Tampilkan postingan dengan label IlmuGuru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IlmuGuru. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juni 2018

Pengertian Ciri Dan Tife Pembelajaran Kooperatif (Cooperatif Learning).

Pembelajaran Kooperatif (Cooperatif Learning)
Pengertian Pembelajaran Kooperatif (Cooperatif Learning).

Keberhasilan pembelajaran sangat ditentukan oleh pemilihan metode berguru yang ditentukan oleh pendidik, lantaran dengan penyajian pembelajaran secara menarik akan sanggup membangkitkan motivasi berguru siswa dan acara mereka pun meningkat. Untuk membuat pembelajaran yang menarik, upaya yang harus dilakukan pendidik ialah menentukan model pembelajaran yang sempurna sesuai dengan bahan pembelajaran. Dalam hal ini model pembelajaran kooperatif dharapkan sanggup meningkatkan acara siswa.

Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Sistem pengajaran kooperative sanggup didefinisikan sebagai sistem kerja / berguru kelompok yang terstruktur.

Pembelajaran Koperatif merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa berguru dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat hingga enam orang dengan struktur kelompok yang besifat heterogen. (Rusman, 2011: 202). Pembelajaran Koperatif ialah taktik pembeljaran yang melibatkan siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi (Nurulhayati dalam Rusman, 2011: 203). Pembelajaran kooperatif ialah pembelajaran yang dilakukan pada kelompok kecil, siswa berguru dan bekerja sama untuk hingga pada pengalaman berguru yang optimal, baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok. Esensi pembelajaran kooperatif itu ialah tanggung jawab individu sekaligus tanggung jawab kelompok. Sehingga dalam diri siswa terdapat perilaku ketergantungan konkret yang menimbulkan kerja kelompok optimal. Pola pembelajaran kooperatif terdapat saling ketergantungan konkret antar kelompok,siswa saling bekerja sama untuk mendapat hasil yang baik.

Dari beberapa pengertian diatas peneliti beropini bahwa model pembelajaran ini sangat baik untuk meningkatkan acara berguru siswa, lantaran semua siswa dituntut untuk bekerja dan bertanggung jawab sehingga didalam kerja kelompok tidak ada anggota kelompok yang asal namanya saja tercantum, semuanya aktif.

Unsur-Unsur Pembelajaran Kooperatif (Rusman, 2011: 208)
          Siswa dalam kelomnpoknya harus beranggapan bahwa mereka sehidup sepenanggungan bersama.
          Siswa bertanggunng  jawab atas segala sesuatu didalam kelompoknya ibarat milik mereka sendiri.
          Siswa harus telihat bahwa semua anggota didalam kelompoknya mempunyai tujuan yang sama
          Siswa harus membagi kiprah dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
          Siswa akan dikena penilaian atau hadiah penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua kelompok.
          Siswa menyebarkan kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar  bersama selama proses belajarnya .
          Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual bahan yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Menurut Nurulhayati dalam Rusman, (2011: 204) Adapun pendapat andal lainnya perihal unsur pokok dalam pembelajaran kooperatif ialah sebagai berikut: (a) Saling ketergantungan positif, (b) tanggung jawab individual, (c) Interaksi personal, (d) Keahlian bekerja sama, (e) penilaian proses kelompok.

Dengan memperhatikan unsur-unsur pembelajaran kooperatif tersebut, peneliti beropini bahwa dalam pembelajaran kooperatif setiap siswa yang tergabung dalam kelompok harus betul-betul sanggup menjalin kekompakan. Selain itu, tanggung jawab bukan saja terdapat dalam kelompok, tetapi juga dituntut tanggung jawab individu.

Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif.
          Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk merampungkan bahan belajarnya.
          Kelompok dibuat dari siswa yang mempunyai kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
          Bila mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda.
          Penghargaan lebih berorientasi pada individu.(Rusman, 2011: 208)
Dengan memperhatikan ciri-ciri tersebut, seorang guru hendaklah dapat   membentuk kelompok sesuai dengan ketentuan, sehingga setiap kelompok sanggup bekerja dengan optimal.

