Tampilkan postingan dengan label Tausiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausiyah. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 September 2017

Yang Belum Halal

Setan: “Kalian berdua cocok sekali lho. Sudah, kalau beliau lambat, lebih baik kau yang lebih dahulu kode-kode saja. Aku yakin, bahu-membahu rahasia kalian berdua itu saling kagum bahkan saling suka. Sekarang coba kau ngaca, kenali dirimu. Siapa sih yang nggak mau sama perempuan macem kamu? Kamu juga. Bukannya kau sedang ingin memperdalam agama? Kamu butuh teman yang elok agamanya. Mumpung ada yang sealim dia, coba aja kau dekati. Coba kau pikirkan, kapan lagi kecocokan berbanding lurus dengan kesempatan? Tunggu apalagi? Minimal kode-kode sana. Buruan nanti diambil cewek lain yang lebih sering interaksi sama dia!”

Malaikat: “Kamu sudah siap? Seshalih/shalihah apapun manusia, sesuami-able se-istriable apapun manusia, itu semua bukan alasan untuk melegitimasi sikap kita yang menyimpang dari apa-apa yang Dia perintahkan. Bukannya sebelum halal maka hati itu harus dijaga hanya untuk Tuhan? Meskipun kalian nggak pacaran, kalau saling kode-kode bagaimana? Status memang single, hanya bersama Tuhan. Tapi, bila begitu, hatimu dengan siapa? Yakin hatimu cuma buat Tuhan? Soal interaksi, seharusnya kau paham bahwa pria yang benar-benar taat akan paham bahwa perempuan yang baik yaitu perempuan yang menjaga interaksinya sebaik mungkin. Jika memang beliau lebih menentukan perempuan lain yang sering berinteraksi dengan dia, biarkan. Itu tandanya beliau tidak seprinsip denganmu, atau bahkan beliau memang bukan orang yang sempurna untuk kau yang mati-matian berguru fokus untuk Dia. Ingat, yang terbaik akan menemukan yang terbaik. Kamu yang mana? Mau bersabar walau sakit? Atau mau bar-bar dalam kesenangan semu? Ingat, hidupmu untuk apa.”

Hayoo..paling sering siapa yang bisikin ? Setan atau malaikat? hehe.
Semoga dengan renungan ini, kita dapat tetap istiqomah dalam menjaga diri & hati. Yakin saja, Percayakan kepada-Nya :)


Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com

Minggu, 17 September 2017

Menjaga Diri

Are you single? Are you sure?

Biasanya ikhwan ataupun akhwat itu single alias jomblo. Tapi apakah benar mereka single 100%? Begini. Tujuan saya menciptakan goresan pena ini yakni sebagai bentuk kritik membangun bagi para ikhwan maupun akhwat. Saya rasa semua setuju bila menjaga diri, menjaga kehormatan diri itu perlu dan harus. Saya rasa semua setuju bila pacaran itu memang dihentikan dalam agama, dan niscaya para pelopor dakwah tau hal ini dengan sangat baik. 

Memang, jarang saya temui ikhwan/akhwat yang rahasia pacaran. Yaa alasannya mereka benar-benar single. 

Oke ganti topik. Sekarang media umum sudah bukan menjadi hal yang wow. Iya kan? Whatsapp, BBM, Viber, Instagram, Facebook, Twitter, Line, G+ dan masiiih banyak lagi. Disinilah titik yang ingin saya kritisi. 

Oke, memang yang namanya ikhwan akhwat jarang banget interaksi empat mata. Rapat aja mesti pake hijab. Kaprikornus nggak bisa saling tatap muka. Oke, itu memang udah cukup baik. Dan memang sudah seharusnya begitu.

Tapi bagaimana bila di media sosial? Apakah hijab atau batasan masih ada? Masih dijaga? Terlebih komunikasinya pake private message. Pembicaraan hanya dua arah. Hanya kamu dan aku. Kalo saya, grup whatsapp boleh hidup hanya hingga jam 9 malam. Tapi apakah itu juga diberlakukan bagi para pelopor dakwah? Pembicaraan dua arah atau private message biasanya dilakukan bisa hingga lebih dari jam 9 malam. Inilah salah satu titik yang sebaiknya diperbaiki. 

Maaf. Afwan. Afwan binggo. Saya jujur kurang suka pada ikhwan ataupun akhwat dimana ia mempunyai sobat komunikasi secara rutin dua arah. Misal sudah menjadi keseharian bagi ia untuk berkomunikasi via whatsapp atau yang lain. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi saya rasa bila yang dibicarakan problem dakwah tidak perlu menjadi suatu rutinitas. Bisa dibahas di grup whatsapp dimana pembicaraannya lebih dari dua arah atau mungkin bisa dikupas tuntas dikala syuro’.

Ganti topik. Tidak baik bagi ikhwan ataupun akhwat saling main kode-kodean. Saling komentar di instagram, facebook atau yang lainnya. Oh please! Cukup kode-kodean pada ia yang Allah gariskan untuk kita. Kode-kodean lewat doa maksudnya. Itu jauh lebih baik. Daripada kita main kode-kodean di media umum lagi, bisa menjadikan fitnah saudara-saudara!

Saya? Saya? Saya jauh dari kesempurnaan. Saya juga pernah lepas kontrol dalam penjagaan diri. Tapi, saya berusaha. Ya berusaha. Ya alasannya saya sadar betul. Saya tidak punya apa-apa, harta itu milik Allah yang Allah titipkan ke orang bau tanah saya. Saya masih belum bisa cari makan dari hasil keringat sendiri. Saya. Saya seorang perempuan. Saya bisa apa kalo udah dijahatin laki-laki. Nah, upaya penjagaan diri inilah yang saya rasa harus saya lakukan sebagai bentuk ikhtiar untuk menjadi insan yang lebih baik. Saya tidak punya harta tapi saya punya harga diri. Saya tidak punya kekuatan untuk melawan pria tapi saya berusaha membangun benteng semoga pria tidak bisa menembus benteng yang saya bangun. 

Intinya. Saya berharap bila ikhwan / akhwat mulai lebih bisa menjaga diri di media sosial. Menjaga diri. Menjaga kehormatan diri. Daripada main kode-kodean nggak jelas, eksklusif aja pergi ke KUA. Bicarakan sesuatu seperlunya dalam pembicaraan dua arah. Jika bercanda pastikan itu tidak bercanda dalam komunikasi dua arah. Cinta bisa hadir dari canda. Optimalkan fungsi grup komunikasi. Optimalkan syuro’. Tuntaskan sekalian segala bahasan dakwah disitu. Biar tidak ada tambahan yang dipakai sebagai modus untuk memulai pembicaraan dua arah.

Afwan. Afwan. Manusia hidup untuk apa bila tidak untuk memperbaiki diri. Begitupun dengan saya. Tulisan ini saya buat bukan hanya semata-mata mengkritisi orang lain tapi juga sebagai bentuk hikmah diri. Dan langkah awal saya untuk mengikrarkan bila saya sedang berusaha menjaga diri. Jika mungkin di lain waktu saya lepas kendali, mungkin goresan pena ini bisa menjadi reminder saya untuk ‘kembali pada Cikal yang sebenarnya.’

Wallahu a'lam.

Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com

Sabtu, 16 September 2017

Ular Atau Kue

Jika di hadapanmu ada dua hal: ular berbisa dan masakan ringan elok favorit, mana yang akan kamu perhatikan? — Aa’ Gym

Ular atau kue? Secara naluri, kita lebih suka memperhatikan hal-hal yang kita sukai dan mengabaikan hal-hal yang tidak kita sukai. Seharusnya KUE, kan? Tapi sayangnya, balasan yang sempurna untuk pertanyaan di atas adalah..ULAR.

Kue yakni kiasan untuk banyak sekali macam perkataan makhluk yang lazim kita dengar sebagai pujian. Ohya, jujur saja, memangnya siapa di dunia ini yang tidak suka dengan pujian?

Sedangkan ular yakni kiasan untuk banyak sekali macam kata-kata yang kita persepsikan sebagai kritikan, yang yah… akui sajalah kalau itu lebih sering menciptakan kita kurang nyaman.

Kritikan memang pahit, bahkan menyakitkan. Tapi bagaimana kalau itu yakni cara Allah biar kita memperbaiki diri? Bukankah itu jauh lebih baik daripada kita yang besar hati berselimutkan kebanggaan manusia, padahal mereka tidak tahu sebusuk apa kita. Bagaimana kalau kebanggaan menciptakan kita berhenti untuk memperbaiki diri, tidakkah itu lebih mengerikan?

