Sabtu, 04 Februari 2017

Metode Penelitian Aturan Dan Penulisan Ilmiah

Metode Penelitian Hukum dan Penulisan Ilmiah -  Ilmu dalam Penelitian berfungsi menciptakan rumusan hukum-hukum perihal banyaknya insiden atau hubungan banyaknya kondisi. Dan kesannya dituangkan dalam goresan pena ilmiah.



ILMU PENGETAHUAN DAN PENELITIAN

Ilmu Pengetahuan

Ilmu lahir lantaran insan diberikan Tuhan sifat ingin tahu, rasa ingin tahu seseorang terhadap permasalah disekelilingnya, baik berupa fenomena alam atau fenomena sosial, semua itu menawarkan kecenderungan beranjak kepada rasa keingintahuan ilmiah.

Ilmu mencoba mencarikan klarifikasi dengan mempelajari fenomena sosial yang ada dan terbatas pada lingkup pengalaman yang kita miliki.

Pengetahuan dikumpulkan oleh ilmuwan dengan tujuan untuk menjawab permasalahan kehidupan yang sehari-hari dihadapai oleh manusia, dan digunakan untuk mewujudkan banyak sekali fasilitas kepadanya.

Pengetahuan ilmiah atau ilmu sanggup dikatakan sebagai alat bagi insan dalam memecahkan banyak sekali permasalahan yang dihadapinya, pemecahan permasalahan tersebut intinya yakni dengan meramalkan dan mengontrol gejala-gejala natural atau sosial.

Setiap jenis pengetahuan mempunyai ciri-ciri aspek baik mengenai apa, dan bagaimana, dan untuk apa pengetahuan tersebut disusun, supaya kita bisa meramalkan dan mengontrol sesuatu.

Maka dari itu kita harus mengetahui terlebih dahulu mengapa suatu permasalahan itu bisa terjadi, untuk sanggup meramalkan dan mengontrol sesuatu konsekuensinya kita harus menguasai pengetahuan yang menjelaskan insiden itu kenapa dan bagaimana bisa terjadi.

Dengan begitu pengetahuan ilmiah diarahkan kepada perjuangan untuk mendapat klarifikasi mengenai banyak sekali tanda-tanda natural (alamiah) atau tanda-tanda Sosial.

Pengetahuan ilmiah tidak sukar untuk diterima, lantaran intinya yakni budi sehat, meskipun ilmu bukanlah sembarang budi sehat, melainkan pikiran sehat yang terdidik.

Pengetahuan ilmiah tidak sukar untuk dipercaya, lantaran sanggup dipercaya meskipun semua permasalahan tidak sanggup dipecahkan secara keilmuan.

Maka dari itu kita masih memerlukan banyak sekali pengetahuan lain untuk memenuhi kehidupan kita, lantaran bagaimanapun majunya ilmu secara hakiki, namun masih terbatas dan tidak lengkap.

Ilmu meliputi lapangan pengetuan yang sangat luas, menjangkau semua aspek yang meliputi kemajuan kehidupan insan secara menyeluruh, termasuk didalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis (teratur berdasarkan system).

Lewat pengamatan dan percobaan yang terus menerus dilakukan penelitian sehingga menghasilkan inovasi kebenaran yang bersifat umum.

Ilmu bukan saja suatu himpunan pengetahuan yang sistematis saja, akan tetapi juga merupakan suatu metodologi, sehingga ilmu telah menawarkan metode dan system yang sangatlah berarti, tanpa ilmu pengetahuan semua tidak akan berarti dan serasa hampa, lantaran ilmu merupakan suatu kebutuhan.

Nilai ilmu tidak saja terletak dalam pengetahuan yang dikandungnya, sehingga seorang ilmuwan menjadi seorang yang ilmiah, akan tetapi penerapan prilaku baik dan ketrampilan, pandangan hidup maupun prilakunya harus diubahsuaikan pula.


Penelitian

Penelitian intinya merupakan suatu upaya pencarian dan bukan sekedar hanya mengamati den meneliti terhadap suatu obyek (Masalah) yang gampang terpengang, apabila suatu penilitian itu merupakan suatu perjuangan pencarian, kemudian apa yang dicari itu ?

Pada dasarnya sesuatu yang dicari dalam melaksanakan penelitian itu yakni untuk mengetahui/ pengetahuan, atau lebih tepatnya yakni untuk mengetahui “pengetahuan yang benar” dari suatu yang diliti tersebut, sehingga sanggup menemukan balasan dari sesutau yang diteliti.

Maka dari itu penelitian tentu tidaklah akan sanggup dilaksanakan kalau tidak digerakkan atau diawali dengan sebuah “ketidak tahuan”, rasa ketidak tahuan mengakibatkan seseorang jadi ingin tahu dan bertanya sehingga memerlukan jawaban.

Untuk sanggup menjawab suatu pertanyaan seseorang harus mempunyai pengetahuan perihal hal yang ditanyakan tersebut, apabila balasan dan pengetahuan itu belum didapat maka seseorang akan melaksanakan penelitian sehingga menghasilkan sebuah jawaban.

