Ada beberapa karakteristik gaya berguru yang perlu kita ketahui, berikut ini karakteristik gaya berguru seseorang yang sanggup kita jadikan anutan atau pemberian didalam mengenal akseptor didik kita di dalam hal belajar.
Visual
Gaya, Belajar melalui pengamatan: mengamati peragaan
Membaca, Menyukai deskripsi, sehingga seringkali ditengah-tengah membaca berhenti untuk membayangkan apa yang dibacanya.
Mengeja, Mengenali abjad melalui rangkaian kata yang tertulis
Menulis, Hasil goresan pena cenderung baik, terbaca jekas dan rapi.
Ingatan, Ingat muka lupa nama, selalu menulis apa saja.
Imajinasi, Memiliki imajinasi besar lengan berkuasa dengan melihat detil dari gambar yang ada.
Distraktibilitas, Lebih gampang terpecah perhatiannya bila ada gambar.
Pemecahan, Menulis semua hal yang dipikirkan dalam suatu daftar.
Respons terhadap periode kosong aktivitas, Jalan-jalan melihat sesuatu yang sanggup dilihat.
Respon untuk situasi baru, Melihat sekeliling dengan mengamati struktur.
Emosi, Praktis menangis dan marah, tampil ekspresif
Komunikasi, Tenang tak banyak bicara panjang, tak sabaran mendengar, lebih banyak mengamati.
Penampilan, Rapi, paduan warna senada, dan suka urutan.
Respon terhadap seni, Apresiasi terhadap seni apa saja yang dilihatnya secara mendalam dengan detil dan komponen, daripada karya secara keseluruhan.
Auditori
Menulis, Hasil goresan pena cenderung tipis, seadanya
Ingatan, ingat nama lupa muka,ingatan melaui pengulangan.
Imajinasi, Tak mengutamakan detil, lebih berpikir mengandalkan pendengaran.
Distraktibilitas, Praktis terpecah perhatiannya dengan suara.
Pemecahan, Pemecahan duduk kasus melalui lisan.
Respons terhadap periode kosong aktivitas, Ngobrol atau bicara sendiri.
Respon untuk situasi baru, Bicara wacana pro dan kontra.
Emosi, Berteriak kalau bahagia, gampang meledak tapi cepat reda, emosi tergambar terperinci melalui perubahan besarnya nada suara, dan tinggi rendahnya nada.
Komunikasi, Senang mendengar dan cenderung repetitif dalam menjelaskan.
Penampilan, Tak memperhatikan harmonisasi paduan warna dalam penampilan.
Respon terhadap seni, Lebih menentukan musik. Kurang tertarik seni visual, namun siap berdiskusi sebagai karya secara keseluruhan,tidak berbicara secara detil dan komponen yang dilihatnya.
Kinestetik
Gaya, Belajar melalui melaksanakan sesuatu secara langsung
Membaca, Lebih mempunyai bacaan yang semenjak awal sudah menawarkan adanya aksi.
Mengeja, Sulit mengeja sehingga cenderung menulis kata untuk memastikannya
Menulis, Hasil goresan pena "nembus" dan ada tekanan besar lengan berkuasa pada alat tulis sehingga menjadi sangat terperinci terbaca.
Ingatan, Lebih ingat apa yang sudah dilakukan, daripada apa yang gres saja dilihat atau dikatakan.
Imajinasi, Imajinasi tak terlalu penting, lebih mengutamakan tindakan/kegiatan.
Distraktibilitas, Perhatian terpecah melalui pendengaran
Pemecahan, Pemecahan duduk kasus melalui kegiatan fisik dan aktivitas.
Respons terhadap periode kosong aktivitas, Mencari kegiatan fisik bergerak.
Respon untuk situasi baru, Mencoba segala sesuatu dengan meraba, mencicipi dan memanipulasi.
Emosi, Melompat-lompat kalau gembira, memeluk, menepuk, dan gerakan badan keseluruhan sebagai luapan emosi.
Komunikasi, Menggunakan gerakan kalau bicara, kurang bisa mendengar dengan baik.
Penampilan, Rapi, namun cepat acak-acakan alasannya kegiatan yang dilakukan
Respon terhadap seni, Respons terhadap musik melalui gerakan. Lebih mempunyai patung, melukis yang melibatkan kegiatan gerakan.
Sekarang coba kenali karakteristik gaya berguru anak didik Anda di sekolah atau anak kita yang dirumah atau karakteristik gaya berguru kita sendiri. [DR. Reni Akbor Howodi Psi]
Video pilihan khusus untuk Anda 😊 Kebudayaan itu perlu kita lestarikan, salah satunya ialah maminta gondang;
Seandainya dari seribu penduduk Indonesia disurvei dan ditanya apakah mengenal Christa Lorenzia Soesanto, salah satu pemenang first class honour dalam ajang 12th Po Leung Kuk Primary Mathematics World Contest 2008. Mungkin yang mengenal Christa ini kesudahannya akan mendekati nol, alasannya ialah Christa ini hanyalah anak SD yang memiliki impian besar untuk Indonesia.
Apa yang disampaikan Christa seetelah mengikuti 12th Po Leung Kuk Primary Mathematics World Contest 2008 yang diadakan di Hongkong, 12-16 Juli 2008, mengaku akan terus menekuni bidang studi matematika dengan harapan sanggup mengharumkan nama bangsa dan negara, supaya orang-orang Indonesia tidak selalu dicap bodoh,".
Sebuah impian yang sangat mulia dari seorang anak wanita dan masih berstatus sebagai pelajar di SD (SD). Apa yang disampaikan Christa diatas kiranya sanggup dibantu oleh orang renta dan terkhusus guru dalam memperkenalkan matematika kepada anak-anak.
Christa ialah salah satu dari jutaan anak yang bergotong-royong sangat ingin mempelajari matematika, tetapi alasannya ialah pendekatan dan taktik yang salah dilakukan oleh guru sehingga pandangan anak terhadap matematika menjadi berubah. Sehingga secara umum matematika di mata belum dewasa ialah sesuatu yang sangat menakutkan.
Dengan saling menyebarkan informasi yang kita miliki ialah salah satu cara kita semoga sanggup lebih gampang dalam memahami sesuatu hal yang belum kita pahami. Pada postingan sebelumnya kita telah coba menyebarkan informasi tetang pendekatan pembelajaran, kini kita coba berdiskusi dan saling menyebarkan perihal taktik pembelajaran.
