Tampilkan postingan dengan label kelas 12. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kelas 12. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 April 2018

Pengertian, Jenis, Dan Fungsi Peta

1. Pengertian Peta

Kata peta niscaya sudah sangat familiar di pendengaran kita. Anda niscaya sering melihat atau bahkan pernah memakai peta, tetapi mungkin Anda masih kesulitan untuk mendeskripsikan pengertian dari peta. Sebenarnya Anda tidak perlu menghafal definisi dari peta, cukup dengan melihat peta seharusnya Anda sudah sanggup mendefinisikan peta.

Pengertian peta secara umum yaitu citra dari permukaan bumi yang digambar pada bidang datar, yang diperkecil dengan skala tertentu dan dilengkapi simbol sebagai penjelas. Sudahkah Anda memahami pengertian dari peta tersebut? Praktis bukan? Beberapa andal mendefinisikan peta dengan banyak sekali pengertian, namun pada hakikatnya semua memiliki inti dan maksud yang sama. Berikut beberapa pengertian peta dari para ahli.

a. Menurut ICA (International Cartographic Association)
Peta yaitu citra atau representasi unsur-unsur ketampakan ajaib yang dipilih dari permukaan bumi yang ada kaitannya dengan permukaan bumi atau benda-benda angkasa, yang pada umumnya digambarkan pada suatu bidang datar dan diperkecil/diskalakan.

b. Menurut Aryono Prihandito (1988)
Peta merupakan citra permukaan bumi dengan skala tertentu, digambar pada bidang datar melalui sistem proyeksi tertentu.

c. Menurut Erwin Raisz (1948)
Peta yaitu citra konvensional dari ketampakan muka bumi yang diperkecil menyerupai ketampakannya kalau dilihat vertikal dari atas, dibentuk pada bidang datar dan ditambah tulisan-tulisan sebagai penjelas.

d. Menurut Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal 2005)
Peta merupakan wahana bagi penyimpanan dan penyajian data kondisi lingkungan, merupakan sumber warta bagi para perencana dan pengambilan keputusan pada tahapan dan tingkatan pembangunan.

Dengan memakai peta, kita sanggup mengetahui segala hal yang berada di permukaan bumi, menyerupai letak suatu wilayah, jarak antarkota, lokasi pegunungan, sungai, danau, lahan persawahan, jalan raya, bandara, dan sebagainya. Ketampakan yang digambar pada peta sanggup dibagi menjadi dua, yaitu ketampakan alami dan ketampakan buatan insan (budaya). Dapatkah Anda menyebutkan unsur alami dan unsur budaya yang tergambar di peta?

Dewasa ini sudah dikenal adanya peta digital (digital map), yaitu peta yang berupa citra permukaan bumi yang diolah dengan pertolongan media komputer. Data yang diperoleh berupa data digital dan hasil dari citra tersebut sanggup disimpan dalam suatu media menyerupai kartu memory, CD, maupun media penyimpanan lainnya, serta sanggup ditampilkan kembali pada layar monitor komputer. Biasanya peta digital ini dibentuk dengan memakai software GIS (Geography Information system). Ilmu yang mempelajari perihal peta dan pemetaan disebut dengan kartografi dan orang yang andal dalam bidang peta dan pemetaan disebut kartograf.

2. Jenis-Jenis Peta

Peta sanggup diklasifikasikan menjadi beberapa bab berdasarkan karak- teristiknya, antara lain sebagai berikut.
a. Berdasarkan Sumber Datanya
Berdasarkan sumber datanya, peta dikelompokkan menjadi dua, yaitu peta induk dan peta turunan.
1) Peta Induk (Basic Map)
Peta induk yaitu peta yang dihasilkan dari survei pribadi di lapangan. Peta induk ini sanggup dipakai sebagai dasar untuk pembuatan peta topografi, sehingga sanggup dikatakan pula sebagai peta dasar (basic map). Peta dasar inilah yang dijadikan sebagai pola dalam pembuatan peta-peta lainnya.

2) Peta Turunan (Derived Map)
Peta turunan yaitu peta yang dibentuk berdasarkan pada pola peta yang sudah ada, sehingga tidak memerlukan survei pribadi ke lapangan. Peta turunan ini tidak sanggup dipakai sebagai peta dasar.

b. Berdasarkan Isi Data yang Disajikan
Berdasarkan isi data yang disajikan, peta dibagi menjadi peta umum dan peta tematik.
1) Peta Umum
Peta umum yaitu peta yang menggambarkan semua unsur topografi di permukaan bumi, baik unsur alam maupun unsur buatan manusia, serta menggambarkan keadaan relief permukaan bumi yang dipetakan.
Peta umum dibagi menjadi 3, sebagai berikut.
  1. Peta topografi, yaitu peta yang menggambarkan permukaan bumi lengkap dengan reliefnya. Penggambaran relief permukaan bumi ke dalam peta digambar dalam bentuk garis kontur. Garis kontur yaitu garis pada peta yang menghubungkan tempat-tempat yang memiliki ketinggian yang sama.
  2. Peta chorografi, yaitu peta yang menggambarkan seluruh atau sebagian permukaan bumi yang bersifat umum, dan biasanya berskala sedang. Contoh peta chorografi yaitu atlas.
  3. Peta dunia, yaitu peta umum yang berskala sangat kecil dengan cakupan wilayah yang sangat luas.

2) Peta Tematik
Peta tematik yaitu peta yang menggam-barkan warta dengan tema tertentu/ khusus. Misal peta geologi, peta penggunaan lahan, peta persebaran objek wisata, peta kepadatan penduduk, dan sebagainya. Salah satu contoh peta tematik yaitu peta penggunaan lahan. Peta penggunaan lahan merupakan peta yang khusus menawarkan persebaran penggunaan lahan suatu wilayah yang dipetakan. Perhatikan contoh peta penggunaan lahan berikut.

 Kata peta niscaya sudah sangat familiar di pendengaran kita Pengertian, Jenis, dan Fungsi Peta
Salah satu contoh peta tematik yaitu peta penggunaan lahan.

c. Berdasarkan Skalanya
Berdasarkan pada skalanya peta dibagi sebagai berikut.
1) Peta Kadaster/Peta Teknik
Peta ini memiliki skala sangat besar antara 1 : 100 – 1 : 5000 Peta kadaster ini sangat rinci sehingga banyak dipakai untuk keperluan teknis, contohnya untuk perencanaan jaringan jalan, jaringan air, dan sebagainya.

2) Peta Skala Besar
Peta ini memiliki skala antara 1 : 5.000 hingga 1 : 250.000. Biasanya peta ini dipakai untuk perencanaan wilayah.

3) Peta Skala Sedang
Peta ini memiliki skala antara 1 : 250.000 hingga 1 : 500.000.

4) Peta Skala Kecil
Peta ini memiliki skala antara 1 : 500.000 hingga 1 : 1.000.000.

5) Peta Geografi/Peta Dunia
Peta ini memiliki skala lebih kecil dari 1 : 1.000.000.

