(KODE : ILMU-KOM-0082) : SKRIPSI PENGARUH STRATEGI HUMAS TERHADAP CITRA PERUSAHAAN DI KANTOR BANK INDONESIA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berbicara wacana pengertian "Strategi Humas dan Citra Perusahaan" sebagai objek yang diteliti, perlu diperhatikan lebih dahulu mengenai pemahaman istilah strategi. Harold Koontz menjelaskan kata "strategi" berasal dari Bahasa Yunani "strategos" mempunyai makna cara yang berbeda untuk digunakan. Selanjutnya Harold Koontz menjelaskan taktik yakni menganalisa situasi yang terjadi pada ketika kini ini untuk memutuskan target (Koontz Harold, Cyril O’Donnell, 1959 : 88).
Strategi komunikasi antara banyak sekali tingkat dalam organisasi harus konsisten. Seringkali terjadi keputusan strategis yang dibentuk pada tingkat-tingkat yang berbeda kurang dipahami. Oleh sebab itu, kiprah seorang hebat public relations yakni untuk memastikan bahwa konsistensi diterapkan secara menyeluruh. Penerapan menyeluruh ini tidak berarti 'umum' atau 'sama'.
Praktisi humas senantiasa dihadapkan pada tantangan dan harus menangani banyak sekali macam fakta yang sebenarnya, terlepas dari apakah fakta itu hitam, putih, atau abu-abu. Perkembangan komunikasi tidak memungkinkan lagi bagi suatu organisasi untuk menutup-nutupi suatu fakta. Oleh sebab itu, para personelnya kini jauh lebih dituntut untuk bisa menimbulkan orang-orang lain memahami sesuatu pesan, demi menjaga reputasi atau gambaran forum atau perusahaan yang diwakilinya.
Sekarang ini banyak sekali perusahaan atau organisasi memahami perlunya memberi perhatian yang cukup untuk membangun suatu gambaran yang menguntungkan bagi perusahaan tidak hanya dengan melepaskan diri terhadap terbentuknya suatu kesan publik negatif. Dengan kata lain, gambaran perusahaan yakni fragile commodity (komoditas yang rapuh/mudah pecah). Namun, kebanyakan perusahaan juga meyakini bahwa gambaran perusahaan yang positif yakni esensial, sukses yang berkelanjutan dan dalam jangka panjang (Seitel, 1992 : 193).
Menurut Bill Canton dalam Skatendel (1990) menyampaikan bahwa gambaran yakni kesan, perasaan, gambaran diri publik terhadap perusahaan; kesan yang dengan sengaja diciptakan dari suatu obyek, orang atau organisasi). Jadi, gambaran itu dengan sengaja perlu diciptakan biar bernilai positif. Citra itu sendiri merupakan salah satu asset terpenting dari suatu perusahaan atau organisasi (Soemirat, Soleh & Ardianto, Elvinaro, 2004 : 111-112).
PR yakni salah satu metode komunikasi untuk membuat gambaran positif dari kawan organisasi atas dasar menghormati kepentingan bersama. Citra perusahaan dalam hal ini yakni gambaran dari suatu organisasi secara keseluruhan, jadi bukan gambaran atas produk dan pelayanan saja. Citra perusahaan ini terbentuk oleh banyak hal.
Perusahaan-perusahaan yang mempunyai reputasi bagus, umumnya menikmati enam hal. Pertama, hubungan yang positif dengan para pemuka masyarakat. Kedua, hubungan positif dengan pemerintah setempat. Ketiga, resiko krisis yang lebih kecil. Keempat, rasa pujian dalam organisasi dan di antara khalayak sasaran. Kelima, saling pengertian antara khalayak sasaran, baik internal maupun eksternal. Dan terakhir, meningkatkan kesetiaan para staf perusahaan (Anggoro, M. Linggar, 2000 : 67).
Bank Indonesia sebagai Bank Sentral dalam kaitannya dengan sejarah perjalanan bangsa telah mengalami banyak sekali perubahan. Berdasarkan UU No. 11 Tahun 1953 yang mulai berlaku pada tanggal 1 Juli 1953, maka Bank Indonesia tidak hanya bertindak sebagai Bank Sentral yang dengan tugasnya sebagai Bank Sirkulasi tetapi juga sebagai Bank Komersil hingga dengan selesai tahun 1965. Dalam rangka upaya penataan perekonomian dan perbankan nasional maka secara murni sebagai Bank Sentral yang kiprah utamanya mendorong kelancaran pembangunan. Berdasarkan UU No. 23 Tahun 1999 wacana Bank Indonesia memutuskan Bank Indonesia sebagai Lembaga Negara yang Independen di bidang tugasnya berada di luar pemerintahan dan forum lainnya.