Tipe-tipe Pembelajaran Kooperatif

Pada pembelajaran kooperatif dikenal ada beberapa tipe, diantaranya : (1) Tipe STAD, (2) Tipe Jigsaw, (3) Investigasi Kelompok), (4) Tipe Struktural. (Rusman, 2011: 227)

Dari keempat tipe pembelajaran kooperatif diatas, peneliti lebih tertarik melaksanakan penelitian dengan memakai model pembelajaran kooperatif tipe STAD(Student Team Achievement Divisions), lantaran dalam tipe STAD akseptor didik akan dicampur dari tingkat kemampuan dan kebiasaan yang berbeda (heterogen) sehingga memungkinkan mereka untuk saling membantu serta adanya kuis sanggup melalui permainan lempar bola panas biar acara lebih menarik.


loading...

= Baca Juga =




Sumber http://guroe.blogspot.com

Sabtu, 09 Juni 2018

Pengertian Aktivitas

PENGERTIAN AKTIVITAS
Dalam rangka meningkatkan hasil mencar ilmu akseptor didik, perlu sekali diperhatikan tugas keaktifannya guna menunjang pemahaman terhadap pembelajaran terutama pembelajaran PKn. Karena keberhasilan mencar ilmu akseptor didik di sekolah sanggup dilihat dari hasil prestasi belajarnya. Dalam rangka mencapai hasil prestasi mencar ilmu akseptor didik tidak terlepas dari tugas guru selaku pendidik. Di sini pendidik harus sanggup memotivasi dan membuat situasi yang baik sehingga akseptor didik berminat untuk aktif dalam belajar. Banyak cara yang sanggup dilakukan pendidik diantaranya dengan menawarkan penguatan berupa angka pada hasil pembelajarannya, memberi hadiah, menawarkan kebanggaan dan lain sebagainya mirip yang dikemukakan oleh Sadiman A.M (1988).

Untuk melihat acara mencar ilmu sanggup dilihat dari beberapa sudut pandang diantaranya dari sudut pandang ilmu jiwa usang dan modern.  Menurut John Locke  dengan konsepnya Tabularasa, mengibaratkan bahwa insan itu mirip kertas putih yang tidak ada coretan sama sekali. Makara mau dijadikan apa kertas putih itu (peserta didik) tergantung dari tugas orang bau tanah yang mendampinginya. Dan jikalau di sekolah tidak lepas dari tugas guru sebagai pendidik. 

Kalau berdasarkan pendapat Herbert bahwa jiwa ialah keseluruhan jawaban yang secara mekanis dikuasai oleh hukum-hukum asosiasi. Makara hal ini pendidik yang aktif yakni memberikan tanggapan-tanggapan sedangkan akseptor didik pasif hanya berdasarkan alur dari aturan asosiasi tadi. Makara akseptor didik kurang mempunyai aktifitas dan kreativitas. Kalau dipadukan antara pendapat John Locke dan Herbert, bahwa dalam proses mencar ilmu mengajar pendidiklah yang lebih memegang peranan aktif sementara akseptor didik sendiri pasif.

Selanjutnya jikalau berdasarkan ilmu jiwa modern menerjemahkan bahwa jiwa insan itu sebagai sesuatu yang dinamis, mempunyai potensi dan energi sendiri secara alami. Peserta didik juga sanggup aktif alasannya ialah adanya dorongan dari banyak sekali macam kebutuhan. Peserta didik dipandang sebagai organisme yang mempunyai potensi untuk berkembang. Makara dalam hal ini guru hanya menawarkan pola sementara akseptor didik yang didominasi untuk aktif. Dan yang penting bagi pendidik ialah menyediakan kondisi yang kondusif.  

Jadi dalam rangka keberhasilan akseptor didik dalam mencar ilmu memang sangat penting sekali dilihat acara akseptor didik. Aktivitas artinya “ kegiatan / keaktifan” jadi segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik fisik maupun nonfisik (Mulyono, Anton, 2001: 26). Dalam KKBI (2008:31), acara ialah keaktifan atau kegiatan. Sedangkan acara mencar ilmu meliputi acara mental, intelektual, emosional, sosial, dan motorik dalam (Sudjana, 1991:5).