3. Fungsi dan Tujuan Pembuatan Peta

1) Fungsi Pembuatan Peta
Peta memiliki beberapa fungsi di banyak sekali bidang, antara lain untuk:
  1. menawarkan posisi atau lokasi relatif (letak suatu tempat dalam hubungannya dengan tempat lain) di permukaan bumi,
  2. menunjukkan atau menggambarkan bentuk-bentuk permukaan bumi (misalnya bentuk benua, atau gunung) sehingga dimensi sanggup terlihat dalam peta,
  3. menyajikan data perihal potensi suatu daerah, dan
  4. menunjukkan ukuran, alasannya melalui peta sanggup diukur luas tempat dan jarak-jarak di atas permukaan bumi.

2) Tujuan Pembuatan Peta
Tujuan pembuatan peta antara lain sebagai berikut:
  1. membantu suatu pekerjaan, contohnya untuk konstruksi jalan, navigasi, atau perencanaan,
  2. analisis data spasial, contohnya perhitungan volume,
  3. menyimpan informasi,
  4. membantu dalam pembuatan suatu desain, misal desain jalan, dan
  5. komunikasi warta ruang.
Demikianlah bahan perihal Peta ini saya sampaikan, biar bermanfaat ...

Sumber http://sainsmini.blogspot.com

Pengertian Dan Jenis-Jenis Proyeksi Peta

Untuk menggambarkan seluruh ketampakan permukaan bumi tanpa penyimpangan (distorsi), maka peta harus digambar dalam bentuk bola yang disebut dengan globe. Peta yang digambar pada bidang datar tidak sanggup secara akurat menggambarkan seluruh permukaan bumi, kecuali hanya untuk menggambarkan tempat dalam areal yang lebih sempit. Oleh balasannya untuk menggambar sebagian besar permukaan bumi tanpa penyimpangan, maka dilakukan acara proyeksi. Apa itu proyeksi? Bacalah uraian singkat di bawah ini.

1. Pengertian proyeksi peta

Proyeksi yakni cara penggambaran garis-garis meridian dan paralel dari globe ke dalam bidang datar. Contoh sederhana pembuatan peta dengan memakai proyeksi yakni menyerupai pada waktu kita mengelupas buah jeruk, kemudian kulit jeruk tersebut kita lembarkan. Perhatikan gambar di bawah ini!

 Untuk menggambarkan seluruh ketampakan permukaan bumi tanpa penyimpangan  Pengertian dan Jenis-jenis proyeksi peta
Penggambaran peta melalui proyeksi


Di dalam melaksanakan acara proyeksi peta, ada beberapa hal yang dihentikan terabaikan, yaitu:
  1. peta harus equivalen, yaitu peta harus sesuai dengan luas bahwasanya di permukaan bumi sesudah dikalikan dengan skala.
  2. peta harus equidistan, yaitu peta harus memiliki jarak-jarak yang sama dengan jarak bahwasanya di permukaan bumi sesudah dikalikan dengan skala.
  3. peta harus konform, yaitu bentuk-bentuk atau sudut-sudut pada peta harus dipertahankan sesuai dengan bentuk bahwasanya di permukaan bumi.

2. Jenis-Jenis Proyeksi Peta

Terdapat beberapa jenis proyeksi yang dipakai untuk menggambar peta, yaitu proyeksi azimutal, kerucut, dan silinder.

a) Proyeksi Azimutal/ Proyeksi Zenital
Proyeksi zenital ini bidang proyeksinya berupa bidang datar. Proyeksi zenital ini sesuai dipakai untuk memetakan tempat kutub, namun akan mengalami penyimpangan yang besar jikalau dipakai untuk menggambarkan tempat yang berada di sekitar khatulistiwa.

 Untuk menggambarkan seluruh ketampakan permukaan bumi tanpa penyimpangan  Pengertian dan Jenis-jenis proyeksi peta
Penggambaran peta melalui proyeksi azimutal.

b) Proyeksi Kerucut
Proyeksi kerucut ini bidang proyeksinya berupa kerucut. Proyeksi menyerupai ini sesuai dipakai untuk menggambarkan tempat yang berada pada lintang tengah menyerupai pada negara-negara di Eropa.

 Untuk menggambarkan seluruh ketampakan permukaan bumi tanpa penyimpangan  Pengertian dan Jenis-jenis proyeksi peta
Penggambaran peta melalui proyeksi kerucut.


c) Proyeksi Silinder
Proyeksi silinder ini bidang proyeksinya berupa silinder. Proyeksi menyerupai ini sangat baik untuk memetakan tempat yang berada di tempat khatulistiwa, dan tidak sesuai dipakai untuk memetakan tempat yang berada di sekitar kutub.
 Untuk menggambarkan seluruh ketampakan permukaan bumi tanpa penyimpangan  Pengertian dan Jenis-jenis proyeksi peta
Penggambaran peta melalui proyeksi silinder.



Demikianlah bahan tentang Jenis-jenis proyeksi peta ini saya sampaikan, biar bermanfaat ...

Sumber http://sainsmini.blogspot.com

Minggu, 15 April 2018

Penjelasan Mengenai Tahapan Atau Proses Pembuatan Peta

Dalam Pembuatan suatu peta, khususnya peta tematik diharapkan beberapa tahapan atau proses, yang dimulai dari persiapan (pengumpulan data), pengolahan data, hingga pencetakan dalam wujud peta tematik. Proses pembuatan peta mencakup secara sederhana sanggup dilakukan dengan 3 tahapan, sebagai berikut.

1. Tahap Pengumpulan Data

Data-data geografis yang dipakai sebagai sumber dari pembuatan peta ada dua macam yaitu sumber primer dan sumber sekunder.
  1. Sumber data primer ialah sumber data yang diperoleh dengan cara observasi secara eksklusif di lapangan dengan cara pengukuran, pengamatan, pembuatan sketsa, dan wawancara terhadap penduduk setempat.
  2. Sumber data sekunder ialah sumber data yang diperoleh dengan cara observasi secara tidak langsung, artinya data diperoleh dari foto, peta, dan dokumentasi yang sudah ada pada suatu instansi terkait. Misalnya data sekunder dari dokumentasi milik Direktorat Topografi (Dittop) TNI-AD, Pusat Survei Pemetaan (Pussurta), Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Pertanahan Negara (BPN), Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), Dinas Pertanian, Dinas Pertambangan, dan lembaga-lembaga lain atau forum pemerintah setempat.

2. Tahap Pemetaan atau Penyajian Data

Data yang telah terkumpul sanggup dianalisis dengan komputer dan akibatnya disimpan, selanjutnya hasil analisis data tersebut dicocokkan kembali dengan keadaan di lapangan. Tahap ini diawali dengan menyiapkan peta dasar untuk digandakan menjadi peta gres yang akan dipakai untuk peta tematik. Proses menggambar peta dasar menjadi peta yang gres sanggup dilakukan dengan cara memfotokopi atau disalin/digambar pada kertas yang lain dengan memakai pantograph, atau dengan garis-garis koordinat (kotak-kotak). Setelah peta dasar simpulan dibuat, langkah berikutnya ialah penyajian data dengan cara menggambarkan simbol-simbol yang sesuai antara objek geografis di lapangan dengan objek di peta. Misalnya simbol arsir bertingkat, simbol lingkaran, simbol batang, atau simbol gambar. Simbol peta tematik hendaknya dirancang dengan baik, benar, dan sesuai, biar tujuan pemetaan sanggup tercapai, menarik, bersih, dan gampang dibaca.