Tidak semua karya gemilang yang sanggup dihasilkan oleh PRO/humas merupakan pembangunan gambaran perusahaan di mata khalayak target maupun masyarakat luas. Bahkan sebaliknya di tangan Public Relations yang jelek dan lemah visinya, jadinya bisa nol dan bahkan juga terjadi minus. Bukannya akan membentuk gambaran baik bagi perusahaan malah sebaliknya kehilangan gambaran sebab merosotnya kepercayaan. Banyak dibuktikan di lapangan, jikalau sudah kehilangan dogma masyarakat, akan sulit untuk meraihnya kembali dan membutuhkan waktu yang usang untuk bisa berhasil kembali.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti efek taktik humas terhadap gambaran perusahaan di Kantor Bank Indonesia X.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang problem yang telah dikemukakan di atas, maka sanggup dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini yakni sebagai berikut :
"Apakah taktik humas besar lengan berkuasa terhadap gambaran perusahaan di Kantor Bank Indonesia X ?"
C. Pembatasan Masalah
Untuk mempertajam lingkup problem yang diteliti, ada beberapa perkiraan yang dianjurkan dalam pembatasan masalah, yaitu :
1. Studi wacana Pengaruh Strategi Humas Terhadap Citra Perusahaan di Kantor Bank Indonesia X cukup konkret untuk dipecahkan pada ketika kini ini melalui tahapan pengumpulan data, pembagian terstruktur mengenai data, dan analisis data.
2. Studi wacana Pengaruh Strategi Humas Terhadap Citra Perusahaan di Kantor Bank Indonesia X merupakan jenis penelitian korelasional yang bertujuan untuk melaksanakan analisis hubungan wacana efek taktik humas terhadap gambaran perusahaan.
3. Unit analisis dalam penelitian yakni pegawai Kantor Bank Indonesia X.
4. Dilihat dari letak geografis antara lokasi penelitian dengan daerah tinggal penulis cukup ideal untuk menjamin keberlangsungan penelitian.
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Karena penelitian ini ditetapkan sebagai penelitian korelasional, maka tujuannya yakni :
1. Untuk mengetahui variabel penelitian yang paling besar lengan berkuasa dalam meningkatkan gambaran perusahaan di Kantor Bank Indonesia sekaligus menguji hipotesis dari acara penelitian ini.
2. Untuk mengetahui efek taktik humas terhadap gambaran perusahaan di Kantor Bank Indonesia X.
2. Manfaat Penelitian
1. Secara akademis, penelitian ini dibutuhkan menunjukkan bantuan yang positif kepada mahasiswa FISIP khususnya terhadap Departemen Ilmu Komunikasi mengenai dunia Public Relations.
2. Secara teoritis, penelitian ini bermanfaat untuk menguji pengalaman teoritis penulis selama mengikuti studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Departemen Ilmu Komunikasi.
3. Secara praktis, penelitian ini dibutuhkan bisa menunjukkan santunan aliran terhadap pihak-pihak yang berkepentingan.
(KODE : ILMU-KOM-0082) : SKRIPSI PENGARUH STRATEGI HUMAS TERHADAP CITRA PERUSAHAAN DI KANTOR BANK INDONESIA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berbicara wacana pengertian "Strategi Humas dan Citra Perusahaan" sebagai objek yang diteliti, perlu diperhatikan lebih dahulu mengenai pemahaman istilah strategi. Harold Koontz menjelaskan kata "strategi" berasal dari Bahasa Yunani "strategos" mempunyai makna cara yang berbeda untuk digunakan. Selanjutnya Harold Koontz menjelaskan taktik yakni menganalisa situasi yang terjadi pada ketika kini ini untuk memutuskan target (Koontz Harold, Cyril O’Donnell, 1959 : 88).
Strategi komunikasi antara banyak sekali tingkat dalam organisasi harus konsisten. Seringkali terjadi keputusan strategis yang dibentuk pada tingkat-tingkat yang berbeda kurang dipahami. Oleh sebab itu, kiprah seorang hebat public relations yakni untuk memastikan bahwa konsistensi diterapkan secara menyeluruh. Penerapan menyeluruh ini tidak berarti 'umum' atau 'sama'.
Praktisi humas senantiasa dihadapkan pada tantangan dan harus menangani banyak sekali macam fakta yang sebenarnya, terlepas dari apakah fakta itu hitam, putih, atau abu-abu. Perkembangan komunikasi tidak memungkinkan lagi bagi suatu organisasi untuk menutup-nutupi suatu fakta. Oleh sebab itu, para personelnya kini jauh lebih dituntut untuk bisa menimbulkan orang-orang lain memahami sesuatu pesan, demi menjaga reputasi atau gambaran forum atau perusahaan yang diwakilinya.
Sekarang ini banyak sekali perusahaan atau organisasi memahami perlunya memberi perhatian yang cukup untuk membangun suatu gambaran yang menguntungkan bagi perusahaan tidak hanya dengan melepaskan diri terhadap terbentuknya suatu kesan publik negatif. Dengan kata lain, gambaran perusahaan yakni fragile commodity (komoditas yang rapuh/mudah pecah). Namun, kebanyakan perusahaan juga meyakini bahwa gambaran perusahaan yang positif yakni esensial, sukses yang berkelanjutan dan dalam jangka panjang (Seitel, 1992 : 193).
Menurut Bill Canton dalam Skatendel (1990) menyampaikan bahwa gambaran yakni kesan, perasaan, gambaran diri publik terhadap perusahaan; kesan yang dengan sengaja diciptakan dari suatu obyek, orang atau organisasi). Jadi, gambaran itu dengan sengaja perlu diciptakan biar bernilai positif. Citra itu sendiri merupakan salah satu asset terpenting dari suatu perusahaan atau organisasi (Soemirat, Soleh & Ardianto, Elvinaro, 2004 : 111-112).
