Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Januari 2018

Definisi Kesepakatan Organisasi

Kata komitmen berasal dari kata latin yang berarti “to connect”.
Merriam Webster dalam (Zangaro, 2001), menyimpulkan definisi komitmen adalah sebuah sikap yang menjanjikan untuk memenuhi kewajiban kepada seseorang atau sesuatu di masa yang akan datang, sehingga berdasarkan Porter, dkk individu yang mempunyai komitmen kepada sebuah organisasi seharusnya mendedikasikan dan mempunyai iman yang besar lengan berkuasa dalam tujuan dan nilai – nilai organisasi tersebut.

Robbins (2001) mendefinisikan komitmen terhadap organisasi sebagai suatu orientasi terhadap organisasi yang meliputi loyalitas, identifikasi, dan keterlibatan.

Porter mendefinisikan komitmen organisasi sebagai kekuatan yang bersifat relatif dari karyawan dalam mengidentifikasikan keterlibatan dirinya ke dalam organisasi (Arifin, 2010).

Menurut Greenberg dan Baron dalam (Taurisa, 2012), karyawan yang mempunyai komitmen organisasi yang tinggi ialah karyawan yang lebih stabil dan lebih produktif sehingga pada jadinya juga akan lebih menguntungkan bagi organisasi.

Berdasarkan uraian diatas, sanggup disimpulkan bahwa komitmen organisasi ialah suatu rasa keterlibatan diri individu pada organisasi serta perasaan sebagai anggota sejati dari suatu organisasi, sehingga menjadikan harapan individu untuk bertahan pada organisasi tersebut.

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Komitmen Organisasi
Komitmen di dalam suatu organisasi sanggup dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pendekatan multidimensional akan lebih menjelaskan hubungan pekerja dengan organisasi yang mempekerjakannya (Cetin, 2006). Van Dyne dan Graham dalam (Coetzee, 2005) menyebutkan beberapa faktor yang mensugesti komitmen organisasi seseorang berdasarkan pendekatan multidimensional, yaitu:

1. Faktor Personal
Ada beberapa faktor personal yang mensugesti latar belakang pekerja, antara lain usia, latar belakang pekerja, sikap dan nilai serta kebutuhan intrinsik pekerja. Ada banyak penelitian yang memperlihatkan bahwa beberapa tipe pekerja mempunyai komitmen yang lebih tinggi pada organisasi yang mempekerjakannya. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, pekerja yang lebih 13 teliti, ekstrovet, dan mempunyai pandangan konkret terhadap hidupnya (optimis) cenderung lebih berkomitmen. Selain itu, pekerja yang berorientasi kepada kelompok, mempunyai tujuan serta memperlihatkan kepedulian terhadap kelompok, juga merupakan tipe pekerja yang lebih terikat kepada keanggotaannya. Sama halnya dengan pekerja yang berempati, mau menolong sesama (altruistic) juga lebih cenderung memperlihatkan sikap sebagai anggota kelompok pada pekerjaannya.

2. Faktor Situasional
a. Nilai-nilai di Tempat Kerja
Pembagian nilai merupakan komponen yang penting dalam setiap kekerabatan atau perjanjian. Nilai yang tidak terlalu kontroversial (kualitas, inovasi, kerjasama, partisipasi) akan lebih gampang dibagi dan akan membangun kekerabatan yang lebih dekat. Jika pekerja percaya pada nilai kualitas produk organisasi, mereka akan terikat pada sikap yang berperan dalam meningkatkan kualitas. Jika pekerja yakin pada nilai partisipasi organisasi, mereka akan lebih mencicipi bahwa partisipasi mereka akan menciptakan suatu perbedaan. Konsekuensinya, mereka akan lebih bersedia untuk mencari solusi dan menciptakan saran untuk
kesuksesan suatu organisasi.

b. Hubungan Interpersonal antara Atasan dan Bawahan
Perilaku dari supervisor merupakan suatu hal yang fundamental dalam memilih tingkat iman interpersonal dalam unit pekerjaan. Perilaku dari supervisor yang termasuk ke dalamnya menyerupai membuatkan warta yang penting, menciptakan efek yang baik, menyadari dan menghargai unjuk kerja yang baik dan tidak melukai orang lain. Butler (dalam Coetzee, 2007) mengidentifikasi 11 sikap supervisor yaitu memfasilitasi iman interpersonal yaitu kesediaan, kompetensi, konsistensi, bijaksana, adil, jujur, loyalitas, terbuka, menepati janji, mau menerima, dan kepercayaan. Secara lebih luas apabila supervisor memperlihatkan sikap yang disebutkan ini maka akan memperngaruhi tingkat komitmen bawahannya.

