Tampilkan postingan dengan label Quote Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Quote Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Januari 2019

Pesan Yang (Hampir) Terlupakan

kata ini hanya berakhir di indera pendengaran kita dan tidak diteruskan ke otak kita untuk dicerna Pesan Yang (Hampir) Terlupakan
Sudah sering kita mendengar pepatah “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak”. Mungkin alasannya yaitu seringnya didengar, kata-kata ini hanya berakhir di indera pendengaran kita dan tidak diteruskan ke otak kita untuk dicerna. Sesuatu yang biasa-biasa saja akan gampang dilupakan, menjadi cuek dan tidak ada arti sama sekali. Begitu juga dengan pepatah ini walaupun kita tahu ada pesan di baliknya.

Yang lebih disayangkan lagi alasannya yaitu keteledoran kita meresapi pesan tersebut, baik sadar atau tidak sadar kita justru menyebabkan diri sendiri sebagai referensi pepatah tersebut.

Mari lihat sekeliling kita. Bukankah ada, jikalau tidak mau dibilang banyak, dokter yang melarang pasiennya merokok alasannya yaitu ancaman rokok tersebut, tapi justru dirinya sendiri seorang perokok? Guru yang melarang anak didiknya menyontek tapi justru membocorkan tanggapan ujian Nasional? Pemimpin agama yang mengajarkan nilai-nilai susila tapi justru mengecewakan pengikutnya dengan tindakannya sendiri? Kita masih ingat Departemen Agama yang menyalahgunakan dana jemaat haji. Saya juga tahu ada seorang pendeta yang harus melepaskan kependetaannya alasannya yaitu kasus korupsi. Ada juga referensi dari luar negeri, Wolfowitz yang menawarkan kritik pada banyak negara wacana KKN dan berjanji membuat suasana kerja higienis di Bank Dunia, tapi ternyata menjadi pelaku KKN itu sendiri.

Atau lebih mudahnya, mari kita lihat diri sendiri. Sudah berapa kali kita menasihatkan belum dewasa kita untuk tidak buang sampah sembarangan, tidak bersikap sombong, tidak menghakimi orang lain dan hal-hal baik lainnya? Tapi, berapa kali pula kita justru melaksanakan hal yang berlawanan?

Saya masih ingat betapa kecewanya saya saat saya dan beberapa sobat “memergoki” kepala SD dan beberapa guru yang beli bakso di pinggir jalan dan memakannya di kantor guru. Padahal beberapa hari sebelumnya ia menasihati kami, murid-muridnya, untuk tidak jajan di sekolah. Beliau mengingatkan kami betapa pentingnya kebersihan. “Coba lihat, ibu kalian niscaya mencuci dulu wajan yang digunakan untuk masak masakan jikalau ingin menggunakannya untuk masak masakan lain. Nah, tukang jualan di pinggir jalan cuma punya seember air untuk mencuci semuanya,” begitu kata-kata ia yang masih saya ingat hingga sekarang, lebih dari 20 tahun kemudian. Tetapi saya juga masih ingat sikapnya yang kikuk saat mencoba membela diri dengan mengatakan, “Apa yang saya katakan wacana larangan jajan itu benar, jadi tergantung pada kau semua.” Mungkin rasa kecewa dan ketidakmengertian yang sangat besar yang membuat saya masih mengingat semuanya itu.

Saya yakin para guru itu aib tapi satu hal yang saya tidak yakin apakah mereka tahu, yaitu imbas yang terjadi pada murid-murid sehabis insiden ini. Murid-murid tidak percaya lagi pada guru dan segala pesan yang tersirat yang guru berikan akan masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri.

Ada 3 hal yang terjadi saat pemberi pesan justru menjadi pelanggar pesan.
Pertama, dan biasanya yang menerima lebih banyak sorotan, yaitu rasa aib dan hilang muka si pemberi pesan. Banyak orang akan mencibir dan tidak percaya lagi kepadanya. Ini harus ditanggung sendiri, alasannya yaitu merupakan buah dari perbuatannya. Yang

kedua, hilangnya kepercayaan pada badan, organisasi atau pengertian yang lebih luas yang diwakili pemberi pesan tersebut. Misalnya kasus pembocoran tanggapan ujian nasional yang dilakukan para guru dari beberapa sekolah yang berbeda. Bisa terjadi orang tidak hanya mencibir atau mengkritik para guru yang menjadi pelaku tersebut tapi juga terhadap semua guru pada umumnya. Begitujuga kritikan dan kecurigaan tidak hanya ditujukan pada pegawai negeri yang korupsi tapi pada seluruh pegawai negeri.

Hal ketiga yaitu akhir yang paling parah yaitu hilangnya rasa kepercayaan pada pesan itu sendiri.

Pemberi pesan dan pesan yang diberikan memang memiliki kaitan yang sangat erat. Sayangnya begitu eratnya sehingga saat pemberi pesan berubah–karena menjadi pelanggar pesan—maka pesannya juga akan terpengaruh padahal pesan itu tidak berubah. Sering kita dengar pernyataan ibarat “Buat apa berhenti merokok, wong dokter aja merokok…” atau “Buat apa rajin belajar, gurunya aja bocorin jawaban. Buat apa jujur, semua orang korupsi kok. Buat apa ada KPK, bukankah korupsi semakin merajalela…” dan sebagainya.