PR yakni salah satu metode komunikasi untuk membuat gambaran positif dari kawan organisasi atas dasar menghormati kepentingan bersama. Citra perusahaan dalam hal ini yakni gambaran dari suatu organisasi secara keseluruhan, jadi bukan gambaran atas produk dan pelayanan saja. Citra perusahaan ini terbentuk oleh banyak hal.
Perusahaan-perusahaan yang mempunyai reputasi bagus, umumnya menikmati enam hal. Pertama, hubungan yang positif dengan para pemuka masyarakat. Kedua, hubungan positif dengan pemerintah setempat. Ketiga, resiko krisis yang lebih kecil. Keempat, rasa pujian dalam organisasi dan di antara khalayak sasaran. Kelima, saling pengertian antara khalayak sasaran, baik internal maupun eksternal. Dan terakhir, meningkatkan kesetiaan para staf perusahaan (Anggoro, M. Linggar, 2000 : 67).
Bank Indonesia sebagai Bank Sentral dalam kaitannya dengan sejarah perjalanan bangsa telah mengalami banyak sekali perubahan. Berdasarkan UU No. 11 Tahun 1953 yang mulai berlaku pada tanggal 1 Juli 1953, maka Bank Indonesia tidak hanya bertindak sebagai Bank Sentral yang dengan tugasnya sebagai Bank Sirkulasi tetapi juga sebagai Bank Komersil hingga dengan selesai tahun 1965. Dalam rangka upaya penataan perekonomian dan perbankan nasional maka secara murni sebagai Bank Sentral yang kiprah utamanya mendorong kelancaran pembangunan. Berdasarkan UU No. 23 Tahun 1999 wacana Bank Indonesia memutuskan Bank Indonesia sebagai Lembaga Negara yang Independen di bidang tugasnya berada di luar pemerintahan dan forum lainnya.
Tidak semua karya gemilang yang sanggup dihasilkan oleh PRO/humas merupakan pembangunan gambaran perusahaan di mata khalayak target maupun masyarakat luas. Bahkan sebaliknya di tangan Public Relations yang jelek dan lemah visinya, jadinya bisa nol dan bahkan juga terjadi minus. Bukannya akan membentuk gambaran baik bagi perusahaan malah sebaliknya kehilangan gambaran sebab merosotnya kepercayaan. Banyak dibuktikan di lapangan, jikalau sudah kehilangan dogma masyarakat, akan sulit untuk meraihnya kembali dan membutuhkan waktu yang usang untuk bisa berhasil kembali.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti efek taktik humas terhadap gambaran perusahaan di Kantor Bank Indonesia X.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang problem yang telah dikemukakan di atas, maka sanggup dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini yakni sebagai berikut :
"Apakah taktik humas besar lengan berkuasa terhadap gambaran perusahaan di Kantor Bank Indonesia X ?"
C. Pembatasan Masalah
Untuk mempertajam lingkup problem yang diteliti, ada beberapa perkiraan yang dianjurkan dalam pembatasan masalah, yaitu :
1. Studi wacana Pengaruh Strategi Humas Terhadap Citra Perusahaan di Kantor Bank Indonesia X cukup konkret untuk dipecahkan pada ketika kini ini melalui tahapan pengumpulan data, pembagian terstruktur mengenai data, dan analisis data.
2. Studi wacana Pengaruh Strategi Humas Terhadap Citra Perusahaan di Kantor Bank Indonesia X merupakan jenis penelitian korelasional yang bertujuan untuk melaksanakan analisis hubungan wacana efek taktik humas terhadap gambaran perusahaan.
3. Unit analisis dalam penelitian yakni pegawai Kantor Bank Indonesia X.
4. Dilihat dari letak geografis antara lokasi penelitian dengan daerah tinggal penulis cukup ideal untuk menjamin keberlangsungan penelitian.
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Karena penelitian ini ditetapkan sebagai penelitian korelasional, maka tujuannya yakni :
1. Untuk mengetahui variabel penelitian yang paling besar lengan berkuasa dalam meningkatkan gambaran perusahaan di Kantor Bank Indonesia sekaligus menguji hipotesis dari acara penelitian ini.
2. Untuk mengetahui efek taktik humas terhadap gambaran perusahaan di Kantor Bank Indonesia X.
2. Manfaat Penelitian
1. Secara akademis, penelitian ini dibutuhkan menunjukkan bantuan yang positif kepada mahasiswa FISIP khususnya terhadap Departemen Ilmu Komunikasi mengenai dunia Public Relations.
2. Secara teoritis, penelitian ini bermanfaat untuk menguji pengalaman teoritis penulis selama mengikuti studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Departemen Ilmu Komunikasi.
