Tampilkan postingan dengan label Tausiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausiyah. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 September 2017

Yang Belum Halal

Setan: “Kalian berdua cocok sekali lho. Sudah, kalau beliau lambat, lebih baik kau yang lebih dahulu kode-kode saja. Aku yakin, bahu-membahu rahasia kalian berdua itu saling kagum bahkan saling suka. Sekarang coba kau ngaca, kenali dirimu. Siapa sih yang nggak mau sama perempuan macem kamu? Kamu juga. Bukannya kau sedang ingin memperdalam agama? Kamu butuh teman yang elok agamanya. Mumpung ada yang sealim dia, coba aja kau dekati. Coba kau pikirkan, kapan lagi kecocokan berbanding lurus dengan kesempatan? Tunggu apalagi? Minimal kode-kode sana. Buruan nanti diambil cewek lain yang lebih sering interaksi sama dia!”

Malaikat: “Kamu sudah siap? Seshalih/shalihah apapun manusia, sesuami-able se-istriable apapun manusia, itu semua bukan alasan untuk melegitimasi sikap kita yang menyimpang dari apa-apa yang Dia perintahkan. Bukannya sebelum halal maka hati itu harus dijaga hanya untuk Tuhan? Meskipun kalian nggak pacaran, kalau saling kode-kode bagaimana? Status memang single, hanya bersama Tuhan. Tapi, bila begitu, hatimu dengan siapa? Yakin hatimu cuma buat Tuhan? Soal interaksi, seharusnya kau paham bahwa pria yang benar-benar taat akan paham bahwa perempuan yang baik yaitu perempuan yang menjaga interaksinya sebaik mungkin. Jika memang beliau lebih menentukan perempuan lain yang sering berinteraksi dengan dia, biarkan. Itu tandanya beliau tidak seprinsip denganmu, atau bahkan beliau memang bukan orang yang sempurna untuk kau yang mati-matian berguru fokus untuk Dia. Ingat, yang terbaik akan menemukan yang terbaik. Kamu yang mana? Mau bersabar walau sakit? Atau mau bar-bar dalam kesenangan semu? Ingat, hidupmu untuk apa.”

Hayoo..paling sering siapa yang bisikin ? Setan atau malaikat? hehe.
Semoga dengan renungan ini, kita dapat tetap istiqomah dalam menjaga diri & hati. Yakin saja, Percayakan kepada-Nya :)


Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com

Minggu, 17 September 2017

Menjaga Diri

Are you single? Are you sure?

Biasanya ikhwan ataupun akhwat itu single alias jomblo. Tapi apakah benar mereka single 100%? Begini. Tujuan saya menciptakan goresan pena ini yakni sebagai bentuk kritik membangun bagi para ikhwan maupun akhwat. Saya rasa semua setuju bila menjaga diri, menjaga kehormatan diri itu perlu dan harus. Saya rasa semua setuju bila pacaran itu memang dihentikan dalam agama, dan niscaya para pelopor dakwah tau hal ini dengan sangat baik. 

Memang, jarang saya temui ikhwan/akhwat yang rahasia pacaran. Yaa alasannya mereka benar-benar single. 

Oke ganti topik. Sekarang media umum sudah bukan menjadi hal yang wow. Iya kan? Whatsapp, BBM, Viber, Instagram, Facebook, Twitter, Line, G+ dan masiiih banyak lagi. Disinilah titik yang ingin saya kritisi. 

Oke, memang yang namanya ikhwan akhwat jarang banget interaksi empat mata. Rapat aja mesti pake hijab. Kaprikornus nggak bisa saling tatap muka. Oke, itu memang udah cukup baik. Dan memang sudah seharusnya begitu.