Pernyataan “Berbicara memang lebih gampang dari pada melakukan…” hendaknya jangan membuat kita mundur. Pesan-pesan, kritik, atau anjuran yang positif tetap harus disampaikan baik melalui perkataan maupun perbuatan. Agar penyampaian secara verbal mencapai tujuan dan tidak menjadi senjata makan tuan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Pertama, wacana pemberi pesan.
Jangan hanya tujukan perkataan Anda hanya pada orang lain tapi tujukan juga pada diri Anda sendiri. Sebagai pembicara tanpa disadari kita menempatkan diri kita pada posisi yang benar dan biasanya merasa lebih dari orang lain/pendengar. Posisi ini membuat kita tidak waspada. Ini memudahkan terjadinya kesalahan yang justru tiba dari diri sendiri. Sebaliknya jikalau kita yaitu peserta kritik atau nasihat, posisi kita membuat kita mawas diri sehingga tidak gampang jatuh.

Hal kedua yaitu wacana pesan itu sendiri.
Kalau kita mendengar perkataan orang lain berupa pesan, kritik, anjuran dsb, hendaknya yang lebih kita resapi, ingat dan camkan yaitu pesan itu sendiri, melebihi pemberi pesannya. Kaprikornus kalau pemberi pesan berubah, pesan tetap sama alasannya yaitu sudah memiliki nilai tersendiri.

Belakangan gres saya sadari bahwa apa yang dikatakan kepala sekolah saya saat kepergok murid-muridnya, itu benar. Ingat, bukan diri kepala sekolah itu yang benar tapi perkataannya wacana larangan jajan di sekolah.

Jadi, KPK harus tetap ada, mungkin harus ada perubahan dalam cara kerja ataupun pekerjanya tapi tujuannya tetap harus kita dukung, yaitu memberantas korupsi. Belajar yang baik dan jujur tetap harus kita lakukan alasannya yaitu menyontek yaitu salah satu jalan menuju kebodohan. Seberapa pun banyaknya dokter yang merokok, tidak mengurangi kenyataan bahwa merokok merusak kesehatan. Nilai-nilai susila yang baik tetap harus kita tanamkan tidak peduli berapa pemimpin agama yang telah jatuh dalam kesalahannya sendiri.

Ini hanya beberapa referensi yang terjadi dalam masyarakat kita. Saya yakin masih banyak lagi hal ibarat ini yang kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari. Hendaknya kita bisa memilah antara pemberi pesan dan pesan itu sendiri. Harapan saya, kita tetap mendukung semua pesan, kritik, nasehat dan apa pun yang bertujuan baik. Jangan hingga Anda menjadi pelanggar pesan dan jangan biarkan pesan baik terlupakan hanya alasannya yaitu si pemberi pesan menjadi pelanggar pesan.

[Kindeng Temminck-Simamora yaitu lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sastra Belanda. Ia sudah hobi menulis semenjak kecil, tetapi gres belakangan ini menerima keberanian memunculkan tulisannya untuk umum. Kindeng sanggup dihubungi di email:kindeng@yahoo.com]

Video pilihan khusus untuk Anda 😊 Pesan Bapak Anies Baswedan saat menjabat sebagai Menteri Pendidikan;
kata ini hanya berakhir di indera pendengaran kita dan tidak diteruskan ke otak kita untuk dicerna Pesan Yang (Hampir) Terlupakan


Sumber http://www.defantri.com

Selasa, 08 Januari 2019

Thomas Alva Edison

 tahun Edison dikeluarkan dari sekolah oleh orang tuanya untuk mencar ilmu sendiri di rumah Thomas Alva Edison
Karena dianggap udik pada masa kecilnya, maka semenjak usia 7 tahun Edison dikeluarkan dari sekolah oleh orang tuanya untuk mencar ilmu sendiri di rumah, dan pada usia 12 ia mulai berjualan koran dan buah-buahan di kereta api, sambil terus mencar ilmu secara berdikari melalui materi bacaan buku dan percobaan-percobaan kecil di rumahnya.

Semenjak ia menjadi operator telegraf konvensional, pada tahun pertama ia bekerja, Edison sempat berkali-kali di pecat dari pekerjaannya alasannya ialah kurangnya fokus pada kiprah operasionalnya, alasannya ialah ia sibuk membaca dan bereksperimen dengan peralatan yang menjadi tugasnya tersebut, dan sampai pada tahun 1870 Edison berhasil menemukan telegraf dengan fungsi yang terbilang tepat pada masanya itu. Pada tahun 1874, ia berhasil mendirikan bengkel science untuk percobaan dan penelitiannya sendiri dan tahun 1877 ia menemukan gramofon.