3. Secara praktis, penelitian ini dibutuhkan bisa menunjukkan santunan aliran terhadap pihak-pihak yang berkepentingan.
(KODE : ILMU-KOM-0082) : SKRIPSI PENGARUH STRATEGI HUMAS TERHADAP CITRA PERUSAHAAN DI KANTOR BANK INDONESIA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berbicara wacana pengertian "Strategi Humas dan Citra Perusahaan" sebagai objek yang diteliti, perlu diperhatikan lebih dahulu mengenai pemahaman istilah strategi. Harold Koontz menjelaskan kata "strategi" berasal dari Bahasa Yunani "strategos" mempunyai makna cara yang berbeda untuk digunakan. Selanjutnya Harold Koontz menjelaskan taktik yakni menganalisa situasi yang terjadi pada ketika kini ini untuk memutuskan target (Koontz Harold, Cyril O’Donnell, 1959 : 88).
Strategi komunikasi antara banyak sekali tingkat dalam organisasi harus konsisten. Seringkali terjadi keputusan strategis yang dibentuk pada tingkat-tingkat yang berbeda kurang dipahami. Oleh sebab itu, kiprah seorang hebat public relations yakni untuk memastikan bahwa konsistensi diterapkan secara menyeluruh. Penerapan menyeluruh ini tidak berarti 'umum' atau 'sama'.
Praktisi humas senantiasa dihadapkan pada tantangan dan harus menangani banyak sekali macam fakta yang sebenarnya, terlepas dari apakah fakta itu hitam, putih, atau abu-abu. Perkembangan komunikasi tidak memungkinkan lagi bagi suatu organisasi untuk menutup-nutupi suatu fakta. Oleh sebab itu, para personelnya kini jauh lebih dituntut untuk bisa menimbulkan orang-orang lain memahami sesuatu pesan, demi menjaga reputasi atau gambaran forum atau perusahaan yang diwakilinya.
Sekarang ini banyak sekali perusahaan atau organisasi memahami perlunya memberi perhatian yang cukup untuk membangun suatu gambaran yang menguntungkan bagi perusahaan tidak hanya dengan melepaskan diri terhadap terbentuknya suatu kesan publik negatif. Dengan kata lain, gambaran perusahaan yakni fragile commodity (komoditas yang rapuh/mudah pecah). Namun, kebanyakan perusahaan juga meyakini bahwa gambaran perusahaan yang positif yakni esensial, sukses yang berkelanjutan dan dalam jangka panjang (Seitel, 1992 : 193).
Menurut Bill Canton dalam Skatendel (1990) menyampaikan bahwa gambaran yakni kesan, perasaan, gambaran diri publik terhadap perusahaan; kesan yang dengan sengaja diciptakan dari suatu obyek, orang atau organisasi). Jadi, gambaran itu dengan sengaja perlu diciptakan biar bernilai positif. Citra itu sendiri merupakan salah satu asset terpenting dari suatu perusahaan atau organisasi (Soemirat, Soleh & Ardianto, Elvinaro, 2004 : 111-112).
PR yakni salah satu metode komunikasi untuk membuat gambaran positif dari kawan organisasi atas dasar menghormati kepentingan bersama. Citra perusahaan dalam hal ini yakni gambaran dari suatu organisasi secara keseluruhan, jadi bukan gambaran atas produk dan pelayanan saja. Citra perusahaan ini terbentuk oleh banyak hal.
Perusahaan-perusahaan yang mempunyai reputasi bagus, umumnya menikmati enam hal. Pertama, hubungan yang positif dengan para pemuka masyarakat. Kedua, hubungan positif dengan pemerintah setempat. Ketiga, resiko krisis yang lebih kecil. Keempat, rasa pujian dalam organisasi dan di antara khalayak sasaran. Kelima, saling pengertian antara khalayak sasaran, baik internal maupun eksternal. Dan terakhir, meningkatkan kesetiaan para staf perusahaan (Anggoro, M. Linggar, 2000 : 67).
Bank Indonesia sebagai Bank Sentral dalam kaitannya dengan sejarah perjalanan bangsa telah mengalami banyak sekali perubahan. Berdasarkan UU No. 11 Tahun 1953 yang mulai berlaku pada tanggal 1 Juli 1953, maka Bank Indonesia tidak hanya bertindak sebagai Bank Sentral yang dengan tugasnya sebagai Bank Sirkulasi tetapi juga sebagai Bank Komersil hingga dengan selesai tahun 1965. Dalam rangka upaya penataan perekonomian dan perbankan nasional maka secara murni sebagai Bank Sentral yang kiprah utamanya mendorong kelancaran pembangunan. Berdasarkan UU No. 23 Tahun 1999 wacana Bank Indonesia memutuskan Bank Indonesia sebagai Lembaga Negara yang Independen di bidang tugasnya berada di luar pemerintahan dan forum lainnya.
Tidak semua karya gemilang yang sanggup dihasilkan oleh PRO/humas merupakan pembangunan gambaran perusahaan di mata khalayak target maupun masyarakat luas. Bahkan sebaliknya di tangan Public Relations yang jelek dan lemah visinya, jadinya bisa nol dan bahkan juga terjadi minus. Bukannya akan membentuk gambaran baik bagi perusahaan malah sebaliknya kehilangan gambaran sebab merosotnya kepercayaan. Banyak dibuktikan di lapangan, jikalau sudah kehilangan dogma masyarakat, akan sulit untuk meraihnya kembali dan membutuhkan waktu yang usang untuk bisa berhasil kembali.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti efek taktik humas terhadap gambaran perusahaan di Kantor Bank Indonesia X.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang problem yang telah dikemukakan di atas, maka sanggup dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini yakni sebagai berikut :
"Apakah taktik humas besar lengan berkuasa terhadap gambaran perusahaan di Kantor Bank Indonesia X ?"
