MODEL-MODEL MEMORI DAN MEMORI
JANGKA PENDEK DAN PANJANG
Tugas Penelitian Mahasiswa Ini untuk Memenuhi
Persyaratan Perkuliahan Mata kuliah
Pengantar Psikologi Kognitif
Pengantar Psikologi Kognitif

Kelompok 4:
Ichsan Chintia Ratu 168600088
Siti Resti Tri Ramahdani 168600163
Yosi Safera 168600020
Widya Wulandari 168600074
Mei Dwi Zahrani 168600034
Missy Sintia 168600178
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MEDAN AREA
MEDAN
2018
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rezeki dan kekuatan kepada kami sehingga kami mempunyai kesempatan untuk menyelesaikan pembuatan makalah yang dibuat untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Psikologi Kognitif. Adapun materi makalah yang kami buat adalah mengenai “Model-model Memori dan Memori-memori Jangka Pendek dan Panjang”.
Kami menyadari dan meyakini bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Masih banyak kekurangan ataupun kesalahan yang kami sadari maupun tidak kami sadari. Oleh karena itu kami mengharapkan saran dan kritik dari makalah ini, agar dimasa yang akan datang kami bisa menyusun makalah yang lebih baik lagi namun begitu, meskipun makalah kami jauh dari kata sempurna kami berharap agar makalah kami sedikit banyak dapat bermanfaat bagi yang membacanya.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung dalam pembuatan makalah ini. Demikian sedikit kata pengantar dari kami, atas perhatian dari pembaca sekalian kami mengucapkan terima kasih.
Medan, 10 Maret 2018
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar.................................................................................................. ii
Daftar Isi.......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan......................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Memori (Ingatan)...................................................................... 2
2.2 Faktor Yang Mempengaruhi Memori.......................................................... 3
2.3 Jenis – jenis Memori.................................................................................... 3
2.4 Model – model Memori Jangka Pendek dan Model Memori Ganda.......... 5
2.5 Model – model Memori Ganda................................................................... 6
2.5.1 James................................................................................................. 6
2.5.2 Waugh dan Norman.......................................................................... 7
2.5.3 Atkinson Dan Shiffrin...................................................................... 7
2.6 Model Memori Kerja................................................................................. 10
2.7 Model – model Memori Jangka Panjang................................................... 13
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan............................................................................................... 19
3.2 Saran......................................................................................................... 19
Daftar Pustaka................................................................................................ 20
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan sehari-hari berbagai aktifitas yang kita lakukan tidak terlepas dari proses mengingat. Apalagi dalam pembelajaran, rasanya takkan ada pembelajaran tanpa ingatan. Begitu pentingnya ingatan dalam proses pembelajaran sehingga apabila kita ingin berhasil dalam pembelajaran kita harus dapat mengingat dengan baik.
Dengan adanya ingatan, akan mempermudah berbagai aktifitas kita sehingga mewujudkan suatu kesinambungan dari informasi apa yang pernah kita terima dan menyampaikannya kembali informasi tersebut. Tanpa ingatan kita tidak dapat mengenali diri kita sendiri, karena pemahaman tentang diri sendiri tergantung dengan adanya ingatan.
Ingatan berasal dari pengalaman yang telah kita alami. Kejadian yang kita alami merupakan suatu hal baru yang tidak semuanya akan diproses didalam ingatan, beberapa kejadian yang diproses dalam ingatan suatu saat bisa dimunculkan kembali sehingga menimbulkan ketertarikan dengan kejadian yang dialami.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan, adapun rumusan masalah tentang memori tersebut yaitu:
a. Apakah yang dimaksud dengan memori?
b. Apa saja faktor yang mempengaruhi memori?
c. Apa saja Jenis-jenis dari memori?
d. Apa saja model-model memori jangka pendek?
e. Apa saja model-model memori jangka panjang?
1.3 Tujuan Penulisan
a. Dapat Mengetahui dan memahami tentang memori.
b. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi memori.
c. Untuk mengetahui jenis-jenis memori.
d. Untuk mengetahui model-model jangka pendek.
e. Untuk mengetahui model-model jangka panjang.
1.4
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Memori
Memori merupakan kemampuan kita memiliki dan mengambil kembali suatu informasi dan struktur yang mendukung kemampuan ini. Ilmuwan yang pertama sekali meneliti memori adalah SIR FREDERIC BARTLEET (1932), seorang psikolog inggris. Ia meminta sejumlah orang membaca suatu cerita panjang dan aneh yang berasal dari kebudayaan lain dan kemudian menceritakannya kembali. Pada saat relawan tersebut disuruh menceritakan kembali kisah tersebut, mereka melakukan kesalahan yang menarik, yakni:
1. Seringkali menghilangkan atau mengubah detail cerita yang menurut mereka tidak masuk akal
2. Menambah detail yang lain yang menurut mereka lebih koheren
3. Terkadang menambah pesan moral menurut versi mereka sendiri.
Melihat hasil penelitian yang dia lakukan maka BARTLEET menyimpulkan bahwa memori merupakan proses rekonstruksi yang sangat besar. Kita juga dapat mereproduksi beberapa jenis informasi sederhana namun saat kita mengingat informasi yang sangat kompleks, kita cenderung merubah informasi tersebut menjadi masuk akal, berdasarkan pengetahuan yang kita miliki.
Ada fenomena yang disebut dengan SOURCE CONFUSIONS (kebingungan asal-muasal). Contohnya: apabila seseorang meminta kita untuk menggambarkan kembali salah satu pesta ulang tahun kita, mungkin saja kita mengingat peristiwa kita sendiri, tetapi kita bisa juga menggambarkan dari foto keluarga, rekaman video atau dari perayaan ulang tahun orang lain. Kita sering mengambil potongan-potongan tersebut, menyatukannya dan mengintegrasikannya dan akhirnya kita tidak dapat lagi membedakan antara ingatan kita yang sesungguhnya dengan informasi-informasi yang kita dapatkan dari sumber lainnya.
Selain itu, ROGER BROWN dan JAMES KULIK (1977), memberikan suatu istilah flashbulb memories (memori bola lampu). Kemampuan kita mengingat peristiwa-peristiwa khusus secara detail dan emosi yang jelas, sebagaimana saat peristiwa sesungguhnya terjadi. Akan tetapi perlu diketahui flashbulb memories tidak selalu lengkap dan akurat dalam merekam masa lalu. Mengingat adalah proses aktif yang tidak hanya melibatkan proses penyimpanan informasi, tetapi juga melibatkan proses menggunakan dua atau tiga informasi sekaligus untuk merekonstruksi peristiwa pada masa lalu.