Menurut Rusman (2011:324), pembelajaran aktif merupakan pendekatan yang lebih banyak melibatkan acara siswa dalam mengakses banyak sekali gosip dan pengetahuan untuk dibahas dan dikaji dalam proses pembelajaran di kelas, sehingga mereka mendapat banyak sekali pengalaman yang sanggup meningkatkan pemahaman dan kompetensinya.

Menurut Uno dan Mohamad (2012: 75-76), 10 ciri pembelajaran aktif ialah sebagai berikut.

a. Pembelajaran berpusat pada siswa,

b. Pembelajaran terkait dengan kehidupan nyata,

c. Mendoronga anak untuk berpikir kritis,

d. Melayani gaya mencar ilmu siswa yang berbeda-beda,

e. Mendorong siswa untuk berinteraksi multiatah,

f. Menggunakan lingkungan sebagai media atau sumber belajar,

g. Pembelajaran berpusat pada siswa,

h. Penataan lingkungan mencar ilmu sehingga siswa gampang belajar,

i. Guru memantau proses mencar ilmu siswa, dan

j. Guru menawarkan umpan balik terhadap hasil kerja siswa.

Menurut KBBI (Sugondo, 2008:31), dinyatakan bahwa acara ialah keaktifan; kegiatan; kerja atau salah satu kegiatan kerja yang dilakukan di tiap bab di dalam perusahaan.

Definisi dari beberapa pakar di atas sanggup penulis simpulkan bahwa acara ialah suatu kegiatan yang menyangkut fisik dan nonfisik dengan memakai potensi dirinya dalam menyebarkan banyak sekali pengetahuan dan keterampilannya untuk mencapai suatu tujuan.


loading...

= Baca Juga =




Sumber http://guroe.blogspot.com

Pengertian Dan Langkah-Langkah Pembelajaran Inkuiri

Pembelajaran Inkuiri

Metode / Model pembelajaran Inkuiri menekankan kepada proses mencari dan menemukan. Materi pelajaran tidak diberikan secara langsung. Peran siswa dalam seni administrasi ini ialah mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing siswa untuk belajar. Strategi pembelajaran inkuiri merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri tanggapan dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa. Strategi pembelajaran ini sering juga dinamakan seni administrasi heuristic, yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu heuriskein yang berarti saya menemukan.

1.   Ciri-ciri Strategi Pembelajaran Inkuiri
Pertama, seni administrasi inkuiri menekankan kepada kegiatan siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan. Artinya seni administrasi inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai peserta pelajaran melalui klarifikasi guru secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri.
Kedua, seluruh kegiatan yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan tanggapan sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan sanggup menumbuhkan perilaku percaya diri {self belief). Dengan demikian, seni administrasi pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sum-ber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator berguru siswa. Aktivitas pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses tanya jawab antara gu-ru dan siswa. Karena itu kemampuan guru dalam memakai teknik berta-nya merupakan syarat utama dalam melaksanakan inkuiri.
Ketiga, tujuan dari penggunaan seni administrasi pembelajaran inkuiri ialah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis, atau membuatkan kemampuan intelektual sebagai kepingan dari proses mental. Dengan demikian, dalam seni administrasi pembelajaran inkuiri siswa tak hanya dituntut untuk menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka sanggup memakai potensi yang dimilikinya. Manusia yang hanya menguasai pelajaran belum tentu sanggup membuatkan kemampuan berpikir secara optimal. Sebaliknya, siswa akan sanggup membuatkan kemampuan berpikirnya manakala ia bisa menguasai materi pelajaran.
Strategi pembelajaran inkuiri merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada siswa (student centered approach). Dikatakan demikian, lantaran dalam seni administrasi ini siswa memegang kiprah yang sangat secara umum dikuasai dalam proses pembelajaran.

