Tampilkan postingan dengan label Matematika Kreatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Matematika Kreatif. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Januari 2019

Lima Mitos Sesat Seputar Matematika

anyak mitos menyesatkan mengenai matematika Lima Mitos Sesat Seputar MatematikaBanyak mitos menyesatkan mengenai matematika. Mitos-mitos salah ini memberi andil besar dalam membuat sebagian masyarakat merasa alergi bahkan tidak menyukai matematika.

Akibatnya, lebih banyak didominasi siswa kita menerima nilai jelek untuk bidang studi ini, bukan karena tidak mampu, melainkan karena semenjak awal sudah merasa alergi dan takut sehingga tidak pernah atau malas untuk mempelajari matematika. Meski banyak, namun ada lima mitos sesat yang sudah mengakar dan membuat persepsi negatif terhadap matematika.

Mitos pertama,

Matematika ialah ilmu yang sangat sukar sehingga hanya sedikit orang yang atau siswa dengan IQ minimal tertentu yang bisa memahaminya.
Ini terperinci menyesatkan. Meski bukan ilmu yang termudah, matematika bekerjsama merupakan ilmu yang relatif gampang kalau dibandingkan dengan ilmu lainnya.

Sebagai contoh, amati perbandingan soal untuk siswa kelas 6 sebuah SD swasta berikut ini. Soal pertama, Sebutkan 3 tarian khas kawasan Kalimantan Tengah. Soal kedua, Sebuah lingkaran dibagi menjadi tiga buah juring dengan perbandingan masing-masing sudut pusatnya ialah 2 : 3 : 4, maka hitung besar masing-masing sudut sentra juring-juring tersebut

Ternyata, persentase siswa yang menjawab benar soal kedua lebih besar dibandingkan persentase siswa yang menjawab benar soal pertama. Tanpa ingin mengundang perdebatan, referensi di atas menunjukkan, bahwa matematika bukanlah ilmu yang sangat sukar.

Soal matematika terasa sulit bagi siswa-siswa kita karena mereka tidak memahami konsep bilangan dan konsep ukuran secara benar semasa di sekolah dasar. Jika konsep bilangan dan ukuran dikuasai, maka pekerjaan menganalisis dan menghitung menjadi hal yang gampang dan menyenangkan.

Mitos kedua,

Matematika ialah ilmu hafalan dari sekian banyak rumus.
anyak mitos menyesatkan mengenai matematika Lima Mitos Sesat Seputar Matematika
Mitos ini membuat siswa malas mempelajari matematika dan alhasil tidak mengerti apa-apa ihwal matematika. Padahal, sejatinya matematika bukanlah ilmu menghafal rumus, karena tanpa memahami konsep, rumus yang sudah dihafal tidak akan bermanfaat.

Sebagai contoh, ada soal berikut, Benny merakit sebuah mesin 6 jam lebih usang daripada Ahmad.
Jika bahu-membahu mereka sanggup merakit sebuah mesin dalam waktu 4 jam, berapa usang waktu yang diharapkan oleh Ahmad untuk merakit sebuah mesin sendirian ?

Seorang yang hafal rumus persamaan kuadrat tidak akan bisa menjawab soal tersebut apabila tidak bisa memodelkan soal tersebut ke dalam bentuk persamaan kuadrat. Sesungguhnya, hanya sedikit rumus matematika yang perlu (tapi tidak harus) dihapal, sedangkan sebagian besar rumus lain tidak perlu dihafal, melainkan cukup dimengerti konsepnya.

Mitos ketiga,

Matematika selalu bekerjasama dengan kecepatan menghitung.
anyak mitos menyesatkan mengenai matematika Lima Mitos Sesat Seputar Matematika
Memang, berhitung ialah bab tak terpisahkan dari matematika, terutama pada tingkat SD. Tetapi, kemampuan menghitung secara cepat bukanlah hal terpenting dalam matematika. Yang terpenting ialah pemahaman konsep. Melalui pemahaman konsep, kita akan bisa melaksanakan analisis (penalaran) terhadap permasalahan (soal) untuk kemudian mentransformasikan ke dalam model dan bentuk persamaan matematika.