Konfabulasi, merupakan kebingungan akan suatu peristiwa yang terjadi pada diri orang lain dengan peristiwa yang terjadi pada diri anda sendiri atau keyakinan bahwa anda mengingat suatu peristiwa, yang sesungguhnya tidak pernah terjadi. Konfabulasi sering terjadi pada situasi-situasi khusus, antara lain:
1. Pada saat kita sering memikirkan, mendengarkan, atau menceritakan kepada orang lain suatu kejadian yang imajiner.
2. Gambaran mengenai suatu peristiwa mengandung banyak sekali detail yang membuat peristiwa tersebut ternyata nyata.
3. Peristiwa tersebut mudah dibayangkan.
Sifat rekonstruktif alami yang terdapat pada memori memungkinkan pikiran kita bekerja secara efesien. Adapaun sifat rekonstruktif antara lain:
1. Menyimpan bagian-bagian yang esensial dari suatu pengalaman
2. Menggunakan pengetahuan kita mengenai dunia untuk melengkapi bagian-bagian tersebut disaat kita butuhkan
3. Membuat memori kita rentan terhadap sugesti.
2.2 Faktor Yang Mempengaruhi Memori
Telah disebutkan sebelumnya bahwa diduga ingatan yang telah masuk kedalam ingatan jangka panjang akan bertahan lama bahkan selamanya, dan manusia memiliki kemampuan untuk mengenang atau menggali kembali ingatan tersebut saat dibutuhkan. Namun tidak berarti bahwa semua yang pernah dialami itu akan masuk dan tinggal seluruhnya dalam ingatan. Ada faktor-faktor yang mempengaruhi daya kerja ingatan, antara lain:
a. Faktor usia
Ingatan yang paling tajam pada diri manusia kurang lebih pada masa kanak-kanak (10-14 tahun) dan ini berlaku untuk ingatan yang bersifat mekanis yakni ingatan untuk kesan-kean pengindraan. Sesudah usia tersebut kemampuan untuk mencamkan dalam ingatan juga dapat dipertinggi akan tetapi untuk kessan-kesan yang mengandung pengertian (daya ingatatan logis) dan ini berlangsung antara usia 15-50 tahun.
b. Kondisi fisik
Misalnya kelelahan, sakit dan kurang tidur dapat menurunkan daya kerja atau prestasi ingatan.
c. Faktor emosi
Dalam hal ini seseorang akan mengingat sesuatu lebih baik, apabila peristiwa-peristiwa itu menyentuh perasaan-perasaan, sedangkan kejadian yang tidak menyentuh emosi seringkali diabaikan.
d. Minat dan motivasi
Dalam pengalaman sehari-hari, kita sering mengamati remaja yang tidak lupa suatu lirik lagu walaupun dalam bahasa asing. Orang-orang yang sering berpergian, mempunyai ingatan tentang ilmu bumi yang jauh lebih baik daripada yang tidak pernah kemana-mana. Artinya disini seseorang yang mengingat segala sesuatu tentang hal yang disukainya jauh lebih baik dari pada hal yang tidak disukainya. Jelaslah minat sangat meningkatkan motivasi dan pada giliranya akan meningkatkan daya ingat. Menurut Kurt Lewin (1890-1947), seorang psikolog jerman, minta dan motivasi berarti konsentrassi energi (forces) pada sektor (region) tertentu dalam kesadaran. Konsentrasi energi inilah yang menyebabkan suatu hal tidak begitu saja dilupakan.
2.3 Jenis-jenis Memori
Menurut Richard Atkinson dan Richard Shiffrin, ingatan disimpan dalam tiga sistem penyimpanan informasi, yaitu:
a. Memory sensoris
Memori sensoris adalah ingatan yang berkaitan dengan penyimpanan informasi sementara yang dibawa oleh pancaindera. Setiap pancaindera memiliki satu macam memori sensoris. Memori Sensoris adalah informasi sensoris yang masih tersisa sesaat setelah stimulus diambil. Jadi, di dalam diri manusia ada beberapa macam sensori-motorik, yaitu sensori-motorik visual (penglihatan), sensori-motorik audio (pendengaran), dan sebagainya. Memori sensorik cukup pendek, dan biasanya akan menghilang segera setelah apa yang kita rasakan berakhir. Sebagai contoh, ketika anda melihat. Kita melihat ratusan hal ketika berjalan selama beberapa menit. Meskipun perhatian tertuju oleh sesuatu yang anda lihat, itu segera terlupakan oleh sesuatu yang lain yang menarik perhatian anda di antara sekian banyak yang ditangkap indera penglihatan. Sebenarnya memori sensoris berkapasitas besar untuk menyimpan informasi, akan tetapi yang disimpan tersebut cepat sekali menghilang, dikatakan bahwa informasi tersebut akan menghilang setelah sepersepuluh detik, lalu akan menghilang sama sekali setelah lewat dari satu detik. Keberadaan memori sensoris mempunyai peran yang penting dalam hidup manusia. Orang harus menaruh perhatian pada suatu informasi bila informasi itu harus diingat. Dengan begitu ada proses seleksi dari kesadaran, mana informasi yang diperlukan dan mana yang tidak.
b. Memori jangka pendek
Ingatan jangka pendek adalah suatu proses penyimpanan memori sementara, artinya informasi yang disimpan hanya dipertahankan selama informasi tersebut masih dibutuhkan. Ingatan jangka pendek adalah tempat kita menyimpan ingatan yang baru saja kita pikirkan. Ingatan yang masuk dalam memori sensoris diteruskan kepada ingatan jangka pendek. Ingatan jangka pendek berlangsung sedikit lebih lama dari memori sensoris, selama anda menaruh perhatian pada sesuatu, anda dapat mengingatnya dalam ingatan jangka pendek.
Dari ingatan jangka pendek ini, ada sebagian materi yang hilang, sebagian lagi diteruskan ke dalam ingatan jangka panjang. Jika kita mengingat kembali akan suatu informasi, informasi dari ingatan jangka panjang tadi akan dikembalikan ke ingatan jangka pendek. Misal, pada nomor telepon yang telah anda ulang terus sampai anda bisa menuliskannya, dan nomor tersebut akan tetap tersimpan dalam memori anda selama anda aktif memikirkannya. Jika anda berhenti memberikan perhatian pada itu, maka akan terhapus dalam waktu 10-20 detik. Dalam rangka untuk mengingat sesuatu berikutnya, otak mentransfernya ke memori jangka panjang. Proses mengingat nomor telepon, pada kenyataannya, suatu cara untuk memindahkan nomor dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang.
Jumlah informasi yang bisa disimpan dalam memori jangka pendek sangat terbatas. Hanya lima hingga sembilan informasi saja yang dapat berada dalam memori jangka pendek sekaligus. Setiap kali anda memberikan perhatian ke informasi baru yang berasal dari memori sensorik, Anda harus mendorong keluar sesuatu yang telah anda perhatikan sebelumnya. Misalnya, jika ada sesuatu yang mengganggu konsentrasi anda ketika berlatih mengulang nomor telepon sebelum informasi nomor tersebut mencapai ke memori jangka panjang, maka informasi akan terlempar keluar dan anda harus melihat dan mengingat kembali. Ingatan jangka pendek bukan hanya sebuah tempat penyimpanan ingatan sementara, tetapi juga lokasi berpikir secara aktif, tempat menyaring, memilah, dan menggabungkan informasi lama dengan informasi yang baru, lalu mengambil keputusan. Proses ini disebut penemuan mental. Penemuan mental merupakan salah satu fungsi terpenting dalam ingatan jangka pendek. Misalnya, bayangkan sebuah segitiga, lingkaran, dan empat persegi panjang. Gabungkan ketiganya, gambarlah objek yang anda ciptakan tersebut. Kini, secara mental anda telah menciptakan objek baru yang meungkin menyerupai atau tidak menyerupai objek yang anda kenal. Proses kreatif ini merupakan versi sederhana seorang seniman atau musisi dalam menciptakan karyanya.
c. Memori jangka panjang
Ingatan jangka panjang adalah suatu proses memori atau ingatan yang bersifat permanen, artinya informasi yang disimpan sanggup bertahan dalam waktu yang sangat panjang. Kapasitas yang dimiliki ingatan jangka panjang ini tidak terbatas. Memori jangka panjang adalah gudangnya informasi yang dimiliki oleh manusia. Ingatan jangka panjang berisi informasi dalam kondisi psikologis masa lampau, yaitu semua informasi yang telah disimpan, tetapi saat ini tidak sedang dipikirkan.