Yuk, sama-sama berlatih untuk lebih peduli dengan “ular” daripada “kue”.

Sehingga saat kita memperbaiki diri terus menerus, mudah-mudahan Allah berkenan mengakibatkan kita sebagai jalan perubahan bagi keluarga kita untuk menjadi lebih baik pula.

Wallahu a'alam.


Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com

Rabu, 13 September 2017

Kuantitas Dan Kualitas

Andaikan sebuah kemenangan ditentukan oleh kuantitas, maka sudah seharusnya pada dikala perang Badar dahulu umat Muslim terkalahkan.

Andaikan sebuah kemenangan ditentukan oleh kuantitas, maka sudah seharusnya umat Muslim dapat dalam sekejap itu menang melawan pasukan Byzantium menaklukkan konstantinopel.

Andaikan kuantitas yaitu jaminannya.

Namun sayang.. bagi Allah kuantitas bukanlah penentu suatu kualitas. Ketika umat muslim di dunia berjumlah sangat banyak, namun pada kenyataannya dunia semakin bermuram durja. Dunia semakin jauh dari kata keadilan. Dunia semakin terpuruk, merana tahta dan kualitas. Dunia semakin tercekik oleh keserakahan. Dunia hilang arah, kemana seharusnya beliau menuju.

Kuantitas tak selamanya menjadi penentu baiknya kualitas.

Kini hadirlah kita pada suatu zaman dimana umat Islam menyerupai buih di lautan. Mengambang, terombang-ambing begitu saja tanpa tujuan. Mau kemana, ya mengikuti ombak. Sayang, beliau tidak punya pendirian. Desiran yang dahsyat lalu menghilangkannya.


Tidak malukah kita pada Rabb semesta alam? Dia memandangi dan mengawasi kita setiap saat. Memperhatikan walau kita tidak sadar. Menguji kualitas iman, bukan hanya sekedar menghendaki berjalannya kuantitas para p0juang Islam. Ingat, kuantitas itu hanyalah tampilan. Sementara kualitas memilih segalanya.

Kini aku berjalan di muka bumi, dimana muslim menyerupai buih di lautan. Tapi, itu terkhusus bagi umat Islam yang hanya sekedar status, hanya sekedar berjalan di muka bumi. Tanpa memandang tujuan, menghadapi halang rintang dan menggapai cita-cita.

Seperti buih, terombang-ambing tidak menentu.

Saya? Saya tidak mau menjadi muslim yang demikian. Karena aku tahu, Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam tidak begitu. Dia yaitu panutan utama aku dan beliau tidak ajarkan kita menjadi muslim yang menyerupai buih.

Tidak semenyedihkan itu.

Bagaimana dengan kalian? Maukah berjuang untuk tidak menjadi menyerupai buih di lautan? Maka, mari tingkatkan kualitas. Karena sebenarnya setiap ujian dan halang-rintang yaitu demi tercapainya kualitas tinggi di hadapan Allah.

Semoga kita istiqomah dijalan-Nya, aamiin.

Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com

Menjadi Dewasa

Beberapa orang tanpa sadar kehilangan hening sejahtera. 
Sedih. Ketika kita tahu bahwa kita sedang dipelihara, namun masih saja ‘mau’ dikendalikan oleh perasaan. Bukan berarti antipati atau mati rasa sehingga tidak peka dengan apa yang terjadi di luar.

Praktis bagi kita untuk tersenyum, tertawa, berbagi, senang ketika kita dalam keadaan mood yang baik. Bagaimana bila orang-orang disekitar menciptakan keributan, menyakiti, bahkan tidak memahami sikon dalam hati kita? Berbuat baik pada orang yang berlaku baik itu masuk akal banget, manusiawi tapi yang Istimewa yakni ketika ada yang masih mengecewakan tapi kita menentukan untuk melepaskan pengampunan. Akan ada orang yang bergunjing dan menilai kita ndeso atau bahkan sok suci. Itu tidak menjadi dilema ketika kita sendiri, langsung kita yang mau hidup bebas dari kebencian, kemarahan, dan kekecewaan.


Toh penghakiman bukan penggalan manusia. Sebenarnya ketika murka pun, kita dapat menentukan untuk tidak berbuat dosa, bahkan berbuat baik. Bagaimana caranya? Hal itu ditentukan respon kita ketika amarah memuncak. Mau membalas amarah dengan amarah, atau membisu dan mendengarkan. Bahkan pelan-pelan mendoakan dalam hati. Sulit memang, jikalau masih pakai logika manusia.

Bisa jadi, doa kita belum terjawab sebab kita belum remaja dalam mengekpresikan bentuk amarah, rasa kecewa, kebencian dll. Praktis buat Dia (sang pencipta) mengabulkan apapun doa kita, sebab Dia pengasih dan pemurah. Tapi yang diinginkan-Nya ialah kedewasaan.



Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com

Senin, 11 September 2017

Adab Berpakaian Dalam Islam

Agama Islam ialah agama sempurna. Segala hal telah diatur sedemikian rupa. Dari hal besar hingga hal kecil. Dari hal penting hingga hal sepele. Dari bersujud kepada Allah, hingga dengan cara beristinja' sesuai kaidah islam. Coba pelajari, agama mana yang mau masuk kamar mandi saja ada aturannya. Agama mana yang sekadar urusan bersin saja, ada aturannya. Coba cari di agama lain. Adakah aturan-aturan mendetail mirip ini? Karena sejauh yang saya tahu, tidak ada. 

Makanya pernah ada ungkapan seorang non muslim, "Jangan mencampurkan agama dengan politik", simply lantaran dalam agama dia, banyak hal tidak ada landasan hukumnya. Aturannya sederhana, berbuat baik, ibadah, selesai. Tidak dirincikan berbuat baik itu mirip apa, tidak dirincikan ibadah itu mirip apa.

Agama Islam memang agama yang sempurna. Segala hal diatur. Menjadi orang tua, menjadi anak, menjadi suami/istri, bertetangga, bersaudara, berkeluarga, berdagang, bepergian, berbisinis, berpolitik, dsb. Itulah kenapa disebut sempurna, lantaran memang lengkap aturan dan kaidahnya di setiap lini kehidupan manusia.


Termasuk dalam hal berpakaian. Agama kita juga mengatur cara kita berpakaian. Bagaimana berpakaian yang baik. Pakaian apa yang boleh dipakai dalam kondisi-kondisi tertentu, mirip haji atau sesederhana dikala shalat, pakaian apa yang boleh dipakai secara umum, batasan-batasan aurat, dsb.

Untuk perempuan, tentu sudah banyak yang bahas. Aurat perempuan ialah seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan. Selain daripada itu, maka wajib mengulurkan khimar(kerudung) & jilbab (gamis) yang tidak ketat. Diulurkan, bukan dililit-lilit ya :) Tidak ketat, artinya tidak membentuk lekuk badan atau menonjolkan kepingan badan tertentu. Pun tidak transaparan. Kalau pake putih, maka hanya putih yg terlihat, tidak ada kurang jelas pink, kurang jelas biru, dst. Harus kain tebal, atau kalau tipis maka dilapisi, agar tidak tembus pandang. 

Ah iya, jangan lupa kaidah lainnya, yaitu kepala yang mirip punuk unta, tidak berlenggak-lenggok dikala berjalan, dan tidak menggunakan parfum yg menyengat. Karena berdosa kalau seorang perempuan lewat, lantas tercium wangi parfumnya oleh laki-laki. Juga jangan mempamerkan diri, ikut kontes jilbab dsbnya. Karena itu bertentangan dengan kaidah jilbab yang harusnya menutupi, melindungi, menyembunyikan, kok malah dipamerkan? Nggak nyambung lah :D

Untuk laki-laki, banyak yang menganggap sepele, tetapi gotong royong tidak begitu. Yang saya tahu, aturannya memang sederhana. Auratnya dari pusar hingga lutut. Inilah yang wajib ditutupi. Dada masih boleh kelihatan. Kaprikornus kalau yg merasa sudah baligh, yaa antum wajiblah kemana-mana pake pakaian yang menutup aurat, jangan pake celana pendek. Mulai biasakan pake celana panjang. Kalaupun memang mau pake celana pendek, maka pakailah celana pendek yang kainnya minimal tetap melewati lutut dikala antum duduk/jongkok. 
Dan satu hal lagi, kain tidak boleh melewati mata kaki. Dalam riwayat ada seseorang sedang shalat, mata kakinya tertutup, kemudian Nabi menyuruhnya mengulang wudhu hingga 2 kali. Dan menutup mata kaki ancamannya tidak main-main, 'Kain yang berada di bawah mata kaki, berada di Neraka' (Bukhari 5787). Lantas Bagaimana kalau pake kaos kaki atau sepatu boot yg menutup mata kaki? Boleh, lantaran yg dihentikan ialah kain yg menjulur dari atas ke bawah, bukan dari bawah ke atas.