Ada banyak sekali upaya yang sanggup dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh pengetahuan, yaitu dengan bertanya kepada orang lain yang dianggap lebih tahu dan mempunyai pengetahuan yang dianggap lebih dan (memiliki otoritas), hak untuk bertindak dan melaksanakan tindakan, apabila dengan cara demikian tidak memperoleh jawaban.

Maka dari itu perlu dilakukan dengan cara melalui pikiran sehat atau mencoba-coba saja, akan tetapi cara ini tentu tidak melalui menalaran sehingga balasan atau pengetahuan yang diperoleh bukanlah merupakan pengehatuan ilmiah sehingga cara ini sanggup disebut “Metode Non Ilmiah”.

Berbeda dengan suatu penelitian secara ilmiah yang dilakukan oleh insan untuk menyalurkan hasrat ingin tahunya yang telah mencapai taraf ilmiah, yang disertai dengan suatu keyakinan bahwa setiap tanda-tanda akan ditelaah dan dicari hubungan lantaran akhir atau kecenderungan yang ditimbulkannya.


Ilmu Penelitian dan Kebenaran

Ilmu pengetahuan dan kebenaran yakni tiga hal yang sanggup dibedakan, tetapi kebenarannya tidak terpisahkan satu sama lainnya. Ilmu dan penelinitian mempunyai hubungan yang sangat erat hubungan antara ilmu dan penelitian itu menyerupai hasil dan proses.

Penelitian yakni proses, sedangkan kesannya yakni ilmu, akan tetapi ada juga ilmuwan yang berpandapat bahwa ilmu dan penelitian yakni sama-sama proses, sehingga dari proses penelitian tersebut menghasilkan kebanaran.

Ilmu memandang kebenaran sebagai tujuan yang mungkin sanggup dicapai, tapi tidak menutup kemungkinan dan tidak sepenuhnya tanggapan kita itu hingga walaupun kita bersikap subyektif.

Persepsi kita tidak pernah terlepas dari factor subyektivitas, setiap langkah kita dalam merumuskan pengetahuan yang benar selalu tidak lepas dari kekeliran atau kesalahan.

Dalam perjuangan untuk mencari dan merumuskan kebenaran ada baberapa cara yang perlu dilakukan yakni sebagai berikut :

1. Penemuan secara kebetulan

Penemuan ini datangnya tidak sanggup terduga atau diperhitungkan terlebih dahulu, keadaannya tidak niscaya dan tidak terlalu menawarkan citra kebenaran.


2. Trial end Error

Terdapat perjuangan aktif untuk mencoba dan selalu mencoba lagi, pada ketika melaksanakan percobaan/ Trial tidak ada kesadaran yang niscaya mengenai pemecahan yang akan dilakukan, yang bersifat untung-untungan.

Jika percobaan pertama gagal mungkin percobaan berikutnya akan berhasil setalah diadakan beberapa perbaikan yang dilakukan, cara serta metode ini dipandang teralu panjang dan rumit prosesnya dan sifatnya hanya meraba sehingga tidak ada kejelasan serta pengertian yang bener-bener jelas.


3. Otoritas / kewibawaan

Pendapat dari suatu forum atau tubuh atau orang-orang terkemuka yang dianggap berwibawa dijadikan pengangan, yang kebenarannya dianggap mutlak, bahkan pendapat itu sudah menjadi milik umum, contohnya : keyakinan terhadap seseorang yang telalu benar (manusia super) yang tidak pernah salah, akan tetapi hal itu tidak dibenarkan lantaran mustahil seseorang akan super dan selalu benar dan tidak ada salahnya.


4. Pemecahan secara Spekulasi

Pemecahan problem dilakukan dengan cara menentukan banyak sekali kemungkinan meskipun yang bersangkutan belum yakin bahwa cara yang dipilih itu paling tepat, jadi hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang begitu tidak masuk suatu pilihan itu dianggep baik atau benar, dengan demikian suatu spekulasi merupakan Arial end error atau sikap untung-untungan yang lebih teratur dan sistematis.


5. Dengan berfikir kritis atau berdasarkan pengalaman

Manusia mempunyai kemampuan berfikir, dengan cara menarik kesimpulan diaturlah jalan pikiran yaitu dengan goresan pena sebagai pendahuluan untuk memperoleh suatu kesimpulan (deduktif) ataupun berpangkal pada fakta-fakta yang diperoleh melalui pengalaman langsung, kemudian ditarik suatu kesimpulan umum (induktif) untuk mencapai pada kebenaran.

Sehingga hasil tergantung pada kemampuan berfikir dan jenis-jenis pengalaman, berdasarkan inilah bermulanya Metode Penelitian, lantaran insan mulai mencari jalan yang sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan-tujuannya.


6. Metode Penelitian Ilmiah.

Penelitian merupakan pengukuran hasrat ingin tahu insan dalam taraf keilmuwan, seseorang akan yakin bahwa ada lantaran bagi setiap akhir dari setiap tanda-tanda yang timbul sanggup dicari pernjelasannya secara ilmiah.