Tapi bagaimana bila di media sosial? Apakah hijab atau batasan masih ada? Masih dijaga? Terlebih komunikasinya pake private message. Pembicaraan hanya dua arah. Hanya kamu dan aku. Kalo saya, grup whatsapp boleh hidup hanya hingga jam 9 malam. Tapi apakah itu juga diberlakukan bagi para pelopor dakwah? Pembicaraan dua arah atau private message biasanya dilakukan bisa hingga lebih dari jam 9 malam. Inilah salah satu titik yang sebaiknya diperbaiki. 

Maaf. Afwan. Afwan binggo. Saya jujur kurang suka pada ikhwan ataupun akhwat dimana ia mempunyai sobat komunikasi secara rutin dua arah. Misal sudah menjadi keseharian bagi ia untuk berkomunikasi via whatsapp atau yang lain. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi saya rasa bila yang dibicarakan problem dakwah tidak perlu menjadi suatu rutinitas. Bisa dibahas di grup whatsapp dimana pembicaraannya lebih dari dua arah atau mungkin bisa dikupas tuntas dikala syuro’.

Ganti topik. Tidak baik bagi ikhwan ataupun akhwat saling main kode-kodean. Saling komentar di instagram, facebook atau yang lainnya. Oh please! Cukup kode-kodean pada ia yang Allah gariskan untuk kita. Kode-kodean lewat doa maksudnya. Itu jauh lebih baik. Daripada kita main kode-kodean di media umum lagi, bisa menjadikan fitnah saudara-saudara!

Saya? Saya? Saya jauh dari kesempurnaan. Saya juga pernah lepas kontrol dalam penjagaan diri. Tapi, saya berusaha. Ya berusaha. Ya alasannya saya sadar betul. Saya tidak punya apa-apa, harta itu milik Allah yang Allah titipkan ke orang bau tanah saya. Saya masih belum bisa cari makan dari hasil keringat sendiri. Saya. Saya seorang perempuan. Saya bisa apa kalo udah dijahatin laki-laki. Nah, upaya penjagaan diri inilah yang saya rasa harus saya lakukan sebagai bentuk ikhtiar untuk menjadi insan yang lebih baik. Saya tidak punya harta tapi saya punya harga diri. Saya tidak punya kekuatan untuk melawan pria tapi saya berusaha membangun benteng semoga pria tidak bisa menembus benteng yang saya bangun. 

Intinya. Saya berharap bila ikhwan / akhwat mulai lebih bisa menjaga diri di media sosial. Menjaga diri. Menjaga kehormatan diri. Daripada main kode-kodean nggak jelas, eksklusif aja pergi ke KUA. Bicarakan sesuatu seperlunya dalam pembicaraan dua arah. Jika bercanda pastikan itu tidak bercanda dalam komunikasi dua arah. Cinta bisa hadir dari canda. Optimalkan fungsi grup komunikasi. Optimalkan syuro’. Tuntaskan sekalian segala bahasan dakwah disitu. Biar tidak ada tambahan yang dipakai sebagai modus untuk memulai pembicaraan dua arah.

Afwan. Afwan. Manusia hidup untuk apa bila tidak untuk memperbaiki diri. Begitupun dengan saya. Tulisan ini saya buat bukan hanya semata-mata mengkritisi orang lain tapi juga sebagai bentuk hikmah diri. Dan langkah awal saya untuk mengikrarkan bila saya sedang berusaha menjaga diri. Jika mungkin di lain waktu saya lepas kendali, mungkin goresan pena ini bisa menjadi reminder saya untuk ‘kembali pada Cikal yang sebenarnya.’

Wallahu a'lam.

Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com

Sabtu, 16 September 2017

Ular Atau Kue

Jika di hadapanmu ada dua hal: ular berbisa dan masakan ringan elok favorit, mana yang akan kamu perhatikan? — Aa’ Gym

Ular atau kue? Secara naluri, kita lebih suka memperhatikan hal-hal yang kita sukai dan mengabaikan hal-hal yang tidak kita sukai. Seharusnya KUE, kan? Tapi sayangnya, balasan yang sempurna untuk pertanyaan di atas adalah..ULAR.