Pada tahun 1879, sesudah belasan ribu eksperimen yang 'gagal', ia menemukan sebuah cara yang berhasil untuk menyalakan lampu pijar yang berfungsi dengan sempurna, pesan yang selalu mengiringi keberhasilan ini ialah bahwa ia tidak melaksanakan ribuan eksperimen yang gagal, melainkan melaksanakan ribuan eksperimen yang mengantarkannya pada cukup 1 sukses besar, yang akan merubah dirinya dan kehidupan orang banyak sepanjang masa...
Edison memegang ribuan hak paten atas banyak sekali inovasi yang merubah dunia sampai hari ini, semuanya didasarkan pada ketekunan, kesabaran, keteguhan dan komitmentnya atas apa yang dipercayanya akan sanggup diraih.

"Thomas Alva Edison"
11 Februari 1847 - 18 Oktober 1931
Berikut ialah Quotes Thomas Alva Edison yang terkenal:
"Jenius ialah 1 persen ide dan 99% keringat"

Video pilihan khusus untuk Anda 😊 Mengenal salah satu matematikawan Indonesia;
 tahun Edison dikeluarkan dari sekolah oleh orang tuanya untuk mencar ilmu sendiri di rumah Thomas Alva Edison


Sumber http://www.defantri.com

Sabtu, 05 Januari 2019

Pemulung Dan Sampah

 Disana semua sampah dikumpul dan diolah Pemulung dan Sampah
Ketika orang-orang berkata:
✖ Ini sudah buruk, usang, kuno, busuk, dan tidak terpakai lagi.
✖ Ini semua harus dibuang.

Ketika para pejabat berkata:
✖ Disana kita menetapkan jadi TPA sampah.
✖ Disana semua sampah dikumpul dan diolah.

Ketika penduduk desa berkata:
✖ Terkutuklah mereka yang menciptakan daerah ini jadi daerah pembuangan sampah.
✖ Terkutuklah mereka yang membuang sampah ketempat ini.
✖ Berbagai protes dan sumpah serapah diucapkan.

Ketika para pemulung berkata:
✔ Ini masih bagus.
✔ Ini sanggup diperbaiki.
✔ Ini masih sanggup digunakan.
✔ Ini masih sanggup dipakai.
✔ ini semua sanggup dikumpulkan

Akhirnya pemulungpun berkata:
✔ Terima kasih kepada para pembuat keputusan.
✔ Terima kasih kepada mereka yang membuang sampah.
✔ Terima kasih alasannya disini kita sanggup mengais rezeky.
✔ Terima kasih alasannya kita tidak perlu jauh-jauh lagi ke kota,
☛ Untuk mencari kesempatan
☛ Untuk menerima pekerjaan
☛ Untuk memperoleh rezeky

Dan banyak sekali ucapan terima kasih serta ungkapan rasa syukur meluap dari lubuk hati para pemulung, alasannya hanya mereka yang sanggup melihat di daerah sampah ada "KESEMPATAN-HARAPAN-PEKERJAAN-BERKAT-REZEKY-KEHIDUPAN"
di daerah sampah ada:
☛ KESEMPATAN
☛ HARAPAN
☛ PEKERJAAN
☛ BERKAT
☛ REZEKY
☛ KEHIDUPAN"

Pemulung sanggup melihat "KESEMPATAN-HARAPAN-PEKERJAAN-BERKAT-REZEKY-KEHIDUPAN" di daerah sampah, apakah kita di daerah sampah?
Kita sanggup mampu lebih dari mereka, alasannya kita bukan di daerah sampah.

Video pilihan khusus untuk Anda 😊 Bagaiamana dongeng sukses Cristiano Ronaldo;
 Disana semua sampah dikumpul dan diolah Pemulung dan Sampah


Sumber http://www.defantri.com

Minggu, 23 Desember 2018

Pesan Dari George Carlin Untuk Kita

 Bersama istri yang tercinta dan anak kami Josua kami pergi ke daerah peziarahan yang Inda Pesan Dari George Carlin Untuk Kita
Menghabiskan waktu hari minggu, 29 april 2009. Bersama istri yang tercinta dan anak kami Josua kami pergi ke daerah peziarahan yang Indah, Suci dan Damai di Medan, Graha Bunda Maria Annai Velangkanni.

Setelah berdoa, jalan-jalan menikmati pemandangan dan akomodasi di sana, kami diberikan selembar kertas dari pengurus Graha Bunda Maria Annai Velangkanni yang berisi beberapa pesan.

Pesannya yaitu pesan dari George Carlin. Seperti apa pesannya, mari kita simak...
paradoks zaman kita dalam sejarah ialah:

♝ Bahwa kita mempunyai gedung-gedung yang lebih tinggi tetapi kesabaran yang pendek, jalan bebas kendala yang lebih lebar tetapi sudut pandang yang lebih sempit.

♝ Kita menghabiskan uang lebih banyak, tetapi mempunyai lebih sedikit; kita belanja lebih banyak, tetapi menikmati lebih sedikit.

♝ Kita mempunyai rumah-rumah yang lebih besar dan keluarga yang lebih kecil, lebih banyak akomodasi , tetapi waktu yang lebih sedikit.

