perkembangan matematika bangsa bangsa Arab. Selang perioda tersebut semua ilmu pengetahuan kuno baik dari Yunani dan negri negri lainnya telah diterjemahkan dan di
di Arab. Sehingga Arab bisa menjadi pustaka ilmu pengetahuan kala itu. Peran bangsa arab bila di telaah dalam perkembangan
dan penyebar ilmu kepada bangsa lain. Bangsa arab bahkan berperan serta dalam mengkontribusikan beberapa inovasi ilmu pengetahuan tersendiri. Selain hanya mengalih bahasakan serta memberi klarifikasi terhadap matematika Yunani,
juga mempunyai karya karya otentik original mereka sendiri.
Kelompok Matematika Arab Kuno
Matematika bangsa Arab kuno keseluruhan memperlihatkan dampak penting dalam perkembangan matematika. Secara garis besar semua bidang matematika dirambah mereka. Namun, para mahir sejarah mengelompokkan matematika pada masa ini menjadi empat kelompok besar.
Kelompok pertama yaitu kelompok
aritmatika. Kemungkinan paham ini dipengaruhi dari India. Pokok pembahasan dalam kelompok ini yakni mengenai prinsip nilai tempat. Kelompok kedua yaitu kelompok
Aljabar. Pengaruh kelompok aljabar ini di sanggup dari hasil karya bangsa
Yunani dan Babylonia. Tetapi melebihi sebuah penerjemahan, bangsa arab bisa membentuk suatu sistem yang sistematis tersendiri dalam kelompok ini.
Selanjutnya yakni kelompok
trigonometri yang awalnya dipengaruhi oleh karya
ahli matematika dari Yunani. Selain menguasai matematika trigonometri ini, mereka juga memperkenalkan beberapa fungsi serta rumus rumus trigonometri yang baru. Kelompok terakhir yaitu kelompok geometri. Kelompok ini mampi memperlihatkan suatu bentuk umum dari uraian uraian geometri Yunani. Salah satu tokoh yang populer mempunyai bantuan besar pada bidang matematika tersebut yakni Al Khawrizmi. Bahkan sesudah masa Al Khawrizmi mahir matematika lainnya muncul dengan tingkat popularitas yang tak kalah besarnya. Sebut saja ibarat Abul Wefa, Ommar Khayyam dan Alkharki. Baca:
Perkembangan Matematika Arab hingga Abad Kesembilan.
Abul Wefa
Jika pernah berpikir bahwa mahir matematika arab merupakan murni dari bangsa arab. Maka pikiran tersebut tidak benar adanya. Sama ibarat di Yunani, penyebaran keahlian matematika tidak terbatas pada suku atau harus berasal dari tempat tertentu. Contohnya saja ini, Abul Wefa. Abul Wefa terlahir di kawasan pegunungan Khurasan, sebuah pegunungan di Persia yang kini lebih dikenal dengan Iran.
Populernya Abul Wefa alasannya kepiawaiannya dalam menerjemahkan
hasil karya Diophantus yang berjudul
Arithmetiea. Selain itu ia juga memperlihatkan komentar akan hasil karya pendahulunya yaitu
Al Khawarizmi. Kontribusi Abul Wefa dikenal dengan memberi pengantar
fungsi tangen ke dalam fungsi trigonometri. Ditambahkan lagi abul wefa melaksanakan komputas
i perhitungan daftar sinus dan tangen.
Penulisan karya Abul Wefa lebih banyakmenggunakan simbol bilangan yang trepengaruh oleh lambang hindi. Ini diperoleh dari karya Astronomi Hindu
Sindhin. Abul Wefa ini populer dengan memperkenalkan fungsi tangen a=b tan A. Penulisa beberapa karya Abul Wefa dalam trigonometri bisa dibilang lebih terstruktur dibanding contoh sebelumnya yaitu penulisan trigonometri ala Hindu.
Hukum/dalil sinus diplot berasal dari Abul Wefa. Sebelumnya dalil ini dikenal oleh Ptolemy dan Brahmagupta. Penyederhanaan dari Abul wefa dimana ia tidak lagi menggunakan
formula segitiga pada bola. Karya lain dari Abul Wefa yaitu membuat list sinus untuk sudut sudut. Jika pernah melihat
daftar nilai sinus pada suatu buku ketika
mempelajari trigonometri. Itu merupakan ide dari Abul Wefa. Pada awalnya ia menggunakan cuilan yan terdiri dari 8 desimal. Selain dalam bidang trigonometri, Abul Wefa juga mahir dibidang aljabar. Salah satu kontribusinya yaitu membuat
penyelesaian persamaan kuadrat dengan menggunakan teknik geometri.
Ibn-al-Haitham
Ibn Al Haitham dimana untuk di Eropa populer dengan nama Al Hazen. Popularitas nama yang ia miliki alasannya ia bisa menuntaskan satu permaslaan yang dikenal dengan problem Al Hazen. Penyelesaian yang dilakukan oleh Al Hazen atau Ibn Al Haitham dengan menggunakan
irisan kerucut. Selain dikenal di bidang matematika, Ibn Al Haitham juga dikenal sebagai mahir fisika. Sebuah karyanya yang berjudul
Treasury of Optics sebagai sampelnya. Karya ini di-inspirasi oleh Ptolemy yang membahas ihwal pemantulan dan pematahan (refraksi) cahaya.
Pada ketika itu di Arab ketertarikan pada
permasalahan aljabar dan trigonometri lebih besar dibanding ketertarikan mendalami geometri. Namun sisi menariknya, banyak mahir mencoba mengambarkan
Postulat ke-lima Euclid. Problem tersebut dikenal sebagai duduk kasus matematika populer ke-empat sesudah ada 3 duduk kasus top sebelumnya. Dalam pembuktian
postulat Euclid ini, Ibn Al Haitham memulainya dengan 3 sudut siku siku. Sudut tersebut berada pada suatu segiempat. 3 Sudut siku-siku dalam suatu segiempat ini dinamai
segiempat lamberts. Al Haitham bisa mengambarkan bahwa keempat sudut segi empat itu harus merupakan sudut siku siku juga.
Al-Biruni dan Ibn Sina
Sebuah karya Al Biruni yang berjudul India memperkenalkan bangsa eropa akan kebudayaan matematika Hindu. Karya tersebut menjelaskan ihwal
Sidhanta dan prinsip nilai tempat penomoran hindu. Sementara Ibn Sina, Ibn-Sina yakni mahir dalam aneka macam bidang. Bangsa Eropa lebih mengenal Ibn Sina dengan sebutan
Avicena. Secara umum mugki ia lebih dikenal dengan ilmu
kedokteran dan filsafat.