2.   Prinsip Penggunaan Strategi Pembelajaran Inkuiri
a.   Berorientasi pada Pengembangan Intelektual
Tujuan utama dari seni administrasi inkuiri ialah pengembangan kemampuan berpikir. Dengan demikian, seni administrasi pembelajaran ini selain berorientasi kepada hasil berguru juga berorientasi pada proses belajar.
b.   Prinsip Interaksi
Proses pembelajaran intinya ialah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru, bahkan interaksi antara siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi berarti menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri.
c.  Prinsip Bertanya
Peran guru yang harus dilakukan dalam memakai seni administrasi ini ialah guru sebagai penanya. Sebab, kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan intinya sudah merupakan sebagian dari proses berpikir. Karena itu, kemampuan guru untuk bertanya dalam setiap langkah inkuiri sangat diperlukan.
d.   Prinsip Belajar untuk Berpikir
Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi berguru ialah proses berpikir (learning how to think), yakni proses membuatkan potensi seluruh otak. Pembelajaran berpikir ialah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal.
d.   Prinsip Keterbukaan
Pembelajaran yang bermakna ialah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. Tugas guru ialah menyediakan ruang untuk menawarkan kesempatan kepada siswa membuatkan hipotesis dan secara terbuka menunjukan kebenaran hipotesis yang diajukannya.

3.   Langkah-Langkah Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Inkuiri
Secara umum proses pembelajaran dengan memakai seni administrasi sanggup mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

a.   Orientasi
Langkah orientasi ialah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru mengkondisikan supaya siswa siap melaksanakan proses pembelajaran. Guru merangsang dan Mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah. Langkah orientasi merupakan langkah yang sangat penting. Keberhasilan startegi ini sangat tergantung pada kemauan siswa untuk beraktivitas memakai kemampuannya dalam meme-cahkan masalah, tanpa kemauan dan kemampuan itu tak mungkin proses pem-belajaran akan berjalan dengan lancar.

b.   Merumuskan Masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu masalah yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan ialah masalah yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka-teki itu. Dikatakan teka-teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari tanggapan yang tepat. Proses mencari tanggapan itulah yang sangat penting dalam seni administrasi inkuiri, oleh lantaran itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya membuatkan mental melalui proses berpikir.

c.   Merumuskan Hipotesis
Hipotesis ialah tanggapan sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai tanggapan sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Perkiraan sebagai hipotesis bukan sembarang perkiraan, tetapi harus mempunyai landasan berpikir yang kokoh, sehingga hipotesis yang dimunculkan itu bersifat rasional dan logis. Kemampuan berpikir logis itu sendiri akan sangat dipengaruhi oleh kedalaman wawasan yang dimiliki serta keluasan pengalaman. Dengan demikian, setiap individu yang kurang mempunyai wawasan akan sulit membuatkan hipotesis yang rasional dan logis.

d.   Mengumpulkan Data
Mengumpulkan data ialah kegiatan menjaring warta yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam seni administrasi pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang berpengaruh dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan memakai potensi berpikirnya. Karena itu, kiprah dan kiprah guru dalam tahapan ini ialah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sanggup mendorong siswa untuk berpikir mencari warta yang dibutuhkan. Sering terjadi kemacetan berinkuiri ialah manakala siswa tidak apresiatif terhadap pokok permasalahan. Tidak apresiatif itu biasanya ditunjukkan oleh gejala-gejala ketidakgairahan dalam belajar. Manakala guru menemukan gejala-gejala semacam ini, maka guru hendaknya secara terusme-nerus menawarkan dorongan kepada siswa untuk berguru melalui penyuguhan banyak sekali jenis pertanyaan secara merata kepada seluruh siswa sehingga mere-ka terangsang untuk berpikir.

e.   Menguji Hipotesis
Menguji hipotesis ialah proses memilih tanggapan yang dianggap diterima sesuai dengan data atau warta yang diperoleh menurut pengumpulan data. Dalam menguji hipotesis yang terpenting ialah mencari tingkat keyakinan siswa atas tanggapan yang diberikan. Di samping itu, menguji hipotesis juga berarti membuatkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran tanggapan yang diberikan bukan hanya menurut argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan sanggup dipertang-gungjawabkan.

f.     Merumuskan Kesimpulan
Merumuskan kesimpulan ialah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh menurut hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan gong-nya dalam proses pembelajaran. Sering terjadi, lantaran banyaknya data yang diperoleh, menimbulkan kesimpulan yang dirumuskan tidak fokus pada masalah yang hendak dipecahkan. Karena itu, untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru bisa memperlihatkan pada siswa data mana yang relevan.