Proses masuknya informasi ke dalam ingatan jangka panjang tetap melalui tahap memori sensoris. Pada tahap ini informasi dari luar yang diterima oleh indera diubah menjadi impuls-impuls neural sesuai dengan masing-masing fungsi indera, kemudian impuls-impuls neural yang mengandung informasi ini diteruskan ke ingatan jangka pendek. Setelah informasi masuk ke dalam ingatan jangka pendek, di seleksi sedemikian rupa mana yang dianggap penting dan tidak, kemudian diteruskan ke ingatan jangka panjang. Informasi yang disimpan dalam ingatan jangka panjang diduga dapat bertahan dalam waktu yang panjang bahkan selamanya. Sebelum masuk ke ingatan jangka panjang, informasi yang telah disaring pada ingatan jangka pendek, perlu dilakukan proses semantic atau imagery coding. Dalam proses ini arti dari informasi dianalisis lebih jauh lagi.
Tujuan sebuah informasi dimasukkan ke dalam memori jangka panjang adalah untuk Anda ingat selamanya. Hebatnya, ingatan yang telah tersimpan dalam ingatan jangka panjang bisa anda munculkan kembali saat Anda menginginkannya. Kemampuan mengenang atau menarik ingatan kembali ini disebut recall memory. Ketika seseorang yang anda sayangi pergi dari sisi anda, mungkin anda akan mengingat kembali kenangan-kenangan yang tersimpan dalam memori jangka panjang Anda. Anda dapat mengingat dengan sangat detil bahkan tanpa Anda sadari bahwa Anda telah menyimpan informasi tersebut. Anda mungkin mengenang tempat di mana Anda menghabiskan waktu dengan orang tersebut dengan mengingat pemandangan, bau dan bahkan perasaan dengan akurasi yang mengejutkan.
2.4 Model-model Memori Jangka Pendek
Memori adalah salah satu elemen pokok dalam proses kognitif. Memori dapat kita artikan sebagai tempat penyimpanan. Terdapat beberapa model memori. Salah satunya adalah memori ganda. Model memori ganda memiliki beberapa jenis yaitu memori ganda James, memori ganda Waugh dan Norman, dan memori ganda Atkinson dan Shiffrin. Sedangkan memori jangka pendek adalah memori primer yang ada di dalam otak kita.
Didalam otak manusia ada memori yang dapat kita sebut sebagai memori jangka pendek atau yang dikenal dengan Short Term Memory. STM memiliki kapasitas lebih kecil dari pada memori jangka panjang (LTM Long Term Memory). Akan tetapi STM memiliki peran penting dalam Pemrosesan memori. Kapasitas STM yang kecil menjadikan STM juga diimbangi oleh kapasitas pemrosesan yang terbatas. Kapasitas dari STM ada tujuh unit saja namun tujuh unit tersebut dapat dikembangkan dengan tujuh kata yang bermakna yang disebut dengan chunking, yaitu suatu proses yang penting karena menjelaskan fenomena STM yang mampu memproses informasi dalam jumlah besar tanpa ada kemacetan.Kapasitas STM sangat terbatas sehingga rentan terhadap hilangnya atau memudarnya informasi dengan cepat. Hal ini berdasarkan penelitian Lloyd Peterson dan Margaret Peterson, penelitian keduanya dinamakan dengan teknik Brown Peterson.
Berdasarkan penelitian itu pula keberadaan memori jangka pendek dapat dirangkum. Pertama pengamatan sehari-hari menunjukkan hal diingat sesaat dan hal lainnya diingat dalam jangka panjang. Kedua, pengambilan sejumlah informasi dalam memori adalah karakteristik kinerja memori jangka pendek sedangkan pengambilan informasi yang lain adalah kinerja memori jangka panjang. Ketiga, kinerja memori jangka pendek dapat mengalami hambatan sedangkan memori jangka panjang tampak tetap stabil.
Penyandian informasi dalam STM berupa penyandian auditorik, visual, dan semantik. Penyandian auditorium misalnya anda ditanyai berapa saudara kandung anda? Anda menjawab “tiga”. Anda menjawab tiga karena informasi sudah tersedia dalam bentuk auditorik. Penyandian visual misalnya anda ditanyai jumlah jendela dalam suatu ruangan. Anda akan menghitung satu persatu dengan memandang setiap jendela. Sehingga anda dapat menjawab jumlah jendela suatu ruangan dengan penyandian visual di STM. Dalam penyandian semantik para peneliti bidang ini melakukan eksperimen berdasarkan PI, yaitu fenomena ketika kemampuan mengingat dihambat oleh adanya hubungan semantik antara daftar yang sedang diingat dengan daftar sebelumnya.
2.5 Model-model Memori Ganda
2.5.1 James
James adalah minat awal terhadap model memori ganda yang berkembang pada tahun 1800-an. James yang merupakan tokoh awalnya membedakan memori menjadi dua jenis, memori langsung yang disebut memori primer dan memori tidak langsung yang disebut sebagai memori sekunder. Memori memiliki sifat dualistik yaitu sebagai pengantara dan permanen. James menyusun teorinya berdasarkan introspeksi. James berpendapat bahwa memori primer mirip dengan apa yang telah ketahui tentang memori jangka pendek dan memori sekunder adalah memori jangka panjang. Memori primer bekerja pada saat sadar dan selalu menyediakan tayangan peristiwa. Sedangkan memori sekunder James mengasumsikan sebagai tempat yang gelap yang menyimpan informasi yang pernah dialami dan tidak akses lagi. Selain itu juga didefinisikan sebagai jalur yang terpahat dalam jaringan otak manusia.
2.5.2 Waugh dan Norman
Keduanya meminjam model James namun keduanya mengembangkannya. Keduanya mengkuantifikasikan karakteristik memori primer. Memori jangka pendek memiliki kapasitas terbatas. Sehingga hilangnya informasi dapat terjadi dua kemungkinan pertama seiring berlalunya waktu (decay) dan kedua pola yang lama tertindihi atau ada intervensi pola yang baru. Berdasarkan eksperimen yang dilakukan Waugh dan Norman, mereka berdua mengambil kesimpulan bahwa hilangnya informasi lebih besar dikarenakan oleh intervensi oleh informasi baru dari pada hilangnya informasi dikarenakan oleh seiring berlalunya waktu.
2.5.3 Atkinson dan Shiffrin
Dasar teori mereka berdua adalah meminjam teori dualistik dari Waugh dan Norman. Dalam model ini memori memiliki tiga area penyimpanan, yaitu register sensorik, penyimpanan jangka pendek dan penyimpanan jangka panjang. Atkinson dan Shiffrin membedakan memori dengan penyimpanan, memori untuk mengacu pada data-data yang disimpan sedangkan penyimpanan mengacu pada komponen struktural yang berisi informasi. Dalam penyimpanan jangka pendek informasi akan diteruskan pada penyimpanan jangka panjang, dan menahan informasi lain untuk menetap beberapa menit dan kemudian hilang. Sehingga penyimpanan jangka pendek merupakan sistem kerja. Sedangkan penyimpanan jangka panjang sebagai pengawas stimuli dalam register sensorik (mengendalikan informasi yang masuk ke penyimpanan jangka pendek) dan menyediakan ruang bagi informasi dalam penyimpanan jangka panjang.