PENGERTIAN STRATEGI
Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan, selanjutnya diturunkan ke dalam taktik pembelajaran. Strategi dalam acara pembelajaran sanggup diartikan dalam pengertian secara sempit dan pengertian secara luas.
Dalam pengertian sempit bahwa istilah taktik itu sama dengan pengertian metode yaitu sama-sama merupakan cara dalam rangka pencapaian tujuan.
Dalam pengertian luas sebagaimana dikemukakan Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur taktik dari setiap usaha, yaitu:
Mengidentifikasi dan memutuskan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
Mempertimbangkan dan menentukan jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
Mempertimbangkan dan memutuskan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh semenjak titik awal hingga dengan sasaran.
Mempertimbangkan dan memutuskan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.
Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:
Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil sikap dan langsung penerima didik.
Mempertimbangkan dan menentukan sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
Mempertimbangkan dan memutuskan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.
Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa taktik pembelajaran ialah suatu acara pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa semoga tujuan pembelajaran sanggup dicapai secara efektif dan efisien.
Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, (Wina Senjaya, 2008) menyebutkan bahwa dalam taktik pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa taktik intinya masih bersifat konseptual perihal keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.
Dilihat dari strateginya, pembelajaran sanggup dikelompokkan ke dalam dua bab pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008).
Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, taktik pembelajaran sanggup dibedakan antara taktik pembelajaran induktif dan taktik pembelajaran deduktif.
Mudah-mudahan klarifikasi sederhana perihal pengertian Strategi Pembelajaran ini membantu dan para guru dengan taktik pembelajaran yang sempurna akan menghasilkan 'Christa' yang banyak, dimana belum dewasa mencintai matematika.
Video pilihan khusus untuk Anda 😊 Masih menganggap matematika hanya hitung-hitungan semata, mari kita lihat kreativitas siswa ini;
Harapan setiap orang renta dan guru ialah generasi-generasi cilik bisa memperbaiki Indonesia ini nantinya menjadi negara yang berhasil atau negara yang berkembang.
Salah satu langkah dasar dalam mempersiapkan generasi cilik Indonesia yang berhasil ialah dari dunia sekolah. Pada dunia sekolah ini, guru menjadi ujung tombak dalam membentuk abjad generasi cilik biar nantinya menjadi ibarat apa dan mau jadi apa.
Untuk membentuk abjad ini dibutuhkan metode pembelajaran yang tepat, dan sebelum kepada metode pembelajaran yang sempurna ada baiknya kita coba mengenal terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan metode pembelajaran.
METODE PEMBELAJARAN
Metode merupakan langkah operasional dari seni administrasi pembelajaran yang dipilih dalam mencapai tujuan belajar, sehingga bagi sumber berguru dalam memakai suatu metode pembelajaran harus diubahsuaikan dengan jenis seni administrasi yang digunakan. Ketepatan penggunaan suatu metode akan memperlihatkan fungsionalnya seni administrasi dalam kegiatan pembelajaran.
Istilah metode sanggup dipakai dalam banyak sekali bidang kehidupan, alasannya ialah secara umum berdasarkan kamus Purwadarminta [1976], metode ialah cara yang telah teratur dan terfikir baik-baik untuk mencapai sesuatu maksud. Sedangkan berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, metode ialah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Metode berasal dari kata method [Inggris], artinya melalui, melewati, jalan atau cara untuk memeroleh sesuatu.
Berdasarkan pengertian tersebut di atas terang bahwa pengertian Metode pada prinsipnya sama yaitu merupakan suatu cara dalam rangka pencapaian tujuan, dalam hal ini sanggup menyangkut dalam kehidupan ekonomi, sosial, politik, maupun keagamaan.
Unsur–unsur metode sanggup meliputi prosedur, sistimatik, logis, berkala dan acara untuk mencapai tujuan. Adapun metode dalam pembahasan ini yaitu metode yang dipakai dalam proses pembelajaran.
Pembelajaran sanggup diartikan sebagai setiap upaya yang sistimatik dan disengaja untuk membuat kondisi-kondisi biar kegiatan pembelajaran sanggup berjalan secara efektif dan efisien. Dalam kegiatan pembelajaran tersebut tidak sanggup lepas dari interaksi antara sumber berguru dengan warga belajar, sehingga untuk melakukan interaksi tersebut diharapkan banyak sekali cara dalam pelaksanaannya.
Interaksi dalam pembelajaran tersebut sanggup diciptakan interaksi satu arah, dua arah atau banyak arah. Untuk masing-masing jenis interaksi tersebut maka terang diharapkan banyak sekali metode yang sempurna sehingga tujuan selesai dari pembelajaran tersebut sanggup tercapai.
Metode dalam pembelajaran tidak hanya berfungsi sebagai cara untuk memberikan materi saja, alasannya ialah sumber berguru dalam kegiatan pembelajaran memiliki kiprah cakupan yang luas yaitu disamping sebagai penyampai informasi juga memiliki kiprah untuk mengelola kegiatan pembelajaran sehingga warga berguru sanggup berguru untuk mencapai tujuan berguru secara tepat.
Jadi, metode pembelajaran sanggup diartikan sebagai cara yang dipakai untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan kasatmata dan mudah untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Berdasarkan hal tersebut maka kedudukan metode dalam pembelajaran memiliki ruang lingkup sebagai cara dalam:
Pemberian dorongan, yaitu cara yang dipakai sumber berguru dalam rangka memperlihatkan dorongan kepada warga berguru untuk terus mau belajar
Pengungkap tumbuhnya minat belajar, yaitu cara dalam menumbuhkan rangsangan untuk tumbuhnya minat berguru warga berguru yang didasarkan pada kebutuhannya
Penyampaian materi belajar, yaitu cara yang dipakai sumber berguru dalam memberikan materi dalam kegiatan pembelajaran
Pencipta iklim berguru yang kondusif, yaitu cara untuk membuat suasana berguru yang menyenangkan bagi warga abelajar untuk belajar
Tenaga untuk melahirkan kreativitas, yaitu cara untuk menumbuhkan kreativitas warga berguru sesuai dengan potensi yang dimilikinya
Pendorong untuk evaluasi diri dalam proses dan hasil belajar, yaitu cara untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran
Pendorong dalam melengkapi kelemahan hasil belajar, cara untuk untuk mencari pemecahan duduk masalah yang dihadapi dalam kegiatan pembelajaran
Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya dipakai banyak sekali metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, seni administrasi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode ialah “a way in achieving something” [Wina Senjaya (2008)].