3. Penyajian Kembali dalam Bentuk Grafis

Pada tahap ini dilakukan pemasukan atau input data yang telah diperoleh dari lapangan, sehingga sanggup diinformasikan kepada pembaca peta dalam bentuk grafis. Misal peta persebaran jumlah penduduk kecamatan X tahun 2006 diperoleh data jumlah penduduk sebagai berikut.

 khususnya peta tematik diharapkan beberapa tahapan atau proses Penjelasan mengenai Tahapan atau Proses Pembuatan Peta
Ditentukan 1 dot = 100 orang

Perhatikan gambar di bawah ini!
 khususnya peta tematik diharapkan beberapa tahapan atau proses Penjelasan mengenai Tahapan atau Proses Pembuatan Peta
Ket : 1 dot = 100 orang



Pembuatan suatu peta harus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain sebagai berikut.
  1. Peta harus conform, artinya bentuk-bentuk daerah, pulau, dan benua yang digambar pada peta harus sama menyerupai bentuk aslinya di permukaan bumi.
  2. Peta harus ekuivalen, artinya tempat yang digambar harus sama luasnya kalau dikalikan dengan skala peta.
  3. Peta harus ekuidistan, artinya jarak yang digambar di peta harus sempurna perbandingannya dengan jarak bekerjsama di permukaan bumi sehabis dikalikan dengan skala.
  4. Data yang disajikan harus lengkap dan teliti.
  5. Peta yang tersaji tidak membingungkan dan gampang dimengerti maksudnya.
  6. Peta harus rapi, indah, dan menarik.
Demikianlah bahan tentang Tahapan atau Proses Pembuatan Peta ini saya sampaikan, semoga bermanfaat ...

Sumber http://sainsmini.blogspot.com

Penjelasan Perihal Unsur-Unsur Peta

Peta yang baik ialah peta yang menggambarkan semua ketampakan yang ada dan gampang diinterpretasi oleh penggunanya, suatu peta dikatakan lengkap dan baik bila memenuhi unsur unsur sebagai berikut.

1. Judul Peta

Judul peta harus menggambarkan isi dan karakteristik peta yang digambar. Pemberian judul peta tidak harus berada di atas, penempatannya sanggup di mana saja selama tidak mengganggu makna dari peta, dan masih berada pada garis tepi peta. Dengan adanya judul, maka pembaca akan mengetahui isi peta tersebut. Misal, peta iklim, peta curah hujan, peta persebaran objek wisata, dan sebagainya.

2. Garis Tepi (Border)

Garis tepi atau border ialah garis yang terletak di bab tepi peta dan ujung-ujung tiap garis bertemu dengan ujung garis yang berdekatan. Biasanya garis ini dibentuk rangkap dua dan tebal.

3. Orientasi

Orientasi merupakan arah penunjuk mata angin. Pada peta biasanya arah mata angin menunjuk ke utara. Penempatan mata angin ini boleh di sembarang tempat, asal masih berada dalam garis tepi dan tidak mengganggu pembacaan peta.

 Peta yang baik ialah peta yang menggambarkan semua ketampakan yang ada dan gampang diinter Penjelasan ihwal Unsur-unsur Peta
Petunjuk arah mata angin.



4. Skala Peta

Skala peta menunjukkan perbandingan jarak, antara jarak di peta dengan jarak sebetulnya di lapangan. Misalnya, peta berskala 1 : 100.000 artinya tiap jarak 1 cm di peta sama dengan jarak 100.000 cm di lapangan. Rumus untuk menghitung skala peta ialah sebagai berikut.


5. Legenda

Legenda ialah keterangan mengenai simbol-simbol yang terdapat di dalam peta. Legenda biasanya terletak di sebelah kiri, kanan ataupun bawah dari peta yang digambar.

6. Garis Bujur dan Garis Lintang

Garis bujur dan garis lintang disebut juga dengan garis astronomi. Garis bujur biasanya ditunjukkan dengan satuan derajat.
 Peta yang baik ialah peta yang menggambarkan semua ketampakan yang ada dan gampang diinter Penjelasan ihwal Unsur-unsur Peta
Contoh garis lintang dan garis bujur.

7. Simbol Peta

Simbol merupakan tanda konvensional yang terdapat di dalam peta untuk mewakili keadaan sebetulnya yang ada di lapangan. Syarat-syarat simbol yang baik adalah:
  1. kecil, semoga tidak terlalu banyak memerlukan ruang pada peta,
  2. sederhana, supaya gampang dan cepat digambar, dan
  3. jelas, semoga tidak menjadikan salah tafsir bagi pembaca peta.

Berikut ini ialah pola simbol yang umum digunakan dalam peta.

 Peta yang baik ialah peta yang menggambarkan semua ketampakan yang ada dan gampang diinter Penjelasan ihwal Unsur-unsur Peta
Simbol-simbol pada peta topografi

Secara garis besar, simbol-simbol yang digunakan pada peta tematik hanya memiliki ketentuan-ketentuan berdasarkan temanya saja. Umumnya tema tersebut memiliki sifat kualitatif dan kuantitatif. Menurut artinya, simbol dibagi menjadi dua, yaitu simbol kualitatif dan kuantitatif.
  1. Simbol Kualitatif
    Simbol kualitatif menyatakan identitas atau melukiskan keadaan orisinil unsur- unsur yang diwakilinya. Simbol ini memiliki laba yaitu, gampang untuk dikenali, sedangkan kekurangannya ialah simbol tersebut sulit untuk digambar. Simbol ini tidak menyajikan besar atau banyaknya unsur yang diwakilinya.
  2. Simbol Kuantitatif
    Simbol ini melukiskan keadaan aslinya dan menunjukkan besar atau banyaknya unsur yang diwakilinya. Umumnya pemetaan simbol kuantitatif memakai data-data statistik, sehingga sering disebut pemetaan statistik.

Berdasarkan bentuknya, simbol dibagi menjadi 3 sebagai berikut.
  1. Simbol titik/dot, digunakan untuk menyatakan posisi atau lokasi suatu tempat. Simbol yang digunakan sanggup berupa simbol pictorial (gambar) maupun huruf.
  2. Simbol garis, digunakan untuk menggambarkan batas-batas administrasi, jalan, maupun sungai.
  3. Simbol luas, digunakan untuk menunjukkan suatu tempat tertentu, menyerupai hutan atau rawa.

8. Lettering

Lettering ialah semua goresan pena yang bermakna yang terdapat pada peta. Bentuk karakter mencakup karakter kapital, karakter kecil, kombinasi karakter kapital-kecil, tegak (Roman), dan miring (Italic). Beberapa pola cara penulisan pada peta ialah sebagai berikut.
  1. Judul peta ditulis dengan karakter kapital dan tegak.
  2. Hal-hal yang berkaitan dengan air ditulis dengan karakter miring. Tulisan untuk sungai sejajar dengan arah sungai dan sanggup terletak di atas atau di bawahnya.
  3. Besar kecilnya karakter diadaptasi dengan kebutuhan, yaitu memerhatikan unsur keindahan dan seni peta.
  4. Tulisan nama ibu kota lebih besar daripada goresan pena nama kota-kota lain.