c. Karakteristik Pekerjaan
Berdasarkan Jernigan, Beggs dan Kohut (dalam Coetzee, 2007) kepuasan terhadap otonomi, status, dan kepuasan terhadap organisasi ialah prediktor yang signifikan terhadap komitmen organisasi. Hal inilah yang merupakan karakteristik pekerjaan yang sanggup meningkatkan perasaan individu terhadap tanggung jawabnya, dan keterikatan terhadap organisasi.

d. Dukungan Organisasi
Ada kekerabatan yang signifikan antara komitmen pekerja dan iman pekerja terhadap keterikatan dengan organisasinya. Berdasarkan penelitian, pekerja akan lebih bersedia untuk memenuhi panggilan di luar tugasnya dikala mereka bekerja di organisasi yang memperlihatkan proteksi serta menjadikan keseimbangan tanggung jawab pekerjaan dan keluarga menjadi lebih mudah, mendampingi mereka menghadapi masa sulit,
menyediakan laba bagi mereka dan membantu anak mereka melaksanakan sesuatu yang mereka tidak sanggup lakukan. 

3. Faktor Posisi
a. Organizational tenure
Beberapa penelitian menyebutkan adanya kekerabatan antara masa jabatan dan kekerabatan pekerja dengan organisasi. Penelitian memperlihatkan bahwa 15 pekerja yang telah usang bekerja di organisasi akan lebih mempunyai kekerabatan yang besar lengan berkuasa dengan organisasi tersebut.

b. Hierarchical job level
Penelitian memperlihatkan bahwa status sosial ekonomi menjadi satusatunya prediktor yang besar lengan berkuasa dalam komitmen organisasi. Hal ini terjadi alasannya ialah status yang tinggi akan merujuk pada peningkatan motivasi dan kemampuan untuk terlibat secara aktif. Secara umum, pekerja yang jabatannya lebih tinggi akan mempunyai tingkat komitmen organisasi yang lebih tinggi pula bila dibandingkan dengan para pekerja yang jabatannya lebih rendah. Ini dikarenakan posisi atau kedudukan yang tinggi menciptakan pekerja sanggup mensugesti keputusan organisasi, mengindikasikan status yang tinggi, menyadari kekuasaan formal dan kompetensi yang
mungkin, serta memperlihatkan bahwa organisasi sadar bahwa para pekerjanya mempunyai nilai dan kompetensi dalam bantuan mereka.

Sumber http://belajarilmukomputerdaninternet.blogspot.com

Jumat, 05 Januari 2018

Aspek - Aspek Janji Organisasi

Meyer dan Allen (1991), dalam (Aamodt, 2007) menemukan bahwa aspek-aspek komitmen organisasi mempunyai tiga aspek yaitu:

a. Komitmen Afektif
Seorang karyawan dikatakan mempunyai kesepakatan afektif dengan organisasi tempatnya bekerja yaitu kalau yang bersangkutan bersedia untuk mendapatkan nilai-nilai yang dianut oleh organisasi, mempunyai kemauan untuk berusaha keras demi kemajuan organisasi, dan mempunyai cita-cita untuk tetap berada dalam organisasi. 

Aspek kesepakatan organisasi ini mempunyai beberapa dimensi yaitu : sense of belonging, emotional attached, dan personal meaning.

b. Komitmen Keberlanjutan
Aspek kedua ini ialah persepsi mengenai biaya. Hal ini merupakan suatu keadaan dimana seorang karyawan terus berada dalam organisasi alasannya ialah adanya pertimbangan biaya yang ia rasakan kalau ia berhenti bekerja pada organisasi tersebut. Aspek kesepakatan berkelanjutan ini mempunyai beberapa dimensi yaitu pilihan lain, keuntungan, dan biaya.

c. Komitmen Normatif
Komitmen normatif merupakan sebuah kondisi dimana karyawan tetap bertahan pada perusahaan alasannya ialah merasa harus memenuhi kewajibannya terhadap organisasi. Aspek ini mempunyai beberapa dimensi yaitu keyakinan untuk loyal, dan keyakinan akan etika.

