a. Pengertian Pendidikan : Pendidikan merupakan hal yang tidak sanggup dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Pendidikan merupakan kegiatan yang sangat kompleks. Hampir seluruh aspek kehidupan insan berafiliasi dengan proses pendidikan. Melalui pendidikan, huruf dan sifat insan sanggup dibuat biar menjadi insan yang mempunyai keterampilan dan kecerdasan. Pendidikan sanggup dimulai dari lingkungan keluarga, masyarakat dan pemerintah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Redja Mudyaharjo (2012: 11), pendidikan merupakan perjuangan sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan peserta didik biar sanggup memainkan peranan dalam banyak sekali lingkungan hidup secara sempurna di masa yang akan datang.
Pendidikan nantinya akan mempunyai kegunaan bagi masyarakat dikemudian hari. Semakin tinggi pendidikan seseorang akan semakin banyak pula pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki. Pendidikan sering dijadikan tolak ukur penerimaan pekerjaan yaitu dengan mempertimbangkan pendidikan terakhir yang dimiliki. Menurut Sugihartono dkk. (2007: 3), pendidikan yaitu suatu perjuangan yang dilakukan secara sadar untuk mengubah tingkah laris insan baik secara individu maupun kelompok untuk mendewasakan insan melalui upaya pengajaran dan training sehingga mempunyai kemampuan untuk bertanggung jawab terhadap segala perbuatannya. Dengan diperolehnya pendidikan yang tinggi, akan meningkat pula kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya. Seseorang yang mempunyai pendidikan tinggi cenderung memperoleh penghasilan yang lebih tinggi dibandingkan dengan seseorang yang mempunyai pendidikan rendah. Pendidikan diwujudkan melalui pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah formal maupun informal. Dalam pendidikan ditanamkan nilai-nilai dan dasar-dasar pandangan hidup kepada generasi muda biar nantinya menjadi insan yang sadar dan bertanggung jawab akan tugas-tugas hidupnya sebagai masyarakat dan manusia. Pendidikan akan memperlihatkan pengalaman dan pengetahuan kepada peserta didik sehingga mereka sanggup berfikir ke depan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Wasty Soemanto (1999: 21), pendidikan yaitu proses pengalaman yang menghasilkan pengalaman yang memperlihatkan kesejahteraan pribadi, baik lahiriah maupun batiniah.
Berdasarkan klarifikasi di atas, sanggup disimpulkan bahwa pendidikan merupakan perjuangan sadar dan bersiklus untuk mewujudkan proses pembelajaran biar mendewasakan peserta didik dan menyebarkan potensi dirinya sehingga mempunyai pengetahuan dan keterampilan. Proses pembelajaran sanggup terjadi di lingkungan keluarga, masyarakat, sekolah maupun di luar sekolah.
b. Landasan-landasan Pendidikan
Landasan berarti acuan atau dasar. Oleh lantaran itu, landasan merupakan kawasan bertumpuk dan pijakan dasar. Landasan pendidikan yaitu asumsi-asumsi yang menjadi dasar praktik pendidikan dan studi pendidikan. Menurut Tatang S. (2012: 22) menurut sumber perolehannya, landasan pendidikan sanggup diidentifikasikan menjadi dua jenis, yaitu:
1) Landasan religius pendidikan, yaitu asumsi-asumsi yang bersumber dari agama yang menjadi dasar dalam praktik pendidikan dan studi pendidikan. Landasan religius berpandangan bahwa agama merupakan landasan utama pendidikan. Semua aspek yang berafiliasi dengan pendidikan ditujukan pada upaya melaksanakan perintah yang terdapat di dalam fatwa agama.
2) Landasan filosofis pendidikan, yaitu asumsi-asumsi yang bersumber dari filsafat yang menjadi titik tolak dalam pendidikan. Landasan filosofis merupakan landasan yang berkaitan dengan makna atau hakikat pendidikan. Filsafat menelaah sesuatu secara radikal, menyeluruh dan konseptual, yang menghasilkan konsep mengenai kehidupan dan dunia. Pancasila merupakan salah satu aliran-aliran filsafat yang memengaruhi pandangan, konsep, dan praktik pendidikan.
c. Tujuan Pendidikan
Menurut Wasty Soemanto (1999), pendidikan bertujuan untuk mewujudkan pribadi-pribadi yang bisa menolong diri sendiri maupun orang lain sehingga terwujud kehidupan insan yang sejahtera. Pendidikan memperlihatkan training terhadap karakter, kognisi dan jasmani manusia. Melalui pendidikan akan membantu seseorang dalam mencapai impian yang diinginkan. Menurut Tatang S. (2012: 67), pendidikan bertujuan mewujudkan insan yang beriman, bertaqwa, cerdas, sehat jasmani dan rohani, mempunyai keterampilan memadai, berakhlak mulia, mempunyai kesadaran yang tinggi dan selalu introspeksi diri, tanggap terhadap persoalan, bisa memecahkan masalah dengan baik dan rasional, dan mempunyai masa depan yang cerah, baik di dunia maupun akhirat. Pelayanan pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan meliputi: 1) pendidikan moral-spiritual, 2) pendidikan sosial kultural dan pratiotisme, 3) pendidikan intelektual, 4) pendidikan keterampilan, 5) pendidikan jasmani dan 6) pendidikan wirausaha (Wasty Soemanto, 1999: 27).