9. Sumber Data dan Tahun Pembuatan

Sumber data dan tahun pembuatan perlu dimasukkan dalam peta semoga sanggup diketahui dari mana asal datanya dan tahun pembuatannya.

10. Warna Peta

Warna memiliki peranan yang sangat penting dalam membedakan banyak sekali unsur yang terdapat dalam peta. Warna-warna tersebut antara lain:
  1. hitam, warna ini digunakan untuk menunjukkan batas administrasi, lettering, maupun detail penghunian,
  2. biru, warna ini digunakan untuk menunjukkan badan air, menyerupai sungai, danau, serta laut. Degradasi warna biru muda hingga biru bau tanah mununjukkan tingkat kedalaman dari badan air. Semakin bau tanah warna birunya, maka semakin dalam badan air tersebut,
  3. hijau, warna ini digunakan untuk menunjukkan dataran rendah, vegetasi atau tumbuhan, serta hutan,
  4. coklat, warna ini menunjukkan tempat yang memiliki kemiringan lereng yang amat besar, contohnya dataran tinggi atau tempat pegunungan, dan
  5. merah, warna ini digunakan untuk menunjukkan jalan raya atau untuk menunjukkan letak kota atau ibu kota.


Demikianlah bahan tentang Unsur-unsur Peta ini aku sampaikan, semoga bermanfaat ..

Sumber http://sainsmini.blogspot.com

Sabtu, 14 April 2018

Definisi Dan Klarifikasi Wacana Pengindraan Jauh

Istilah pengindraan jauh (remote sensing) pertama kali diperkenalkan oleh Parker di Amerika Serikat pada simpulan tahun 1950-an dari instansi kelautan Amerika Serikat. Pada awal tahun 1970-an, istilah serupa juga dipakai di Prancis dengan sebutan “Teledetection”, di Jerman dengan istilah “Fenerkundung” serta di Spanyol dengan istilah “Teleperception”.

Beberapa mahir mendefinisikan pengindraan jauh sebagai berikut.
1. Menurut Lillesand dan Kiefer
Pengindraan jauh yaitu ilmu dan seni untuk memperoleh gosip wacana objek, kawasan atau tanda-tanda dengan jalan menganalisis data yang diperoleh dengan memakai alat tanpa kontak pribadi terhadap objek, atau tanda-tanda yang dikaji.

2. Menurut Lindgren
Pengindraan jauh yaitu banyak sekali teknik yang dikembangkan untuk memperoleh dan menganalisis wacana bumi.

3. Menurut American Society of Photogrametry
Pengindraan jauh yaitu pengukuran atau perolehan gosip dari beberapa sifat objek atau fenomena dengan memakai alat perekam yang secara fisik tidak terjadi kontak pribadi atau bersinggungan dengan objek atau fenomena yang dikaji.

Dari beberapa definisi di atas sanggup disimpulkan wacana pengertian pengindraan jauh. Pengindraan jauh yaitu suatu cara merekam objek, kawasan atau gejala-gejala dengan memakai alat perekam tanpa kontak pribadi atau bersinggungan dengan objek atau fenomena yang dikaji di permukaan bumi. Apabila dianalogikan, pengindraan jauh menyerupai pada ketika Anda memotret suatu objek dengan memakai kamera biasa, dan dari hasil foto tersebut kita sanggup menganalisis insiden yang terjadi pada ketika itu. Misalnya pada ketika kita memperoleh gambar pemandangan, kita sanggup menganalisis bahwa di sini ada A, ada B, dan sebagainya.

Untuk mengindra suatu objek, maka diharapkan suatu alat. Alat untuk mengindra disebut sensor. Sebenarnya insan juga memiliki sensor, yaitu mata, telinga, hidung, lidah, dan kulit, dan sensor yang terdapat pada makhluk hidup disebut dengan sensor alamiah. Dalam pengindraan jauh sensor yang dipakai bukanlah sensor alamiah, tetapi sensor buatan yang sanggup berupa kamera, magnetometer, sonar, scanner, dan radiometer.

Sensor dalam pengindraan jauh dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu sensor aktif dan sensor pasif.
  1. Sensor aktif, yaitu suatu alat yang dilengkapi dengan pemancar dan alat akseptor pantulan gelombang. Contoh pengindraan jauh radar dan pengindraan jauh sonar.
     pertama kali diperkenalkan oleh Parker di Amerika Serikat pada simpulan tahun  Definisi dan Penjelasan wacana Pengindraan Jauh
    Diagram kerja sensor sistem aktif
  2. Sensor pasif, yaitu sensor yang hanya dilengkapi dengan alat akseptor berupa pantulan gelombang elektromegnetik.
     pertama kali diperkenalkan oleh Parker di Amerika Serikat pada simpulan tahun  Definisi dan Penjelasan wacana Pengindraan Jauh
    Diagram kerja sensor sistem pasif


Demikianlah bahan wacana Pengindraan Jauh ini aku sampaikan, biar bermanfaat ...

Sumber http://sainsmini.blogspot.com

Komponen Sistem Pengindraan Jauh

Pengindraan jauh sebagai suatu sistem tidak bisa terlepas dari beberapa belahan yang saling terkait antara komponen yang satu dengan komponen lainnya. Secara skematis sistem kerja dari pengindraan jauh sanggup dilihat pada gambar di bawah ini.

 sebagai suatu sistem tidak bisa terlepas dari beberapa belahan yang saling terkait antara  Komponen Sistem Pengindraan Jauh
Skema sistem pengindraan jauh

Komponen-komponen pengindraan jauh mencakup hal-hal berikut.

1. Sumber Tenaga

Dalam pengindraan jauh harus ada tenaga untuk memantulkan atau memancarkan objek di permukaan bumi. Tenaga yang dipakai yakni tenaga elektromagnetik, dengan sumber utamanya yakni matahari. Tenaga lain yang bisa dipakai yakni sumber tenaga buatan, sehingga dikenal adanya pengindraan jauh sistem pasif dan pengindraan jauh sistem aktif.

a) Pengindraan Jauh Sistem Pasif
Pada pengindraan jauh sistem pasif, tenaga yang menghubungkan perekam dengan objek di bumi dengan memakai tenaga alamiah yaitu matahari (dengan memanfaatkan tenaga pantulan), sehingga perekamannya hanya bisa dilakukan pada siang hari dengan kondisi cuaca yang cerah.

b) Pengindraan Jauh Sistem Aktif
Pada pengindraan jauh sistem aktif, perekamannya dilakukan dengan tenaga buatan (dengan tenaga pancaran), sehingga memungkinkan perekamannya sanggup dilakukan pada malam hari maupun siang hari, dan di segala cuaca.