Jadi, metode pembelajaran sanggup diartikan sebagai cara yang dipakai untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan kasatmata dan mudah untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang sanggup dipakai untuk mengimplementasikan seni administrasi pembelajaran, diantaranya:
ceramah;
demonstrasi;
diskusi;
simulasi;
laboratorium;
pengalaman lapangan;
brainstorming;
debat,
simposium, dan sebagainya.
Penjelasan singkat wacana metode pembelajaran diatas mungkin belum masih banyak kekurangan dan mungkin akan kami tambahakan pada artikel berikutnya, dimana sebelumnya sudah kita coba berdiskusi wacana pendekatan pembelajaran dan strategi pembelajaran.
Video pilihan khusus untuk Anda 😊 Contoh Proses Belajar Mengajar yang dianjurkan pada Kurikulum 2013;
Untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional kali ini saya sendiri galau mau nulis apa, soalnya saya galau wacana sistem pendidikan di Indonesia ini. Baca surat kabar hari ini, surat kabar banyak membicarakan polemik pendidikan dan Ujian Nasional.
Karena masih galau saya coba membuatkan goresan pena di Hari Pendidikan Nasional yaitu wacana 'Pendidikan Gagal Membentuk Karakter Anak Bangsa'
Pada zaman orde gres ketika animo penataran P4 untuk pelajar Sekolah Menengah Pertama hingga mahasiswa perguruan tinggi negeri maupun swasta, juga PNS di semua forum di negeri ini, para penatar Garis-garis besar Haluan Negara (GBHN) dengan besar hati menyebutkan bahwa untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Indonesia, kita mempunyai tiga macam modal dasar yakni sumber daya alam (SDA) yang melimpah, daerah/wilayah tanah air yang amat luas, mulai dari Sabang hingga Merauke di Irian Jaya dan jumlah penduduk yang besar (lebih dua ratus juta jiwa). Pada waktu itu semua penerima penataran meng-amin-kan, tak seorangpun yang membantah.
Namun sehabis dinantikan dalam kurun waktu yang cukup usang kemakmuran itu tak kunjung datang, entah kemana perginya. Bahkan yang muncul ialah krisis moneter, krisis ekonomi, berlanjut krisis multi dimensi (1997-1998) kemudian di masa globalisasi remaja ini muncul pula krisis global. Ya, krisis dan krisis lagi, kemakmuran ternyata masih jauh dari harapan. Namun kita dilarang putus asa. Bukankah setiap orang punya potensi/bakat/kemampuan.
Jadikan krisis sebagai tantangan sekaligus peluang. "Sepanjang sejarah, kita menyaksikan bangsa-bangsa besar dibuat oleh bahaya dan krisis. Contohnya Jepang, Korea Utara, Negara-Negara Eropa dan AS serta Israel. Tanpa krisis kita akan menjadi bangsa yang malas,.... tak berinisiatif, alhasil frustrasi menjadi pengutang tak berdaya. [2]
Pertanyaan yang muncul ialah apa yang salah di negeri tercinta ini? Ekonomikah? Atau kualitas SDM yang rendah, sehingga tidak bisa mengolah sumber daya alamnya luas dan kaya ?
Gagal
Tampaknya hingga ketika ini pendidikan nasional belum bisa meningkatkan kualitas SDM kita. Memang diakui ada beberapa orang pelajar Indonesia yang berhasil meraih medali emas dalam kompetisi Internasional menyerupai Andhika Tangguh Pradana, siswa kelas IX Sekolah Menengah Pertama Al-Azhar Jakarta, peraih medali emas International Junior Science Olympiad (IJSO) ke 5 di Gyeyongnam,Korea Selatan (2008), Muhammad Lutfi Nur Fakhri (14), siswa kelas VIII SMPIT Ummul Quro, Bogor, peraih medali emas pada International Exhibition for Young Inventor di Taiwan, Aulya Miftahurrahmah (14), kelas VII SMPN 1, Bantul, Yogjakarta Peringkat Empat Besar Kompetisi Roket Air tingkat Pelajar se ASEAN di Hanoi, Vietnam (2008), Zefrijal Nanda Mardani (15) siswa kelas IX Sekolah Menengah Pertama N I Trenggalek, Jawa Timur, peraih medali emas Olympiade Astronomi Internasional di Ukrania (2007) dan peraih medali perunggu untuk olympiade serupa di Italia. Tentu kita besar hati atas prestasi yang dicapai bawah umur kita tersebut yang membuat harum bangsa Indonesia.
Namun mereka hanya sebahagian kecil dari jutaan pelajar Indonesia yang sedang menuntut ilmu untuk bekal masa depan yang penuh tantangan.
Sekarang mari kita lihat gaya hidup bawah umur kita pada masa digital atau pada jaman imperilisme budaya remaja ini.
Tingginya tingkat kriminalitas bawah umur dan remaja, menyebabkan jumlah mereka yang masuk penjara remaja ini lebih dari satu juta orang.[3]
Dari 13 penjara yang pernah dikunjungi Meutia Hatta Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, menyampaikan 80 persen penyebab mereka ditahan ialah alasannya ialah pencabulan dan pelecehan secual. Data di RSCM Jakarta, kekerasan secual yang menimpa bawah umur usia dibawah 18 tahun semenjak Juni 2000 hingga Juni 2005 mencapai 1200 kasus, pencabulan anak pria 68 kasus. Korban umumnya dibawah usia 16 tahun,belum ngerti sikap secual. Survei Yayasan Kita dan Buah Hati tahun 2005 terdapat lebih dari 80 persen anak usia 9-12 tahun di Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi, telah mengakses situs p0rn*. Kasus pengguguran di Indonesia 2,2 juta tiap tahun atau setiap 15 detik seorang calon bayi di negeri ini meninggal dunia.