Penelitian bersikap obyktif lantaran kesimpulan yang diperoleh hanya akan ditarik apabila dilandasi dengan bukti-bukti yang meyakinkan dan dikumpulkan melalui mekanisme yang jelas, sistematis dan terkontrol.


Tipologi Penelitian

Tipe-tipe penelitian yakni sebagai berikut :

1. Penelitian Dasar (Basic Rescarch nure Re Search)

Penelitian dasar atau penelitian murni merupakan penelitian terhadap sesuatu lantaran ada perhatian dan keingintahuan terhadap hasil suatu aktivitas, penelitian ini dilakukan dengan intelektual reassuring (pertimbangan berdasarkan berdasarkan akal/kepandaian) yang didasarkan atas harapan untuk mengetahui, semata-mata dan tidak pribadi mempunyai kegunaan praktis.

Hasil dari penelitian ini berupa pengetahuan umum dan pengertian-pengertian perihal alam beserta Hukum-hukumnya, contohnya : penelitian ruang angkasa, penelitian Gen dan sebagainya.


2. Penelitian Penerapan

Penelitian ini mepergunakan Practicel reassuring (pertimbangan yang praktis/ pertimbangan yang nyata) untuk menjawab problem yang timbul suatu ketika, supaya sanggup melaksanakan sesuatu dengan lebih baik dan tepat.

Penelitian ini dlakukan dengan lebih hati-hati dan sistematis dan terus menerus, hasil penelitian ini tidak perlu sebagai suatu menemuan gres akan tetapi merupakan aplikasi (penerapan, penggunaan, tambahan) gres dari penelitian terdahulu, contohnya : penelitian perihal biaya hidup masyarakat dengan tujuan untuk menentukan besarnya upah atau gaji.


3. Penelitian Ilmu Sosial dan Ilmu Natural

Ilmu sosial sepertihalnya ilmu natural yaitu merupakan suatu ilmu pengetahuan yang bersifat umum, sistematis yang menyimpulkan dalil-dalil tertentu dalam hubugan insan yang bersifat umum.

Penelitian sosial merupakan suatu proses yang terus menerus, kritis untuk mengadakan analisis dan menawarkan penafsiran terhadap kenyataan sosal yang ada yang mempunyai hubungan pribadi berkaitan.

Peneltiian ilmu sosial berpijak kepada metode ilmiah dan meiliki cirri-ciri khas sendiri, yang menciptakan peneliti harus mempunyai ketrampilan yang luas juga di dukung oleh rancangan dan garis besar yang dipergunakan untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya, dan juga harus didukung oleh teori yang tidak berbeda dengan penelitian ilmu-ilmu Natural, hal ini disebabkan lantaran sangat sulit dan rumitnya antara kenyataan yang ada dengan keadaan yang ada lainnya dalam ilmu sosial itu sendiri.


4. Penelitian Historis

Penelitian historis pada umumnya bertujuan untuk mengembalika keadaan menyerupai semula, acara sistemtis dan obyektif dari insiden atau insiden dimasa lalu, dengan cara mengumpulkan, menilai mengusut kebenarannya dari laporan-laporan yang ada serta memadukan semua pengertian dari data-data sehingga merupakan suatu kesatuan yang selaras untuk menegakkan/ memastikan fakta dengan kesimpulan yang kuat, dalam penelitian ini didasarkan pada data yang telah terjadi atau telah ada.

Banyak hal yang telah terjadi sebelum seseorang melaksanakan penelitian atau meneliti, dalam keadaan yang demikian peneliti sangat bergantung pada peninjauan serta pengamatan yang telah dilakukan oleh orang sebelumnya, serta berkhasiat pula catatan pribadi, surat menyurat, dokumen tertulis, hasil perundingan, prasasti, relip, patung atau arca serta dokumen peninggalan lainnya, bahkan juga hasil menyampaikan orang tertentu yang ada keitannya dengan suatu insiden tertentu, dalam penelitian ini data tersimpan di alam.


5. Penelitian diskripsi

Penelitian ini pada umumnya bertujuan untuk menguraikan secara terang dan terperinci atau mendetail secara sistematis mengadung kebenaran berdasarkan kenyataan yang bahwasanya dan teliti terhadap semua obyek penelitian kawasan tertentu mengenai sifat cirri khusus atau factor tertentu.


6. Penelitian Perkembangan

Penelitian ini pada umumnya bertujuan untuk mengetahui pola atau bentuk atau urutan perkembangan atau perubahan sebagai fungsi dari waktu, atau sanggup juga merupakan penelitian untuk menyebarkan suatu pengetahuan yang sudah ada.


7. Penelitian Khusus

Penelitian ini pada umumnya bertujuan untuk mempelajari secara mendalam terhadap suatu individu, kelompok, instansi (lembaga) atau masyarakat tertentu perihal latar belakang keadaan atau kondisi, factor-faktor atau interaksi sosial yang terjadi didalamnya.


8. Penelitian korelasional (hubungan timbale balik/sebab akibat)

Penelitian ini pada umumnya bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan dari suatu fenomena (kenyataan) yang ada, dan kalau ada berapa besar derajat hubungannya antara beberapa variable (konsep yang mempunyai variasi nilai) yang diteliti walaupun tidak diketahui apakah hubungan tersebut hubungan lantaran akhir ataupun bukan.


