pembelaan dan penghormatan. Maka korelasi antar bangsa, suku, agama, ras harus didasari pada kemerdekaan identitas manusia 

Sumber

Slide Pendidikan Pancasila : Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Sumber http://wikiwoh.blogspot.com

Rabu, 29 Agustus 2018

Pendidikan Pancasila : Gagasan Ketuhanan Dalam Konteks Ke-Indonesia-An

Pendidikan Pancasila : Gagasan Ketuhanan dalam Konteks Ke-Indonesia-an



Ketuhanan Yang Maha Esa





Pengertian Umum

Pertama, dalam konteks keindonesiaan hendak menegaskan bahwa Tuhan yakni sesuatu yang secara hakiki diakui keberadaannya oleh seluruh insan Indonesia.

Kedua, Tuhan merupakan entitas yang bersifat Rohani (Spiritual) adi kodarati dan tidak dipahami dalam kacamata jasmani, kodrati (materiil). Tuhan tak terbatas, dunia-manusia terbatas. Akan tetapi untuk sanggup mengerti Tuhan, insan harus bertitik tolak dari yang kodrati. 

Ketiga, Ketuhanan Yang Maha Esa mengindikasikan bahwa Tuhan yang dianut yakni satu. Satu tidak bersifat numerik (angka, matematis) melainkan dalam pengertian ketakberhinggan (invinity) dan ketakterukuran (incommonsurable). Konsekuensi bagi ke Indonesiaan, Prinsip YME tidak sanggup dibatasi dan dipahami lewat kemampaun nalar insan yang terbatas. Maka, perilaku dasar yakni kepercayaan dan percaya.

Keempat, Ketuhanan YME mengandung pengertian bahwa bangsa Indonesia setuju mengakui dasar ketuhanan sebagai pegangan bersama seluruh masyarakat Indonesia.


Ketuhanan YME dan konsekuensi dalam konsep Ketuhanan dalam keberagaman agama.




Ada banyak contoh konflik terjadi di Indonesia yang bersumber dari agama. Masalah pokok yang terjadi dalam konteks ini yakni klaim kebenaran dan tujuan agama yang dibelokkan orientasi sejatinya. 

Contohnya yakni agama cenderung hanya berorientasi pada kuantitas dan kekuasaan. Juga termasuk justifikasi yang tidak tepat bahwa agama tertentu itu paling benar dan melibas agama lain sebagai "agama yang tidak berlaku" padahal esensi ajarannya sama.
 
Masalah lain contohnya yakni penafsiran dangkal ihwal sila Ketuhanan YME. Seperti orang Islam menafsirkan Trinitas dalam Nasrani sebagai politeisme--bertuhan banyak--padahal Trinitas bukan menyerupai itu. Trinitas harus dilihat dari kacamata kepercayaan dan budi sehat filsafat yang mendalam.

Lalu apa yang dimaksud dengan Ketuhanan YME?  Apakah yang dimaksud yakni Tuhan yang tunggal, satu, sehingga agama boleh ada di Indonesia yakni agama yang menganut paham monoteis ? 

Mari kita melihat sedikit konsep ketuhanan dalam agama. Berikut video pernyataan Eggi Sudjana ihwal Ketuhanan yang Maha Esa dimana beliau keliru dalam konsep ini :




Pandangan Ketuhanan YME dalam Agama



Pandangan Kristen

 

Nasrani pada umumnya mengakui keesaan Tuhan di dalam tiga pribadi ilahi. Yang satu itulah yakni subtansi ketuhanan, namun hadir dalam tiga pribadi Tuhan. Lihat credo kristiani: “Aku percaya akan satu Allah bapa yang mahakuasa” disebut juga Yesus dan Roh Kudus sebagai Tuhan, konsep Trinitarian. Yang Esa dalam kristiani yakni subtansi ketuhanan yang tak sanggup diterjemahkan secara harafiah, Tuhan tak terbatas dan di luar nalar manusia. Manusia hanya sanggup mendekati dan mengalami. 

Analogi Santo Agustinus: air laut. 


Pandangan Islam 


Dalam islam, Tuhan yang Esa yakni dasar sumber moralitas bagi kaum muslim. Al-Quran menegaskan dengan sungguh ketunggalan dan keesaan. Pernyataan itu Nampak dalam kalimat tahlil: la ilaha illallah dan juga ratifikasi bahwa “Tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad yakni utusannya”. Tuhan yang tunggal itu yakni bukan suatu wujud untuk sanggup diketahui melainkan “Allahhu Akbar” (Tuhan Maha Besar), hanya dengan mengakuainya sebagai Al-Shamad (penyebab yang tak disebabkan atas segala sesuatu) dan sebagai Tuhan yang maha besar kaum muslim sanggup menyentuh realitas yang illahi.