Seiring berkembangnya zaman, ada sebagian ulama' beropini bahwa tidak mengapa kain melewati mata kaki, asalkan tidak sombong. Dengan bersandar kepada riwayat kala Abu Bakar bertanya kepada Rasul, apakah ia termasuk orang yang tidak akan dilihat oleh Allah di hari final lantaran berpakaian isbal (kain melewati mata kaki), maka Rasul menunjukkan kabar gembira, bahwa Abu Bakar tidak termasuk, lantaran dia tidak sombong.

Tetapi perlu diperhatikan bahwa dalam riwayat, Abu Bakar menyebut "terkadang celanaku melorot kecuali kalau saya menjaganya". Maka yang mesti dititik beratkan ialah Abu Bakar celananya melorot, ia sudah berusaha untuk tidak isbal, bukan disengaja mengulurkan kain kebawah mata kaki. Dan Abu Bakar bilang ‘kecuali kalau saya menjaganya’, maka sanggup ditarik satu buah kesimpulan, Abu Bakar tidak isbal kecuali kalau celananya melorot & ia tidak sempat menjaganya.

Lebih lanjut, Abu Bakar itu ialah sobat Nabi yg mulia, dijamin surga. Maka berhentilah menyamakan diri kita dengan dia termasuk sobat Nabi lainnya. Penyakit kronis sebagian umat ini ialah selalu mencatut nama-nama sobat Nabi, mencoba sejajar dengan mereka. Abu Bakar begini, Umar begitu, padahal hingga kapanpun, sungguh kita tidak akan sebanding dengan mereka. Mereka ialah kaum yang berjumpa dengan rasul, berjuang bersama rasul, dijamin surga, lantas kita ini siapa mau menyamaratakan diri dengan mereka?

Maka, kaidah paling amannya ialah gunakan saja diatas mata kaki. Tidak perlu malu. Dan kenapa mesti malu. Bukankah banyak orang yang menggunakan celana diatas lutut bahkan lebih keatas lagi, tetapi tidak malu? Cinta Rasulullah kan? Monggo buktikan :) Masa’ kita yang diatas mata kaki sedikit malu. Saat pertama memang agak malu, tetapi kalau dibiasakan, inshaa Allah tidak akan aib lagi. 

Terakhir, ketahuilah. Kenapa sih kita kalau menggunakan jas, menggunakan gaun, kita merasa gagah, keren, cantik, anggun, dsb? Karena kita terjebak oleh opini kebanyakan orang yang bilang jas/gaun itu keren. Coba saja kalau kebanyakan opini orang tidak pake baju itu keren, maka sungguh tidak ada orang akan pake jas/gaun. 

Maka ketahuilah wahai ukhtifillah & akhifillah, buat apa kita keren dihadapan seluruh manusia, kalau kita tidak keren dihadapan Allah. Lebih baik mempesona dihadapan Allah, meski hina dimata manusia, daripada mempesona dihadapan manusia, tetapi sungguh hina dihadapan Allah.

“Barangsiapa yang meninggalkan pakaian (yang bagus) disebabkan tawadhu’ (merendahkan diri) di hadapan Allah, sedangkan ia gotong royong mampu, pasti Allah memanggilnya pada hari final zaman di hadapan segenap makhluk dan ia disuruh menentukan jenis pakaian mana saja yang ia kehendaki untuk dikenakan.” (HR. Tirmidzi no. 2481 dan Ahmad 3: 439. Al Hafizh Abu Thohir menyampaikan bahwa sanad hadits ini hasan) 

Berilmu dulu, kemudian beramal. YukNgaji! 

Wallahu a'lam. 

Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com

Rabu, 06 September 2017

Ta'aruf Vs Pacaran Islami

Saya punya utang nulis mengenai ta'aruf nih, ada beberapa anon yang mengirimkan saya message yang katanya pengen saya membahas ihwal ta'aruf. Honestly, saya cuma tau teorinya aja sih mengenai ta'aruf dan juga ada beberapa teman saya yg alhamdulillah nikah melalui cara yang syar'i (ta'aruf). Kaprikornus seengaknya saya tidak mengecewakan ngerti ihwal hal seputar ta'aruf ini, inshaa Allah.

Ada di antara kita, mereka yang berpacaran, namun ketika ditanya, mereka bilang “Take it easy, saya pacarannya cara islami kok”. Ya, sebuah pacaran yang mengedepankan syar’i dan ridha Allah di dalamnya. HA? memang ada ya?

Bagi saya hal ini menggelikan. Bagaimana tidak, menggabungkan 2 kata yang sifatnya berlawanan dalam 1 kegiatan. As we know, pacaran memang gak diperbolehkan dalam islam, HARAM hukumnya. Tapi ada yang menciptakan istilah sendiri 'pacaran secara islami', melaksanakan sesuatu yang dihentikan secara jalurnya. Lalu terbesit dalam pikiran saya, jikalau kita punya istilah pacaran yang islami, maka saya boleh menciptakan istilah mabuk secara islami, berbohong secara islami, meninggalkan salat secara islami, atau mengatakan aurat secara islami. Loh kok bisa? Bisa dong, kan pacaran juga bisa.

“Emang kenapa sih kok kayak anti pacaran gitu? Orang kami yang ngejalani hening tenang aja gak ada masalah” - couple said.

“Lagian kami pacaran sehat kok, sering mengingatkan solat dan mengaji”  - couple said.

Astaghfirullah..
Pacaran secara islami itu yaitu sebuah tanda bahwa kita tidak takut akan eksekusi Allah. Dan juga sebuah tanda bahwa kita terlalu pengecut untuk meninggalkan seseorang yang kita cintai di dunia ini, padahal sudah seharusnya di dunia ini ada hal-hal yang harus ditinggalkan demi kebaikan.

Pacaran secara islami itu yaitu menyerupai kita berpegang pada Allah, tapi berjalan perlahan menuju syaitan. Mereka yang berpacaran secara islami patut diacungi jempol, alasannya yaitu mereka sangatlah berani bermain-main dalam batasan antara hak dan batil yang sangat tipis.
“Dan janganlah kau campuradukkan yang hak dan yang batil, dan janganlah kau sembunyikan yang hak itu, sedang kau sendiri mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah II: 42)
Kaprikornus solusinya gimana kalo menjalin korelasi secara islami? Yah ada, ta'aruf namanya, menikah ujungnya. Ta'aruf dari bahasa arab artinya yaitu ‘mengenal’. Kita persempit disini jadi mengenal calon pasangan. Ta'aruf disini dimaksudkan untuk pendekatan & mengenal calon pasangan lebih dalam tanpa proses pacaran. 

Lalu apa bedanya dengan pacaran? Jelas beda! Ta'aruf tujuannya untuk nikah. Lah pacaran? dapat macam-macam tujuannya. Ta'aruf kalau cocok, lanjut ke lamaran. Kalau gak cocok? Langsung stop. Prosesnya terperinci dan gak hingga bertahun-tahun, kurang lebih hanya 3 bulan aja dan harus ada mahram yang mendampingi. Bisa keluarga, atau pihak ketiga lain mirip guru ngaji, dll. Kalo pacaran? Tau sendirilah, santai. “Kita jalani dulu aja ya, liat gimana nanti.” Restu? belakangan. Potensi dosanya guede -..-"

Jadi? Masih mau pacaran secara islami?

“Ah gils gils! Kalo gak pacaran sih gak keren! Berarti gak laku! Gak ada yg dapat diajak curhat dan ngobrol, gak ada yg perhatiin.”
Hati-hati deh sama perkataan yg beginian, kebanyakan orang yg pacaran niscaya kurang bersahabat dengan keluarganya, niscaya kurang bercengkrama dengan saudaranya, alias kesepian.

Kita muda-mudi disini memang lagi perang, perang disini bukan lagi kasus mengangkat senjata, tapi mengenai contoh pikir. Melalui apa? melalui 3F. fun, food, fashion. 