4.   Strategi Pembelajaran Inkuiri Sosial
Terjadinya ledakan pengetahuan, menuntut perubahan referensi mengajar dari yang hanya sekadar mengingat fakta yang biasa dilakukan melalui strate-gi pembelajaran dengan metode kuliah (lecture) atau dari metode latihan (drill) dalam referensi tradisional, menjadi pengembangan kemampuan berpikir kritis (critical thinking). Strategi pembelajaran yang sanggup membuatkan kemampuan berpikir itu ialah seni administrasi inkuiri sosial.
Menurut Bruce Joyce, inkuiri sosial merupakan seni administrasi pembelajaran dari kelompok sosial (social family) subkelompok konsep masyarakat (concept of society). Subkelompok ini didasarkan pada asumsi bahwa metode pendidikan bertujuan untuk membuatkan anggota masyarakat ideal yang sanggup hidup dan sanggup mempertinggi kualitas kehidupan masyarakat. Karena itulah siswa harus diberi pengalaman yang memadai bagaimana caranya memecahkan persoalan-persoalan yang muncul di masyarakat. Melalui pengalaman itulah setiap individu akan sanggup membangun pengetahuan yang mempunyai kegunaan bagi diri dan masyarakatnya.
Inkuiri sosial sanggup dipandang sebagai suatu seni administrasi pembelajaran yang berorientsi kepada pengalaman siswa.
Ada tiga karakteristik pengembangan seni administrasi inkuiri sosial. Pertama, adanya aspek (masalah) sosial dalam kelas yang dianggap penting dan sanggup mendorong terciptanya diskusi kelas. Kedua, adanya rumusan hipotesis sebagai fokus untuk inkuiri. Ketiga, penggunaan fakta sebagai pengujian hipotesis.
Dari karakteristik inkuiri ibarat yang telah diuraikan di atas, maka tampak inkuiri sosial intinya tidak berbeda dengan inkuiri pada umumnya. Perbedaannya terletak pada masalah yang dikaji ialah masalah-masalah sosial atau masalah kehidupan masyarakat.

5.   Keunggulan dan Kelemahan Strategi Pembelajaran Inkuiri
Strategi Pembelajaran Inkuiri merupakan seni administrasi pembelajaran yang banyak dianjurkan, lantaran seni administrasi ini mempunyai beberapa keunggulan, di antaranya:
a.   Startegi ini merupakan seni administrasi pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang,  sehingga pembelajaran melalui seni administrasi ini dianggap lebih bermakna.
b.   Startegi ini sanggup menawarkan ruang kepada siswa untuk berguru sesuai dengan gaya berguru mereka.
c.   Startegi ini merupakan seni administrasi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi berguru modern yang menganggap berguru ialah proses perubahan tingkah laris berkat adanya pengalaman.
d.   Keuntungan lain ialah seni administrasi pembelajaran ini sanggup melayani kebutuhan siswa yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata. Artinya, siswa yang mempunyai kemampuan berguru manis tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
Di samping mempunyai keunggulan, seni administrasi ini juga mempunyai kelemahan, di antaranya:
a.   Jika seni administrasi ini dipakai sebagai seni administrasi pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
b.   Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh lantaran terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
c.   Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
d.   Selama kriteria keberhasilan berguru ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka startegi ini akan sulit diimplementasikan oleh setiap guru.





= Baca Juga =




Sumber http://guroe.blogspot.com

Pengertian Dan Langkah –Langkah Pembelajaran Ekspositori

PENGERTIAN DAN LANGKAH –LANGKAH METODE (MODEL) EKSPOSITORI

1.  Pengertian
Metode / Model pembelajaran ekspositori ialah seni administrasi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud supaya siswa sanggup menguasai materi pelajaran secara optimal. Dalam seni administrasi ini materi pelajaran disampaikan langsung oleh guru. Siswa tidak dituntut untuk menemukan materi itu. Materi pelajaran seolah-olah sudah jadi. Karena seni administrasi ekspositori lebih menekankan kepada proses bertutur, maka sering juga dinamakan seni administrasi ”chalk and talk”.