Jika kita membahas tentang memori, kita akan menganggap memori adalah tempat yang luas untuk menyimpan suatu data yang dapat dimunculkan kembali ketika kita menginginkan atau ketika kita membutuhkannya. Dalam model memori dalam keilmuan memori seperti yang digambarkan tersebut merupakan memori jangka panjang (LTM : Long-term-memory), dan merupakan salah satu macam memori kita. Selain LTM kita mempunyai STM yang memiliki kapasitas yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan LTM. Meskipun STM memiliki kapasitas lebih kecil tapi ia memiliki peran penting dalam pemrosesan informasi dalam memori. STM mempunyai karakteristik lain yaitu kapasitas penyimpanannya yang terbatas diimbangi oleh kapasitas pemrosesan yang juga terbatas, dan bukan hanya itu, terdapat pula pertukaran (trade-off) konstan antara kapasitas penyimpanan dan kemampuan pemrosesan. (Robert L. Solso & Otto H. Maclin, 2007)
Struktur penyimpanan | Proses-proses | Penyebab kegagalan mengingat | |||
Kode | Kapasitas | Jangka Waktu | Pengambilan | ||
“Penyimpanan” sensorik | Fitur-fitur sensorik | 12-20 item hingga hampir tak terbatas | 250 milidetik-4 detik | Utuh, asalkan terdapat isyarat (cue) yang tepat | Masking, decay |
Memori jangka pendek | Akustik, visual, semantik, fitur-fitur sensorik diidentifikasi dan dinamai | 7±2 item | Sekitar 12 detik lebih lama dengan pengulangan | Utuh,asalkan setiap item diambil setiap 25 milidetik | Displacement, interference, decay |
Atkinson dan Shiffrin berpendapat bahwa memori jangka pendek (STM-Short Term Memory) adalah bagian di mana pemprosesan seperti aritmatika mental dilakukan. Jika informasi bertahan di STM dalam waktu cukup lama, maka informasi tersebut akan memasuki memori jangka panjang (LTM- Long Term Memory). LTM memiliki kapasitas dan durasi besar penyimpan informasi untuk penarikan di kemudian hari. Meskipun STM memiliki kapasitas yang jauh lebih kecil dibandingkan LTM, STM memiliki peranan penting dalam pemrosesan memori. Suatu karakteristik lain pada STM adalah kapasitas penyimpanannya yang terbatas diimbangi oleh kapasitas pemrosesan yang juga terbatas, dan bukan hanya itu, terdapat pula pertukaran (Trade Off) konstan antara kapasitas penyimpanan dan kemampuan pemrosesan. Faktor-faktor yang mempengaruhi memori jangka pendek, yaitu: Efek posisi serial (The Serial Position Effect). Sejumlah item-item atau objek yang disajikan secara berurutan akan mempengaruhi ingatan seseorang. Item-item atau objek-objek yang berada pada posisi atau urutan bagian awal (depan) dan juga akhir (belakang) akan cenderung diingat lebih baik daripada item-item atau objek-objek yang berada pada urutan di tengah. Sebab informasi atau item-item yang terletak di bagian awal atau depan akan lebih dulu memasuki ingatan jangka pendek sehingga memungkinkan dilakukan pengulangan di dalam pikiran secara memadai untuk kemudian dipindahkan ke dalam ingatan jangka panjang. Bagi informasi yang terletak di tengah urutan, ketika memasuki ingatan jangka pendek bersamaan waktunya dengan proses pengulangan informasi di bagian depan, sehingga hanya sedikit kapasitas bagi pengulangan kembali informasi yang terletak di tengah. Dengan demikian informasi yang terletak di tengah urutan belum sampai dipindahkan ke ingatan jangka panjang. Sementara itu, informasi yang terletak di bagian akhir cenderung diingat lebih baik, sebab informasinya masih berada pada ingatan jangka pendek pada waktu di recall. Pengaruh informasi yang terletak pada daftar urutan awal penyajian terhadap kuatnya ingatan disebut primacy effects. Sementara itu, pengaruh informasi yang terletak pada daftar urutan terakhir penyajian terhadap kuatnya ingatan disebut recency effects. Memori jangka pendek menyimpan informasi melalui suara atau bunyi sementara memori janka panjang menyimpan informasi melalui bahasa atau makna.
a) Dukungan neurosains kognitif
Penemuan-penemuan neurofisiologis menunjukkan bahwa kedua penyimpanan memori yang berbeda tersebut memiliki letak tertentu dalam struktur otak manusia.
Studi-studi neurofisiologis tersebut melibatkan pasien-pasien klinis yang mengalami sejenis trauma fisik atau cedera otak. Misalnya kasus K.F yang diteliti oleh Warrington dan Shallice pada tahun 1969, K.F memilki LTM yang berfungsi secara normal, namun ia mengalami kesulitan besar mengingat serangkaian angka. Dalam kasus K.F, K.F mengalami gangguan STM namun bukan LTM.
Memori jangka pendek (Short Term Memory) atau working memory adalah suatu proses penyimpanan memori sementara, artinya informasi yang disimpan hanya dipertahankan selama memori tersebut masih dibutuhkan.
1. Encoding dalam memori jangka pendek
Mula-mula akan berlangsung proses encoding seperti memori sensoris, akan tetapi informasi yang telah diterima oleh otak kemudian dikenal oleh suatu proses yang disebut control processes, yaitu suatu proses yang mengatur laju dan mengalirnya informasi.
2. Storage dalam memori jangka pendek
Kapasitas dalam memori jangka pendek sangat terbatas untuk menyimpan sejumlah informasi dalam jangka waktu tertentu. Kapasitas itu dapat dilihat dengan percobaan yang disebut dengan memory span task.
3. Retrieval dalam memori jangka pendek
Kapasitas memori jangka pendek sangat terbatas. Oleh karena itu proses mengingat dalam memori jangka pendek tidak membutuhkan waktu yang lama. Ada dua cara mengingat dalam memori jangka pendek, yaitu:
1) Parallel Search
2) Serial Search
Memori dapat di kategorikan sebagai STM, LTM dan memori kerja. Setiap memori memori tersebut memiliki karateristik yang bebeda-beda. Kapsitas memoi jangka pendek terbatas pada tujuh item namun kepadatan atau jumlah informasi per item dapat ditingkatkan dengan chunking (sepeti menggabungkan sejumlah huruf menjadi huruf menjadi kata-kata yang bermakna). Posedur chuking pada memori jangka pendek memerlukan adanya pengaksesan informasi dari memori jangka panjang. Penyandingan informasi pada memori jangka pendek setidaknya melibatkan sandi visual, akustik, dan semantic. Bukti bahwa mengidentifikasi bahwa penyandian visual tejadi sebelum penyandian akustik dan semantik. Pengambilan memori jangka pendek dalam kecepatan tinggi tampaknya bekeja secara menyeluruh (exhaustive) alih-alih bekerja secara self-terminating (berhenti bekeja ketika menemukan informasi lagi yang dipelukan. Memori tampaknya disimpan secara lokal (tempat-tempat tetentu) dan secara general (tidak ada tempat khusus untuk memori tetentu).