Kita ditunjukkan oleh banyak media untuk saling mengasihi lewat jalur haram. Di instagram kalo belum update photo sama pacar dibilang gak gaul. Kalo gak punya gebetan dibilang kuper. Kalo gak ada pemuda yg ngomentarin foto di sosmed dianggap gak populer. Naudzubillah..

Ingat nih : 
“Pandangan merupakan pangkal dari segala tragedi yang menimpa manusia. Sebab, pandangan akan melahirkan getaran hati, diikuti dengan angan-angan yang membangkitkan syahwat dan impian yang semakin menguat dan kesannya menjadi kebulatan tekad, hingga terjadilah perbuatan itu secara pasti, selama tidak ada penghalang yang menghalanginya”. - Anonim.
Jadi..masih mau pacaran? Saya langsung alhamdulillah belum pernah. Dulu ayah memang pernah menasihati saya untuk tidak menyentuh kegiatan pacaran, hingga dia wafat ketika ini pun inshaa Allah saya akan terus menjalankan perintah Allah yg satu ini. Saya gak mau gara-gara saya ayah malah menanggung dosa anaknya. Dan juga berdasarkan saya, selain melanggar perintah Allah, pacaran itu jjuga merupakan proses pengkhianatan kepada ayah kita. 

Readers, coba deh anggap aja kita ini sedang puasa. Ketika puasa memang godaan ada dimana-mana, tapi kalo kita icip-icip, curi-curi waktu untuk hal yang terperinci diharamkan, maka ketika buka puasa niscaya udah gak ada lagi gregetnya. Nah..sama halnya juga dengan hal yang satu ini.

Udah segitu aja yaaa :) Saya rasa udah tidak mengecewakan terperinci klarifikasi mengenai ta'aruf ini, wkwk. Semoga Bermanfaat!

Wallahu a'lam.

Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com

Selasa, 05 September 2017

Repackage

Postingan kali ini dapat dibilang semacam remah-remah aliran saya ketika menonton streaming Dr. Zakir Naik edisi UPI, 2 April 2017 lalu.

Ada satu pertanyaan yang menggugah saya ketika itu. Ketika seorang audiens bertanya mengenai, “Mengapa kita dihentikan menentukan pemimpin non muslim padahal ia banyak melaksanakan kebaikan?” 

Lalu Dr. Zakir Naik kembali mengingatkan akan Al-Maidah ayat 51 yang pada dasarnya dihentikan mengambil pemimpin lain selain muslim. 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kau mengambil orang-orang Yahudi dan Kristen menjadi auliya bagimu; sebahagian mereka ialah auliya bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kau mengambil mereka menjadi auliya, maka bahu-membahu orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah: 51) 
Sudah jelas, haram hukumnya menentukan pemimpin non muslim. Saya juga heran kenapa banyak orang yg ngakunya 'muslim' tapi masih mau menentukan pemimpin non muslim. Itu seolah-olah memperlihatkan bahwa mereka melanggar perintah yang Allah tetapkan. Naudzubillah, agar mereka diberi hidayah.
Jika kita bersama-sama bergantung padaNya, dimana pemimpin bertakwa kepada Allah dan berupaya sekuat tenaga memperlihatkan yang terbaik dan rakyat juga bertakwa kepada Allah proaktif memperlihatkan solusi (gak nunggu pemimpin superbener), inshaa Allah keberkahan terjadi.

Namun kemudian saya berpikir jauh. Apalagi sehabis audiens itu kembali bertanya, “Bagaimana dengan pemimpin muslim yang korupsi?” 

Nah..bagi saya, muslim itu punya paket-an antara kesesuaian pernyataan (ditandai dengan syahadat) dan perbuatan (amal shalih). Tidak dapat tidak.

Jika di KTP beliau muslim, sedangkan perilakunya tak beradab, bagaimana? Korupsi, iya. Ngurus rakyat kemarin, malah banyak menzhalimi. Menyakiti tetangga apalagi.

Simply, beliau bukan muslim secara akhlak. 

No, I'm not judging someone, really. Saya tidak akan menarik jauh-jauh untuk menyalahkan orang lain berjulukan pejabat atau politikus muslim yang korup. Namun ini sebagai upaya introspeksi diri. Sebagai seorang muslim, apakah sudah cukup saya berlindung di balik title muslim ini?

Bagi saya, kemusliman kita ialah long-life-learning. Diuji terus-menerus selagi nyawa masih dikandung badan. Bohong jikalau ada insan yang gak pernah diuji. Hanya saja, tahapan ujian tiap-tiap orang berbeda sesuai kadarnya masing-masing.

Ketika melihat ada kebaikan universal, tidak bertentangan dengan Alquran, baik dilakukan oleh muslim maupun non muslim, sepatutnya saya tergerak untuk terinspirasi, bahkan ingin melaksanakan kebaikan itu dengan lebih baik.

Berbuat amal shalih-lah, maka Allah dengan sendirinya menyebabkan seseorang established. 

At least, perbaiki lingkungan, bersedekah sesuai dengan ilmu yang shahih, kuatkan iman, and the key is.. istiqomah. 

Keep in fight!

Wallahu a'lam.

Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com

Senin, 04 September 2017

Berilmu, Lalu Beramal


Ramainya undangan Hijrah akhir-akhir ini menciptakan saya teringat akan arti dari hijrah itu sendiri. Apa itu hijrah?

Dalam bahasa Arab hijrah sanggup diartikan berpindah. Namun dalam Islam, hijrah bukan hanya sekedar berpindah. Hijrah dalam Islam maksudnya yaitu berpindah menuju sesuatu yg lebih baik.

Namun, dikala saya melihat di beberapa sosmed, terkadang saya kurang bahagia dengan beberapa posting akun-akun yang seolah menyerukan hijrah atau kehidupan muda-mudi islami. Kenapa?

Karena apa yang saya lihat di postingan mereka sebagian besar berisi ihwal nikah muda yang mana berdasarkan saya, postingan tersebut ditujukan untuk menggiring opini “lebih baik menikah daripada pacaran”.  

Well, saya oke dengan hal tersebut. Namun apa yang saya kurang suka ialah, posting tersebut bisa menciptakan orang yang mudah baper berlarut dalam ke-baperan-nya.

Jujur, saya suka risih dikala mendengar curhatan orang yang ikut menggencarkan nikah muda padahal beliau sendiri belum mempunyai pandangan apa itu nikah.

Bagi saya, nikah bukan hanya menghalalkan suatu korelasi antara lelaki dan perempuan. Namun lebih dari itu, dikala seseorang menikah, itu artinya mereka harus siap terhadap segala hal yang mungkin akan jauh lebih berat dari ekspektasi mereka ihwal pernikahan. Semisal, menjalin korelasi baik dengan mertua, menciptakan kehidupan layak untuk rumah tangga, mengasuh anak untuk menjadi shalih/shalihah, dan lain sebagainya.


Ditambah lagi dengan proses menuju pernikahan, yaitu ta'aruf. Memang benar, bagitulah proses yang halal jikalau sesuai dengan aturan Islam. Namun, dikala saya melihat dalam kehidupan nyata, cukup banyak oknum yang terlihat berpakaian islami dan menyerukan haramnya pacaran sedangkan mereka sendiri melakukannya dengan dalih ta'aruf. Padahal ta'aruf sendiri seharusnya dilakukan dengan hadirnya mahram. Bukan hanya berduaan.

Saya sangat menyayangkan apabila seseorang yang terlihat sanggup dijadikan contoh, tetapi ternyata apa yang beliau katakan mempunyai ketimpangan dengan apa yang beliau lakukan.

Saya tidak menyalahkan atau meremehkan mereka yang sudah berusaha berpakaian islami maupun mereka yang menyerukan untuk tidak berpacaran, ta'aruf, dan juga nikah muda. Namun alangkah lebih baiknya jikalau undangan tersebut tidak timpang dengan sikap mereka dan lebih bersikap bijak dalam memaknai suatu perintah dalam Islam.

Mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam goresan pena saya. Mari kita perbaiki diri menuju seorang muslim yang selalu berusaha melaksanakan semua sesuai dengan perintah Allah dan iktikad Islam yang benar. Terus belajar, jangan pernah merasa yang paling benar. Karena dikala kita merasa yang paling benar, disitulah posisi paling rawan kita dalam berpendapat. Ingat, diatas langit, masih ada langit :)

Berilmu tanpa amal, akan sia-sia. Parahnya lagi kalo berinfak tanpa ilmu, bisa sesat nantinya. Yuk ngaji! :)

Wallahu a'lam.

Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com

Minggu, 03 September 2017

Berkicaulah Yang Baik, Atau Diam


Kaprikornus ternyata, peristiwa-peristiwa kecil yang kita alami atau bahkan hanya sekedar hasil pengamatan kita atas orang lain bisa memperlihatkan pelajaran besar untuk kita. Ini gres terpikir oleh saya beberapa waktu yang kemudian ketika saya terlibat sebuah percakapan dengan seseorang.
Siang itu, seseorang mendekat, membuka percakapan dengan saya. Saya sama sekali tidak keberatan menanggapi sebuah percakapan, terlebih saya sedang tidak punya sesuatu yang harus dikerjakan. Tapi kemudian saya kecewa ketika ternyata yang hendak ia bicarakan yaitu wacana “orang lain”. Lebih tepatnya, “keburukan orang lain”. Dia seolah mengajak saya terlibat dalam sebuah diskusi mengenai seseorang yang sama-sama ada dalam daftar pertemanan kami. Seseorang itu, yang tengah ia bicarakan, memang tidak terlalu saya kenal secara personal meskipun kami sudah saling mengenal. Dan lagi, sekalipun tidak begitu dekat, saya tahu siapa keluarganya dan bagaimana keluarganya. Mereka, baik. Baik sekali. Sejauh saya mengenalnya (seseorang tadi). Ia, dimata saya yaitu sosok yang sangat baik, bersahaja, pintar, dan satu hal yang terpenting, ia punya prestasi yang bahkan tidak dimiliki oleh saya maupun orang yang tengah membicarakan keburukannya itu. Buat saya, itu poin yang sangat penting. Artinya, kami tidak lebih baik darinya, bukan?
Hal ini menciptakan saya bengong sedikit usang seusainya percakapan itu. Bahwa memang benar, mau jelek ataupun baik, akan selalu ada orang yang membicarakan kita di balik punggung kita.

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Dan janganlah kalian saling menggunjing. Adakah seorang diantara kau yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kau merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hujurat: 12). 
Saya tipe orang yang bersama-sama tidak suka ketika saya secara tidak sengaja harus berada dalam sebuah bulat dimana perbincangan di dalamnya yaitu seputar orang lain yang pada ketika itu, tidak ada dalam bulat itu. Dari kesemuanya, yang paling menciptakan saya kecewa yaitu bahwa kita, manusia-manusia pendosa ini, suka sekali meributkan urusan orang lain yang semestinya berada di luar jangkauan kita. Tidak semestinya kita melanggar batas itu. Bahwa orang lain berhak menjalani kehidupan atas pilihannya sendiri, bertindak atas kemauannya sendiri. Lalu kenapa kita sibuk menghujat mereka yang bahkan tidak merugikan hidup kita sama sekali hanya alasannya yaitu perbedaan pandangan, perbedaan prinsip? Hei, itu hak mereka, kita harus tahu.
Sesungguhnya, ketika kita punya pikiran jelek wacana orang lain, itu manusiawi. Tapi kemudian, kita harus terhenti pada tahap penilaian. Cukup ia ada di kepala kita saja. Tak usah dibicarakan kemana-mana, pada siapapun. Sungguh, itu kekanakan sekali. Lihat, nilai, diam, dan jadikan itu pelajaran untuk kita sendiri.
Dan lagi, satu poin terpenting yaitu ketika pertanggungjawaban atas perbuatan seseorang itu berada diantara ia dan Penciptanya, kenapa kita yang sibuk membicarakan dan menghakiminya? Bukankah hanya Allah satu-satunya yang berhak melakukannya?
Ini sebagai catatan untuk kita semua, termasuk saya sendiri.

Wallahu a'lam.

Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com

Auto Bersyukur


Perjalanan kemanapun yakni daerah merenung ternyaman kedua bagi saya. Saya dapat nangis, ngomong, dongeng sendiri tanpa orang lain tau dan peduli, dalam hati tentunya.

Pagi itu dalam perjalanan ke majelis ilmu, sempurna beberapa meter dari lampu merah, aku melihat ada sebuah gerobak dari kejauhan. Setelah beberapa menit mendekat, perenungan aku pun buyar. Mashaa Allah.. yang punya gerobak yakni bapak-bapak paruh baya, dengan 3 anaknya yang naik di atas gerobaknya. Sekilas tampaknya ketiga anaknya itu umurnya gak jauh beda.

Hmm gak kebayang kalo aku ada di posisi mereka. Entah aku sebagai orang tuanya, atau sebagai anaknya.

Apa ya yang bakal diucapin orang tuanya buat meyakinkan anaknya kalo mereka bakal baik baik aja di jalanan yang zuuuper duper panas? Trus, gimana kalo pada laper atau ngantuk, pada tidur dimana? Sementara gerobaknya diisi barang-barang yang dicari bapaknya. Dan bapaknya harus dorong gerobak yang berisi barang-barang dan ketiga anaknya. Keliling!

Trus gimana ya rasanya jadi anaknya itu, yang kalo liat belum dewasa lain dapat main sama anak sebayanya di komplek, jajan bareng, kalo sore ngaji bareng, atau liburan sama keluarga pas weekend. Duuh :(

Mau ngeluh juga niscaya mereka udah tau, gak akan berguna. Tapi gimana lagi yaa kan. Yang aku liat dari sekilas lewat waktu itu yakni mereka saling menguatkan. Jelas banget kalo anaknya akal-akalan happy, sedangkan bapaknya lagi istirahat dari "perjalanan” yang mungkin gak ada ujungnya. Mungkin anaknya akal-akalan happy ngeliat bapaknya capek, dan bapaknya juga gak nunjukin muka capeknya ke anak-anaknya. Terlepas dari benar atau gak evaluasi aku ini, tapi mereka luar biasa.

Lalu, aku cerminkan dengan diri aku yang setidaknya sudah tercukupi tapi masih sering aja ngeluh dari a hingga z. Astaghfirullah :'( Memang ya, kadang buat bersyukur itu harus disentil dulu pake cara-cara  kayak gini. Entah disentil atau dipukul dulu gitu, padahal mah harusnya udah auto bersyukur kan ya :( Semoga sentilan-sentilan lain bakal selalu ada sebagai reminder untuk butiran bubuk yang kurang bersyukur ini.

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)
Kau punya mata yang dengannya dapat melihat. Kau punya pengecap yang dengannya dapat membedakan rasa manis, pahit, asam atatupun asin.  Kau juga punya tangan & kaki yang dengannya kamu dapat produktif dalam beraktivitas. Nikmat yang udah Allah kasih ini, pernahkah sekali aja mensyukurinya? Karena wallahi, sesering apapun kamu mensyukurinya, itu gak akan pernah cukup apalagi seimbang dengan nikmat yang Allah kasih. Lalu sekarang, masih mau berharap ataupun mengeluh ihwal nikmat-nikmat lain yang hakikatnya bersifat sekunder?

Untuk setiap udara yang masih dapat kamu hirup, sudahkah kamu bersyukur? Untuk pagi hari yang begitu cerah ini, sudahkah kamu bersyukur? Untuk nikmat sarapan yang mengenyangkanmu pagi ini, sudahkah kamu bersyukur? Untuk kesempatan tetap bertemu keluargamu pagi ini, sudahkah kamu bersyukur?

Renungkanlah.

Wallahu a'lam.


Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com

Jumat, 01 September 2017

Waktu Dan Prioritas

Beberapa waktu belakangan ini aku sedang menghadapi hari-hari yang Alhamdulillah padat. Di satu sisi aku merasa senang dengan ke-hectic-an ini, namun di sisi lain aku juga merasa kewalahan. Senang, sebab dengan semua kesibukan ini, aku sanggup sedikit teralihkan dari memikirkan hal-hal negatif, perihal sudah menjadi eksklusif yang bermanfaatkah saya? Kapan aku sanggup membahagiakan keluarga saya, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang rasa-rasanya belum juga berujung sebuah jawaban. (loh malah curhat :p)
Sedih sebab seringkali aku belum sanggup memanage waktu aku dengan baik. Sehingga kadang dikala berhadapan dengan banyak deadline aku masih merasa keteteran bahkan kondisi tubuh malah drop. Akhirnya tidak maksimal disana sini. Rasa-rasanya waktu 24 jam sehari itu kurang sekali. Waktu rasanya cepat sekali bergulir. Padahal katanya kalau hingga kita merasa bahwa hari terasa cepat sekali berlalu artinya kita terlalu menikmati dunia kan. astaghfirullahal 'adzim :(


Kadang rasanya ingin serakah sanggup membagi waktu antara beristirahat, karir/studi, dan kehidupan sosial dengan baik. Tetapi ada teori yang menyatakan bahwa dari ketiga hal tersebut kita hanya sanggup menentukan dua diantaranya. Misal kita menentukan sosial dan karir/studi biar sanggup beriringan tapi di satu sisi kita niscaya akan kehilangan banyak waktu beristirahat. Begitu juga jikalau kita menentukan antara istirahat dan karir/studi, mungkin kita sanggup saja mendapat karir/studi yang cemerlang serta istirahat yang cukup. Akan tetapi kita akan kehilangan waktu kita untuk acara sosial kita contohnya bertemu teman-teman dan menjalin persahabatan. Dan bahkan jikalau kita menentukan kehidupan sosial dan istirahat maka kita akan kehilangan kesempatan kita untuk mendapat karir dan studi yang cermerlang. Pasti ada saja yang harus dikorbankan. Selain itu, mungkin sesungguhnya bukan kasus dilema waktu yang tidak cukup tetapi ini ialah dilema perihal mana yang menjadi prioritas kita.
Allah mengingatkan dalam Al-qur'an surat Al-insyirah ayat 7, yang artinya:
“Maka apabila engkau telah simpulan (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja (untuk urusan yang lain)”
Jadi, apabila kita telah simpulan mengerjakan suatu pekerjaan maka dianjurkan untuk bersegera mengerjakan pekerjaan lainnya. Dan kemarin aku mendapat bahan yang menarik bahwa kita harus memprioritaskan:
yang gampang di atas yang sulit.
yang singkat di atas yang memakan waktu lama.
yang terdiri dari satu permasalahan di atas banyak permasalahan.
yang mendesak dan apabila terlewat akan menjadikan hilangnya kesempatan di atas yang mendesak tetapi masih ada kesempatan lain.
yang menyangkut kepentingan lebih banyak orang di atas kepentingan sedikit orang.
yang menyangkut keluarga di atas orang lain.
yang wajib di atas yang sunnah, dan yang sunnah pun ada prioritasnya.

Dan ya, semoga kita sanggup mengamalkan ilmu yang didapat sedikit demi sedikit.

Wallahu a'lam bishowwab.

Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com

Kamis, 31 Agustus 2017

Menjaga Izzah Dan Iffah


Rasa aib itu mirip mahkota bagi para muslimah. Muslimah yang mempunyai rasa aib cenderung lebih bisa menjaga izzah dan 'iffahnya. Tentang rasa aib ini, para muslimah perlu mencar ilmu banyak dari Maryam & Fatimah.

Maryam pernah diuji dengan penampakan malaikat Jibril yang tampan lagi gagah, hingga dalam Al Qur'an dikiaskan sebagai “manusia yang sempurna” saking mempesonanya (lihat QS. Maryam ayat 17). Sedangkan Fatimah, pernah diuji dengan perasaan cintanya kepada Ali yang tumbuh sebelum waktunya.

Bagaimana Maryam dan Fatimah menyikapi ujian yang Allah datangkan tersebut ? 
Apakah ujian itu lalu menciptakan Maryam dan Fatimah jadi baperan ?

Nope, jawabannya tentu saja tidak. 

Lantas apa yang dilakukan Maryam?
Maryam kala itu, menentukan untuk bersikap elegan. Ditundukkannya pandangan dengan penuh rasa aib sekaligus takut kepada Allah. Lalu Maryam mengumpulkan segenap keberaniannya dan dengan tegas berkata: “Sungguh saya berlindung kepada Allah yang Maha Pengasih kepadamu, kalau engkau orang yang bertaqwa” (lihat QS. Maryam ayat 18).



Apakah Maryam sama sekali tidak kagum dengan penampakan malaikat Jibril yang terlihat begitu tampan dan gagah ? Tentu, Maryam kagum, namanya juga insan biasa, yang niscaya mempunyai fitrah menyukai hal-hal yang indah. Tapi kekaguman Maryam hanya sekedarnya saja. Tidak menjadikannya lantas bersikap 'berlebihan' hingga merendahkan harga dirinya sebagai perempuan.

Lalu bagaimana dengan Fatimah? 
Fatimah menentukan untuk menjaga kesucian hatinya dengan tidak mengumbar rasa sukanya. Makara kalau diibaratkan zaman now nih ya, Fatimah itu gak caper dan gampang baper.  Nge-fans nya Fatimah sama Ali gak mengakibatkan Fatimah itu stalking-in Ali terus atau komen-komen di postingan Ali. Apalagi hingga curcol di medsos, trus nge-tag Ali kasih aba-aba semoga Ali tau gimana perasaannya. Fatimah mah kalem aja. Dan ya, jangankan Ali, setan aja gak diberikan kesempatan tuh untuk tau bahwa ia sedang jatuh cinta. Mashaa Allah.

Begitulah, muslimah yang shalihah itu layaknya Maryam dan Fatimah. Besar sekali rasa malunya. Tidak gampang baperan dan tidak juga caperan. Mereka benar-benar menjaga rasa malunya alasannya yakni kuatnya keimanan mereka kepada Allah. Oleh kesudahannya tidak heran kalau lalu Maryam dan Fatimah dijamin masuk surga.

Lantas bagaimana dengan kita, ukhti fillah ? 
Susah ? iya, niscaya mah itu. Gak ada yang gampang kalo jaminannya sesuatu yang besar kan yaa, hehe.

Kuy lah, kita jadikan mereka panutan dan teladan. 
Semoga kita diistiqomahkan dalam taat, senantiasa meluruskan niat alasannya yakni Allah, dan kelak menjadi bab dari hamba-hamba Allah yang dirindukan syurga. Aamiin. 

Semangat berjuang dan istiqomah, ya ! :) 

Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com

Perasaan Tidak Berdosa


Jangan pernah merasa bahwa diri kita suci, merasa diri mulia, merasa diri paling agung, merasa diri paling benar, merasa diri paling hebat, dan merasa diri penuh dengan kelebihan. Jangan pernah menganggap bahwa diri kita tidak punya salah sama sekali. Terlebih, jangan pernah menganggap diri kita tidak punya dosa terhadap Allah dan sesama manusia. Sebab 'perasaan tidak berdosa' itu yakni dosa.
Sebagai seorang mukmin kita di tuntun dalam ibadah yang sangat agung yaitu sholat, misalnya. Dzikir yang di tuntun pertama seusai sholat yakni istighfar. Bahkan dalam ibadah pun juga perlu di istighfari. Ini merupakan salah satu upaya semoga kita tidak merasa diri ini paling suci dan paling benar. Agar kita tidak merasa besar hati dengan segala ibadah kita. Apalagi ibadah yang lain, terutama ucapan kita yang terkadang sering menyalahkan orang lain. Menganggap orang lain jelek dan salah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak membutuhkan ibadah kita sedikitpun. Oleh lantaran itu jangan merasa diri kita begitu suci. Jangan hingga di dalam hati kita merasa bila kita telah memberi jasa kepada Allah dengan keislaman kita, dengan ibadah kita, dengan ketaatan dan amalan-amalam sholih kita. Allah mulia, Allah sempurna, titik. Maka perilaku itu sama sekali tidak akan mengurangi kemuliaan Allah sedikitpun. Kesempurnaan, kesombongan, kemuliaan itu yakni 'pakaian'-nya Allah, kemudian kita siapa yang ingin ikut-ikutan memakai pakaian tersebut ?

Hati-hati, tatkala hati sudah merasa suci. Hati-hati tatkala hati sudah merasa besar hati terhadap diri dan gemar menyalahkan orang lain. Maka dia akan merasa kondusif akan siksanya Allah, akan merasa kondusif dengan bahaya Allah. Perasaan merasa paling suci yakni sesuatu hal yang mengakibatkan kita menjadi insan yang rugi. Apalagi bila diiringi dengan perilaku meremehkan orang lain yang melaksanakan kesalahan.


Kita seharusnya yakin bahwa tidak ada yang lebih indah selain hidayah dari Allah. Maha Baiknya Allah yang telah memperlihatkan kita hidayah untuk berada ditempat yang lebih baik dari kemarin, diberikan petunjuk, dituntun ke jalan yang lurus. Bersyukurlah.