2. Karakteristik Pembelajaran Ekspositori
Terdapat beberapa karakteristik seni administrasi ekspositori di antaranya:
a.     Strategi ekspositori dilakukan dengan cara memberikan materi pelajaran secara verbal, artinya bertutur secara verbal merupakan alat utama dalam melaksanakan seni administrasi ini, oleh lantaran itu sering orang mengidentikannya dengan ceramah.
b.     Biasanya materi pelajaran yang disampaikan ialah materi pelajaran yang sudah jadi, ibarat data atau fakta, konsep-konsep tertentu yang harus dihafal sehingga tidak menuntut siswa untuk berpikir ulang.
c.      Tujuan utama pembelajaran ialah penguasaan materi pelajaran itu sendiri. Artinya, sesudah proses pembelajaran berakhir siswa diperlukan sanggup memahaminya dengan benar dengan cara sanggup mengungkapkan kembali materi yang telah diuraikan.
Strategi pembelajaran ekspositori merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher centered approach). Dikatakan demikian, lantaran dalam seni administrasi ini guru memegang kiprah yang sangat dominan. Melalui seni administrasi ini guru memberikan materi pembelajaran secara terstruktur dengan cita-cita materi pelajaran yang disampaikan itu sanggup dikuasai siswa dengan baik. Fokus utama seni administrasi ini ialah kemampuan akademik (academic achievement) siswa. Metode pembelajaran dengan kuliah merupakan bentuk seni administrasi ekspositori.

3.  Prinsip Penggunaan Strategi Pembelajaran Ekspositori
Tidak ada satu seni administrasi pembelajaran yang dianggap lebih baik dibandingkan dengan seni administrasi pembelajaran yang lain. Baik tidaknya suatu seni administrasi pembelajaran bisa dilihat dari efektif tidaknya seni administrasi tersebut dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Dengan demikian, pertimbangan pertama penggunaan seni administrasi pembelajaran ialah tujuan apa yang harus dicapai.
Dalam penggunaan seni administrasi pembelajaran ekspositori terdapat beberapa prinsip berikut ini, yang harus diperhatikan oleh setiap guru.

a.  Berorientasi pada Tujuan
Walaupun penyampaian materi pelajaran merupakan ciri utama dalam strategi pembelajaran ekspositori melalui metode ceramah, namun tidak berarti proses penyampaian materi tanpa tujuan pembelajaran. Justru tujuan itulah yang harus menjadi pertimbangan utama dalam penggunaan seni administrasi ini. Karena itu sebelum seni administrasi ini diterapkan terlebih dahulu guru harus merumuskan tujuan pembelajaran secara terang dan terukur. Seperti kriteria pada umumnya, tujuan pembelajaran harus dirumuskan dalam bentuk tingkah laris yang sanggup diukur atau berorientasi pada kompetensi yang harus dicapai oleh siswa. Hal ini sangat penting untuk dipahami, lantaran tujuan yang spesifik memungkinkan kita bisa mengontrol efektivitas penggunaan seni administrasi pembelajaran. Memang benar, seni administrasi pembelajaran ekspositori mustahil sanggup mengejar tujuan kemampuan berpikir tingkat tinggi, contohnya kemampuan untuk menganalisis, mensintesis sesuatu, atau mungkin mengevaluasi sesuatu, namun tidak berarti tujuan kemampuan berpikir taraf rendah tidak perlu dirumuskan. Justru tujuan itulah yang harus dijadikan ukuran dalam memakai seni administrasi ekspositori.