Jika permasalahan (soal) sudah tersaji dalam bentuk persamaan matematika, gres kemampuan menghitung diperlukan. Itu pun bukan sebagai sesuatu yang mutlak, alasannya ialah pada ketika ini telah banyak beredar alat bantu menghitung ibarat kalkulator dan komputer. Jadi, mitos yang lebih sempurna ialah matematika selalu bekerjasama dengan pemahaman dan penalaran.

Mitos keempat,

Matematika ialah ilmu ajaib dan tidak bekerjasama dengan realita.
Mitos ini jelas-jelas salah kaprah, alasannya ialah fakta mengatakan bahwa matematika sangat realistis. Dalam arti, matematika merupakan bentuk analogi dari realita sehari-hari.

Contoh paling sederhana ialah solusi dari Leonhard Euler, matematikawan Prancis, terhadap duduk kasus Jembatan Konisberg. Selain itu, hampir di semua sektor, teknologi, ekonomi dan bahkan sosial, matematika berperan secara signifikan.
anyak mitos menyesatkan mengenai matematika Lima Mitos Sesat Seputar Matematika
Robot cerdas yang bisa berpikir berisikan aktivitas yang disebut sistem pakar (expert system) yang didasarkan kepada konsep Fuzzy Matematika. Hitungan aerodinamis pesawat terbang dan konsep GPS juga dilandaskan kepada konsep model matematika, goneometri, dan kalkulus. Hampir semua teori-teori ekonomi dan perbankan modern diciptakan melalui matematika.

Mitos Kelima,

Matematika ialah ilmu yang membosankan, kaku, dan tidak rekreatif.
Anggapan ini terperinci keliru. Meski balasan (solusi) matematika terasa eksak karena solusinya tunggal, tidak berarti matematika kaku dan membosankan. Walau balasan (solusi) hanya satu (tunggal), cara atau metode menuntaskan soal matematika bekerjsama boleh bermacam-macam.
anyak mitos menyesatkan mengenai matematika Lima Mitos Sesat Seputar Matematika
Sebagai contoh, untuk mencari solusi dari dua buah persamaan, sanggup dipakai tiga cara yaitu, metode subtitusi, eliminasi, dan grafik. Contoh lain, untuk menunjukan kebenaran teorema Phytagoras, sanggup dipergunakan banyak cara. Bahkan berdasarkan pakar matematika, Bana G. Kartasasmita, hingga ketika ini sudah ada 17 cara untuk menunjukan teorema Phytagoras. Solusi matematika yang bersifat tunggal menjadikan kenyamanan karena tegas dan pasti.

Selain tidak membosankan, matematika juga rekreatif dan menyenangkan. Albert Einstein, tokoh fisika terbesar kurun ke-20, menyatakan bahwa matematika ialah senjata utama dirinya dalam merumuskan konsep relativitasnya yang sangat populer tersebut. Menurut Einstein, ia menyukai matematika ketika pamannya menjelaskan bahwa mekanisme kerja matematika ibarat dengan cara kerja detektif, sebuah lakon yang sangat disukainya semenjak kecil.

Memang, cara kerja matematika ibarat sebuah games. Mula-mula kita harus mengidentifikasi variabel-variabel atau parameter-parameter yang ada melalui atributnya masing-masing. Setelah itu, laksanakan operasi di antara variabel dan parameter tersebut. Yang paling menyenangkan, dalam melaksanakan operasi kita dibebaskan melaksanakan manipulasi (trik) semau kita semoga hingga kepada solusi yang diharapkan. Kebebasan melaksanakan manipulasi dalam operasi matematika inilah yang menantang dan mengundang keasyikan tersendiri, kolam sedang dalam permainan atau petualangan. Karena itu, tidak mengherankan kalau terkadang kita menjumpai siswa yang asyik menyendiri dengan soal-soal matematikanya.