9. Penelitian Klausul Hosparatis

Penelitian ini pada umumnya bertujuan untuk mengetahui kemungkinan adanya hubungan lantaran akhir dengan cara berdasarkan atas pengamatan atas akhir yang ada, kemudian mencari kembali factor yang di duga menjadi penyebabnya, melalui pengumpulan data dengan melaksanakan perbandingan dengan data-data yang sudah terkumpul dan diteliti.


10. Penelitian eksperimental (percobaan)

Penelitian ini intinya bertujuan untuk mengetahui kemungkinan adanya adanya hubungan lantaran akhir dengan cara menawarkan satu atau lebih perlakuan kepada kelompok percobaan dan membandingkannya, dengan satu atau lebih kelompok control yang tidak diberikan perlakuan tindakan. Penelitian ini juga bertujuan menjelaskan sebab-sebab berlangsungnya suatu proses, akibat, dan efek-efek dari suatu kondisi tertentu.


11. Penelitian Tindakan

Penelitian ini bertujuan untuk menyebarkan pendekatan atau ketrampilan gres untuk memecahkan suatu permasalahan atau kesulitan dibidang tertentu dengan penerapan pribadi dalam praktek.


12. Penelitian Observasional

Penelitian ini bertujuan untuk mengamati dan mendiskripsikan menguraikan secara terang dan terperinci atas gejala-gejala yang terjadi dalam kenyataan yang ada (Fenomena) dan natural (alamiah) orisinil maupun social, yang terjadi dalam tingkatan waktu tertentu dan tidak sanggup di kendalikan oleh peneliti, contohnya : perubahan sikap masyarakat, kriminalitas dan sebagainya.


13. Penelitian Primer (yang pertama)

Dalam penelitian ini data di kumpulkan sendiri oleh peneliti, oleh lantaran itu semua keterangan untuk pertama kalinya dicatat sendiri oleh peneliti, hal ini dilakukan pada permulaan sebelum ada data.


14. Penelitian Sekunder (yang kedua)

Dalam penelitian ini data yang digunakan oleh peneliti yakni data yang dikumpulkan oleh orang lain, pada waktu penelitian dimulai data sudah tersedia, data primer lebih bersahabat dengan situasi yang bahwasanya dari pada data sekunder, disamping itu data sekunder sudah begitu adanya, lantaran tidak diketahui metode pengambilannya atau validitas (keabsahannya).


15. Penelitian Diskriptif (bersifat membuktikan apa adanya)

Dalam penelitian ini analisis penelaahan data tidak keluar dari lingkup sampel (contoh) dan bersifat deduktif, kesimpulan dari keadaan yang mungkin keadaan yang khusus berdasarkan teori atau konsep yang bersifat umum di aplikasikan (diterapkan) digunakan dijadikan pemanis untuk menjelaskan perihal seperangkat data dengan seperangkat data lainnya.


16. Penelitian Analitis

Dalam penelitian ini analisis data mengarah atau menuju ke populasi (obyek) penelitian dan bersifat interensial, sanggup disimpulkan berdasarkan data.


METODE DAN TEKNIK PENULISAN ILMIAH

Agar sanggup menyusun suatu goresan pena ilmiah perlu adanya survey atau penyelidikan sebagai cara pemecahan yang digunakan dalam ilmu pengetahuan untuk menemukan dan yang lebih banyak menawarkan kepastian akan kebenaran hasilnya.

Didalam survey, informasi dikumpulkan dari responden (orang yang menjawab pertanyaan dalam kepentingan penelitian) dengan memakai kuisioner. Tujuan survey sanggup merupakan pengumpulan data, sanggup pula lebih jauh dari itu bersifat menerangkan atau menjelaskan.

Penyelidikan atau survey yakni penyaluran hasrat rasa penasaran insan dalam taraf keilmuan, penyaluran terserbut hingga dengan taraf setinggi itu disertai oleh keyakinan, bahwa ada lantaran bagi taraf akhir dan setiap tanda-tanda yang Nampak sanggup dicari penjelasannya secara ilmiah.

Sejalan dengan sikap itu, maka metode penyelidikan atau survey hanya akan menarik dan membenarkan suatu kesimpulan apabila dikuatkan dengan bukti-bukti yang meyakinkan bukti-bukti tersebut dikumpulkan melalui mekanisme yang sistematik, terang dan terkontrol.

Penelitian ilmiah yakni suatu bentuk penelitian dan cara berfikir yang amat sistematis. Didalam survey informasi dikumpulkan dan diteliti melalui penelitiannya.

Yang pertama yakni apabila peneliti mulai dari teori dan bertujuan untuk menguji teori yang sudah ada dan biasanya sudah dirumuskan oleh orang lain. Penelitian menyerupai ini disebut juga dengan penelitian Verifikatif (Pemeriksaan perihal kebenaran) atau penelitian Uji Hipotesa (Anggapan dasar).