Dan lagi, istiqomah itu mahal, maka jangan buat verbal kita gampang menyalah-nyalahkan orang lain. Jangan kotori hati kita dengan penyakit yang mengikis habis amalan-amalan kita.
Bersihkan hati dari perilaku merasa diri 'paling benar'. Selalu minta hidayah kepada Allah. Sebab mencar ilmu tidak cukup sehari dua hari kemudian sehabis itu kita bebas menyalahkan orang lain. Tidak. Salah dan benar itu hanya Allah yang tau.

Lalu, ridho siapa yang ingin kamu gapai ? Surga mana yang ingin kau masuki ? Jika kepada saudara sesama muslim-mu pun kau menatapnya dengan sinis, menganggapnya lebih rendah, kemudian merasa diri paling benar. Na'udzubillahi mindzalik, Semoga Allah melindungi kita, mengampuni kita dan menjauhkan kita dari perangai-perangai jelek tersebut, aamiin.

wallahu a'lam bishowwab.

Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com

Rabu, 30 Agustus 2017

Pusaran Kebaikan


Sudah menjadi fitrah insan bahwa insan tidak dapat hidup sendiri. Sejak insan itu dilahirkan hingga kemudian kelak meninggal dunia, insan butuh insan lainnya. Bahkan kadang untuk melaksanakan sebuah kebaikan sekalipun, kita butuh santunan orang lain.
Kebutuhan terhadap orang lain itulah yang kemudian secara alamiah menggerakkan kita untuk mencari komunitas. Biasanya kita akan cenderung pada orang-orang yang satu frekuensi. Entah itu sebab kesamaan pemikiran, kesamaan hobi, kesamaan ideologi, kesamaan kebiasaan, bahkan kesamaan tujuan.

Dalam Islam kita diarahkan untuk berkumpul dengan orang-orang sholeh. Bukan berarti islam itu eksklusif. Perintah untuk berkumpul dengan orang-orang sholeh itu lebih ditekankan pada hal-hal yang bersifat prinsipil. Misalnya yang terkait dengan iman dan ibadah. Dari sanalah kemudian muncul istilah pengajian, mentoring ataupun liqo’.

Mengapa Islam menekankan pentingnya berkumpul dengan orang-orang sholeh? Karena berkumpul dengan orang-orang sholeh menyerupai kita mendekat pada pusaran kebaikan. Yang namanya pusaran biasanya menarik hal-hal yang ada di sekelilingnya. Nah, Kalau kita mendekat pada pusaran kebaikan, maka pusaran itu akan menarik kita semoga terus berada dalam jalur kebaikan.


Perlu usaha semoga kita dapat istiqomah dalam keimanan. Mendekati pusaran-pusaran kebaikan ialah salah satu upaya untuk dapat terus istiqomah. Sebab ketika iman mulai lemah, kita butuh orang-orang sholeh yang bersedia untuk terus mengingatkan dan menasehati kita semoga tetap berada dalam kebenaran dan kesabaran.

Maka, kemanapun takdir membawamu, dekatilah selalu pusaran-pusaran kebaikan itu.

Wallahu a'lam.

Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com

Kamis, 24 Agustus 2017

Fitrah Dan Fitnah

Saya tidak dapat menyalahi fitrah, alasannya ia turun pribadi dari tangan Yang Maha Kuasa. Tapi, saya sadar ketika saya sudah mengenyampingkan rasa suka ini menjadi fitnah, maka hancurlah saya.
Fitrah dan fitnah tidak akan pernah berteman baik alasannya keduanya yakni sesuatu yang bertolak belakang.
Rasa suka itu fitrah. Namun, bagaimana ia tetap fitrah yakni tanggung jawab kita pada diri sendiri dan amanah dari Allah untuk tetap kita pertahankan secara fitrahnya, sesuai dengan yang Allah suka.

Mungkin kita akan membisu ketika rasa suka itu menjalari perasaan. Bukankah itu yang seharusnya kita lakukan? Tidak mengumbarnya, atau malah menginginkan beliau menyukai kita juga. Bukankah itu hampir menjurus ke fitnah?
Fitrah yang melenceng kepada fitnah, bentuknya juga dapat berupa, 'setiap dikala kalian panjatkan doa untuknya. Kau berkata bahwa kamu menyerahkan perasaan ini sepenuhnya kepada Allah, namun kenyataannya, kamu mengkhianati kata-kata itu dengan kamu mengingatnya sepanjang hari. Hingga kamu lupa kepada Allah.'
Seharusnya, jikalau benar kamu anggap perasaanmu sebagai fitrah, maka hentikan tindakan terbelakang yang semakin membuatmu jauh dari Allah. Yang membuatmu berangan-angan, padahal 99,99% kemungkinan lain akan terjadi.

Sebutlah beliau sesekali dalam doamu, jikalau memang alasannya Allah. Sebutlah, sebutlah saja terus. Hingga tak ada lagi ruang untuk kamu sebut namanya di luar doamu. Hingga tak ada lagi ruang untuk kamu memunculkan wajahnya dalam benakmu. Karena telah habis, kamu tumpah ruahkan nama dan bayangannya dalam doamu. Sungguh, lebih baik kamu sebut dan hadirkan beliau dalam doa daripada beliau mengontrol setiap hati, gerak-gerik serta pikiranmu.
Semoga kita semakin mengerti, apa itu fitrah dan apa itu fitnah. 

Wallahu a'lam.

Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com

Minggu, 20 Agustus 2017

Yang Belum Halal

Setan: “Kalian berdua cocok sekali lho. Sudah, kalau beliau lambat, lebih baik kau yang lebih dahulu kode-kode saja. Aku yakin, bahu-membahu rahasia kalian berdua itu saling kagum bahkan saling suka. Sekarang coba kau ngaca, kenali dirimu. Siapa sih yang nggak mau sama perempuan macem kamu? Kamu juga. Bukannya kau sedang ingin memperdalam agama? Kamu butuh teman yang elok agamanya. Mumpung ada yang sealim dia, coba aja kau dekati. Coba kau pikirkan, kapan lagi kecocokan berbanding lurus dengan kesempatan? Tunggu apalagi? Minimal kode-kode sana. Buruan nanti diambil cewek lain yang lebih sering interaksi sama dia!”

Malaikat: “Kamu sudah siap? Seshalih/shalihah apapun manusia, sesuami-able se-istriable apapun manusia, itu semua bukan alasan untuk melegitimasi sikap kita yang menyimpang dari apa-apa yang Dia perintahkan. Bukannya sebelum halal maka hati itu harus dijaga hanya untuk Tuhan? Meskipun kalian nggak pacaran, kalau saling kode-kode bagaimana? Status memang single, hanya bersama Tuhan. Tapi, bila begitu, hatimu dengan siapa? Yakin hatimu cuma buat Tuhan? Soal interaksi, seharusnya kau paham bahwa pria yang benar-benar taat akan paham bahwa perempuan yang baik yaitu perempuan yang menjaga interaksinya sebaik mungkin. Jika memang beliau lebih menentukan perempuan lain yang sering berinteraksi dengan dia, biarkan. Itu tandanya beliau tidak seprinsip denganmu, atau bahkan beliau memang bukan orang yang sempurna untuk kau yang mati-matian berguru fokus untuk Dia. Ingat, yang terbaik akan menemukan yang terbaik. Kamu yang mana? Mau bersabar walau sakit? Atau mau bar-bar dalam kesenangan semu? Ingat, hidupmu untuk apa.”

Hayoo..paling sering siapa yang bisikin ? Setan atau malaikat? hehe.
Semoga dengan renungan ini, kita dapat tetap istiqomah dalam menjaga diri & hati. Yakin saja, Percayakan kepada-Nya :)


Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com

Jumat, 18 Agustus 2017

Menjaga Diri

Are you single? Are you sure?

Biasanya ikhwan ataupun akhwat itu single alias jomblo. Tapi apakah benar mereka single 100%? Begini. Tujuan saya menciptakan goresan pena ini yakni sebagai bentuk kritik membangun bagi para ikhwan maupun akhwat. Saya rasa semua setuju bila menjaga diri, menjaga kehormatan diri itu perlu dan harus. Saya rasa semua setuju bila pacaran itu memang dihentikan dalam agama, dan niscaya para pelopor dakwah tau hal ini dengan sangat baik. 

Memang, jarang saya temui ikhwan/akhwat yang rahasia pacaran. Yaa alasannya mereka benar-benar single. 