Televisi juga mengancam sekitar 60 juta anak Indonesia. Penelitian Yayasan Pengembangan Media Anak tahun 2002 di Jakarta menemukan bawah umur menghabiskan sekitar 30-35 jam di depan TV selama seminggu atau setahun 1560-1820 jam, angka ini jauh lebih besar dari jam berguru anak di SD yang tidak hingga 1000 jam setahun. Apa yang mereka tonton? Ya, tayangan yang menampilkan ketelanjangan dan ataupun yang mengesankan ketelanjangan. [4]
Mau rujukan lagi? Banyak anak dan remaja kini tidak merasa bersalah jikalau berbohong, membohongi ortu/guru, rendah rasa hormat kepada ortu dan guru, pecandu narkoba dan minuman keras, sering mangkir sekolah, tidak mengerjakan PR, memalak sobat sekelas, dan sebagainya.
Kalau dikaji lebih lanjut, ya, forum pendidikan baik formal maupun non-formal yang utama seharusnya bertanggung jawab dalam hal membentuk, membimbing dan mendidik SDM yang tangguh dan unggul sekaligus punya abjad yang kuat.
Berdasarkan potret singkat tingkah polah bawah umur dan remaja kita remaja ini, banyak kalangan yang mengeritik dan menilai pemerintah gagal dalam membentuk watak/karakter dan moral anak bangsa remaja ini.
Mengapa Gagal?
Mendidik bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi hasilnya gres tertangkap berair sehabis 20 tahun mendatang. Ya, pendidikan memang investasi jangka panjang. Setelah 20 tahun berlalu gres orang bau tanah melihat bahwa anaknya sudah jadi “orang”, ya, sudah jadi menteri atau gubernur di propinsi A. Namun diantara bawah umur itu ada juga yang tidak berhasil atau gagal, beliau cuma jadi “orang-orangan”.
Mengacu kepada Undang-Undang No.20 Tahun 2003 wacana sistem Pendidikan Nasional Bab I pasal 1 ayat 1, pendidikan disebut sebagai berikut : Pendidikan ialah perjuangan sadar dan bersiklus untuk mewujudkan suasana berguru dan proses pembelajaran semoga penerima didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk mempunyai kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, etika mulia serta keterampilan yang dibutuhkan dirinya,masyarakat, bangsa, dan negara.
Sekurang-kurangnya, masyarakat berharap semoga pendidikan menawarkan mereka bekal untuk hidup dan bisa menghadapi tantangan zaman. Karena di masa persaingan yang ketat kini ini, banyak orang bau tanah berharap semoga anaknya memperoleh prestasi akademik yang tinggi, menguasai ilmu yang menyeluruh (IPTEK) sehingga terjamin sukses dalam kehidupannya. Ya, mungkin kayaknya superman; -Oh,oh.
Ya, begitulah, lihatlah betapa kurikulum SD hingga Sekolah Menengan Atas dirancang begitu padat. Padahal hasil penelitian Daniel Goleman (pakar Psikologi Pendidikan, AS) menemukan bahwa keberhasilan seseorang bukan ditentukan semata-mata oleh prestasi akademik (IQ) yang cuma 20 persen sedang penentu utama kesuksesan ialah kecerdasan emosi (EQ) sebanyak 80 persen. Namun hingga kini pendidikan kita masih mengutamakan kecerdasan intelektual/IQ atau kognitif. Sehingga pembentukan/pengembangan kepribadian atau tabiat dan abjad anak sebagai variabel utama pendidikan belum jadi prioritas.[1]
Ratna Megawangi pakar pendidikan abjad berkomentar: “sudah puluhan tahun energi bangsa kita terbuang sia-sia untuk membuat insan Indonesia yang menguasai IPTEK dengan segala kurikulum yang luar biasa beratnya. Padahal jikalau potensi (IQ) siswa yang hanya 90 atau 100 diberikan pelajaran komplemen apapun, tidak akan bisa meningkat hingga 120. Seandainya energi kita lebih difokuskan untuk menyiapkan 85 persen penduduk semoga mereka bisa dan trampil bekerja secara proporsional,mencintai pekerjaan dan berkomitmen pada kualitas produksi yang tinggi, mungkin kondisi Indonesia tidak akan separah sekarang.”
Sejatinya kecerdasan otak yang dibarengi dengan pelatihan abjad ialah tujuan utama pendidikan. Lihatlah Jepang, Korea dan Taiwan yang menawarkan prioritas pendidikan abjad kepada SDM-nya, mempunyai etos kerja tinggi, ekonomis dan mau “bersusah-susah” dulu untuk “membangun istana masa depan”. Mereka populer sebagai negara produsen yang handal dan berkarakter tinggi. [5]
Saya menyadari judul goresan pena ini memang bersifat debatable alasannya ialah tidak semua orang bisa menerimanya. Hemat saya komunitas pendidik termasuk orang bau tanah perlu introspeksi. Apakah selama ini kita sudah melakukan tugas-tugas edukatif tidak hanya sebatas mengajar, tetapi juga mendidik, membimbing serta memotivasi dan menawarkan rujukan teladan. Pengetahuan memang penting, namun pembentukan watak, kepribadian sehat yang dibekali aliran agama juga tidak kalah pentingnya.
Mari kita jadikan rumah tangga dan sekolah sebagai -school of love-mendidik dengan kasih sayang alasannya ialah bergotong-royong anak ialah amanah. Orangtua dan guru dengan penuh tanggungjawab berafiliasi mengarahkan anak menuju kehidupan yang lebih baik.
[1]H.M.Farid Nasution,MA, Harian Analisa [2] Rhenald Kasali, Kompas, 4 April 2009, [3] Harry Hikmat,Direktur Anak Depsos, Waspada, 11 Maret 2009, [4] Sabili, No.08, 6 Nopember 2008, [5] Ratna Megawangi, Pendidikan Karakter, 2004, h.12.
Video pilihan khusus untuk Anda, Matematika Dapat Mempengaruhi Karakter Kita;
Besok sekolah tahun anutan gres akan dimulai maka saya coba membuatkan kisah wacana GURU. Karena merekalah yang paling berperan di dalam kelas mulai esok hari. Berangkat dari perkiraan bahwa sutradara merupakan orang yang berperan besar dalam keberhasilan sebuah film, maka guru dalam proses pembelajaran siswa, supaya berhasil, ada baiknya berperan sebagai sutradara.
Analog tersebut setidaknya dilatarbelakangi oleh dua hal. Pertama: Kurikulum 2004 memberi keleluasaan kepada guru untuk mengembangkan proses pembelajaran. Depdiknas melalui Balitbang kurikulumnya hanya tetapkan dua komponen dalam silabus, yaitu standar kompetensi dan kompetensi dasar (Kurikulum 2004: 20-30). Komponen lain mirip strategi, materi, alokasi waktu, dan sumber materi ajar, diserahkan kepada guru untuk dikembangkan sesuai dengan prinsip relevansi, konsistensi, dan adekuasi.