Pandangan Hindu


Tuhan dipandang sebagai subjek yang Mahatinggi. Yang mahatinggi itu disebut Brahman, akan tetapi dalam imanensi dengan seluruh manusia, Ia disebut Atman. Dalam hindu, yang illahi dipandang sebagai yang tak terhingga, ada keyakinan dewa-dewi, akan tetapi tidak menggambarkan banyaknya Tuhan. Brahma,Shiwa, Wishnu dan para istri mereka, Saraswati, Syakti dan Laksmi yakni representasi komplementaritas unsur maskulin dan feminine yang mengatakan bahwa Tuhan dalam hindu tak terukur kebesarannya namun sanggup dialami. 

Dari perfektif ini, Hindu sering disebut, mono-polities. Akan tetapi secara mendasar, Hindu meyakini bahwa kenyataan tertinggi yakni Esa, dijelaskan dalam Kitab Weda “tak ada mengada atapun non-mengada waktu itu…tiada maut ataupun non-kematian. Yang esa bernafas tanpa udara oleh lantaran dirinya sendiri, di samping itu tiada yang lain”.


Pandangan Buddha


Budhisme tidak mengakui Tuhan dalam sosok personal tetapi tidak juga menolak eksistensi Tuhan. Buddhisme mengakui adanya Tuhan sebegai realitas yang tertinggi. Buddhis lebih menekankan fatwa masalah penderitaan dan bagaimana mengatasinya dan mencapai kebahagiaan. Karena itu buddhisme lebih cenderung membicarakan “filosofi hidup” ketimbang konsep Tuhan dalam agama. Yang mutlak tak dipandang sebagai pribadi, mereka mengakui eksistensi Tuhan yang mahatinggi, yang Esa dan mencapai itu melalui Bodhi atau pencerahan dan kesempurnaan dan mencapai nirvana.

Dari beberapa konsep Tuhan dalam agama tadi, tampak keragaman konsep dan paham kebenaran. Bagaimana dihadapkan dengan sila Ketuhanan YME ?

Setiap agama tadi sebenarnya berorientasi pada sosok realitas yang maha tinggi hanya saja diartikulasikan dengan unik. Perbedaan tidak terletak pada essensi Tuhan melainkan pada cara agama-agama membahasakan Tuhan. Ketuhanan YME sendiri, tidak berarti sekadar Tuhan yang satu, numerik. Akan tetapi Tuhan yang tak terhingga tak terukur oleh nalar manusia. Akan tetapi setiap agama berorientasi pada realitas Tuhan yang diyakini hadir dalam hidup manusia.

Oleh lantaran itu dalam video yang ditayangkan tadi, Eggi secara mutlak tidak paham ihwal agama lain membahasakan Tuhan yang dimaksud dan beliau hanya melihat secara teknis numerik--Tuhan itu Satu--dan juga mengeneralisasi bahwa Islam yakni agama yang pantas di Indonesia dibandingkan Hindu, Kristen, Katholik, Buddha, dan agama lainnya yang juga mempunyai esensi yang sama dengan cara membahasakan Tuhan yang berbeda.

Tuhan dalam Dunia Filsafat


Ateis



Ludwig Feuerbach

Tuhan yakni ciptaan angan-angan manusia, lantaran bukan insan yang menjadi objek pikiran Tuhan yang tak diketahui, melainkan Tuhan yang menjadi objek pikiran manusia, maka beliau hanya imajinasi pikiran manusia.

Karl Marx

Berangkat dari kritik terhadap agama yang tak memberi jawaban pada masalah kemanusiaan. Bagi dia, agama hanya delusi dan demikian juga dengan Tuhan, untuk menerima hidup yang baik dan sejahtera, insan harus saling membantu berbagi, konsep komunal.

Frederich Nietzsche 

God is death, we have kill God. Gagasan Nietzsche berangkat dari dekadensi moral pada ketika ia hidup. 

Sigmund Freud

Tuhan tak ada, itu hanya proyeksi kelemahan diri manusia.


Theis 


Spinoza

deus sive natura, Tuhan hadir dalam alam semesta. 

Hegel

Roh otoriter sebagai dasar ciptaan sebgala sesuatu. 