Tipe penelitian yang yakni apabila beranjak dari observasi (pengamatan) atas data yang dimilikinya, dan dari situ beranjak menuju ketingkat yang lebih abnormal (tidak berwujud) serta berusaha merumuskan konse, proposisi (dalil, usul, soal) dan teori baru.

Kedua tipe penelitian diatas sama-sama keuntungannya untuk pegangan ilmu pengetahuan, sehingga para peneliti sebaiknya mencoba kedua tipe tersebut.

Unsure-unsur penelitian ilmiah yang menjadi dasar penelitian ilmiah yakni : Konsep, Proposisi, teori, Variabel (suatu yang sanggup berubah-ubah), hipotesa serta devinisi operasional.


Konsep

Konsep Penelitian yakni :

1. Unsure penelitian yang terpenting dan merupakan devinisi yang digunakan oleh para peneliti untuk menggambarkan secara ringkas suatu kenyataan yang ada.


2. Generalisasi yaitu kesimpulan umum dari suatu kejadian.

Kosep tersebut diatas dalam penelitian perlu didefinisikan dengan jelas, sehingga penelitian tersebut sanggup dipahami oleh masyarakat akademis yang lebih luas.


Proporsisi (dalil, usul, soal)

Proposisi yakni pernyataan perihal realita atau kenyataan yang tepat diuji kebenarannya.


Teori

Teori yakni merupakan informasi ilmiah yang diperoleh dengan meningkatkan intisari dari pengertian-pengertian maupun hubungan-hubungan pada Proposisi. Teori yang lebih kompleks (mengandung beberapa unsure) biasanya merupakan adonan yang logis dari beberapa proposisi.


Variabel

Variable yaitu suatu konsep yang mempunyai variasi nilai, contoh :

Berat badan, tinggi tubuh yakni variable lantaran mempunyai nilai yang berbeda.


Hipotesa

Hipotesa yakni suatu kesimpulan sementara perihal hubungan antara variable atau lebih, hipotesa yang baik yakni hipotesa yang harus memenuhi dua criteria sebagai berikut :

1. Hipotesa harus menggambarkan hubungan antara variable-variabel.

2. Hipotesa harus menawarkan petunjuk bagaimana pengujian hubungan tersebut.

Dari hal tersebut diatas bahwa variable-variabel yang dicantumkan dalam hipotesa harus sanggup diukur dan benar, serta mempunyai arah hubungan antara variable-variabel tersebut juga harus jelas.

Hipotesa yakni proposisi yang dirumuskan untuk pengujian, artinya pengujian berdasarkan pengalaman danpengetahuan. Dalil juga merupakan proposisi yang jangkauannya lebih luas dan telah mendapat banyak pemberian empiris.


Definisi Operasional

Salah satu unsure yang sangat membantu komunikasi antara peneliti yang merupakan petunjuk perihal bagaimana suatu variable diukur, dengan membaca definisi operasional dalam suatu penelitian sehingga seorang peneliti akan mengetahui pengukuran suatu variable sehingga ia juga sanggup mengetahui baik dan buruknya hasil pengukuran tersebut.


Pengumpulan Data

- Pengumpulan Sampel

Pengumpulan sampel yakni suatu yang dijadikan/ digunakan contoh :

Dalam suatu survey tidak selalu perlu untuk meneliti semuai ndividu dalam populasi (obyek yang dijadikan materi penelitian) lantaran disamping memperlukan biasa yang besar juga membutuhkan waktu yang lama, dengan mempunyai sebagian dari populasi, kita mengharapkan hasil yang didapat akan sanggup menggambarkan sifat populasi yang bersangkutan.

Maka dari itu untuk sanggup mencapai tujuan tersebut maka cara-cara pengumpulan sampel harus mempunyai syarat-syarat tertentu. Sebuah sampel harus dipilih sedemikian rupa, sehingga mempunyai kesempatan dan peluang yang sama, disamping itu pengambilan sampel yang secara acak (random) harus memakai metode yang tepat sesuai dengan cirri-ciri popuasi dan tujuan penelitian.

Suatu metode pengambilan sampel yang ideal mempunyai sifat-sifat menyerupai berikut :

1. Dapt menghasilkan citra yang sanggup dipercaya dari seluruh populasi (obyek penelitian)

2. Dapat meningkatkan presisi (tingkatan ketepatan) dari hasil penelitian dengan menentukan penyimpangan baku dari taksiran yang diperoleh.

3. Sederhana, sehingga gampang dilaksanakan.

4. Dapat menawarkan keterangan sebanyak mungkin dengan biaya serendah-rendahnya.

Dalam menentukan pengambilan sampel digunakan dalam suatu penelitian, peneliti harus memperhatikan hubungan antara biaya, tenaga, dan waktu disatu pihak serta besarnya presisi (tingkat ketepatan) dilain pihak.

Apabila jumlah biaya, tenaga dan waktu sudah dibatasi semenjak semula, maka peneliti harus berusaha mendapat suatu metode mengambilan sampel yang sanggup menghasilkan presisi yang tinggi.

