Tampilkan postingan dengan label skripsi FISIP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label skripsi FISIP. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Agustus 2018

Skripsi Imbas Komunikasi Interpersonal Orangtua Dengan Anak Dalam Meningkatkan Prestasi Berguru Anak Sd

(KODE : ILMU-KOM-0075) : SKRIPSI PENGARUH KOMUNIKASI INTERPERSONAL ORANGTUA DENGAN ANAK DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR ANAK SD



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Manusia ialah makhluk sosial yang tidak sanggup melepaskan diri dari jalinan korelasi sosial, dimana insan selalu akan mengadakan kontak sosial yaitu selalu berafiliasi dengan orang lain. Bahkan sebagian besar dari waktu tersebut digunakan untuk berkomunikasi. Mengingat kuantitas komunikasi yang dilakukan dibandingkan dengan aktivitas lainnya, maka sanggup dikatakan bahwa komunikasi merupakan salah satu hal yang penting bagi manusia, dengan kata lain kualitas hidup insan juga ditentukan oleh contoh komunikasi yang dilakukannya. Suatu jalinan sanggup memilih harmonisasi (Rakhmat, 2005, p.13). Salah satu bentuk yang sanggup memilih keharmonisan antar insan tersebut ialah komunikasi interpersonal
Pada umumnya komunikasi interpersonal terjadi alasannya ialah pada hakikatnya setiap insan suka berkomunikasi dengan insan lain, alasannya ialah itu tiap-tiap orang selalu berusaha biar mereka lebih bersahabat satu sama lain. Komunikasi interpersonal sangat penting bagi kebahagiaan hidup manusia. Kegiatan komunikasi tersebut dilakukan sebagai upaya memenuhi kebutuhan bersekutu dengan orang lain. Pemenuhan kebutuhan ini guna menyebarkan diri menjadi makhluk sosial dan pribadi yang lengkap serta untuk menjamin kelangsungan hidupnya yang memerlukan banyak hal, menyerupai kebutuhan sandang, pangan, papan, hiburan, pendidikan dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Namun alasannya ialah adanya keterbatasan pada diri manusia, maka seluruh kebutuhan itu memerlukan tunjangan orang lain
Bentuk komunikasi interpersonal sanggup juga terjadi dalam sebuah keluarga yang melibatkan komunikasi antara anak dan orangtua. Anak, membutuhkan orang lain dalam berkembang. Dalam hal ini, orang yang paling utama dan pertama bertanggungjawab ialah orangtua. Perbedaan umur antara orangtua dan anak yang cukup besar, berarti pula perbedaan masa yang dialami oleh kedua belah pihak. Perbedaan masa yang dialami akan menawarkan jejak-jejak yang berbeda pula dalam bentuk perbedaan perilaku dan pandangan-pandangan antara orangtua dan anak. Yang menarik dari status sebagai orangtua ialah bahwa apapun yang diperbuat orangtua, tujuan mereka semata-mata ialah mengasuh, melindungi, dan mengatur anak-anak. Termasuk pula tanggungjawab orangtua dalam memenuhi kebutuhan si anak, baik dari sudut organis-psikologis, antara lain makanan; maupun kebutuhan-kebutuhan psikis, salah satunya ialah kebutuhan akan perkembangan intelektual seorang anak melalui pendidikan (Gunarsa, 2003, p.6)
Pendidikan memegang peranan penting bagi kehidupan seseorang. Melalui pendidikan, seseorang sanggup memperoleh pengetahuan. Inti dari aktivitas pendidikan dicapai melalui proses belajar. Belajar selalu mempunyai korelasi dengan perubahan, baik yang mencakup keseluruhan tingkah laris maupun yang hanya terjadi pada aspek kepribadian. Sebagai orangtua, mereka harus berbuat sesuatu untuk memperkembangkan diri si anak secara keseluruhan mencakup tingkah laris yang diharapkan. Subjek dari penelitian ini ialah orangtua, dengan melihat pertimbangan bahwa orangtua mempunyai suatu fenomena tersendiri dalam menuntut keberhasilan prestasi pada anak. Banyak orang bau tanah yang terlalu memaksakan kehendaknya, atau ambisinya kepada anak, terlebih lagi dalam hal prestasi (Ekomadyo, 2005, p.4). Orangtua menuntut prestasi tinggi kepada anak, tanpa dibarengi perilaku demokratis dan pendekatan komunikasi yang kurang sehingga perkembangan anak terabaikan; yang pada hasilnya kuat pada prestasi mencar ilmu anak tersebut (Sutedja, 1991, p.34). Orangtua merasa tindakannya benar alasannya ialah semua itu dilakukan semata-mata demi kebaikan anak. Adalah salah beropini jikalau anak harus berprestasi demi harga diri orangtua, sehingga jikalau anak tidak mencapai prestasi menyerupai yang dibutuhkan orangtua, orangtua menjadi putus asa dan anaklah yang menjadi korban (Sintha, 2000, p.6)
Orangtua bertanggung jawab dalam membimbing anak, biar proses belajarnya tetap berlangsung dengan terarah. Untuk mencapai prestasi yang diharapkan, seorang anak membutuhkan lingkungan yang aman untuk mencar ilmu dan menyenangi apa yang dipelajarinya. Di sini orangtua sangat berperan dalam membuat suasana yang sanggup mendorong anak senang mencar ilmu sehingga prestasi anak tersebut sanggup meningkat. Orangtua sanggup mendampingi anak dengan membuat suasana mencar ilmu di rumah yang menyenangkan. Dunia anak ialah dunia yang khas, bukan miniatur dunia orang dewasa, maka semangat berkomunikasi kepada anak ialah bukan memberitahukan sesuatu yang dianggap baik dari sudut pandang orang dewasa, melainkan duduk sejajar bersama anak, berempati, dan menemani anak (Ekomadyo, 2005, p.6). Bimbingan ialah proses pemberian tunjangan terhadap anak untuk mencapai pemahaman dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melaksanakan pembiasaan diri terhadap sekolah, keluarga, serta masyarakat.
Proses mencar ilmu yang berhasil mengacu pada prestasi belajar. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa prestasi mencar ilmu sorang anak yang menerima perhatian dari orang tua, lebih baik dibandingkan dengan prestasi anak yang kurang menerima perhatian dari orang tua. Peranan orang bau tanah dalam lingkungan keluarga yang penting ialah menawarkan pengalaman pertama pada masa anak-anak. Itu alasannya ialah pengalaman pertama merupakan faktor penting dalam perkembangan pribadi dan menjamin kehidupan emosional seorang anak (www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail)
Arti pentingnya sebuah keluarga bagi diri seorang anak dikemukakan pula oleh Susan U. Philips (dikutip dalam Shinta, 2000, p.15) dalam buku The Invisible Culture, ditemukan bahwa anak orang Indian (penduduk orisinil Amerika) selalu kalah cerdas dengan anak orang kulit putih. Ini terjadi alasannya ialah keluarga orang Indian sangat pendiam. Ocehan anak Indian tidak direspon oleh keluarganya, sebagaimana anak orang kulit putih. Akhirnya, anak orang Indian tidak mempunyai kemampuan berkomunikasi pada waktu mereka bermain dan mencar ilmu di kelas. Sebaliknya, alasannya ialah anak orang kulit putih semenjak kecil dibiasakan mempunyai komunikasi interaktif dengan keluarganya, maka mereka berhasil menawarkan respon terhadap lingkungan, baik pada waktu bermain maupun pada waktu mencar ilmu di sekolah
Dilatarbelakangi kondisi menyerupai diatas, maka peneliti tertarik untuk mengenal, dan memahami imbas komunikasi interpersonal yang terjadi antara orang bau tanah dengan anak dalam meningkatkan prestasi mencar ilmu anak. Yang menjadi objek dalam penelitian ini ialah murid-murid kelas VI SD X, dengan mengambil pertimbangan bahwa pada usia tersebut, belum dewasa membutuhkan bimbingan lebih dari orangtua dalam hal belajar. Dengan adanya training contoh mencar ilmu anak semenjak dini akan membawa anak pada kebiasaan mencar ilmu teratur, kemandirian dan kesuksesan kelak di kemudian hari (Astrid, 1979, p.13). Murid-murid kelas VI sengaja dipilih oleh peneliti alasannya ialah mereka sudah mempunyai kematangan contoh berpikir secara rasional, konkrit, logis, serta mempunyai daya ingat yang baik dan pengalaman yang lebih lengkap untuk menunjang perkembangan mereka masuk ke tahap masa remaja (informasi awal diperoleh dari wawancara dengan Kepala Pusat Konseling & Pengembangan Pribadi). Didukung pula oleh unsur kedekatan lokasi penelitian dengan kawasan tinggal peneliti sehingga memudahkan proses penelitian.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang duduk kasus di atas, maka peneliti merumuskan permasalahan sebagai berikut : 
"Bagaimanakah Pengaruh Komunikasi Interpersonal antara orangtua dengan anak dalam meningkatkan prestasi mencar ilmu anak di SD X?"

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai peneliti dalam penelitian ini ialah : Ingin mengetahui Pengaruh Komunikasi Interpersonal antara orang bau tanah dengan anak dalam meningkatkan prestasi mencar ilmu anak di SD X

D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian yang telah diambil peneliti, maka manfaat dari pelaksanaan penelitian ini ialah : 
1. Manfaat Akademis
Menambah perbendaharaan kepustakaan bagi Jurusan Ilmu Komunikasi, berkaitan dengan duduk kasus komunikasi interpersonal antara orang bau tanah dan anak, serta sebagai masukan bagi rekan-rekan mahasiswa yang akan mengadakan penelitian di masa yang akan datang
2. Manfaat Praktis
Dapat menawarkan masukan dan informasi bagi para orangtua mengenai bentuk komunikasi interpersonal yang baik dengan anak dalam meningkatkan prestasi mencar ilmu anak

E. Sistematika Penulisan
Dari batasan penelitian di atas maka sistematika penulisan sebagai berikut : 
a) BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan wacana latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan penelitian, serta sistematika penulisan.
b) BAB II : LANDASAN TEORI
Berisi mengenai teori-teori yang mendukung dan berkaitan dengan permasalahan yang diangkat oleh peneliti dalam penulisan skripsi ini. Adapun teori-teori yang digunakan ialah teori mengenai Komunikasi, Komunikasi antar pribadi, Komunikasi Keluarga, Psikologi Belajar, Teori Belajar dan Psikologi Perkembangan
c) BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
Dalam bab ini akan menguraikan metode yang akan digunakan peneliti, yaitu definisi konseptual, definisi operasional, jenis metode penelitian, citra populasi, teknik pengambilan sample, jenis sumber data, metode pengumpulan data, dan teknik analisis data.
d) BAB IV : ANALISIS dan DATA PEMBAHASAN
Bab ini memuat citra lokasi penelitian, hasil pengolahan data disertai dengan pembahasan yang terkait dengan penelitian
e) B ab V : KESIMPULAN dan SARAN
Bab ini merupakan epilog dari skripsi ini, yang di dalamnya terdapat kesimpulan dan saran dari seluruh proses penelitian yang dibutuhkan sanggup menawarkan manfaat bagi pembaca.