d. Komponen-komponen Pendidikan
Pendidikan pada hakikatnya merupakan interaksi komponen-komponen esensial dalam upaya mencapai tujuan pendidikan. Perpaduan antara keharmonisan dan keseimbangan serta interaksi unsur esensial pendidikan, pada tahap operasioanl sangat memilih keberhasilan pendidikan. Menurut Tatang S. (2012: 219), komponen-komponen pendidikan yaitu sebagai berikut:
1) Dasar Pendidikan
Pendidikan sebagai proses timbal balik antara pendidik dan anak didik dengan melibatkan banyak sekali faktor pendidikan lainnya, diselenggarakan guna mencapai tujuan pendidikan dengan didasari oleh nilai-nilai tertentu. Nilai-nilai itulah yang disebut dasar pendidikan. Dasar yang menjadi pola pendidikan harus bersumber dari nilai kebenaran dan kekuatan yang sanggup mengantarkan pada acara yang dicita-citakan. Setiap sistem pendidikan mempunyai dasar pendidikan tertentu yang merupakan cerminan filsafat dari sistem pendidikan tersebut. Oleh lantaran itu, sistem pendidikan pada suatu bangsa akan berbeda dengan bangsa lain.
2) Tujuan Pendidikan
Tujuan yaitu target yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam melaksanakan suatu kegiatan. Kaitannya dengan tujuan pendidikan, yaitu tujuan, target dan maksud yang akan dicapai atau dituju oleh suatu sistem pendidikan. Tujuan pendidikan ini tentunya akan mengakibatkan sistem pendidikan itu berjalan dengan baik.
3) Pendidik
Pendidik yaitu orang yang memikul tanggung jawab untuk membimbing. Pendidik berbeda dengan pengajar lantaran pengajar hanya berkewajiban untuk memberikan materi pelajaran kepada peserta didik, sedangkan pendidik tidak hanya memberikan materi pengajaran, tetapi juga membentuk kepribadian peserta didik.
4) Peserta didik
Dalam proses mencar ilmu mengajar, seorang pendidik harus memahami hakikat peserta didiknya sebagai objek pendidikan. Keberadaan peserta didik dalam proses pendidikan sangat vital lantaran intinya pendidikan itu diperuntukan bagi peserta didik.
5) Materi Pendidikan
Salah satu komponen operasional pendidikan sebagai suatu sistem yaitu materi. Materi pendidikan yaitu semua materi pelajaran yang disampaikan kepada peserta didik. Materi pendidikan disebut juga kurikulum lantaran kurikulum memperlihatkan makna pada materi yang disusun secara sistematis guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
6) Metode Pendidikan
Keberhasilan proses pendidikan dalam mengantarkan peserta didik mencapai tujuan pendidikan, tidak terlepas dari peranan metode yang digunakan. Metode yaitu cara yang dipakai dalam suatu kegiatan untuk mencapai tujuan. Metode mempunyai kedudukan sangat penting dalam mencapai tujuan. Metode pendidikan yang tidak sempurna akan menjadi penghalang kelancaran jalannya proses mencar ilmu mengajar.
7) Alat
Alat pendidikan yaitu segala sesuatu yang dipakai oleh pelaksana kegiatan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Alat pendidikan dibagi menjadi dua macam, yaitu:
a) Alat Fisik, berupa segala suatu perlengkapan pendidikan, yaitu sarana dan akomodasi dalam bentuk kongkret, ibarat bangunan, alat-alat tulis dan baca.
b) Alat Nonfisik, berupa kurikulum, pendekatan, metode dan tindakan yang berupa hadiah dan eksekusi serta contoh yang baik dari pendidik.
8) Lingkungan Pendidikan
Proses pendidikan selalu dipengaruhi oleh lingkungan yang ada di sekitarnya, baik lingkungan itu menunjang maupun menghambat proses pencapaian tujuan pendidikan. Lingkungan yang menghipnotis proses pendidikan, yaitu:
a) Lingkungan sosial yang terdiri atas lingkungan keluarga, sekolah/lembaga pendidikan dan masyarakat.
b) Lingkungan keagamaan, yaitu nilai-nilai agama yang hidup dan berkembang di forum pendidikan
c) Lingkungan budaya, yaitu nilai-nilai budaya yang hidup dan berkembang di forum pendidikan
d) Lingkungan alam, yaitu keadaan iklim maupun geografisnya.
Semua lingkungan tersebut ikut menghipnotis proses pendidikan. Lingkungan yang baik akan kuat positif dan menunjang keberhasilan pendidikan.
EmoticonEmoticon