Perlu didasari bahwa tingkat presisi yang tinggi mustahil dicapai dengan biaya, tenaga, dan waktu yang terbatas. Yang mungkin sanggup dicapai ialah tingkat presisi tertentu dengan biaya, tenaga dan waktu yang terbatas.

Kita perlu memperhatikan efektifitas (ketepatan cara) dalam menentukan metode pengambilan sampel, sering timbul pertanyaan berapa besarnya sampel yang harus diambil untuk mendapat data yang representative (yang sanggup mewakili)

Ada empat factor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan besarnya sampel dalam suatu penelitian, sebagai berikut :

1. Derajat Keseragaman dari Populasi

Makin seragam populasi itu, makan akan makin kecil sampel yang sanggup diambil. Apabila populasi itu seragam sempurna, maka satu-satuan elementer (unsure-unsur) dari seluruh populasi itu sudah cukup representative (mewakili) untuk diteliti.

Sebaliknya apabila populasi itu amat tidak seragam, maka hanya pencacahan lengkaplah maksudnya kesimpulan dari acuannya itu yang sanggup menawarkan citra yang representative.


2. Presisi (tingkat ketepatan) yang dikehendaki dari penelitian.

Makin tinggi presisi yang dikehendaki, maka makin besar pula sampel yang harus diambil. Makara sampel yang besar cenderung menawarkan asumsi yang lebih mendekati nilai yang sesuguhnya. Semakin besar sampel yang diambil, maka semakin kecil pula pengelolaan/ penyimpangan terhadap nilai populasi.


3. Rencana Analisa

Adakalanya besarnya sampel sudah mencukupi sesuai dengan presisi (tingkat ketepatan) yang dikehendaki, akan tetapi kalau dikaitkan dengan kebutuhan analisa atau penyelidikan suatu peristiwa, kejadian, untuk mengetahui keadaan yang bahwasanya maka jumlah sampel tersebut kurang mencukupi.


4. Tenaga, Biaya, dan waktu.

Apabila ingin mendaptkan presisi yang tinggi, maka sampel harus besar, akan tetapi apabila tenaga, biaya dan waktu terbatas, maka jelaslah mustahil untuk mengambil sampel dalam jumlah besar, dan ini berarti presisinya akan menurun.

Walaupun besarnya sampel yang harus diambil dalam suatu penelitian didasarkan atas keempat pertimbangan tersebut diatas, tetapi supaya sanggup menghemat tenaga, biaya dan waktu, maka seorang peneliti harus sanggup memperkirakan besarnya sampel yang akan diambil, sehingga presisi (tingkat ketepatan) dianggap cukup untuk menjamin tingkat kebenaran dari hasil penelitian.

Makara penelitilah yang harus menentukan tingkat presisi (tingkat ketepatan) yang dikehendaki yang selanjutnya berdasarkan presisi tersebut sanggup menentukan besarnya jumlah sampel.


PEMBUATAN KUISIONER

Pada penelitian, survey penggunaan kuisioner merupakan hal pokok guna untuk penggumpulan data. Tujuan pokok pembuatan kuisioner yakni sebagai berikut :

1. Untuk memperoleh informasi yang relevan (yang berkaitan atau bekerjasama atau berkhasiat secara langsung) dengan tujuan penelitian, survey.

2. Untuk memperoleh informasi dengan reliabilitas (yang sanggup dipertanggung jawabkan) dan validitas (keabsahannya) setinggi mungkin.

Mengingat terbatasnya problem yang sanggup ditanyakan dalam kuisioner, senantiasa perlu diingat supaya pertanyaan-pertanyaan memang pribadi berkaitan dengan hipotesa (kesimpulan sementara) dan teladan penelitian tersebut.

Dalam variable-variabel atau konsep-konsep yang mempunyai variasi nilai sudah jelas, maka pertanyaan itupun menjadi jelas, hal ini tentunya berkaitan dengan kemampuan teknis pembuatan kuisioner walaupun titik tolaknya variable-variabel yang terang dan relevan.

Sebaliknya jikalau variable-variabel masih kabur dalam pikiran peneliti maka pertanyaanpun akan menjadi kabur dan mungkin sekali dimasukkan dalam pertanyaan yang tidak relevan, sehingga akan mengakibatkan problem pada analisa data dan penulisan hasil penelitian.

Sebelum menciptakan kuisioner ada baiknya dipelajari dulu kuisioner yang sudah ada terlebih dahulu, yang relevan dengan topic penelitian yang akan dilakukan, akan tetapi contoh kuisioner tersebut bukan untuk ditiru.

Jika keadaan memungkinkan sebaiknya didiskusikan dengan peneliti yang menggunakannya, lantaran yang bersangkutan sanggup memberitahukan kelemahan dari pertanyaan tertentu didalam kuisioner tersebut, sehingga sanggup menawarkan saran pertanyaan mana yang diperbaiki dan atau dihilangkan.


Isi Pertanyaan

1. Pertanyaan perihal fakta.

Contoh : umur, pendidikan, agama, status perkawinan dan sebagainya tergantung obyek penelitiannya.


2. Pertanyaan perihal pendapat dan sikap.

Yaitu menyangkut perasaan dan sikap responden perihal sesuatu.