Kue yakni kiasan untuk banyak sekali macam perkataan makhluk yang lazim kita dengar sebagai pujian. Ohya, jujur saja, memangnya siapa di dunia ini yang tidak suka dengan pujian?

Sedangkan ular yakni kiasan untuk banyak sekali macam kata-kata yang kita persepsikan sebagai kritikan, yang yah… akui sajalah kalau itu lebih sering menciptakan kita kurang nyaman.

Kritikan memang pahit, bahkan menyakitkan. Tapi bagaimana kalau itu yakni cara Allah biar kita memperbaiki diri? Bukankah itu jauh lebih baik daripada kita yang besar hati berselimutkan kebanggaan manusia, padahal mereka tidak tahu sebusuk apa kita. Bagaimana kalau kebanggaan menciptakan kita berhenti untuk memperbaiki diri, tidakkah itu lebih mengerikan?

Yuk, sama-sama berlatih untuk lebih peduli dengan “ular” daripada “kue”.

Sehingga saat kita memperbaiki diri terus menerus, mudah-mudahan Allah berkenan mengakibatkan kita sebagai jalan perubahan bagi keluarga kita untuk menjadi lebih baik pula.

Wallahu a'alam.


Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com

Rabu, 13 September 2017

Kuantitas Dan Kualitas

Andaikan sebuah kemenangan ditentukan oleh kuantitas, maka sudah seharusnya pada dikala perang Badar dahulu umat Muslim terkalahkan.

Andaikan sebuah kemenangan ditentukan oleh kuantitas, maka sudah seharusnya umat Muslim dapat dalam sekejap itu menang melawan pasukan Byzantium menaklukkan konstantinopel.

Andaikan kuantitas yaitu jaminannya.

Namun sayang.. bagi Allah kuantitas bukanlah penentu suatu kualitas. Ketika umat muslim di dunia berjumlah sangat banyak, namun pada kenyataannya dunia semakin bermuram durja. Dunia semakin jauh dari kata keadilan. Dunia semakin terpuruk, merana tahta dan kualitas. Dunia semakin tercekik oleh keserakahan. Dunia hilang arah, kemana seharusnya beliau menuju.

Kuantitas tak selamanya menjadi penentu baiknya kualitas.

Kini hadirlah kita pada suatu zaman dimana umat Islam menyerupai buih di lautan. Mengambang, terombang-ambing begitu saja tanpa tujuan. Mau kemana, ya mengikuti ombak. Sayang, beliau tidak punya pendirian. Desiran yang dahsyat lalu menghilangkannya.


Tidak malukah kita pada Rabb semesta alam? Dia memandangi dan mengawasi kita setiap saat. Memperhatikan walau kita tidak sadar. Menguji kualitas iman, bukan hanya sekedar menghendaki berjalannya kuantitas para p0juang Islam. Ingat, kuantitas itu hanyalah tampilan. Sementara kualitas memilih segalanya.

Kini aku berjalan di muka bumi, dimana muslim menyerupai buih di lautan. Tapi, itu terkhusus bagi umat Islam yang hanya sekedar status, hanya sekedar berjalan di muka bumi. Tanpa memandang tujuan, menghadapi halang rintang dan menggapai cita-cita.

Seperti buih, terombang-ambing tidak menentu.

Saya? Saya tidak mau menjadi muslim yang demikian. Karena aku tahu, Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam tidak begitu. Dia yaitu panutan utama aku dan beliau tidak ajarkan kita menjadi muslim yang menyerupai buih.

Tidak semenyedihkan itu.

Bagaimana dengan kalian? Maukah berjuang untuk tidak menjadi menyerupai buih di lautan? Maka, mari tingkatkan kualitas. Karena sebenarnya setiap ujian dan halang-rintang yaitu demi tercapainya kualitas tinggi di hadapan Allah.

Semoga kita istiqomah dijalan-Nya, aamiin.

Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com

Menjadi Dewasa

Beberapa orang tanpa sadar kehilangan hening sejahtera. 
Sedih. Ketika kita tahu bahwa kita sedang dipelihara, namun masih saja ‘mau’ dikendalikan oleh perasaan. Bukan berarti antipati atau mati rasa sehingga tidak peka dengan apa yang terjadi di luar.

Praktis bagi kita untuk tersenyum, tertawa, berbagi, senang ketika kita dalam keadaan mood yang baik. Bagaimana bila orang-orang disekitar menciptakan keributan, menyakiti, bahkan tidak memahami sikon dalam hati kita? Berbuat baik pada orang yang berlaku baik itu masuk akal banget, manusiawi tapi yang Istimewa yakni ketika ada yang masih mengecewakan tapi kita menentukan untuk melepaskan pengampunan. Akan ada orang yang bergunjing dan menilai kita ndeso atau bahkan sok suci. Itu tidak menjadi dilema ketika kita sendiri, langsung kita yang mau hidup bebas dari kebencian, kemarahan, dan kekecewaan.


Toh penghakiman bukan penggalan manusia. Sebenarnya ketika murka pun, kita dapat menentukan untuk tidak berbuat dosa, bahkan berbuat baik. Bagaimana caranya? Hal itu ditentukan respon kita ketika amarah memuncak. Mau membalas amarah dengan amarah, atau membisu dan mendengarkan. Bahkan pelan-pelan mendoakan dalam hati. Sulit memang, jikalau masih pakai logika manusia.

Bisa jadi, doa kita belum terjawab sebab kita belum remaja dalam mengekpresikan bentuk amarah, rasa kecewa, kebencian dll. Praktis buat Dia (sang pencipta) mengabulkan apapun doa kita, sebab Dia pengasih dan pemurah. Tapi yang diinginkan-Nya ialah kedewasaan.



Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com

Senin, 11 September 2017

Adab Berpakaian Dalam Islam

Agama Islam ialah agama sempurna. Segala hal telah diatur sedemikian rupa. Dari hal besar hingga hal kecil. Dari hal penting hingga hal sepele. Dari bersujud kepada Allah, hingga dengan cara beristinja' sesuai kaidah islam. Coba pelajari, agama mana yang mau masuk kamar mandi saja ada aturannya. Agama mana yang sekadar urusan bersin saja, ada aturannya. Coba cari di agama lain. Adakah aturan-aturan mendetail mirip ini? Karena sejauh yang saya tahu, tidak ada. 

Makanya pernah ada ungkapan seorang non muslim, "Jangan mencampurkan agama dengan politik", simply lantaran dalam agama dia, banyak hal tidak ada landasan hukumnya. Aturannya sederhana, berbuat baik, ibadah, selesai. Tidak dirincikan berbuat baik itu mirip apa, tidak dirincikan ibadah itu mirip apa.

Agama Islam memang agama yang sempurna. Segala hal diatur. Menjadi orang tua, menjadi anak, menjadi suami/istri, bertetangga, bersaudara, berkeluarga, berdagang, bepergian, berbisinis, berpolitik, dsb. Itulah kenapa disebut sempurna, lantaran memang lengkap aturan dan kaidahnya di setiap lini kehidupan manusia.


Termasuk dalam hal berpakaian. Agama kita juga mengatur cara kita berpakaian. Bagaimana berpakaian yang baik. Pakaian apa yang boleh dipakai dalam kondisi-kondisi tertentu, mirip haji atau sesederhana dikala shalat, pakaian apa yang boleh dipakai secara umum, batasan-batasan aurat, dsb.

Untuk perempuan, tentu sudah banyak yang bahas. Aurat perempuan ialah seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan. Selain daripada itu, maka wajib mengulurkan khimar(kerudung) & jilbab (gamis) yang tidak ketat. Diulurkan, bukan dililit-lilit ya :) Tidak ketat, artinya tidak membentuk lekuk badan atau menonjolkan kepingan badan tertentu. Pun tidak transaparan. Kalau pake putih, maka hanya putih yg terlihat, tidak ada kurang jelas pink, kurang jelas biru, dst. Harus kain tebal, atau kalau tipis maka dilapisi, agar tidak tembus pandang. 