Kata keleluasaan itulah, yang perlu digarisbawahi. Sebab, di dalamnya tersirat makna kreativitas yang idealnya menjadi daya hidup bagi setiap guru. Kita tahu, sutradara bekerja menurut skenario. Tetapi ketika sudah terlibat dalam proses penggarapan film, ia tidak secara kaku menerjemahkan teks skenarionya. Ia harus terus menggali wangsit dan kreasinya, supaya proses penggarapan itu berhasil. Demikian pula guru, tidak harus terjebak pada skenario pembelajaran yang bersifat tekstual. Ia sanggup mengupayakan aneka macam strategi, materi, dan sumber materi asuh secara variatif.
Ketika satu seni administrasi dianggap kurang berhasil, guru perlu mencoba seni administrasi lain. Ketika materi dan sumber materi perlu dikembangkan, ia sanggup memanfaatkan potensi sumber materi yang makin lengkap, dari koran hingga internet. Ingat, buku teks sekarang bukan lagi harga mati bagi siswa. Barangkali, semua itu relevan pula dengan ungkapan jawa "guru ora kurang lakon".
Kedua: Cara pandang sutradara kepada para pekerja film, khususnya para aktor. Mereka selalu berpandangan bahwa pada diri pemain film sesungguhnya telah ada bakat dan kemampuan. Tugas sutradara tinggal mengarahkannya. Bagaimana ia dengan sabar dan tekun mengasah bakat para aktor, dengan selalu berprinsip bahwa apa yang mereka lakukan ialah "proses untuk menjadi". Sehingga, mereka tidak pernah berhenti untuk menggali potensi diri.
Demikian pula guru. Paradigma siswa ialah kertas putih yang masih kosong, harus ditinggalkan. Karena pada diri siswa bahwasanya telah ada bakat dan kemampuan. Tugas gurulah, untuk mematangkan segenap potensi itu. Perlu diingat pula, sutradara yang baik selalu mengenali huruf setiap aktor. Demikian pula guru. Ia perlu mengenali perbedaan huruf siswa dengan baik, sehingga -meski proses pembelajaran bermodel klasikal- guru tidak mematikan prinsip pembelajaran individual.
Lalu, bagaimana bila sutradara itu harus berperan sebagai aktor? Apakah guru juga harus menjadi demikian? Jawabannya, Ya! Ingat adanya ungkapan "A good teacher is an actor". Makara guru yang baik juga tahu, kapan saatnya ia berperan sebagai sahabat, orang tua, dan pengajar bagi siswa yang selalu dibanggakannya.
Pertanyaan terakhir, siapkah kita (guru) menjadi sutradara bagi siswa? Jawaban bijak, barangkali: Siap untuk terus berguru dan menempa diri. Bukankah menjadi guru sesungguhnya juga "proses untuk menjadi" yang tak pernah berhenti!
Bila demikian, yang muncul di hadapan siswa ialah sosok guru yang erat dengan siswa dan bisa menjadi rujukan keinginan untuk membimbing mereka meraih masa depan.
Tugas sutradara itu menyerupai pencipta sesuatu yang nantinya akan divisualisasikan. dan tentu saja sutradara inilah yang menjadi dalang dalam proses penciptaan itu, di mana pada otak sutradara inilah karya tersebut akan diwujudkan. gampangannya....si sutradara ini harus mempunyai gambaran, mau diwujudkan mirip apa karya tersebut.
kalau kriteria sutradara, pastinya ia harus paham betul apa yang ingin ia sampaikan dan paham betul wacana seluk beluk bidang yang ia geluti itu, bahkan masalah yang kecil sekalipun.
Dari data yang ada pada saya, ada dua macam sutradara. 1. sutradara yang menuntut pemainnya untuk memainkan kiprah sesuai konsepnya atau sesuai apa yang ada di otaknya. contohnya dalam dunia peran, ketika salah satu pemainnya harus berperan sebagai pengemis, si sutradara itu menuntut pemainnya itu untuk menjadi pengemis sesuai dengan intepretasinya si sutradara ini, bahkan kalau perlu si sutradara ini harus memberi pola mirip apa pengemis yang ia kehendaki itu. kasarnya, sutradara ini ialah sutradara yang otoriter, dimana semuanya harus mirip yang ada di otaknya. namun keotoriterannya itu sangat masuk akal mengingat dialah yang menjadi sutradara (pencipta) dan pemainnya itu sebagai ciptaannya.
kelemahan pada jenis sutradara semacam ini ialah membatasi kreativitas si pemain, mengingat pemainnya ialah insan juga yang niscaya mempunyai daya imaji yang berbeda pula. dan perlu dicatat, kelemahan pada sutradara ini tidak berlaku pada sutradara yang pemainnya ialah benda mati (dalang dengan wayangnya), namun tetap berlaku pula ketika dalang ini berhadapan dengan pemain waranggononya.
namun sekali lagi keotoriteran si sutradara ini tidak bisa disalahkan, lantaran itu ialah hak dia, dan otomatis untuk para pemain yang berhadapan dengan sutradara semacam ini ialah adanya kesediaan ia untuk menjadi boneka yang mau dibuat sebagai apapun, terserah si sutradara tersebut (meski dalam kenyataannya sangat sering ditemui kesulitan ketika para pemain ini harus menjadi mirip yang ada di otak si sutradara)
namun asalkan ada komunikasi yang baik antara si sutradara dan pemainnya, adanya kesadaran kiprah antara sutradara dan pemainnya dan adanya kesadaran si sutradara bahwa si pemain itu juga pastinya mempunyai kekurangan, semuanya bisa di atasi kok.