C. Pembatasan Masalah
Untuk mempertajam lingkup problem yang diteliti, ada beberapa perkiraan yang dianjurkan dalam pembatasan masalah, yaitu :
1. Studi wacana Pengaruh Strategi Humas Terhadap Citra Perusahaan di Kantor Bank Indonesia X cukup konkret untuk dipecahkan pada ketika kini ini melalui tahapan pengumpulan data, pembagian terstruktur mengenai data, dan analisis data.
2. Studi wacana Pengaruh Strategi Humas Terhadap Citra Perusahaan di Kantor Bank Indonesia X merupakan jenis penelitian korelasional yang bertujuan untuk melaksanakan analisis hubungan wacana efek taktik humas terhadap gambaran perusahaan.
3. Unit analisis dalam penelitian yakni pegawai Kantor Bank Indonesia X.
4. Dilihat dari letak geografis antara lokasi penelitian dengan daerah tinggal penulis cukup ideal untuk menjamin keberlangsungan penelitian.
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Karena penelitian ini ditetapkan sebagai penelitian korelasional, maka tujuannya yakni :
1. Untuk mengetahui variabel penelitian yang paling besar lengan berkuasa dalam meningkatkan gambaran perusahaan di Kantor Bank Indonesia sekaligus menguji hipotesis dari acara penelitian ini.
2. Untuk mengetahui efek taktik humas terhadap gambaran perusahaan di Kantor Bank Indonesia X.
2. Manfaat Penelitian
1. Secara akademis, penelitian ini dibutuhkan menunjukkan bantuan yang positif kepada mahasiswa FISIP khususnya terhadap Departemen Ilmu Komunikasi mengenai dunia Public Relations.
2. Secara teoritis, penelitian ini bermanfaat untuk menguji pengalaman teoritis penulis selama mengikuti studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Departemen Ilmu Komunikasi.
3. Secara praktis, penelitian ini dibutuhkan bisa menunjukkan santunan aliran terhadap pihak-pihak yang berkepentingan.
BI Rate yaitu suku bunga kebijakan yang mencerminkan perilaku atau stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh bank Indonesia dan diumumkan kepada publik.
Sumber: Katadata.co.id
Fungsi
BI Rate diumumkan oleh Dewan Gubernur Bank Indonesia setiap Rapat Dewan Gubernur bulanan dan diimplementasikan pada operasi moneter yang dilakukan Bank Indonesia melalui pengelolaan likuiditas (liquidity management) di pasar uang untuk mencapai sasaran operasional kebijakan moneter.
Sasaran operasional kebijakan moneter dicerminkan pada perkembangan suku bunga Pasar Uang Antar Bank Overnight (PUAB O/N). Pergerakan di suku bunga PUAB ini diperlukan akan diikuti oleh perkembangan di suku bunga deposito, dan pada gilirannya suku bunga kredit perbankan.
Dengan mempertimbangkan pula faktor-faktor lain dalam perekonomian, Bank Indonesia pada umumnya akan menaikkan BI Rate apabila inflasi ke depan diperkirakan melampaui sasaran yang telah ditetapkan, sebaliknya Bank Indonesia akan menurunkan BI Rate apabila inflasi ke depan diperkirakan berada di bawah sasaran yang telah ditetapkan.
Bank Indonesia melaksanakan penguatan kerangka operasi moneter dengan memperkenalkan suku bunga contoh atau suku bunga kebijakan gres yaitu BI 7-Day Repo Rate, yang akan berlaku efektif semenjak 19 Agustus 2016. Selain BI Rate yang dipakai dikala ini, perkenalan suku bunga kebijakan yang gres ini tidak mengubah stance kebijakan moneter yang sedang diterapkan.
Penetapan BI Rate
Jadwal Penetapan dan Penentuan
Penetapan respons (stance) kebijakan moneter dilakukan setiap bulan melalui prosedur RDG Bulanan dengan cakupan materi bulanan.
Respon kebijakan moneter (BI Rate) ditetapkan berlaku hingga dengan RDG berikutnya
Penetapan respon kebijakan moneter (BI Rate) dilakukan dengan memperhatikan imbas tunda kebijakan moneter (lag of monetary policy) dalam memengaruhi inflasi.
Dalam hal terjadi perkembangan di luar prakiraan semula, penetapan stance Kebijakan Moneter sanggup dilakukan sebelum RDG Bulanan melalui RDG Mingguan.
Besar Perubahan BI Rate
Respon kebijakan moneter dinyatakan dalam perubahan BI Rate (secara konsisten dan sedikit demi sedikit dalam kelipatan 25 basis poin (bps). Dalam kondisi untuk mengatakan intensi Bank Indonesia yang lebih besar terhadap pencapaian sasaran inflasi, maka perubahan BI Rate sanggup dilakukan lebih dari 25 bps dalam kelipatan 25 bps.