Simak juga bagaimana matematika disajikan dengan kreatif dalam bentuk gambar, lagu dan puisi
  1. Lagu Matematika: Matematika: Raih Masa Depan Bersamaku
  2. Lagu Matematika: I Love You Matematika I Love You..!
  3. Gambar Matematika: Kreativitas Siswa Tentang Matematika dan Seni
  4. Puisi Matematika: Matematika Jantung Kehidupan

Selain itu, secara intrinsik matematika juga mempunyai angka berupa bilangan lingkaran yang mengandung misteri yang sangat mengasyikkan. Misalnya Anda melaksanakan operasi perkalian maupun pertambahan terhadap dua bilangan tertentu, maka terkadang akan muncul bilangan yang mempunyai bentuk simetri tertentu. Contoh lain, Anda sanggup mengatakan kemahiran menebak dengan sempurna angka tertentu yang telah mengalami beberapa operasi. Bagi yang belum memahami matematika, kemampuan Anda menebak angka dianggap sihir, padahal itu merupakan operasi.

Matematika ialah ilmu yang gampang dan menyenangkan. Karena itu, siapa pun bisa mempelajarinya dengan baik. Untuk itu, kiprah utama kita ialah merobohkan mitos-mitos sesat di sekeliling matematika.

Dengan memahami konsep-konsep matematika maka akan lebih gampang belajarnya. Pahami semua konsepnya, maka rumus matematika yang manapun, apapun itu akan terhafal dengan sendirinya, bahkan untuk membuat rumus cepat atau “the king” katanya akan sangat gampang dilakukan.

Data disadur dari banyak sekali sumber, bila Anda merasa pemilik sebagian atau keseluruhan konten diatas dan keberatan ditampilkan. Anda sanggup menghubungi Admin Blog, dan Admin Blog akan dengan bahagia hati menanggapi seruan Anda. Terima kasih | Admin Blog

Video pilihan khusus untuk Anda 😊 Masih menganggap matematika hanya hitung-hitungan semata, mari kita lihat kreativitas siswa ini;
anyak mitos menyesatkan mengenai matematika Lima Mitos Sesat Seputar Matematika


Sumber http://www.defantri.com

Jumat, 04 Januari 2019

Matematika Alternatif Semakin Diminati

ursus matematika yang menyampaikan banyak sekali metode alternatif diminati masyarakat Matematika Alternatif Semakin DiminatiKursus matematika yang menyampaikan banyak sekali metode alternatif diminati masyarakat. Berbagai waralaba kursus matematika dari luar negeri, menyerupai Kumon atau Sakamoto, serta dari dalam negeri, menyerupai Jarimatika, menjamur. Peserta kursus juga bertambah.

Team Leader Vision Communication Team PT Kumon Institute of Education Indonesia, Agus Sih Haryanto mengungkapkan, penerima Kumon di Indonesia sampai Juni 2008 mencapai 65.000 siswa. Biaya kursus per anak Rp 320.000 per bulan.

Kumon melatih anak mengerjakan soal matematika dengan susunan meningkat sedikit demi sedikit dan sistematis. Anak sanggup mulai kursus semenjak prasekolah sampai SMA, bahkan perguruan tinggi tinggi di level lanjutan.

”Anak berguru berdikari dan disiplin mengerjakan lembar kerja. Meskipun hanya di bawah 30 menit sehari, tetapi rutin. Kursus sendiri hanya dua kali seminggu,” ujar Agus.

Kursus metode Sakamoto juga digemari. Herjaya JJ, pemilik Sakamoto di Kemitraan Sangaji, Menteng, Tomang, dan Kelapa Gading, mengungkapkan, metode itu masuk ke Indonesia sekitar enam tahun lalu. Sakamoto membangun logika dan penyelesaian duduk kasus melalui soal dongeng dengan tiga langkah, yakni pertama, memahami soal dengan menyusun data dan mencari korelasi antardata. Kedua, menciptakan diagram guna memperjelas inti masalah. Ketiga, menulis persamaan dari diagram dalam bentuk angka-angka untuk memperoleh tanggapan soal.

Herjaya mengatakan, per tahun penerima bertambah sekitar 20 persen dan penerima di kursus miliknya sekitar 1.000 anak sekarang. Metode Sakamoto tersedia bagi anak sekolah dasar. Biaya kursus Rp 350.000 per bulan- Rp 375.000 per bulan.

Salah satu metode hasil pengembangan anak bangsa Indonesia ialah metode Jarimatika yang dikembangkan oleh Septi Peni Wulandani. Metode ini memakai jari tangan guna memudahkan anak dalam penghitungan dasar penambahan, pengurangan, pengalian, dan pembagian dengan prinsip berguru menyenangkan.