b.  Prinsip Komunikasi
Proses pembelajaran sanggup dikatakan sebagai proses komunikasi, yang menunjuk pada proses penyampaian pesan dari seseorang (sumber pesan) kepada seseorang atau sekelompok orang (penerima pesan). Pesan yang ingin disampaikan dalam hal ini ialah materi pelajaran yang diorganisir dan disusun sesuai dengan tujuan tertentu yaang ingin dicapai. Dalam proses komunikasi guru berfungsi sebagai sumber pesan dan siswa berfungsi sebagai peserta pesan.
Dalam proses komunikasi, bagaimanapun sederhananya, selalu terjadi urutan pemindahan pesan (informasi) dari sumber pesan ke peserta pesan. Sistem komunikasi dikatakan efektif manakala pesan itu sanggup gampang ditangkap oleh peserta pesan secara utuh. Sebaliknya, sistem komunikasi dikatakan tidak efektif, manakala peserta pesan tidak sanggup menangkap setiap pesan yang disampaikan. Kesulitan menangkap pesan itu sanggup terjadi oleh banyak sekali gangguan (noise) yang sanggup menghambat kelancaran proses komunikasi. Akibat gangguan (noise) tersebut memungkinkan peserta pesan (siswa) tidak memahami atau tidak sanggup mendapatkan sama sekali pesan yang ingin disampaikan. Sebagai suatu seni administrasi pembelajaran yang menekankan pada proses penyampaian, maka prinsip komunikasi merupakan prinsip yang sangat penting untuk diperhatikan. Artinya, bagaimana upaya yang bisa dilakukan agar setiap guru sanggup menghilangkan setiap gangguan (noise) yang bisa meng-ganggu proses komunikasi.

c.  Prinsip Kesiapan
Siswa sanggup mendapatkan informasi sebagai stimulus yang kita berikan terlebih dahulu kita harus memosisikan mereka dalam keadaan siap baik secara fisik maupun psikis untuk mendapatkan pelajaran. Jangan mulai kita sajikan mata pelajaran, manakala siswa belum siap untuk menerimanya.

d.  Prinsip Berkelanjutan
Proses pembelajaran ekspositori harus sanggup mendorong siswa untuk mau mempelajari materi pelajaran lebih lanjut. Pembelajaran bukan hanya berlangsung pada ketika itu, akan tetapi juga untuk waktu selanjutnya. Ekspositori yang berhasil ialah manakala melalui proses penyampaian sanggup membawa siswa pada situasi ketidakseimbangan (disequilibrium), sehingga mendorong mereka untuk mencari dan menemukan atau menambah wawasan melalui proses mencar ilmu mandiri.
Keberhasilan penggunaan seni administrasi ekspositori sangat tergantung pada kemampuan guru untuk bertutur atau memberikan mated pelajaran.

4.  Langkah-langkah Pelaksanaan Strategi Ekspositori
Ada beberapa langkah dalam penerapan seni administrasi ekspositori, yaitu:
a. Persiapan (Preparation)
Tahap persiapan berkaitan dengan mempersiapkan siswa untuk mendapatkan pelajaran. Dalam seni administrasi ekspositori, langkah persiapan merupakan langkah yang sangat penting. Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran dengan memakai seni administrasi ekspositori sangat tergantung pada langkah persiapan.
Beberapa hal yang harus dilakukan dalam langkah persiapan di antaranya adalah:
1)    Berikan sugesti yang aktual dan hindari sugesti yang negatif.
2)    Mulailah dengan mengemukakan tujuan yang harus dicapai.
3)    Bukalah file dalam otak siswa.

b.  Penyajian (Presentation)
Langkah penyajian ialah langkah penyampaian materi pelajaran sesuai dengan persiapan yang telah dilakukan. Guru harus dipikirkan guru dalam penyajian ini ialah bagaimana supaya materi pelajaran sanggup dengan gampang ditangkap dan dipahami oleh siswa. Karena itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan langkah ini, yaitu: (1) penggunaan bahasa, (2) intonasi suara, (3) menjaga kontak mata dengan siswa, dan (4) memakai joke-joke yang menyegarkan.

c.  Korelasi (Correlation)
Langkah hubungan ialah langkah menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman siswa atau dengan hal-hal lain yang memungkinkan siswa sanggup menangkap keterkaitannya dalam struktur pengetahuan yang telah dimilikinya. Langkah hubungan dilakukan untuk menunjukkan makna terhadap materi pelajaran, baik makna untuk memperbaiki struktur pengetahuan yang telah dimilikinya maupun makna untuk meningkatkan kualitas kemampuan berpikir dan kemampuan motorik siswa.