Data BI Rate
Berikut ini yaitu BI Rate selama 2 tahun dari 2015-2016. Untuk mendapat data BI Rate secara lengkap, Anda sanggup mengaksesnya melalui http://www.bi.go.id/id/moneter/bi-rate/data/Default.aspx.
Museum Bank Indonesia menempati gedung Bank Indonesia Kota yang sebelumnya dipakai oleh De Javasche Bank, gedung yang mempunyai nilai sejarah tinggi yang terancam kerusakan apabila tidak dimanfaatkan dan dilestarikan. Pemerintah telah memutuskan bangunan tersebut sebagai bangunan cagar budaya. Selain dari gedung bersejarah, BI juga mempunyai benda-benda dan dokumen-dokumen bersejarah yang perlu dirawat dan diolah untuk sanggup memperlihatkan informasi yang sangat berkhasiat bagi masyarakat.
Sumber: Ensiklopediaindonesia.com
Latar Belakang Pendirian Museum Bank Indonesia
Dilandasi oleh cita-cita untuk sanggup memperlihatkan pengetahuan kepada masyarakat mengenai kiprah BI dalam perjalanan sejarah bangsa, termasuk memperlihatkan pemahaman wacana latar belakang serta imbas dari kebijakan-kebijakan BI yang diambil dari waktu ke waktu, Dewan Gubernur BI telah memutuskan untuk membangun Museum Bank Indonesia dengan memanfaatkan gedung BI Kota yang perlu dilestarikan. Pelestarian gedung BI Kota tersebut sejalan dengan kebijakan Pemda Khusus Ibukota Jakarta yang telah mencanangkan daerah Kota sebagai daerah pengembangan kota usang Jakarta. Bahkan, BI diharapkan menjadi penggagas dari pemugaran/revitalisasi gedung-gedung bersejarah di daerah Kota.
Hal inilah yang antara lain menjadi pertimbangan munculnya gagasan akan pentingnya keberadaan Museum Bank Indonesia, yang diharapkan menjadi suatu lembaga tempat mengumpulkan, menyimpan, merawat, mengamankan, dan memanfaatkan aneka benda yang berkaitan dengan perjalanan panjang BI. Museum BI dikala ini juga sebagai wahana komunikasi kebijakan BI bagi masyarakat, sehingga masyarakat sanggup mengetahui kebijakan BI terkini yang dikeluarkan BI.
Tujuan Didirikannya Museum Bank Indonesia
Guna menunjang pengembangan daerah kota usang sebagai tujuan wisata di DKI Jakarta, maka sangat sempurna apabila gedung BI Kota yang telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh pemerintah, dimanfaatkan menjadi Museum Bank Indonesia. Keberadaan museum ini nantinya diharapkan sanggup seiring dan sejalan dalam mendorong perkembangan sektor pariwisata bersama museum-museum lain yang dikala ini sudah ada di sekitarnya, ibarat Museum Fatahillah, Museum Wayang, Museum Keramik, dan Museum Bahari di daerah Pasar Ikan.
BI mengharapkan bahwa keberadaan Museum Bank Indonesia akan berarti terwujudnya suatu museum bank sentral di Indonesia, yang mempunyai misi untuk mencari, mengumpulkan, menyimpan, dan merawat benda-benda maupun dokumen bersejarah yang dikala ini dimiliki, sehingga menjadi suatu sosok yang mempunyai nilai dan arti penting bagi masyarakat. Hal ini hanya akan sanggup terwujud apabila kita sanggup menyajikan semuanya dalam bentuk yang bisa memperlihatkan informasi yang lengkap dan runtut, sehingga gampang dimengerti dan dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat.
Museum BI juga diharapkan sanggup menjadi wahana pendidikan dan penelitian bagi masyarakat Indonesia maupun internasional wacana fungsi dan kiprah BI, di samping merupakan wahana komunikasi kebijakan dan rekreasi yang bersifat edukatif. Dengan pencapaian tujuan-tujuan tadi, diharapkan Museum BI sanggup meningkatkan corporate image . Sepenuhnya disadari bahwa planning pembangunan museum ini bukanlah suatu gagasan yang sederhana, melainkan suatu gagasan yang bersasaran ganda. Dengan segala keterbatasan dan hambatan yang ada, proses perwujudan Museum Bank Indonesia terang membutuhkan keuletan dan ketelitian. Mengingat keterbatasan kemampuan dan pengetahuan BI mengenai permuseuman, maka kerjasama dengan para jago dari aneka macam bidang diharapkan untuk bantu-membantu mewujudkan gagasan ini secara menyeluruh dari tahapan konsep hingga dengan pelaksanaan fisik nantinya.
Museum BI juga disajikan dalam website Bank Indonesia, sehingga memudahkan publik dimanapun berada untuk melaksanakan virtual tour dan mempelajari informasi yang disajikan di setiap ruangan Museum BI.