Ah iya, jangan lupa kaidah lainnya, yaitu kepala yang mirip punuk unta, tidak berlenggak-lenggok dikala berjalan, dan tidak menggunakan parfum yg menyengat. Karena berdosa kalau seorang perempuan lewat, lantas tercium wangi parfumnya oleh laki-laki. Juga jangan mempamerkan diri, ikut kontes jilbab dsbnya. Karena itu bertentangan dengan kaidah jilbab yang harusnya menutupi, melindungi, menyembunyikan, kok malah dipamerkan? Nggak nyambung lah :D

Untuk laki-laki, banyak yang menganggap sepele, tetapi gotong royong tidak begitu. Yang saya tahu, aturannya memang sederhana. Auratnya dari pusar hingga lutut. Inilah yang wajib ditutupi. Dada masih boleh kelihatan. Kaprikornus kalau yg merasa sudah baligh, yaa antum wajiblah kemana-mana pake pakaian yang menutup aurat, jangan pake celana pendek. Mulai biasakan pake celana panjang. Kalaupun memang mau pake celana pendek, maka pakailah celana pendek yang kainnya minimal tetap melewati lutut dikala antum duduk/jongkok. 
Dan satu hal lagi, kain tidak boleh melewati mata kaki. Dalam riwayat ada seseorang sedang shalat, mata kakinya tertutup, kemudian Nabi menyuruhnya mengulang wudhu hingga 2 kali. Dan menutup mata kaki ancamannya tidak main-main, 'Kain yang berada di bawah mata kaki, berada di Neraka' (Bukhari 5787). Lantas Bagaimana kalau pake kaos kaki atau sepatu boot yg menutup mata kaki? Boleh, lantaran yg dihentikan ialah kain yg menjulur dari atas ke bawah, bukan dari bawah ke atas.

Seiring berkembangnya zaman, ada sebagian ulama' beropini bahwa tidak mengapa kain melewati mata kaki, asalkan tidak sombong. Dengan bersandar kepada riwayat kala Abu Bakar bertanya kepada Rasul, apakah ia termasuk orang yang tidak akan dilihat oleh Allah di hari final lantaran berpakaian isbal (kain melewati mata kaki), maka Rasul menunjukkan kabar gembira, bahwa Abu Bakar tidak termasuk, lantaran dia tidak sombong.

Tetapi perlu diperhatikan bahwa dalam riwayat, Abu Bakar menyebut "terkadang celanaku melorot kecuali kalau saya menjaganya". Maka yang mesti dititik beratkan ialah Abu Bakar celananya melorot, ia sudah berusaha untuk tidak isbal, bukan disengaja mengulurkan kain kebawah mata kaki. Dan Abu Bakar bilang ‘kecuali kalau saya menjaganya’, maka sanggup ditarik satu buah kesimpulan, Abu Bakar tidak isbal kecuali kalau celananya melorot & ia tidak sempat menjaganya.

Lebih lanjut, Abu Bakar itu ialah sobat Nabi yg mulia, dijamin surga. Maka berhentilah menyamakan diri kita dengan dia termasuk sobat Nabi lainnya. Penyakit kronis sebagian umat ini ialah selalu mencatut nama-nama sobat Nabi, mencoba sejajar dengan mereka. Abu Bakar begini, Umar begitu, padahal hingga kapanpun, sungguh kita tidak akan sebanding dengan mereka. Mereka ialah kaum yang berjumpa dengan rasul, berjuang bersama rasul, dijamin surga, lantas kita ini siapa mau menyamaratakan diri dengan mereka?