Sumber http://belajarilmukomputerdaninternet.blogspot.com

Selasa, 01 Agustus 2017

Pengertian Lanjut Usia

Lanjut usia ialah proses yang harus dilalui manusia. Usia bau tanah ialah periode epilog dalam rentang hidup seseorang, yaitu suatu periode dimana seseorang telah beranjak jauh dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan atau beranjak dari waktu yang penuh dengan manfaat. Usia 60 biasanya dipandang sebagai garis pemisah antara usia madya dan lanjut usia. Usia 60 sebagai usia pensiun dalam banyak sekali urusan, sebagai tanda mulainya lanjut usia. Tahap terakhir dalam rentang kehidupan sering dibagi menjadi lanjut usia dini yang berkisar antara usia 60-70 dan lanjut usia yang mulai pada usia 70-akhir kehidupan seseorang. Orang dalam usia 60-an biasanya digolongkan sebagai usia bau tanah yang berarti antara sedikit lebih bau tanah atau sesudah madya dan lanjut usia sesudah mereka mecapai usia 70, yang berdasarkan standar beberapa kamus berarti makin lanjut usia seseorang dalam periode hidupnya dan telah kehilangan kejayaan masa mudanya. Pada masa ini akan ditandai dengan perubahan fungsi fisik maupun psikologis dan mengalami penurunan fungsi organ. Perubahan tersebut memilih lanjut usia sanggup melaksanakan adaptasi diri secara baik atau buruk. 

Berdasarkan uraian diatas sanggup disimpulkan bahwa lanjut usia merupakan tahap terakhir atau periode epilog dari rentang kehidupan yang ditandai dengan perubahan pada fisik maupun psikologis. 

1. Usia lanjut merupakan periode kemunduran 
Pemunduran pada lanjut usia sebagian tiba dari faktor fisik yang merupakan suatu perubahan pada sel-sel badan alasannya ialah proses penuaan. 

Selain itu, pemunduran lanjut usia juga tiba dari faktor psikologis yaitu perilaku tidak bahagia terhadap diri sendiri, orang lain, pekerjaan, dan kehidupan pada umumnya. 

2. Perbedaan Individu Pada Efek Menua 
Orang menjadi bau tanah secara berbeda alasannya ialah mereka mempunyai sifat bawaan yang berbeda, sosioekonomi dan latar pendidikan yang berbeda dan rujukan hidup yang berbeda. 

3. Usia bau tanah dinilai dengan kriteria yang berbeda 
Orang yang lanjut usia melaksanakan segala apa yang sanggup mereka sembunyikan atau samarkan yang menyangkut gejala penuaan fisik dengan menggunakan pakaian orang muda dan akal-akalan mempunyai tenaga muda. Hal ini dilakukan untuk menutupi bahwa mereka belum lanjut usia. 

d. Menua membutuhkan perubahan peran 
Perasaan tidak mempunyai kegunaan dan tidak diharapkan lagi bagi lanjut usia menumbuhkan rasa rendah diri. 

4. Penyesuaian yang buruk 
Karena perilaku sosial atau perlakuan yang tidak menyenangkan bagi lanjut usia, pembentukan, pengembangan konsep diri yang tidak menyenangkan. 

Tugas Perkembangan Lanjut Usia 
Tugas perkembangan lanjut usia ialah sebagai berikut: 
  • Perbaikan dan perubahan peran 
  • Orangtua diharapkan untuk mengikuti keadaan dengan menurunya kekuatan dan menurunnya kesehatan secara bertahap. 
  • Lanjut usia perlu mempersiapkan dan mengikuti keadaan dengan insiden janjkematian suami atau istri. 
  • Lanjut usia perlu membangun ikatan dengan anggota dari keompok usia mereka untuk menghindari kesepian. 
d. Perubahan-Perubahan yang Terjadi Pada Lanjut Usia 
a. Perubahan Fisik-biologis 
Perubahan fisik pada lanjut usia ditekankan pada penurunan atau berkurangnya fungsi alat indera dan sistem saraf menyerupai penurunan sel dan cairan intra sel, sistem kardiovaskular, sistem pernafasan, sistem endokrin. Perubahan ini sanggup dilihat saat lanjut usia merada tidak percaya diri saat berinteraksi dengan lingkungan. 

b. Perubahan Psikis 
Penyesuaian diri lanjut usia sulit alasannya ialah ketidakinginan untuk berinteraksi dengan lingkungan ataupun santunan batasan untuk sanggup berinteraksi. Keadaan ini tentunya akan berdampak pada problem kesehatan jiwa lanjut usia.

c. Perubahan sosial
Lanjut usia banyak melepaskan partisipasi sosial mereka. Aktivitas sosial yang banyak pada lanjut usia mempengaruhi baik buruknya kondisi fisik dan sosial lanjut usia.

terimakasih telah membaca Pengertian Lanjut Usia ini biar bermanfaat.