Septi mengatakan, Selasa [21/10], terdapat 7.550 penerima kursus di 90 outlet waralaba Jarimatika. ”Peserta kursus naik sekitar 30 persen awal tahun ini. Sasaran kami ialah para ibu. Setelah ibu sukses mendidik anaknya, gres membuka oulet untuk anak lain,” ujarnya.

Antusias
”Kebanyakan orangtua mengkursuskan anaknya untuk melengkapi pembelajaran di sekolah,” ujar Agus mengenai peminat Kumon. Hal senada diungkapkan Herjaya mengenai kursus Sakamoto.

Psikolog pendidikan dari Universitas Indonesia, Lucia RM Royanto, berpendapat, kehadiran kursus mengisi tugas orangtua. Kemampuan dasar aritmatika menyerupai penambahan, pengurangan, pengalian, dan pembagian bersama-sama sanggup dibimbing orangtua. Sepanjang rajin berlatih dan menyiapkan waktu.

Hal yang perlu diperhatikan ialah pemilihan kursus harus diadaptasi dengan kesulitan berguru dan minat anak, serta fokus atau pengutamaan materi kursus.

Di sisi lain, untuk anak yang mengalami gangguan konsentrasi belajar, kursus boleh jadi tidak memecahkan duduk kasus dan jawabannya. Sebaiknya, dilihat dulu kebutuhan anak untuk menentukan kursus yang tepat. [kompas.com]

Video pilihan khusus untuk Anda 😊 Masih menganggap matematika hanya hitung-hitungan semata, mari kita lihat kreativitas siswa ini;
ursus matematika yang menyampaikan banyak sekali metode alternatif diminati masyarakat Matematika Alternatif Semakin Diminati


Sumber http://www.defantri.com

Kamis, 03 Januari 2019

Matematika Di Sekolah Terbatas

 Pembelajaran Matematika di sekolah sangat terbatas sehingga kebutuhan anak terhadap Matem Matematika di Sekolah Terbatas
Keberadaan Kursus Sangat Membantu Siswa. Pembelajaran Matematika di sekolah sangat terbatas sehingga kebutuhan anak terhadap Matematika belum seluruhnya terpenuhi. Keberadaan kursus-kursus Matematika ibarat Kumon, Sakamoto, Jarimatika, dan yang lainnya menjadi sarana yang membantu anak belajar.

Seperti diwartakan sebelumnya, semakin banyak berdiri forum kursus yang sebagian merupakan waralaba dari negara lain. Lembaga kursus tersebut memperlihatkan banyak sekali metode pembelajaran Matematika alternatif, ibarat Sakamoto, Kumon, Jarimatika, dan lain-lain.

Ketua Asosiasi Guru Matematika Indonesia, Firman, mengatakan, referensi pembelajaran Matematika di sekolah diakui masih kurang menyenangkan bagi anak. Hal itu dikarenakan pembelajaran Matematika di sekolah seolah- olah direduksi hanya kasus hitung-menghitung.

”Banyak anak yang mengartikan berguru Matematika itu menghafal rumus dan menghitungnya, kemudian selesai. Aktivitas yang bersifat mekanistik tersebut membosankan anak. Padahal, berguru Matematika ialah bagaimana anak dengan informasi yang ia bangkit bisa menuntaskan permasalahan,” ujarnya.

Prinsipnya yaitu pembangunan referensi pikir anak dalam memecahkan masalah.

Hanya saja, dengan adanya sistem penilaian yang dibangun pemerintah sekarang, mulai dari ulangan umun, ujian nasional [UN], dan seleksi masuk akademi tinggi negeri semuanya kemudian mengarah ke referensi mekanistis. Guru juga sibuk mempersiapkan murid semoga siap menghadapi banyak sekali ujian tersebut dengan drilling berlatih menjawab soal dengan benar dan cepat.

Abdul Hakim Gani, guru Matematika SMAN 17 Jakarta dan pengajar di sejumlah sekolah swasta, menyampaikan hal senada.