Visi dan Misi Museum Bank Indonesia
Misi
Menyediakan sarana edukasi kepada masyarakat secara menarik dengan memanfaatkan teknologi informasi yang sempurna guna mengenai:
Fungsi dan kiprah Bank Indonesia dari waktu ke waktu
Gedung cagar budaya milik Bank Indonesia dan benda-benda koleksi yang terkait dengan sejarah Bank Indonesia, termasuk pelestariannya
Ilmu pengetahuan ekonomi, moneter, dan perbankan yang diharapkan masyarakat setempat
Visi
Visi yang ingin dicapai oleh Museum Bank Indonesia yaitu menjadi wahana sumber informasi wacana sejarah Bank Sentral Indonesia, dan komunikasi kebijakan yang terpercaya, informatif, modern dan menarik yang dikelola secara profesional.
Program atau Kegiatan Apa Saja Yang Ada Di Musem BI?
Jelajah Museum
Jelajah Museum yaitu salah satu aktivitas bagi masyarakat guna memperlihatkan informasi mengenai fungsi dan kiprah Bank Indonesia sebagai Bank Sentral di Indonesia, sekaligus wahana rekreasi yang edukatif. Sambil menyusuri bangunan arsitektur yang bersejarah ini, pengunjung akan diajak untuk memahami perjalanan Bank Indonesia dari masa ke masa. Untuk mengikuti aktivitas ini penerima wajib mendaftarkan diri terlebih dahulu.
Diskusi / Seminar / Talk Show
Acara ini dirancang sebagai lembaga diskusi untuk membahas aneka macam isu. Museum BI dalam waktu-waktu tertentu menyelenggarakan seminar/talk show dengan mengundang pembicara yang jago di bidangnya, ibarat : jago numismatika, sejarah, moneter, perbankan atau sistem pembayaran. Atau diskusi / talk show mengenai gosip terkait perkembangan kebijakan-kebijakan terkini BI, serta seni, budaya dan heritage.
:: Pameran Temporer
Pameran temporer ini diselenggarakan dalam rangka memperingati tema hari Nasional, seperti: dalam rangka Hari Kartini, Hari Pendidikan Nasional, dan Hari Pahlawan. Koleksi yang dipamerkan berupa koleksi numismatik yang diadaptasi dengan tema pameran. Pameran sanggup juga dilakukan bekerja sama dengan pihak lain, berupa ekspo seni dan budaya, ibarat ekspo fotografi, lukisan dan ekspo karya heritage nasional ibarat batik dan tenun daerah.
Fasilitas Yang Ada Di Museum Bank Indonesia
Museum BI akan beroperasional secara penuh pada tahun 2008. Dalam tahap pengembangannya direncanakan Museum Bank Indonesia akan menyediakan fasilitas-fasilitas yang memperlihatkan kenyamanan bagi pengunjung. Fasilitas tersebut antara lain:
Ruang Penitipan Barang
Ruang ini disediakan bagi pengunjung yang hendak menitipkan barang-barangnya selama berkunjung ke Museum Bank Indonesia.
Pusat Informasi BI (BI Information Centre)
Dalam ruangan ini, pengunjung akan dibanjiri dengan aneka macam informasi dari masa kemudian hingga masa sekarang dengan time series yang cukup panjang mengenai sejarah dan kiprah Bank Indonesia. Informasi tersebut sanggup diakses memakai perangkat multi media, sehingga bermanfaat untuk keperluan penelitian, pembuatan analisis, dan sebagainya. Di samping informasi yang berasal dari Bank Indonesia, juga sanggup diakses informasi dari beberapa sumber lain, dalam dan luar negeri. Disediakan pula kemudahan untuk mencetak (printing) data/informasi dari komputer. Kelengkapan informasi dalam ruangan ini masih ditambah dengan hadirnya BI Virtual Museum, yang akan memperlihatkan informasi wacana Museum Bank Indonesia melalui jaringan internet.
Ruang Auditorium
Auditorium terletak di lantai 2 Museum Bank Indonesia berdekatan dengan pusat informasi BI (BI Information Center). Ruangan ini dipakai sebagai tempat penyelenggaraan ceramah/seminar/diskusi, baik yang disponsori oleh Bank Indonesia maupun pihak luar.
Kios Buku dan Cenderamata
Pengunjung sanggup memperoleh aneka macam hasil publikasi dan cenderamata yang berkaitan dengan museum, khususnya Museum Bank Indonesia. Snacks juga disediakan di sini.
Ruang Serbaguna
Salah satu keunggulan Museum Bank Indonesia yaitu terdapatnya beberapa ruangan yang sanggup dipakai untuk kepentingan pengunjung. Salah satunya yaitu ruang serbaguna yang terletak di lantai 1. Ruangan ini sanggup dipakai untuk ruang makan dalam mendukung kegiatan edukasi yang diselenggarakan di ruang auditorium. Atau kegiatan seni dan budaya.
Perpustakaan
Perpustakaan merupakan salah satu kemudahan unggulan Museum Bank Indonesia. Terdapat dua macam perpustakaan di Museum Bank Indonesia, yaitu:
Perpustakaan untuk para peneliti museum
Perpustakaan untuk umum. Perpustakaan ini akan menyajikan koleksi lengkap, mulai dari buku-buku referensi, majalah, hingga dokumen-dokumen yang tersimpan dalam perangkat multi media, yang kesemuanya sanggup dimanfaatkan oleh pengunjung untuk menambah wawasan, keperluan penelitian, maupun analisis.