Sumber http://tugasakhiramik.blogspot.com/

Jumat, 10 Februari 2017

Jurusan Psikologi Wacana Psikologi Sosial





Psikologi Sosial

Psikologi sosial yaitu ihwal memahami sikap individu dalam konteks sosial.

Baron, Byrne & Suls (1989) mendefinisikan psikologi sosial sebagai ....

'Bidang ilmiah yang berusaha untuk memahami alam dan menyebabkan sikap individu dalam situasi sosial' (hal. 6).

Oleh lantaran itu terlihat pada sikap insan yang dipengaruhi oleh orang lain dan konteks sosial di mana hal ini terjadi.

Oleh lantaran itu psikolog sosial berurusan dengan faktor yang menyebabkan kita untuk berperilaku dengan cara tertentu di hadapan orang lain, dan melihat kondisi di mana sikap tertentu / tindakan dan perasaan terjadi. psikologi sosial yaitu melaksanakan dengan cara ini perasaan, pikiran, keyakinan, niat dan tujuan yang dibangun dan bagaimana faktor-faktor psikologis seperti, pada gilirannya, menghipnotis interaksi kita dengan orang lain.

Topik diperiksa dalam psikologi sosial meliputi: konsep diri, kognisi sosial, teori atribusi, dampak sosial, proses kelompok, prasangka dan diskriminasi, proses interpersonal, agresi, sikap dan stereotip.


Sejarah Psikologi Sosial

awal Pengaruh

Aristoteles percaya bahwa insan secara alami bersosialisasi, kebutuhan yang memungkinkan kita untuk hidup bersama (pendekatan berpusat individu), sementara Plato merasa bahwa negara dikendalikan individu dan mendorong tanggung jawab sosial melalui konteks sosial (pendekatan sosio-centered).

Hegel (1770-1831) memperkenalkan konsep bahwa masyarakat mempunyai kekerabatan yang tak terelakkan dengan perkembangan pikiran sosial. Hal ini menyebabkan wangsit pikiran kelompok, penting dalam studi psikologi sosial.

Lazarus & Steinthal menulis ihwal dampak Anglo-Eropa pada tahun 1860. "Volkerpsychologie" muncul, yang berfokus pada gagasan pikiran kolektif. 

Ini menekankan gagasan bahwa kepribadian berkembang lantaran budaya dan masyarakat pengaruh, terutama melalui bahasa, yang merupakan sebuah produk sosial masyarakat serta sarana untuk mendorong pemikiran sosial tertentu dalam individu. 

Oleh lantaran itu Wundt (1900-1920) mendorong studi metodologis bahasa dan pengaruhnya terhadap makhluk sosial.


Awal Teks

Teks berfokus pada psikologi sosial pertama kali muncul pada awal era ke-20. Buku penting pertama dalam bahasa Inggris diterbitkan oleh McDougall pada tahun 1908 (An Introduction to Social Psychology), yang termasuk belahan ihwal emosi dan sentimen, moralitas, huruf dan agama, sangat berbeda dengan yang dimasukkan di lapangan ketika ini. 

Dia percaya bahwa sikap sosial yaitu bawaan / naluriah dan lantaran itu individu, maka pilihannya topik. Keyakinan ini bukan prinsip ditegakkan dalam psikologi sosial modern, 

Namun kerja Allport (1924) mendasari pemikiran ketika ini untuk tingkat yang lebih besar, lantaran ia mengakui bahwa sikap sosial hasil dari interaksi antara orang. 

Dia juga mengambil pendekatan metodologis, membahas penelitian yang bergotong-royong dan menekankan bahwa lapangan yaitu salah satu dari "ilmu ... yang mempelajari sikap individu sejauh perilakunya merangsang orang lain, atau itu sendiri merupakan reaksi terhadap sikap ini" (1942 :. p 12). 

Bukunya juga berurusan dengan topik masih terlihat ketika ini, mirip emosi, kesesuaian dan imbas penonton pada orang lain.

Murchison (1935) diterbitkan buku pertama pada psikologi sosial diterbitkan oleh Murchison pada tahun 1935. 

Murphy & Murphy (1931-1937) menghasilkan sebuah buku yang merangkum temuan 1.000 studi psikologi sosial. Sebuah teks dengan Klineberg (1940) memandang interaksi antara konteks sosial dan pengembangan kepribadian dengan tahun 1950 sejumlah teks yang tersedia pada subjek.