Sumber http://gudangmakalah.blogspot.com

Skripsi Komunikasi Antar Budaya Dan Proses Akulturasi Budaya Kaum Urban

(KODE : ILMU-KOM-0076) : SKRIPSI KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA DAN PROSES AKULTURASI BUDAYA KAUM URBAN



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Komunikasi tidak sanggup dilepaskan dari kehidupan insan sehari-hari. Komunikasi merupakan hal yang membantu insan dalam bertumbuh dan berkembang serta menemukan pribadinya masing-masing. Ekspresi, keinginan, maksud, jawaban serta tujuan insan disampaikan melalui media komunikasi. Komunikasi ialah hal yang menghubungkan interaksi sosial, baik itu secara individu maupun kelompok.
Kebutuhan insan dalam berkomunikasi tidak terlepas dari perkembangan teknologi isu dan pertumbuhan ekonomi. Kedua hal tersebut mendorong insan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik bagi dirinya sendiri, contohnya saja dengan berpindah tempat tinggal, menuju daerah yang kehidupan ekonominya lebih baik dari daerah asal.
Perpindahan penduduk dari daerah asal mereka menuju daerah yang mempunyai daya tarik ekonomi, mengakibatkan terjadinya percampuran-percampuran budaya atau akulturasi antara budaya masyarakat setempat dengan masyarakat pendatang atau masyarakat urban. Sering kali hal ini mengakibatkan kebiasaan-kebiasaan gres dalam kehidupan bermasyarakat, baik bagi pendatang maupun masyarakat setempat.
Komunikasi sebagai pecahan dari budaya, berperan penting dalam proses akulturasi ini. Lewat komunikasi, interaksi-interaksi dari masyarakat yang berbeda budaya terjadi. Percampuran budaya ini diawali dengan adanya komunikasi antar budaya yang terjadi di masyarakat setempat dan masyarakat pendatang tersebut.
Pencampuran budaya yang terjadi dimulai dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu, contohnya penggunaan bahasa sehari-hari. Bahasa yang dipakai merupakan bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa daerah pada kata-kata tertentu, aksen kedaerahan, ataupun nada yang dipakai dalam mengekspresikan sesuatu. Hal ini perlahan bercampur dengan budaya masyarakat setempat, kata-kata dalam bahasa daerah mulai berkurang, aksen yang perlahan menipis atau bercampur dengan aksen masyarakat asli, maupun nada bunyi berbeda dalam berbicara.
Komunikasi juga merupakan hal yang menciptakan interaksi-interaksi antara masyarakat pendatang atau masyarakat urban dan masyarakat setempat terjadi lebih dalam lagi. Percampuran budaya tersebut pada jadinya mencapai elemen-elemen yang lebih besar dalam kehidupan masyarakat pendatang dan masyarakat setempat tersebut. Hal-hal kecil menyerupai bahasa, aksen dan nada bicara pada jadinya membawa kebiasaan-kebiasaan yang sudah bebuyutan dilakukan oleh masyarakat setempat mengalami sedikit pergeseran, begitu juga sebaliknya yang terjadi pada masyarakat pendatang. Budaya-budaya usang yang dibawa dari daerah asal oleh masyarakat asal, perlahan-lahan sudah mulai bercampur dengan kebudayaan yang ada di daerah setempat.
Pola pikir masyarakat Indonesia yang sebagian besar masih terpaku pada sopan santun timur, menciptakan masyarakat takut untuk menjadi berbeda, takut apabila keputusan yang diambil salah, maka akan menjadi pembicaraan orang-orang sekitar. Namun di ketika yang sama, masyarakat juga tidak sanggup meninggalkan sopan santun yang sudah ada dan dijalankan selama turun-temurun, alasannya hal tersebut sudah menjadi kebiasaan dalam kehidupan masyarakat tersebut. Hal ini terjadi di kedua belah pihak, baik masyarakat pendatang, maupun masyarakat setempat yang sudah terlebih dahulu tinggal di daerah tersebut. Pola pikir ini juga yang mendorong pencampuran budaya untuk masuk lebih dalam lagi ke dalam kehidupan bermasyarakat.
Budaya-budaya tradisional yang menempel di masyarakat, namun dilaksanakan dengan cara berbeda bagi masing-masing kebudayaan mulai dijalankan dengan cara yang berbeda pula. Acara-acara kemasyarakatan menyerupai tahlilan, kenduri atau selamatan, peringatan hari-hari besar keagamaan tidak luput dari pencampuran ini. Detail-detail kecil dalam kebiasaan-kebiasaan tersebut menghilang, atau bertambah seiring dengan percampuran budaya. Hal inilah yang pada jadinya membentuk suatu kebudayaan baru, yang disebut akulturasi budaya.
Pernikahan khususnya janji nikah sopan santun atau tradisional merupakan salah satu bentuk upacara kedaerahan yang paling terperinci menandakan terjadinya akulturasi budaya. Pernikahan sopan santun yang cenderung unik dan mempunyai ciri khas tersendiri dari setiap daerah mulai mengalami proses pergeseran. Terdapat banyak perubahan yang terjadi dalam detail-detail suatu janji nikah sopan santun tersebut, yang diadaptasi dengan keadaan daerah serta masyarakat setempat, contohnya saja terjadi pengurangan atau penambahan unsur-unsur kebudayaan yang terkandung di dalam upacara janji nikah sopan santun itu sendiri.
Masyarakat kelurahan X merupakan masyarakat yang heterogen. Kelurahan X merupakan tempat perumahan nasional, dimana di tempat ini terdapat mobilitas penduduk yang tinggi. Kelurahan X juga menjadi target bagi masyarakat urban untuk memulai kehidupan gres di tanah yang baru, sebagian besar dikarenakan faktor ekonomi.
Berangkat dari kondisi tersebut, maka penulis menentukan Kelurahan X sebagai lokasi penelitian. Jarak rumah bertetangga yang tidak terlalu jauh juga mendorong terjadinya kehidupan sosial yang dekat antar tetangga pada masyarakat kelurahan X.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti Pengaruh Komunikasi Antar Budaya terhadap Proses Akulturasi Budaya Kaum Urban Masyarakat di Kelurahan X.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka rumusan dilema dalam penelitian ini ialah :
"Bagaimana imbas komunikasi antar budaya terhadap upacara janji nikah sopan santun sebagai proses akulturasi budaya kaum urban masyarakat di Kelurahan X ?"

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini ialah : 
a. Untuk mengetahui kegiatan komunikasi antar budaya masyarakat pendatang dan masyarakat setempat di Kelurahan X. 
b. Untuk mengetahui peranan komunikasi antar budaya terhadap janji nikah sopan santun sebagai proses akulturasi masyarakat urban/pendatang terhadap masyarakat setempat di Kelurahan X 
c. Untuk mengetahui bagaimana proses akulturasi masyarakat pendatang dan masyarakat setempat di Kelurahan X 
2. Manfaat Penelitian
a. Secara akademis, semoga sanggup memperkaya sumber ilmu pengetahuan dan bacaan.
2. Secara teoritis, penelitian ini sanggup membantu penulis menerapkan ilmu yang didapat selama masa kuliah dan memperluas cakrawala pengetahuan.
3. Secara praktis, penelitian ini sanggup membantu memperluas ilmu pengetahuan serta menjadi sumber literatur khususnya dalam bidang komunikasi antar budaya dan proses akulturasi budaya.