2. Atmosfer

Atmosfer memiliki peranan untuk menghambat dan mengganggu tenaga atau sinar matahari yang tiba (bersifat selektif terhadap panjang gelombang). Tidak semua spektrum elektromagnetik bisa menembus lapisan atmosfer, hanya sebagian kecil saja yang bisa menembusnya. Hambatan pada atmosfer disebabkan oleh debu, uap air, dan gas. Hambatan atmosfer ini berupa serapan, pantulan, dan hamburan. Hamburan yakni pantulan ke segala arah yang disebabkan oleh benda-benda yang permukaannya berangasan dan bentukannya tidak menentu, atau oleh benda-benda kecil lainnya yang berserakan. Bagian dari spektrum elektromagnetik yang bisa menembus atmosfer dan hingga ke permukaan bumi disebut jendela atmosfer. Jendela atmosfer yang paling banyak dipakai yakni spektrum tampak yang dibatasi oleh gelombang 0,4 mikrometer hingga 0,7 mikrometer.

3. Interaksi antara Tenaga dan Objek

Setiap objek memiliki sifat tertentu dalam memantulkan atau memancarkan tenaga ke sensor. Objek yang banyak memantulkan atau memancarkan tenaga akan tampak lebih cerah, sedangkan objek yang pantulan atau pancarannya sedikit akan tampak gelap. Interaksi antara tenaga dengan objek dibagi menjadi 3 variasi, yaitu:
  1. variasi spektral, mendasarkan pada pengenalan pertama suatu objek, misal cerah dan gelap,
  2. variasi spasial, mendasarkan pada perbedaan contoh keruangannya, menyerupai bentuk, ukuran, tinggi, serta panjang, dan
  3. variasi temporal, mendasarkan pada perbedaan waktu perekaman dan umur objek.

4. Sensor

Sensor berfungsi untuk mendapatkan dan merekam tenaga yang tiba dari suatu objek. Kemampuan sensor dalam merekam objek terkecil disebut dengan resolusi spasial. Berdasarkan proses perekamannya, sensor dibedakan menjadi 2 sebagai berikut.
a) Sensor Fotografik
Sensor fotografik yakni sensor yang berupa kamera dengan memakai film sebagai detektornya yang bekerja pada spetrum tampak. Hasil dari penggunaan sensor fotografik yakni bentuk foto udara.

b) Sensor Elektronik
Sensor elektronik memakai tenaga elektrik dalam bentuk sinyal elektrik yang beroperasi pada spektrum yang lebih luas, yaitu dari sinar X hingga gelombang radio dengan pita magnetik sebagai detektornya. Keluaran dari penggunaan sensor elektrik ini yakni dalam bentuk citra.

5. Perolehan Data

Perolehan data sanggup dilakukan dengan cara manual secara visual, maupun dengan numerik atau digital. Perolehan data dengan memakai cara manual yaitu cara memperoleh data dengan menginterpretasi foto udara secara visual. Perolehan data dengan cara numerik atau digital yaitu dengan memakai data digital melalui komputer.

6. Pengguna Data (User)


Tingkat keberhasilan dari penerapan sistem pengindraan jauh ditentukan oleh pengguna data. Kemampuan pengguna data dalam menerapkan hasil pengindaraan jauh juga dipengaruhi oleh pengetahuan yang mendalam perihal disiplin ilmu masing-masing maupun cara pengumpulan data dari sistem pengindraan jauh. Data yang sama sanggup dipakai untuk mencari info yang berbeda bagi pengguna (user) yang berbeda pula. Berdasarkan kerincian, keandalan, dan kesesuaian data dari sistem pengindaraan jauh akan memilih sanggup diterima atau tidaknya data pengindraan jauh oleh pengguna (user).

Sumber http://sainsmini.blogspot.com

Jumat, 13 April 2018

Pengertian Dan Klarifikasi Jenis Gambaran Foto Pada Pengindraan Jauh

Citra foto yaitu gambaran suatu objek yang dibentuk dari pesawat udara, dengan memakai kamera udara sebagai alat pemotret. Hasilnya dikenal dengan istilah foto udara. Citra foto sanggup dibedakan berdasarkan beberapa aspek, antara lain sebagai berikut.

1. Berdasarkan Spektrum Elektromagnetik yang Digunakan

Berdasarkan spektrum elektromagnetik yang digunakan, gambaran foto sanggup dibedakan menjadi 3, yaitu:
a) Foto Ultraviolet
Foto Ultraviolet yaitu foto yang dibentuk dengan memakai spektrum ultraviolet bersahabat dengan panjang gelombang 0,29 mikrometer. Cirinya yaitu gampang untuk mengenali beberapa objek alasannya yaitu perbedaan warna yang sangat kontras. Kelemahan dari gambaran foto ini yaitu tidak banyak gosip yang sanggup disadap. Foto ini sangat baik untuk mendeteksi tumpahan minyak di laut, membedakan atap logam yang tidak dicat, jaringan jalan aspal, batuan kapur, juga untuk mengetahui, mendeteksi, dan memantau sumber daya air.

b) Foto Ortokromatik
Foto Ortokromatik yaitu foto yang dibentuk dengan memakai spektrum tampak dari akses biru hingga sebagian hijau (0,4 – 0,56 mikrometer). Cirinya banyak objek yang sanggup tampak jelas. Foto ini bermanfaat untuk studi pantai alasannya yaitu filmnya peka terhadap objek di bawah permukaan air hingga kedalaman kurang lebih 20 meter.

c) Foto Pankromatrik
Foto pankromatrik yaitu foto yang memakai seluruh spektrum tampak mata mulai dari warna merah hingga ungu. Kepekaan film hampir sama dengan kepekaan mata manusia. Pada umumnya dipakai film sebagai negatif dan kertas sebagai positifnya. Wujudnya menyerupai pada foto, tetapi bersifat tembus cahaya. Foto pankromatik dibedakan menjadi 2 yaitu pankromatik hitam putih dan foto infra merah.
1) Foto Pankromatrik Hitam Putih
  1. rona pada objek serupa dengan warna pada objek aslinya, alasannya yaitu kepekaan film sama dengan kepekaan mata manusia,
  2. resolusi spasialnya halus,
  3. stabilitas dimensional tinggi, dan
  4. foto pankromatrik hitam putih telah usang dikembangkan sehingga orang telah terbiasa menggunakannya.

Foto Pankromatrik dipakai dalam banyak sekali bidang, sebagai berikut.
  1. Di bidang pertanian, untuk pengenalan dan pembagian terstruktur mengenai jenis tanaman, penilaian kondisi tanaman, dan asumsi jumlah produksi tanaman,
  2. Di bidang kehutanan, dipakai untuk identifikasi jenis pohon, asumsi volume kayu, dan perkembangan luas hutan,
  3. Di bidang sumber daya air, dipakai untuk mendeteksi pencemaran air, penilaian kerusakan tanggapan banjir, agihan air tanah, dan air permukaan,
  4. Di bidang perencanaan kota dan wilayah, dipakai untuk penafsiran jumlah dan agihan penduduk, studi kemudian lintas, studi kualitas perumahan, penentuan jalur transportasi, dan pemilihan letak banyak sekali bangunan penting,
  5. Penelitian ekologi binatang liar, berkhasiat untuk mendeteksi habitat dan untuk pencacahan jumlah populasinya, dan
  6. Evaluasi dampak lingkungan.