2.6 Model Memori Kerja
Memori kerja (working memory) didefinisikan secara konsepsual sebagaisuatu tipe meja kerja (workbench) yang secara konstan mengubah, mongkombinasikan, dan memperbarui informasi baru dan lama. (Robert L. Solso & Otto H. Maclin, 2007) model memori kerja menyanggah pandangan bahwa STM hanyalah sekedar suatu “kotak” di kepala semacam unit pemrosesan sederhana tempat informasi dikirim ke LTM, atau hilang.
Menurut Beddeley beranggapan bahwa kita mempunyai putaran fonologis (phonoligical loop) yang berisi penyimpanan fonologis dan proses artikulatoris, yang memampukan kita mengingat informasi sebanyak yang kita dapat kita ulangi (rehearse) dalam durasi terbatas.
Model memori kerja (WM-Working Memory) yang dikembangkan Baddeley dan Hitch (1974) merupakan upaya untuk meniru proses-proses yang bekerja dalam STM. Oleh karena itu, ini merupakan alternatif bagi peyimpanan jangka pendek yang dikemukakan oleh Atkinson dan Shiffrin. Memori kerja didefenisikan secara konseptual sebagai suatu tipe meja kerja (Workbench) yang secara konstan mengubah, mengkombinasikan, dan memperbaru informasi baru dan lama. Ada tiga komponen utama dalam memori kerja, yaitu:
1. Pengulangan fonologis
Pengulangan fonologis (Artikulatori) menyimpan bunyi-bunyi wicara dalam jumlah terbatas untuk kurun waktu singkat. Pengulangan fonologis terdiri dari dua komponen, yaitu penyimpanan fonologis pasif dan proses pengendalian artikulatori atau subvokal yang membantu latihan mental.
2. Papan sketsa visuospasial
Papan sketsa visuospasial (memori kerja visuospasial) adalah versi visual pengulangan fonologis, memyimpan untuk sementara dan memanipulasi informasi visual dan spasial dengan cara yang sama seperti pengulangan fonologis dalam wicara.
3. Pelaksana pusat
Pelaksana pusat mengatur sumber daya atensional ke subsistem-subsistem lain dalam WM, serta bertanggung jawab atas proses-proses berpikir tingkat tinggiyang digunakan dalam penalaran dan pemahaman bahasa. Pelaksana pusat hanya memiliki kapasitas atensional terbatas dan tidak memiliki kapasitas penyimpanan (penyimpanan terletak di dalam cabang sistem-sistem budak dan LTM) jika suatu tugas terlalu menuntut maka sumber daya-sumber daya pelaksana pusat akan habis dan mengakibatkan penurunan kinerja tugas. Jadi pelaksana pusat adalah perantara antara sistem-sistem budak dan LTM, fokus dan mengalihkan perhatian dalam tugas-tugas, serta mengaktivasi representasi-representasi dalam LTM (Logie & Duff, 1996).
Kemudian pada tahun 2000, Baddeley menambahkan satu komponen lagi dalam model memori kerja, yaitu penyangga episodik. Penyangga episodik bertindak sebagai alat penghubung antara sistem-sistem budak lain dan LTM. Peyangga episodik juga sebagai tempat penyimpanan sementara di mana informasi dari sejumlah sumber digabungkan menjadi suatu kesatuan utuh yang dapat ditarik dan digunakan sebagai suatu ruang percontohan untuk membantu dalam belajar.
a) Kapasitas STM
Seperti data yang sering kita gunakan untuk menyimpan atau memindah file dari sebuah kimputer. Sebagaimana dengan memori manusia, mempunyai kapasitas batas maksimal atau batas terima. Menurut beberpa penelitian STM memiliki kemampuan menangkap objek hanya pada tujuh item. Namun kepadatannya (density) atau jumlah informasi per item dapat ditingkatkan dengan chunking (seperti menggabungkan sejumlah huruf menjadi kata-kata yang bermakna). Karena kita tidak pernah tau kapan kita kan mendapatkan musibah dalam penjelasan berikut mengatakan sebuah penelitian terhadap pasien mengalami luka (lesions) pada lobus temporal di hipokampus menunjukkan bahwa struktur-struktur tersebut berperan dalam penyimpanan memosi jangka panjang. Lloyd dan Margaret Peterson adalah para peneliti yang mempelajari durasi STM, namun Miller lah yang dalam karyanya yang berwawasan mempelajari kapasitas STM. Miller menyimpulkan bahwa STM memuat tujuh unit. Menurutnya, catatan resmi paling awal tentang keterbatasan ditemukan pada pengamatan Sir William Hamilton, seorang filsuf abad ke 19, yang mengatakan “Jikalau anda melemparkan segemgam kelereng ke lantai, anda paling-paling hanya mampu mengamati secara sekaligus hanya enam kelereng tau paling banyak tujuh kelereng tanpa rasa bingung”. Dengan demikian Miller menyusun hipotesis bahwa kapasitas kita untuk memproses informasi memiliki batas sekitar tujuh unit. Dalam suatu penelitian yang dilakukan para ahli, menghadirkan beberapa partisipan untuk melakukan suatu tes yang menunjukkan kapasitas dari STM. Seorang penguji membacakan serangkaian angka tanpa urutan khusus dan meminta para partisipan untuk menuliskan angka-angka tersebut setelah ia usai berbicara. Rata-rata partisipan mengingat tujuh angka. Berdasarkan laporan tersebut serta berdasarkan observasi dan eksperimen lain, seorang ahli bernama Miller menyususn sebuah hipotesis bahwa kapasitas kita untuk memperoses informasi memiliki batas sekitar tujuh unit. Dalam hipotesisinya, keterbatasan-keterbatasan tersebut diakibatkan oleh adanya sejumlah mekanisme yang bersifat mendasar dan umum. Mekanisme inilah yang disebut dengan STM.
b) Penyandian Informasi dalam STM
Informasi yang tersimpan dalam STM dapat berupa informasi auditorik, visual, atau sematik tergantung jenis informasi atau jenis tugas yang dialami seseorang.
1. Sandi auditorik
STM nampaknya beroperasi menggunakan sandi auditorik, bahkan sekalipun informasi tersebut dihasilkan dari sandi non-auditorik seperti stimulus visual. Misalnya ketika anda ditanya tentang berapa jumlah jendela di rumah anda, anda memang menggunakan sandi visual untuk menghasilkan informasi yang dibutuhkan, namun anda menghitung dan melaporkan dan melaporkan jawaban dalam sandi auditorik. Conrad menemukan bahwa kekeliriuan dalam-kekeliruan dalam STM bersumber dari kekeliruan auditorik bukan kekeliruan visual. Dalam ekperimennya, Conrad menanyangkan huruf-huruf yang bunyinya mirip (B dan V), dan berdasarkan huruf-huruf tersebut, ia menyusun rangkaian-rangkaian huruf yang tiap rangkaiannya terdiri dari enam huruf. Rangkaian-rangkaian tersebut disajikan kepada partisipan. Huruf-huruf tersebut disajikan dalam bentuk auditorik dan visual. Diasumsikan bahwa para partisipan yang mendapatkan stimuli auditorik (mendengar huruf) akan membuat kekeliruan pada huruf-huruf yang bunyinya serupa, sedangkan para partisipan yang mendapatkan stimuli visual (membaca huruf) akan membuat kekeliruan berdasarkan struktur visual huruf-huruf tersebut. Secara umum, diasumsikan bahwa memori yang terlibat dalam pemprosesan informasi bersifat akustik (secara dominan) dan kesalahan yang paling besar akan didapati pada partisipan yang mendapat stimuli suara.