Pembangunan jurnal
  • 1950 - Journal of Abnormal Psychology dan Sosial
  • 1963 - Journal of Personality, British Journal of Sosial dan Psikologi Klinis
  • 1965 - Journal of Personality and Social Psychology, Journal of Experimental Social Psychology
  • 1971 - Jurnal Psikologi Terapan Sosial, European Journal of Social Psychology
  • 1975 - Social Psychology Quarterly, Kepribadian dan Buletin Psikologi Sosial
  • 1982 - Kognisi Sosial
  • 1984 - Jurnal Sosial dan Pribadi Hubungan

Awal Percobaan

Ada beberapa ketidaksepakatan ihwal percobaan pertama benar, tapi berikut ini yaitu tentu saja di antara beberapa yang paling penting. 

Triplett (1898) menerapkan metode eksperimen untuk memeriksa kinerja pengendara sepeda dan anak sekolah ihwal bagaimana keberadaan orang lain menghipnotis kinerja secara keseluruhan - dengan demikian bagaimana ini individu yang terkena dan berperilaku dalam konteks sosial.

Pada tahun 1935 studi ihwal norma-norma sosial telah dikembangkan, melihat bagaimana individu berperilaku sesuai dengan hukum masyarakat. Ini dilakukan oleh Sherif (1935).

Lewin et al. kemudian mulai penelitian eksperimental ke dalam proses kepemimpinan dan kelompok dengan 1939, melihat watak kerja yang efektif di bawah gaya kepemimpinan yang berbeda.


Kemudian Perkembangan

Banyak penelitian kunci dalam psikologi sosial dikembangkan sehabis Perang Dunia II, ketika orang-orang menjadi tertarik pada sikap individu ketika dikelompokkan bersama dan dalam situasi sosial. Studi kunci dilakukan di beberapa daerah.

Beberapa penelitian difokuskan pada bagaimana sikap dibentuk, diubah oleh konteks sosial dan diukur untuk memastikan apakah perubahan telah terjadi. 

Di antara beberapa pekerjaan yang paling populer dalam psikologi sosial yaitu bahwa pada ketaatan yang dilakukan oleh Milgram dalam bukunya studi "sengatan listrik", yang memandang kiprah figur otoritas memainkan dalam membentuk perilaku. 

Demikian pula, simulasi penjara Zimbardo ini terutama ditunjukkan sesuai dengan kiprah yang diberikan dalam dunia sosial.

Topik yang lebih luas maka mulai muncul, mirip persepsi sosial, agresi, hubungan, pengambilan keputusan, sikap sosial pro dan atribusi, banyak yang sentra untuk topik hari ini dan akan dibahas di seluruh situs ini.

Dengan demikian tahun pertumbuhan psikologi sosial terjadi selama dekade berikutnya tahun 1940-an.


Angka Key Psikologi Sosial

Allport (1920) - Fasilitasi Sosial

Allport memperkenalkan gagasan bahwa kehadiran orang lain (kelompok sosial) sanggup memfasilitasi sikap tertentu. Ditemukan bahwa penonton akan meningkatkan kinerja bintang film 'di pelajari dengan baik / kiprah yang mudah, tapi mengarah ke penurunan kinerja pada gres berguru / kiprah sulit lantaran penghambatan sosial.

Bandura (1963) - Teori Belajar Sosial

Bandura memperkenalkan gagasan bahwa sikap dalam dunia sosial sanggup dimodelkan. Tiga kelompok bawah umur menonton video di mana orang remaja yaitu berangasan terhadap sebuah 'bobo doll', dan remaja ini baik hanya dilihat sanggup melaksanakan hal ini, dihargai oleh orang remaja lain untuk sikap mereka atau dieksekusi untuk itu. Anak-anak yang telah melihat remaja dihargai ditemukan lebih mungkin untuk menyalin sikap tersebut.

Festinger (1950) - Disonansi Kognitif

Festinger, Schacter dan Black membawa gagasan bahwa ketika kita memegang keyakinan, sikap atau kognisi yang berbeda, maka kita mengalami disonansi - ini yaitu inkonsistensi yang menyebabkan ketidaknyamanan. Kami termotivasi untuk mengurangi ini dengan baik mengubah salah satu dari pikiran kita, keyakinan atau sikap atau selektif menghadiri informasi yang mendukung salah satu keyakinan kita dan mengabaikan (hipotesis eksposur selektif) lainnya.