d.  Menyimpulkan (Generalization)
Menyimpulkan ialah tahapan untuk memahami inti {core) dari materi pelajaran yang telah disajikan. Langkah menyimpulkan merupakan langkah yang sangat penting dalam seni administrasi ekspositori, lantaran melalui langkah menyimpulkan siswa akan sanggup mengambil inti sari dari proses penyajian.

e.  Mengaplikasikan (Application)
Langkah aplikasi ialah langkah unjuk kemampuan siswa sesudah mereka menyimak klarifikasi guru. Langkah ini merupakan langkah yang sangat penting dalam proses pembelajaran ekspositori, lantaran melalui langkah ini guru akan sanggup mengumpulkan informasi wacana penguasaan dan pemahaman materi pelajaran oleh siswa. Teknik yang biasa dilakukan pada langkah ini di antaranya: (1) dengan menciptakan kiprah yang relevan dengan materi yang telah disajikan, (2) dengan menunjukkan tes yang sesuai dengan materi pelajaran yang telah disajikan.

5.  Keunggulan dan Kelemahan Strategi Ekspositori
a.   Keunggulan
Strategi pembelajaran ekspositori merupakan seni administrasi pembelajaran yang banyak dan sering digunakan. Hal ini disebabkan seni administrasi ini mempunyai beberapa keunggulan, di antaranya:
1)    Dengan seni administrasi pembelajaran ekspositori guru bisa mengontrol urutan dan keluasan materi pembelajaran, ia sanggup mengetahui hingga sejauh mana siswa menguasai materi pelajaran yang disampaikan.
2)    Strategi pembelajaran ekspositori dianggap sangat efektif apabila materi pelajaran yang harus dikuasai siswa cukup luas, sementara itu waktu yang dimiliki untuk mencar ilmu terbatas.
3)    Melalui seni administrasi pembelajaran ekspositori selain siswa sanggup mendengar melalui penuturan (kuliah) wacana suatu materi pelajaran, juga sekaligus siswa bisa melihat atau mengobservasi (melalui pelaksanaan demonstrasi).
4)    Keuntungan lain ialah seni administrasi pembelajaran ini bisa dipakai untuk jumlah siswa dan ukuran kelas yang besar.

b.   Kelemahan
Di samping mempunyai keunggulan, seni administrasi ekspositori juga mempunyai kelemahan, di antaranya:
1)    Strategi pembelajaran ini hanya mungkin sanggup dilakukan terhadap siswa yang mempunyai kemampuan mendengar dan menyimak secara baik. Untuk siswa yang tidak mempunyai kemampuan ibarat itu perlu dipakai seni administrasi lain.
2)    Strategi ini mustahil sanggup melayani perbedaan setiap individu baik perbedaan kemampuan, perbedaan pengetahuan, minat, dan bakat, serta perbedaan gaya belajar.
3)    Karena seni administrasi lebih banyak diberikan melalui ceramah, maka akan sulit membuatkan kemampuan siswa dalam hal kemampuan sosialisasi, hubungan interpersonal, serta kemampuan berpikir kritis.
4)    Keberhasilan seni administrasi pembelajaran ekspositori sangat tergantung kepada apa yang dimiliki guru, ibarat persiapan, pengetahuan, rasa percaya diri, semangat, antusiasme, motivasi, dan banyak sekali kemampuan ibarat kemampuan bertutur (berkomunikasi), dan kemampuan mengelola kelas. Tanpa itu sudah sanggup dipastikan proses pembelajaran mustahil berhasil.
5)    Oleh lantaran gaya komunikasi seni administrasi pembelajaran lebih banyak terjadi satu arah (one-way communication), maka kesempatan untuk mengontrol pemahaman siswa akan materi pembelajaran akan sangat terbatas pula. Di samping itu, komunikasi satu arah bisa menjadikan pengetahuan yang
6)    dimiliki siswa akan terbatas pada apa yang diberikan guru.





= Baca Juga =




Sumber http://guroe.blogspot.com