2) Foto Infra Merah
Foto infra merah yaitu foto yang dibentuk dengan memakai spektrum infra merah dekat, dengan panjang gelombang 0,9 – 1,2 mikrometer, yang dibentuk secara khusus yang terletak pada akses merah dan sebagian akses hijau. Cirinya sanggup mencapai bab dalam daun, sehingga rona pada foto infra merah daun tidak ditentukan berdasarkan warna tetapi oleh sifat jaringannya.

Perbedaan antara foto infra merah dengan film pankromatik hitam putih terletak pada kepekaannya. Foto infra merah memiliki beberapa keunggulan, antara lain:
  1. memiliki sifat pantulan khusus bagi vegetasi,
  2. daya tembusnya yang besar terhadap kabut tipis, dan
  3. daya serap yang besar terhadap air.

Kelemahan foto infra merah antara lain:
  1. adanya efek bayangan gelap alasannya yaitu akses infra merah bersahabat tidak peka terhadap sinar baur dan sinar yang dipolarisasikan,
  2. sifat tembusnya kecil terhadap air, dan
  3. kecepatan yang rendah dalam pemotretan.

Infra merah berwarna memiliki keunggulan pada warnanya yang tidak serupa dengan warna aslinya. Dengan warna semu itu banyak objek pada foto ini menjadi gampang dikenali.

 yaitu gambaran suatu objek yang dibentuk dari pesawat udara Pengertian dan klarifikasi Jenis Citra Foto pada Pengindraan Jauh
Perbandingan foto udara warna orisinil dan inframerah berwarna.

Foto inframerah berwarna banyak dipakai dalam bidang:
  1. kemiliteran, untuk mengetahui kondisi suatu hutan, alasannya yaitu tumbuhan tidak akan terpantulkan melainkan objek yang ada disekitarnya;
  2. bidang pertanian dan kehutanan, yaitu untuk mendeteksi atau membedakan tumbuhan yang sehat dan tumbuhan yang terjangkit penyakit;

2. Berdasarkan Arah Sumbu Kamera ke Permukaan Bumi

Berdasarkan arah sumbu kamera ke permukaan bumi, gambaran foto sanggup dibedakan menjadi 2, yaitu foto vertikal (tegak) dan foto condong (miring).
  1. Foto vertikal atau foto tegak (orto photograph), yaitu foto yang dibentuk dengan sumbu kamera tegak lurus terhadap permukaan bumi.
  2. Foto condong atau miring (oblique photograph), yaitu foto yang dibentuk dengan sumbu kamera menyudut terhadap garis tegak lurus ke permukaan bumi. Sudut ini umumnya sebesar 10 derajat atau lebih besar, tetapi jika sudut condongnya masih berkisar antara 1 – 4 derajat, foto yang dihasilkan masih digolongkan sebagai foto vertikal.


Foto condong dibedakan menjadi menjadi dua, sebagai berikut.
  1. Foto agak condong (low oblique photograph), yaitu apabila pada foto tampak cakrawalanya.
  2. Foto sangat condong (high oblique photograph), yaitu apabila cakrawala tidak tergambar pada foto.
 yaitu gambaran suatu objek yang dibentuk dari pesawat udara Pengertian dan klarifikasi Jenis Citra Foto pada Pengindraan Jauh
Perbedaan foto vertikal (A), foto agak condong (B) dan foto sangat condong (C)

3. Berdasarkan Jenis Kamera yang Digunakan

Berdasarkan jenis kamera yang digunakan, gambaran foto sanggup dibedakan menjadi 2, yaitu foto tunggal dan foto jamak.
  1. Foto tunggal, yaitu foto yang dibentuk dengan kamera tunggal. Tiap tempat liputan foto hanya tergambar satu lembar foto.
  2. Foto jamak, yaitu beberapa foto yang dibentuk pada ketika yang sama dan menggambarkan tempat liputan yang sama.

 yaitu gambaran suatu objek yang dibentuk dari pesawat udara Pengertian dan klarifikasi Jenis Citra Foto pada Pengindraan Jauh
Pengambilan gambar dengan foto jamak

4. Berdasarkan Warna yang Digunakan

Berdasarkan warna yang digunakan, gambaran foto dibedakan menjadi dua, yaitu foto berwarna semu dan foto berwarna asli.
  1. Foto berwarna semu (false color) atau foto infra merah berwarna. Pada foto ini warna objek tidak sama dengan warna foto. Misal, pada foto suatu vegetasi berwarna merah sedangkan warna aslinya yaitu hijau.
  2. Foto warna orisinil (true color), yaitu foto pankromatik berwarna. Dalam foto berwarna orisinil lebih gampang penggunaannya alasannya yaitu foto yang tergambar menyerupai dengan objek aslinya.

5. Berdasarkan Wahana yang Digunakan
Berdasarkan wahana yang digunakan, gambaran foto sanggup dibagi menjadi foto udara dan foto satelit.
  1. Foto udara, yaitu foto yang dibentuk dari pesawat/balon udara.
  2. Foto satelit atau foto orbital, yaitu foto yang dibentuk dari satelit.


Demikianlah bahan tentang Jenis Citra Foto pada Pengindraan Jauh ini aku sampaikan, supaya bermanfaat ...

Sumber http://sainsmini.blogspot.com

Kamis, 12 April 2018

Penjelasan Wacana Alat Pengamat Gambaran Pada Pengindraan Jauh

Citra hasil pengindraan jauh sanggup diamati dan dikaji secara visual dengan pembesaran tertentu dengan suatu alat, sebagai berikut.

1. Alat Pengamat Stereoskopik

Alat pengamat stereoskopik ini berupa stereoskop yang sanggup dipakai untuk pengamatan tiga dimensi. Pengamatan dengan alat ini memungkinkan pengamat sanggup melihat relief yang terdapat dalam foto udara, ibarat gunung, lembah, sungai, dan sebagainya. Alat ini intinya terdiri atas lensa atau kombinasi antara lensa, cermin, dan prisma. Stereoskop ada 3 macam yaitu stereoskop lensa, cermin, dan mikroskopik.
  1. Stereoskop lensa, pada ketika ini stereoskop lensa merupakan alat yang banyak dipakai alasannya ialah harganya murah, gampang dibawa, cara kerja, dan perawatannya mudah.
  2. Stereoskop cermin, stereoskop ini dirancang untuk pengamatan stereoskopik bagi pasangan foto stereo yang berukuran baku dengan kawasan pertampakan yang luas.
  3. Stereoskop mikroskopik, disebut setreoskop mikroskopik alasannya ialah sangat besar pembesarannya, sehingga fungsinya ibarat dengan mikroskop. Stereoskop jenis ini dibagi lagi menjadi 2, yaitu stereoskop zoom (pembasarannya sanggup dilakukan berkali-kali) dan interpretoskop (mirip dengan mikroskop).

2. Alat Pengamat Nonstrereoskopik

Alat pengamatan nonstereoskopik sanggup berupa beling pembesar (loupe), meja sinar, dan pengamat optik dan elektronik.

Untuk bahan Geografi lainnya silahkan klik Gambar berikut!

 Citra hasil pengindraan jauh sanggup diamati dan dikaji secara visual dengan pembesaran ter Penjelasan perihal Alat Pengamat Citra pada Pengindraan Jauh

Demikianlah bahan perihal  Alat Pengamat Citra pada Pengindraan Jauh ini saya sampaikan, supaya bermanfaat ...