3. Pertanyaan perihal informasi.

Yaitu menyangkut apa yang dikatahui oleh responden dan sejumlah hal tersebut diketahuinya.


4. Pertanyaan perihal persepsi (anggapan pribadi atas sesuatu)

Dalam hal ini responden menilai perihal prilakunya sendiri dalam hubungannya dengan yang lain.

Isi Pertanyaan untuk angket sama dengan untuk kuisioner.


Beberapa Cara Pemakaian Kuisioner diantaranya :

1. Kuisioner digunakan dalam wawancara tatap muka dengan responden, cara ini yang lazim dilakukan kita lakukan.

2. Kuisioner diisi sendiri oleh kelompok, contoh : satu kelas murid dalam kelas dijadikan responden dan mereka mengisi Kuisioner secara serentak dan wujudnya beberapa jawaban.

3. Wawancara melalui telepon, proses ini lebih dikenal dari pada wawancara tatap muka dan ada kalanya orang tidak sedia didatangi akan tetapi bersedia lewat telpon.

4. Kuisioner diposkan, cara ini sanggup dilakukan untuk Kuisioner yang pendek dan gampang dijawab, akan tidak cukup besar proporsi (bagian) yang tidak dikembalikan oleh resppnden.


Petunjuk Membuat Pertanyaan

1. Gunakan kata-kata yang senderhana dan gampang dipahami oleh semua responden. Hidari istilah yang ahli tetapi responden kurang atau tidak mengerti.

2. Usahakan upaya pertanyaan yang terang dan khusus.


Pada waktu interview dalam mengajukan pertanyaan harus diusahakan :

1. Pertanyaan dalam kalimat pendek dean tegas, apabila sampel atau responden belum jelas, sanggup diberi keterangan.

2. Rumusan pertanyaan harus diusahakan jangan hingga mendapat balasan tertentu saja.

3. Hindari pertanyaan-pertanyaan yang menempatkan sampel atau responden pada situasi mempertahan diri, sinis atau yang erat kaitannya dengan gengsi kehidupan yang sangat bersifat pribadi. Mulailah dengan pertanyaan yang menyenangkan dan yang tidak bersifat pribadi, kemudian gres diajukan pertanyaan yang lebih pelik.

4. Setelah mendapat balasan segera mungkin untuk dicatat.

5. Setelah pertanyaan disampaikan, harus member kesempatan kepada responden untuk menjawab sendiri dan jangan berusaha mempengaruhi.


Angkat

Pada beberapa petunjuk yang didapat dari responden sebagai pemikiran dalam pembuatan angket yaitu :

1. Rumuskan setiap pertanyaan dengan sejelas-jelasnya dan singkat, serta susunan kalimat harus diperhatikan, hindari kata yang tidak perlu dan menyederhanakan kata-kata yang sukar atau dianggap remeh, semua itu menghindari nadanya salah tafsir.

2. Pertanyaan yang diajukan oleh responden hanya yang memang sanggup dijawab oleh sampel, apabila responden (sampel) tidak sanggup menjawab berarti ada suatu kesalahan yang mungkin terletak dalam pemilihan sampel atau dalam pertanyaan-pertanyaan itu sendiri.

3. Sifat pertanyaan harus netral dan obyektif, tidak perlu mengajukan pertanyaan yang sifatnya memancing balasan tertentu, hindari pertanyaan yang mengakibatkan emosi, aib oleh pihak responden lantaran hal itu akan menggurangi kejujuran dalam nejawab kecuali kalau memang peneliti punya maksut untuk menciptakan demikian.

4. Mengajukan pertanyaan yang jawabannya tidak sanggup diperoleh dari sumber lain, contohnya : kalau dianggap ada responden, maka tidak perlu ada balasan dari instansi lain.

5. Keseluruhan pertanyaan dalam sebuah angket harus bisa mengumpulkan kebulatan balasan untuk problem yang khusus kita (peneliti) hadapi.


Isi Pertanyaan Angkat

1. Pertanyaan perihal fakta contohnya : umur, pendidikan, agama, status perkawinan, dan sebagainya.

2. Pertanyaan perihal pendapatan dan sikap, isi menyangkut perasaan dan sikap responden terhadap sesuatu.

3. Pertanyaan perihal informasi, pertanyaan ini menyangkut perihal apa yang diketahui oleh responden dan sejauh mana hal tersebut diketahui.

4. Pertanyaan perihal persepsi diri responden menilai sendiri dalam hubungannya dengan yang lain.


Berikut ini contoh cara menciptakan penulisan Ilmiah :

PEDOMAN PENYUSUNAN SKRIPSI
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS INDONESIA

I. Pendahuluan

Skripsi yakni karya tulis ilmiah yang disusun oleh mahasiswa berdasarkan hasil penelitian dan atau kepustakaan yang dilakukan secara sanggup bangun diatas kaki sendiri untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Hukum (S,H), serta berisi sumbangan pemikiran bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan praktek Hukum yang dilakukan oleh mahasiswa.

Berdasarkan pemahaman tersebut, maka Skripsi harus disusun berdasarkan ketentuan-ketentuan penulisan ilmiah dan disusun berdasarkan format penyusunan Skripsi tertentu.