2. sutradara yang membebaskan para pemainnya untuk memvisualisasikan imajinasi si pemain, asalkan tidak bertentangan dengan isi konsep yang ada di otak sutradara. dalam hal ini, sutradara memberi kesempatan kepada para pemainnya untuk 'mencari' sendiri jati diri kiprah mereka masing2 sesuai dengan apa yang mereka imajinasikan namun tetap dalam pantauan sang sutradara. ketika si sutradara melihat bahwa si pemain telah menemukan 'jiwa' yang akan diperankan, di sinilah sutradara memintanya untuk menyimpan 'jiwa' yang telah ditemukan tersebut untuk kemudian digali lebih dalam.
kelemahan dari jenis sutradara ini ialah adanya pandangan adanya kekurang tegasan pada sang sutradara. ada kesan bahwa sang sutradara ini melimpahkan kiprah 'menciptakan' karya kepada para pemainnya untuk kemudian kiprah ia hanya menentukan mana yang pantas dilakukan mana yang tidak.
demikian pendapat saya, dan alangkah lengkapnyalah bila anda bisa menggabungkan kedua jenis sutradara tersebut, mempunyai ketegasan dalam menyutradarai namun tidak memenjarakan imajinasi dan daya kreasi para pemain. Assistant Director: Hal pertama yang perlu diluruskan wacana Assistant Director/Asisten Sutradara ialah bahwa seorang ajun sutradara BUKANLAH ajun dari sutradara. Asisten Sutradara mempunyai job desknya sendiri dan tidak bertanggung jawab pada sutradara, melainkan pada produser. Seringkali seseorang yang ingin menjadi sutradara menganggap bahwa ajun sutradara ialah jenjang untuk menjadi sutradara. Ini ialah suatu pemahaman yang keliru, lantaran intinya jenjang berikutnya dari seorang ajun sutradara ialah menjadi produser.
Hal ini disebabkan lantaran pekerjaan ajun sutradara sangat bekerjasama dengan manajemen, bukan kreatif. Asisten Sutradara bertugas untuk membuat breakdown script, mengatur agenda shooting dan memastikan shooting bisa berjalan dengan efektif dan efisien. Seorang mentor pernah mengumpamakan bahwa ajun sutradara ialah “bad cop” sementara sutradara ialah “good cop”. Hal ini disebabkan lantaran ajun sutradara harus menjadi figur yang “galak” di set, sehingga membuatnya menjadi figur yang kurang populer. Namun, berhasilnya sebuah shooting sangat bergantung pada keahlian ajun sutradaranya. Jika seorang ajun sutradara sanggup mengatur agenda dengan baik dan bisa menangani keadaan dengan baik, maka kemungkinan besar shooting akan berjalan dengan baik.
Tugas lain yang sudah melekat pada ajun sutradara ialah berteriak-teriak menunjukkan segala cue pada crew. Biasanya sutradara akan menunjukkan cue-nya pada ajun sutradara, kemudian si ajun sutradara yang akan meneriakkannya.
Production Manager/Unit Production Manager: Production Manager ialah sebuah jabatan yang sangat penting dalam sebuah produksi yang berskala besar. Pada dasarnya kiprah Production Manager ialah menjamin shooting bisa berjalan sesuai dengan rencana. Ia ialah seseorang yang bertanggung jawab atas budget yang sudah tersedia, memastikan alat-alat tersedia, memastikan makanan untuk crew tersedia, memastikan ada transportasi untuk semua crew, dan hal-hal lainnya di lokasi shooting. Singkatnya, seorang production manager bertugas menjalankan visi dari seorang produser. Ia juga bertugas untuk mengantisipasi masalah yang akan terjadi dan menangani masalah yang terjadi di lokasi.
Seorang Production Manager mutlak harus mempunyai pengetahuan standart produksi film supaya bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Jika pengetahuan mirip ini tidak dimiliki, bisa-bisa seorang Production Manager menjadi bulan-bulanan kru. Di hollywood, syarat untuk menjadi seorang Production Manager ialah sudah pernah bekerja selama 260 hari sebagai seorang ajun sutradara.
Pada dasarnya, kalau dalam sebuah produksi film sudah ada ajun sutradara dan production manager yang bagus, maka sutradara sanggup menjalankan pekerjaannya dengan sangat nyaman dan produksi film sanggup berjalan dengan sangat baik.
Fungsi Sutradara
Fungsi disini diartikan dengan kiprah dan tanggung jawab seorang sutradara. Secara umum, fungsi sutradara ialah melayani dan sekaligus memimpin pertunjukan atau pementasan di bidang artistik. (Jika dilihat dari problem manajemen, seorang Pimpinan Produksi atau Production Managerlah yang melakukan fungsi ini). Secara ideal, fungsi seorang sutradara ialah merencanakan, memutuskan, mengarahkan, mewujudkan dan bertanggung jawab secara artistik dari pertunjukan atau pementasan yang dilaksanakan.
Kedua fungsi ini diemban dan dijalankan serempak dalam suatu ketika (bersama-sama). Tetapi seorang sutradara tidak sanggup berjalan sendiri. Ia harus sadar akan dirinya dan kemampuannya. Oleh lantaran itu, ia membutuhkan orang lain yang dipilih dan diputuskannya (otoritas penuh!) untuk bekerja sama dalam menjalankan kedua fungsi tersebut.
Mereka dipilih dengan menurut pada kebutuhan akan bidang-bidang khusus. Mereka terdiri dari dua kelompok besar yakni: pertama, kelompok pemain atau penari dan kedua, kelompok artistik. Kelompok pertama, sudah jelas, ialah kelompok orang-orang yang mempunyai bakat atau keahlian bermain atau menari. Kelompok kedua, ialah orang-orang yang mempunyai keahlian atau bakat di bidang perencanaan dan pelaksanaan untuk set/dekor/properti, desain tata cahaya (lampu), komposisi musik dan gerak, busana (kostum), rias wajah/rambut, hukum tata cara peralatan pentas (disebut: Pimpinan Panggung atau Stage Manager), dan pendamping penyutradaraan (disebut: Asisten Sutradara).
Penjabaran dari kedua fungsi sutradara ialah sebagai berikut: 1. Memilih naskah atau menulis naskah sesuai dengan tema yang diberikan. 2. Menafsirkan naskah yang dipilih. (Apabila sutradara sendiri yang menulis naskahnya, maka tingkat kesulitannya akan lebih kecil). 3. Menentukan batang pokok penafsiran dari naskah. 4. Memilih dan menentukan pemain dengan kiprah (casting) dan pekerja artistik yang dibutuhkan. 5. Memberikan batang pokok penafsiran naskah kepada seluruh personil yang telah dipilih untuk terlibat. 6. Membicarakan dan menyetujui rancangan atau desain set/dekor/properti/cahaya/busana/rias wajah-rambut, komposisi musik dan gerak (tari). 7. Membuat planning pembiayaan yang dibutuhkan. 8. Melatih pemain dengan baik dan jujur sesuai dengan batang pokok penafsiran naskah yang sudah dipilih. 9. Mengembangkan gagasannya dengan mengacu pada batang pokok penafsiran naskah yang sudah dipilih. 10. Mengamati pertunjukan atau pementasan dan menunjukkan dorongan moril kepada pemainnya.