Sumber http://gudangmakalah.blogspot.com

Minggu, 05 Agustus 2018

Skripsi Impression Management Penyiar Laki-Laki Di Station Radio

(KODE : ILMU-KOM-0077) : SKRIPSI IMPRESSION MANAGEMENT PENYIAR PRIA DI STATION RADIO



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Impression Management atau yang lebih dikenal dengan istilah pengelolaan kesan sering kali dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai profesi dan dituntut untuk mempunyai self image yang positif. Salah satu profesi tersebut antara lain penyiar laki-laki di station radio di Kota X.
Impression Management atau pengelolaan kesan di temukan dan dikembangkan oleh Erving Goffman pada tahun 1959, dan telah dipaparkan dalam bukunya yang berjudul "The Presentation of Self in Everyday Life". Pengelolaan kesan juga secara umum sanggup didefinisikan sebagai sebuah teknik presentasi diri yang didasarkan pada tindakan mengontrol persepsi orang lain dengan cepat dengan mengungkapkan aspek yang sanggup menguntungkan diri sendiri atau tim.
Menurut Goffman, Impression Management dekat kaitannya dengan sebuah permainan drama, dimana pemeran pelakunya dibuat oleh lingkungan dan sasaran penontonnya. Tujuannya tak lain ialah untuk memperlihatkan penonton sebuah kesan yang konsisten yang dilandasi tujuan yang diinginkan oleh pemeran itu sendiri.
Kehidupan yang dijalani oleh seorang individu dengan banyak sekali kiprah yang dijalaninya setiap hari, mempunyai kesamaan dengan sebuah pementasan drama. Kehidupan diibaratkan sebuah teater, dimana interaksi sosial di atas panggung menampilkan peran-peran yang dimainkan oleh para pemeran tersebut. Seringkali sang pemeran tersebut tanpa sadar melaksanakan pengelolaan kesan (Impression Management), namun tak jarang pula pemeran tersebut dengan sengaja melaksanakan pengelolaan kesan (Impression Management) tersebut.
Disadari atau tidak dalam kehidupan dan proses interaksinya sehari-hari, banyak individu yang melaksanakan pengelolaan kesan khususnya kalau individu tersebut menjalani suatu profesi tertentu yang bersinggungan dengan khalayak ramai. Profesi tersebut juga menuntut individu mempunyai gambaran positif di kalangan khalayak ramai mirip contohnya profesi sebagai seorang penyiar radio.
Profesi penyiar laki-laki yang sedang berkembang hampir di seluruh station radio di kota X ketika ini di tuntut mempunyai self image yang baik dan positif. Self image tersebut sanggup diraih salah satunya dengan cara pengelolaan kesan yang dilakukan oleh penyiar laki-laki tersebut.
Pengelolaan kesan yang dilakukan oleh penyiar laki-laki dilakukan atas dasar tujuan tertentu yakni untuk membuat suatu kesan tertentu yang sanggup menambah gambaran positif dirinya di kalangan pendengar atau orang-orang yang berada di lingkungannya. Dimana pada balasannya sanggup menarik jumlah pendengar sebanyak mungkin.
Seorang penyiar khususnya penyiar laki-laki wajib sanggup melaksanakan tugasnya dengan baik sehingga sanggup memperoleh jumlah pendengar yang sangat banyak atau sesuai dengan sasaran dari station radio yang menaunginya. Dalam buku "Broadcasting Radio" karangan A. Y. Triartanto dikatakan bahwa, "secara umum penyiar yakni unsur utama yang terdengar dalam produk siaran (program). Penyiar yakni juru bicara perusahaan bagi khalayak atau pendengar. Penyiar juga merupakan alat atau pelaku untuk mencapai sasaran perusahaan, disamping sebagai anggota perusahaan yang dipersiapkan untuk ikut serta dalam fungsi manajemen."
Penyiar sebagai ujung tombak siaran, tentunya identik sebagai representasi stasiun radionya. Dengan kata lain penyiar sanggup menjadi salah satu cermin identitas stasiun (station identity). Demikian pula penyiar radio sanggup dikatakan sebagai profesi yang vital. Disamping itu, seorang penyiar perlu menyadari bahwa dirinya merupakan representasi dari isi siaran dan gambaran perusahaan.
Mulut dan bunyi merupakan senjata utama bagi seorang penyiar. Karena hanya dengan bunyi ia sanggup memberikan informasi, pikiran, dan emosi kepada pendengarnya tanpa adanya gerak anggota badan lainnya yang terlihat sebagaimana penyiar televisi. Penyiar sanggup juga disebut layaknya seorang aktor. Kacaunya suasana hati dan pikiran yang sedang dirasakan, tidak perlu diketahui bahkan dirasakan pula oleh pendengarnya. Selain mempunyai bunyi yang standar, syarat utama lainnya untuk menjadi seorang penyiar antara lain, gemar berbicara, mempunyai wawasan yang luas, mempunyai kesukaan terhadap musik, menguasai alat-alat siaran, dan mengenali visi-misi, segmentasi pendengar serta kegiatan radio.
Trend profesi penyiar laki-laki berkembang pesat sesudah beberapa tahun terakhir ini banyak station radio siaran di kota X yang menjadikan perempuan sebagai sasaran utama pendengar dengan persentase lebih besar dari pada pendengar pria. Persentase tersebut memang relatif dan diubahsuaikan dengan segmentasi dan format radio siaran masing-masing. Dengan kata lain, persentase di suatu radio siaran bisa mempunyai kesamaan antara satu station radio siaran dengan yang lainnya, namun juga bisa berbeda namun tetap pada koridor persentase lebih besar untuk pendengar wanita.
Keputusan yang diambil oleh hampir seluruh stasiun radio siaran menjadikan sasaran pendengar perempuan yang lebih besar dari pada laki-laki didasari oleh sifat dasar perempuan yang cenderung konsumtif dan cenderung sebagai decision maker (pembuat keputusan) dalam hal berbelanja. Inilah yang menyebabkan banyak produsen yang menjadikan perempuan sebagai sasaran utama konsumen. 
Hal tersebut juga ditegaskan oleh seorang pakar di bidang broadcasting radio sekaligus pemilik dari sekolah siaran ternama DJ Arie menyampaikan : 
"Karena perilaku cewek yang cenderung konsumtif itulah banyak radio yang membidik cewek sebagai sasaran pendengar utamanya. Target utama pendengar cewek itulah yang dijadikan sebagai daya tarik ke pemasang iklan mereka. Sebenarnya kalau pemuda lebih konsumtif bisa jadi dijadikan sasaran utama, tidak menutup kemungkinan, soalnya kini aja pemuda udah suka gadget tapi cewek itu pernak-perniknya banyak. Dari situlah berawal pendengar cewek banyak dijadikan sasaran utama, biarpun di setiap radio bergotong-royong beda-beda. Yang akhirnya, banyak station radio memasang penyiar laki-laki sebagai salah satu strateginya. Dan bisa jadi alasannya itu juga kenapa penyiar pemuda jadi animo kini ini. Mungkin alasannya emang peluang jadi penyiar pemuda lagi dibuka selebar-lebarnya sama station radio." 
Pernyataan DJ Arie tersebut didasarkan atas pengalamannya selama beberapa tahun terakhir ketika menjabat sebagai kegiatan director dan manager on air di salah satu stasiun radio di Kota X. Selain itu, ia juga sering diminta untuk menjadi konsultan bagi beberapa stasiun radio di Kota X dan di beberapa kota lainnya. Berkaitan dengan hal tersebut, kalau diamati lebih jauh banyak iklan yang diputar di station radio siaran merupakan iklan jenis produk yang menjadikan perempuan sebagai sasaran utama konsumennya. Pihak stasiun radio akan menyesuaikan format dari perkembangan dunia bisnis radio tersebut. Mengingat pendapatan sebuah radio siaran berasal dari pemasangan iklan di stasiun tersebut
Sebagaimana dari pernyataan DJ Arie diatas, dimana banyak stasiun radio yang memasang seni administrasi untuk memperoleh jumlah pendengar khususnya pendengar perempuan sebanyak-banyaknya. Salah satu seni administrasi tersebut dengan cara menempatkan penyiar laki-laki lebih banyak dibandingkan penyiar wanita. Hal tersebut dikarenakan perempuan cenderung mempunyai ketertarikan yang tinggi terhadap lawan jenis begitupun terhadap penyiar. Penyiar laki-laki pun dianggap mempunyai kelebihan tersendiri dibandingkan seorang penyiar wanita. Berdasarkan pengalamannya bertahun-tahun dalam mencetak penyiar-penyiar radio dan video jockey yang diantara telah yang menjadi broadcaster handal baik di ditingkat regional kota X maupun nasional, DJ Arie mempunyai pandangannya mengenai kelebihan penyiar laki-laki : 
"Kelebihan lainnya dari seorang penyiar pemuda itu biasanya pemuda lebih on beat”. Pendengar itu kan mendengarkan radio buat mendengarkan musik, nah mereka bakalan tambah bahagia kalau misalkan mendengarkan penyiar yang bisa on beat banget dengan musik. Nah kebetulan biasanya penyiar pemuda yang lebih on beat. Karena pemuda tuh biasanya lebih menghayati semua instrument dalam musik. Beda dengan penyiar cewek" 
Meski demikian, hal tersebut tidak berarti seorang penyiar laki-laki mempunyai pendengar yang terdiri perempuan secara keseluruhan. Tidak menutup kemungkinan pendengar laki-laki pun turut mendengarkan kegiatan siaran radio yang dibawakan oleh penyiar pria.
Berdasarkan perkembangan industri radio itulah, banyak stasiun radio di Kota X berlomba-lomba untuk menyuguhkan penyiar laki-laki dengan kualitas dan performa (Air Personality) on air yang memukau.
Profesi penyiar radio dalam bidang komunikasi, termasuk seorang komunikator. Hal tersebut dikarenakan penyiar radio memberikan suatu pesan kepada pendengarnya yang dalam hal ini menempati posisi sebagai komunikan. Dan dalam upaya memberikan pesan secara optimal tersebut dan memenuhi sasaran station radio yang menaunginya tersebut, mereka melaksanakan pengelolaan kesan semoga tercipta air personality yang memukau. Pengelolaan kesan tersebut salah satunya dilakukan dengan mengelola kesan mereka melalui simbol lisan dan non verbal.
Pengelolaan kesan yang dilakukan penyiar laki-laki tersebut sangat lumrah dilakukan dalam menjalani profesinya tersebut, guna menunjang air personality yang baik. Seorang penyiar laki-laki kalau telah berhasil membuat kesan di hadapan pendengarnya bahwa ia mempunyai air personality yang baik, maka ia akan semakin disukai oleh pendengarnya.
Dari uraian yang telah penulis ungkapkan dalam latar belakang penelitian diatas, maka penulis merumuskan duduk kasus penelitian sebagai berikut : "Bagaimana impression management seorang penyiar laki-laki di station radio di Kota X (Studi dramaturgi perihal pengelolaan kesan di kehidupan panggung depan dan panggung belakang pada diri seorang penyiar laki-laki di station radio kota X)?"

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang duduk kasus diatas, maka peneliti mengidentifikasi yang menjadi pokok duduk kasus yang akan diteliti yaitu sebagai berikut : 
1. Bagaimana impression management di kehidupan front stage (panggung depan) seorang penyiar laki-laki di station radio Kota X?
2. Bagaimana impression management di kehidupan back stage (panggung belakang) seorang penyiar laki-laki di station radio Kota X?
3. Bagaimana impression management seorang penyiar laki-laki di station radio Kota X?

C. Maksud dan Tujuan Penelitian
1. Maksud Penelitian
Maksud dari penelitian ini yakni untuk menganalisa dan mendeskripsikan perihal impression management di kalangan penyiar laki-laki di station radio kota X.
2. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui impression management di kehidupan front stage (panggung depan) seorang penyiar laki-laki di station radio Kota X.
b. Untuk mengetahui impression management di kehidupan back stage (panggung belakang) seorang penyiar laki-laki di station radio Kota X.
c. Untuk mengetahui impression management seorang penyiar laki-laki di station radio Kota X.

D. Kegunaan Penelitian
1. Kegunaan Teoritis
Penelitian ini dibutuhkan sanggup mempunyai kegunaan bagi pengembangan Ilmu Komunikasi secara umum, khususnya mengenai bidang kajian Impression Management. Terlebih lagi mengenai impression management pada diri seorang penyiar radio.
2. Kegunaan Praktis
a. Hasil penelitian ini dibutuhkan sanggup melengkapi kepustakaan mengenai impression management dalam hal ini pada diri penyiar laki-laki di station radio di Kota X, sehingga sanggup mempunyai kegunaan bagi mahasiswa secara umum, dan mahasiswa kegiatan studi Ilmu Komunikasi pada khususnya. Serta sebagai literatur bagi peneliti selanjutnya yang akan meneliti kajian yang sama.
b. Dari hasil penelitian ini dibutuhkan sanggup bermanfaat bagi pihak-pihak yang ingin mendapat informasi mengenai penyiar laki-laki di kota X khususnya perihal impression management, sehingga dibutuhkan pula sanggup memperlihatkan efek terhadap proses pembentukan persepsi pihak-pihak tersebut.
c. Penelitian ini dibutuhkan sanggup menambah wawasan dan pengetahuan peneliti dalam bidang komunikasi serta melatih kemampuan berfikir secara sistematis, juga sebagai proses mencar ilmu untuk sanggup mempertajam daya nalar.


Sumber http://gudangmakalah.blogspot.com

Skripsi Efektivitas Penyajian Press Release Oleh Humas Diskominfo Pemerintah Kota Terhadap Kepuasaan Perolehan Gosip Bagi Wartawan

(KODE : ILMU-KOM-0078) : SKRIPSI EFEKTIVITAS PENYAJIAN PRESS RELEASE OLEH HUMAS DISKOMINFO PEMKOT TERHADAP KEPUASAAN PEROLEHAN INFORMASI BAGI WARTAWAN



BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian
Komunikasi yang semula merupakan fenomena sosial kemudian menjadi ilmu yang secara akademik berdisiplin mandiri, komunikasi dianggap amat penting sehubungan dengan dampak sosial yang menjadi hambatan bagi kemaslahatan umat insan jawaban perkembangan teknologi. Komunikasi juga merupakan salah satu proses sosial yang sangat fundamental lantaran setiap orang dalam kehidupannya selalu berkeinginan untuk mempertahankan suatu persetujuan mengenai aneka macam hukum sosial melalui komunikasi.
Menurut David K. Berto dari Michigan State University dalam buku pengantar ilmu komunikasi yang dikutip oleh Hafied Cangara menyebutkan secara ringkas bahwa komunikasi sebagai instrumen dari interaksi sosial berkhasiat untuk mengetahui dan memprediksi perilaku orang lain, juga untuk mengetahui keberadaan diri sendiri dalam membuat keseimbangan dengan masyarakat (Cangara, 2004 : 3).
Pentingnya komunikasi bagi insan tidaklah sanggup dipungkiri begitu juga halnya bagi suatu organisasi. Dengan adanya komunikasi yang baik suatu organisasi sanggup berjalan lancar dan berhasil dan begitu pula sebaliknya, kurangnya atau tidak adanya komunikasi organisasi sanggup macet atau berantakan. Adapun persepsi komunikasi organisasi berdasarkan Katz dan khan menyampaikan bahwa : 
"Komunikasi organisasi merupakan arus informasi, pertukaran informasi dan pemindahan arti di dalam suatu organisasi. Menurut Katz dan Khan organisasi yakni sebagai suatu sistem terbuka yang mendapatkan energi dari lingkungannya dan mengubah energi ini menjadi produk atau servis dari sistem dan mengeluarkan produk atau servis ini kepada lingkungan. (Muhammad, 2009 : 65). Komunikasi menawarkan sesuatu kepada orang lain dengan kontak tertentu atau dengan mempergunakan sesuatu alat. Banyak komunikasi terjadi dan berlangsung tetapi kadang kala tidak tercapai kepada sasaran perihal apa yang dikomunikasikan. Dimungkinkan adanya komunikasi yang kurang baik antara pemberi pesan dan akseptor pesan kalau tidak terjalin persesuaian di antara keduanya. Karena jikalau komunikasi yang baik maka akan terjalin persesuaian di antara keduanya.
Maka dari itu supaya komunikasi organisasi sanggup berjalan dengan baik maka dibutuhkan adanya cuilan yang bisa mengatasinya dan disini kiprah Public Relation atau Humaslah yang bisa mengatasinya. Terdapat beberapa definisi mengenai Humas atau (Public Relations) salah satunya berdasarkan Cutlip, Center dan Brown menyebutkan mengenai pengertian Public Relations antara lain : 
"Public Relations is the distinctive management function which help establish and mutual lines of communications, understanding, acceptance and cooperation between on organization and its public" (PR yakni fungsi administrasi secara khusus yang mendukung terbentuknya saling pengertian dalam komunikasi, pemahaman, penerimaan dan kolaborasi antara organisasi dengan aneka macam publiknya". (Cutlip, Center dan Brown, 2000 : 4). Berdasarkan definisi tersebut sanggup dikatakan bahwa Public Relations merupakan salah satu bentuk yang sanggup mendukung terbentuknya sebuah pengertian di dalam sebuah komunikasi dan kegiatan untuk menanamkan dan memperoleh pengertian, goodwill, kepercayaan, penghargaan perusahaan dan publik terutama masyarakat pada umumnya untuk mencapai tujuan itu di antara berbagi goodwill dan memperoleh opini publik yang favorable atau membuat kerjasama berdasarkan relasi yang serasi dengan aneka macam publik, kegiatan public relations harus dikerahkan ke dalam dan luar.
Humas tidak hanya dibutuhkan di perusahaan swasta saja tetapi pada instansi pemerintah cuilan humas pun diperlukan. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Oemi Abdurachman bahwa pentingnya peranan Humas di instansi-instansi dan lembaga-lembaga pemerintahan dalam masyarakat modern, yaitu dalam melaksanakan kegiatan-kegiatannya dan operasi-operasinya di aneka macam kawasan dan aneka macam bidang, terutama dalam proses pembangunan negara (Abddurachman, 2001 : 112).
Humas di instansi/lembaga pemerintahan biasanya tidak sanggup diikut sertakan dalam memilih kebijaksanaan pemerintah dan ia harus mengikut garis yang sudah ditentukan, kecuali bila di dalam cuilan organisasi. Humas ditempatkan sedemikian rupa, Agar ia sanggup mengetahui keputusan yang diambil dan sebab-sebabnya sebelum diumumkan. Sehingga pihak Humas sanggup menujukan atau menjelaskan kesulitan-kesulitan yang mungkin akan timbul bila keputusan-keputusan itu disampaikan kepada publik. Humas pun sanggup menawarkan saran-saran untuk mengatasi kesulitan yang mungkin akan timbul.
Adanya unit kehumasan pada setiap instansi pemerintah merupakan suatu keharusan fungsional dalam rangka penyebaran perihal kegiatan instansi tersebut baik ke dalam maupun ke luar yaitu kepada masyarakat pada umumnya. Humas merupakan suatu alat untuk memperlancar jalannya interaksi serta penyebaran informasi. Singkatnya humas sebagai komunikator mempunyai fungsi ganda yaitu keluar, ia menawarkan informasi kepada khalayak sesuai dengan kebijaksanaan instansinya dan ke dalam, ia wajib menyerap reaksi dari khalayak untuk kepentingan instansinya.
Kegiatan ke dalam (Internal PR) yakni untuk lebih mengeratkan relasi antara para karyawan dan pimpinan, supaya sanggup mengenal satu sama lain (termasuk keluarganya) antara lain yakni : 
1. Mengadakan rapat
2. Kliping
3. Memasang pengumuman
4. Menerbitkan majalah internal, 
5. Coffee morning dan sebagainya.
Sedangkan kegiatan keluar (Eksternal PR) dilakukan dengan khalayak diluar perusahaan diantaranya yakni : 
1. Menyiarkan press release
2. Government
3. Press Relations
4. Artikel Surat kabar atau majalah.
5. Pameran
6. Media Relations
Dalam penelitian ini, peneliti akan meneliti cuilan Humas eksternal khususnya pada kegiatan humas melalui Press Release. Adapun pengertian dari Press Release berdasarkan Effendy yakni : 
"Bahan isu yang dikirimkan pihak instansi atau organisasi, biasanya biasanya dikerjakan oleh cuilan Humas ke media massa dengan impian sanggup disiarkan" (Effendy, 1898 : 80). Press Release atau siaran pers biasanya hanya berupa lembaran siaran isu yang disampaikan kepada wartawan atau media massa. (Abdullah, 2004 : 80).
Pada penulisan Press Release PR harus mempunyai kemampuan penulisan Press Release dengan gaya piramida terbalik. Dimulai dengan membuat judul, kemudian lead yang mengandung 5W+1H dan diikuti dengan penulisan rincian lead sebelumnya. Hal ini dikarenakan supaya isu menjadi singkat dan informative baik itu bagi pembaca maupun bagi redaksi yang akan memuat isu tersebut. (Soemirar dan Ardianto, 2005 : 55).
Press Release merupakan goresan pena yang berisi mengenai berita-berita perihal suatu kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan/instansi yang dipilih untuk dimuat dalam media. Penyampaian press release merupakan salah satu cara yang sanggup dilakukan oleh Bagian Dinas Komunikasi dan Informatika Pemerintah kota X untuk membangun relasi dengan pers (wartawan media massa), lantaran apa yang ditulis dan dikatakan wartawan media massa yakni menjadi image (citra) masyarakat atau publik terhadap lembaga.
Hubungan Eksternal dalam penelitian ini lebih dikhususkan pada kegiatan relasi pers dalam hal penyampaian Press Release kepada wartawan. Ini dikarenakan peneliti melihat bahwa dalam pembuatan hingga penyampaian Press Release oleh suatu perusahaan kepada wartawan itu tidak begitu saja diterima oleh wartawan dan disiarkan oleh media.
Dalam proses penyebaran Press Release yang dilakukan oleh Humas Dinas Komunikasi dan Informatika (DISKOMINFO) pemkot X yaitu melalui media Online Email yang dikirimkan kepada masing-masing alamat Email Wartawan yang terdata dalam daftar peliput kegiatan di lingkungan Dinas Komunikasi dan Informatika (DISKOMINFO) pemkot X.
Wartawan dalam kamus Besar Bahasa Indonesia yakni orang yang pekerjaannya mencari dan menyusun isu untuk dimuat di surat kabar, majalah, radio, televisi. (Depdikbud, 2004 : 407). Wartawan dalam menjalankan kiprah dan kewajibannya mencari isu sudah tentu akan berinteraksi dengan aneka macam kalangan di masyarakat. Salah satu yang bekerjasama dengan wartawan yakni instansi dan dalam hal ini perusahaan/instansi biasanya diwakili oleh petugas Humas dan kiprah humas pun dilaksanakan oleh cuilan informatika. Oleh akhirnya untuk menjaga gambaran dan nama baik instansi dari kesalahan dan menjadikan relasi dengan pers sanggup lebih terbuka, petugas humas dan wartawan perlu saling memahami satu sama lain.
Masalah yang terjadi bahwa menjalin suatu relasi kolaborasi yang serasi antara Humas dengan pihak Pers tentu saja tidak mudah, menyerupai yang disampaikan Rosady Ruslan (2003 : 151) bahwa terdapat kontradiksi atau perbedaan fungsi dan kiprah antar Pers (wartawan) dengan pihak humas.
Hal ini sanggup diketahui bahwa secara umum pers berfungsi menawarkan informasi, penyebaran informasi. Begitupun dengan wartawan Diskominfo Kota X, Setiap wartawan tentunya membutuhkan informasi baik untuk kepentingan dirinya ataupun kepentingan perusahaan. Dalam hal informasi yang menyangkut perusahaan, ada beberapa informasi yang harus disampaikan kembali oleh para wartawan pada publik.
Selain itu fungsi khusus/>ers yakni menghipnotis (influence) opini masyarakat, melaksanakan si stem kepengawasan sosial (social control) dan mempunyai kekuatan (power of press). Sedangkan dimensi fungsi Public Relations akan bertolak belakang dengan fungsi pers, lantaran publikasi yang berkaitan dengan Public Relations (Humas) justru bersifat positif. Hal tersebut sanggup dilakukan dengan penyebaran informasi atau pesan untuk meningkatkan pengenalan (awareness), pengetahuan (knowledge), bujukan (persuasive), pendidikan (education).
Semua itu dilakukan sebagai upaya membuat dan opini masyarakat kepada sesuatu yang positif, serta menghindarkan unsur-unsur pemberitaan atau publikasi yang bersifat negatif, sensasional dan kontroversial di masyarakat. Pertentangan yang terjadi atau saling berprasangka jelek antara pihak Humas dan pers sanggup diatasi seandainya relasi itu berlandaskan kepada prinsip-prinsip keterbukaan, serta saling menghargai kiprah satu sama lainnya dan saling mendukung. Serta setiap pihak akan berfungsi serta bertindak sesuai dan terikat dengan arahan etik profesinya masing-masing.
Penyampaian Press Release kepada pihak wartawan mengenai aneka macam kegiatan yang dilakukan oleh Walikota, Wakil Walikota dan Sekretaris Daerah Kota X diharapkan supaya kebijakan-kebijakan serta program-program kerja instansi akan cepat hingga ke masyarakat. Selain itu penyampaian Press Release pun sanggup dijadikan tolak ukur untuk sanggup mengetahui keberhasilan dari suatu kiprah dan fungsi Humas, yaitu untuk menilai efektif tidaknya pekerjaan Humas pada suatu lembaga. Keberhasilan tersebut sanggup dilihat dari pemberitaan pers dalam suatu instansi, melalui komunikasi yang efektif.
Komunikasi efektif sanggup diartikan sebagai, suatu kegiatan komunikasi yang sanggup mencapai hasil (Output) sebagaimana yang diharapkan (target) dan termuat dalam pesan tersebut serta sanggup menawarkan kemanfaatan (benefit) yang besar kepada sasaran komunikasi atau akseptor pesan. Komunikasi yang efektif sanggup terjadi apabila tidak ada penyimpangan (distorsi) dari sasaran hasil (output) yang hendak dicapai, dan manfaat (benefit) yang sanggup dirasakan oleh sasaran.
Menurut Andre Hardjana untuk mengukur keefektifan suatu komunikasi, kriteria yang dipakai yakni sebagai berikut : 
1. Sumber pesan (source). Merupakan orang yang menawarkan pesan kepada pengguna.
2. Isi Pesan (content). Isi pesan yang diterima atau tersalur.
3. Media (media). Merupakan jalan masuk yang dipakai oleh komunikator atau sumber dalam memberikan pesannya kepada komunikan atau pemakai.
4. Siapa akseptor atau pemakai (receiver or user). Merupakan akseptor pesan yang dituju atau komunikan yang dituju.
(Hardjana : 2000)
Tingkat efektivitas komunikasi sangat dipengaruhi oleh aneka macam faktor. Faktor tersebut sanggup dikelompokkan dalam dua golongan, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern merupakan faktor yang berasal dari dalam lingkungan kegiatan komunikasi tersebut. Sementara itu, faktor ekstern berasal dari luar lingkup kegiatan komunikasi tersebut, atau juga sering disebut dengan faktor lingkungan. Faktor intern yang dimaksudkan, antara lain : 
a. Sumber pesan (encoder), 
b. Isi pesan itu sendiri, 
c. Penerima pesan (decoder), dan
d. Media yang dipakai untuk melaksanakan komunikasi.
Faktor ekstern yang dimaksudkan, antara lain : 
a. Kebijakan yang melingkupi proses komunikasi tersebut, 
b. Kondisi sosial/politik yang melingkupi proses komunikasi tersebut, dan
c. Kondisi lingkungan yang aman lainnya.
Press Release yang dibentuk oleh Bagian Humas Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) mengenai informasi seputar kegiatan Pejabat Kota X yang sudah menjadi kewajiban bagi Humas Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) pemkot X untuk meliput kegiatan tersebut yang nantinya akan dibentuk menjadi sebuah Press Release. Dan Press Release tersebut sesudah final dibentuk eksklusif dikirim ke website pemkot dan sesudah itu gres dikirimkan ke email-email wartawan yang terdaftar dalam data wartawan peliput kegiatan di lingkungan pemerintah kota X.
Proses menyerupai ini dikarenakan supaya para wartawan mengetahui kegiatan yang sedang berlangsung di Pemerintahan Kota X yang nantinya informasi yang ada pada Press Release bisa dikembangkan dan diberitakan oleh wartawan ke media, baik media cetak maupun elektronik. Melalui proses penyampaian pesan menyerupai ini diharapkan sanggup menawarkan kepuasan bagi wartawan untuk memberitakan informasi yang diberikan melalui komunikasi yang baik.
Yang dimaksud dengan kepuasan komunikasi yakni satu fungsi dari apa yang seorang dapatkan dengan apa yang beliau harapkan. Adapun kepuasan dengan kualitas media faktor ini meliputi berapa baikan mutu tulisan, nilai informasi yang diterima, keseimbangan informasi yang tersedia dan ketepatan informasi yang datang. Hasil penelitian menyarankan bahwa penampilan, ketepatan dan tersedianya informasi mempunyai imbas kepada kepuasan orang dengan komunikasi dalam organisasi. (Masmuh, 2010 : 48)
Sehingga dengan adanya bentuk penyampaian informasi melalui Press Release oleh Humas Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) pemkot X sanggup mengakibatkan sebuah kepuasan bagi wartawannya dalam memperoleh informasi.
Bertolak dari latar belakang dilema di atas, maka peneliti menarik rumusan dilema sebagai berikut : "Sejauh mana Efektivitas Penyajian Press Release oleh Humas Dinas Komunikasi dan Informatika (DISKOMINFO) pemkot X terhadap Kepuasan Perolehan Informasi bagi wartawan?".