Bank Indonesia sebagai Lembaga Negara yang Independen
Babak gres dalam sejarah Bank Indonesia sebagai Bank Sentral yang independen dalam melakukan kiprah dan wewenangnya dimulai dikala sebuah undang-undang baru, yaitu UU No. 23/1999 wacana Bank Indonesia, dinyatakan berlaku pada tanggal 17 Mei 1999 dan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia No. 6/ 2009. Undang-undang ini memperlihatkan status dan kedudukan sebagai suatu forum negara yang independen dalam melakukan kiprah dan wewenangnya, bebas dari campur tangan Pemerintah dan/atau pihak lain, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam undang-undang ini.
Bank Indonesia memiliki otonomi penuh dalam merumuskan dan melakukan setiap kiprah dan wewenangnya sebagaimana ditentukan dalam undang-undang tersebut. Pihak luar tidak dibenarkan mencampuri pelaksanaan kiprah BI, dan BI juga berkewajiban untuk menolak atau mengabaikan intervensi dalam bentuk apapun dari pihak manapun juga.
Status dan kedudukan yang khusus tersebut dibutuhkan supaya Bank Indonesia sanggup melakukan kiprah dan fungsinya sebagai otoritas moneter secara lebih efektif dan efisien.
Bank Indonesia Sebagai Badan Hukum
Status BI baik sebagai tubuh aturan publik maupun tubuh aturan perdata ditetapkan dengan undang-undang. Sebagai tubuh aturan publik Bank Indonesia berwenang memutuskan peraturan-peraturan aturan yang merupakan pelaksanaan dari undang-undang yang mengikat seluruh masyarakat luas sesuai dengan kiprah dan wewenangnya. Sebagai tubuh aturan perdata, Bank Indonesia sanggup bertindak untuk dan atas nama sendiri di dalam maupun di luar pengadilan.
Visi, Misi dan Sasaran Strategis Bank Indonesia
Visi
Menjadi forum bank sentral yang kredibel dan terbaik di regional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan nilai tukar yang stabil
Misi
Mencapai stabilitas nilai rupiah dan menjaga efektivitas transmisi kebijakan moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.
Mendorong sistem keuangan nasional bekerja secara efektif dan efisien serta bisa bertahan terhadap gejolak internal dan eksternal untuk mendukung alokasi sumber pendanaan/pembiayaan sanggup berkontribusi pada pertumbuhan dan stabilitas perekonomian nasional.
Mewujudkan sistem pembayaran yang aman, efisien, dan lancar yang berkontribusi terhadap perekonomian, stabilitas moneter dan stabilitas sistem keuangan dengan memperhatikan aspek ekspansi jalan masuk dan kepentingan nasional.
Meningkatkan dan memelihara organisasi dan SDM Bank Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai strategis dan berbasis kinerja, serta melakukan tata kelola (governance) yang berkualitas dalam rangka melakukan kiprah yang diamanatkan UU.
Nilai-Nilai Strategis
Trust and Integrity – Professionalism – Excellence – Public Interest – Coordination and Teamwork
Sasaran Strategis
Untuk mewujudkan Visi, Misi dan Nilai-nilai Strategis tersebut, BI memutuskan sasaran strategis jangka menengah panjang, ialah :
Memperkuat pengendalian inflasi dari sisi usul dan penawaran
Menjaga stabilitas nilai tukar
Mendorong pasar keuangan yang dalam dan efisien
Menjaga SSK yang didukung dengan penguatan surveillance SP
Mewujudkan keuangan inklusif yang terarah, efisien, dan sinergis
Memelihara SP yang aman, efisien, dan lancar
Memperkuat pengelolaan keuangan BI yang akuntabel
Mewujudkan proses kerja efektif dan efisien dengan pinjaman SI, kultur, dan governance
Mempercepat ketersediaan SDM yang kompeten
Memperkuat aliansi strategis dan meningkatkan persepsi positif BI
Memantapkan kelancaran transisi pengalihan fungsi pengawasan bank ke OJK.
Tujuan dan Tugas Bank Indonesia
Tujuan Tunggal
Dalam kapasitasnya sebagai bank sentral, BI memiliki satu tujuan tunggal, ialah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah ini mengandung dua aspek, ialah kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan terhadap mata uang negara lain.
Aspek pertama tercermin pada perkembangan laju inflasi, sementara aspek kedua tercermin pada perkembangan nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain. Perumusan tujuan tunggal ini dimaksudkan untuk memperjelas sasaran yang harus dicapai Bank Indonesia serta batas-batas tanggung jawabnya. Dengan demikian, tercapai atau tidaknya tujuan Bank Indonesia ini kelak akan sanggup diukur dengan mudah.
Tiga Pilar Utama
Untuk mencapai tujuan tersebut BI didukung oleh tiga pilar yang merupakan tiga bidang tugasnya. Ketiga bidang kiprah tersebut perlu diintegrasi supaya tujuan mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah sanggup dicapai secara efektif dan efisien. berikut kiprah dan fungsi Bank Indonesia yang telah dituangkan dalam bentuk gambar berisi tiga pilar.