Apabila seorang sutradara bermaksud untuk mempercayakan pelaksanaan salah satu fungsinya kepada pihak lain lantaran pertimbangan-pertimbangan tertentu, maka seorang sutradara harus pandai-pandai menunjukkan keseimbangan antara kekuasaan yang ada padanya dengan pelimpahan wewenang dan tanggung jawab yang diberikan kepada pihak lain tersebut.
[Data disadur dari aneka macam sumber, bila Anda merasa pemilik sebagian atau keseluruhan konten diatas dan keberatan ditampilkan. Anda sanggup menghubungi Admin Blog, dan Admin Blog akan dengan bahagia hati menanggapi seruan Anda. Terima kasih | Admin Blog]
Lihat video kemampuan guru Humbang Hasundutan bernyanyi yang diatas rata-rata;
Proposal Penelitian Pembelajaran Kooperatif. Ini yaitu contoh usulan yang sanggup Anda jadikan sebagai dukungan dalam mengajukan usulan penelitian kepada dosen pembimbing di daerah Anda kuliah. Kenapa usulan ini ditampilkan?, lantaran sewaktu kuliah saya tidak terlalu memperhatikan apa yang dikatakan oleh dosen-dosen saya sehingga kini saya miskin pengetahuan ihwal penelitian.
Melalui blog ini saya coba mendapatkan kritikan dan saran dari pembaca blog saya ihwal usulan ini biar menambah pengetahuan saya ihwal penelitian, lantaran ketika ini sangat diperlukan seorang guru harus bisa melaksanakan penelitian yang sering disebut dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Proposal ini akan diposting dalam tiga kali kesempatan jikalau ada yang menanggapi, paling tidak kasih komentar.
A. Latar Belakang
Matematika sebagai salah satu ilmu dasar yang harus dikuasai dan diajarkan di semua jenjang pendidikan sanggup menumbuhkan kemampuan daypikir siswa yang sangat dibutuhkan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga pemahaman konsep matematika bagi penerima didik senantiasa menjadi perhatian yang serius. Seperti yang dikemukakan Ida Karnasih (2001:4): “Matematika yaitu fondasi dari sains dan teknologi maka matematika merupakan kunci bagi peluang dan karir (opportunity dan career). Dalam hal ini siswa memerlukan matematika untuk memenuhi kebutuhan simpel dan memecahkan duduk kasus dalam kehidupan sehari-hari.
Kebutuhan untuk sanggup memahami dan juga bisa memakai matematika dalam kehidupan sehari-hari semakin meningkat dan diperkirakan akan terus berkembang di masa mendatang. Disebabkan lantaran matematika sangat berperan dalam kehidupan manusia. Dimana setiap orang dalam melaksanakan aktivitasnya sadar atau tidak sadar niscaya berafiliasi dengan matematika. Dalam dunia yang semakin maju, mereka yang memahami matematika dan bisa berpikir matematis, relatif lebih gampang untuk melaksanakan pekerjaan sehari-hari terutama yang berafiliasi dengan matematika. Ida Karnasih (2001:1) menyampaikan bahwa:”permasalahan yang muncul kini ini terutama di Sumatera Utara yaitu rendahnya kemampuan matematika siswa”. Hal ini diketahui dari kurangnya perhatian siswa dalam pengajaran matematika ihwal penerapan matematika itu sendiri dengan bidang ilmu yang lain juga dalam kehidupan sehari-hari.
Ada banyak faktor yang mempengaruhi kemampuan matematika siswa atau hasil berguru matematika siswa. Usman H.B (2001:306) mengemukakan bahwa:”Yang menjadi faktor penyebab rendah atau kurangnya pemahaman penerima didik terhadap matematika, salah satu diantaranya yaitu metode pembelajaran yang dipakai oleh pengajar, contohnya dalam pembelajaran yang terorientasi kepada pendekatan tradisional yang menempatkan penerima didik dalam proses berguru mengajar sebagai pendengar”. Padahal dalam proses berguru matematika, pengetahuan matematika tidak sanggup diberikan kepada anak begitu saja. Pemahaman konsep matematika penerima didik akan berkembang apabila mereka ikut serta dalam acara matematika.
Disadari atau tidak motivasi dan minat siswa mempelajari matematika sangat rendah. Siswa cenderung menganggap bahwa matematika itu sukar dipelajari dan telah menjadi momok bagi kebanyakan siswa kini ini. Banyak orang menyampaikan bahawa matematika yaitu sulit. Sujono (1988:338) menyatakan bahwa: …guru dan banyak orang cukup umur lain menyampaikan bahwa matematika itu sukar dan menakutkan, dan ditunjukkan bahwa kemampuan matematika hanya sanggup ditunjukkan oleh anak yang benar-benar cemerlang.
Untuk itu diusahakan suatu motivasi pada siswa untuk berguru matematika, dengan penggunaan motivasi yang sempurna akan menjadikan minat yang baik dan berguru yang efektif, jadi diperlukan dengan pendekatan pembelajaran yang dikuasai guru sanggup memotivasi siswa untuk belajar, menjadikan siswa percaya diri dan yakin akan kemampuan sendiri dalam mengerjakan soal matematika sehingga siswa di dalam kelas tidak pasif lagi mendapatkan setiap bahan yang diberikan guru. Karena selama ini siswa dalam berguru kurang bisa berkomunikasi secara matematis, dimana siswa takut bertanya, tidak berani mengemukakan ide, bahkan cenderung membisu dalam kelas. Untuk mengatasi permasalahan-permasalahan diatas perlu diusahakan suatu pendekatan pembelajaran yang sanggup memperbaiki anggapan siswa bahwa matematika itu sulit dan hanya layak bagi siswa yang pintar. Maka diusahakan suatu pendekatan pembelajaran yang sanggup mengaktifkan siswa dalam proses berguru mengajar. Seperti yang dinyatakan oleh Alice F. Artzt dan Claire M. Newman (1990:4) bahwa: Research Indicates that cooperative learning experiences in the mathematics classroom foster improved attitudes toward the subject matter and toward the instructional experience. The individual builds confidence in his or her own ability to do mathematics, there by relieving the math anxiety that many student experience.