2. Sandi visual
Posner dan rekan-rekannya, menemukan bahwa setidaknya dalam sebagian kecil waktu informasi disandikan secara visual dalam STM. Dalam ekperimen tersebut, para peneliti menyajikan huruf-huruf berpasangan dalam tiga mode, yaitu mode yang pertama, huruf berpasangan yang identik dalam pelafalan dan bentuk (AA, aa). Mode yang kedua, huruf berpasangan yang memiliki pelafalan yang sama tapi bentuk berbeda (Aa) dan mode yang ketiga, huruf berpasangan yang memiliki perbedaan pelafalan sekaligus berbeda bentuk (AB, ab). Para partisipan diminta menunjukkan (dengan menekan tombol) apakah kedua huruf yang ditampilkan adalah huruf yang sama.huruf-huruf disajikan satu demi satu dengan jeda waktu yang bervariasi: 0 detik (artinya huruf-huruf disajikan serentak), 0,5 detik, 1 detik atau 2 detik. Para peneliti mengasumsikan bahwa bila pasangan huruf tersebut diproses secara auditorik seharusnya partisipan memerlukan waktu lebih lama untuk memproses AA disbanding Aa. Namun, bila penyandian visual juga penting maka partisipan akan memerlukan waktu yang lama untuk merespon Aa dibandingkan AA.
3. Sandi sematik
Sandi sematik adalah sandi yang berhubungan dengan makna. Ekperimen Delos Wickens dan rekan-rekannya, dilakukan berdasarkan konsep inhibisi proaktif (Proactive Inhibition/PI). PI adalah sebuah fenomena ketika kemampuan mengingat dihambat oleh adanya hubungan sematik antara daftar yang diingat dengan daftar sebelumnya. Misalnya ketika seorang partisipan diminta mengingat sebuah daftar kata-kata yang tergabung dalam satu kategori (nama-nama buah), mereka mungkin dapat mengingat 90 persen isi daftar tersebut. Namun, bila mereka diminta mengingat daftar kedua juga berisi nama-nama buah, kemampuan mereka mengingat daftar tersebut hanya sebesar 30 persen. Selanjutnya jika partisipan yang sama diminta mempelajari daftar ketiga yang juga berisi nama-nama buah, kemampuan mengingat semakin menurun. Inhibisi proaktif ini mengindikasikan bahwa informasi sematik sedang diproses dalam STM karena informasi tersebut saling “mengganggu” dengan informasi-informasi dari daftar berikutnya.
c) Pengambilan Informasi dari STM
Era modern pemprosesan informasi sangat di pengaruhi oleh sebuah teknik ekperimental yang di kembangkan oleh Saul Sternberg. Teknik ini melibatkan sebuah tugas pemindaian serial yang didalamnya pertisipan mendapatkan stimuli berupa serangkaian item, misalnya angka, dengan jeda 1,2 detik setiap item. Diasumsikan bahwa item-item tersebut disimpan dalam STM partisipan. Setelah partisipan menghapalkan daftar, ia menekan sebuah tombol untuk memunculkan sebuah angka yang ada (atau yang tidak ada) dalam daftar yang telah dilihat sebelumnya. Tugas partisipan adalah membandingkan angka tersebut dengan daftar yang telah diingatnya dan menjawab apakah angka tersebut memang ada didaftar atau tidak. Setiap tugas berisi daftar yang berbeda. Para peneliti mengubah-ubah ukuran daftar sesuai kapasitas STM yaitu dari satu hingga enam angka. Pada dasarnya, tugas ini mengharuskan partisipan mencari angka-angka dalam suatu daftar untuk menemukan jawaban yang tepat.
Pencarian seperti ini dapat berhenti dengan sendirinya saat partisipan telah menemukan angka tersebut dan memberikan jawaban, sebaliknya partisipan mungkin melakukan pencarian menyeluruh terhadap daftar dimemori sebelum melaporkan jawabannya, terlepas ia menemuka angka itu atau tidak. Waktu reaksi mencerminkan waktu yang diperlukan partisipan untuk melakukan pencarian angka pada daftar dalam memori dan waktu reaksi dapat berperan sebagai dasar untuk menggambarkan struktur STM sekaligus menggambarkan hukum-hukum pengambilan informasi dari struktur tersebut.
2.7 Model-model Memori Jangka Panjang
Memori merupakan fenomena paling luar biasa di dunia ini. Otak dimodifikasi dan diatur oleh pengalaman-pengalaman kita. Interaksi kita dengan dunia fisik, pengalaman panca indera, persepsi, dan tindakan kita mengubah kita secara terus menerus dan menentukan apa yang nantinya bisa untuk merasa, mengingat, mengerti, dan menjadi.
Proses memori dapat dibagi menjadi tiga tahap utama: pengodean (encoding), dimana informasi baru diterima, penyimpanan (storage), dimana informasi disimpan untuk penggunaan di masa mendatang, dan penarikan (retrieval), dimana informasi ditarik dari penyimpanan untuk digunakan. Beberapa pendekatan mencoba menjelaskan cara kerja proses-proses ini. Kita akan mengkaji tiga di antaranya–penyimpanan ganda, tingkat-tingkat pemrosesan, dan teori-teori memori kerja.
Dengan perkecualian refleks-refleks bawaan yang ada pada diri kita sejak masa kelahiran, segala pengetahuan kita tentang diri kita dan tentang dunia disimpan dalam memori jangka panjang. Kemampuan kita untuk menanggapi peristiwa-peristiwa sensorik yang paling kecil sekalipun yang membentuk “masa kini” dalam kontinum waktu adalah fungsi utama dari STM kita, sebagai tempat penyimpanan transitorik (sementara), sedangkan kemampuan kita untuk memahami masa lalu dan menggunakan informasi tersebut untuk mengolah “masa kini” adalah fungsi dari LTM kita. LTM kita memampukan kita tinggal di dua dunia secara bersamaan (yakni pada masa lalu dan masa kini), dan melalui proses tersebut, kita dapat memahami aliran pengalaman saat ini yang datang terus menerus. LTM harus “ditarik” ke dalam STM agar dapat digabungkan dengan informasi dalam STM dan digunakan untuk memahami aliran informasi yang kita terima saat ini.
1. Lokalisasi dan Distribusi LTM
Lokasi tempat memori disimpan adalah di seluruh bagian orak, meskipun juga terpusat di bagian-bagian tertentu. Sebagai contoh, studi-studi PET menunjukkan bahwa area frontal di otak terlibat dalam pemrosesan mendalam terhadap informasi, seperti menentukan apakah suatu kata mendeskripsikan benda hidup atau benda mati. Studi-studi tersebut mengindikasikan bahwa jenis-jenis kinerja memori bersifat spesifik.