♝ Kita mempunyai lebih banyak gelar, tetapi lebih sedikit pengertian; lebih banyak pengetahuan, tetapi lebih sedikit pertimbangan; lebih banyak ahli, tetapi lebih banyak masalah; lebih banyak obat-obatan, tetapi lebih sedikit rasa sehat.

 Bersama istri yang tercinta dan anak kami Josua kami pergi ke daerah peziarahan yang Inda Pesan Dari George Carlin Untuk Kita

♝ Kita minum dan merokok terlalu banyak, meluangkan waktu dengan terlalu ceroboh, tertawa terlalu sedikit, menyetir terlalu cepat, murka terlalu besar, tidur terlalu larut, berdiri terlalu lelah, membaca terlalu sedikit, menonton TV terlalu banyak, dan berdoa terlalu jarang.

♝ Kita telah melipatgandakan barang milik kita, tetapi mengurangi nilai kita.

♝ Kita terlalu banyak berbicara, terlalu jarang mencintai, dan terlalu sering membenci.

♝ Kita telah berguru bagaimana mencari uang, tetapi bukan kehidupan.

♝ Kita telah menambah tahun-tahun dalam hidup kita, tetapi bukan kehidupan dalam tahun-tahun tersebut.

♝ Kita telah mencapai bulan, tetapi mempunyai dilema dalam menyeberang jalan dan menemui tetangga baru.

♝ Kita telah mengalahkan luar angkasa, tetapi bukan dalam diri kita.

♝ Kita telah melaksanakan hal-hal besar, tetapi bukan hal-hal yang lebih baik.

♝ Kita telah membersihkan udara, tetapi mengotori jiwa.

♝ Kita telah mengalahkan atom, tetapi bukan diskriminasi.

♝ Kita menulis lebih banyak, tetapi mempelajari lebih sedikit. Kita berencana lebih banyak, tetapi mencapai lebih sedikit.

♝ Kita telah berguru untuk terburu-buru, tetapi bukan menunggu. Kita menciptakan lebih banyak komputer untuk menampung lebih banyak informasi, menghasilkan fotocopy yang lebih banyak, tetapi kita berkomunikasi semakin sedikit.

♝ Ini yaitu zaman dimana masakan siap saji dan pencernaan yang lambat, orang besar dengan abjad yang kecil, laba yang tinggi dan hubungan yang renggang.

♝ Ini yaitu zaman dimana ada dua penghasilan tetapi lebih banyak perceraian, rumah yang lebih glamor tetapi keluarga yang berantakan.

♝ Ini yaitu zaman dimana perjalanan dibentuk singkat, popok sekali pakai buang, moralitas yang gampang dibuang, hubungan satu malam, berat tubuh berlebihan, dan pil-pil yang melaksanakan segalanya dari menceriakan, menenangkan, hingga membunuh.

♝ Ini yaitu zaman dimana banyak barang di etalase showroom dan tak ada stok dalam ruang persediaan.

♝ Ingatlah, luangkan lebih banyak waktu dengan orang yang Anda kasihi, sebab mereka tidak akan ada selamanya.

♝ Ingatlah, ucapkan kata yang baik kepada orang yang memandang Anda dengan ketakutan, sebab si kecil tersebut akan segera tumbuh besar dan meninggalkan Anda.

♝ Ingatlah, beri pelukan hangat kepada orang di sisi Anda, sebab itulah satu-satunya harta yang sanggup Anda berikan dengan hati dan tidak membutuhkan biaya.

♝ Ingatlah, katakan “saya menyayangimu” kepada pasangan Anda dan orang yang Anda kasihi, tetapi dengan penuh makna. Ciuman dan pelukan akan memperbaiki luka ketika dilakukan dari lubuk hati yang paling dalam.

♝ Ingatlah, bergandeng tangan dan nikmati dikala itu sebab suatu hari orang tersebut tidak akan ada lagi.

♝ Berikan waktu untuk mencintai, berikan waktu untuk berbicara! Dan berikan waktu untuk membuatkan pikiran-pikiran yang berharga di benak Anda.


♛♛ dan ingatlah selalu ♛♛
Hidup tidak diukur oleh jumlah nafas kita, tetapi oleh saat-saat yang menghabiskan nafas kita.

Begitulah pesan dari Geoge Carlin untuk kita semua, agar sanggup kita jadikan anutan dalam menciptakan hidup kita lebih hidup.

Video pilihan khusus untuk Anda 😊 Apa yang kita lakukan hari ini yaitu Membangun Masa Depan;
 Bersama istri yang tercinta dan anak kami Josua kami pergi ke daerah peziarahan yang Inda Pesan Dari George Carlin Untuk Kita


Sumber http://www.defantri.com

Jumat, 21 Desember 2018

Merubah Dunia Dengan 'Sifat Operasi Hitung Matematika'

Merubah Dunia Dengan Sifat Operasi Hitung Matematika Merubah Dunia Dengan 'Sifat Operasi Hitung Matematika'Jika Anda pernah mengecap pendidikan di SD [SD] tepatnya sewaktu kelas 4 maka Anda sudah di perkenalkan sifat-sifat operasi hitung pada bilangan bulat. Sifat-sifat operasi hitung bilangan bundar itu akan saya ingatkan kembali dengan sederhana.