Kutipan di atas menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif dalam pelajaran matematika banyak membantu perkembangan perilaku siswa terhadap duduk kasus pelajaran. Dengan adanya efek positif yang telah ditunjukkan dalam kutipan diatas, diperlukan pendekatan pembelajaran kooperatif ini sanggup meningkatkan hasil berguru matematika siswa yaitu dengan melaksanakan pendekatan pembelajaran. Berdasarkan keseluruhan uraian diatas, peneliti berkeinginan untuk mengadakan penelitian dengan judul “Penerapan Pembelajaran Kooperatif Dengan Langkah-Langkah Pemecahan Masalah Pada Pokok Bahasan Dimensi Tiga di kelas X Sekolah Menengan Atas Budi Murni-1 Medan”.
B. Identifikasi Masalah
Sesuai dengan judul penelitian dan bertitik tolak dari latar belakang duduk kasus maka identifikasi duduk kasus adalah:
Kebiasaan berguru siswa yang lebih banyak mendapatkan gosip dari guru.
Pendekatan mengajar yang dipakai guru kurang sesuai dengan bahan pelajaran.
Interaksi antar siswa dalam pembelajaran masih kurang.
C. Pembatasan masalah
Dari identifikasi duduk kasus diatas banyak permasalahan yang muncul dan membutuhkan penelitian tersendiri. Untuk memberi ruang lingkup yang terperinci pada pembahasan dan menghasilkan suatu penelitian yang efektif dan efisien maka penulis dalam penelitian ini membatasi duduk kasus hanya dalam hal mengenai hasil berguru matematika siswa yang diajarkan dengan metode pembelajaran kooperatif dengan langkah-langkah pemecahan duduk kasus pada pokok bahasan Dimensi Tiga di kelas X SMU Budi Murni-1 Medan tahun pelajaran 2005/2006.
D. Perumusan Masalah
Dengan pembatasan duduk kasus diatas maka yang menjadi rumusan duduk kasus yang ditetapkan pada penelitian ini adalah:”Apakah penerapan pembelajaran kooperatif dengan langkah-langkah pemecahan duduk kasus efektif dalam pembelajaran siswa pada pokok bahasan dimensi tiga di kelas X SMU Budi Murni-1 Medan tahun pelajaran 2005/2006.
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hasil Pembelajaran pendekatan kooperatif dengan langkah-langkah pemecahan duduk kasus terhadap hasil berguru siswa pada pokok bahasan dimensi tiga di kelas X SMU Budi Murni-1 Medan tahun pelajaran 2005/2006.
F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diperlukan bermanfaat sebagai berikut:
Dapat dipakai oleh peneliti sebagai pola untuk meningkatkan proses berguru mengajar nantinya sesudah menjadi guru.
Memberikan masukan bagi guru matematika mengenai pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan kemampuan matematika siswa.
Memberi gosip kepada sekolah dan sumbangan pemikiran dalam rangka perbaikan pengajaran.
Mari kita coba berguru geogebra dasar, menggambar grafik fungsi kuadrat;
Motivasi siswa atau siapa saja mempelajari sesuatu niscaya ada tujuannya, dan yang Anda pelajari itu di ketika tertentu niscaya Anda tunjukkan kepada orang-orang disekeliling Anda bahwa Anda mampu. Di ketika orang-orang di sekeliling Anda tidak bisa menemukan penyelesaian dari sebuah duduk kasus tetapi Anda bisa menemukan penyelesaiannya, aku yakin Anda menjadi orang yang diperhitungkan dan dihormati.
Banyak hal yang sudah kita pelajari mulai dari SD (SD), SMP ( SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), Perguruan Tinggi dan sehabis jawaban akademi tinggi kita tetap banyak berguru di lingkungan kita. Tapi ada hal yang istimewa dari semua jenjang pendidikan ini, mata pelajaran yang selalu dipelajari di semua jenjang pendidikan ini yaitu matematika. Tetapi meski matematika dipelajari di semua jenjang pendidikan, matematika masih menjadi pelajaran yang dibenci oleh siswa pada umumnya. Coba kita hitung-hitung, jikalau kita sudah menuntaskan pendidikan Sekolah Menengan Atas maka kita sudah berguru matematika selama 12 tahun.
Sekarang Anda siapa?
Apakah seorang Ayah, Ibu, Kakak, Abang, Adik, Guru Biologi, Guru Bahasa Indonesia atau siapapun Anda sekarang. Sesuai dengan kegiatan pemerintah Wajib berguru 12 Tahun, berarti Anda setiap harinya bertemu dengan orang-orang yang sedang mempelajari matematika. Orang-orang yang Anda temui setiap hari itu pada umumnya yaitu orang yang kesulitan dalam mempelajari matematika. Anda bisa menjadi orang yang mereka segani dan hormati jikalau Anda bisa membantu mereka, terlebih-lebih jikalau Anda sebagai orang bau tanah atau guru, anak Anda akan lebih membanggakan Anda.
Tulisan ini sangat tidak beraturan, tetapi inilah kelemahan aku yang aku jadikan kelebihan. Menyampaikan sesuatu hal tidak beraturan tetapi Anda mengerti, kalau belum mengerti juga, aku coba sampaikan tujuan dari goresan pena ini. Mari kita pelajari matematika dan menjadikannya the power to surprise.
The Power to surprise terinspirasi dari salah satu iklan di televisi salah satu produk kendaraan beroda empat buatan luar negeri yang mempunyai slogan menyerupai judul di atas. Secara awam, sebab bahasa ingggris aku nol besar, aku mengartikan judul di atas yaitu kekuatan di ketika yang tidak terduga atau Anda punya arti yang lain, tolong aku diberitahu melalui kotak komentar..
Banyak hal yang bisa kita jadikan sebuah kekuatan di ketika yang tidak terduga salah satunya kemampuan bermatematika, Anda mungkin punya cerita tersendiri apa kekuatan yang pernah Anda keluarkan di ketika yang tidak terduga. Anda juga bisa menyebarkan kepada yang lain.
Pernah main game memindahkan air hingga sanggup volume yang diinginkan tapi tidak berhasil menyelesaikannya, simak cara penyelesaiannya;