Yaqub Ibn Ishaq Al-Kindi

Segala sesuatu punya penyebab, dan ada entitas penyebab segala sesuatu yang tak disebabkan. 

Ibn-Sina

Kosmos bersifat rasional, ada hubungan rasional, di balik sepertinya hubungan rasional di alam, tentu ada rasionalitas tertinggi yang tak terbatas.

Wlliam A. Dembski

Tuhan Zat maha cerdas (Intellegent Design), meskipun bukti perancangan tak sanggup pribadi ditemukan tetapi ada jejaknya. 

Immanuel Kant 

Dia melihat dari fenomena ada noumena, dari yang tampak ada yang tak tampak. Manusia mempunyai dorongan moral bawaan. Pengada tertinggi dari mana sumber moral itu disebut Tuhan.


Hubungan antara agama dan negara di Indonesia


Perdebatan muncul dalam dua kelompok awal perumusan Pancasila: golongan islam: negara tak sanggup dipisahkan dr agama, golongan kebangsaan: negara hendaknya netral dari agama;
 
Dari perdebatan, diputuskan bahwa sila 1 hanya berbunyi Ketuhanan YME dengan menghapus tujuh katan sebelumnya, maka terjadi perubahan juga bahwa Presiden yakni WNI tak ada komplemen agama, dan “Negara menurut pada Ketuhanan yang Maha Esa” bukan agama. Artinya, Ketuhanan diterima sebagai prinsip moral dan contoh moral yang rumuskan dalam agama yang tentunya bersumber dari Tuhan YME. Sedangkan prinsip hukum, tata pemerintahan dll menurut pada Undang-Undang Dasar yang dirumuskan. 

Beberapa perkara 

Pluralisme agama: keragaman agama sanggup menjelma bumerang jikalau agama hanya berorientasi pada kuantitas dan bukan kualitas, apalagi pada kekuasaan.

Fundamentalisme dan radikalisme: apabila agama dipandang sebagai ajang kompetisi, maka yang muncul yakni radikalisme dan kekerasan. Umumnya, orang sanggup jatuh pada paham radikalisme apabila beliau tidak paham betul terhadap agamanya.


Atesime di Indonesia


Ateisme apabila dihidupi sebagai ideology tentu bertentangan dengan Pancasila “Ketuhanan YME”. Prinsip ini mengharuskan seluruh rakyat Indonesia untuk bertuhan. Meskipun tersedia ruang untuk ditafsirkan secara berbeda bahwa bertuhan tidak harus menghancurkan kehidupan termasuk membinasakan ateisme. Ateis juga diperlakukan sebagai insan yang perlu dihormati. 

Latar belakang munculnya ateisme

Pertama muncul kesadaran gres terutama dalam kaum intelektual ihwal objektiftas kebenaran berdasarkan kaidah ilmiah, dihadapkan pada objektifitas kaidah ilmiah, Tuhan sulit dibuktikan dalam agama. Umumnya ini terjadi jawaban dari perjumpaan dengan filsafat.

Pengaruh modrenisasi dan globalisasi. Pengaruh berpengaruh dari luar juga menjadi salah satu munculnya fenomena ateis, contohnya kesadaaran bahwa ternyata ateis tidak serta merta buruk, banyak orang modern menentukan tak bertuhan tetapi mempunyai perilaku dan moralitas berkualitas.

Pengaruh kemerosotan agama dan arogansi agama. Ada banyak keluhan pada agama bahwa agama cenderung berorientasi untuk menerima legitimasi kekuasaan, bukan mengahntar insan pada kebenaran sejati. Ini menciptakan insan jenguh dan menentukan untuk meninggalkan agama.


Implikasi Ketuhanan YME


Pertama, Ketuhanan YME bukan penyangkalan terhadap konsep “banyak Tuhan” melainkan Tuhan sebagai sumber hidup insan Indonesia, YME bukan dalam arti numerik melainkan sebagai faktor pengendali hidup masyarakat.

Kedua, konsep YME menuntut perilaku penghargaan atas keragaman bukan penghakiman atas konsep ketuhanan.

Ketiga, konsep YME menegaskan etos kasih sayang, persatuan, dan keadilan sebagai dasar sila yang lain. 

Keempat, YME membuka ruang perjumpaan obrolan untuk saling mendapatkan dan bertukar tambah nilai-nilai moral dan kehidupan. 

Sumber

Slide Pendidikan Pancasila : Ketuhana yang Maha Esa

Buku Kitab Suci Agama Islam, Kristen, Hindu, Buddha

Buku Pancasila

Sumber http://wikiwoh.blogspot.com