1. Sifat Komutatif

sifat komutatif disebut juga sifat pertukaran. Sifat Komutatif ini berlaku pada operasi penjumlahan dan perkalian.
Untuk lebih jelasnya, perhatikan penjumlahan berikut.
$2 + 4 = 6$
$4 + 2 = 6$
Jadi, $2 + 4 = 4 + 2.$
Sifat ibarat ini dinamakan sifat komutatif pada penjumlahan.
Sekarang, coba perhatikan perkalian berikut.
$2 × 4 = 8$
$4 × 2 = 8$
Jadi, $2 × 4 = 4 × 2.$
Sifat ibarat ini dinamakan sifat komutatif pada perkalian.

2. Sifat Asosiatif

Pada penjumlahan dan perkalian tiga bilangan bundar berlaku sifat asosiatif atau disebut juga sifat pengelompokan.
Perhatikanlah teladan penjumlahan tiga bilangan berikut.
$(2 + 3) + 4 = 5 + 4 = 9$
$2 + (3 + 4) = 2 + 7 = 9$
Jadi, $(2 + 3) + 4 = 2 + (3 + 4)$.
Sifat ibarat ini dinamakan sifat asosiatif pada penjumlahan.
Sekarang, coba perhatikan teladan perkalian berikut.
$(2 × 3) × 4 = 6 × 4 = 24$
$2 × (3 × 4) = 2 × 12 = 24$
Jadi, $(2 × 3) × 4 = 2 × (3 × 4).$
Sifat ini disebut sifat asosiatif pada perkalian.

3. Sifat Distributif

Sifat distributif disebut juga sifat penyebaran.
Untuk lebih memahaminya, perhatikanlah teladan berikut.
Contoh 1
Apakah $3 × (4 + 5) = (3 × 4) + (3 × 5)?$
Jawab:
$3 × (4 + 5) = 3 × 9 = 27$
$(3 × 4) + (3 × 5) = 12 + 15 = 27$
Jadi, $3 × (4 + 5) = (3 × 4) + (3 × 5)$ dan ini disebut sifat distributif perkalian terhadap penjumlahan

Contoh 2
Apakah $3 × (4 – 5) = (3 × 4) – (3 × 5)?$
Jawab:
$3 × (4 – 5) = 3 × (–1) = –3$
$(3 × 4) – (3 × 5) = 12 – 15 = –3$
Jadi, $3 × (4 – 5) = (3 × 4) – (3 × 5)$ dan ini disebut sifat distributif perkalian terhadap pengurangan.

Apa yang istimewa dari sifat-sifat operasi hitung diatas, yang mau kita tekankan yakni pada sifat operasi hitung diatas yakni persoalan (tanda kurung). Jika dalam operasi hitung terdapat tanda kurung, maka operasi hitung yang di dalamnya dikerjakan paling awal atau yang kita kerjakan pertama yakni yang di dalam kurung. teladan lain sebagai berikut:
$(((((12+8) x 3)-4):2)+5)$
untuk mengerjakan soal diatas, pertama kita ubah $(12+8)$ menjadi 20 sehingga soal menjadi
$(((((20) x 3)-4):2)+5)$
kemudian kita ubah $(20) x 3$ menjadi 60 sehingga soal menjadi
$((((60)-4):2)+5)$
kemudian kita ubah $(60)-4$ menjadi 56 sehingga soal menjadi
$(((56):2)+5)$
kemudian kita ubah $(56):2$ menjadi 28 sehingga soal menjadi
$((28)+5)$
kemudian hingga ke tahap simpulan kita ubah $(28)+5$ menjadi 33.
Hasil simpulan dari soal diatas yakni $33$

Dalam kehidupan ini, kita juga hidup di dalam banyak tanda kurung. Tanda kurung yang pertama yaitu $'diri\ kita'$ kemudian kurung berikutnya $'keluarga'$ kemudian $'kota'$ kemudian $'negara'$ dan $'dunia'$.

$\left( \left( \left( \left( \left(diri\ kita \right )keluarga \right )kota \right )negara \right )dunia \right )$
Kita sebagai seorang insan tidak akan sanggup mengubah dunia tanpa terlebih dahulu mengubah diri kita sendiri dan dalam matematika hal itu sudah diterapkan semenjak kita SD

Cerita Sumber Inspirasi:
“Ketika saya muda, saya ingin mengubah seluruh dunia. Lalu saya sadari, betapa sulit mengubah seluruh dunia ini, kemudian saya putuskan untuk mengubah negaraku saja.
Ketika saya sadari bahwa saya tidak sanggup mengubah negaraku, saya mulai berusaha mengubah kotaku.
Ketika saya semakin tua, saya sadari tidak gampang mengubah kotaku. Maka saya mulai mengubah keluargaku.
Kini saya semakin renta, saya pun tak sanggup mengubah keluargaku.
Aku sadari bahwa satu-satunya yang sanggup saya ubah yakni diriku sendiri.
Tiba-tiba saya tersadarkan bahwa jikalau saja saya sanggup mengubah diriku semenjak dahulu, saya niscaya sanggup mengubah keluargaku dan kotaku.
Pada risikonya saya akan mengubah negaraku dan saya pun sanggup mengubah seluruh dunia ini.”