Meskipun demikian, dalam pemrosesan-pemrosesan spesifik tersebut, bagian-bagian lain dari otak tetap terlibat, meskipun hanya dalam tingkat yang rendah. Prinsip spesialisasi dan distribusi tersebut didapati pada jenis-jenis kinerja memori dan system penyimpanan yang lain.
Beberapa region otak memiliki fungsi penting dalam pembentukan memori. Region-region tersebut meliputi hipokampus dan korteks (yang berbatasan dengan hipokampus) serta thalamus. Meskipun demikian, hipokampus itu sendiri tidaklah menjadi penyimpanan memori jangka panjang yang permanen, karena bila demikian halnya, maka H.M tidak akan memiliki akses ke memorinya sebelum operasi. Telah disepakati bahwa informasi sensorik dikirimkan ke region-region otak yang spesifik. Informasi dari mata dan telinga, sebagai contoh, dikirimkan ke korteks visual dan korteks auditorik secara berturut-turut. Sebagai kesimpulan, sekalipun model-model memori menampilkan memori sebagai suatu kotak, pada kenyataannya, memori tidaklah seperti itu. Memori tersebar diseluruh otak, memori adalah suatu proses aktif yang melibatkan sejumlah besar area di otak, dan sejumlah area memiliki fungsi lebih dominan dibandingkan area lain.
2. Kapasitas LTM
Sulit bagi kita untuk membayangkan kapasitas dan durasi informasi yang ditampung dalam LTM, namun kita masih bisa menyusun perkiraan mengenai karakteristik-karakteristik tersebut. Informasi yang paling samar sekalipun dapat kita ingat. Sebagai contoh, anda mampu mengingat dan “merasakan” tempat anda pertama kali mencicipi makanan tertentu, anda mampu mengingat nomor telepon anda, sebagaian besar informasi tersebut tidak berada dalam jangkauan kesadaran anda hingga dimunculkan kememori sadar. Bahkan dalam era seperti sekarang ini, saat kapasitas penyimpanan informasi dalam komputer hampir-hampir tanpa batas, kapasitas otak manusia untuk menyimpan informasi yang mendetail dalam jangka waktu lama tetaplah tidak tertandingi.
3. Durasi LTM
Sejumlah data penelitian mendukung adanya memori jangka sangat panjang atau very long-term memory. Dalam data percobaan yang dihimpun Bahrick dan rekan-rekannya mendukung gagasan bahwa VLTM memang ada dan bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama. Selain itu, stabilitas rekognisi memori jangka waktu selama itu sungguh mengejutkan. Hasil tersebut menunjukkan adanya bahwa rekognisi memori terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi jauh pada masa lalu dipengaruhi oleh tingkat panyandian awal (pada saat peristiwa tersebut terjadi) dan ditribusi rehearsal(pengulangan).
4. Penyimpanan LTM
Sebuah penjelasan tentang bagaimana memori jangka panjang dibentuk dan disimpan, ditemukan dalam karya Donald Hebb yang menjadi klasik. Versi sederhana gagasan Hebb tentang LTM menyatakan bahwa informasi dari STM akan dikirim ke LTM apabila diulang-ulang di STM dalam jangka waktu yang cukup lama. Transformasi informasi dari STM ke LTM tersebut terjadi karena struktur STM di otak memiliki sirkuit yang berisikan aktivitas-aktivitas neural yang bergema, yang memiliki neuron-neuron yang mampu bergerak dalam putaran secara mandiri. Manakala sirkuit tersebut tetap aktif selama suatu periode tertentu, terjadilah perubahan kimiawi atau perubahan structural, dan memori akan disimpan secara permanen dalam LTM. Jika informasi tersebut dikombinasikan dengan memori-memori lain yang bermakna, terjadilah peningkatan memorabilitas (kemudahan memori untuk diingat).
5. Tingkat-Tingkat Pemrosesan
Kerangka kerja tingkat pemprosesan (levels of processing – LOP) Craik dan Lockhart (1972) mengemukakan bahwa memori tidak tediri dari penyimpanan yang berbeda, melainkan suatu kontinum di mana kedalaman pengodean bervariasi. Kemungkinan akan diingatnya sepotong informasi berhubungan langsung dengan kedalaman pemrosesan yang terjadi pada saat pengodean. Pemrosesan dapat berkisar dari analisis dangkal atau fisik (misalnya, apakah suatu kata ditulis dalam huruf-huruf besar) hingga ke fonemik (apakah sama bunyi dengan kata lain) dan keanalisis mendalam atau sistematik (misalnya, apakah kata tersebut merupakan jenis tanaman). Pemrosesan mendalam menghasilkan jejak-jejak memori yang lebih kuat yang lebih mungkin untuk diingat.
a) Latihan
LOP membedakan antara latihan pemeliharaan dan elaboratif. Latihan pemeliharaan terjadi ketika informasi obyek diulang, sedangkan latihan elaboratif melibatkan analisis semantik yang lebih dalam. Hanya analisis elaboratif yang memperkuat memori jangka panjang, bertentangan dengan model penyimpanan ganda yang beranggapan bahwa semua latihan akan memperkuat memori. Kendati pengulangan sederhana suatu materi (misalnya, membaca kata-kata yang berulang-ulang) memang membantu penyimpanan (Tulving, 1966), latihan pemeliharaan merupakan strategi yang sedikit lebih efektif di mana informasi yang harus diingat dipertahankan di dalam kesadaran (misalnya, dengan melatih kata-kata yang sama). Perbedaan antara pengulangan dan latihan sangat kecil, namun penting.
Sebaliknya, latihan elaboratif, di mana materi untuk diingat diasosiasikan dengan informasi lain yang sudah tersimpan dalam memori, jauh lebih efektif ketimbang teknik lainnya (Hyde & Jenkins, 1969).
b) Bukti-bukti yang mendukung LOP
Craik dan Turving (1975) mengamati hubungan langsung antara kedalaman pemrosesan dan ingatan melalui petunjuk dan menemukan bahwa elaborasi menghasilkan retensi yang secara signifikan lebih tinggi. Slamecka dan Graf (1978) mengamati bahwa ingatan juga menjadi lebih baik ketika para peserta mencipakan petunjuk penarikan mereka sendiri untuk kata-kata – efek penciptaan – yang mendukung gagasan bahwa ada hubungan kuat antara cara informasi disimbolkan dan bagaimana informasi tersebut ditarik.
c) Memori eksplisit dan implicit
LTM dapat dibagi menjadi dua kategori luas, memori eksplisit dan implisit. Memori eksplisit atau deklaratif dibagi lebih lanjut menjadi komponen episodik dan semantik yang diingat secara sadar. Memori implisit bersifat otomatis atau tidak disadari dan membentuk memori procedural. Suatu bagian di antara pengetahuan deklaratif dan procedural memiliki banyak dukungan empiris dan membentuk basis bagi ACT-R Anderson (1996), yaitu upaya untuk mendefinisikan proses-proses kognitif dan perseptual dalam belajar dan memori manusia.
d) Memori eksplisit: memori episodik dan semantic
Tulving (1983) mengemukakan pendapat bahwa terdapat dua tipe LTM, semantik dan episodik, yang berbeda dalam jenis informasi yang disimpan, kendati proses pengkodeannya sama:
· Memori episodik: penyimpanan dan penarikan peristiwa-peristiwa spesifik. Ini membutuhkan pengetahuan kontekstual seperti waktu dan tempat terjadinya peristiwa terkait, seperti apa yang anda makan saat sarapan, atau apa yang anda lakukan saat liburan terakhir anda.