Maka, kaidah paling amannya ialah gunakan saja diatas mata kaki. Tidak perlu malu. Dan kenapa mesti malu. Bukankah banyak orang yang menggunakan celana diatas lutut bahkan lebih keatas lagi, tetapi tidak malu? Cinta Rasulullah kan? Monggo buktikan :) Masa’ kita yang diatas mata kaki sedikit malu. Saat pertama memang agak malu, tetapi kalau dibiasakan, inshaa Allah tidak akan aib lagi. 

Terakhir, ketahuilah. Kenapa sih kita kalau menggunakan jas, menggunakan gaun, kita merasa gagah, keren, cantik, anggun, dsb? Karena kita terjebak oleh opini kebanyakan orang yang bilang jas/gaun itu keren. Coba saja kalau kebanyakan opini orang tidak pake baju itu keren, maka sungguh tidak ada orang akan pake jas/gaun. 

Maka ketahuilah wahai ukhtifillah & akhifillah, buat apa kita keren dihadapan seluruh manusia, kalau kita tidak keren dihadapan Allah. Lebih baik mempesona dihadapan Allah, meski hina dimata manusia, daripada mempesona dihadapan manusia, tetapi sungguh hina dihadapan Allah.

“Barangsiapa yang meninggalkan pakaian (yang bagus) disebabkan tawadhu’ (merendahkan diri) di hadapan Allah, sedangkan ia gotong royong mampu, pasti Allah memanggilnya pada hari final zaman di hadapan segenap makhluk dan ia disuruh menentukan jenis pakaian mana saja yang ia kehendaki untuk dikenakan.” (HR. Tirmidzi no. 2481 dan Ahmad 3: 439. Al Hafizh Abu Thohir menyampaikan bahwa sanad hadits ini hasan) 

Berilmu dulu, kemudian beramal. YukNgaji! 

Wallahu a'lam. 

Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com

Rabu, 06 September 2017

Ta'aruf Vs Pacaran Islami

Saya punya utang nulis mengenai ta'aruf nih, ada beberapa anon yang mengirimkan saya message yang katanya pengen saya membahas ihwal ta'aruf. Honestly, saya cuma tau teorinya aja sih mengenai ta'aruf dan juga ada beberapa teman saya yg alhamdulillah nikah melalui cara yang syar'i (ta'aruf). Kaprikornus seengaknya saya tidak mengecewakan ngerti ihwal hal seputar ta'aruf ini, inshaa Allah.

Ada di antara kita, mereka yang berpacaran, namun ketika ditanya, mereka bilang “Take it easy, saya pacarannya cara islami kok”. Ya, sebuah pacaran yang mengedepankan syar’i dan ridha Allah di dalamnya. HA? memang ada ya?

Bagi saya hal ini menggelikan. Bagaimana tidak, menggabungkan 2 kata yang sifatnya berlawanan dalam 1 kegiatan. As we know, pacaran memang gak diperbolehkan dalam islam, HARAM hukumnya. Tapi ada yang menciptakan istilah sendiri 'pacaran secara islami', melaksanakan sesuatu yang dihentikan secara jalurnya. Lalu terbesit dalam pikiran saya, jikalau kita punya istilah pacaran yang islami, maka saya boleh menciptakan istilah mabuk secara islami, berbohong secara islami, meninggalkan salat secara islami, atau mengatakan aurat secara islami. Loh kok bisa? Bisa dong, kan pacaran juga bisa.

“Emang kenapa sih kok kayak anti pacaran gitu? Orang kami yang ngejalani hening tenang aja gak ada masalah” - couple said.

“Lagian kami pacaran sehat kok, sering mengingatkan solat dan mengaji”  - couple said.

Astaghfirullah..
Pacaran secara islami itu yaitu sebuah tanda bahwa kita tidak takut akan eksekusi Allah. Dan juga sebuah tanda bahwa kita terlalu pengecut untuk meninggalkan seseorang yang kita cintai di dunia ini, padahal sudah seharusnya di dunia ini ada hal-hal yang harus ditinggalkan demi kebaikan.