Oke ganti topik. Sekarang media umum sudah bukan menjadi hal yang wow. Iya kan? Whatsapp, BBM, Viber, Instagram, Facebook, Twitter, Line, G+ dan masiiih banyak lagi. Disinilah titik yang ingin saya kritisi. 

Oke, memang yang namanya ikhwan akhwat jarang banget interaksi empat mata. Rapat aja mesti pake hijab. Kaprikornus nggak bisa saling tatap muka. Oke, itu memang udah cukup baik. Dan memang sudah seharusnya begitu.

Tapi bagaimana bila di media sosial? Apakah hijab atau batasan masih ada? Masih dijaga? Terlebih komunikasinya pake private message. Pembicaraan hanya dua arah. Hanya kamu dan aku. Kalo saya, grup whatsapp boleh hidup hanya hingga jam 9 malam. Tapi apakah itu juga diberlakukan bagi para pelopor dakwah? Pembicaraan dua arah atau private message biasanya dilakukan bisa hingga lebih dari jam 9 malam. Inilah salah satu titik yang sebaiknya diperbaiki. 

Maaf. Afwan. Afwan binggo. Saya jujur kurang suka pada ikhwan ataupun akhwat dimana ia mempunyai sobat komunikasi secara rutin dua arah. Misal sudah menjadi keseharian bagi ia untuk berkomunikasi via whatsapp atau yang lain. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi saya rasa bila yang dibicarakan problem dakwah tidak perlu menjadi suatu rutinitas. Bisa dibahas di grup whatsapp dimana pembicaraannya lebih dari dua arah atau mungkin bisa dikupas tuntas dikala syuro’.

Ganti topik. Tidak baik bagi ikhwan ataupun akhwat saling main kode-kodean. Saling komentar di instagram, facebook atau yang lainnya. Oh please! Cukup kode-kodean pada ia yang Allah gariskan untuk kita. Kode-kodean lewat doa maksudnya. Itu jauh lebih baik. Daripada kita main kode-kodean di media umum lagi, bisa menjadikan fitnah saudara-saudara!

Saya? Saya? Saya jauh dari kesempurnaan. Saya juga pernah lepas kontrol dalam penjagaan diri. Tapi, saya berusaha. Ya berusaha. Ya alasannya saya sadar betul. Saya tidak punya apa-apa, harta itu milik Allah yang Allah titipkan ke orang bau tanah saya. Saya masih belum bisa cari makan dari hasil keringat sendiri. Saya. Saya seorang perempuan. Saya bisa apa kalo udah dijahatin laki-laki. Nah, upaya penjagaan diri inilah yang saya rasa harus saya lakukan sebagai bentuk ikhtiar untuk menjadi insan yang lebih baik. Saya tidak punya harta tapi saya punya harga diri. Saya tidak punya kekuatan untuk melawan pria tapi saya berusaha membangun benteng semoga pria tidak bisa menembus benteng yang saya bangun. 

Intinya. Saya berharap bila ikhwan / akhwat mulai lebih bisa menjaga diri di media sosial. Menjaga diri. Menjaga kehormatan diri. Daripada main kode-kodean nggak jelas, eksklusif aja pergi ke KUA. Bicarakan sesuatu seperlunya dalam pembicaraan dua arah. Jika bercanda pastikan itu tidak bercanda dalam komunikasi dua arah. Cinta bisa hadir dari canda. Optimalkan fungsi grup komunikasi. Optimalkan syuro’. Tuntaskan sekalian segala bahasan dakwah disitu. Biar tidak ada tambahan yang dipakai sebagai modus untuk memulai pembicaraan dua arah.

Afwan. Afwan. Manusia hidup untuk apa bila tidak untuk memperbaiki diri. Begitupun dengan saya. Tulisan ini saya buat bukan hanya semata-mata mengkritisi orang lain tapi juga sebagai bentuk hikmah diri. Dan langkah awal saya untuk mengikrarkan bila saya sedang berusaha menjaga diri. Jika mungkin di lain waktu saya lepas kendali, mungkin goresan pena ini bisa menjadi reminder saya untuk ‘kembali pada Cikal yang sebenarnya.’

Wallahu a'lam.

Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com

Kamis, 17 Agustus 2017

Ular Atau Kue

Jika di hadapanmu ada dua hal: ular berbisa dan masakan ringan elok favorit, mana yang akan kamu perhatikan? — Aa’ Gym

Ular atau kue? Secara naluri, kita lebih suka memperhatikan hal-hal yang kita sukai dan mengabaikan hal-hal yang tidak kita sukai. Seharusnya KUE, kan? Tapi sayangnya, balasan yang sempurna untuk pertanyaan di atas adalah..ULAR.

Kue yakni kiasan untuk banyak sekali macam perkataan makhluk yang lazim kita dengar sebagai pujian. Ohya, jujur saja, memangnya siapa di dunia ini yang tidak suka dengan pujian?

Sedangkan ular yakni kiasan untuk banyak sekali macam kata-kata yang kita persepsikan sebagai kritikan, yang yah… akui sajalah kalau itu lebih sering menciptakan kita kurang nyaman.

Kritikan memang pahit, bahkan menyakitkan. Tapi bagaimana kalau itu yakni cara Allah biar kita memperbaiki diri? Bukankah itu jauh lebih baik daripada kita yang besar hati berselimutkan kebanggaan manusia, padahal mereka tidak tahu sebusuk apa kita. Bagaimana kalau kebanggaan menciptakan kita berhenti untuk memperbaiki diri, tidakkah itu lebih mengerikan?

Yuk, sama-sama berlatih untuk lebih peduli dengan “ular” daripada “kue”.

Sehingga saat kita memperbaiki diri terus menerus, mudah-mudahan Allah berkenan mengakibatkan kita sebagai jalan perubahan bagi keluarga kita untuk menjadi lebih baik pula.

Wallahu a'alam.


Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com

Selasa, 15 Agustus 2017

Kuantitas Dan Kualitas

Andaikan sebuah kemenangan ditentukan oleh kuantitas, maka sudah seharusnya pada dikala perang Badar dahulu umat Muslim terkalahkan.

Andaikan sebuah kemenangan ditentukan oleh kuantitas, maka sudah seharusnya umat Muslim dapat dalam sekejap itu menang melawan pasukan Byzantium menaklukkan konstantinopel.

Andaikan kuantitas yaitu jaminannya.

Namun sayang.. bagi Allah kuantitas bukanlah penentu suatu kualitas. Ketika umat muslim di dunia berjumlah sangat banyak, namun pada kenyataannya dunia semakin bermuram durja. Dunia semakin jauh dari kata keadilan. Dunia semakin terpuruk, merana tahta dan kualitas. Dunia semakin tercekik oleh keserakahan. Dunia hilang arah, kemana seharusnya beliau menuju.

Kuantitas tak selamanya menjadi penentu baiknya kualitas.

Kini hadirlah kita pada suatu zaman dimana umat Islam menyerupai buih di lautan. Mengambang, terombang-ambing begitu saja tanpa tujuan. Mau kemana, ya mengikuti ombak. Sayang, beliau tidak punya pendirian. Desiran yang dahsyat lalu menghilangkannya.


Tidak malukah kita pada Rabb semesta alam? Dia memandangi dan mengawasi kita setiap saat. Memperhatikan walau kita tidak sadar. Menguji kualitas iman, bukan hanya sekedar menghendaki berjalannya kuantitas para p0juang Islam. Ingat, kuantitas itu hanyalah tampilan. Sementara kualitas memilih segalanya.

Kini aku berjalan di muka bumi, dimana muslim menyerupai buih di lautan. Tapi, itu terkhusus bagi umat Islam yang hanya sekedar status, hanya sekedar berjalan di muka bumi. Tanpa memandang tujuan, menghadapi halang rintang dan menggapai cita-cita.

Seperti buih, terombang-ambing tidak menentu.

Saya? Saya tidak mau menjadi muslim yang demikian. Karena aku tahu, Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam tidak begitu. Dia yaitu panutan utama aku dan beliau tidak ajarkan kita menjadi muslim yang menyerupai buih.

Tidak semenyedihkan itu.

Bagaimana dengan kalian? Maukah berjuang untuk tidak menjadi menyerupai buih di lautan? Maka, mari tingkatkan kualitas. Karena sebenarnya setiap ujian dan halang-rintang yaitu demi tercapainya kualitas tinggi di hadapan Allah.

Semoga kita istiqomah dijalan-Nya, aamiin.

Sumber http://ismimiitsme.blogspot.com