Belajar Kreatif

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan [KTSP] sebenarnya menyampaikan kesempatan kepada pembelajaran kreatif. ”Kesulitannya ialah adanya tuntutan banyak sekali ujian, sehingga larinya malah ke arah keterampilan. Tuntutan kurikulum malah sulit dipenuhi,” ujarnya.

KTSP yang disusun oleh guru sendiri sebenarnya memperlihatkan konsep semoga anak berkembang berdasarkan tingkat kemampuannya sendiri sehingga dimungkinkan percepatan atau remedial. Terutama remedial yang sangat penting dalam pembelajaran Matematika.

Dia berpendapat, jikalau anak berguru pada level pengetahuannya, anak tidak akan terlalu takut terhadap Matematika. ”Kalau anak berguru tidak sesuai dengan levelnya, anak ketakutan dan terjadi penumpukan materi yang tidak dikuasai,” katanya.

Sumarsono, guru SMPN 89 Jakarta Barat, berpendapat, berguru Matematika seharusnya diawali dengan proteksi motivasi. Guru, terutama, harus sanggup menggambarkan kepada anak didiknya manfaat berguru Matematika dalam kehidupan.

”Saya selalu menekankan kepada para murid, sadar atau tidak, mereka membutuhkan pelajaran tersebut,” ujarnya. Belajar Matematika juga dimulai dengan hal yang gampang dan beranjak ke materi lebih sulit.

Keberadaan kursus

Firman berpendapat, masih perlu diteliti lagi apakah keikutsertaan anak di forum kursus yang menyajikan metode Matematika alternatif tersebut besar lengan berkuasa kepada prestasi di bidang Matematika.

”Tetapi, berdasarkan pengalaman saya mengajar selama ini di sekolah menengah atas, biasanya anak yang kursus memiliki keterampilan berhitung sangat baik. Mereka lebih gampang melihat pola-pola dalam berguru Matematika,” ujarnya.

Kelebihan lain dari kemampuan menghitung cepat itu yaitu anak cenderung bermotivasi dan bersemangat berguru Matematika. ”Itu alasannya yaitu mereka bisa menuntaskan soal sulit dalam waktu cepat sehingga muncul rasa percaya diri,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Abdul Gani. ”Biasanya, terlihat perbedaan pada kemampuan awalnya atau entry behavior. Anak yang kursus Matematika sangat menguasai materi aritmatika,” ujar Abdul Gani.

Sumarsono berpendapat, metode berguru Matematika berbeda di sekolah pada umumnya dan di kawasan kursus. Di kawasan kursus, rasio tutor dan penerima lebih sedikit.

”Relasi serta komunikasi antara tutor dan penerima kursus lebih informal. Lingkungan dan metode berguru juga lebih bervariasi,” ujarnya.

Ini mungkin jadi materi pertimbangan kepada semua yang berurusan dengan matematika, baik itu guru, kepala sekolah, orang tua, kurikulum dan yang lainnya. [kompas.com]

Video pilihan khusus untuk Anda 😊 Masih menganggap matematika hanya hitung-hitungan semata, mari kita lihat kreativitas siswa ini;
 Pembelajaran Matematika di sekolah sangat terbatas sehingga kebutuhan anak terhadap Matem Matematika di Sekolah Terbatas


Sumber http://www.defantri.com

Matematika Alternatif Dapat Diadopsi

 Pembelajaran Matematika di sekolah memungkinkan untuk digabung dengan metode pembelajaran Matematika Alternatif Bisa DiadopsiPenerapan Tergantung Sekolah. Pembelajaran Matematika di sekolah memungkinkan untuk digabung dengan metode pembelajaran alternatif yang banyak ditawarkan oleh banyak sekali forum kursus. Sekolah yang mengadopsi sistem itu tidak salah, bahkan dapat dikatakan baik kalau sesuai dengan kebutuhan anak didik.

Hal itu diungkapkan Kepala Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional Agung Purwadi, Kamis (23/10).

Seperti diwartakan sebelumnya, banyak sekali kursus Matematika, menyerupai Kumon, Sakamoto, dan Jarimatika, menjamur dan banyak peminatnya. Lembaga-lembaga kursus tersebut menyampaikan banyak sekali model pembelajaran alternatif Matematika.