Analisa sederhana bahwa konsep matematika diatas sangat baik penerapannya di dalam kehidupan kita, atau Anda punya pendapat yang berbeda, mari berkomentar...

Video pilihan khusus untuk Anda 😊 Matematika Dapat Mempengaruhi Karakter Kita;
Merubah Dunia Dengan Sifat Operasi Hitung Matematika Merubah Dunia Dengan 'Sifat Operasi Hitung Matematika'


Sumber http://www.defantri.com

Selasa, 18 Desember 2018

Guru Matematikaku Motivatorku

epuluh tahun silam ia guru yang tidak saya senangi Guru Matematikaku MotivatorkuSepuluh tahun silam ia guru yang tidak saya senangi. Rasa tidak senang itu muncul ketika kakiku melangkah menuju gerbang sekolah. Bukankah ia guru yang baik?

Bila esok pagi ada pelajaran Matematika malam seakan mencekik semangatku. Yang ada dibenakku hanyalah perasaan malas, malas, dan malas! Pasti saya ditunjuk oleh guruku untuk mengerjakan soal-soal latihan. SEBEL! Semenjak itu saya tak senang dengan pelajaran Matematika.

Kalau bisa sich no problem. Kalau tidak…? Menjadi beban dalam hidupku. “Lesu saya sebab mengeluh, setiap malam saya menggenangi kawasan tidurku, dengan air mataku saya membanjiri ranjangku” (Maz 6:27). Apakah sebab guruku?.

Aku sungguh tersiksa kalau tidak bisa mengerjakan soal itu. Jari telunjukku mulai beraksi menunjuk sobat untuk membantu. Mengapa bel tak kunjung terdengar?. Yang kunantikan hanyalah bel tanda istirahat atau ganti jam pelajaran. Dan sesudah itu saya akan menikmati kebebasan.

Di mataku ia guru yang sabar. Cara mengajarnya menarik. Mengajari muridnya dari kursi yang satu ke kursi yang lain. Setelah kusadari yang membuatku tidak senang sebab menerima nilai merah. Saat itu saya hanya bisa menyalahkan guruku. Meratapi nilai itu dengan sebuah pertanyaan “apa sih susahnya memberi nilai belas kasihan toh tidak dosa, justru menerima berkat dikarenakan telah menolong dan membahagiakan orang lain”. Pikiranku sudah diplot ia itu guru yang paling pelit!

Sebagai murid yang kuharapkan yakni nilai yang bagus. Dan itu dulu menjadi kebanggaanku, apa lagi seluruh biaya hidup dan sekolahku ditanggung oleh orang bau tanah angkatku. Begitu aib kudapati nilai merah dalam raportku.

Bulan November kemudian saya bertemu dengan guruku. Tidak banyak yang berubah sesudah hampir sepuluh tahun tak bertemu. Hanya beling matanya saja yang semakin menebal.
”Lho kok kau ada di sini”
”Iya... sudah semenjak Agustus lalu” jawabku!
Aku dan guruku mulai bertanya kabar dan keadaan. Mungkin guruku heran mendengar sharingku bahwa saya kini memasuki tahun yuniorat ke dua. Aku merasa aib dengan guruku sebab dulu sering menciptakan ulah. Dan kalau di suruh mengerjakan tugas-tugas ga pernah tuntas. Setelah guruku Matematika tidak mengajar lagi saya tak pernah kontak atau berkirim surat padanya.

Guruku itu tidaklah salah. Dia menawarkan nilai menurut prestasiku. Melalui guruku itu, Tuhan telah menawarkan iktikad kepadaku untuk membuatkan bakat yang kumiliki.

Guruku mengajari menyerupai cerita seorang hamba yang menerima lima bakat dari Tuannya.“Tuan, inilah lima bakat yang pernah tuan percayakan kepadaku. Lihatlah, saya sudah memperoleh laba sebanyak lima bakat juga [Mat 25:20] Guruku mengajari untuk bertanggungjawab dan setia untuk belajar. Aku telah terikat oleh pikiran burukku sendiri.

Guruku itu namanya FIRMINE, ia yakni seorang suster yang setia dan sederhana. Saat ini ia bertugas di Sumatera Selatan. Dan sore itu suster Firmine final menjalani retret mediornya.
“Suster kapan kembali ke Sumatera?” tanyaku kepadanya.
“Nanti sore pukul 18.30”
Sepertinya perjumpaanku dengannya akan ditutup lebih cepat oleh waktu. Malam sesaat lagi akan memeluk bumi, dan saya hanya bisa membayangkan suster kedinginan di dalam kendaraan beroda empat berAC. Sore itu, saya sempat mangantarnya ke Terminal Tingkir Salatiga. Guruku itu kurasakan sangat jauh di mata, tetapi tidak jauh dihati [1 Tes 2:17]

Tugas guru bukan hanya mengajar dan memberi nilai. Dia bagaikan lilin yang kecil, bisa menawarkan terperinci di ruangan yang gelap. Pengabdianmu tulus. Tak kenal lelah, dan pantang menyerah. Tugas guru memang berat, tetapi seribu berkat akan didapat. Terima kasih guruku, kaulah motivator dalam hidupku.