Sumber http://sainsmini.blogspot.com

Tahap-Tahap Pengenalan Objek Pada Gambaran Hasil Pengindraan Jauh

Pengenalan objek dari hasil pengindraan jauh dimulai dari yang paling gampang ke arah yang lebih sulit. Untuk menginterpretasi citra, terdapat tahapan- tahapan yang harus dilalui, sebagai berikut.

1. Deteksi

Deteksi ialah perjuangan penyadapan data secara global, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Di dalam deteksi, ditentukan ada tidaknya suatu objek. Misalnya objek berupa tumbuhan, bangunan, lapangan, dan sebagainya. Tingkatan warta pada tahap deteksi ini bersifat global.

2. Identifikasi

Identifikasi ialah acara untuk mengenali objek yang tergambar pada gambaran yang sanggup dikenali menurut ciri yang terekam oleh sensor dengan alat stereoskop. Informasi yang diperoleh pada tahapan ini ialah setengah rinci. Pengenalan objek sanggup dilihat dari 2 segi, yaitu dari segi objek dan dari segi gambaran pengindraan jauhnya.
a)Segi Objek
Dari segi objek, yang gampang dikenali ialah benda-benda yang berbentuk antara lain:
  1. memanjang ibarat sungai, jalan, pegunungan, dan sebagainya,
  2. kontranya besar, artinya adanya perbedaan rona antara objek benda dengan benda lain di sekitarnya,
  3. ukuran objeknya besar,
  4. dimulai dari wujud buatan insan yang umumnya lebih teratur ke arah wujud alamiah yang tidak teratur, dan
  5. wujud secara keseluruhannya tidak rumit.
b) Segi Citra
Dari segi citra, pengenalan objek dipengaruhi oleh:
  1. kualitas citra,
  2. jenis citra, dan
  3. skala citra.

3. Pengenalan Akhir (Recognition)

Pengenalan final diartikan sebagai pengerjaan ciri-ciri yang terekam, kemudian disimpulkan objek apa yang terekam. Informasi yang diperoleh pada tahap final biasanya telah rinci. Pada umumnya, dalam tahap final ini memakai asas konvergensi bukti (convergence of evidence), yaitu dengan memakai beberapa unsur yang hampir sama, sehingga lingkupnya menjadi menyempit ke arah satu kesimpulan.

Untuk bahan Geografi lainnya silahkan klik Gambar berikut!

 Pengenalan objek dari hasil pengindraan jauh dimulai dari yang paling gampang ke arah yang  Tahap-Tahap Pengenalan Objek pada Citra Hasil Pengindraan Jauh

Demikianlah bahan tentang Tahap-Tahap Pengenalan Objek pada Citra Hasil Pengindraan Jauh ini aku sampaikan, supaya bermanfaat ...

Sumber http://sainsmini.blogspot.com

Manfaat Gambaran Pengindraan Jauh

Citra pengindraan jauh bisa merekam tempat yang luas dengan menampilkan ketampakan aslinya di permukaan bumi, sehingga gambaran sanggup dimanfaatkan untuk banyak sekali kepentingan, antara lain sebagai berikut.
1. Bidang hidrologi (Landsat, ERS, SPOT) dipakai sebagai:
  1. pemantauan tempat fatwa sungai dan konservasi sungai,
  2. pemantauan luas tempat dan intensitas banjir, dan
  3. pemetaan sungai dan studi sedimentasi sungai.

2. Ilmu-ilmu kebumian (Geologi, Geodesi, dan Geofisika) (Landsat, Geosat, SPOT) dipakai sebagai:
  1. pemetaan permukaan bumi,
  2. memilih struktur geologi,
  3. pemantauan distribusi sumber daya alam,
  4. pemantauan lokasi, kerusakan dan jenis vegetasi hutan,
  5. pemantauan adanya materi tambang antara lain uranium, emas, minyak bumi, batubara, timah, dan kekayaan laut,
  6. pemantauan pencemaran bahari dan lapisan minyak di laut, dan
  7. pemantauan di bidang pertahanan dan bidang militer.

3. Bidang Kelautan
  1. pengamatan fisis laut,
  2. pengamatan pasang surut dan gelombang bahari (tinggi, arah, dan frekuensi),
  3. mencari lokasi upwelling dan distribusi suhu permukaan, dan
  4. studi perubahan pantai, abrasi sedimentasi (Landsat dan SPOT).

4. Bidang Meteorologi
  1. untuk pengamatan iklim suatu tempat melalui pengamatan jenis awan dan kandungan air dan udara,
  2. untuk membantu menganalisis cuaca dan peramalan atau prediksi dengan memilih tempat tekanan tinggi dan tempat tekanan rendah, tempat hujan, serta angin puting-beliung siklon, dan
  3. mengamati sistem atau contoh angin permukaan.

5. Bidang Tata Guna Lahan
Dapat memperlihatkan warta ihwal keadaan lahan, gambaran sanggup dipakai untuk membantu perencanaan tata guna tanah, contohnya untuk pemukiman, perindustrian, areal pertanian, dan areal hutan.

6. Bidang Geografi
Bagi para peneliti, khususnya peneliti bidang geografi, gambaran bisa memperlihatkan data geografi, sehingga memudahkan untuk melihat korelasi antara fenomena yang satu dan fenomena yang lain serta dalam pengambilan suatu keputusan. Selain itu gambaran juga sanggup dipakai untuk menjelaskan contoh keruangan baik secara parsial maupun secara kompleks.

7. Bidang Tata Ruang dan Pemetaan Daerah Bencana
  1. Citra sanggup memberi petunjuk untuk pemetaan tempat musibah secara cepat pada ketika terjadi bencana. Misalnya pemetaan tempat gempa bumi, tempat banjir, tempat yang terkena angin ribut, atau letusan gunung berapi.
  2. Citra merupakan alat yang baik untuk memantau perubahan yang terjadi di suatu daerah, ibarat pembukaan hutan, pemekaran kota, perubahan kualitas lingkungan, dan sebagainya.
  3. Citra juga sanggup dipakai untuk meramalkan keadaan di masa yang akan tiba dan sekaligus untuk mencegah kemungkinan-kemungkinan peristiwa di masa yang akan datang.
Untuk materi Geografi lainnya silahkan klik Gambar berikut!

 Citra pengindraan jauh bisa merekam tempat yang luas dengan menampilkan ketampakan aslin Manfaat Citra Pengindraan Jauh

Demikianlah materi tentang Manfaat Citra Pengindraan Jauh ini saya sampaikan, biar bermanfaat ...

Sumber http://sainsmini.blogspot.com

Rabu, 11 April 2018

Keunggulan Dan Keterbatasan Gambaran Pengindraan Jauh

1. Keunggulan Citra Pengindraan Jauh

Citra memiliki beberapa keunggulan, antara lain sebagai berikut.
  1. Citra sanggup dibentuk secara cepat walaupun untuk tempat yang sulit dijelajahi. Hal ini sangat penting untuk pemetaan suatu daerah. Misal kalau pemetaan dilakukan secara manual memerlukan waktu 50 tahun, dengan gambaran sangat dimungkinkan simpulan dalam waktu satu tahun.
  2. Ketelitian gambaran sanggup diandalkan, khususnya untuk tempat teritorial atau daratan.
  3. Daerah jangkauan gambaran sangat luas.
  4. Pemakaian gambaran sanggup menghemat waktu, tenaga, dan biaya.