· Memori semantik: pengetahuan yang tidak memiliki elemen-elemen konstekstual seperti waktu dan tempat. Memori ini tidak melibatkan pengetahuan konstekstual dan dapat dipandang sebagai pengetahuan umum–nama ibukota-ibukota, akhiran-akhiran kata kerja dalam bahasa Prancis, dan lain-lain.
Wheeler, Stuss, dan Tulving (1997) menyatakan bahwa perbedaan utama bukanlah pada jenis isinya, namun pada pengalaman subjektif yang diasosiasikan dengan memori pada saat pengodean dan penarikan. Mereka menggunakan bukti dari para pasien kerusakan otak yang menunjukkan aliran darah yang berbeda dalam tugas-tugas memori semantik dan episodik. Memori semantik dan episodik merupakan aspek memori deklaratif atau eksplisit di mana kinerja pada suatu tugas membutuhkan ingatan sadar atas pengalaman sebelumnya.
6. Memori implisit: memori procedural
Memori implisit merupakan tempat di mana kinerja pada suatu tugas difasilitasi dalam ketiadaan ingatan sadar.nsatu bentuk memori implisit adalah memori procedural di mana kita melakukan berbagai tindakan, seperti mengemudi mobil atau menulis, tanpa secara sadar berpikir tentang tindakan tersebut. Tugas-tugas memori implisit berbeda dengan tugas tugas eksplisit tradisional dalam hal para peserta tidak akan diinstruksikan untuk mengingat memori implisit diperoleh dari para peserta normal, seperti pemisahan kata dari Tulving dan Stark (1982), serta para pasien kerusakan otak yang memiliki ekplisit lemah namun memori implisitnya tetap utuh.
7. Memori Otobiografis
Memori otobiografis adalah memori yang dimiliki seseorang mengenai masa lalunya. Memori ini sering disebut juga sebagai memori pribadi, karena memori ini berkaitan dengan individu bersangkutan dengan seluruh sejarah hidupnya yang unik. Hebb mengatakan bahwa informasi dari STM akan dikirim ke LTM apabila diulang-ulang di STM dalam jangka waktu yang lama. Sejumlah pengalaman lebih mudah diingat dibandingkan pengalaman lain, pengalaman yang melibatkan ego atau hal-hal yang menyenangkan daripada pengalaman yang rumit. Sandi, dalam LTM ini dapat diartikan sebagai suatu informasi yang disandikan secara akustik, secara visual, dan secara semantik. Diasumsikan bahwa otak menggunakan heuristik terhadap jumlah upaya dan waktu yang dicurahkan untuk pemenuhan sasaran. Menurut Craik dan Lockhart, menyertakan gagasan bahwa informasi yang diterima indera harus menjalani serangkaian analisis yang diawali dengan analisis sensorik dangkal dan dilanjutkan analisis semakin dalam, rumit, abstrak, dan semakin semantik.
Pilihannya tergantung dalam pada hakikat stimulus pada waktu pemrosesan. Sesuai dengan penjelasan panjang lebar tentang memori seperti dijelasin di atas, dapat dianalogikan bahwa long term memori adalah tempat penyimpanan segala macam hal memori yang saat itu sedang tidak digunakan, namun memiliki makna yang penting dan dapat diambil atau dipanggil kembali.
Jenis-jenis Memori tersebut adalah:
1. Kemampuan spasial, informasi mengenai lokasi kita di dunia.
2. Karateristik-karateristik fisik dunia sekeliling kita.
3. Hubungan sosial, mengenali orang-orang disekitar
4. Nilai-nilai sosial, pengetahuan tentang penting-tidaknya suatu hal untuk kelompok social kita.
5. Ketrampilan- ketrampilan motorik, penggunaan alat, pemanipulasian
6. Ketrampilan-ketrampilan perseptual, memahami stimuli dalam
Dalam kasus pemetaan area-area otak yang diasosiasikan dengan memori-memori spesifik dan fungsi-fungsi memori, terdapat tiga area otakyang tamppaknya terlibat secara langsung dalam proses-proses tersebut. Ketiganya adalah korteks yakni permukaan luar otak yang terlibat dalam aktivitas kognisi tingkat tinggi seperti berfikir, pemecahan masalah, dan mengingat, serebelum yakni struktur berbentuk kubis di dasar otak yang terlibat dalam pengendalian fungsi-fungsi motorik dan memori motorik, dan hipokampus sebuah struktur berbentuk yang terletak jauh di dalam kedua hemisfer serebral dan berfungsi memproses informasi baru dan menstransfer informasi tersebut kebagian-bagian korteks untuk disimpan secara permanen.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Psikolog mendefinisikan memori sebagai proses mengodekan, menyimpan dan memarik kembali informasi. Jenis-jenis memori yaitu memori sensori, memori jangkan pendek, memori kerja dan memori jangka panjang. Teori tingkat pemrosesan menyebutkan bahwa banyaknya pemrosesan informasi yang terjadi ketika materi pada awalnya muncul adalah penting untuk menentukan berapa banyak dari informasi tersebut yang pada akhirnya diingat. Tahapan penyimpan memoriyaitu penyandian atau encoding, ppenyimpanan atau storage dan pemanggilan atau retrieval.
Beberapa hal yang menyebabkan lupa yaitu pembusukan atau decay, interferensi, ketergantungan pada pertanda, konsolidasi dan pencampuran. Sedangkan kerusakan-kerusakan atau disfungsi npada memori antara lain lupa, amnesi, deya vu, jamais vu, depersonalis, dan derealis. Beberapa cara penyelidikan ingatan yaitu dengan metode mempelajari, metode mempelajari kembali, metode rekonstruksi, metode mengenal kembali, metode mengingat kembali dan metode asosiasi berpasangan.
3.2 Saran
Setelah membaca makalah ini, pembaca diharapkan untuk:
1. Lebih memahami definisi memori dan tahap pemrosesan memori
2. Bisa menyimpan informasi dengan memori dalam jangka waktu tertentu atau dengan jangka waktu yang lebih lama
3. Menghindari kerusakan-kerusakan atau disfungsi dari memori dengan cara mencegah
4. Meningkatkan daya ingat memori dengan cara-cara penyelidikan ingatan
5. Menggunakan makalah ini sebagai bahan pembelajaran
6. Menyebarluaskan materi makalah ini
DAFTAR PUSTKA
Djamarah, Syaiful Bahri, 2008. Psikologi Belajar, Jakarta: Rineka Cipta.
Khodijah, Nyayu, 201 2014. Psikologi Pendidikan, cetakan ke-2. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Ormrod, Jeanne Ellis, 2008. Psikologi Pendidikan; Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang, Ed. Rev Jilid ke-2. Jakarta: Erlangga.
Santrock, Jhon W., 2009. Psikologi Pendidikan; Educational psychologi, Ed. 3 Rev. Jakarta: Selemba Humaniora.
Sarwono, Sarlito Wirawan, 1975. Pengantar Umum Psikologi, Jakarta: Bulan Bintang.
Suryabrata, Sumadi, 2011. Psikologi Pendidikan, Ed.5 Rev. cetakan ke-18. Jakarta: PT. Raja Grafindo PersadaSumber http://sitirestitriramahdani.blogspot.com
EmoticonEmoticon