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang dilema dan rumusan dilema tersebut, maka peneliti mengidentifikasikan dilema yang akan dibahas sebagai berikut : 
1. Sejauh mana Kredibilitas Sumber Penyajian Press Release Oleh Humas Dinas Komunikasi Dan Informatika (DISKOMINFO) pemkot X Terhadap Kepuasan Perolehan Informasi Bagi Wartawan?
2. Sejauh mana Isi Pesan Penyajian Press Release Oleh Humas Dinas Komunikasi Dan Informatika (DISKOMINFO) pemkot X Terhadap Kepuasan Perolehan Informasi Bagi Wartawan?
3. Sejauh mana Media yang dipakai dalam Penyajian Press Release Oleh Humas Dinas Komunikasi Dan Informatika (DISKOMINFO) pemkot X Terhadap Kepuasan Perolehan Informasi Bagi Wartawan?
4. Sejauh mana Efektivitas Penyajian Press Release Oleh Humas Dinas Komunikasi Dan Informatika (DISKOMINFO) pemkot X Terhadap Hasil Perolehan Informasi Bagi Wartawan?
5. Sejauh mana Efektivitas Penyajian Press Release Oleh Humas Dinas Komunikasi Dan Informatika (DISKOMINFO) pemkot X Terhadap Harapan Perolehan Informasi Bagi Wartawan?
6. Sejauh mana Efektivitas Penyajian Press Release Oleh Humas Dinas Komunikasi Dan Informatika (DISKOMINFO) pemkot X Terhadap Kepuasan Perolehan Informasi Bagi Wartawan?

C. Maksud dan Tujuan Penelitian 
1. Maksud Penelitian
Dari permasalahan diatas maka maksud dilaksanakannya penelitian ini yakni untuk menganalisa dan menjelaskan mengenai Efektivitas Penyajian Press Release Oleh Humas Dinas Komunikasi dan Informatika (DISKOMINFO) pemkot X Terhadap Kepuasan Perolehan Informasi Bagi Wartawan.
2. Tujuan Penelitian
Sedangkan tujuan dilaksanakannya penelitian ini yakni sebagai berikut : 
a. Untuk Mengetahui Kredibilitas Sumber Penyajian Press Release Oleh Humas Dinas Komunikasi dan Informatika (DISKOMINFO) pemkot X Terhadap Kepuasan Perolehan Informasi Bagi Wartawan.
b. Untuk Mengetahui Isi Pesan Penyajian Press Release Oleh Humas Dinas Komunikasi dan Informatika (DISKOMINFO) pemkot X Terhadap Kepuasan Perolehan Informasi Bagi Wartawan.
c. Untuk mengetahui Media yang dipakai dalam Penyajian Press Release Oleh Humas Dinas Komunikasi dan Informatika (DISKOMINFO) pemkot X Terhadap Kepuasan Perolehan Informasi Bagi Wartawan.
d. Untuk Mengetahui Efektivitas Penyajian Press Release Oleh Humas Dinas Komunikasi dan Informatika (DISKOMINFO) pemkot X Terhadap Hasil Perolehan Informasi Bagi Wartawan.
e. Untuk Mengetahui Efektivitas Penyajian Press Release oleh Humas Dinas Komunikasi dan Informatika (DISKOMINFO) pemkot X Terhadap Harapan Perolehan Informasi Bagi Wartawan.
f. Untuk mengetahui Efektivitas Penyajian Press Release Oleh Humas Dinas Komunikasi dan Informatika (DISKOMINFO) pemkot X Terhadap Kepuasan Perolehan Informasi Bagi Wartawan.

D. Kegunaan Penelitian
1. Kegunaan Teoritis
Kegunaan penelitian secara teoritis berkhasiat sebagai pengembang untuk berbagi Ilmu Komunikasi secara umum dan ilmu Humas atau Public Relations khususnya mengenai Efektivitas Penyajian Press Release terhadap Kepuasan Wartawan Memperoleh Informasi.
2. Kegunaan Praktis
a. Untuk Penelitian
Penelitian ini secara mudah berkhasiat untuk peneliti sebagai aplikasi ilmu yang selama studi diterima secara teori dan diharapkan sanggup menambah wawasan dan pengetahuan peneliti dalam bidang komunikasi dan Public Relations.
b. Untuk Universitas
Penelitian ini secara mudah berkhasiat bagi mahasiswa/i Universitas secara umum, dan untuk mahasiswa/i Ilmu Komunikasi konsentrasi Humas secara khusus sebagai literatur terutama untuk peneliti selanjutnya yang akan melaksanakan penelitian pada kajian yang sama.
c. Untuk Perusahaan
Penelitian ini secara mudah berkhasiat bagi perusahaan sebagai tumpuan atau penilaian khususnya mengenai Efektivitas Penyajian Press Release Oleh Humas Dinas Komunikasi dan Informatika (DISKOMINFO) pemkot X Terhadap Kepuasan Perolehan Informasi Bagi Wartawan.


Sumber http://gudangmakalah.blogspot.com

Sabtu, 04 Agustus 2018

Skripsi Korelasi Efektivitas Komunikasi Organisasi Dan Kemampuan Kerja Pegawai Satuan Polisi Pamong Praja Terhadap Implementasi Kegiatan Pengaturan Dan Training Pedagang Kaki Lima

(KODE : ILMU-KOM-0079) : SKRIPSI HUBUNGAN EFEKTIVITAS KOMUNIKASI ORGANISASI DAN KEMAMPUAN KERJA PEGAWAI SATUAN POLISI PAMONG PRAJA TERHADAP IMPLEMENTASI PROGRAM PENGATURAN DAN PEMBINAAN PEDAGANG KAKI LIMA



BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan organisasi pencapaian tujuan dengan segala prosesnya membutuhkan komunikasi yang efektif. Para anggota organisasi mutlak perlu berkomunikasi satu sama yang lain. Komunikasi merupakan kepingan integral dari suatu proses administrasi melalui komunikasi yang efektif, kolaborasi yang serasi sanggup dikembangkan untuk mencapai tujuan (Nitisemito, http://www.scribd.com dikutip tanggal 5 Mei 2010).
Seperti yang dikatakan pula oleh Terry (http://www.scribd.com dikutip tanggal 5 Mei 2010) bahwa komunikasi menempati urutan teratas mengenai apa saja yang harus dibentuk dan dikerjakan untuk menghasilkan motivasi efektif, usaha-usaha komunikatif kuat terhadap antusiasme kerja. Melalui komunikasi maka sanggup memperlihatkan keterangan perihal pekerjaan yang menciptakan karyawan sanggup bertindak dengan rasa tanggung jawab pada diri sendiri yang pada waktu bersamaan sanggup menyebarkan semangat kerja para karyawan. Adanya kolaborasi yang serasi ini diharapkan sanggup meningkatkan kerja para pegawai, lantaran komunikasi bekerjasama dengan keseluruhan proses pembinaan sikap insan dalam organisasi.
Menurut Rathakrishnan, 2006, komunikasi merupakan aspek dan elemen yang penting dalam sebuah organisasi. Komunikasi dalam organisasi mempunyai hubungan yang rapat dan saling mempengaruhi. Para pengurus menghabiskan 95% dari pada masa bekerja mereka untuk berkomunikasi, manakala pekerja bawahan memakai 60 persen daripada masa bekerja mereka dalam banyak sekali bentuk komunikasi. Ini memperlihatkan proses komunikasi dalam organisasi boleh melibatkan setiap anggota organisasi.
Dengan demikian pelaksanaan komunikasi organisasi sangat diharapkan untuk melancarkan tugas-tugas pegawai. Sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari jikalau hubungan antara pimpinan dan bawahan kurang baik maka para pegawai dalam melaksanakan tugasnya akan semakin malas. Tetapi sebaliknya jikalau hubungan atasan dan bawahan baik maka mereka juga dalam melaksanakan pekerjaan akan semakin baik pula. Berkaitan dengan hal tersebut selain komunikasi setiap organisasi tidak terlepas dari kiprah pemimpinnya baik organisasi publik maupun swasta, Oleh lantaran itu, untuk meningkatkan kemampuan kerja (produktivitas) para pegawai, organisasi harus menjalankan usaha-usaha pengembangan pegawai atau karyawannya. Jadi, pengembangan pegawai yaitu untuk memperbaiki efektivitas kerja pegawai dalam mencapai hasil-hasil kerja yang telah ditetapkan.
Peranan sumber daya insan terhadap forum negara tergantung kepada jumlahnya secara kuantitatif dan kualitas dari sumber daya insan itu sendiri yang disifati dengan tinggi rendahnya kemampuan sumber daya manusia, berdasarkan Standar Nasional Indonesia 19-9004-2002 terdiri dari unsur pendidikan, pelatihan, keterampilan, dan pengalaman. Oleh lantaran itu penyediaan pendidikan dan training bagi para personil dimaksudkan untuk memastikan bahwa personil sadar akan relevansi dan kegiatan mereka serta bagaimana proteksi mereka bagi pencapaian target mutu Quality objectives.
Menurut Purnomo (2004 : 4) "kemampuan merupakan kesanggupan seseorang baik secara kualitatif maupun kuantitatif untuk menjalankan kiprah sesuai dengan profesi yang dimilikinya". Lebih lanjut diungkapkan bahwa "kemampuan kerja yaitu keadaan pada seorang pegawai yang secara penuh kesanggupan, berdaya guna dan berhasil guna melaksanakan pekerjaannya, sehingga menghasilkan sesuatu yang optimal."
Kemampuan juga bekerjasama bersahabat dengan kemampuan fisik atau kemampuan mental yang dimiliki orang untuk melaksanakan pekerjaan dan bukan yang diinginkan (Gibson, 1990 : 53). Gibson menyebutkan beberapa kemampuan yang harus dimiliki seorang pegawai biar sanggup mencapai efektivitas dan efisiensi kerja.
Berdasarkan pendapat di atas maka sanggup diambil kesimpulan bahwa kemampuan yang ada dalam diri seseorang yaitu salah satu unsur kematangan, berkaitan dengan pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh dari pendidikan, latihan dan suatu pengalaman, sehingga mempunyai kegunaan untuk melaksanakan pekerjaan dan memperoleh hasil yang optimal. Kemampuan kerja pegawai merupakan aspek penting dalam organisasi. Pegawai yang mempunyai kemampuan kerja dalam melaksanakan kiprah akan senantiasa bekerja percaya diri dan siap untuk menuntaskan setiap permasalahan yang terjadi. Komunikasi dalam melaksanakan kiprah dan tanggung jawabnya akan mensugesti kinerja yang diberikan dengan ditandai oleh tingkat produktivitas, kestabilan yang dimiliki dalam melaksanakan tugas, kedisiplinan yang kuat, loyalitas yang tinggi, tanggung jawab serta efektivitas dan efisiensi dalam melaksanakan tugas. Kedua aspek tersebut jikalau bersatu secara utuh dalam kondisi baik akan menimbulkan pegawai berperilaku sesuai dengan tuntutan organisasi yang dikehendaki. Oleh lantaran itu apapun bentuk organisasinya aspek kemampuan kerja dan komunikasi perlu mendapat perhatian yang serius dari pimpinan organisasi tersebut, termasuk di Satuan Polisi Pamong Praja Kota X.
Satuan Polisi Pamong Praja Kota X mempunyai tujuan yaitu, rangka pembangunan nasional, arah kebijakan kegiatan pengaturan dan pembinaan pedagang kaki lima/PKL diarahkan untuk mencapai kondisi lingkungan yang tertib dan nyaman. Usaha dari pemerintah dalam hal ini Kota X mengimplementasikan kegiatan berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) No. 11 Tahun 2000 perihal Program Pengaturan Dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima Di Kota X yang dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja yang mempunyai wewenang dalam hal tersebut.
Program Pengaturan Dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima Di Kota X yang dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja terdapat beberapa kasus yang salah satunya yaitu : 
- Penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) yang mendirikan bangunan permanen yang seharusnya bangunan tersebut sanggup dibongkar pasang menyerupai yang tertera pada Peraturan Daerah Th. 2000 pada kepingan V Pasal 8 yang menjelaskan : 
Untuk melaksanakan kegiatannya. Pedagang Kaki Lima dihentikan : 
a. Merombak, menambah, mengubah fungsi dan kemudahan lokasi PKL yang telah disediakan dan atau telah ditentukan oleh Pemerintah Daerah.
b. Mendirikan bangunan permanen di lokasi PKL yang telah ditetapkan.
c. Memindahtangankan ijin daerah perjuangan PKL kepada pihak lain.
d. Melakukan kegiatan perjuangan di luar lokasi PKL yang telah ditetapkan.
e. Menempati lahan/lokasi PKL yang tidak ditunjuk dan ditetapkan oleh Walikota.
f. Menempati lahan/lokasi PKL untuk kegiatan daerah tinggal (hunian).
Suatu istilah yang dimaksudkannya untuk menjelaskan suatu keadaan dimana dalam proses kebijakan selalu akan terbuka kemungkinan terjadinya perbedaan antara apa yang diharapkan (direncanakan) oleh pembuat kebijaksanaan dengan apa yang senyatanya dicapai (sebagai hasil atau presentasi dari pelaksanaan). Jika dihubungkan dengan proses implementasi kegiatan Pengaturan Dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima Di Kota X, masih dari jauh keinginan oleh lantaran itu variabel komunikasi dan kemampuan kerja dipergunakan sebagai faktor yang mensugesti implementasi kegiatan Pengaturan Dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima Di Kota X.
Ketentraman dan ketertiban umum merupakan proses perubahan secara berencana yang berlangsung secara terus menerus dari suatu keadaan tertentu kepada keadaan yang lebih baik, Ketentraman dan ketertiban umum dilaksanakan secara sedikit demi sedikit dan mencakup seluruh aspek kehidupan sehingga terjadi peningkatan ketentraman dan ketertiban umum masyarakat. Salah satu upaya meningkatkan ketentraman dan ketertiban umum dengan adanya kegiatan pengaturan dan pembinaan pedagang kaki lima/PKL, yang diharapkan sanggup tercapainya lingkungan yang kondusif tertib dan terkendali.
Dengan ditertibkannya suatu kebijakan yang diharapkan untuk sanggup memperbaiki pembangunan melalui kegiatan Pengaturan Dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima Di Kota X. Program tersebut bersifat pemerataan yang diorientasikan kepada pedagang kaki lima biar sanggup terciptanya lingkungan yang kondusif dan terkendali. Adapun maksud dari Peraturan Daerah tersebut yaitu memperlihatkan arah dan ajaran serta landasan bagi pegawanegeri pemerintah dalam menegakkan ketentraman dan lingkungan yang aman. Sedangkan tujuan biar pelaksanaan pembangunan sanggup terarah, terpadu, efektif, dan efisien untuk mewujudkan landasan yang mantap bagi visi pembangunan.
Hal ini disebabkan secara obyektif terdapat kondisi atau situasi yang menggambarkan kendala pada segi sumber daya dan komunikasi. Hal ini sanggup dilihat sebagai berikut : 
1. Kemampuan kerja aparatur dalam menerapkan kebijakan yang belum memadai, hal tersebut disebabkan oleh : 
a. Kurangnya inisiatif dari para pelaksana untuk mengimplementasikan kebijakan lantaran harus menunggu perintah dari atasan untuk bertindak. 
b. Kurangnya pemahaman perihal isi kebijakan yang mengakibatkan dibutuhkan peraturan/petunjuk pelaksana.
2. Selain faktor kemampuan kerja, juga ada beberapa kesulitan dalam pelaksanaan kegiatan Pengaturan Dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima Di Kota X yaitu faktor komunikasi yang disebabkan oleh : 
a. Koordinasi yang belum efektif sehingga jarangnya pertemuan diantara pelaksana.
b. Tingkat pendidikan yang masih rendah sehingga terjadi kesalahan persepsi dalam penyampaian informasi.
Berangkat dari latar belakang yang sudah dikemukakan di atas, maka penulis tertarik untuk mengambil judul "HUBUNGAN EFEKTIVITAS KOMUNIKASI ORGANISASI DAN KEMAMPUAN KERJA PEGAWAI SATUAN POLISI PAMONG PRAJA TERHADAP IMPLEMENTASI PROGRAM PENGATURAN DAN PEMBINAAN PEDAGANG KAKI LIMA DI KOTA X" 

B. Perumusan Masalah
Satuan Polisi Pamong Praja Kota X mempunyai tujuan yaitu, rangka pembangunan nasional, arah kebijakan kegiatan pengaturan dan pembinaan pedagang kaki lima/PKL diarahkan untuk mencapai kondisi lingkungan yang tertib dan nyaman. Usaha dari pemerintah dalam hal ini Kota X mengimplementasikan kegiatan berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) No. 11 Tahun 2000 perihal Program Pengaturan Dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima Di Kota X yang dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja yang mempunyai wewenang dalam hal tersebut.
Program Pengaturan Dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima Di Kota X yang dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja terdapat beberapa kasus yang salah satunya yaitu : Penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) yang mendirikan bangunan permanen yang seharusnya bangunan tersebut sanggup dibongkar pasang menyerupai yang tertera pada Peraturan Daerah Th. 2000 pada kepingan V Pasal 8.
Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, maka sanggup dirumuskan persoalan :
1. Apakah komunikasi bekerjasama terhadap Implementasi Program di Satuan Polisi Pamong Praja Kota X ?
2. Apakah kemampuan kerja bekerjasama terhadap Implementasi Program di Satuan Polisi Pamong Praja Kota X ?
3. Apakah komunikasi dan kemampuan kerja bekerjasama terhadap Implementasi Program di Satuan Polisi Pamong Praja Kota X ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini yaitu : 
1. Untuk mengetahui hubungan efektifitas komunikasi terhadap Implementasi Program di Satuan Polisi Pamong Praja Kota X
2. Untuk mengetahui hubungan kemampuan kerja pegawai terhadap Implementasi Program di Satuan Polisi Pamong Praja Kota X
3. Untuk mengetahui hubungan komunikasi dan kemampuan kerja terhadap Implementasi Program di Satuan Polisi Pamong Praja Kota X
Manfaat yang hendak dicapai dalam penelitian yaitu : 
Manfaat akademis : 
1. Sebagai materi pembanding antara praktik dan teori yang telah diperoleh selama kuliah dan merupakan media untuk mempraktikkan teori-teori atau ilmu yang telah dipelajari.
2. Menambah wawasan dibidang kehumasan sesuai dengan bidang yang telah dipilih.
3. Mampu mengaplikasikan ilmu-ilmu yang diperoleh selama perkuliahan di Jurusan Ilmu Komunikasi.
Manfaat mudah : 
1. Hasil penelitian ini diharapkan sanggup mempunyai kegunaan bagi forum atau instansi terkait mengenai pentingnya kiprah kemampuan kerja dan komunikasi dalam suatu organisasi guna terwujudnya implementasi kegiatan pengaturan dan pembinaan PKL di Kota X.
2. Hasil penelitian ini diharapkan mempunyai kegunaan bagi para pihak dalam hal memperlihatkan balasan atas permasalahan yang diteliti.