[Guru Matematikaku Motivatorku | Saduran dari: ROHANI, edisi Maret 2008, Oleh:Justinus Juadi FIC]

Video pilihan khusus untuk Anda 😊 video guru yang super kreatif ini, mengerjakan perkalian jadi kreatif;
epuluh tahun silam ia guru yang tidak saya senangi Guru Matematikaku Motivatorku


Sumber http://www.defantri.com

Sabtu, 08 Desember 2018

Prestasi Akademik Saja Tidak Cukup

 seorang teman yang merupakan salah satu calon wisudawan memperlihatkan satu pernyataan yang Prestasi Akademik Saja Tidak CukupSehari sebelum program wisuda sarjana, seorang teman yang merupakan salah satu calon wisudawan memperlihatkan satu pernyataan yang betul-betul mengejutkan saya. "Besok akan menjadi hari yang menggembirakan sekaligus menyedihkan dalam hidup saya," katanya dengan wajah sedih. "Bagaimana bisa?" tanya saya penuh rasa penasaran. "Saya bangga lantaran terbukti bisa menuntaskan studi sarjana saya. Yang menyedihkan hati saya ialah mulai besok saya akan jadi pengangguran di negeri ini. Status sosial saya turun drastis dari mahasiswa menjadi pengangguran!" lanjut calon sarjana teknik ini.

Ia juga mengemukan sejumlah kekhawatirannya. Beberapa hari sebelumnya, dalam sebuah perbincangan dengan dosen walinya, sang teman ini diberikan sejumlah wejangan penting oleh sang dosen wali. "Perlu kau sadari ada banyak sekali kriteria seleksi sarjana untuk terjun di dunia kerja. Misalnya ketrampilan berkomunikasi, kejujuran, kemampuan bekerja dalam sebuah tim, kemampuan berafiliasi baik dengan orang lain, etos kerja, kemampuan analisis, engineering skills, motivasi diri yang kuat, kepercayaan pada diri sendiri, fleksibilitas, dsb. Sayangnya pendidikan di perguruan tinggi hingga dikala ini lebih banyak menekankan pada kemampuan analisis dan engineering skill," kata sang dosen.

Cerita di atas sekaligus mengingatkan saya bahwa pendidikan formal saja tidak pernah cukup. Mohon maaf, saya tidak sedang menghujat sekolah atau kampus [lembaga pendidikan formal]. Yang ingin saya tekankan di sini ialah prestasi akademik saja tidak akan menimbulkan seorang sarjana sukses di masyarakat. Persis menyerupai yang saya sampaikan ketika seminar kewirausahaan di Universitas Nasrani Petra Surabaya, Maret 2003 lalu, "Jangan menghujat sekolah namun jangan pula memuja sekolah!" Intinya, masih banyak sekali yang harus dipelajari seseorang sehabis ia lulus. Belajar ialah sebuah proses seumur hidup.

Jika kita berhenti bertumbuh [termasuk berhenti belajar] artinya kita telah mati dalam hidup. Artinya, jangan menjadi orang yang sama dari dulu, kini hingga selama-lamanya. Kita harus selalu bertumbuh ke arah yang lebih baik dari hari ke hari. Beberapa hari lalu, saya bertemu dengan mantan rektor sebuah perguruan tinggi ternama di kota Bandung tengah memborong sejumlah buku di sebuah toko buku. Rupanya dia secara rutin mengunjungi toko buku. Salut!

Pendidikan formal memang penting. Bukankah banyak sekali penelitian ilmiah [misalnya di bidang kedokteran] yang dihasilkan oleh forum pendidikan formal? Sayangnya banyak mahasiswa yang menentukan DO [drop out] sehabis membaca buku-buku kewirausahaan yang menceritakan bagaimana orang-orang yang putus sekolah bisa menjadi pengusaha sukses. Sebagian kemudian beranggapan biar bisa menjadi pengusaha sukses harus DO. Jika mau jujur, berapa banyak sih persentasi mereka yang DO yang kemudian sukses? Jika dibandingkan, mana yang lebih banyak, orang yang tidak berpendidikan yang kemudian menjadi bajingan dengan orang yang tidak berpendidikan yang kemudian menjadi orang sukses? Semoga kita bisa cukup bijaksana menilai sesuatu sebelum mengambil keputusan. Ingat, penyesalan selalu tiba belakangan.