Pacaran secara islami itu yaitu menyerupai kita berpegang pada Allah, tapi berjalan perlahan menuju syaitan. Mereka yang berpacaran secara islami patut diacungi jempol, alasannya yaitu mereka sangatlah berani bermain-main dalam batasan antara hak dan batil yang sangat tipis.
“Dan janganlah kau campuradukkan yang hak dan yang batil, dan janganlah kau sembunyikan yang hak itu, sedang kau sendiri mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah II: 42)
Kaprikornus solusinya gimana kalo menjalin korelasi secara islami? Yah ada, ta'aruf namanya, menikah ujungnya. Ta'aruf dari bahasa arab artinya yaitu ‘mengenal’. Kita persempit disini jadi mengenal calon pasangan. Ta'aruf disini dimaksudkan untuk pendekatan & mengenal calon pasangan lebih dalam tanpa proses pacaran. 

Lalu apa bedanya dengan pacaran? Jelas beda! Ta'aruf tujuannya untuk nikah. Lah pacaran? dapat macam-macam tujuannya. Ta'aruf kalau cocok, lanjut ke lamaran. Kalau gak cocok? Langsung stop. Prosesnya terperinci dan gak hingga bertahun-tahun, kurang lebih hanya 3 bulan aja dan harus ada mahram yang mendampingi. Bisa keluarga, atau pihak ketiga lain mirip guru ngaji, dll. Kalo pacaran? Tau sendirilah, santai. “Kita jalani dulu aja ya, liat gimana nanti.” Restu? belakangan. Potensi dosanya guede -..-"

Jadi? Masih mau pacaran secara islami?

“Ah gils gils! Kalo gak pacaran sih gak keren! Berarti gak laku! Gak ada yg dapat diajak curhat dan ngobrol, gak ada yg perhatiin.”
Hati-hati deh sama perkataan yg beginian, kebanyakan orang yg pacaran niscaya kurang bersahabat dengan keluarganya, niscaya kurang bercengkrama dengan saudaranya, alias kesepian.

Kita muda-mudi disini memang lagi perang, perang disini bukan lagi kasus mengangkat senjata, tapi mengenai contoh pikir. Melalui apa? melalui 3F. fun, food, fashion. 

Kita ditunjukkan oleh banyak media untuk saling mengasihi lewat jalur haram. Di instagram kalo belum update photo sama pacar dibilang gak gaul. Kalo gak punya gebetan dibilang kuper. Kalo gak ada pemuda yg ngomentarin foto di sosmed dianggap gak populer. Naudzubillah..

Ingat nih : 
“Pandangan merupakan pangkal dari segala tragedi yang menimpa manusia. Sebab, pandangan akan melahirkan getaran hati, diikuti dengan angan-angan yang membangkitkan syahwat dan impian yang semakin menguat dan kesannya menjadi kebulatan tekad, hingga terjadilah perbuatan itu secara pasti, selama tidak ada penghalang yang menghalanginya”. - Anonim.
Jadi..masih mau pacaran? Saya langsung alhamdulillah belum pernah. Dulu ayah memang pernah menasihati saya untuk tidak menyentuh kegiatan pacaran, hingga dia wafat ketika ini pun inshaa Allah saya akan terus menjalankan perintah Allah yg satu ini. Saya gak mau gara-gara saya ayah malah menanggung dosa anaknya. Dan juga berdasarkan saya, selain melanggar perintah Allah, pacaran itu jjuga merupakan proses pengkhianatan kepada ayah kita. 

Readers, coba deh anggap aja kita ini sedang puasa. Ketika puasa memang godaan ada dimana-mana, tapi kalo kita icip-icip, curi-curi waktu untuk hal yang terperinci diharamkan, maka ketika buka puasa niscaya udah gak ada lagi gregetnya. Nah..sama halnya juga dengan hal yang satu ini.

Udah segitu aja yaaa :) Saya rasa udah tidak mengecewakan terperinci klarifikasi mengenai ta'aruf ini, wkwk. Semoga Bermanfaat!

Wallahu a'lam.

Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com