Sumber http://gudangmakalah.blogspot.com

Skripsi Penemuan Penyiaran Aktivitas Info Dalam Menghadapi Persaingan Media Massa

(KODE : ILMU-KOM-0080) : SKRIPSI INOVASI PENYIARAN PROGRAM BERITA DALAM MENGHADAPI PERSAINGAN MEDIA MASSA



BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kemasan acara informasi di era hiburan ibarat dikala ini sepertinya kian penting, bahkan bisa sama pentingnya dengan isi. Itulah yang menciptakan para produser informasi terus mencari bentuk gres penyajian acara informasi supaya bisa mendapat rating yang elok dan meraih segmen yang lebih luas ibarat halnya acara hiburan. (Kompas, 16 Januari 2011 : 15)
Pada era informasi ibarat kini ini, perkembangan dunia komunikasi telah mencapai babak gres seiring dengan pertumbuhan media komunikasi yang pesat. Pertumbuhan banyak sekali media gres sejalan dengan meningkatnya kebutuhan khalayak akan informasi. Kebutuhan khalayak akan informasi sebenarnya sudah ada semenjak munculnya Acta Diurna (Pengumuman Harian dari Pemerintah) dan Acta Senata (Pengumuman Senat) di kerajaan romawi kuno pada masa Julius Caesar, tahun 59 Sebelum Masehi, masyarakat membutuhkan informasi atau informasi sebagai serpihan dari kegiatan kehidupan sosialnya. Berbagai teknologi kemudian diciptakan untuk memudahkan khalayak mendapat sejumlah informasi. Kemudahan untuk mengakses banyak sekali informasi itulah yang kemudian menciptakan khalayak kini lebih selektif dan cerdas dalam menentukan jenis media massa penyedia informasi.
Adanya internet sebagai media gres atau new media kian meramaikan persaingan media komunikasi di tengah media massa konvensional ibarat cetak dan elektronik yang sudah lebih dulu ada. Surat kabar dan majalah yang termasuk dalam kategori media cetak, serta televisi dan radio yang merupakan media elektronik tentunya mengedepankan keunggulan tersendiri dibandingkan dengan internet sebagai media gres yang mengutamakan unsur kecepatan. Oleh alasannya itu, media massa konvensional harus melaksanakan penemuan dalam penyajian informasi yang kini tidak hanya dituntut untuk lebih cepat, tetapi juga harus mempunyai keunikan tersendiri. Hal ini berkaitan dengan persaingan industri media untuk mendapat perhatian khalayak.
Penulis dalam hal ini lebih memfokuskan pada media elektronik televisi dalam penelitian. Media televisi, satu dari beberapa jenis media massa yang berkembang di Indonesia, yang hasil dari penemuan dan proses kreatifnya sanggup eksklusif dinilai oleh khalayak. Sejak awal kurun ke-20, televisi telah menjadi sentra perhatian masyarakat modern dari banyak sekali negara. Televisi diproyeksikan sebagai media paling lengkap dalam menggabungkan dan memadukan bunyi dan gambar atau dikenal dengan media audio visual. Keberadaan televisi pertanda bahwa perkembangan teknologi media komunikasi dalam masyarakat tidak pernah mengenal batas ruang dan waktu. Sebagai media informasi, televisi berfungsi sebagai media yang sanggup semakin mendekatkan masyarakat pada permasalahan kemanusiaan di banyak sekali belahan penjuru dunia. Sebagai media hiburan, televisi sanggup meliputi laba dari kedua media yang merupakan cikal bakal kelahirannya, radio dan film. Dengan televisi audiens sanggup menyaksikan gambar, tidak hanya suara, dan sanggup dinikmati di rumah tanpa harus mendatangi suatu daerah ibarat gedung bioskop.
Informasi atau informasi memang merupakan tujuan utama dalam media komunikasi, baik cetak maupun audio visual. Informasi atau informasi berada di posisi teratas dalam skala prioritas media dibandingkan dengan pendidikan atau hiburan sebagai tujuan-tujuan yang lain. Sayangnya, perkembangan acara siaran media televisi swasta di Indonesia dikala ini justru menyodorkan program-program hiburan secara dominan. Dengan waktu siar rata-rata stasiun televisi sebanyak 20 jam dan bahkan 24 jam per hari pada final pekan, penyiaran acara khusus informasi hanya sekitar 5 jam per hari. Masing-masing satu jam pada pagi dan siang hari, petang serta tengah malam. Ditambah dengan informasi sekilas yang ditayangkan setiap beberapa jam disela-sela dominasi acara hiburan ibarat acara musik, sinema drama, game show, dan siaran olahraga.
Peran utama televisi sebagai media penyebar informasi atau informasi kian terancam tergeser oleh dominasi acara hiburan. Untuk mengatasi bahaya tersebut diharapkan kreatifitas dan penemuan dalam pengemasan acara berita. Pembaruan dan penemuan sendiri bukanlah hal gres bagi dunia persaingan media. Beberapa stasiun televisi swasta nasional dan lokal tentunya sudah mencoba hal tersebut. Hanya saja keberhasilannya berbeda pada setiap program. Misalnya acara BUSER di RCTI yang secara khusus memisahkan rangkuman informasi kriminal dan dibahas secara lebih mendalam. Terpisah dari induk acara beritanya, Seputar Indonesia. Juga acara Jelang Siang di Trans Tv yang hanya menyajikan soft news untuk menemani pemirsanya di siang hari. Serta acara Halo Polisi di stasiun televisi Indosiar. Program tersebut mencoba menggabungkan informasi kriminal dan tanya jawab eksklusif dengan narasumber, juga menyediakan layanan obrolan interaktif bagi pemirsanya. Hal ini ditujukan supaya khalayak atau pemirsanya merasa mempunyai kedekatan dengan penyiar atau narasumber yang biasanya merupakan tokoh penting. Program informasi formal ibarat Seputar Indonesia di RCTI, Apa Kabar Indonesia di Trans TV, juga Liputan 6 di SCTV, bahkan ikut menyisipkan sedikit informasi hiburan dalam acara acaranya.
Pada pada dasarnya penemuan yang dilakukan program-program informasi tersebut yaitu dengan menyuguhkan informasi atau informasi yang faktual dan faktual, tetapi dikemas dalam balutan soft news sehingga tampil lebih gres dan menarik sehingga sanggup menjangkau khalayak lebih luas. Inovasi semacam ini dibutuhkan untuk mematahkan stigma acara penyiaran informasi cara usang yang kaku dan membosankan. Dengan demikian acara informasi tetap sanggup bertahan di tengah persaingan antar sesama acara informasi maupun persaingan dengan acara hiburan yang semakin mendominasi.
Penulis dalam hal ini memfokuskan penelitian terhadap 8-11 Show, salah satu acara siaran di stasiun televisi Metro TV. Menyandang status sebagai stasiun televisi berita, lebih dari 70 % acara yang dihadirkan Metro TV di layar beling khalayak tentunya merupakan acara berita. Menarik bagi penulis mengamati bagaimana Metro TV menghadirkan konsep dan karakteristik yang khas bagi setiap programnya, meskipun hampir semua acara yang ada merupakan acara berita. 8-11 Show, merupakan salah satu terobosan Metro TV yang cukup gres dan menarik.
8-11 Show menghadirkan konsep acara informasi yang berbeda di tengah persaingan media televisi dikala ini. Meskipun bertempat di dalam studio, desain interior dan dekorasinya terkesan tidak formal. Studio di set terbagi atas beberapa ruangan tanpa sekat. Setiap serpihan ruangan memperlihatkan kesan hangat dan terbuka. Ruang tengah yang difungsikan sebagai daerah mewawancarai narasumber yang berkaitan dengan isu-isu terhangat. Panggung kecil sebagai persinggahan dan tampilnya grup band tertentu, dan dapur sebagai area masak-memasak aneka hidangan sehat dan lezat. Tiga anchor muda dan menarik, dengan penguasaan bahasa ajaib sengaja dihadirkan untuk memberikan informasi terkini kepada khalayaknya, memandu segmen tanya jawab, bahkan sampai masak-memasak. Tentunya merupakan pemandangan gres bagi khalayak menyaksikan news anchor dengan jas, kemeja, serta dasi yang normalnya hanya mewawancarai narasumber di ruang tengah studio, mengaduk-aduk gabungan bersama koki di dapur studio.
Penulis menilai penggabungan beberapa jenis acara ibarat musik dan masak menyatu dengan acara informasi umum serta ekonomi dan bisnis terkini merupakan hal gres di tengah persaingan industri media televisi di Indonesia dikala ini. Ditambah lagi dengan penataan studio yang mendukung serta pemilihan news anchor yang tidak hanya muda dan menarik, tetapi juga berkualitas. Tentunya esensi informasi atau informasi dalam acara ini tetap dominan. Dengan kata lain acara 8-11 Show ini tidak beralih fungsi menjadi acara hiburan hanya alasannya disisipkan jenis acara lain didalamnya. Sebaliknya, 8-11 Show malah bisa menarik perhatian khalayak dalam jumlah yang cukup banyak. Terbukti dari akun twitter @811show yang mempunyai lebih dari lima puluh ribu pengikut. Beberapa saran dan komentar yang dikirimkan melalui akun tersebut juga dibacakan atau bahkan ditanyakan eksklusif kepada narasumber dikala acara berlangsung. Hal ini memperlihatkan 8-11 Show bisa berinovasi dalam konsep acara, bersaing dengan beberapa stasiun televisi sekaligus media internet, namun tetap mempertahankan esensi berita. Hal inilah yang menciptakan penulis berpikir acara 8-11 Show layak untuk dikaji lebih jauh dalam sebuah penelitian.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dilema diatas, penulis menjadi tertarik untuk melaksanakan penelitian dengan merumuskan dilema sebagai berikut : 
Bagaimana Inovasi Penyiaran Program Berita Dilakukan Sebagai Strategi Dalam Menghadapi Persaingan Media Massa (Studi Kasus Pada Penyajian 8-11 Show di Metro TV).

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, penelitian bertujuan untuk mengetahui dan menggambarkan penemuan konsep yang dilakukan oleh produser dalam menyajikan bahan informasi 8-11 Show sebagai taktik supaya sanggup bertahan di tengah persaingan antar industri media.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian sanggup dilihat secara akademis dan secara praktis, yaitu : 
1. Akademis
Secara akademis, hasil penelitian ini diharapkan membuatkan kajian ilmu komunikasi untuk mengetahui taktik produser dalam menyajikan bahan informasi di media televisi. Serta sebagai bukti bahwa penelitian ini mempunyai signifikansi dalam hal teori dan metodologi sebagai fenomena komunikasi.
2. Praktis
Secara praktis, penelitian ini diharapkan sanggup memperlihatkan masukan kepada redaksi atau produser acara informasi dalam menyajikan bahan informasi kepada pemirsanya.

E. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah dalam penyusunan tawaran penelitian, penulis menciptakan kerangka sistematika penulisannya, sebagai berikut : 
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi uraian mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penelitian.
BAB II KAJIAN TEORITIS
Bab ini berisi uraian mengenai teori-teori dasar yang berafiliasi dengan penelitian yang dilakukan antara lain, Teori Komunikasi Massa, Fungsi Komunikasi Massa, Jurnalistik Media Televisi, Manajemen Media Massa, Inovasi, Penyiaran, Program, Penyajian Program, Materi berita, Nilai dan Kualitas Berita, dan teori lain yang relevan dengan perkara yang diteliti.
BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini berisi uraian mengenai metode jenis penelitian kualitatif, Key Informan dan Informan, metode pengumpulan data, metode analisis data, waktu dan lokasi penelitian.
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisi uraian mengenai hasil penelitian dan pembahasan objek penelitian yang diangkat yaitu mengenai Inovasi Penyiaran Program Berita 8-11 Show Sebagai Strategi Dalam Menghadapi Persaingan Media Massa
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini berisi uraian mengenai kesimpulan dari hasil penelitian dan saran dari penulis menurut apa yang telah diteliti oleh penulis.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN


Sumber http://gudangmakalah.blogspot.com

Skripsi Imbas Pelayanan Customer Service Terhadap Gambaran Perusahaan (Studi Pt Pln)

(KODE : ILMU-KOM-0081) : SKRIPSI PENGARUH PELAYANAN CUSTOMER SERVICE TERHADAP CITRA PERUSAHAAN (STUDI PT PLN)



BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Service memang bukan produk utama suatu perusahaan. Sebuah perusahaan perbankan misalnya, mempunyai produk utama funding (tabungan, deposito dan investasi lainnya) dan produk lending (kredit pemilikan rumah, kredit multi guna, kredit tanpa agunan, dsb). Tetapi pada ketika produk itu disampaikan kepada nasabah tidak akan sanggup memuaskan nasabah apabila tidak 'dibungkus' dengan service yang baik. Pada dasarnya semua orang ingin dan bahagia dihargai, sehingga ketika dalam satu pertemuan atau transaksi terjadi hal-hal yang berdasarkan pelanggan tidak sesuai dengan yang harus diterima, akan timbul ketidaknyamanan. Ketidaknyamanan ini apabila tidak diatasi dengan baik akan menjadikan keluhan yang ujung-ujungnya yakni kepergian pelanggan dan yang paling jelek yakni rusaknya gambaran perusahaan.
Persaingan, baik sesama industri maupun komplemennya juga merupakan faktor kunci yang menjadikan service semakin diperhitungkan. Anda menyajikan produk yang baik saja tetapi pesaing Anda menyajikan produk yang baik dan service yang baik, maka pelanggan akan pergi juga ke pesaing. Service dalam artian yang comprehensive bukan melulu berkaitan dengan perilaku sopan santun para Customer Service atau kenyamanan ruang tunggu pelanggan tetapi mencakup : People yaitu perilaku pelayanan dari orang-orang yang ada di seluruh perusahaan tersebut, Process yaitu system pelayanan termasuk fasilitas, ketepatan dan kecepatan melayani dan Physical yaitu fisik bangunan atau lokasi termasuk kenyamanan, keamanan dan kemudahan jalan masuk menuju lokasi. Ini gres mencakup ketika bertransaksi, belum termasuk layanan purna jual dan customer communication. Dengan demikian luasnya cakupan pelayanan maka mustahil ada perusahaan atau industri yang tidak perlu memperhatikan service.
Pelayanan publik harus memperoleh perhatian dan penanganan yang sungguh-sungguh lantaran merupakan kiprah dan fungsi yang menempel pada setiap Aparatur Pemerintah. Aparatur Pemerintah hendaknya selalu lebih mengutamakan kepentingan masyarakat, lebih mempercepat proses penyelesaian urusan masyarakat, memperlihatkan yang lebih berkualitas. Pada prinsipnya pelayanan harus diberikan oleh semua unsur yang terlibat. Semua harus mau dan bisa memperlihatkan pelayanan yang kualitasnya sama. Masing-masing harus saling mendukung, sehingga pelayanan yang diberikan dalam rangka memperlihatkan kepuasan kepada masyarakat sanggup optimal. Hanya saja dalam prakteknya pelayanan utama lebih banyak diberikan kepada petugas yang pribadi menangani atau yang berafiliasi pribadi dengan masyarakat, mirip Customer Service lantaran mereka inilah yang akan menjadi ujung tombak dalam memperlihatkan pelayanan. Untuk sanggup melaksanakan kiprah utama dimaksud dengan baik, Petugas Customer Service perlu dibekali dengan kemampuan dan keterampilan untuk melayani yaitu wacana dasar-dasar pelayanan semoga masyarakat yang dilayani semakin merasa puas. Pembekalan perlu diberikan mulai dari penampilan luar (fisik) kemudian ditambah pembekalan dari dalam pribadi insan itu sendiri.
Pelayanan Customer Service tidak terlepas dari proses komunikasi. Dengan berkomunikasi orang sanggup mengerti dirinya sendiri dan mengerti orang lain, juga sanggup memahami apa yang dibutuhkannya dan apa yang dibutuhkan orang lain. Manusia yang normal akan selalu terlibat komunikasi dalam melaksanakan interaksi dengan sesamanya sepanjang kehidupannya. Melalui komunikasi pula, segala aspek kehidupan insan di dunia tersentuh. Besarnya peranan komunikasi dalam kehidupan insan memancing timbulnya penelitian secara ilmiah untuk mengetahui jumlah waktu yang digunakan insan untuk berkomunikasi. Bentuk komunikasi yang begitu bersahabat di dalam interaksi sesama insan yakni bentuk komunikasi antar pribadi.
Komunikasi antar pribadi (KAP) yakni komunikasi seputar diri seorang, baik dalam fungsinya sebagai komunikator maupun komunikan (Effendy, 2003 : 57). Komunikasi antar pribadi sebagai salah satu bentuk komunikasi yakni salah satu cara yang digunakan dalam pelayanan oleh Customer Service PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN). Peranan Komunikasi Antarpribadi yang dimaksudkan yakni sanggup mengajak atau melayani para pelanggan dan juga menjawab segala keluh kesah mereka dengan cara yang baik, efektif dan menyenangkan. Para customer service sanggup memperlihatkan solusi yang terbaik bagi pelanggan dan umpan balik nyata dari pelanggan lantaran disambut hangat dan juga terbuka oleh petugas.
Keluhan muncul ketika pelanggan mendapatkan produk atau jasa tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan atau dibutuhkan. Tidak sesuai dalam artian di bawah standar, apakah itu dari segi kualitas barang/jasa, waktu, tempat, harga atau yang berkaitan dengan layanan petugas mirip keramahan dan sebagainya. Literatur service excellence dan pengalaman di lapangan mengajarkan bahwa komplain atau keluhan yang disampaikan pelanggan tidak untuk dihindari (John, 2003 : 24). Mengapa ? Karena keluhan yakni masukan yang berharga bagi perkembangan bisnis perusahaan dan apabila ditangani dengan prima sanggup meningkatkan loyalitas pelanggan. Keluhan pelanggan sanggup diibaratkan cermin yang menggambarkan "wajah" pelayanan kita kepada pelanggan.
Pada dasarnya penanganan keluhan pelanggan apalagi untuk komplain yang tidak rumit dan tidak memerlukan waktu panjang dan penemuan mahal untuk menanganinya, secara sederhana terdiri dari 4 hal utama yaitu mendengarkan, meminta maaf, pastikan penyebab permasalahan dan berikan jalan keluar (John, 2003 : 25). Setiap orang yang kecewa dan ingin mengungkapkan kekecewaannya, perlu didengarkan baik-baik. Pertama Anda sebagai pribadi atau wakil perusahaan menjadi tahu dengan terang problem yang terjadi. Kedua, pelanggan merasa dihargai ketika keluhannya didengarkan baik-baik apalagi dengan penuh empati. 
Ketiga, kadar emosi pelanggan yang komplain akan menurun ketika didengarkan dengan baik, balasannya pelanggan sanggup berpikir dengan damai dan menangkap klarifikasi yang Anda sampaikan. Sekalipun belum terang siapa yang salah, mintalah maaf terlebih dahulu, minimal untuk keadaan atau ketidaknyamanan yang terjadi. Permintaan maaf yang ikhlas merupakan senjata yang ampuh untuk cooling down emosi pelanggan dan merupakan modal penting untuk memasuki pembicaraan berikutnya (giletules.blogspot.com/search?q=definisi-customer-service-officer).
Seiring perjalanan waktu dan kemajuan teknologi yang semakin canggih, di samping kesadaran masyarakat sebagai pelanggan listrik semakin tinggi menuntut PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) untuk memperlihatkan pelayanan yang lebih baik dan cepat. Selama ini PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) Rayon X mengalami tiga hambatan dalam memperlihatkan pelayanan kepada para pelanggan yakni hambatan keterbatasan daya, keterbatasan dana investasi dan tingginya usul masyarakat terhadap listrik. Daya dan investasi, besar lengan berkuasa terhadap pelayanan permohonan masyarakat akan listrik. Kondisi mirip itu, menimbulkan PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) menangguhkan pelayanan sambung gres dan para pemohon sambung gres harus masuk dalam daftar tunggu. Kondisi ini juga oleh masyarakat dilihat tidak terang sejauh mana daftar tunggu yang ada lantaran terbatasnya jalan masuk gosip masyarakat untuk pemasangan baru. Di lapangan beredar informasi-informasi terkait sulitnya pemasangan gres listrik dan tingginya biaya pemasangan.
Semua keluhan para pelanggan tersebut sanggup diadukan melalui petugas pencatat pengaduan pelanggan atau sering disebut dengan istilah Customer Service. Hal ini penting dilakukan alasannya hal ini akan menghipnotis gambaran perusahaan di mata pelanggan. Jika mereka mendapatkan pelayanan yang baik ketika melaksanakan pengaduan, pihak PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) tentunya akan mempunyai gambaran yang nyata demikian pula sebaliknya. Penelitian ini nantinya akan dilakukan di PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) Rayon X dengan alasan tingkat pengaduan pelanggan cukup tinggi dikarenakan adanya agenda penambahan daya listrik gratis dari pihak PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero).
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk melaksanakan penelitian dengan judul "PENGARUH PELAYANAN CUSTOMER SERVICE TERHADAP CITRA PT. PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA (PERSERO)".

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka sanggup dikemukakan perumusan problem dalam penelitian ini yakni sebagai berikut : 
"Sejauh mana imbas Pelayanan Customer Service terhadap gambaran Perusahaan Listrik Negara (Persero) Rayon X ?"

C. Pembatasan Masalah
Untuk menghindari permasalahan yang terlalu luas sehingga sanggup mengaburkan penelitian, maka penulis membatasi problem yang akan diteliti. Adapun pembatasan problem tersebut yakni : 
a. Penelitian ini bersifat korelasional, yaitu bersifat mencari atau menjelaskan hubungan dan menguji hipotesis.
b. Penelitian ini menganalisis hubungan antara pelayanan Customer Service terhadap gambaran Perusahaan Listrik Negara (Persero) Rayon X.
c. Objek penelitian yakni para pelanggan di PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) Rayon X.
d. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2011.

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini yakni : 
a. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana komunikasi efektif yang diberikan oleh Customer Service kepada para pelanggan yang melaksanakan pengaduan.
b. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui problem apa saja yang menjadi permasalahan para pelanggan ketika mengadukan pengaduan kepada Customer Service.
c. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui imbas Pelayanan Customer Service terhadap gambaran Perusahaan Listrik Negara (Persero) Rayon X.
2. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dibutuhkan dari hasil penelitian ini yakni : 
a. Secara akademis, penelitian ini dibutuhkan sanggup memperkaya khasanah penelitian komunikasi dan sumber bacaan, khususnya penelitian wacana komunikasi efektif.
b. Secara teoritis, penelitian ini dibutuhkan sanggup memperluas cakrawala dan wawasan peneliti wacana customer service khususnya yang berkaitan dengan agenda perusahaan dan gambaran perusahaan.
c. Secara praktis, penelitian ini dibutuhkan sanggup memperlihatkan donasi terhadap PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) terutama yang berkaitan dengan pelayanan kepada pelanggan.


Sumber http://gudangmakalah.blogspot.com