”Metode yang diajarkan oleh kursus-kursus tersebut tidak bertentangan dan boleh saja model yang baik diadopsi oleh sekolah untuk melengkapi proses pembelajaran mereka,” ujar Agung.

Terlebih lagi, pemerintah telah mendesentralisasikan pembelajaran ke satuan pendidikan atau sekolah dengan adanya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Depdiknas hanya mengatur kompetensi standar.

”Bagaimana menyampaikan ”isi” semoga murid mengerti itu, sepenuhnya diserahkan kepada guru dan sekolah,” katanya.

Tidak terbiasa

Hanya saja, permasalahannya, guru belum terbiasa dan terlatih merancang silabus pembelajarannya sendiri. Termasuk mengombinasikannya dengan model-model pembelajaran kreatif lainnya.

Kendala lainnya, terkadang model pembelajaran kreatif saat diterapkan dan dimassalkan di sekolah malah sulit berjalan. Hal itu sebab tidak adanya sumbangan dan apresiasi dari lingkungan kerja guru.

Dia mencontohkan, konsep Cara Belajar Siswa Aktif atau CBSA yang diperkenalkan sekitar tahun 1980-an. Setelah simpulan training dan proyeknya, model tersebut sulit berjalan karena kurangnya apresiasi dari sekolah dan pemerintah daerah. Ada pula beberapa proyek pembelajaran Matematika yang menyenangkan telah dilaksanakan dan bernasib serupa. ”Imbalan yang diterima para guru sesudah proyek tidak sama lagi. Itu tidak selalu berarti imbalan uang,” ujarnya.

Untuk itu, pemerintah ulet menggerakkan Kelompok Kerja Guru di jenjang SD serta Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) di jenjang Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengan Atas guna menjalankan fungsi ”pelatihan sebaya”.

Ketua Asosiasi Guru Matematika Indonesia, Firman Syah Noor, sebelumnya menyampaikan melihat ada beberapa sistem manis yang dikembangkan oleh forum kursus karena mengarah ke pembentukan logika dan berpikir tingkat tinggi, menyerupai analisis dan sintesa. Soal penerapannya di sekolah formal tergantung kepada kebutuhan sekolah dan murid.

Ada baiknya itu guru-guru diberi kepelatihan wacana matematika alternatif, sama halnya dengan dokter-dokter berguru wacana pengobatan alternatif. (kompas.com)

Video pilihan khusus untuk Anda 😊 Masih menganggap matematika hanya hitung-hitungan semata, mari kita lihat kreativitas siswa ini;
 Pembelajaran Matematika di sekolah memungkinkan untuk digabung dengan metode pembelajaran Matematika Alternatif Bisa Diadopsi


Sumber http://www.defantri.com

Selasa, 25 Desember 2018

Matematika Kreatif Uniknya Perkalian Wacana Umur

Matematika Kreatif Uniknya Perkalian Tentang Umur Matematika Kreatif Uniknya Perkalian Tentang UmurMathematics is a field whose boundries expand beyond limitations. Dont believe me... try his one out...

$259 \times \text{(Anyone's Age)} \times 39 = \cdots$

Example if I am $21$ Years Old :
$259 \times 21 \times 39$

See the result and then try out different ages... You will see magic.
Comment and tell us how this was done.
Challenge !

Video pilihan khusus untuk Anda 😊 guru yang super kreatif ini, mengerjakan perkalian jadi kreatif;
Matematika Kreatif Uniknya Perkalian Tentang Umur Matematika Kreatif Uniknya Perkalian Tentang Umur


Sumber http://www.defantri.com

Sabtu, 22 Desember 2018

Save Komisi Pemberantasan Korupsi Save Matematika

ejak negara kita Indonesia memiliki KPK  Save KPK Save Matematika
Sejak negara kita Indonesia memiliki KPK [Komisi Pemberantas Korupsi] pejabat-pejabat negara dan yang mengaku wakil rakyat kita mulai bekerja lebih “hati-hati”. Pejabat Negara dan mereka yang katanya wakil rakyat harus lebih “pintar” lagi dalam bekerja semoga mereka tidak tercium oleh KPK.
Banyak sudah perkara yang dipecahkan oleh KPK, tetapi masih lebih banyak lagi perkara yang belum terselesaikan. Menurut para ahli, KPK belum maksimal bekerja, mereka masih ada istilah “tebang pilih”, banyak perkara besar yang tidak berani diungkap oleh KPK.