2. Keterbatasan Citra Pengindraan Jauh

Keterbatasan utama dari gambaran pengindraan jauh ialah sebagai berikut.
  1. Tidak semua data sanggup disadap. Data yang diperoleh terbatas pada data objek atau tanda-tanda yang tampak pribadi pada citra. Kelompok objek atau tanda-tanda ini mencakup jenis tanah, jenis batuan, air tanah, kualitas perumahan, dan pencemaran air. Objek atau tanda-tanda yang tidak mungkin disadap datanya dari gambaran antara lain migrasi, susunan penduduk, dan produksi padi per hektar.
  2. Ketelitian hasil interpretasi gambaran sangat tergantung pada kejelasan wujud objek atau tanda-tanda pada gambaran dan tergantung pula pada karakteristik yang dipakai untuk menyidiknya.
Untuk bahan Geografi lainnya silahkan klik Gambar berikut!

 Citra sanggup dibentuk secara cepat walaupun untuk tempat yang sulit  dijelajahi Keunggulan dan Keterbatasan Citra Pengindraan Jauh

Demikianlah bahan tentang Keunggulan dan Keterbatasan Citra Pengindraan Jauh ini saya sampaikan, biar bermanfaat ...

Sumber http://sainsmini.blogspot.com

Sejarah Dan Pengertian Sistem Isu Geografi (Sig)

1. Sejarah Singkat SIG

Awal dikenalnya SIG tidak lepas dari adanya kemajuan dalam bidang teknologi terutama komputer. Selama perang dunia kedua pemrosesan data mengalami kemajuan yang pesat terutama untuk memenuhi kebutuhan militer dalam memprediksi trayektori balistik. Pada awal tahun 1960-an perkembangan dalam ilmu komputer semakin pesat dan siap dipakai untuk bidang lain di luar militer. Para jago meteorologi, geologi, dan geofisika mulai memakai komputer dalam pembuatan peta.

Tahun 1963 di Kanada muncul CGIS (Canadian Geographic Information System), dan selanjutnya menjadi SIG pertama di dunia. Dua tahun kemudian di Amerika Serikat beroperasi sistem serupa berjulukan MIDAS yang dipakai untuk memproses data-data sumber daya alam.

2. Pengertian SIG

Pada dasarnya istilah sistem info geografi merupakan adonan dari tiga unsur pokok yaitu sistem, informasi, dan geografi.
  1. Sistem merupakan sekumpulan objek, ide, dan hubungannya dalam mencapai tujuan bersama.
  2. Sistem info merupakan suatu sistem antara insan dan mesin yang terpadu untuk menyajikan info guna mendukung fungsi operasi, manajemen, dan pengambilan keputusan dalam organisasi.
  3. Penggunaan istilah info geografi mengandung pengertian info mengenai tempat-tempat yang terletak di permukaan bumi. Pengetahuan mengenai posisi di mana suatu objek terletak di permukaan bumi dan info mengenai keterangan dan posisi yang terdapat di permukaan bumi.

Sampai ketika ini belum ada definisi baku ihwal SIG. Definisi SIG selalu berkembang, hal ini terlihat dari banyaknya definisi SIG yang muncul. Berikut ini sebagian dari definisi SIG dari para ahli.
  1. Demers (1997), SIG yakni sistem komputer yang dipakai untuk mengumpulkan, memeriksa, mengintegrasikan, dan menganalisis informasi-informasi yang berafiliasi dengan permukaan bumi.
  2. Esri (1990), SIG yakni kumpulan yang terorganisir dari perangkat keras komputer, perangkat lunak, data geografi, dan personil yang dirancang secara efisien untuk memperoleh, menyimpan, meng-update, memanipulasi, menganalisis, dan menampilkan semua bentuk info yang bereferensi geografi.
  3. Rice (2000), SIG yakni sistem komputer yang dipakai untuk memasukkan, menyimpan, memeriksa, mengintegrasikan, memanipulasi, menganalisis, dan menampilkan data-data yang berafiliasi dengan posisi- posisi di permukaan bumi.
  4. Christman (1997), SIG yakni sistem yang terdiri atas perangkat keras, perangkat lunak, data, insan (brain ware), organisasi dan forum yang dipakai untuk mengumpulkan, menyimpan, menganalisis, dan membuatkan informasi-informasi mengenai daerah-daerah di permukaan bumi.
  5. Foote (1995), SIG yakni sistem info yang dirancang untuk bekerja dengan data yang tereferensi secara spasial atau koordinat-koordinat geografi.
  6. f. Purwadhi (1994) mendefinisikan SIG sebagai berikut.
    SIG merupakan suatu sistem yang mengorganisir perangkat keras, perangkat lunak, data, serta sanggup mendayagunakan sistem penyimpanan, pengolahan, maupun analisis data secara simultan sehingga sanggup diperoleh info yang berkaitan dengan aspek keruangan. SIG merupakan menajemen data spasial dan nonspasial yang berbasis komputer dengan tiga karakteristik dasar yaitu memiliki fenomena positif (variabel data nonlokasi) yang berafiliasi dengan topik permasalahan di lokasi bersangkutan, merupakan suatu kejadian di lokasi dan memiliki dimensi waktu.

Dari beberapa pengertian di atas sanggup disimpulkan bahwa SIG merupakan sejenis perangkat lunak yang sanggup dipakai untuk pemasukan, penyimpanan, manipulasi, menampilkan, dan menghasilkan info geografi beserta atribut- atributnya.

Dari definisi tersebut maka SIG memiliki beberapa kemampuan antara lain:
  1. memasukkan dan mengumpulkan data geografi,
  2. mengintegrasikan data geografi,
  3. menyidik dan meng-update data geografi,
  4. menyimpan dan memanggil kembali data geografi,
  5. mempresentasikan dan menampilkan data geografi,
  6. memanipulasi data geografi,
  7. menganalisis data geografi,
  8. menghasilkan data geografi dalam bentuk peta tematik, tabel, grafik, laporan baik dalam bentuk hard copy maupun soft copy,
  9. memperkecil kesalahan manusia,
  10. sanggup mengoverlay (tumpang susun) peta untuk aplikasi aneka macam disiplin ilmu,
  11. memperbarui data dengan memerhatikan perubahan lingkungan, data statistik, dan area yang tampak, dan
  12. sebagai data base wilayah.


Untuk materi Geografi lainnya silahkan klik Gambar berikut!

 Awal dikenalnya SIG tidak lepas dari adanya kemajuan dalam bidang teknologi terutama komp Sejarah dan Pengertian Sistem Informasi Geografi (SIG)

Demikianlah materi Sejarah dan Pengertian Sistem Informasi Geografi (SIG) ini saya sampaikan, Semoga Bermanfaat ... 

Sumber http://sainsmini.blogspot.com