Maksud dari urain diatas maka di susun suatu pemikiran guna sebagai petunjuk dan aba-aba dalam penyusunan skripsi yang harus ditaati oleh setiap mahasiswa, dalam penulisan skripsi sebagai kegiatan akademik terakhir pada acara strata I Ilmu Hukum.

Pedoman penyusunan skripsi ini berisikan tujuan dan kerangka penyusunan skripsi.


II. Tujuan

Tujuan penyusunan skripsi (karya ilmiah) ini bertujuan untuk menawarkan :

1. Pedoman mahasiswa dalam menyusun karya ilmiah hasil penelitiannya.

2. Pedoman pada pembimbing skripsi dalam proses pembimbingan penyusunan skripsi.


III. Kerangka Penyusunan Skripsi

A. Bagian Awal Skripsi

1. Sampul Depan

Pada sampul depan dituliskan berturut-turut Judul skripsi, Skripsi, lambing Universitas, kata oleh, nama mahasiswa, (diberi garis bawah), NPM, kata-kata Fakultas Hukum Universitas Yos Soedarso Surabaya, tahun pengujian Skripsi (terlampir)


2. Halaman Sampul Depan

Halaman ini sama dengan sampul depan, tetapi ditulis diatas kertas putih HVS atau A4.

3. Halaman Setelah Halaman Sampul Depan.

Halaman ini memuat berturut-turut : judul skripsi, kata skripsi, kata-kata diajukan untuk melengkapi kiprah dan gelar Sarjana Hukum, kata oleh, nama mahasiswa (diberi garis bawah), NPM dan dihalaman potongan bawah ditulis Fakultas Hukum Univeritas Yos Soedarso Surabaya, tahun pengujian skripsi, (terlampir)

4. Halaman Persetujuan Skripsi.
5. Halaman legalisasi Skripsi.
6. Halaman Motto.
7. Halaman Kata Pengantar.
8. Halaman Daftar Isi.
9. Halaman Daftar Tabel.
10. Halaman Daftar Grafik/ Diagram.
11. Halaman Gambar.
12. Halaman Daftar Lampiran.


B. Bagian Inti (isi) Skripsi.

Bagian ini memuat hal-hal sebagai Berikut :

Bab I : Pendahuluan

1. Permasalahan, latar belakang dan perumusannya.

Sub potongan latar belakang berisi pokok-pokok uraian perihal hal-hal yang merupakan problem Hukum yang patut diteliti disertai alasan mengapa problem yang dipilih itu merupakan sesuatu yang penting untuk diteliti (masalah yang dipilih harus merupakan problem yang berkaitan dengan bidang Hukum, menyerupai problem Hukum yang dihadapi oleh masyarakat atau problem yang menyangkut dengan perundang-undangan atau suatu perbandingan).

Perumusan problem yakni rumusan kongkrit dari problem yang dikemukakan dalam latar belakang problem dan dan sanggup dianalisa.


2. Penjelasan judul.

Arti kata dalam judul skripsi, supaya tidak mengakibatkan penafsiran yang berbeda terhadap pengertian judul skripsi tersebut.


3. Alasan pemilihan judul.

Paparan secara lengkap dan terang perihal pengumpulan materi Hukum dan langkah kajiannya serta keuntungannya bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan penerapan Hukum di masyarakat.


4. Tujuan penelitian.

Sub potongan ini harus memuat secara terang tujuan atau kegunaan mudah yang hendak dicapai dari penulisan skripsi tersebut bagi pemecahan problem hokum.


5. Metode penelitian.

Yaitu memuat hal-hal yang berkaitan dengan tipe penilitian, penelitian normative, pendekatan masalah, sumber data, mekanisme pengumbulan dan pengolahan data, serta analisis data.


6. Pertanggungjawaban sistematika.

Berisikan perihal alasan penyusunan sistematika menyerupai yang tercantum dalam daftar isi.


Bab II : Judul Bab dan Uraian

Bab ini merupakan analisis yang mendalam perihal rumusan problem yang dijadikan titik tolak pembahasan dari yang disimpulkan dalam judul skripsi.

Bab III : Judul Bab dan Uraian ( Jumlah Bab II, III dan seterusnya diubahsuaikan dengan jumlah masalah)


Bab : Penutup

1. Kesimpulan

2. Saran

Dalam potongan ini berisikan uraian perihal kesimpulan yang diperoleh dari analisis yang dikumpulkan dalam potongan pembahasan. Sedapat mungkin kesimpulan disusun sesuai dengan rumusan permasalahan, berdasarkan kesimpulan tersebut disusun beberapa saran sebagai masukan untuk menyebarkan bidang ilmu hokum dan penerapan hokum dalam masyarakat.

Akhir kata, semoga bermanfaat dan jangan lupa untuk di share ya. Terimakasih

Sumber http://sumbermaterikuliah.blogspot.com


EmoticonEmoticon

:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:o
:>)
(o)
:p
:-?
(p)
:-s
8-)
:-t
:-b
b-(
(y)
x-)
(h)