Berdasarkan teori matematika, KPK sudah bekerja sangat manis alasannya KPK di matematika ialah Kelipatan Persekutuan terKecil.

contoh:
KPK dari 2, 3 dan 4 ialah 12 yang diperoleh dari:
☛ 2, 4, 6, 8, 10, 12, 14, 16, 18, …
☛ 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, …
☛ 4, 8, 12, 16, 20, 24, 28, …

Artinya KPK ialah suatu komisi yang berusaha memecahkan perkara yang memiliki ruang lingkup kecil atau komplotan terkecil. Dari teladan KPK 2, 3 dan 4 diatas angka-angka besar tidak dipermasalahkan, dan begini juga kinerja KPK yang tidak menangkap para pelaku-pelaku korupsi yang mengakibatkan Negara rugi sangat besar dan menangkap pelaku kecil.

Usul ada baiknya KPK [Komisi Pemberantas Korupsi] ganti nama menjadi FPB biar kerja mereka lebih berani dan mungkin sanggup lebih baik dari sekarang. Kalau di Amerika ada FBI dan di Indonesia ada FPB, keren juga ya namanya.

Dalam matematika FPB ialah Faktor Persekutuan Terbesar. Makara nanti FPB ini merampungkan perkara besar sedangkan yang kecil-kecil tidak akan mereka tangani, mungkin yang perkara kecil menjadi kiprah pegawapemerintah negara lainnya. Karena bila perkara yang diselesaikan KPK ialah perkara kecil maka sanggup berakibat 'besar pasak dari tiang'.

Apakah ANDA memiliki ide, kira-kira apa kepanjangan dari FPB dan berafiliasi dengan pemberantasan dan pencegahan korupsi, siapa tahu negara betul-betul mau mengganti namanya dan ilham ANDA digunakan oleh Negara.

Mari memperlihatkan pendapat 😊

Video pilihan khusus untuk Anda 😊 Mari kita dukung Revolusi Mental untuk perubahan yang lebih baik;
ejak negara kita Indonesia memiliki KPK  Save KPK Save Matematika


Sumber http://www.defantri.com

Senin, 19 November 2018

9 Langkah Sempurna Dalam Membuat Pembelajaran Matematika Yang Kreatif

 Langkah Tepat Dalam Menciptakan Pembelajaran Matematika yang Kreatif 9 Langkah Tepat Dalam Menciptakan Pembelajaran Matematika yang Kreatif
Sebelum membaca ini sebaiknya Anda membaca terlebih dahulu Pembelajaran Aktif Dalam Matematika, alasannya yaitu ini yaitu kelanjutannya.

Apabila pada pembelajaran aktif penekanannya yaitu bagaimana siswa secara aktif mengkonstruksi pemahamannya wacana sesuatu yang dipelajarinya, maka dalam pembelajaran kreatif penekanannya lebih banyak pada guru di samping tentunya diimbangi kreativitas siswa untuk mengimbangi kreativitas yang dikembangkan gurunya. Bagaimana guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran matematika ini bisa memfasilitasi proses berguru mengajar sehingga memberi suasana yang aman untuk siswa belajar? Dengan bermodal pada pengalaman dan pengetahuannya serta mau terus belajar, mengamati, dan berkreasi dengan memanfaatkan lingkungan sekitar, tujuan pembelajaran akan sanggup dicapai dengan baik.

James E. Stice seorang professor kawakan dari North Carolina Universty bersama Richard Felder pada tahun 1991 secara kreatif mendirikan National Effective Teaching Institute (NETI), di bawah ini yaitu saran‐saran yang dimajukannya bagaimana seorang guru secara kreatif membuat suasana yang aman dalam pembelajarannya sehingga meningkatkan efektivitas pembelajarannya, "Saya jamin! Anda akan melihat keberhasilannya! Untuk anda dan untuk siswa anda!" katanya. Untuk itu guru seharusnya:

1. Fahamilah apa yang sedang anda bicarakan !
Untuk ini guru dilarang lagi berfalsafah "menang semalam" dari muridnya, banyak sekali survei yang masih diikuti survei berikutnya, hingga pada suatu kesimpulan dari hasil evaluasi siswa kepada gurunya (sebagai umpan balik), mengatakan bahwa siswa tidak dengan gampang mendapatkan bahan pengajaran yang tidak disiapkan oleh gurunya sendiri. Hal ini menuntut guru secara kreatif mempersiapkan bahan pembelajaran, tidak sekedar mencomot dari sana sini tanpa dikemas terlebih dahulu oleh gurunya.
2. Ajarilah dan kedepankan dengan contoh!
Guru harus mengatakan bahwa keberhasilan seseorang menjadi mantap secara intelektual dan menjadi lebih profesional yaitu alasannya yaitu pengetahuan dari hasil belajarnya.

3. Hargailah siswa anda!
Salah satu bab dari menghargai siswa yaitu membuatnya berani mengajukan suatu pertanyaan dan berani mengetengahkan pendapatnya.

4. Berilah selalu motivasi siswa anda!
Belajar akan menjadi lebih efektif apabila si pebelajar dimotivasi dan disemangati untuk ambil bab dalam menuntaskan kiprah dalam belajarnya. Pertahankanlah ketertarikan siswa memakai bahan pelajaran dengan banyak sekali teladan dan variasinya.

5. Konstruksikan selalu tujuan pembelajaran yang akan anda laksanakan!
Dengan selalu dikonstruksikan tujuan pembelajaran, maka anda sanggup menentukan kegiatan‐kegiatan kelas, menentukan bacaan, dan penetapan kiprah rumah yang lebih fokus untuk membantu siswa meningkatkan kemampuannya.

6. Ajarilah siswa problem solving skill!
Siswa‐siswa mengerti banyak, tetapi tidak banyak dari mereka yang mengerti bagaimana menerapkan pengetahuannya untuk menuntaskan problem yang belum pernah ia pelajari sebelumnya.

7. Katakanlah dan perlihatkan!
Kebanyakan bahan matematika yang kita ajarkan yaitu abstrak. Kita seringkali menerapkan kecanggihan matematika untuk menurunkan suatu relasi, membangun suatu konsep, dan memaksakan dengan itu semua untuk memecahkan masalah. Sering dijumpai siswa melewati itu semua tanpa memahami secara realitas fenomena pokok yang sedang didiskusikan. Jawablah tantangan itu dengan memvariasikan metoda‐metoda yang sanggup membuatnya lebih konkret. Dengan merelasikan konsep‐konsep dengan situasi dunia real, memberanikan kelompok kerja memakai cara apapun untuk sanggup mengetuk pintu pengetahuan siswa.

8. Baca dan baca terus model‐model pembelajaran!
Terdapat banyak model‐model pembelajaran‐pemahaman berikut dasar‐dasar psikologinya.
Belajar wacana banyak sekali jalan yang dilalui oleh orang yang belajar, yaitu langkah pertama untuk mengeliminasi tidak sesuainya (mismatch) antara gaya berguru siswa dengan gaya mengajar anda.

9. Konstrusikan test yang valid!
Artinya buatlah test itu benar‐benar secara akurat mengukur apa yang akan diukur, mengacu tujuan pembelajaran yang telah digariskannya.
Kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru dan siswa dalam proses pembelajarannya untuk meningkatkan taraf kreativitas yaitu sebagai berikut:

1. Kreativitas guru:
a. Mengembangkan acara yang bervariasi.
b. Memberikan alat bantu berguru sederhana.
c. Memilih media pembelajaran yang sesuai dengan bahan pelajaran

2. Kreativitas siswa:
a. Merancang atau membuat sesuatu.
b. Menulis, merangkum atau membuat soal sendiri.
(Strategi Pembelajaran Matematika Sekolah Menengan Atas oleh:Drs. Setiawan, M.Pd)

Contoh Proses Belajar Mengajar yang dianjurkan pada Kurikulum 2013, mungkin video berikut sanggup membantu kita dalam penerapan kurikulum 2013;
 Langkah Tepat Dalam Menciptakan Pembelajaran Matematika yang Kreatif 9 Langkah Tepat Dalam Menciptakan Pembelajaran Matematika yang Kreatif


Sumber http://www.defantri.com