Disonansi terjadi ketika ada pilihan yang sulit atau keputusan, atau ketika orang berpartisipasi dalam sikap yang bertentangan dengan sikap mereka. Disonansi demikian disebabkan oleh upaya pembenaran (ketika bertujuan untuk mencapai tujuan sederhana), diinduksi kepatuhan (ketika orang dipaksa untuk mematuhi bertentangan dengan sikap mereka) dan pilihan bebas (ketika menimbang keputusan).

Tajfel (1971) - Teori Identitas Sosial

Ketika dibagi menjadi buatan (minimal) kelompok, prasangka hasil hanya dari kesadaran bahwa ada "out-group" (kelompok lain). Ketika bawah umur diminta untuk mengalokasikan poin kepada orang lain (yang mungkin diubah menjadi imbalan) yang baik belahan dari kelompok mereka sendiri atau out-group, mereka ditampilkan besar lengan berkuasa preferensi dalam kelompok. 

Artinya, mereka dialokasikan poin lebih pada kiprah set untuk anak pria yang mereka diyakini berada di kelompok yang sama mirip dirinya. Hal ini sanggup dijelaskan dengan teori identitas sosial Tajfel & Turner, yang menyatakan bahwa individu perlu untuk mempertahankan rasa positif identitas langsung dan sosial: ini sebagian dicapai dengan menekankan harapan kelompok sendiri, fokus pada perbedaan antara lain "kurang" kelompok.

Weiner (1986) - teori Atribusi

Weiner tertarik dengan atribusi yang dibuat untuk pengalaman keberhasilan dan kegagalan dan memperkenalkan gagasan bahwa kita mencari klarifikasi dari sikap di dunia sosial. Dia percaya bahwa ini dibuat menurut pada tiga bidang: lokus, yang sanggup internal atau eksternal; stabilitas, yang yaitu apakah penyebabnya yaitu stabil atau perubahan dari waktu ke waktu: dan pengendalian.

Milgram (1963) - Syok Percobaan

Peserta diberitahu bahwa mereka mengambil belahan dalam studi ihwal pembelajaran, tetapi selalu bertindak sebagai guru ketika mereka kemudian bertanggung jawab untuk pergi atas tugas-tugas berguru asosiasi dipasangkan. Ketika pelajar (antek) menerima balasan yang salah, mereka diberitahu oleh seorang ilmuwan bahwa mereka harus menawarkan sengatan listrik. 

Ini tidak benar-benar terjadi, meskipun penerima tidak menyadari ini lantaran mereka mempunyai sendiri sampel (real!) Syok pada awal percobaan. Mereka didorong untuk meningkatkan tegangan diberikan sehabis setiap balasan yang salah hingga tegangan maksimum, dan ditemukan bahwa semua penerima menawarkan guncangan hingga 300v, dengan 65 persen mencapai tingkat tertinggi 450V.

Tampaknya bahwa ketaatan yang paling mungkin terjadi di lingkungan yang absurd dan di hadapan tokoh otoritas, terutama ketika tekanan terselubung diletakkan pada orang untuk taat. Hal ini juga mungkin bahwa itu terjadi lantaran penerima merasa bahwa orang lain selain diri mereka sendiri bertanggung jawab atas tindakan mereka.

Haney, Bank, Zimbardo (1973) - Penjara Studi

Relawan mengambil belahan dalam simulasi di mana mereka secara acak ditugaskan kiprah seorang tahanan atau penjaga dan dibawa ke ruang bawah tanah universitas dikonversi mirip lingkungan penjara. Ada beberapa kehilangan dasar hak para tahanan, yang tiba-tiba ditangkap, diberi seragam dan nomor identifikasi (karena itu mereka deindividuated).

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kesesuaian dengan kiprah sosial yang terjadi sebagai belahan dari interaksi sosial, lantaran kedua kelompok ditampilkan emosi negatif dan permusuhan dan dehumanisasi menjadi jelas. 

Tahanan menjadi pasif, sementara para penjaga diasumsikan kiprah aktif, brutal dan dominan. Meskipun dampak sosial normatif dan informasi mempunyai kiprah untuk bermain di sini, deindividuation / hilangnya rasa identitas sepertinya paling mungkin untuk menyebabkan sesuai.

Kedua ini dan studi Milgram memperkenalkan konsep dampak sosial, dan cara di mana ini sanggup diamati / diuji.

Berikut link Materi lengkap Psikologi Sosial :


Sumber http://sumbermaterikuliah.blogspot.com