Dengan semakin meningkatnya angka pengangguran di negeri ini –yang telah mencapai 40 juta orang- tentu akan makin sulit menemukan lapangan pekerjaan di negeri ini. Itulah sebabnya kita harus memikirkan jalan keluarnya. Saya rasa salah satu pilihan yang bisa diambil ialah dengan menjadi wirausaha [entrepreneur]. Dengan berwirausaha, kita bukan saja menolong diri kita tapi sanggup juga menjadi terusan berkat bagi orang lain. Kita sanggup membuat lapangan pekerjaan bagi orang lain. Yang lebih baik lagi apabila kita kemudian sanggup mendidik karyawan kita biar suatu dikala nanti ia pun mempunyai keberanian untuk berwirausaha.

Ada seorang teman saya yang ketika itu sudah setahun menganggur namun tidak pernah berkecil hati. Ia kemudian membuka perjuangan yang berawal dari hobinya: membaca komik. Kini ia telah mempunyai 2 cabang rental komik yang lokasinya erat dengan kampus. Keuntungan perbulannya mencapai Rp 3 juta. Salut! Yang menarik, ia memulai bisnis ini dengan modal hanya beberapa juta rupiah. Maklum, buku-buku yang ada di rental tersebut sebagian ialah koleksi pribadinya. Anda pun bisa menempuh jalan yang sama. Sebuah hobi kalau dijadikan bisnis akan sanggat menggairahkan lantaran Anda akan mengerjakannya sepenuh hati.

Membangun sebuah bisnis tentu bukan hal yang mudah. Apalagi ada kecenderungan dalam diri insan ingin pribadi besar [instant]. Padahal alam mengajarkan kita untuk berlaku sebaliknya. Tidak ada pohon yang bisa tumbuh besar dalam semalam. Bayi pun tidak bisa pribadi berlari ketika dilahirkan. Memulai bisnis dari kecil tentu sangat berat namun di situlah tantangannya. Bisnis yang dibangun dari bawah akan mempunyai pondasi yang lebih besar lengan berkuasa lantaran Anda sudah terbiasa menghadapi segala macam permasalahan.

Dalam buku First Step to be An Entrepreneur, saya menulis bahwa untuk menjadi seorang entrepreneur Anda harus berani mengambil risiko, menyukai tantangan, mempunyai daya tahan yang tinggi, mempunyai visi jauh ke depan dan selalu memperlihatkan yang terbaik. Persoalannya selalu muncul di risiko, lantas sering timbul pertanyaan, risko macam apa yang harus diambil kalau saya ingin berwirausaha? Jawabannya jelas, risiko yang telah Anda perhitungan dengan matang [calculated risk]. Ada sejumlah pertanyaan fundamental yang bisa Anda usikan untuk itu. Misalnya, adakah pasar untuk produk saya? Mampukah saya membuat pasar kalau produk saya benar-benar baru? Bagaimana cara saya memasarkan produk saya? Bagaimana dengan tingkat persaingan dikala ini? Apa kelebihan produk saya dibandingkan dengan kompetitor? Bagaimana dengan penyediaan materi baku? Dsb.

Ketika mulai berwirausaha saya juga menemukan setidaknya ada 4 hal yang bisa kita lakukan untuk meminimalisir risiko. Pertama, kita bisa mencari pembimbing yakni pengusaha yang sudah sukses. Kedua, membentuk tim. Ketiga, mempunyai jaringan yang luas [ini penting untuk ekspansi pasar] dan keempat, kalau masih ragu-ragu coba beli sistem yang telah mapan [misalnya sistem pemasaran jaringan atau sebuah franchise]. Setahu saya ada franchise yang berani mengembalikan uang yang telah Anda investasikan kalau dalam jangka waktu tertentu perjuangan Anda tidak menguntungkan meski telah mematuhi semua hal dalam sistem tersebut.

Jika risiko telah bisa Anda kalkulasi dengan matang buatlah rencana dan action! Konsep sebagus apa pun tidak akan berhasil kalau tidak dilaksanakan. Lagipula biar bisa sukses dalam hidup ini kita harus menghindari 5 sikap:

☛ NATO (no action talk only),
☛ NACO (no action concept only),
☛ NADO (no action dream only),
☛ NAPO (no action plan only) dan
☛ NARO (no action review only).
Action is power!

Yang terakhir, jangan lupa apa pun yang Anda kerjakan akan berhasil kalau menerima restu dari-Nya. Di sinilah pentingnya kekuatan doa. Saya selalu teringat akan nasihat dari seorang teman mengenai pentingnya berkerja bersama Allah untuk membuat kehidupan yang lebih baik. "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang menyayangi Dia," begitu nasihatnya. Salam sukses buat Anda semua!.

[Data disadur dari banyak sekali sumber, bila Anda merasa pemilik sebagian atau keseluruhan konten diatas dan keberatan ditampilkan. Anda sanggup menghubungi Admin Blog, dan Admin Blog akan dengan bahagia hati menanggapi seruan Anda. Terima kasih | Admin Blog]

Apa yang kita lakukan hari ini ialah Membangun Masa Depan;
 seorang teman yang merupakan salah satu calon wisudawan memperlihatkan satu pernyataan yang Prestasi Akademik Saja Tidak Cukup


Sumber http://www.defantri.com